• Tidak ada hasil yang ditemukan

Boks 3.2 Panglima Laot

4.1 Reklamasi

Reklamasi sudah dilakukan di dunia dan Indonesia. Reklamasi lahan merupakan pengadaaan lahan dari laut, atau pesisir untuk tujuan pertanian, industri, ataupun perluasan pelabuhan (OSPAR, 2008). Contoh terkenal reklamasi di dunia yang terkenal adalah Changi Airport, Singapura. Sementara itu, wilayah yang melakukan reklamasi di Indonesia antara lain Pantai Losari, Makassar dan Tanjung Emas, Semarang. Tujuan dilaksanakannya reklamasi bagi kedua tempat ini berbeda. Reklamasi di Pantai Losari bertujuan membangun daerah Pantai Losari sehingga dapat menarik wisatawan, sedangkan reklamasi Tanjung Emas bertujuan untuk menanggulangi masalah banjir.

https://www.bps.go.id

72

S t a t i s t i k S u m b e r D aya L a u t d a n Pe s i s i r 2 0 2 3 Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh setiap orang dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase (UU No 1 tahun 2014). Cara paling sederhana untuk reklamasi lahan adalah dengan menumpuk batu besar dan/atau semen serta lumpur dan tanah di suatu wilayah laut sampai pada ketinggian yang diinginkan (Stauber et al., 2016). Proses reklamasi sendiri memiliki tujuan antara lain memperbaiki kondisi tanah dan mencegah erosi; mengembalikan keanekaragaman hayati; dan mengatur kadar asam tambang di tanah. Reklamasi juga bertujuan mengurangi kepadatan penduduk di suatu wilayah dan juga meningkatkan nilai guna pantai menjadi pelabuhan, kawasan industri, wisata.

4.1.1 Pendorong Reklamasi

Keputusan untuk mengadakan reklamasi didorong oleh berbagai alasan. Berikut adalah contoh pendorong terjadinya reklamasi yang terjadi di beberapa wilayah di dunia. Menurut Tian et al. (2016) reklamasi di Cina didorong oleh pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang cepat. Kebutuhan lahan urban memiliki hubungan kuat dengan Produk Domestik Bruto (PDB), populasi, dan tingkat urbanisasi. Pemerintah lokal Tiongkok melakukan ekspansi industri pesisir secara agresif dan mendorong urbanisasi sehingga kebutuhan lahan melalui reklamasi meningkat.

Papua

Sulawesi Tenggara

NTB

Papua Barat

Sulawesi Tengah

200.000 400.000 600.000

Periode 2019-2022 (Km)

Provinsi dengan Pertambahan Panjang Garis Pantai Terbesar

Gambar 4.1

Provinsi dengan Pertambahan Panjang Garis Pantai Terbesar (Km), 2019-2022 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi,2019-2022

https://www.bps.go.id

Hoeksema (2007) menjabarkan reklamasi di Belanda didorong oleh topografi wilayah itu sendiri. Sepertiga wilayah Belanda memiliki ketinggian lebih rendah dari permukaan laut. Hal ini menyebabkan, tanpa bantuan pompa dan tanggul, 65 persen wilayah Belanda terendam ketika laut pasang. Pada tahap awal, tanggul alami terbentuk dari sedimen yang dibawa sungai ke laut, sehingga menghalangi air masuk ke daratan ketika laut pasang. Pada masa ini, pengeringan lahan juga dilakukan. Namun, pengeringan lahan ini memiliki efek samping yaitu penurunan permukaan tanah. Semua proses pengeringan ini dilakukan oleh perusahaan. Penurunan permukaan tanah ini menyebabkan beberapa wilayah menjadi danau sehingga perusahaan harus mencari lain untuk memindahkan air. Akhirnya, pompa tenaga kincir angin digunakan untuk mengatur kadar air yang masuk ke daerah yang sudah dikeringkan tersebut. Pada abad 19, proyek reklamasi dilakukan di Danau Harleem yang 2,5 kali lebih besar dari danau yang pernah dikeringkan sebelumnya. Proses reklamasi ini juga sudah menggunakan pompa tenaga uap dan merupakan proyek pemerintah karena perusahaan yang tadinya melakukan proses ini sudah tidak ada. Selain itu, Belanda juga mereklamasi Zuiderzee, lengan laut (sea arm) yang terbentuk karena badai pada abad ke-12. Zuiderzee mengancam wilayah di sekitarnya karena masih terpengaruh oleh pasang surut air laut. Sebuah kanal yang cukup kuat dibuat untuk menghalau air masuk ke daratan ketika air pasang. Proses reklamasi ini dilakukan dengan membangun Barrier Dam untuk menutup celah yang menghubungkan Zuiderzee dengan laut. Proses ini menghasilkan danau air tawar yang berfungsi untuk pertanian dan kehidupan masyarakat.

Di Malaysia, reklamasi awalnya dilakukan untuk menambah lahan pertanian (Ghazali, 2006). Seiring berjalannnya waktu, tujuan reklamasi berkembang menjadi pembangunan perekonomian. Hal ini disebabkan berkembangnya industri manufaktur yang saat itu kebanyakan berlokasi di daerah pesisir. Keberadaan industri juga mengakibatkan peningkatan urbanisasi di wilayah tersebut sehingga permintaan lahan untuk permukiman juga bertambah. Reklamasi juga dianggap sebagai salah satu cara penanggulangan erosi yang sering terjadi di wilayah pesisir Malaysia.

Alasan ekonomi menjadi pendorong utama terjadinya reklamasi di Tanjung Benoa, Indonesia (Adharani et al., 2020). Wilayah ini pernah dimasukkan sebagai kawasan konservasi tapi peraturan presiden yang baru membatalkan hal ini. Setelah terbitnya

https://www.bps.go.id

74

S t a t i s t i k S u m b e r D aya L a u t d a n Pe s i s i r 2 0 2 3 peraturan ini, dinas terkait mengeluarkan ijin reklamasi dan pembangunan kawasan ekonomi di Tanjung Benoa. Pemerintah berargumen bahwa proyek reklamasi bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Reklamasi di Pulau Nipa, Riau bertujuan untuk mengembalikan luas lahan dari pulau tersebut (Kementerian Kelautan dan & Perikanan, 2019). Pulau Nipa adalah salah satu pulau terluar di Indonesia yang menjadi lokasi penambangan pasir. Ketika diamati, pemerintah menemukan bahwa luas Pulau Nipa sudah berkurang signifikan sehingga perlu dilakukan reklamasi. Saat ini, Pulau Nipa menjadi pos pertahanan dan penyimpanan bahan bakar.

Reklamasi di Jakarta yang telah dikenal itu terjadi di Pantai Indah Kapuk pada tahun 1990-an (Kementerian Kelautan dan & Perikanan, 2019). Reklamasi di Jakarta sempat dihentikan sementara pada tahun 2016 oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman saat itu, Rizal Ramli. Namun, moratorium tersebut sudah dicabut pada 5 Oktober 2017 melalui Surat Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Nomor S-78-001/02/

Menko/Maritim/X/2017. Proyek reklamasi memiliki dampak positif pada perekonomian dan dampak negatif pada lingkungan. Dampak buruk reklamasi terutama pada kawasan mangrove disebabkan timbulnya sedimentasi. Sedimentasi dapat menutupi akar mangrove sehingga menghalangi proses respirasi dari mangrove tersebut (Zamani, 2019).

4.1.2 Mangrove dan Reklamasi

Mangrove memiliki peranan penting dalam kehidupan pesisir karena menyediakan perlindungan garis pantai terhadap peristiwa alam seperti badai dan tsunami serta mengurangi risiko banjir dan erosi (Worldbank,nd). Walaupun begitu, keberadaan mangrove tetap terancam oleh budidaya ikan dan penanaman kelapa sawit.

Pada tahun 2021, luas ekosistem mangrove di Indonesia adalah sekitar 4,12 juta hektare, yang terdiri dari 3,36 juta hektare luas mangrove dan 0,76 juta hektare potensi habitat mangrove (KLHK, 2021). Kawasan mangrove terluas ada di Provinsi Papua dengan luas sekitar 3,3 juta hektare (Gambar 4.2). Secara umum, sebagian besar mangrove yang ada di Indonesia memiliki kerapatan tajuk lebat. Bahkan, luas mangrove dengan kerapatan tajuk lebat dan sedang memiliki luas yang hampir sama di Jawa Timur.

Kerapatan mangrove ditentukan oleh pH air, semakin tinggi pH air maka semakin rendah kerapatan mangrove (Savitri, 2020).

https://www.bps.go.id

Sayangnya, studi menunjukan telah terjadi penurunan luas mangrove di Indonesia secara signifikan selama 5 dekade terakhir. Arifanti et al. (2021) menemukan bahwa luas mangrove yang hilang adalah 182,091 hektare selama 2009-2019, yang artinya rata-rata penurunan luas mangrove pertahun mencapai lebih dari 18 hektare. Di periode ini, deforestasi mangrove tertinggi terjadi di Sumatra dan Kalimantan. Hal ini terjadi karena perkembangan budidaya udang di wilayah ini. Sementara itu, deforestasi mangrove terendah terjadi di Jawa dan Papua. Namun, penurunan mangrove yang rendah di Jawa lebih disebabkan mangrove sudah hilang sebelum periode ini karena pembangunan wilayah ini.

4.1.3 Hubungan Reklamasi dan Keberadaan Mangrove

Proyek reklamasi berarti menambah luas daratan. Namun, reklamasi yang dilaksanakan di sekitar pantai pasti memberikan dampak pada lingkungan. Umumnya,

Sumber: KLHK, 2021 (diolah)

Gambar 4.2

Peta Luas Mangrove menurut Provinsi (Ha), 2021

2.145 2.145

2.145 682682682

https://www.bps.go.id

76

S t a t i s t i k S u m b e r D aya L a u t d a n Pe s i s i r 2 0 2 3 pantai memiliki mangrove karena mangrove dapat memberikan perlindungan terhadap tsunami maupun abrasi air laut. Reklamasi yang dilakukan dengan pengurukan dapat mengubah kondisi air di pantai, yang pada akhirnya akan mempengaruhi ekosistem mangrove dan pantai tersebut.

Numbere (2020) meneliti tentang reklamasi di Niger Delta, Nigeria. Reklamasi di Niger Delta umumnya bertujuan untuk mengakomodasi kebutuhan pemukiman seiring dengan peningkatan populasi penduduk di sekitar wilayah tersebut. Reklamasi dapat memberikan dampak kedua lokasi berbeda: lokasi penambangan pasir dan lokasi reklamasi. Pembangunan wilayah ini menghilangkan hutan mangrove dan kemudian mengisi wilayah itu dengan pasir dari laut. Pemusnahan mangrove yang menggunakan alat berat tentunya memberikan dampak pada ekosistem dan makhluk hidup yang hidup di wilayah tersebut.

Zamani (2019) meneliti proyek reklamasi di Teluk Kendari. Luas mangrove di teluk ini meningkat pada tahun 1998-2014 tapi kemudian menurun setelah proses revitalisasi.

Pendorong Reklamasi

Ekonomi Wisata, Industri Manufaktur, Pertanian

Pemukiman Kebutuhan rumah

meningkat

Topografi Daratan lebih rendah dari laut

Dampak Negatif Reklamasi

Frekuensi banjir

meningkat Gelombang

lebih tinggi Sulit mencari ikan

Ukuran ikan

budidaya lebih kecil Hutan mangrove

hilang sebagian Kualitas air laut

menurun

Hilangnya beberapa biota pesisir

Gambar 4.3

Pendorong dan Dampak Negatif Reklamasi

https://www.bps.go.id

Proses revitalisasi mengharuskan konversi mangrove menjadi lahan untuk restoran maupun tempat wisata berbasis mangrove lainnya. Sayangnya, proses konversi ini berarti membabat habis hutan mangrove supaya ada lahan yang bisa digunakan untuk tujuan lain. Berkurangnya luas mangrove mempengaruhi keberadaan makhluk hidup di sekitar Teluk Kendari.

Reklamasi Teluk Jakarta, yang dilaksanakan di area hutan mangrove, mengurangi ruang terbuka hijau dan mangrove (Alikodra, 1996). Penelitian yang berfokus pada sumber pasir untuk Reklamasi Teluk Jakarta menemukan bahwa penambangan pasir untuk reklamasi dapat mengancam keberadaan stok karbon. Reklamasi di Teluk Jakarta memang menambah luas mangrove di tempat reklamasi tersebut, tapi juga berdampak negatif pada lokasi sumber pasir. Sumber pasir untuk proyek reklamasi di Teluk Jakarta adalah Serang. Penambangan pasir di Serang mengganggu keberadaan mangrove yang mengurangi stok karbon di tempat tersebut (Slamet et al., 2020).

Reklamasi sering dijadikan solusi untuk menambah lahan di dekat pantai.

Penambahan lahan umumnya didorong oleh alasan ekonomi. Reklamasi di Teluk Jakarta, Teluk Kendari, serta Niger Delta menunjukan bahwa proyek reklamasi yang dilakukan bisa berakibat negatif pada keberadaan mangrove baik di lokasi penambangan maupun lokasi reklamasi itu sendiri. Pemerintah dan pihak yang terlibat dalam proyek reklamasi sebaiknya memperhitungkan dampak reklamasi itu sendiri. Dampak reklamasi tidak hanya terjadi pada mangrove tapi masih banyak potensi dampak lain yang akan dibahas pada bagian berikutnya.

4.1.4 Dampak Reklamasi pada Lingkungan

Tidak dapat dipungkiri proyek reklamasi berperan dalam perubahan lingkungan.

Perubahan akibat reklamasi berupa perubahan pada tanah dan air (Majid, 2015). Berikut adalah beberapa dampak reklamasi pada lingkungan.

a. Majid (2015) menemukan bahwa reklamasi di Batam mengakibatkan perubahan pada gelombang pasang surut di wilayah ini. Gelombang pasang surut yang lebih kuat berujung pada abrasi laut yang lebih intensif. Selain itu, mangrove di kawasan ini juga berkurang hampir 90 persen. Hilangnya hutan mangrove

https://www.bps.go.id

78

S t a t i s t i k S u m b e r D aya L a u t d a n Pe s i s i r 2 0 2 3 yang digunakan untuk reklamasi tidak hanya berasal dari laut tapi dari bukit di

sekitar wilayah ini. Penambangan pasir yang masif menyebabkan erosi, banjir, peningkatan sedimen, dan menurunnya kualitas air laut. Penurunan kualitas air laut ini tentunya berdampak negatif pada terumbu karang, ikan, dan biota laut lainnya. Penemuan ini senada dengan penelitian lain dengan lokus berbeda seperti yang dilakukan oleh Mukhtar (2023) dan Ge dan Jun-Yan (2011).

b. Reklamasi besar-besaran yang terjadi di Provinsi Liaoning, Tiongkok dijanjikan mempertimbangkan aspek lingkungan dalam proses pembangunannya.

Meskipun begitu, Zhang et al. (2020) menemukan bahwa reklamasi itu memberikan dampak pada lingkungan antara lain hilangnya lahan basah pesisir, berkurangnya garis pantai, berubahnya ekosistem air di pantai yang berakibat juga pada kehidupan karang, pendangkalan laut, berubahnya ekosistem laut yang berdampak juga pada kehidupan manusia.

c. Reklamasi juga menurunkan keanekaragaman hayati khususnya phytoplankton dan zooplankton (Li et al., 2010). Zamani (2019) juga menemukan bahwa reklamasi menimbulkan sedimentasi di pantai. Hal ini menyebabkan menurunnya volume ikan di sekitar pantai sehingga nelayan harus berlayar lebih jauh ke tengah laut untuk mendapatkan ikan. Berkurangnya jumlah ikan disebabkan penurunan kualitas air pantai dan hilangnya mangrove. Selain itu, penurunan kualitas air ini menemukan bahwa reklamasi menyebabkan penurunan kualitas air karena menciptakan sedimentasi di Kendari. Penurunan kualitas air ini juga dirasakan secara langsung oleh nelayan budidaya ikan karena ikan yang dipelihara tidak dapat bertambah besar.

d. Arif et al. (2020) membahas dampak reklamasi terhadap tinggi gelombang dan kecepatan tsunami. Tsunami memiliki gelombang yang lebih tinggi jika mendekati wilayah pesisir yang disebabkan oleh kemiringan pesisir yang cukup curam. Dengan model TUNAMI, penelitian ini menemukan bahwa tinggi gelombang tsunami setelah reklamasi meningkat menjadi 0,87 m dengan kecepatan 70,5 km/jam. Hal ini terjadi karena reklamasi merubah struktur pesisir. Dengan begitu, tsunami yang terjadi setelah reklamasi memiliki kekuatan destruktif yang lebih besar.

https://www.bps.go.id

e. Numbere (2020) menemukan bahwa reklamasi juga memiliki dampak pada lokasi penambangan pasir untuk reklamasi di Niger Delta. Penggunaan alat berat pada saat pembersihan mangrove memperbesar risiko erosi.

Perikanan tangkap dan budidaya ikan merupakan salah satu sektor dalam blue economy. Reklamasi terutama berakibat pada berubahnya kualitas air laut. Perubahan kualitas ini dapat berakibat pada berkurangnya jumlah ikan yang bisa hidup di sekitar pantai. Kondisi ini tentunya menurunkan potensi perikanan tangkap. Selain itu, seperti yang sudah dijabarkan diatas, kualitas air laut yang rendah dapat membatasi pertumbuhan ikan budidaya sehingga kualitas ikan budidaya menjadi rendah. Ditambah lagi, penambangan pasir untuk reklamasi yang dilakukan di pulau terluar dapat mengubah batas wilayah negara.

4.1.5 Apakah Reklamasi bisa Dilanjutkan?

Reklamasi memiliki dampak negatif dan positif baik kepada lingkungan dan manusia. Dari sisi positif, reklamasi memberikan peluang manusia untuk menciptakan kegiatan ekonomi yang pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan. Di sisi lain, reklamasi memberikan dampak negatif terutama pada lingkungan. Meningkatnya peluang bahaya banjir, berkurangnya garis pantai, berkurangnya luas mangrove, menurunnya kualitas air laut, hanya merupakan sedikit contoh dari akibat negatif dari reklamasi. Pemerintah sudah berupaya mengendalikan dampak buruk ini dengan menghentikan sementara ijin reklamasi pada tahun 2016. Namun, tentunya dampak negative tersebut akan lebih dapat dikendalikan jika reklamasi dilakukan dengan perencanaan yang mempertimbangkan semua aspek.

Bhunia et al. (2021) menjabarkan bahwa reklamasi dapat direncanakan dengan baik sehingga dampak negatifnya bisa diminimalisasi. Perencanaan reklamasi yang dimaksud menggunakan berbagai teknologi seperti Lidar, GIS, remote sensing, dll. Teknologi ini menggambarkan keadaan ekosistem pesisir seperti mangrove, karang, padang lamun.

Selain itu, teknologi ini juga dapat memodelkan perubahan yang mungkin terjadi ketika reklamasi dilakukan. Dengan begitu, pertimbangan yang lebih matang dari penggunaan teknologi dapat mengurangi dampak buruk dari reklamasi.

Pemerintah Indonesia telah mengatur reklamasi dalam UU no 27 Tahun 2007

https://www.bps.go.id

80

S t a t i s t i k S u m b e r D aya L a u t d a n Pe s i s i r 2 0 2 3 Pasal 34. Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa dalam pelaksanaannya, reklamasi diwajibkan untuk menjaga dan memperhatikan: keberlanjutan kehidupan dan penghidupan masyarakat; keseimbangan antara kepentingan pemanfaatan dan kepentingan pelestarian fungsi lingkungan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil; serta persyaratan teknis pengambilan, pengerukan, dan penimbunan material. Dalam penjabarannya di Peraturan Presiden Nomor 122 Tahun 2012, reklamasi tidak diperbolehkan mengambil material reklamasi dari pulau kecil terluar, kawasan konservasi perairan, pulau kecil dengan luas kurang dari 100 Ha, kawasan ekosistem penting, dan pulau kecil yang apabila ditambang menimbukan kehilangan luas lebih dari 10 persen dari luas pulau.

Aturan tersebut dibuat untuk menjaga keberlangsungan lingkungan hidup kita terutama laut dan menjaga batas wilayah negara.

https://www.bps.go.id

Dalam dokumen Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir 2023 (Halaman 93-103)

Dokumen terkait