• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prioritas Nasional

Dalam dokumen RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2021 (Halaman 107-115)

REFUBLIK INDONESTA

4.1 Prioritas Nasional

Dalam upaya mempercepat pemulihan ekonomi

dan

reformasi sosial, pada

tahun

2O2l implementasi sasaran dan arah kebijakan pembangunan dituangkan dalam

tujuh

Prioritas Nasional (PN), seperti pada Gambar 4.1. Penjelasan tiap PN akan mencakup pendahuluan

yang memuat tantangan atau

permasalahan pembangunan

yang

melatarbelakangi penentuan sasaran PN

yang hendak dicapai, dilanjutkan

dengan penjelasan Program Prioritas (PP) dan Proyek Prioritas Strategis/Ma7br Project(MP).

Selain itu, dijelaskan pula

berbagai

upaya memulihkan dampak pandemi

COVID-19

melalui

kegiatan-kegiatan

yalg terkait pada setiap PN, terutama dalam

mendukung

pemulihan

ekonomi

dan

reformasi

sosial. Seluruh

pelaksanaan

PN didukung

dengan kerangka regulasi, kerangka kelembagaan, serta alokasi pendanaan yang diarahkan pada program-program pembangunan

yang terkait langsung dengan pencapaian

sasaran prioritas.

Gambar 4.1

Kerangka Prioritas Nasional RKP 2021

Sumber: Kementerian PPN/Bappenas (diolah), 2020

PRESIDEN

REFUEUK INDONESIA

-

tv.2

-

4.L.1 Prioritas Nasional 1 Memperkuat Ketahanan Ekonomi untuk

Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkeadilan

4.1.1.1.

Pendahuluan

Pembangunan

ekonomi diarahkan untuk

memperkuat

ketahanan ekonomi di

tengah

kondisi ekonomi global yang berjalan lambat dan pandemi COVID-l9.

Pemerintah menetapkan PN Memperkuat Ketahanan Ekonomi

untuk

Pertumbuhan yang Berkualitas

dan Berkeadilan, yang dilaksanakan untuk

mendorong

transformasi ekonomi

dari ketergantungan terhadap sumber daya

alam

(SDA) menjadi daya saing

manufaktur

dan jasa-jasa modern, yang mempunyai

nilai

tambah

tinggi

bagi kemakmuran bangsa demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pelaksanaannya ditopang oleh daya dukung

dan

ketersediaan SDA sebagai modal pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, serta kemampuan

untuk

menciptakan

nilai tambah,

memperluas lapangan

kerja,

menarik investasi, serta meningkatkan ekspor dan daya saing perekonomian.

Dalam mencapai sasaran tersebut, tahun 2O2l memiliki tantangan yang cukup besar. Dari sisi eksternal, proyeksi pertumbuhan global yang melambat dan pemulihan pascapandemi

COVID-19, berdampak pada lambatnya pemulihan perdagangan global,

yang mempengaruhi

aktivitas industri, rendahnya pedalanan wisata secara global

yang mempengaruhi pendapatan devisa

dari

pariwisata, serta lambatnya

arus

investasi yang mempengamhi perluasan ekonomi.

Sedangkan pada sisi internal, berkaitan dengan kapasitas pengelolaan pangan dan energi

untuk

memenuhi konsumsi masyarakat dan dunia usaha, kebutuhan penciptaan lapangan

kerja baru

yang

tinggi di

tengah terbatasnya

kualitas

tenaga kerja yang berdaya saing, kemampuan usaha

mikro, kecil, dan

menengah (UMKM)

untuk

memanfaatkan peluang usaha, efektivitas deregulasi kebijakan

untuk

mendorong perluasan investasi,

industri

dan perdagangan, pemulihan daya

beli

masyarakat

untuk

berwisata,

dan

perbaikan defisit neraca transaksi berjalan

untuk

menjaga stabilitas ekonomi. Selain

itu juga

diperlukan

pendalaman sektor keuangan dengan mempertahankan kedaulatan dan

stabilitas

keuangan.

Penanganan

berbagai tantangan tersebut akan dilaksanakan di antaranya

melalui

(1) penguatan sistem pangan berkelanjutan, yaitu dengan menjalankan

Program Peningkatan Ketersediaan Akses

dan

Kualitas Konsumsi Pangan; (2) upaya peningkatan

ketahanan energi dilakukan melalui peningkatan pemanfaatan energi baru

dan

terbarukan,

kegiatan eksplorasi

minyak dan

gas

bumi, serta

meningkatkan keandalan

infrastruktur

energi; (3) penguatan daya saing

industri

melalui peningkatan akses ke pasar ekspor dan pengadaan produk dalam negeri, serta peningkatan produktivitas tenaga kerja

yang didukung

penerapan

teknologi, dan integrasi sektor hulu-hilir; (4)

pemulihan Dalam rangka pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19, pembangunan ekonomi tahun 2021 diprioritaskan pada penguatan ketahanan ekonomi dengan titik berat pada pembukaan lapangan kerja padat karya, penguatan sistem pangan, pemulihan usaha koperasi dan UMKM, pemulihan industri dan perdagangan, pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif, serta peningkatan investasi. Sebagai langkah konkret, telah disusun delapan MP untuk memperkuat ketahanan ekonomi.

FRES IDEN

REPUEUK

INDONESIA

-

tv.3

-

pemasaran, serta meningkatkan daya dukung dan diversifikasi destinasi pariwisata; dan (5) penguatan ekosistem kelembagaan dan regulasi

untuk

mendukung kepastian usaha, perluasan investasi, efisiensi

distribusi dan

perdagangan,

serta

peningkatan stabilitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

4.1.1.2. Sasaran

Prioritas

Nasional

Pada

tahun

2021

,

sasaran yang akan diwujudkan dalam rangka memperkuat ketahanan ekonomi

untuk

pertumbuhan yang berkualitas

dan

berkeadilan sebagaimana tercantum dalam Tabel 4.1.

Tabel 4.1

Sasaran, Indikator, dan Target PN 1 Memperkuat Ketahanan Ekonomi

untuk Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkeadilan

No. Sasaran/Indikator 2019

(baseline)

Target

2020 2021 2024

1. Meningkatnya daya dukung dan kualitas sumber daya ekonomi sebagai modalitas bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan

1.1 Porsi EBT dalam Bauran Energi

Nasional (%) 9,15 13,40 14,50 ~23,00

1.2 Skor Pola Pangan Harapan (nilai) 86,40 90,40 91,60 95,20 1.3 Penjaminan akurasi pendataan

stok sumberdaya ikan dan pemanfaatan (jumlah Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP))

11 11 11 11

2. Meningkatnya nilai tambah, lapangan kerja, investasi, ekspor, dan daya saing perekonomian

2.1 Rasio kewirausahaan nasional (%) 3,30 3,55 3,65 3,95 2.2 Pertumbuhan PDB Pertanian (%) 3,64 1,65 3,62 4,00-4,10 2.3 Pertumbuhan PDB industri

pengolahan (9.2.1(a)) (%) 3,80 (2,72) d) 5,04 8,10 2.4 Kontribusi PDB industri

pengolahan (9.2.1*) (%) 19,70 20,64 d) 19,63-19,84 21,00 2.5 Nilai devisa pariwisata (8.9.1(c)*)

(US$ Miliar) 19,70 a) 3,30-4,90 e) 4,80-8,50 21,50- 22,90 2.6 Kontribusi PDB pariwisata (8.9.1*)

(%) 4,80 b) 4,00 e) 4,20 4,50

2.7 Penyediaan lapangan kerja per

tahun (juta orang) 2,51 (0,14)-

0,35 2,30-2,90 2,70-3,00 2.8 Pertumbuhan investasi (PMTB) (%) 4,45 (4,80) 6,40 8,00-8,40

PRESIDEN

REPUEUK INDONESIA

tv.4

4. 1. 1.3. Program

Prioritas

Strategi penyelesaian

isu

strategis

dan

pencapaian sasaran PN Memperkuat Ketahanan Ekonomi

untuk

Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkeadilan akan

dilakukan

melalui delapan Program

Prioritas

(PP) seperti

yang

tercantum

dalam

Gambar

4.2.

Sementara sasaran,

indikator, dan target PP pada PN

Memperkuat Ketahanan

Ekonomi untuk

Gambar 4.2

Kerangka PN 1 Memperkuat Ketahanan Ekonomi untuk Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkeadilan Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkeadilan terdapat pada Tabel 4.2.

No. Sasaran/Indikator 2019

(baseline)

Target

2020 2021 2024

2.9 Pertumbuhan ekspor industri

pengolahan (%) (2,60) 2,62 d) 8,07 d) 10,10

2.10 Pertumbuhan ekspor riil barang

dan jasa (%) (0,87) (7,50) d) 4,49 6,20

2.11 Rasio perpajakan terhadap PDB

(17.1.1(a)) (%) 9,76 c) 8,01 d) 8,18 f) 10,70-

12,30 Sumber: Dokumen RPJMN Tahun 2020-2024; Rencana Strategis K/L Tahun 2020-2024; RKP 2020

Keterangan: Angka dalam kurung pada indikator menunjukkan indikator SDGs; *) Indikator nasional yang sesuai dengan indikator global untuk Sustainable Development Goals (SDGs); a) Prognosa 2019;

b) Prognosa/estimasi tahun 2018; c) LKPP Tahun 2019 audited; d) Outlook Bappenas per November 2020; e) Target hasil penyesuaian dampak pandemi COVID-19, f) APBN 2021

PRESIDEH

REPUEUK INDONESIA

Tabel 4.2

Sasaran, Indikator, dan Target PP dari PN 1 Memperkuat Ketahanan Ekonomi

untuk Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkeadilan

No. Sasaran/Indikator 2019 (baseline)

Target

2020 2021 2024

PP 1. Pemenuhan Kebutuhan Energi dengan Mengutamakan Peningkatan Energi Baru Terbarukan (EBT)

Meningkatnya pemenuhan kebutuhan energi dengan mengutamakan peningkatan Energi Baru Terbarukan (EBT)

1.1 Kapasitas Terpasang

Pembangkit EBT (Giga Watt) –

kumulatif 10,29 10,98 11,98 19,34

1.2 Pemanfaatan biofuel untuk

domestik (Juta Kilo Liter) 8,40 10,00 10,20 17,40

PP 2. Peningkatan kuantitas/ketahanan air untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Meningkatnya kuantitas/ketahanan air untuk mendukung pertumbuhan ekonomi

2.1 Produktivitas air (water

productivity) (m3/kg) N/A a) 3,40 3,30 3,00

PP 3. Peningkatan ketersediaan, akses, dan kualitas konsumsi pangan Meningkatnya ketersediaan, akses, dan kualitas konsumsi pangan

3.1 Nilai Tukar Petani (NTP) (nilai) 103,21 103,00 102,00-104,00 105,00 3.2 Angka Kecukupan Energi

(AKE) (kkal/hari) 2.100 2.100 2.100 2.100

3.3 Angka Kecukupan Protein

(AKP) (gram/kapita/hari) 57,00 57,00 57,00 57,00

3.4 Prevalence of

Undernourishment (PoU) (%) 6,70 6,20 5,80 5,00

3.5 Food Insecurity Experience

Scale (FIES) (%) 5,80 5,20 4,80 4,00

PP 4. Peningkatan pengelolaan kemaritiman, perikanan, dan kelautan Meningkatnya pengelolaan kemaritiman, perikanan, dan kelautan

4.1 Konservasi Kawasan Kelautan

(14.5.1*) (juta ha) 23,10 b) 23,40 24,60 26,90

4.2

Proporsi tangkapan jenis ikan yang berada dalam batasan biologis yang aman (14.4.1*) (%)

53,60 c) <64 <67 <80

4.3 Produksi perikanan (juta ton) 23,86b) 21,17 27,55 32,70

4.4 Produksi garam (juta ton) 2,85b) 2,40 3,10 3,40

4.5 Nilai Tukar Nelayan (nilai) N/A h) 102,00 102,00-104,00 107,00 – IV.5 –

FRESIDEN

REFUBUK INDONESIA

– IV.6 – No. Sasaran/Indikator 2019

(baseline)

Target

2020 2021 2024

PP 5. Penguatan kewirausahaan, Usaha Mikro, Kecil Menengah (UMKM) dan koperasi Menguatnya kewirausahaan, Usaha Mikro, Kecil Menengah (UMKM) dan koperasi

5.1 Proporsi UMKM yang mengakses kredit lembaga

keuangan formal (8.3.1(c)*) (%) 24,82 25,20 26,50 30,80

5.2 Pertumbuhan wirausaha (%) 1,70 2,00 2,50 4,00

5.3 Kontribusi koperasi terhadap

PDB (%) 5,54 5,10 5,20 5,50

PP 6. Peningkatan nilai tambah, lapangan kerja, dan investasi di sektor riil, dan industrialisasi

Meningkatnya nilai tambah, lapangan kerja, dan investasi di sektor riil, dan industrialisasi 6.1 Pertumbuhan PDB industri

pengolahan nonmigas (%) 4,30 (2,50) f) 5,10 8,40

6.2 Kontribusi PDB industri

pengolahan nonmigas (%) 17,58 18,71 f) 17,63-17,84 18,90 6.3 Nilai tambah ekonomi kreatif

(Rp Triliun) 1.165,30 f) 1.157,00 i) 1.277,00 1.641,00 6.4 Jumlah tenaga kerja industri

pengolahan (juta orang) 18,90 d) 17,48 j) 18,35 22,50 6.5 Kontribusi tenaga kerja di

sektor industri terhadap total

pekerja (9.2.2*) (%) 14,96 d) 13,61 j) 14,00 15,70

6.6 Jumlah tenaga kerja

pariwisata (8.9.2*) (juta orang) 14,96 13,90 i) 14,30 15,00 6.7 Jumlah tenaga kerja ekonomi

kreatif (juta orang) 19,24 17,25 i) 17,90 19,90

6.8 Peringkat Kemudahan Berusaha Indonesia/ EODB

(Peringkat) 73 Menuju 40 Menuju 40 Menuju 40

6.9 Nilai Realisasi PMA dan PMDN

(Rp Triliun) 809,63 817,20 858,50 1.500,00

6.10 Nilai realisasi PMA dan PMDN industri pengolahan (Rp

Triliun) 215,94 227,20 268,70 782,00

PP 7. Peningkatan ekspor bernilai tambah tinggi dan penguatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri

Meningkatnya ekspor bernilai tambah tinggi dan penguatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN)

7.1 Neraca perdagangan (US$

miliar) 3,51b) 17,6 i) 10,76-12,75 15,00

7.2 Pertumbuhan ekspor

nonmigas (%) (5,06) (4,42)i) (6,0) – (7,9) 9,80

PRESIDEN

REPUBUK

INDONESIA tv.7

Sebagai upaya memulihkan dampak pandemi COVID-19, berbagai kegiatan penting yang dilakukan sebagai berikut.

1.

Pembukaan lapangan pekerjaan yang bersifat padat karya

di

sektor energi, mineral

dan

pertambangan,

melalui

(a) percepatan pembangunan energi

terbarukan

yang didukung penetapan kebijakan feed-in

taiff

(FIT), pengurangan bea impor, relaksasi

TKDN, dan pemberian insentif; (b) pembangunan strategic reserues

dengan

memanfaatkan tangki idle di kilang-kilang tua yang tidak berproduksi

serta pemanfaatan sumur-sumur lapangan tua yang telah tidak berproduksi sebagai storage

untuk minyak mentah

(crude oit) yang

diimpor; dan

(c) percepatan pembangunan smelter

untuk

hilirisasi mineral di dalam negeri.

2.

Penguatan

Perhutanan Sosial berupa

agroforestry,

siluopashre, dan

siluofi.shery

terutama untuk

meningkatkan

manfaat lahan terlantar di

kawasan

hutan

dalam No. Sasaran/Indikator 2019

(baseline)

Target

2020 2021 2024

7.3 Jumlah wisatawan

mancanegara (8.9.1(a)) (juta

kunjungan) 16,11 2,80-4,00 i) 4,00-7,00 16,00-17,00

7.4 Jumlah kunjungan wisatawan

nusantara (juta perjalanan) 282,93 120,00-

140,00 i) 180,00-220,00 320,00- 335,00 PP 8. Penguatan pilar pertumbuhan dan daya saing ekonomi

Menguatnya pilar pertumbuhan dan daya saing ekonomi 8.1 Kontribusi sektor jasa

keuangan/PDB (%) 4,24 b) 4,47 f) 4,17 f) 4,40 f)

8.2 Biaya logistik terhadap PDB

(%) 23,20 23,20 22,20 20,00

8.3 Rasio M2/PDB (%) 38,76 44,5 f) 39,74 f) 43,2

8.4 Peringkat travel and tourism competitiveness index

(peringkat) 40 40 36-39 31-34

8.5 Pembaruan sistem inti administrasi perpajakan (core

tax administration system) (%) 0 1,97 e) 11,99 e) Selesai 8.6 Imbal hasil (yield) surat

berharga negara (%) 7,30 g) Meningkate) Menurun Menurun 8.7 Rasio TKDD yang berbasis

kinerja terhadap TKDD

meningkat (%) 10,38 22,94 e) 25,94 e) 34,94 e)

Sumber: Dokumen RPJMN Tahun 2020-2024; Rencana Strategis K/L Tahun 2020-2024; RKP 2020; BKPM; BPS Keterangan: Angka dalam kurung pada indikator menunjukkan indikator SDGs; *) Indikator nasional yang sesuai

dengan indikator global untuk Sustainable Development Goals (SDGs); a) Indikator baru pada tahun 2020; b) Realisasi BPS Tahun 2019; c) Capaian Tahun 2018; d) Sakernas Agustus tahun 2019, e) Target RPJMN Tahun 2020-2024 yang disesuaikan dengan kondisi pandemi COVID-19 dan tercantum dalam Renstra Kementerian Keuangan; f) Angka/proyeksi sementara; g) Angka Yield SBN Tenor 10 Tahun (data IBPA pada 31 Desember 2019); h) Perubahan tahun dasar; i) Target menyesuaikan dengan kondisi pandemi COVID-19, j) Sakernas Agustus Tahun 2020

PRESIDEN

REPUBUK

INDONESTA

-

tv.8

-

rangka mendukung

penyediaan

pangan

masyarakat, penanggulangan kemiskinan kelompok tani hutan (KTH), serta perlindungan dan penyelamatan kawasan hutan.

3.

Revitalisasi sistem pangan, pemenuhan kebutuhan pasar, peningkatan

nilai

tambah,

dan

pemulihan lapangan

kerja

pertanian-perikanan,

melalui

(a)

rantai

pasok online

dan

penguatan

logistik

pangan, termasuk penguatan

rantai dingin

perikanan dan sistem

distribusi

garam; (b) pemenuhan

kebutuhan

dalam negeri

dan

pemenuhan permintaan ekspor

untuk produk

pangan/perikanan

dan kelautan bernilai

tinggi;

(c) peningkatan kegiatan padat karya dalam bidang pertanian, perikanan dan kelautan dengan tetap memenuhi protokol kesehatan; (d) perlindungan bagi nelayan, pembudi daya ikan, dan petambak garam; (e) pendayagunaan integrasi elektronik data pangan mendukung perencanaan

dan

pengendalian akses

dan kualitas

konsumsi pangan;

(f) bantuan

distribusi

pangan antarmoda

di

wilayah basis produksi dan akses pasar konsumen; (g) bantuan pangan

untuk

rumah tangga rawan pangan; (h) peningkatan

produktivitas pertanian di dryland dan upland serta

pemanfaatan lahan-lahan

terlantar,

seperti pada perkebunan; (i) pengembangan

food

estate (Kawasan Sentra Produksi Pangan);

fi)

pengembangan

triple helk

peternakan

sapi

terpadu

dan

riset inovatif kolaboratif, serta (k) pengembangan SNI beras biofortifikasi, jamu dan kratom.

4.

Pemulihan usaha koperasi dan UMKM, melalui (a) pemberian pinjaman modal kerja,

termasuk melalui

channelling dengan lembaga keuangan (Perbankan, PNM, BPR, Pegadaian, PNM, Koperasi); (b) pemberian keringanan kredit dalam bentuk penundaan pembayaran angsuran

dan subsidi bunga bagi

UMKM

yang memiliki pinjaman

di lembaga keuangan; (c) pendampingan pemulihan usaha

dan

rencana keberlanjutan

usaha dalam

bidang UMKM; (d) pemberian

insentif pajak

berupa penurunan

tarif pajak bagi pelaku UMKM; (e)

peningkatan akses

koperasi dan UMKM

terhadap e-commerce

atau

marketplace

melalui pelatihan dan inkubasi untuk

memperluas p€rngsa pasa-r

UMKM; (0 penyaluran pembiayaan serta

pendampingan

untuk

mengakses

saluran

pembiayaan

untuk

koperasi

dan

UMKM

seperti Kredit

Usaha Rakyat (KUR),

Kredit Ultra Mikro

(UMi), Mekaar, ULaMM, Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) koperasi dan UMKM, dan lainnya; (g) fasilitasi pelibatan UMKM dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah dan BUMN; (h) pembiayaan investasi kepada koperasi melalui LPDB koperasi

dan

UMKM; serta (i) peningkatan kemitraan usaha

antara Usaha Mikro Kecil

(UMK)

dengan Usaha

Menengah

Besar

(UMB)

untuk

menciptakan

rantai

pasok domestik yang terintegrasi serta mendorong produktivitas dan pemasaran.

5.

Pemulihan

industri

pengolahan

dan

perdagangan, melalui (a)

fasilitasi re-hiing

dan re-training tenaga

kerja;

(b) pemulihan produktivitas melalui perbaikan

rantai

pasok, pemulihan akses bahan

baku

dan energi,

serta

investasi permesinan; (c) akselerasi

industri substitusi impor

khususnya makanan, minuman,

kimia,

farmasi,

dan

alat kesehatan; (d) peningkatan

fasilitasi

ekspor melalui relaksasi

lartas impor,

National Logi,stics Ecosgstem dan perluasan akses pendanaan ekspor, (e) peningkatan jumlah pelaku ekspor melalui penguatan program pendampingan ekspor, pelatihan ekspor,

dan pusat informasi ekspor; (f)

peningkatan promosi ekspor

melalui

pemanfaatan media

virtual

dan elektronik

untuk

promosi, buslness matching, dan pengembangan electronic marketplace; (g) penguatan peran perwakilan dagang

di luar

negeri

untuk

market intelligent dan promosi ekspor; (h) optimalisasi diplomasi ekonomi serta skema

perjanjian

perdagangan

dan ekonomi bilateral, regional dan multilateral

dalam

Preferential Trade (WA)lFree Trade

PRESIDEN

REFUEUK

INDONESIA

-

rv.9

-

Economic Partnership Agreement (CEPA)

serta forum lainnya; (i) pemulihan

pasar dalam negeri yang didukung peningkatan belanja pemerintah dan Badan Usaha

Milik

Negara (BUMN)

untuk

penggunaan

produk dalam

negeri;

[).

peningkatan efisiensi

logistik yang didukung antara lain melalui pembangunan/revitalisasi

sarana perdagangan (pasar ralgrat,

pasar induk dan

gudang)

dan

pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK); (k) percepatan operasionalisasi Kawasan

Industri

(KI) prioritas; (l) pemulihan produktivitas dan pemasaran produk IKM (Industri Kecil dan Menengah)

melalui

revitalisasi permesinan, pendampingan

dan fasilitasi

kemitraan;

dan (m)

transformasi

menuju industri maju melalui

penerapan

industri 4.0

dan optimalisasi pemanfaatan teknologi

digital

terutama pada sektor-sektor strategis di beberapa Kawasan.

Dalam dokumen RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2021 (Halaman 107-115)