• Tidak ada hasil yang ditemukan

Religiositas dalam puisi Sajadah Panjang

Bait IV Bait IV

B. Religiositas dalam puisi Sajadah Panjang

Pada puisi Sajadah panjang, di bait pertama penyair menyuguhkan kata sajadah yang begitu panjang dan terbentang sebagai bentuk simbolik dari dunia yang begitu luas. Kata sajadah juga metafor yang erat kaitannya dengan ibadah sholat. Namun, di sini penyair menganalogikan sajadah sebagai dunia tempat manusia berbekal untuk akhirat.

Pada baris kesatu penyair menyatakan bahwa ada sajadah yang panjang dan begitu luas, yang terhampar dari kaki buaian sampai ke tepi kuburan. Penggunaan kata /kaki buaian/ yang menyatakan awal mula atau kelahiran seorang manusia di dunia, lalu di teruskan dengan kata /tepi kuburan/ yang menyatakan kematian, kematian siapa, yakni kematian hamba Tuhan atau makhluk ciptaanya /kuburan hamba bila mati/. Jelas di sini penyair mencoba berdakwah melalui puisinya. Bahwa kehidupan manusia sejak ia dilahirkan ke dunia ini tidak semata-mata untuk hidup begitu saja, ada maksud dan tujuan Tuhan untuk menciptakan manusia.

Di bait kedua penggunaan kata sajadah panjang terbentang bertujuan untuk menyatakan sikap penyair terhadap pembaca, di mana penyair mengajak pembaca agar selalu beribadah kepada Tuhan, bahwa tujuan diciptakannya alam semesta ini adalah sebagai tempat manusia untuk beribadah seperti yang terdapat pada larik kedua dan ketiga /hamba tunduk dan sujud/di atas sajadah yang panjang ini/. Sejatinya manusia diciptakan memang hanya untuk beribadah seperti yang tertera dalam Al- Qur’an: “Dan aku tidak akan menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaku” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu memiliki hawa nafsu berupa membutuhkan kebutuhan-kebutuhan hidup yang tidak dapat dipungkiri sebagai kodrat manusia yang sesungguhnya. Seperti dalam hal sandang pangan dan ilmu pengetahuan yang dapat digunakan sebagai alat untuk bisa bertahan hidup di dunia dan penopang dalam ibadahnya. Di

samping manusia hidup hanya untuk beribadah, manusia juga dibebaskan untuk mencari rahmatnya yang terhampar di muka bumi. Seperti mencari ilmu, mencari rezeki, sepanjang waktu tanpa melalaikan tujuan utamanya sebagai hamba, yakni ibadah. Karena hal tersebut hanya sebagai sebuah interupsi dari kegiatan ibadahnya. Dan begitu manusia selesai dengan kehidupan duniawinya, apabila seruan untuk beribadah berkumandang, maka manusia kembali ke fitrah asalnya sebagai hamba Tuhan untuk melanjutkan ibadahnya. Seperti yang terdapat di bait ketiga /Di selingi sekedar interupsi/ /mencari rezeki mencari ilmu/ /mengukur jalanan seharian/ /begitu terdengar suara azan/ /kembali tersungkur hamba/.

Demikian Taufiq berdakwah dengan puisi ini mengajak pembacanya untuk selalu beribadah sepanjang waktu, dan menganggap kehidupan dunia hanya sebagai interupsi.

Di bait keempat baris pertama /ada sajadah panjang terbentang/

penyair masih menunjukan eksistensi dunia yang dianalogikan sepert sebuah sajadah yang panjang dan terhampar luas. Pada baris kedua berbeda dengan larik kedua di bait kedua, yang menggunakan kata sujud.

Lalu peranannya digantikan dengan kata rukuk pada larik ke dua di bait kelima ini. Kedua kata tersebut saling bertaut karena keduanya merupakan bagian dari rukun sholat. Itulah sebabnya puisi ini begitu kental dengan simbol ibadah sholat, yang sebenarnya maksud dari Taufik adalah sebuah bentuk puisi religius yang makna ibadahnya begitu luas, bukan hanya sholat saja.

Lalu pada kata rukuk dan sujud selain sebagai bentuk simbol akan kepatuhan, ketundukan, ketulusan dan berserah diri kepada Tuhan. Kedua kata tersebut juga memiliki unsur filosofis dari sisi religiusnya. Apabila kita melihat budaya Jepang, mereka memberikan salam penghormatan kepada seseorang dengan cara membungkukkan badannya. “Rukuk” pun demikian hanya saja yang kita hormati bukanlah manusia, tetapi pencipta manusia, jadi rukuk yang kita lakukan lebih ikhlas, penuh kepasrahan,

khusyu, dan khidmat, karena rukuk yang kita lakukan merupakan sebuah bentuk salam penghormatan dan penyerahan diri hanya kepada Tuhan.

Selanjutnya pada pemilihan diksi sujud, kata sujud yang digunakan Taufiq di sini sangat istimewa karena kata sujud bisa mengkongkretkan dari berbagai makna kepatuhan karena orang yang sujud sudah pasti tunduk, pasrah, takut, dan lain sebagainya. Sujud merupakan sebuah bentuk ketaatan yang paling mendalam. Dengan sujud manusia sadar akan keterbatasannya sebagai manusia, tidak ada kekuatan apapun yang melebihi kekuatan Tuhan yang Maha Besar. Manusia juga bisa menumpahkan keluh kesah, penyesalan, rasa takut, dan doa dalam sujudnya.

Lalu pada larik ketiga “hamba sujud dan tak lepas kening hamba”

pada larik initokoh hamba dalam puisi ini sangat berserah diri kepada Tuhannya. Hal ini terdapat pada frase“hamba sujud”. Selain itu penyair juga menyajikan imaji taktil seolah-olah kita dapat merasakan kening kita bersentuhan langsung dengan sajadah, seperti yang terdapat pada frase

“dan tak lepas kening hamba”, yang memperkuat efek religius seolah- olah kita tidak ingin lepas dari ridho Tuhan, sehingga kita dapat merasakan begitu khusyuknya seorang hamba dalam beribadah.

Makna kompleks yang terkandung pada larik ini berisikan sebuah bentuk ketundukan, kekhusyuan, dan penyerahan diri sepenuhnya seorang hamba kepada Tuhan. Ditopang lagi dengan bentuk sebuah kekhusyuan yang diperkuat di larik empat dan lima.”Mengingat Dikau”,”sepenuhnya”

seolah-olah subjek dalam puisi ini hanya memikirkan dan terfokus pada kehidupan akhiratnya saja, namun hal yang ingin di sampaikan Taufiq Ismail dalam puisi ini adalah sebuah bentuk perasaan religius yang mengajak para pembacanya agar selalu mengingat Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun, tanpa melalaikan kehidupan dunia.

Dengan puisinya tersebut Taufik telah menggariskan makna dan untuk apa kehadiran seorang manusia di dunia, atau lebih khusus: apa hakekat tujuan hidup seorang manusia, apa yang harus dilakukannya, dan apa saja kewajibannya, tidak lain adalah untuk saling mengingatkan kepada sesama manusia karena hal tersebut merupakan sebuah kebenaran yang mutlak. Dan karena pui si ini tidak bisa dipisahkan dari pandangan hidup dan semangat religius dari penyairnya sebagai seorang muslim, maka arti kebenaran di sini ialah kebenaran dalam persepektif islam yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan hadis. Dalam perkataan lain menyampaikan kebenaran ialah menegakkan hak. Di dunia ini menurut ajaran Islam, tiada satupun kebenaran selain dari Allah dan rasul, seperti yang termaktub dalam kedua sumber ajaran Islam: Al-Qur’an dan hadis.

Bagi Taufiq menyampaikan kebenaran yang diamanatkan Allah dan rasul kepada umat manusia, bukan saja tugas yang dipandang mulia terlebih merupakan suatu kewajiban bagi setiap kaum muslimin dan muslimat. Bahkan apabila amanat itu tidak dilaksanakan, kita akan mendapat sanksi dari Tuhan: kita akan termasuk dalam golongan orang- orang yang berdosa.9

C. Religiositas dalam puisi Sembilan Bait Nyanyian untuk Cheng Ho