A. Gambaran Objek Penelitian 1. Profil Pondok Pesantren
5. Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Bustanul Ulum
1 2 3 4
17 Siti Nur Jannah Jilid V Kelas VIII MTs
18 Dian Humairoh Jilid V Kelas VIII MTs
19 Anisatul Mufarrohah Jilid V Kelas VIII MTs 20 Eka Septianingtias Jilid V Kelas VIII MTs
21 Ayu Dyah Jilid VI Kelas IX MTs
22 Wiwinda Oktavia Jilid VI Kelas IX MTs
23 Sindi Dwi Purwati Jilid VI Kelas IX MTs
24 Fifiati Jilid VI Kelas IX MTs
25 Dewi Karimah Jilid VI Kelas IX MTs
26 Aisyil Mardiyah Calon Wisuda Kelas VII MTs 27 Qorirul Aini Calon Wisuda Kelas VIII MTs 28 Riyatus Sholihah Calon Wisuda Kelas VIII MTs 29 Indah Nurika Calon Wisuda Kelas VIII MTs 30 Azizah Faizatul M. Calon Wisuda Kelas VIII MTs Sumber : Dokumentasi Pondok Pesantren Bustanul Ulum Putri 2015.
Table 4.6
Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Putri Bustanul Ulum Tahun Pelajaran 2014/2015
No Jenis Sarana dan Prasarana Jumlah Kondisi
1 2 3 4
1 Kamar terdiri dari 8 blok:
a. Darul Abror 7 Baik
b. Darut Taubah 8 Baik
c. Darun Na’im 6 Baik
d. Darul Qur’an 2 Baik
e. Darus Sa’adah 3 Baik
f. Darul Istiqomah 6 Baik
g. Darut Taqwa 4 Baik
h. Darul maktubah 6 Baik
2 Kantor Pesantren 1 Baik
3 Kamar Pengurus 1 Baik
4 Kantor Maktubah 1 Baik
5 Koperasi Pesantren 1 Baik
6 Toko 1 Baik
7 Mushalla 1 Baik
8 Kamar Mandi 7 Baik
9 Kantor BLC 1 Baik
10 Kelas At-tanzil 9 Baik
11 Papan tulis hitam 9 Baik
1 2 3 4
12 Papan tulis putih 9 Baik
Sumber: Dokumentasi Pondok Pesantren Bustanul Ulum Putri 2015 B. Penyajian Data dan Ananlisis
1. Metode Pembelajaran At-tanzil
Beradasarkan hasil wawancara dengan Ustadz Hamidin pada tanggal pada tanggal 11 Mei 2015 selaku sekretaris pengurus cabang Jember Yayasan al-Khairot at-Tanzil tentang alasan penggunaan metode at-Tanzil di Pondok Pesantren Bustanul Ulum, menyatakan bahwa:
“Alasan penggunaan metode at-tanzil diterapkan di Pondok pesantren Bustanul Ulum Bulugading, yaitu karena jilidnya itu runtut dari jilid I-VI, untuk menjadi ustadzah at-tanzil itu tidak sulit, tidak sulit itu maksudnya hanya mengikuti pelatihan saja, dari pelatihan itu mendapatkan sertifikat sebagai tanda bukti, dan tidak tes menjadi ustadzah, dan untuk memperoleh buku at-tanzil lebih mudah, karena pondok pesantren Bustanul Ulum merupakan pusat dan koordinator wilayah cabang Jember.”157
Beradasarkan hasil wawancara dengan Ustadz Mashuri pada tanggal pada tanggal 11 Mei 2015 selaku alumni santri di Pondok Pesantren Bustanul Ulum, dan merupakan pengurus metode at-tanzil menyatakan bahwa:
“Alasan penggunaan metode at-tanzil diterapkan di Pondok pesantren Bustanul Ulum Bulugading, yaitu karena jilidnya itu runtut dari jilid I-VI, karena ustadz di pondok pesantren Bustanul Ulum paling banyak alumni dari Madura, jadi apa yang mereka dapat di pondok pesantren Madura diterapkan di pondok pesantren Bustanl Ulum khususnya metode praktis membaca al-Qur’an dengan metode at-tanzil, apalagi Kyai Baidhowi sendiri selaku pengurus pondok
157 Ustadz Hamidin, Wawancara Via Telepon, Jember, 11 Mei 2015.
pesantren merupakan alumni pondok pesantren dari Madura, dan juga lebih mudah mendapatkan buku at-tanzil nya.”158
Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadzah Firda selaku koordinator ustadzah at-Tanzil di pondok pesantren putri Bustanul Ulum pada tanggal 11 Mei 2015 menyatakan bahwa:
“Alasan penggunaan metode at-tanzil diterapkan di Pondok pesantren Bustanul Ulum Bulugading, yaitu karena jilidnya itu runtut dari jilid I-VI, ada materi penunjangnya juga biar santri gak jenuh belajar al-Qur’annya, kayak nasyid, tepuk-tepuk. Untuk menjadi ustadzah at-tanzil tidak ruwet mbak, tanpa ada munaqasah untuk menjadi ustadzah at-tanzil, yang penting ada kemauan keras untuk belajat metode at-tanzil itu sendiri, tetapi harus mengikuti pelatihan juga mbak. Karena mengikuti pelatihan itu juga tanda bukti memiliki kemauan keras untuk belajar at-tanzil”.159
Dari hasil wawancara dengan Ustadzah Firda selaku koordinator Ustadzah at-tanzil di pondok pesantren putri Bustanul Ulum tentang pembagian kelas jilid dan khatam metode at-tanzil pada tanggal 28 Mei 2015 menyatakan bahwa:
“Bagi santri yang baru mondok di sini, mereka di tes mengaji terlebih dahulu, dari segi membacanya, lalu materi tentang tajwid, setelah itu baru ditentukan santri masuk di jilid yang mana, jadi tergantung mbak. Gak semua santri yang baru masuk harus belajar at-tanzil dulu. Kalau sudah paham kaidah ilmu tajwid, maka santri dapat mengaji kitab kuning. Atau bagi santri yang masih kurang pengetahuannya dalam kaidah ilmu tajwid maka santri dapat langsung ke jilid yang sudah ditentukan melalui tes yang kita lakukan mbak, tidak harus ke jilid 1 terlebuh dahulu, sesuai kemampuan mereka. Dan untuk santri di sini khatamnya secara keseluruhan dari jilid I-VI 1 tahun mbak. Setiap jilid khatamnya 1,5 bulan.
Biasanya selama 9 bulan sudah selesai, karena terpotong dengan hari libur itu juga mbak. Jadi santri di sini bisa menyelesaikannya selama 1 tahun.
Tapi tidak dengan menghatamkan al-Qur’an, hanya khatam jilid I-VI saja”.
160
158 Ustadz Mashuri, Wawancara , Jember, 11 Mei 2015.
159 Ustadzah Firda, Wawancara , Jember, 11 Mei 2015.
160 Ustadzah Firda, Wawancara , Jember, 28 Mei 2015.
Dari hasil wawancara dengan Ustadzah Devy selaku ustadzah calon wisuda tentang pembagian kelas jilid dan khatam metode at-tanzil pada tanggal 28 Mei 2015 menyatakan bahwa:
“Santri yang baru masuk pondok sini, di tes dulu mengajinya, supaya tau apakah santri masuk jilid mana atau sudah termasuk santri yang bisa membaca al-Qur’an dengan tartil, dan untuk santri khatamnya setiap jilid di sini 1,5 bulan tetapi secara keseluruhan menempuh sampai wisuda selama 1 tahun.”161
Dari hasil wawancara dengan Ernawati Dewi selaku ustadzah jilid VI tentang pembagian kelas jilid dan khatam metode at-tanzil pada tanggal 28 Mei 2015 menyatakan bahwa:
“Santri harus di tes dulu sebelum mengetahui masuk jilid yang mana, jilid I atau seterusnya. Tergantung dari hasil tes. Biasanya yang mengetes itu mbak Firda, saya, dan mbak Devy, ustadzah yang lain juga. Tetapi bagi santri yang sudah bisa belajar membaca al-Qur’an dengan tartil bisa belajar kitab kuning. Kalau khatam setiap jilid 1,5 bulan itu mbak, karena kita kan ada hari liburnya, belum lahi kalau ada acara-acara lain. Jadi hari belajarnya terpotong karena itu”.162
Dari hasil wawancara pembahasan tentang alasan penggunaan metode at-tanzil di Pondok Pesantren Bustanul Ulum dapat disimpulkan bahwa jilidnya runtut dari jilid I-VI, Untuk menjadi ustadz atau ustadzah at-tanzil tidak dipersulit, tanpa adanya munaqasah untuk ustadz atau ustadzah, yang terpenting menguasai ilmu tajwid dan makhrajnya juga harus benar. Tetapi harus mengikuti pelatihan yang diadakan oleh yayasan al-Khoirot cabang Jember. Selain itu, sebagai pengaplikasian Kyai Baidhowi sebagai alumni santri dari Pondok Pesantren Bata-bata, Madura tentang metode at-tanzil di Pondok Pesantren Bustanul Ulum.
161 Ustadzah Devy, Wawancara , Jember, 28 Mei 2015.
162 Ustadzah Ernawati, Wawancara , Jember, 28 Mei 2015.
Dari hasil wawancara pembahasan tentang pengklasifikasian kelas dari setiap jilid dapat disimpulkan bahwa untuk santri yang baru masuk pondok pesantren, maka santri di tes terlebih dahulu untuk memasuki jilid at-tanzil dari jilid I-VI, atau tidak sama sekali. Hal itu tergantung hasil tes yang dilakukan oleh para ustdzah di pondok pesantren Bustanul Ulum.
Sedangkan untuk khatam santri putri selama 1 tahun tanpa mengkhatankam al-Qur’an. Padahal secara teori khatam metode at-tanzil selama 1,5 tahun dengan khatam membaca al-Qur’an dari juz 1 sampai juz 30. Jadi pondok pesantren putri Bustanul Ulum tidak melaksanakan program khatam al-Qur’an yang dimulai dari jilid IV-VI, hanya mengkhatamkan at-tanzil dari jilid I-VI.
a. Perencanaan Metode Pembelajaran At-tanzil 1) Kompetensi Guru
Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadzah Firda selaku koordinator ustadzah at-Tanzil di pondok pesantren putri Bustanul Ulum pada tanggal 02 Mei 2015 menyatakan bahwa:
“Kalau menjadi Ustadzah yang mengajar at-tanzil itu tidak harus lulus at-tanzil, jadi ketika di awal tes itu sudah memenuhi syarat bisa jadi ustazdah at-tanzil yang terpenting menguasai ilmu tajwid dan makhrajnya benar. Selain itu, harus mengikuti pelatihan 3 kali mbak, 2 kali pelatihan wajib, dan 1 pelatihan tidak wajib. Pelatihan pertama itu biasanya langsung dari pendiri At-tanzil sendiri yaitu Ustadz Suroto, seperti yang mbak ikut waktu bulan Januari di Mumbulsari itu. Pelatihan kedua yaitu di daerah Mangli mbak, yang dibimbing langsung oleh Ustadz Kholili biasanya tentang makharijul huruf. Sedangkan pelatihan ketiga itu diadakan oleh pengurus pesantren sendiri waktu
liburan semester, dan sifatnya tidak wajib mbak. Selain itu melihat akhlaq sehari-hari dari calon ustdzah at-tanzil”.163 Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadzah Devi selaku ustadzah calon wisuda di pondok pesantren putri Bustanul Ulum pada tanggal 02 Mei 2015 menyatakan bahwa:
“Gak harus lulus jilid at-tanzil yang terpenting dapat menguasai ilmu tajwid, dan mau belajar metode at-tanzil.
Dan selain itu harus mengikuti beberapa pelatihan mbak, pelatihan wajib diadakan sekabupaten Jember dan biasanya narasumbernya adalah Ustadz Surito Suruji, dan pelatihan yang kedua oleh Ustadz Kholili sebagai narasumbernya.
Dan pelatihan yang tidak wajib tidak harus diikuti oleh ustadzah yang lain, dan diadakan oleh pihak pengurus ustadzah at-tanzil”.164
Selain itu, dari hasil observasi tentang kompetensi ustadzah, peneliti mengetahui kompetensi ustadzah di Pondok Pesantren Bustanul Ulum ketika proses pembelajaran membaca al-Qur’an berlangsung pada tanggal 05 Mei 2015, yaitu para ustadzah berpakaian muslimah, suara lantang dan jelas.
Dari hasil interview dan observasi pada pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa persyaratan menjadi Ustadzah At-tanzil antara lain:
a) Lulus belajar at-tanzil dari jilid I-VI b) Mengikuti 3 kali pelatihan:
(1) Pelatihan pertama, dibimbing oleh pendiri At-tanzil yaitu Ustadz Suroto Suruji, bersifat wajib.
163 Ustadzah Firda, Wawancara, Bangsalsari, 2 Mei 2015.
164 Ustadzah Devy, Wawancara, Bangsalsari, 2 Mei 2015.
(2) Pelatihan kedua, dibimbing oleh Ustadz Kholili, bersifat wajib
(3) Pelatihan ketiga, diadakan oleh pengurus Pondok Pesantren Bustanul Ulum ketika libur semester, dan bersifat tidak wajib.
c) Berpakaian muslimah d) Suara jelas dan lantang 2) Bahan Ajar
Dari hasil wawancara dengan ustadzah Firda selaku koordinator ustadzah at-Tanzil di pondok pesantren putri Bustanul Ulum pada tanggal 02 Mei 2015 menyatakan bahwa: “Bahan ajar yang digunakan dalam proses pembelajaran metode at-tanzil antara lain: kitab at-Tanzil dari jili I-VI, buku metode praktis mengajar at- tanzil, dan buku tajwid praktis, buku do’a dan tepuk-tepuk”.165
Dari hasil wawancara dengan ustadzah Ernawati selaku ustadzah jilid VI di pondok pesantren putri Bustanul Ulum pada tanggal 02 Mei 2015 menyatakan bahwa: “Bahan ajar yang dipakek ada 8 buku mbak, diantaranya adalah: kitab at-Tanzil dari jili I-VI, buku metode praktis mengajar at-tanzil, dan buku tajwid praktis, buku do’a dan tepuk-tepuk”.166
Dari hasil wawancara dengan ustadzah Devy selaku ustadzah calon wisuda di pondok pesantren putri Bustanul Ulum
165 Ustadzah Firda, Wawancara, Bangsalsari, 2 Mei 2015.
166 Ustadzah Ernawati, Wawancara, Bangsalsari, 2 Mei 2015.
pada tanggal 02 Mei 2015 menyatakan bahwa: “Bahan ajar yang dipakek ada kitab at-Tanzil dari jili I, jilid II, jilid III, jilid IV, jilid V, jilid VI, buku metode praktis mengajar at-tanzil sebagai petunjuk bagi para ustadzah, buku tajwid praktis, buku do’a dan tepuk-tepuk”.167
Selain itu, dari hasil observasi peneliti pada tanggal 05 Mei 2015 para santriwati membawa buku at-tanzil jilid I sampai jilid VI yang disesuaikan dengan kelas jilid, dan para ustadzah membawa buku at-tanzil jilid I sampai jilid VI disesuaikan dengan kelas jilid.
Dan buku metode praktis mengajar at-tanzil. Untuk buku tajwid praktis dibawa oleh ustadzah yang sudah mengajar tajwid. Serta memiliki buku do’a dan tepuk-tepuk sebagai materi penunjang santri.
Dari hasil wawancara dan hasil observasi pada pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang digunakan di Pondok Pesantren Bustanul Ulum dalam pembelajaran membaca al-Qur’an yaitu buku at-tanzil dari jilid I sampai jilid VI, buku metode praktis mengajar at-tanzil sebagai petunjuk bagi para ustadzah, buku tajwid praktis, dan buku do’a dan tepuk-tepuk sebagai materi penunjang.
3) Materi Pembelajaran
167 Ustadzah Devy, Wawancara, Bangsalsari, 2 Mei 2015.
Dari hasil wawancara dengan ustadzah Umi Kulsum selaku ustadzah jilid II yang sebelumnya merupakan ustadzah jilid I pada tanggal 01 Mei 2015 menyatakan bahwa:
“Materi yang diberikan pada jilid I, ada dua yaitu: materi pokok: huruf hijaiyah (dengan fathah), materi penunjang terdiri dari: tepuk (anak sholeh, rukun Iman, rukun Islam), surat (al-Ikhlas, an-nas, al-Falaq, al-Kautsar), do’a (kedua orang tua, mau makan, sesudah makan, keselamatan dunia akhirat), dan nasyid (shalat fardhu, rukun Islam yang lima)”.168
Sedangkan dari hasil wawancara dengan ustadzah Ulfatus Sh selaku ustadzah jilid II yang sebelumnya merupakan ustadzah jilid I pada tanggal 01 Mei 2015 menyatakan bahwa:
“Materi yang diberikan pada jilid I ada dua bagian, yaitu materi pokok dan materi penunjang mbak. Materi pokok jilid I itu huruf hijaiyah (dengan fathah), kalau materi penunjangnya itu tepuk (anak sholeh, rukun Iman, rukun Islam), surat (al-Ikhlas, an-Nas, al-Falaq, al-Kautsar), do’a (kedua orang tua, mau makan, sesudah makan, keselamatan dunia akhirat), dan nasyid (shalat fardhu, rukun Islam yang lima). Cara bacanya pendek semua”.169 Dari hasil wawancara dengan ustadzah Umi Kulsum selaku ustadzah jilid II pada tanggal 01 Mei 2015 menyatakan bahwa:
“Materi yang diberikan pada jilid II yaitu materi pokok:
huruf hijaiyah (dengan semua harakat), panjang dan pendek kalimat, dan bunyi huruf hijaiyah, materi penunjang yaitu surat-surat (an-Nasru dan al-Fil, al- lahab), do’a (ketika ada petir, masuk WC, keluar WC, untuk kedua orang tua, kebaikan dunia akhirat), Nasyid (mad thobi’i)”.170
168 Ustadzah Umi Kulsum, Wawancara, Bangsalasari, 01 Mei 2015.
169 Ustadzah Ulfatus Sh, Wawancara, Bangsalasari, 01 Mei 2015.
170 Ustadzah Umi Kulsum, Wawancara, Bangsalasari, 01 Mei 2015.
Sedangkan dari hasil wawancara dengan ustadzah Ulfatus Sh selaku ustadzah jilid II pada tanggal 01 Mei 2015 menyatakan bahwa:
“Materi yang diberikan pada jilid II juga terdiri dari dua bagian mbak, materi pokok dan materi penunjang. Materi pokoknya yaitu huruf hijaiyah (dengan semua harakat yaitu fathah, dhummah, kasroh, fathah tanwin, kasroh tanwin, dhummah tanwin, sukun, fathah berdiri, karoh berdiri, dhummah terbalik), panjang dan pendek kalimat (fathah diikuti alif, kasroh diikuti ya’ sukun, dhummah diikuti wawu sukun, fathah berdiri, kasroh berdiri, dhummah terbalik), dan bunyi huruf hijaiyah (fathah dibaca a, kasroh dibaca i, dhummah dibaca u, fatha tanwin dibaca an, kasroh tanwin dibaca in, dhummah tanwin dibaca un), materi penunjang yaitu terdiri dari surat-surat (an-Nasru dan al-Fil, al-Lahab), do’a-do’a (ketika ada petir, masuk WC, keluar WC, untuk kedua orang tua, kebaikan dunia akhirat), dan nasyid (mad thobi’i)”.171
Dari hasil wawancara dengan ustadzah Faiqotul Hikmah selaku ustadzah jilid III pada tanggal 05 Mei 2015 menyatakan bahwa:
“Materi yang diberikan pada jilid III yaitu materi pokok:
bunyi huruf hijaiyah (mendalam), pengenalan hukum ro’
(tafkhim dan tarqiq), dan tasydid (dibaca dua), materi penunjang terdiri dari tepuk: (huruf qalqalah, tepuk mad, tepuk malaikat), surat-surat: (al-Lahab, al-Qurays, al- Kafirun), do’a-do’a: (kebaikan dunia akhirat, doa mendapat karunia dan musibah), dan nasyid: mim sukun, mad thabi’i”.172
Dari hasil wawancara dengan ustadzah Nurul Aida selaku ustadzah jilid III pada tanggal 05 Mei 2015 menyatakan bahwa:
171 Ustadzah Ulfatus Sh, Wawancara, Bangsalasari, 01 Mei 2015.
172 Ustadzah Faiqtul Hikmah, Wawancara, Bangsalasari, 05 Mei 2015.
“Materi yang diberikan pada jilid III terdiri dari materi pokok dan materi penunjang. materi pokok terdiri dari bunyi huruf hijaiyah (mendalam), pengenalan hukum ro’
(tafkhim dan tarqiq), dan tasydid (dibaca dua), materi penunjang terdiri dari tepuk: (huruf qalqalah, tepuk mad, tepuk malaikat), surat-surat: (al-Lahab, al-Qurays, al- Kafirun), do’a-do’a: (kebaikan dunia akhirat, doa mendapat karunia dan musibah), dan nasyid : mim sukun, mad thabi’i”.173
Sedangkan dari hasil wawancara dengan ustadzah Karimatul Jannah selaku ustadzah jilid III pada tanggal 05 Mei 2015 menyatakan bahwa:
“Materi yang diberikan pada jilid III terdiri dari materi pokok dan materi penunjang. materi pokok terdiri dari bunyi huruf hijaiyah (mendalam), pengenalan hukum ro’
(tafkhim dan tarqiq), dan tasydid (dibaca dua), materi penunjang terdiri dari tepuk: (huruf qalqalah, tepuk mad, tepuk malaikat), surat-surat: (al-Lahab, al-Qurays, al- Kafirun), do’a-do’a: (kebaikan dunia akhirat, doa mendapat karunia dan musibah), dan nasyid : mim sukun, mad thabi’i”.174
Dari hasil wawancara dengan ustadzah Faiqotul Masruroh selaku ustadzah jilid IV pada tanggal 05 Mei 2015 menyatakan bahwa antara lain:
“Materi yang diberikan pada jilid IV yaitu materi pokok:
tanda aula’, hukum al, Hukum lafadz Allah, pengenalan dasar-dasar tajwid serta cara bacaannya, hukum nun sukun dan tanwin serta cara bacanya, hukum mim sukun serta cara bacanya, fawatihus shuwar. Materi penunjang terdiri dari: tepuk (huruf ghunnah, nun sukun dan tanwin), Suroh (al-Kafirun, al-Maa’un, dan at-takatsur), do’a-do’a (bercelak, mau wudhu, sesudah wudhu’, naik, kendaraan, masuk masjid, keluar masjid, ketika i’tidal, angin rebut, dan nasyid (shalat fardhu)”.175
173 Ustadzah Nurul Aida, Wawancara, Bangsalasari, 05 Mei 2015.
174 Ustadzah Karimatul Jannah, Wawancara, Bangsalasari, 05 Mei 2015.
175 Faiqotul Masruroh, Wawancara, Bangsalasari, 05 Mei 2015.
Dari hasil wawancara dengan ustadzah Lu’luul Mukarromah selaku ustadzah jilid IV pada tanggal 05 Mei 2015 menyatakan bahwa antara lain:
“Materi yang diberikan pada jilid IV yaitu materi pokok:
tanda aula’, hukum al, Hukum lafadz Allah, pengenalan dasar-dasar tajwid serta cara bacaannya, hukum nun sukun dan tanwin serta cara bacanya, hukum mim sukun serta cara bacanya, fawatihus shuwar. Materi penunjang terdiri dari: tepuk (huruf ghunnah, nun sukun dan tanwin), Suroh (al-Kafirun, al-Maa’un, dan at-takatsur), do’a-do’a (bercelak, mau wudhu, sesudah wudhu’, naik, kendaraan, masuk masjid, keluar masjid, ketika i’tidal, angin rebut, dan nasyid (shalat fardhu)”.176
Dari hasil wawancara dengan ustadzah Erika Sinta Dewi selaku ustadzah jilid IV pada tanggal 05 Mei 2015 menyatakan bahwa antara lain:
“Materi yang diberikan pada jilid IV yang diberikan yaitu materi pokok: tanda aula’, hukum al, Hukum lafadz Allah, pengenalan dasar-dasar tajwid serta cara bacaannya, hukum nun sukun dan tanwin serta cara bacanya, hukum mim sukun serta cara bacanya, fawatihus shuwar. Materi penunjang terdiri dari: tepuk (huruf ghunnah, nun sukun dan tanwin), Suroh (al-Kafirun, al- Maa’un, dan at-takatsur), do’a-do’a (bercelak, mau wudhu, sesudah wudhu’, naik, kendaraan, masuk masjid, keluar masjid, ketika i’tidal, angin rebut, dan nasyid (shalat fardhu)”.177
Dari hasil wawancara dengan ustadzah Muallimatus Sh selaku ustadzah Jilid V pada tanggal 06 Mei 2015 menyatakan bahwa:
176 Ustadzah Lu’luul Mukarromah, Wawancara, Bangsalasari, 05 Mei 2015.
177 Ustadzah Erika Sinta, Wawancara, Bangsalasari, 05 Mei 2015.
“Materi yang diberikan pada jilid V yaitu materi pokok:
tanda waqaf, qolqolah, perbedaan bunyi (tsa’ sukun dan syin sukun), mad wajib muttashil dan mad jaiz munfasil, kalimat (ana) di baca pendek, nun kecil (iwadl dan idzhar), dan lafadz (illa), materi penunjang terdiri dari:
tepuk (sifat wajib bagi Rosul, sifat muhal bagi Rosul, dan kholifah Rosul), suroh (ad-dhuha dan at-tiin, do’a-do’a (mau mandi, mau berpakaian, dan berbuka puasa), dan nasyid (huruf qolqolah, nun sukun dan tanwin)”.178
Dari hasil wawancara dengan ustadzah Uzwatun Hasanah selaku ustadzah jilid V pada tanggal 06 Mei 2015 menyatakan bahwa:
“Materi yang diberikan pada jilid V yaitu materi pokok:
tanda waqaf, qolqolah, perbedaan bunyi (tsa’ sukun dan syin sukun), mad wajib muttashil dan mad jaiz munfasil, kalimat (ana) di baca pendek, nun kecil (iwadl dan idzhar), dan lafadz (illa), materi penunjang terdiri dari:
tepuk (sifat wajib bagi Rosul, sifat muhal bagi Rosul, dan kholifah Rosul), suroh (ad-dhuha dan at-tiin, do’a-do’a (mau mandi, mau berpakaian, dan berbuka puasa), dan nasyid (huruf qolqolah, nun sukun dan tanwin)”.179
Dari hasil wawancara dengan ustadzah Mar’atus Shobirin selaku ustadzah jilid V pada tanggal 06 Mei 2015 menyatakan bahwa:
“Materi yang diberikan pada jilid V yaitu materi pokok:
tanda waqaf, qolqolah, perbedaan bunyi (tsa’ sukun dan syin sukun), mad wajib muttashil dan mad jaiz munfasil, kalimat (ana) di baca pendek, nun kecil (iwadl dan idzhar), dan lafadz (illa), materi penunjang terdiri dari:
tepuk (sifat wajib bagi Rosul, sifat muhal bagi Rosul, dan kholifah Rosul), suroh (ad-dhuha dan at-tiin, do’a-do’a (mau mandi, mau berpakaian, dan berbuka puasa), dan nasyid (huruf qolqolah, nun sukun dan tanwin)”.180
178Ustadzah Muallimatus Sh, Wawancara, Bangsalasari, 06 Mei 2015.
179 Ustadzah Uzwatun Hasanah, Wawancara, Bangsalasari, 06 Mei 2015.
180 Ustadzah Mar’atus Shobirin, Wawancara, Bangsalasari, 06 Mei 2015.