• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Terjadinya Konflik

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

1. Latar Belakang Terjadinya Konflik

Konflik sosial dalam bentuk tawuran mahasiswa dan kelompok masyarakat telah mewarnai perjalanan sejarah di Indonesia. Demikian halnya yang terjadi di Makassar, khususnya konflik mahasiswa yang dilakukan antar kelompok mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Makassar yang berujung pada tindakan kekerasan. Fenomena sosial tersebut, tampaknya mengalami perkembangan peningkatan konflik mahasiswa baik dilakukan antar kelompok organisasi, fakultas, antar perguruan tinggi dan bahkan antar etnis mahasiswa yang semuanya berakhir dengan tindakan kekerasan. Peristiwa tersebut dapat digambarkan secara sistematis dan kronologis berdasarkan peristiwa secara periodik.

Seperti yang diungkapkan oleh MAZ dalam wawancara tentang latar belakang terjadinya konflik mahasiswa di Kampus Unismuh Makassar sebagai berikut :

“Konflik yang sering terjadi pasti tidak terlepas dari kepentingan- kepentingan person atau kelompok-kelompok mahasiswa tertentu, sehingga terjadinya konflik itu demi kepentingan tertentu”(Wawancara, 25 Desember 2019).

Hal serupa juga dikatakan oleh RM selaku mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar ialah :

“jadi kalau konflik di Unismuh itu untuk keseluruhannya ya, saya sebenarnya kurang tau cuman karena di lapangan hampir setiap minggulah itu terjadi konflik. Entah itu berawal dari konflik internal lalu menjadi konflik antar jurusan antar lembaga-lembaga yang ada di Unismuh.”(Wawancara, 28 Desember 2019).

Dari pemaparan oleh informan RM dapat kita lihat bahwa tidak hanya satu konflik yang terjadi di kampus Unismuh Makassar melainkan ada beberapa konflik

dengan masalah dan kepentingan-kepentingan yang berbeda.Hal ini tentu sangat memprihatinkan jika dibiarkan begitu saja, dan itu sangat mengganggu lingkungan sekitar, karena tindakan tersebut dapat mengakibatkan kerugian baik dikalangan mahasiswa, masyarakat sekitar, hingga kampus juga ikut tercoreng nama baiknya dan perilaku tersebut sangat merugikan.

Hal ini juga ditanggapi oleh keterangan AA sebagai informan yang menilai bahwa konflik berawal dari kepentingan internal .

“Sebenarnya itu kembali lagi ke kepentingan kampus.Karena biasanya itu ada konflik begitu ada orang yang melatarbelakangi di belakangnya. Sebagai contoh bentrok antar daerah, ukm itu tidak mungkin terjadi kalau tidak ada seseorang yang melatarbelakangi, jadi seharusnya ini ada pihak kampus yang bertanggung jawab untuk meminimalisir terkait akan konflik yang terjadi di kampus”

(Wawancara, 23 Desember 2019).

Seperti yang telah dikatakan oleh ketiga informan diatas mereka memandang bahwa Konflik yang sejauh ini terjadi di Kampus Unismuh Makassar masih banyak diliputi oleh konflik perorangan yang membesar dan melibatkan kelompok-kelompok mahasiswa sehingga turut memiliki andil dalam kemunculan konflik di dalam kampus Unismuh Makassar. Kelompok-kelompok tersebut biasanya memberikan intervensi yang memicu terjadinya konflik.

Sementara disisi lain salah satu mahasiswa Unismuh Makassar AB memiliki perbedaan pandangan tentang latar belakang terjadinya konflik di Unismuh Makassar ialah:

“Sebenarnya kalau kita bicara tentang konflik yah otomatis ada plus minusnya ya dari sudut pandang saya, karena kita tau konflik pasti endingnya sekarang ya bentrok khususnya di Unismuh itu sendiri, jadi mungkin kalau ya dibilang negatifnya , ya lebih banyak negatifnya daripada positifnya. Mungkin walaupun awalnya mereka

berawal dari oh saya ingin membela diri tapi endingnya yang terlihat dimasyarakat terlihat negatif” (Wawancara, 24 Desember 2019).

Seperti yang telah dikatakan oleh informan tersebut memandang bahwa selama ini konflik dilihat dari sisi positif dan negatifnya dimana sisi positifnya bisa menyuarakan aspirasi mahasiswa, dan negatifnya citra kampus akan tercoreng.

Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan.Bahkan sepanjang kehidupan, manusia senantiasa dihadapkan dan bergelut dengan konflik.

Seperti yang dikatakan oleh informan MI ialah :

“saya sebagai Mahasiswa Unismuh Makassar merasa sangat resah karena mengapa, seharusnya Unismuh Makassar adalah tempat kita untuk belajar, tempat kita mencari ilmu pengetahuan , tapi konflik di unismuh sangat mengganggu proses aktivitas proses belajar mengajar . kalau berbicara tentang konflik ya ada dua, konflik yang baik dan buruk. Sehingga sangat penting dilakukan agar mungkin ada kepentingan-kepentingan tertentu yang harus dilakukan”

(Wawancara, 27 Desember 2019).

Dari penjelasan para informan diatas dapat disimpulkan bahwa mereka memandang konflik memiliki plus dan minus tergantung apa yang akan diselesaikannya.

Berbeda dengan pendapat yang peneliti temukan tentang latar belakang terjadinya konflik mahasiswa, oleh AQT mengemukakan bahwa :

“Latar belakang terjadinya konflik di Makassar, selain karena tidak seriusnya birokrasi dalam menanggapi permasalahan kemahasiswaan, juga karena persoalan tidak ditekankannya spirit keBhinnekaan. Karena, spirit keBhinnekaan itu bisa menjadi sesuatu yang meminimalisir konflik. Konflik di Unismuh Makassar dalam beberapa hal sesungguhnya sangat merugikan selain berpotensi dapat merugikan fasilitas umum, juga melunturkan intelektual mahasiswa.”(Wawancara, 13Januari 2020).

Dari uraian diatas Informan AQT selalu mengaitkan jiwa Nasionalisme untuk melahirkan sebuah kesadaran bagi setiap anak bangsa. Dengan pandangan seperti itu, maka berbagai perbedaan yang memicu terjadinya konflik dapat diselesaikan,

sehingga itu semua menjadi perekat serta pemersatu bengsa yang paling fundamental.

Sementara disisi lain salah satu dosen Unismuh Makassar KH memiliki pandangan yang sama tentang latar belakang terjadinya konflik di Unismuh Makassar ialah :

“Kalau konflik yang terjadi di kampus ini, itu sebenarnya menjatuhkan martabat kampus itu sendiri, yang kedua memperlihatkan wajah mahasiswa yang kurang pendidikannya , dan kalau saya ya seharusnya itu tidak terjadi di lingkungan kampus konflik yang seperti itu. Karena nilainya disini bahwa kampus itu adalah wilayah intelektual yang selalu mengedepankan yang namanya pertimbangan, fikiran jernih, dalam hal melakukan sebuah tindakan dan aksi.Kalau yang melatarbelakanginya kejadian konflik adalah ketidakdewasaan dalam berfikir” (Wawancara 24 Desember 2019).

melihat konflik memiliki peran penting karena dapat membuat pengurus himpunan ataupun pengurus organda mengetahui sisi lain dari setiap divisi maupun pengurus. Seperti yang dikatakan oleh AA selaku mahasiswa Unsimuh Makassar menganggap peran konflik ialah :

“kalau menurut saya itu ada dua yang dimana positifnya itu bisa menyuarakan aspirasi sedangkan negatifnya itu bisa menciptakan citra kampus itu tercoreng dimasyarakat”(Wawancara, 23 Desember 2019).

Hal serupa juga dikatakan oleh informan MI adalah sebagai berikut :

“Kalau berbicara tentang peran konflik yaitu ada dua, konflik yang baik dan konflik yang buruk sehingga sangat penting dilakukan agar mungkin ada kepentingan-kepentingan mahasiswa yang dapat terselesaikan”(Wawancara, 27 Desember 2019).

Kemudian disusul oleh RM mengenai peran konflik di Unismuh Makassar ialah:

“Kalau saya sebagai orang yang pernah berlembaga, konflik ya sangat penting untuk membentuk satu kepribadian apalagi kita ini yang berproses di lembaga konflik itu sangat penting jadi tidak semua konflik ada negatifnya”(Wawancara, 28 Desember 2019).

Kemudian tidak jauh berbeda dari pernyataan informan diatas, seperti yang diungkapkan oleh MAZ tentang peran konflik selaku mahasiswa Unismuh Makassar ialah :

“peran konflik penting sekali untuk jalannya roda kepemimpinan kampus karna ada memang beberapa kebijakan-kebijakan yang diterapkan harusnya melewati manajemen konflik dulu misalnya dibenturkan hal yang satu dengan hal yang lainnya untuk bisa menerapkan sebuah kebijakan”(Wawancara, 25 Desember 2019).

Serupa dengan yang dikatakan oleh informan AQT tentang apa peran konflik mahasiswa di Unismuh Makassar ialah :

“Konflik sebenarnya penting tapi dalam hal gagasan, bukan dalam bentuk fisik. Itu sebenarnya adalah sesuatu yang dapat membuat pihak-pihak yang berkonflik menghasilkan kebijakan kedua belah pihak.”(Wawancara, 13Januari 2020).

Sementara itu salah satu dosen Unsimuh Makassar KH memiliki pandangan yang berbeda tentang peran konflik mahasiswa di Unismuh Makassar ialah :

“kalau menurut saya peran konflik itu tidak mempunyai nilai positifnya bagi mereka yang berkonflik walaupun itu ada sebuah ketersinggungan. Karena misalnya ada mahasiswa yang dipukul anggotanya, setelah terjadi konflik maka anggota yang lain juga akan kena imbasnya akhirnya bertambahlah sebuah korban. Karena konflik yang positif itu adalah konflik yang bisa dikelola, bisa diarahkan, bisa diatur dan tidak menjatuhkan korban , dan bisa menyatukan sebuah organisasi-organisasi yang pernah berkonflik menjadi satu”(Wawancara, 24 Desember 2019).

Hal serupa juga dikatakan oleh AB selaku mahasiswa Unismuh Makassar yaitu sebagai berikut :

“Menurut saya peran konflik itu mungkin kalau di zaman sekarang kalau yang saya lihat sudah tidak sesuai dengan kebutuhan di lingkungan sekitar justru konflik sekarang dicap sebagai hal yang memang efeknya negatif tidak ada lagi positif walaupun alasannya tentang dari sebuah kebaikan atau membela diri justru masyarakat melihat arahnya pasti kurang baik”(Wawancara, 24 Desember 2019).

Informan memandang bahwa selama ini konflik yang terjadi di Unismuh Makassar rata-rata dipicu oleh konflik Organda atau faktor eksternal. Seperti yang diungkapkan oleh AB selaku mahasiswa Unismuh Makassar ialah :

“kalau untuk tahun ini saya lihat atau beberapa tahun terakhir kebanyakan mendominasi itu adalah konflik antar organda atau organisasi daerah yang masuk ke dalam kampus. Mungkin awalnya internal kampus, Cuma saya lihat beberapa oknum ataupun yang terlibat adalah eksternal atau organda sudah ikut masuk kedalam kampus itu sendiri”(Wawancara, 24 Desember 2019).

Hal serupa juga diungkapkan oleh MAZ selaku mahasiswa Unismuh Makassar sebagai berikut :

“Konflik organda yang biasa terjadi orang-orang dari luar masuk dilingkungan kampus dengan berkedok sebagai mahasiswa”(Wawancara, 25 Desember 2019) .

Hal serupa kemudian ditanggapi oleh MI selaku mahasiswa Unismuh Makassar sebagai berikut :

“seperti yang kita lihat bersama sebagai mahasiswa Unismuh Makassar mungkin sering melihat konflik ya perang antar organda, antar lembaga, antar fakultas itu yang sering kita lihat. Tetapi yang paling mendominasi bar-bar atau perang antar organda mahasiswa”(Wawancara, 27 Desember 2019).

Keterangan MI ini sesuai dengan informan RM yang menyatakan :

“kalau di Unismuh itu sendiri konflik yang paling bisa dilihat secara umum adalah konflik antar organisasi daerah yang biasanya masalah di luar dibawa ke dalam kampus dan saya juga kurang paham kenapa itu ada di alam kampus. Sebenarnya kan eksternal kampus itu sendiri”(Wawancara, 28 Desember 2019 ).

Hal serupa juga dikemukakan oleh informan AQT ialah :

“yang sering terjadi di Unismuh makassar adalah konflik secara fisik, dan yang mendominasi itu adalah yang bersifat ke Daerahan.”(Wawancara, 13Januari 2020).

Berbeda dengan pendapat yang peneliti temukan tentang konflik yang mendominasi di Unsimuh Makassar oleh informan AA ialah :

“kalau konflik yang mendominasi dalam kampus itu pasti yang pertama itu tentang kepentingan dan eksistensi”(Wawancara, 23 Desember 2019).

Sedangkan KH selaku dosen di Unismuh Makassar memberikan pandangan tentang konflik yang mendominasi ialah :

“yang mendominasi terjadinya konflik itu adalah arogansi, egoisme pada diri mahasiswa akibat hanya ingin dikatakan memiliki sikap solidaritas yang tinggi tetapi, solidaritas dalam bentuk yang salah”(Wawancara, 24 Desember 2019).

Dokumen terkait