BASEl II IMPlEMENTATIoN
9. SENIOr CrEDIT COMMITTEE (SCC)
Tugas dan Tanggung Jawab
1. Memberi persetujuan atau penolakan atas permohonan kredit atau pembelian surat berharga untuk tujuan investasi atau permohonan penyelesaian kredit bermasalah sesuai dengan batas wewenang dan kriteria yang sudah ditetapkan secara terpisah dari wewenang dan prosedur persetujuan kredit.
2. Wewenang kredit akan digunakan dalam memutuskan pemberian kredit berdasarkan “one obligator concept”
(Group Exposure – sesuai dengan peraturan Bank Indonesia yang berlaku).
3. Memberikan persetujuan pembentukan cadangan kredit.
4. Melakukan review terhadap pelaksanaan Internal Credit Rating.
5. Memberikan persetujuan untuk pembentukan PPAP.
6. Memastikan bahwa setiap permohonan kredit, pembelian surat berharga untuk tujuan investasi, penyelesaian kredit bermasalah dan semua keputusan kredit yang diambil, telah memenuhi peraturan kredit intern dan ekstern.
7. Memonitor alur permohonan kredit atau pembelian surat berharga untuk tujuan investasi, permohonan penyelesaian kredit bermasalah di Kantor Pusat.
8. Memberikan persetujuan atas penilaian kualitas kredit debitur-debitur besar dan pembentukan cadangan kerugiannya.
9. Memonitor semua keputusan kredit kepada SCC 1 10. Dan lain-lain yang perlu diputuskan oleh Komite
Kredit.
program Kerja
Seiring pertumbuhan kredit dalam segmen Bisnis dan Corporate, CIMB Niaga selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam prosedur pemberian kredit. Sejak tahun 2007 persetujuan kredit dilakukan melalui rapat SCC yang dihadiri oleh pejabat senior perkreditan berdasarkan keputusan mayoritas. Dengan demikian limit persetujuan individu tidak berlaku. Setelah merger, metode pengambilan keputusan kredit tetap dilakukan melalui Rapat SCC dimana anggota komite kredit merupakan gabungan pejabat senior perkreditan dari kedua Bank tersebut.
5. Prepared Annual Report 2008 to comply with prevailing regulation.
9. SENIOr CrEDIT COMMITTEE (SCC)
Duties and responsibilities
1. To approve and decline credit proposals or purchases of marketable securities for investment proposes or proposal of non-performing loan settlement in line with authorized limits and criteria, determined separately from the authority and credit approval procedure.
2. Credit authority will be used to approve “one debtor concept” (Group Exposure – in line with prevailing Bank Indonesia regulation).
3. To approve the formation of credit reserve.
4. To review the implementation of Internal Credit Rating.
5. To approve the formation of PPAP.
6. To ensure that the every credit proposal, purchase of marketable securities for investment proposes, non performing loan settlements and all credit approvals credit comply with internal and external credit regulations.
7. To monitor flow of credit proposals or purchase of marketable securities for investment purpose, proposals for settlement of non-performing loans at Head Office.
8. To approve credit quality of our major customers and formation of the loss reserve.
9. To monitor all credit approvals of SCC 1.
10. Others that require an approval by the Credit Committee.
program
In relation to the credit development in Business and Corporate Banking segment, CIMB Niaga implemented prudent principles in credit procedure. Since 2007 credit approval has been conducted through SCC meetings attended by credit Senior Officers and approved based on majority approval. Therefore, individual approval limit is not valid. After merger, credit approval methods are conducted through SCC meeting where credit committee members consist of a combination of senior credit officers from both Banks.
realisasi
Selama 2008, SCC mengadakan 83 kali rapat membahas hal-hal sebagai berikut:
• Jumlah kredit yang dibahas : 2.054
• Jumlah kredit baru : 175
• Total Limit : Rp68.357.860 juta
Dengan program kerja dan tugas tanggung jawab yang sama, komite CPC di LippoBank bernama Central Credit Committee. Central Credit Committee mengadakan rapat sebanyak 41 kali.
Tabel Keanggotaan Komite Eksekutif per 31 Desember 2008
realization
In 2008, SCC conducted 83 meetings to discuss the following:
• Credit amount : 2,054
• New credit amount : 175
• Total Limit : Rp68,357,860 million
In the work program and tasks and responsibilities, the CPC committee in LippoBank is called Central Credit Committee. Central Credit Committee conducted 41 meetings.
Member of Executive Committee as of 31 December 2008
RMC CPC
(dahulu CRPC / formerly CRPC)
ALCO MARCO ITSC ORC PPC BDMC GCG
Arwin Rasyid M M C M M M C M C
Hendrik G.
Mulder
C M M M M C M M M
D. James
Rompas M M M M M M M C M
Catherinawati
Hadiman M M M M Non
Member Non
Member M Non
Member M
Handoyo Soebali M M M Non
Member Non
Member Non
Member M M M
Thilagavathy
Nadason M C M C M M M M M
Gottfried
Tampubolon M M M M Non
Member Non
Member M M M
Paul S. Hasjim M Non
Member
Non Member
Non Member
C M M M M
L. Wulan Tumbelaka
M Non
Member
Non Member
M M Non
Member
M M M
Keterangan / Note:
- C : Chairman - M : Member
Hashemi
Albakri D. James
Rompas Tay Un Soo Catherinawati
Hadiman Ananda
Barata Yos
Badilangoe
RMC (3 kali/times) 67% 100% 67% 67% 100% 100%
MARCO (8 kali/times) 75% 88% 63% 88% Non Member 75%
PPC (10 kali/times) 60% 100% 90% 90% 90% 100%
GCG (1 kali/time) 100% 0 100% 0 100% 100%
ALCO (13 kali/times) 92% 85% 69% 69% 31% 23%
ORITSC (2 kali/times) 100% 50% 50% Non Member 100% 50%
SCC (83 kali/times) 2% 31% 29% 48% 40% Non Member
BDMC (5 kali/times) 40% 100% 60% 20% 80% 20%
CRPC (6 kali/times) 67% 100% 67% 100% 67% 100%
Tabel kehadiran Direksi pada rapat Komite Eksekutif
CIMB Niaga periode Januari - Oktober 2008
The Directors Attendance at Executive Committee Meetings
CIMB Niaga period January – October 2008
Arwin
Rasyid Hendrik G.
Mulder Catherinawati
Hadiman D. James
Rompas Thilagavathy Nadason Paul S.
Hasjim Handoyo
Soebali L. Wulan
Tumbelaka** Gottfried Tampubolon RMC
(2 kali/
times)
0 100% 50% 100% 100% 100% 100% 0 50%
MARCO (2 kali/
times)
50% 50% 100%* 100%* 50% Non
Member Non
Member 0 100%
ALCO (3 kali/
times)
100% 33% 67% 100% 67% Non
Member
100% Non
Member
100%
ITSC (1 kali/
times)
0 100% Non Member 0 100% 100% Non
Member Non
Member Non
Member BDMC
(2 kali/
times)
50% 100% Non Member 100% 50% 0 100% 0 100%
CPC (2 kali/
times)
50% 100% 100% 100% 50% Non
Member
100% Non
Member
100%
CIMB Niaga periode November - Desember 2008 CIMB Niaga period November - December 2008
* Menjadi anggota MARCO pada Desember 2008
** Efektif menjabat sebagai Direktur pada 4 Februari 2009
* Became a MARCO member in December 2008
** Effective as Director on 4 February 2009
KEpATUhAN
fungsi Kepatuhan
Sasaran dari implementasi kepatuhan adalah agar masing-masing unit organisasi di CIMB Niaga diarahkan secara terus menerus untuk memenuhi peraturan, hukum dan standar yang berlaku, etika dan tata kelola CIMB Niaga. Fungsi Kepatuhan pada akhirnya bertujuan kepada pengembangan budaya kepatuhan sehingga perusahaan mampu mencapai kinerja yang berkelanjutan dan mendapatkan reputasi yang baik. Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No. 1/6/PBI/1999 dan Peraturan Bank Indonesia No. 11/1/PBI/2009, CIMB Niaga wajib menugaskan salah seorang anggota Direksi sebagai Direktur Kepatuhan.
Tanggung jawab Direktur Kepatuhan meliputi:
• Menetapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan perusahaan telah memenuhi seluruh peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dalam rangka pelaksanaan prinsip kehati-hatian.
• Memantau dan menjaga agar kegiatan usaha perusahaan tidak menyimpang dari ketentuan yang berlaku.
• Memantau dan menjaga kepatuhan perusahaan terhadap seluruh perjanjian dan komitmen yang dibuat oleh perusahaan kepada Bank Indonesia.
• Membentuk Satuan Kerja Kepatuhan (SKK).
Sedangkan tugas Satuan Kerja Kepatuhan meliputi:
• Mendesain dan menyediakan database dari peraturan- peraturan ekstern yang dapat diakses oleh seluruh karyawan melalui intranet (e-manual).
• Mendistribusikan peraturan baru atau revisinya dan mensosialisasikan peraturan tersebut kepada unit organisasi yang terkait.
• Melaksanakan kajian terhadap kebijakan, transaksi dan produk, termasuk hal-hal yang berkenaan dengan implementasi tata kelola perusahaan.
• Melaksanakan dan mengawasi inisiatif-inisiatif implementasi Anti Money Laundering (AML)/ Know Your Customer (KYC).
• Memonitor penyelesaian komitmen terhadap pihak otoritas, terutama Bank Indonesia.
• Melaporkan status kepatuhan secara periodik dan melakukan analisa dari implementasi kepatuhan.
COMpLIANCE
Compliance function
The target of compliance is that each organization unit within CIMB Niaga continuously fulfill provision of the prevailing laws and regulations, ethics, and GCG. The Compliance function will eventually aim at enhancing a compliance culture so that CIMB Niaga will be able to achieve sustainable performance and good reputation. As stated in the PBI No. 1/6/PBI/1999 and the PBI no. 11/1/
PBI/2009, CIMB Niaga is required to appoint a member of the Directors as Compliance Director.
The Compliance Director is responsible for:
• Establishing the necessary measures for ensuring the compliance of the company within the framework of upholding prudential principles.
• Monitoring and ensuring that the company operations do not deviate from the prevailing regulations.
• Monitoring and ensuring the compliance of the company with all agreements and commitments made by the company with Bank Indonesia.
• Forming Compliance Working Unit (Satuan Kerja Kepatuhan).
The tasks of the Compliance Work Unit are as follows:
• Designing and providing a database of external regulations that can be accessed by all employees through the intranet (e-manual).
• Distributing new regulations or their revisions and socializing these regulations to the relevant organization units.
• Performing reviews of transaction policies and products, including matters concerning GCG’s implementation.
• Carrying out initiatives and monitoring the implementation of Know Your Customer (KYC) and Anti Money Laundering (AML).
• Monitoring completion of commitment to the authorities, especially Bank Indonesia.
• Reporting compliance status and performing analysis of compliance implementation.
Hasil pelaksanaan tugas kepatuhan ini dilaporkan setiap semester oleh Presiden Direktur dan Direktur Kepatuhan ke Bank Indonesia.
Implementasi kepatuhan yang didasarkan pada prinsip pemenuhan atas peraturan yang berlaku, menjadi bagian tak terpisahkan dari tata kelola perusahaan. Implementasi ini agar dapat berjalan dengan efektif harus melekat pada proses bisnis serta dilaksanakan berdasarkan pada kompetensi dan integritas karyawan.
perkembangan Kepatuhan dan Merger Tahun 2008 Merger CIMB Niaga dan LippoBank menetapkan untuk menggunakan platform kepatuhan yang sudah diterapkan di CIMB Niaga. Pendekatan pengelolaan kepatuhan itu dipandang dapat menjaga kepatuhan CIMB Niaga terhadap ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku. Tantangan yang dihadapi oleh fungsi kepatuhan adalah pengembangan budaya kepatuhan yang kuat dan berkelanjutan di CIMB Niaga.
Selama tahun 2008, Bank Indonesia telah mengeluarkan beberapa ketentuan baru, yang antara lain ditujukan untuk mengantisipasi dampak krisis finansial yang terjadi di Amerika Serikat terhadap Perbankan Indonesia. Ketentuan tersebut antara lain untuk membantu perusahaan jika mengalami kesulitan likuiditas, yaitu peraturan tentang pengaturan giro wajib minimum, fasilitas pendanaan jangka pendek dan fasilitas intrahari serta pembiayaan darurat perusahaan. Sehubungan dengan pelemahan Rupiah, Bank Indonesia juga menerbitkan ketentuan yang mengatur transaksi valuta asing terhadap Rupiah, structured product, transaksi derivatif dan pembelian wesel ekspor berjangka nasabah – eksportir.
Sedangkan peraturan yang mempunyai dampak signifikan terhadap CIMB Niaga di tahun 2008 adalah sebagai berikut:
1. Kebijakan Kepemilikan Tunggal
Pokok kebijakan kepemilikan tunggal adalah bahwa setiap pihak hanya dapat menjadi Pemegang Saham Pengendali pada satu Bank Umum di Indonesia.
Sehingga dengan kebijakan tersebut, Pemegang Saham Pengendali (PSP) yang tidak sesuai ketentuan tersebut mempunyai tiga opsi sebagai berikut:
Results of compliance implementation are reported each semester by the President Director and Compliance Director to Bank Indonesia.
The implementation of compliance is based on the fulfilment of the prevailing regulations, inseparable from the GCG of the company. The implementation has to be part of the business process and implemented based on employee’s competence and integrity.
The Development of Compliance and Merger in 2008
The Merger between CIMB Niaga and LippoBank has confirmed the application of the compliance platform applied in CIMB Niaga. This compliance management approach is considered able to maintain CIMB Niaga compliance prevailing laws and regulations. The future challenges will be faced by compliance function are to build a strong and sustainable compliance culture in CIMB Niaga.
During 2008, Bank Indonesia issued new regulations which are aimed to anticipate the impact to Indonesian banking of the global financial crisis starting in the US.
Those regulations assist the company’s need, concerning statutory reserve, short term financing and intraday facilities and bridging loan. In regards to the weakened Rupiah exchange rate by end of 2008, Bank Indonesia issued regulations on foreign currency transaction against the Rupiah, structured products, derivative transactions and purchases of export documents – for the exporter.
In the following we detail policies and regulations which had significant impact to CIMB Niaga:
1. Single Presence Policy
The main policy of single presence is that any single party is only entitled to be an ultimate shareholder in one bank in Indonesia. The controlling shareholders can conduct three options, as follows:
• Mengalihkan sebagian atau seluruh kepemilikan sahamnya pada salah satu atau lebih bank yang dikendalikannya kepada pihak lain sehingga yang bersangkutan hanya menjadi PSP pada satu bank;
atau
• Melakukan merger atau konsolidasi atas bank- bank yang dikendalikannya; atau
• Membentuk Perusahaan Induk di Bidang Perbankan (Bank Holding Company) dengan cara:
a. Mendirikan badan hukum baru sebagai Bank Holding Company; atau
b. Menunjuk salah satu bank yang dikendalikannya sebagai Bank Holding Company
Pelaksanaan ketentuan tersebut wajib dilakukan paling lambat akhir Desember 2010.
Pemegang saham pengendali CIMB Niaga telah memilih opsi untuk melakukan merger antara CIMB Niaga (dahulu Bank Niaga) dengan LippoBank. Legal merger telah selesai dilakukan sebelum batas waktu yang diberikan Bank Indonesia yaitu pada 1 November 2008.
2. Undang-Undang Perseroan Terbatas No.40 Tahun 2007 (UU PT)
CIMB Niaga telah menyesuaikan anggaran dasarnya terhadap ketentuan UUPT yang kemudian disetujui oleh pemegang saham melalui RUPS tanggal 23 April 2008. Berikut beberapa hal yang perlu diketahui terkait dengan penyesuaian anggaran dasar terhadap UUPT tersebut.
No Topik
Subject
Penjelasan Description
Status
A. PERUBAHAN