• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

H. Sistematika penulisan

Untuk mempermudah para pembaca, maka penulis akan menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I : yang berisi Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Batasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka dan Sistematika Penulisan.

BAB II : yang meliputi Teori sebagai kerangka pemikiran penelitian ini. Adapun sub-sub dari teori yaitu terdiri atas Pengertian Pendidikan, Pengertian Karakter, Pengertian Pendidikan Karakter, Definisi Kedisiplinan dan Kejujuran

BAB III : pada bab ini menyajikan pembahasan terkait metodologi penelitian.

BAB IV : pada bab ini menjelaskan tentang hasil penelitian.

Adapun sub-sub yang akan dibahas yaitu mengenai Gambaran Umum Sekolah, Profil Sekolah, Visi Misi Sekolah, Tujuan Sekolah, dana lain- lain.

BAB V : kesimpulan dari seluruh hasil penelitian dan pembahasan serta implementasi pendidikan karakter kesisiplinan dan kejujuran yang di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Kota Tangerang Selatan dengan disertakan daftar pustaka.

14 A. Pendidikan Karakter

1. Pengertian Pendidikan

Menurut D. Rimba pendidikan adalah bimbingan atau pembinaan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utuh.2

Menurut Abuddin Nata pendidikan dalam Islam disebut juga sebagai ai-tarbiyah, al-ta‟lim dan al-ta‟dib. Deskripsi selengkapnya terhadap kata-kata tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Al-tarbiyah, kata al-tarbiyah diartikan sebagai education (pendidikan), upbringing (pengembangan), teaching (pengajaran), instruktion (perintah), pedagogy (pembinaan kepribadian), breeding (memberi makan), raising of animal (menumbuhkan). Sedangkan dalam bahasa arab al-tarbiyah berasal dari kata rabba, yarubbu, rabban yang berarti mengasuh, memimpin, mengasuh (anak).

b. Al-ta’lim, kata al-ta’lim diartikan sebagai information (pemberitahuan tentang sesuatu), advice (nasihat), instruction (perintah), direction (pengarahan), teaching (pengajaran), training (pelatihan), schooling (pembelajaran), education (pendidikan), dan apprenticeship (pekerjaan sebagai magang, masa belajar suatu keahlian).

c. Al-ta’dib, kata al-ta’dib berasal dari kata addaba, yuaddibu, ta‟diban yang dapat berarti education (pendidikan), discipline (disiplin, patuh, dan tunduk pada aturan), punishment (peringatan atau hukuman) dan chatisement (hukuman-penyucian). Kata al-

2 D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1989), hlm. 19

ta’dib berasal dari kata adab yang berarti beradab, bersopan santun, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral dan etika.3 Pendidikan merupakan lembaga utama yang memainkan peranan penting dalam membangun dan menumbuhkembangkan peradaban.

Maju mundurnya suatu peradaban ditentukan oleh pendidikan. Bahkan, peradaban dan kebudayaan umat manusia tidak akan pernah muncul tanpa ada lembaga yang mengarahkan manusia ke arah tersebut. Karena manusia terlahir ke dunia tidak memiliki daya dan ilmu yang dapat membuatnya berkembang lebih maju, maka pendidikanlah yang membangun daya dan pengetahuan tersebut dalam jiwa manusia.

Sebagaimana Allah swt menegaskan dalam Al-Qur’an:



ِ



ِ



ِ



ِ



ِ

ِ 



ِ



ِ



ِ



ِ



ِ



ِ



ِ

 ِ



ِ



ِ

ِِِ 

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl [16]: 78)

Dalam keadaan ketidaktahuan manusia tersebut, Allah membekalinya dengan indra baik indra zahir maupun indra batin.

Melalui indra tersebut manusia dapat mengetahui sesuatu.4

Dalam Sisdiknas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Bab I Pasal 1 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan pengendalian diri, kepribadian,

3 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Prenada Media Group, 2016), hlm.

5-11

4 Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawy, (Jakarta, Sinar Grafika Offset, 2013), Cet-I, hlm. 1

kecerdasan akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.5

Omar Muhammad Al-Thoumy Al-Syalbani dalam Abudin Nata menyebutkan pendidikan adalah proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan sekitarnya dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sekaligus sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.6

Marimba dalam Ahmad Tafsir mendefinisikan pendidikan sebagai bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Sedangkan menurut Ahmad al-Nahlawi pendidikan yaitu berasal dari kata al-tarbiyyah, dari segi bahasa al- tarbiyah berasal dari tiga kata yaitu: pertama, kata raba-yarbu yang berarti bertambah, bertumbuh seperti yang terdapat di dalam QS. Al- Rum ayat 39 yaitu:



ِ



ِ

ِ 



ِ



ِ

ِ 



ِ



ِ

ِ 



ِ



ِ

ِ 

 ِ



ِ



ِ

ِ 



ِ



ِ



ِ

ِ 



ِ

ِ 



ِ

ِِِ 

ِ

Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah.

dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang- orang yang melipat gandakan (pahalanya).(QS. Ar-Ruum [30]: 39)

5 Himpunan Perundang-undangan Republik Indonesia Tentang SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003, hlm. 2

6 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Prenada Media Group, 2016), hlm.

28

kedua, rabiya-yarba yang berarti menjadi besar: ketiga, berasal dari kata rabba-yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, nenuntun, menjaga, memelihara.7

Pendidikan dalam literatur pendidikan Islam mempunyai banyak istilah beberapa istilah yang sering digunakan adalah rabba-yurabbi (mendidik), „allama-yu‟allimu (memberi ilmu), addaba-yuaddibu (memberikan teladan dalam akhlak), dan darrasa-yudarrisu (memberikan pengetahuan). Berikut ini disajikan istilah tersebut yang bersumber dari Al-Qur’an:

a) Rabba-yurabbi



ِ



ِ



ِ



ِ

ِ 



ِ



ِ



ِ



ِ



ِ



ِ



ِ

ِِِ 

ِ

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(QS. Al-Isra [17]: 24)

b) „Allama-yu‟allimu



ِ



ِ



ِ



ِ

ِ 



ِ



ِ



ِ



ِ



ِ



ِ



ِ

ِ 



ِ



ِ

ِِِ 

ِ

Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkan kepada-Ku nama semua benda ini, jika kamu mamang yang benar!" (QS. Al-Baqarah [2]: 31)

Sementara itu Hasan Langgulung menyampaikan bahwa pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya

7 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam,, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2016), hlm. 29

diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada kanak-kanak, atau orang yang sedang di didik.8 Jadi pendidikan adalah suatu proses yang dilakukan secara berkesinambungan dalam rangka menanamkan karakter (akhlak), mentransformasikan ilmu, serta menanamkan skil bagi setiap individu (peserta didik).

Pendidikan pada hakikatnya adalah proses pematangan kualitas hidup. Melalui proses tersebut diharapkan manusia dapat memahami apa arti dan hakikat hidup dan kehidupan secara benar. Karena itulah fokus pendidikan diarahkan pada proses pematangan kualitas logika, hati, akhlak, dan keimanan. Puncak pendidikan adalah tercapainya titik kesempurnaan kualitas hidup.9 Achmadi memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya manusia yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam.10

Omar Muhammad al-Thoumy al-Syaibāni yang dikutip oleh Sukrin mendefinisikan pendidikan Islam dengan proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi diantara profesi asasi dalam masyarakat. Dalam hal ini mengandung pengertian bahwa perubahan tingkah laku yang dimaksudkan yaitu sikap yang sebelumnya jelek berubah menjadi baik, dari yang minimal menuju yang maksimal, dari yang potensial menjadi aktual, dari yang pasif menuju yang aktif. Adapun cara mengubah tingkah laku tersebut yakni melalui proses pengajaran. Terkait perubahan

8 Abuddin Nata, hlm. 29

9 Dedi Mulyasana, Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing, (Bandung:PT. Remaja Rosdakarya, ), Cet- I. hlm. 2

10 Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme -Teosentris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 28-29

tingkah laku tersebut tidaklah hanya berputar pada keadaan menyangkut kesalehan individu semata, namun lebih jauh dari itu perubahan tingkah laku mencakup tingkat masyarakat, yang dengannya menghasilkan kesalehan sosial.11

Sejalan dengan hal ini Muhammad Fadhil al-Jamali mengatakan pengertian pendidikan Islam yaitu upaya mengembangkan, mendorong, serta mengajak manusia untuk lebih maju dengan berlandaskan nilai- nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia sehingga terbentuk pribadi sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan.12

Jika dicermati lebih jauh terkait dengan gagasan atau pandangan seputar definisi pendidikan baik secara etimologi maupun secara terminologi memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Hal ini disebabkan karena perbedaan yang mendasar seputar sudut pandang serta latar belakang para pakar itu sendiri. Namun dari itu, hal yang terpenting yang perlu diperhatikan adalah makna dan tujuan dari setiap definisi yang telah disampaikan.

2. Pengertian Karakter

Secara harfiah karakter artinya kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi. Dalam kamus psikologi, karakter adalah kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang yang biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap. 13

Menurut Abdul Majid dan Dian Andayani dalam Amirulloh Syarbini secara etimologis kata karakter berasal dari bahasa latin

11 Sukrin, Pendidik dan Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2013), hlm. 17-18

12 Sukrin, hlm. 18.

13 Barnawi & M. Arifin, Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Madia, 2012), hlm. 20

kharakter atau bahasa Yunani kharassein yang berarti memberi tanda (to mark), atau bahasa Prancis charakter, yang berarti membuat tajam atau membuat dalam. Dalam bahasa Inggris charakter, memiliki arti; watak, karakter, sifat, peran, dan huruf. Karakter juga diberi arti tanda yang membedakan seseorang dengan orang lain. Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat- sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain.14 Sebagaimana Allah swt berfirman dalam Al- Quran:



ِ



ِ



ِ



ِ

ِِِ 

ِ

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam [68]: 4)



ِ



ِ



ِ

ِ 



ِ

ِ 



ِ



ِ



ِ



ِ



ِ

ِ 



ِ



ِ



ِ

ِ 



ِ

ِِِ 

ِ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al- Ahzab [33]: 21).

Sementara itu menurut Daryanto dan Suryatri Darmiatun kata charakter berasal dari bahasa Yunani charassein, yang berarti to engrave (melukis, menggambar), seperti orang yang melukis kertas, memahat batu atau metal. Berakar dari pengertian yang seperti itu, karakter kemudian di artikan sebagai tanda atau ciri yang khusus, dan karenanya melahirkan satu pandangan bahwa karakter adalah pola perilaku yang

14 Amirulloh Syarbini, Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), Cet-I, hlm. 27

bersifat individual, keadaan moral seseorang.15 Secara terminologis karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya yang bergantung pada faktor kehidupannya sendiri. Secara harfiah karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang membedakan dengan orang lain.

Menurut kamus lengkap Bahasa Indonesia, karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak, budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak.16

Menurut Enni K. Hairuddin dalam tata bahasa Indonesia

“karakter” berarti bawaan, hati, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, tabiat, temperamen atau watak. Takdiroatun Musfirah berpendapat bahwa karakter merupakan sikap (attitudes), perilaku (behaviours), motivasi (motivation) dan keterampilan. Karakter bukan merupakan bakat atau bawaan lahir seorang anak, melainkan hasil dari tempaan atau didikan orang tua yang dilakukan secara konsisten dan terus-menerus. Sehingga penting bagi orang tua untuk menerapkan pola asuh yang sesuai dengan masing-masing anak, karena setiap anak berbeda. Setiap anak diciptakan dengan kelabihan dan kekurangannya masing-masing.17

Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh individu. Ciri khas tersebut asli dan mengakar pada kepribadian individu serta merupakan lokomotif (penyambung) penggerak seseorang dalam bertindak, bersikap, dan merespon sesuatu sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Seseorang dikatakan berkarakter (memiliki karakter) apabila ia

15 Daryanto dan Suryatri Darmiatun, Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah, (Yogyakarta: Gava Media, 2013) , Cet-I, hlm. 64

16 Imas Kurniasih dan Berlin Sani, Pendidikan Karakter (Jakarta: Kata Pena, 2017), hlm. 22

17 Enni K. Hairuddin, Membentuk Karakter Anak dari Rumah, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2014), hlm. 3

telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai acuan dalam menjalani hidupnya.18

Dari beberapa pandangan diaatas dapat dikatakan bahwa, karakter adalah sikap mental seseorang yang melekat dan berakar dalam setiap diri individu seseorang. Karakter adalah tingkah laku seseorang yang merupakan manifestasi dari sikap seseorang yang menjadi jati diri atas kepribadiannya. Singkatnya karakter adalah apa yang tertanam dan telah menjadi sikap kesehariannya. Dalam pengertian yang lebih luas kata karakter sering dikaitkan dengan akhlak.

Imam Al-Ghazali menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlak, yakni sikap dan perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga muncul secara spontan ketika berinteraksi dengan lingkungan.

Akhlak berasal dari kata Khalaqa dengan akar kata khuluqan (bahasa arab) yang berarti perangai, tabiat, adat atau dari kata khalqun (bahasa arab) yang berarti kejadian, buatan atau ciptaan. Jadi secara etimologis akhlak berarti perangai, adat, tabiat atau sistem perilaku yang dibuat. Dengan demikian, akhlak bisa baik dan bisa juga buruk. Dari pengertian tersebut maka dapat dikatakan bahwa akhlak merupakan sistem perilaku yang harus dibuat. Terkait dengan hal itu, diperlukanlah upaya pembentukan akhlak melalui penyelengaraan pendidikan, yang dikenal dengan istilah pendidikan akhlak.19

3. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter berasal dari dua kata pendidikan dan karakter, menurut beberapa ahli, kata pendidikan mempunyai definisi

18 Novan Ardy Wiyani, Pendidikan Karakter Berbasis Total Quality Management, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2018). Cet-I, hlm. 74

19 Novan Ardy Wiyani, Pendidikan Karakter Berbasis Total Quality Management hlm. 75

yang berbeda-beda tergantung pada sudut pandang, paradigma dan metodologi yang disiplin keilmuan yang digunakan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pendidikan karakter merupakan usaha sadar dan terencana untuk membentuk, mengarah, dan membimbing perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan norma yang berlaku. Pendidikan karakter adalah usaha menanamkan sifat dan tingkah laku positif kepada peserta didik. Menurut Akhmad Muhaimin Azzel pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).20

Lickona mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli dan bertindak dengan landasan nilai-nilai etis. Pendidikan karakter menurut Lickona mengandung tiga unsur pokok yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).21

Menurut Khan pendidikan karakter adalah proses kegiatan yang dilakukan dengan segala daya dan upaya secara sadar dan terencana untuk mengarahkan anak didik. Pendidikan karakter juga merupakan proses kegiatan yang mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan budi harmoni yang selalu mengajarkan, membimbing dan membina setiap manusia untuk memiliki kompetensi intelektual, karakter dan keterampilan menarik.22

Menurut Ramli pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya

20 Akhmad MuhaiMadrasah Ibtidaiyah Negeri Azzel, Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia, (Jogjakarta: Arr-Ruzz Media, 2011), hlm. 27

21 Thomas Lickona, Educating For Charakter: How Our School Can Teach Respect and Responsibility, (New York: Bantam Books, 1992), hlm. 12

22 Yahya Khan, Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri, (Yogyakarta: Pelangi Publishing, 2010), hlm. 34

adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik. Hakikat pendidikan karakter dalam konteks pendidikan Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.23

Menurut Daryanto dan Suryatri Darmiatun pendidikan karakter yaitu berbagai usaha yang dilakukan oleh para personil sekolah, bahkan yang dilakukan bersama-sama dengan orang tua dan anggota masyarakat, untuk membantu anak-anak dan remaja agar menjadi atau memiliki sifar peduli, berpendirian, dan bertanggung jawab.24

Menurut Imas Kurniasih pendidikan karakter merupakan salah satu alat untuk membimbing seseorang menjadi orang baik, sehingga mampu memfilter pengaruh yang tidak baik. Adanya pendidikan karakter ini adalah bentuk nyata dan upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik berperilaku sebagai insan kamil, dimana tujuan pendidikan karakter adalah meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah melalui pembentukan karakter peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan.25

Menurut Sri Nawarti pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa,

23 Heri Gunawan, Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi, (Bandung:

Alfabeta, 2012), hlm. 24

24 Daryanto dan Suryatri Darmiatun, Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah, (Yogyakarta: Gava Media, 2013) , cet-I, hlm. 64

25 Imas Kurniasih dan Berlin Sani , Pendidikan Karakter (Jakarta: Kata Pena, 2017), hlm.21

diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia kamil.26

Dalam perspektif Islam, pendidikan karakter dapat di definisikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk membentuk, mengarahkan dan membimbing akhlak peserta didik dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan ajaran Islam yang bersumber dari al-Quran, hadits dan ijtihad.

Pendidikan karkater mempunyai orientasi yang sama dengan pendidikan akhlak, yaitu pembentukan karakter. Bedanya pendidikan akhlak terkesan ketimuran dan Islam, sedangkan pendidikan karkater terkesan barat dan sekuler. Sederhananya, pendidikan akhlak mempunyai makna khusus, yaitu untuk menunjukan pembentukan karakter yang dilakukan oleh umat Islam. Sementara itu, pendidikan karakter memiliki makna umum (general), yaitu pembentukan karakter yang dilakukan oleh semua umat, baik itu umat Islam maupun umat yang beragama lainnya.

Akan tetapi perbedaan itu bukanlah sebuah alasan yang harus dipertentangkan.27

Begitupun menurut Imas Kurniasih antara pendidikan akhlak dan pendidikan karakter mempunyai orientasi yang sama. Dan pada kenyataannya, kedua konsep ini memiliki ruang untuk saling mengisi.

Bahkan Lickona sebagai Bapak Pendidikan Karakter di Amerika justru mengisyaratkan keterkaitan erat antara karakter dan spiritualitas.28

4. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Karakter a. Tujuan Pendidikan Karakter

26 Sri Nawarti, Pendidikan Karakter, (Yogyakarta: Familia, 2013), Cet-III, hlm.14

27 Novan Ardy Wiyani, Pendidikan Karakter Berbasis Total Quality Management hlm. 75

28 Imas Kurniasih dan Berlin Sani, Pendidikan Karakter, hlm. 8

Tujuan pendidikan adalah sebagai penuntun, pembimbing, dan petunjuk arah bagi para peserta didik agar mereka dapat tumbuh dewasa sesuai dengan potensi dan konsep diri yang sebenarnya, sehingga mereka dapat tumbuh, bersaing dan mempertahankan kehidupannya di masa depan yang penuh dengan tantangan dan perubahan.29

Proses dan tujuan pendidikan karakter melalui pembelajaran tiada lain adalah adanya perubahan kualitas tiga aspek pendidikan, yakni kognitif, afektif dan psikomotorik.

Bagan diatas menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran sebagai peningkatan wawasan, perilaku, dan keterampilan dengan berlandasan empat pilar pendidikan. Tujuan akhirnya adalah terwujudnya insan yang berilmu dan berkarakter. Karakter yang diharapkan tidak hilang dari budaya asli Indonesia sebagai perwujudan nasionalisme dan syarat muatan agama (religius).30

Menurut Akhmad Alim tujuan pendidikan yaitu pendidikan diarahkan untuk melahirkan manusia yang bertauhid dan pendidikan diarahkan untuk menegakkan tauhid, dan menghapuskan syirik di muka

29 Dedi Mulyasana, Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012), Cet-I, hlm. 5

30 Barnawi & M. Arifin, Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter, hlm. 29

KOGNITIF PSIKOMOTORI

K AFEKTIF

KNOWING DOING BEEING

LIVE TOGETHER BERILMU DAN BERKARAKTER

bumi. Secara umum tujuan pendidikan hendaknya didasarkan terlebih dahulu pada tujuan hidup manusia menurut Islam. Tujuan pendidikan tidak pernah lepas dari tujuan hidup itu sendiri, yang mana pendidikan bertujuan untuk memelihara kehidupan manusia. Tujuan hidup manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah, dan menjadi khalifatullah di bumi.31

Menurut Umar Muhammad At-Taumi Ash-Shaibani konsep tujuan pendidikan adalah perubahan yang diinginkan melalui proses pendidikan, baik dalam tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, kehidupan masyarakat, dan alam sekitar maupun pada proses pendidikan serta pengajaran itu sendiri. Proses itu sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai proporsi dari profesi asasi dalam masyarakat.32

Menurut Bukhari Umar agar dapat terukur, sebelum melakukan proses pendidikan perlu dibuat rumusan-rumusan yang jelas. Rumusan tersebut dapat digali dari sumber pendidikan Islam, yaitu Al-Quran dan Hadits. Berikut ini akan dikemukakan hadits yang berkenaan dengan tujuan pendidikan. Diantara tujuan pendidikan yaitu bertakwa kepada Allah, beriman, dan berakhlak mulia.33

1) Bertakwa kepada Allah

Sehubungan dengan takwa sebagai tujuan pendidikan, berikut ini adalah hadits yang sesuai.

ِوْيَلَع ُوَّللا َيّلَص ِوَّللا ُلْوُسَر َلِئُس ُوْنَع ُوّللا َيِضَر َةَرْ يَرُى يِبَا نَع ِساّنلا ُمَرْكَا ْنَم َمَّلَسَو ِوَّلِل ْمُىاَقْ تَا َلاَق

)يراخبلا هاور(

31 Akhmad Alim, Tafsir Pendidikan Islam (Jakarta: AMP Press, 2014), hlm. 42

32 Umar Muhammad At-Taumi Ash-Shaibani, Falsafah Pendidikan Islam, diterjemahkan Hasan Langgulung, (jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 199

33 Bukhari Umar, hadits Tarbawy, (Jakarta: Amzah, 2014), hlm. 29

Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw ditanya tentang siapa orang yang paling mulia. Beliau menjawab “orang yang paling bertakwa kepada Allah.”(HR. Al-Bukhari)

2) Beriman dan berilmu

Berkaitan dengan iman, terdapat pada hadits berikut.

ِبَا ْنَع يِف ْيِل ْلُق ِوَّللا ُلْوُسَر اَي َتْلُ ق َلاَق يِفَقَّ ثلأ ِوَّلل ِدْبَع ِنْب َناَيْفُس ي

َا ْلُق َلاَق َكَدْعَ ب اًدَحَا ُوْنْع ُلَاْسَا َلِ ًلِْوَ ق ِم َلَْسِْلِا ْمِقَتْساَف ِوَّللا اِب ُتْنَم

)دمحاو ملسم هاور(

Sufyan bin Adbullah Ats-Tsaqafi meriwayatkan bahwa ia berkata kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, katakanlah kepada saya sesuatu tentang Islam yang tidak akan saya tanyakan lagi sesudah Engkau.” Nabi berkata, “Katakanlah, „Saya beriman kepada Allah swt.‟ Lalu tetapkanlah pendirianmu.” (HR. Muslim dan Ahmad)

3) Berakhlak mulia

Berkaitan dengan akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan, dapat dilihat dari hadits berikut.

ُوّللا َيِضَر َةَرْ يَرُى يِبَا نَع ُوْنَع

َلاَق ِوْيَلَع ُوَّللا َيّلَص ِوَّللا ُلْوُسَر

َمَّلَسَو َّمِمَتُِلِ ُتْثِعُب اَمّنِا ِق َلَْخَْلِا َمِراَكَم

)قحيبلا هاور(

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (HR. Baihaqi)

Adapun tujuan dari pendidikan karakter menurut Novan Ardy Wiyani adalah sesuatu yang hendak dicapai dari dilaksanakannya pendidikan karakter. Berdasarkan latar belakang pendidikan karakter

Dokumen terkait