• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV BAB IV Bab ini berisi tentang penyajian data dan analisis data, yang terdiri dari gambaran obyek penelitian, penyajian data dan analisis, serta

B. Penyajian Data dan Analisis

3. Struktur Mikro Semantik

Dalam siaran ini, pesan yang disiarkan berungkali menandakan pentingnya nilai tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dari transkip siaran Isu kekerasan

Latar, detail:

Didengarkan oleh masyarakat

Kabupaten Jember dan sekitarnya.

89

seksual dan penegakkan hukum bagi korban kekerasan seksual.

Struktur Mikro Didengar oleh masyarakat

Jember dan

sekitarnya.

Sintaktis:

Pendapat disampaikan berdasarkan pedoman, data, dan pertanyaan wawancara.

Bentuk kalimat:

Deduktif, induktif, dan bersesuaian dengan kaidah jurnalistik.

Struktur Mikro Stilistik:

Gaya bahasa menggunakan bahasa yang tepat, mudah

dimengerti dan

menggunakan kata kata yang baik untuk menarik perhatian pendengar radio.

Gaya bahasa:

Kata yang dipilih mudah dipahami dan dimengerti oleh pendengar RRI Jember.

Struktur Mikro Retoris:

Pendapat disampaikan dengan cara menceritakan kisah yang sering terjadi, agar isi pesan dapat dipahami oleh khalayak.

Grafis:

Metafora.

90 1) Struktur Makro/ Tematik

Tema atau topik menggambarkan apa gagasan inti, yang menunjukkan informasi penting, yang ingin dikedepankan atau diungkapkan oleh penyiar radio RRI Jember dalam program Pengarus Utamaan Gender, dalam siaran ini, isi diskusi dari program Pengarus Utamaan Gender pada Tanggal 16 Februari 2022 yaitu tentang kekerasan seksual. Mengenai kekerasan seksual terlihat pada paragraf pertama tema/topik yang diangkat oleh penyiar RRI Jember adalah Kekerasan Seksual Pada Anak dan juga Perlindungan Hukum Bagi Korban Kekerasan Seksual. Siaran ini membahas tentang:

 Jumlah kekerasan seksual.

 Jenis-jenis kekerasan seksual.

 Bentuk kekerasan seksual.

 Pencegahan seksual.

 Penegakkan hukum dan perlindungan hukum.

2) Superstruktur/ Skematik

Bagaimana alur yang disusun dalam siaran program Pengarus Utamaan Gender. Adapun cara penyajian dari siaran ini dikemas dalam bentuk pembukaan yang di awali dengam memberitahukan tema yang akan disampaikan, disambung dengan pembahasan kekerasan seksual dan penegakkan hukum. Pembahsan ini untuk memberitahukan sebuah pengetahuan dan informasi kepada masyarakat agar lebih berhati-hati dan

91

mengetahui macam-macam kekerasan seksual yang sangat memprihatinkan dan penegakkan hukum melalui Undang-Undang yang sudah ada. Kemudian ditutup dengan upaya pencegahan terjadinya kekerasan seksual dan penutup. Dengan demikian siaran ini dinilai efektif untuk menarik perhatian karena mencangkup dalam kasus yang banyak terjadi dalam kehidupan zaman sekarang. Sehingga informasi yang disampaikan dalam diskusi tersebut tidak hanya didengarkan saja namun juga mampu lebih berhati-hati lagi dalam menjaga anak dan diri sendiri.

3) Struktur Mikro a. Semantik

Makna yang ingin ditekankan, dalam skema Van Dijk, disebut hubungan antar kalimat, hubungan antar preposisi yang membangun makna tertentu dalam struktur wacana.58 Jadi proses penekanan ini dilakukan dengan cara pengulangan, dalam siaran ini kekerasan seksual dibahas dan diulangi sebanyak 21 kali dan penegakan hukum diulang sebanyak 9 kali. Hal ini menandakan penekanan pesan pada tema Kekerasan Seksual pada Anak dan juga Perlindungan Hukum bagi Korban Kekerasan Seksual yang disampaikan oleh narasumber Dr. Galuh Puspa Ningrum, SH.,MH selaku pengamat dan akademisi hukum Universitas Jember dalam siaran ini, menitik beratkan pada bagian kekerasan seksual.

58 Eriyanto, “Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media”, (Yogyakarta: PT. LkiS Pelangi

Aksara Yogyakarta, 2006), 232.

92 b. Sintaktis

Sintaktis adalah bagian struktur wacana yang membahas tentang bagaimana pendapat disampaikan.

Bentuk kalimat yang digunakan adalah menggunakan bentuk kalimat induktif dan deduktif. Kalimat induktif ini berada pada paragraf pertama

“Pendengar kali ini, kita akan memperbincangkan sebuah isu yang memang pada saat ini sangat banyak sekali orang-orang yang mengalami keprihatinan terkait isu kekerasan seksual dan untuk itu pada kesempatan kali ini kita akan bersama sama mendengarkan sebuah diskusi dengan judul “ Kekerasan Seksual Pada Anak dan juga Perlindungan Hukum Bagi Korban Kekerasan Seksual” dan kesempatan pada kali ini telah hadir bersama kami Ibu Dr. Galuh Puspa Ningrum.,SH,MH.”Ibu Galuh adalah narasumber yang akan berdialog dengan penyiar dalam bentuk tema Kekerasan Seksual.

Sedangkan kalimat deduktif contohnya pada paragraf kalimat ke tiga puluh tiga “Yang pertama adalah melakukan pendampingan terhadap anak dan perempuan, baik itu saya katakan nah ini para perempuan dan khususnya anak-anak juga diberikan suatu edukasi terkait dengan kamu kalau didekati oleh orang laki-laki jangan pernah mau sama seperti itu, itu bisa pendidikan seksual itu mungkin juga bisa dijadikan satu masukan ya, kemudian pendampingan dari keluarga kerabat dekat tentunya ini merupakan suatu dukungan moril bagi para korban maupun masyarakat anak-anak kita ini harus digenahkan sejak dini, kemudian mengikut

93

sertakan dalam kegiatan advokasi dan juga ikut serta mendukung lembaga layanan korban dan kekerasan seksual. Misalkan mulai memperkenalkan oh ini jalur pengaduan, kita kenal komnasham, koperasi perlindungan anak dan perempuan, beberapa lembaga bantuan hukum yang memang konsen di bidang perlindungan anak dan perempuan.”

Koherensi berada pada paragraf ke enam pada teks “Saya katakan iya, Karena di sini tidak hanya peran penegak hukum saja tetapi peran masyarakat dan pemerintah khususnya untuk melakukan pendampingan dan upaya pencegahan kekerasan seksual.” Hubungan antar kalimat dijelaskan dengan kata “Karena”, “Tetapi”. Penulis menjelaskan bagaimana penegakkan hukum masih dinilai sangat lemah di tengah masyarakat. Pada kalimat ini juga bahwa pihak RRI ingin menginformasikan dan mengajak masyarakat dalam menegakkan hukum di lingkungan sekitanya.

Kata Ganti dapat ditemukan pada paragraf ke 21 “Iya di sini saya katakan upaya preventif dan juga ada upaya perlindungan hukum secara represif ada beberapa hal yang perlu kita ketahui bahwasannya upaya prefentif yang dilakukan oleh pemerintah” kata “saya” merupakan kata ganti orang pertama tunggal sedangkan kata “kita” merupakan kata ganti orang pertama jamak.

c. Stilistik

Di dalam stilistik tentu saja yang menjadi pusat perhatian adalah gaya bahasa. Gaya bahasa digunakan oleh orang tertentu untuk maksud tertentu.

94

Maka gaya bahasa dalam program Pengarus Utamaan Gender dengan tema

“Kekerasan Seksual Pada Anak dan juga Perlindungan Hukum Bagi Korban Kekerasan Seksual” yang digunakan oleh penyiar dan narasumber yang bertujuan untuk menyampaikan maksudnya agar dapat tersampaikan dengan baik. Pada teks transkip siaran ini gaya bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia.

d. Retoris

Elemen yang terakhir dalam teks adalah retoris. Dengan cara apa pendapat disampaikan (metafora). Metafora merupakan kiasan atau ungkapan yang dapat dijadikan sebagai landasan berfikir, alasan pembenar atau pendapat kepada publik.59 Ada pada paragraf ke 14 yaitu “Misalnya sedang terjadi luwek timur itu contoh kekerasan seksual di kalangan keluarga oleh ayah kandung sendiri.”

Tabel 4.7

Analisis Struktur Wacana Van Dijk

No. Sruktur Wacana Hal yang diamati Elemen

1. Struktur Makro Tematik:

Pemenuhan Hak-Hak Perempuan dan Anak Pasca Perceraian dalam Program Pengarus Utamaan Gender.

Topik:

Pemenuhan Hak- Hak Perempuan dan

Anak Pasca

Perceraian.

59 Haitul Umam, “Analisis Wacana Teun A. Van Dijk Terhadap Skenario Film Perempuan Punya

Cerita” (Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009), 98.

95 2. Superstruktur Skema:

Berdasarkan kaidah pedoman wawancara dan aturan jurnalistik dengan proses diskusi tanya jawab antara penyiar dan narasumber.

Skema:

Diskusi melalui program siaran Pengarus Utamaan Gender di radio RRI Jember

3. Struktur Mikro Semantik:

Dalam siaran ini, pesan yang berulang kali menandakan pentingnya nilai tersebut. Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil transkip siaran tentang Pemenuhan Hak- Hak Perempuan dan Anak.

Latar, detail:

Didengarkan oleh masyarakat Jember dan sekitarnya melalui radio.

Struktur Mikro Sintaktis:

Pendapat disampaikan berdasarkan pengalaman, data, fakta, menjawab pertanyaan-pertanyaan

Bentuk kalimat:

Deduktif, induktif, dan sesusai menurut kaidah jurnalistik.

96

dari penyiar radio.

Struktur Mikro Stilistik:

Gaya baha menggunakan bahasa yang mudah

dimengerti dan

menggunakan kata kata yang baik untuk didengar.

Gaya bahasa:

Kata yang dipilih mudah dipahami dan dimengerti oleh pendengar RRI Jember.

Struktur Mikro Retoris:

Pendapat disampaikan

dengan cara

menceritakan

pengalaman dan realita masyarakat dari hasil

yang pernah

berkonsultasi.

Grafis:

Metafora.

1) Struktur Makro/ Tematik

Tema atau topik yang menggambarkan apa gagasan inti yang menunjukkan informasi siaran ini penting adalah isi diskusi yang dilakukan oleh penyiar RRI Jember pada Tanggal 16 Maret 2022 tentang Pemenuhan Hak-Hak Perempuan dan Anak Pasca Perceraian.

97 2) Superstruktur/ Skematik

Adapun cara penyajian siaran yang dilakukan oleh penyiar dikemas dalam bentuk pembukaan dengan memperkenalkan diri dan narasumber kepada pendengar, kemudian lanjut kepada topik yang akan disampaikan yaitu Pemenuhan Hak-Hak Perempuan dan Anak Pasca Perceraian.

Pembahasan ini berbicara tentang sejarah awal mula ketertarikan narasumber dengan kongse perempuan, anak, dan lansia sekaligus mendirikan organisasi sejak awal Tahun 2013 bersama teman-teman se frekuensi dan tentunya memberitahukan kepada pendengar radio agar lebih mengerti apa saja hak-haknya ketika peristiwa seperti di pembahasan terjadi dikehidupannya atau orang-orang sekitarnya. Jika sudah terjawab semua maka penyiar akan menutup siaran dengan penutupan dan pamit kepada pendengar radio.

3) Struktur Mikro a. Semantik

Makna yang ingin ditekankan dalam siaran ini yaitu Pemenuhan Hak-Hak Perempuan dan Anak Pasca Perceraian, proses pengulangan kata yang paling sering disebut dan diulang adalah tentang hak-hak perempuan dan anak sebanyak 11 kali pengulangan. Hal ini menitikberatkan bahwasannya narasumber Ibu Erwidati, S.,MH. dengan penyiar RRI Jember Mas Tediy menegaskan kembali bahwa hak-hak perempuan dan anak itu sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat.

98 b. Sintaktis

Bentuk kalimat yang digunakan adalah bentuk kalimat deduktif dan induktif. Kalimat induktif ini berada pada awal paragraf yaitu

Pendengar memutuskan untuk bercerai bagi perempuan bukanlah hal yang mudah, banyak hal yang dipikirkan dan dipertimbangkan, mulai dari diri sendiri, anak dan keluarga. Ketika kata cerai sudah di ucapkan, berarti memang sudah bulat tekad. Meski begitu, tetap saja ada kesedihan yang dipendam saat perempuan memutuskan untuk bercerai, nah agar kesedihan tersebut tidak berlarut-larut perempuan harus peka terhadap hak-haknya pasca perceraian. Kali ini saya Tediy, sudah bersama dengan narasumber yakni Ketua Pusat Perlindungan Anak Perempuan dan Lansia Takawida Ibu Erwidati SH.,MH.” Sedangkan kalimat deduktif berada pada paragraf ke tiga puluh delepan yaitu “Iya, jadi gaya ngomong kita juga ngikutin kesukaannya apa disana kemudian kita ngomong kita ikutin bahasa-bahasa Madura yang memang menjadi bahasa sehari-hari di daerah mana yang kita isi gitu mas, artinya kita juga ngikutin gaya bahasa mereka tidak kemudian kita memakai bahasa-bahasa yang sangat tinggi tetapi bahasa sederhana, mudah dipahami tetapi masuk gitu loh mas, jadi ngeh gitu contohnya ibu kalo misalkan anaknya nakal yang salah siapa ya?”

Koherensi berada pada paragraf kalimat ke delapan yaitu “Dari keprihatinan dengan tingginya perceraian di Kabupaten Jember, juga kekerasan dalam rumah tangga, kemudian anak-anak yang saya

99

melihatnya memang ada satu denakrasi kalo saya bisa mengatakan demikian, karena ternyata saat sekarang ini banyak sekali anak-anak yang tersangkut kasus hukum”. Hubungan antar kalimat dijelaskan dengan kata

“Dari” “Kemudian” “Karena”. Penulis menjelaskan bagaimana keprihatinan narasumber terhadap tingginya perceraian yang terjadi di Jember dan juga kasus-kasus lainnya yang menyangkut perempuan dan anak.

Kata ganti dapat kita lihat pada paragraf ke dua puluh lima yaitu

“Yang bikin saya juga tercengang adalah gak main-main ya bu, tenaga profesional loh yang masuk disini dan juga memang praktisi yang betul sehari-hari mereka juga misalnya dekat dengan vinansial, managerialnya juga di apa kemudian didatangkan untuk bisa memfasilitasi masyarakat tadi, oke sekarang kita masuk ke topik hari ini bu, mengenai hak-hak perempuan dan anak pasca perceraian.” Kata “saya” merupakan kata ganti orang pertama tunggal, kata “mereka” merupakan kata ganti orang ketiga jamak, dan “kita” merupakan kata ganti orang pertama jamak.

c. Stilistik

Di dalam stilistik tentu yang menjadi sebuah perhatian adalah gaya bahasa, dimana gaya bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa daerah. Salah satu contohnya berada pada paragraf ke dua belas yaitu “tetapi bagaimana kita be happy be healty jadi melihat diperkumpulan itu begitu gembiranya ternyata banyak hal loh yang bisa kita kerjakan disini gitu” dan pada paragraf ke sembilan belas

100

yaitu “apakah memang sengaja pingin masyarakat Jember terkhususnya ini yuk mellek hukum, kita kasih literasi hukum gitu.”

d. Retoris

Seperti pengertian sebelumnya, elemen retoris merupakan elemen terakhir dalam struktur Van Dijk yaitu menggunakan metafora. Pada paragraf ke dua puluh enam “Jadi memang dilapangan memang banyak sekali persoalan-persoalan pemenuhan hak-hak perempuan yang tidak terpenuhi, tidak dipenuhi oleh pihak suami”. Jadi penggunaan metafora majas yang mengungkapkan secara langsung berdasarkan persamaan atau perbandingan yang terjadi.

b. Tindakan Komunikasi yang digunakan Penyiar RRI Jember Tabel 4.9

Analisis Struktur Wacana Van Dijk

No. Sruktur Wacana Hal yang diamati Elemen

1. Struktur Makro Tematik:

Dalam hasil wawancara dengan penyiar dan kasubag Perencanaan dan Evaluasi Program RRI Jember tentang Tindakan

Komunikasi yang

dilakukan sebagai pendukung tujuan program

Topik:

Tindakan

komunikasi yang digunakan sebagai pendukung tujuan program Pengarus Utamaan Gender.

101

Pengarus Utamaan Gender.

2. Superstruktur Skema:

Berdasarkan pedoman wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan informan.

Skema:

Wawancara

dilakukan face to face di kantor RRI Jember.

3. Struktur Mikro Semantik:

Dalam wawancara ini, pesan yang disampaikan berulang kali merupakan hal yang dibutuhkan dan penting untuk diketahui.

Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti dan informan.

Latar, detail:

Dilakukan di kantor RRI Jember dan hanya peneliti dan informan yang mengetahui hasil wawancara.

Struktur Mikro Sintaktis:

Pendapat disampaikan berdasarkan kondisi, data, fakta dan pengalaman yang terjadi.

Bentuk kalimat:

Kalimat langsung dan Induktif.

102 Struktur Mikro Stilistik:

Gaya bahasa

menggunakan bahasa Indonesia yang diselingi dengan bahasa yang baik dan bisa dipahami.

Gaya bahasa:

Bahasa yang digunakan mudah dicerna, dipahami oleh peneliti dan pembaca

Struktur Mikro Retoris:

Pendapat diceritakan dari pengalaman selama menyiarkan di RRI Jember dan di kehidupan sehari- harinya.

Grafis:

Ekspresi, metafora.

1) Struktur Makro/ Tematik

Tema atau topik menggambarkan yang ada di dalam hasil wawancara ini gagasan intinya dikelolah oleh peneliti untuk mendapatkan jawaban dari rumusan masalah yaitu mengenai Tindakan komunikasi yang dilakukan oleh penyiar RRI Jember untuk mendukung program Pengarus Utamaan Gender.

2) Superstruktur/ Skema

Adapun pendapat Penyiar dan Kasubag Perencanaan RRI Jember dikemas dalam bentuk menjawab pertantanyaan dan mentransformasikan kepada peneliti yang telah dikemukakan oleh peneliti dalam membahas

103

tentang tindakan yang mendukung tujuan program Pengarus Utamaan Gender. Sehingga peneliti dapat menerima dengan baik apa yang disampaikan di dalam wawancara.

3) Struktur Mikro a. Semantik

Makna yang ditekankan dalam wawancara ini seperti yang kita lihat di atas yaitu Tindakan komunikasi yang dilakukan Penyiar RRI Jember saat berada di kantor ataupun di luar, dalam kehidupan sehari- hari, dan di lingkungan sekitar. Hal ini menjadi tujuan untuk mengetahui seberapa jauh tindakan komunikasi yang dilakukan Penyiar RRI Jember.

b. Sintaktis

Bentuk Kalimat yang digunakan adalah bentuk kalimat langsung dan deduktif. Kalimat langsung berada di hal 77 yaitu “dimanapun itu walaupun tempatnya berbeda mereka akan merasa bahwa kami berbicara kepada mereka yang sedang mendengarkan itu, jadi pendengar tidak merasa itu bahwa “oh ini sengaja ngomong dengan orang banyak kebetulan saja saya dengerin”, jadi kami berusaha untuk berbicara seolah-olah kami sedang berbicara dengan satu orang”. Sedangkan kalimat deduktifnya bisa kita lihat dari hasil wawancara yang berada pada hal 76 “Butuh bukti, itu bisa kami lakukan dengan mendatangkan narasumber yang tidak satu sudut pandang misalkan tentantang gender yang diangkat itu kami berusaha

104

untuk meyakinkan pendengar dengan cara cover both side, cover both side itu maksudnya kita selalu menghadirkan narasumber tidak dari satu sudut pandang, tapi ada beberapa sudut pandang sehingga kalaupun diperlukan testimoni masyarakat maka yang keluar adalah bukti-bukti nyata yang pasti bukan kami yang membuktikan tetapi lebih kepada kejadian nyata yang membuktikan. Contoh pernah angkat kasus tentang kekerasan dalam rumah tangga, kita datangkan lembaga bantuan hukum, kita datangkan dari sikolog, kepolisian dan juga si korbannya itu sendiri, dengan pesetujuan beliau, pertanyaan kita tidak main-main, tidak menyalahi aturan jurnalistik kalau misalkan ingin menampilkan bukti-bukti informasi pribadi. Intinya kami selalu menampilkan berbagai macam isu dari perspektif yang berbeda, narasumber dengan perspektif yang berbeda.”

Koherensi berada pada kalimat wawancara yang ada pada hal 78 yaitu “Ya, terutama keluarga karena yang paling relevan itu kita ngobrolnya sama keluarga, aneh aja kalau misalkan kita ngomong sama orang lain dikeluarga tidak melaksanakan, eman gitukan. Apa yang menjadi hal-hal yang istilahnya isu negatif itu jangan sampai terjadi dikeluarga kekerasan rumah tangga kemudian diskriminasi gender itu paling tidak yang paham terlebih dahulu keluarga.”

Hubungan antar kalimat dijelaskan dengan kata “Karena” dan

“Kemudian”. Informan menjelaskan bahwa kita harus lebih utama mempraktekkan kepada anggota keluarga terlebih dahulu.

105

Kata ganti dapat kita lihat pada kalimat hasil wawancara dengan Ibu Devi pada hal 75 yaitu “Di rumah kita kan juga makhluk sosial, kita berinteraksi dengan lingkungan kita, walaupun tidak bentuk dakwah tetapi sebisa mungkin apa yang menjadi isu-isu center.” Kata

“Kita” merupakan kata ganti orang pertama jamak.

c. Stilistik

Di dalam elemen stilistik tenta yang menjadi sebuah bentuk perhatian ya gaya bahasa, dimana dalam hasil wawancara yang telah dilakukan yaitu menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Salah satu contohnya yaitu pada kalimat hal 76 hasil wawancara bersama Ibu Devi “Butuh bukti, itu bisa kami lakukan dengan mendatangkan narasumber yang tidak satu sudut pandang misalkan tentang gender yang diangkat itu kami berusaha untuk meyakinkan pendengar dengan cara cover both side, cover both side itu maksudnya kita selalu menghadirkan narasumber tidak dari satu sudut pandang, tapi ada beberapa sudut pandang sehingga kalaupun diperlukan testimoni masyarakat maka yang keluar adalah bukti-bukti nyata yang pasti bukan kami yang membuktikan tetapi lebih kepada kejadian nyata yang membuktikan.” Atau bisa kita lihat yang bergaris miring di dalam transkip wawancara di atas.

106 d. Retoris

Tidak jauh berbeda dengan retoris sebelumnya, elmen ini elemn terakhir pada struktur wacana Van Dijk yaitu menggunakan metafora.

Dimana metafora ini majas yang mengungkapkan secara langsung berdasarkan persamaan ataupun perbandingan yang terjadi. Bisa kita lihat salah satunya yaitu pada kalimat wawancara dengan Ibu Retno hal 81 selaku Penyiar RRI Jember yaitu “Tentu ada tindakan komunikasi antara penyiar dan kasubag perencanaan dan evaluasi siaran karena sebagian besar kami bilang bahkan lebih dominan segala sesuatu yang kami bahas disini itu datangnya dari perencanaan, jadi komunikasinya adalah berbentuk perintah dan juga intruksi terkait program yang harus dijalankan oleh penyiar.”

Dokumen terkait