• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI FENOMENOLOGI PEMBELAJARAN DARING PRODI PGSD UPI KAMPUS SUMEDANG)

Nettiquette Pada Masa Pandemi Covid-19 (Studi Fenomenologi Pembelajaran Daring di Prodi PGSD UPI Kampus Sumedang) Dr. Nurdinah Hanifah, M.Pd1; Dr. Ani Nur Aeni, M.Pd2;Dr. Isrok’atun, M.Pd3

75

unsur pendidikan tinggi di Indonesia untuk melakukan tindakan control penyebaran virus dengan melakukan semua aktiviras kegiatan di dalam rumah, baik itu kegiatan belajar maupun bekerja, sehingga kegiatan akademik yang biasanya diselenggarakan secara tatap muka di kampus, saat pandemic harus dilakukan dari rumah. Hal tersebut tentunya berdampak sangat luar biasa karena seolah-olah memaksa dunia pendidikan merubah proses perkuliahan yang konvensional menjadi rposes perkuliahan dengan mendasarkan pada sinkronus maupun asinkronus (daring). Daring merupakan salah satu metode pembelajaran berbasis teknologi dengan memanfaatkan perangkat digital yang dihubungkan langsung dengan jaringan internet. (Hoi and Lu, 2018).

Pembelajaran daring dinilai memberikan manfaat bagi dosen maupun mahasiswa (Singh, Donoghue, and Worton, 2005). Bagi mahasiswa pembelajaran berbasis daring membantu mahasiswa membentuk kemandirian dalam belajar, tidak mengharuskan mereka untuk hadir langsung di kelas, dan juga mendorong interaksi secara tidak langsung dengan mahasiswa yang berjarak jauh dengan tidak beresiko terdampak virus, sedang bagi dosen, pembelajaran dengan metode daring mengubah gaya belajar yang awalnya jarang berhubungan dengan teknologi, sekarang sepertinya harus lekat dengan teknologi, mengubah gaya mengajar konvensional yang tentunya berdampak pada profesionalitas.

Melalui pembelajaran berbasis daring mahaiswa dan dosen menggunakan beberapa aplikasi yang paling mudah sampai dengan yang komplek, sedikit nilai interaksi dan yang kental interaksinya, seperti whatsapp group

telegram, google classroom, google meet, zoom dll. Penggunaan teknologi digital merupakan suatu inovasi dalam pendidikan untuk menjawab tantangan menjaga kualitas perkuliahan selama pandemic. Pembelajaran dengan menggunakan internet dengan aksesibilitas, konektivitas, fleksibilitas dan kemampuan untuk memunculkan berbagai jenis interaksi pembelajaran merupakan penggunaan teknologi digital yang memungkinkan untuk dosen dan mahasiswa melaksanakan pembelajaran walaupun di tempat yang berbeda, Milman, (2020); Lashley (2014); Moore, Dickson-Deane, & Gaylen (2011).

Belajar pada masa pandemic menggambarkan suatu kondisi shock culture dengan kebiasaan baru, dalam hal ini belajar secara online, Sri Kuning (2021); Muttaqin el al., (2021); Maisaroh and Ali (2021). Penelitian mengenai pembelajaran online atau pembelajaran dalam jaringan menemukan suatu fakta bahwa, pembelajaran dengan tatap muka masih lebih baik (Wiley and Hilton III, 2018). Melalui pembelajaran secara darig mahasiswa justru mengalami tekanan atau stess, (Maulana dan Iswari, 2020). Kendali- kendala dalam pembelajaran online misalnya berkaitan dengan kondisi sinyal, kuota, jenis media digital yang digunakan (Agus Susilo, 2013) dan bertambahnya biaya pengeluaran di tingkat keluarga mahasiswa (Setiani, 2021), sehingga pembelajaran secara onlilne dinilai tidak efektif. sehingga pembelajaran secara online dinilai tidak efektif. Dewi (dalam Hanifah 2021) mengungkapkan bahwa dari semua literatur e-learning mengindikasikan bahwa tidak semua peserta didik akan sukses dalam pembelajaran online, hal ini dikarenakan faktor

dari lingkungan dan karakteristik peserta didik itu sendiri. Permasalahan yang timbul dari model pembelajaran daring ini dirasakan secara teknis dan non teknis. Pembelajaran yang tercipta seperti formalitas dengan memberikan penugasan tanpa ada pencerdasan, karena secara virtual proses pembelajaran menjadi searah dan memunculkan pembatasan ruang aktivitas sosial dan intelektual pebelajar, yang notabene lepas dari nilai-nilai humanisme yang seharusnya diusung oleh pendidikan (Hanifah, 2021).

Secara umum siapapun yang merasa menjadi bagian dari suatu komunitas di internet wajib untuk mematuhi kode etik yang berlaku di lingkungan tersebut. Sebenarnya netiquette adalah hal yang umum dan biasa, sama halnya dengan aturan-aturan biasa ketika kita memasuki komunitas umum dimana informasi sangat banyak dan terbuka. Pada dasarnya netiquette merupakan panduan untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan kaidah normatif di lingkungan Internet. Dengan mematuhi peraturan ini, maka akan sangat bermanfaat dan membantu dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain tanpa harus mengalami masalah atau tanpa harus mengalami salah pengertian dengan orang lain.

Interaksi dosen dengan mahasiswa dapat berupa interaksi asosiatif dan juga disosiatif Rijal, (2021); Hajiah & Amri, (2018). Interaksi asosiatif terwujud dalam bentuk saling bekerjasama, saling memahami, rukun dan damai (Lamanepa et al., 2016); Iskandar et al., (2019). Kebalikannya dengan interaksi disosiatif yang menggambarkan hubungan negatif yang saling merugikan kedua belah pihak. Penyimpangan yang dilakukan dapat terwujud dalam bentuk ucapan maupun

tindakan. Pengetahuan mengenai etika di dunia maya (netiket) haruslah dimiliki oleh orang- orang yang menghabiskan banyak waktunya di dunia maya. Karena, sama halnya dengan dunia nyata, etika menjadi panduan kita apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika kita berhubungan dengan orang lain. Artikel ini menganalisis Nettiquette dari sisi Etika Komunikasi yaitu secara deskriptif dan normatif.

METODEPENELITIAN

Pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada dua alasan. Pertama, permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu bagaimana nettiquete Mahasiswa dalam perkuliahan daring yang membutuhkan sejumlah data lapangan yang aktual. Kedua, karena didasarkan pada keterkaitan masalah yang dikaji dengan sejumlah data primer dari subjek penelitiannya yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat tersebut. Metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang- oleh sejumlah individu atau sekelompok orang-dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Creswell (2010, hlm. 4).

Kerangka Fenomenologi digunakan untuk mengkaji cara-cara anggota masyarakat menyusun dan membentuk ulang alam kehidupan sehari-hari (Denzin, 2009, hlm.

336).

Fenomenologi berfokus pada bagaimana orang mengalami fenomena tertentu, artinya orang mengalami sesuatu bukan karena pengalaman tetapi karena fenomena yang terjadi di kehidupannya.

Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang terjun ke lapangan untuk

Nettiquette Pada Masa Pandemi Covid-19 (Studi Fenomenologi Pembelajaran Daring di Prodi PGSD UPI Kampus Sumedang) Dr. Nurdinah Hanifah, M.Pd1; Dr. Ani Nur Aeni, M.Pd2;Dr. Isrok’atun, M.Pd3

77

mencari informasi melalui observasi, angket dan studi dokumentasi kepada mahasiswa Prodi PGSD yang berjumlah 161 di Kampus Sumedang tingkat III yang dilakukan secara online. Data yang diperoleh kemudian diuji dengan metode triangulasi Selanjutnya teknik analisis data yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman, yaitu tiga tahap analisis data yang dilakukan secara interaktif dan saling berhubungan baik selama ataupun sesudah pengumpulan data.

HASILDANPEMBAHASAN HASIL

Data hasil penelitian ini akan terurai berdasarkan fokus penelitian, dalam hal ini etika Komunikasi yang dianalisis berdasarkan etika deskriptif dan normatif.

Dabbagh dan Ritland (2005, hlm. 15) pembelajaran online adalah sistem belajar yang terbuka dan tersebar dengan menggunakan perangkat pedagogi (alat bantu pendidikan), yang dimungkinkan melalui internet dan teknologi berbasis jaringan untuk mempasilitasi pembentukan proses belajar dan pengetahuan melalui aksi dan interaksi yang berarti. Menurut Bertens (2004) etika komunikasi ialah dikaitkan dengan watak atau kesusilaan yang menentukan benar atau tidaknya cara penyampaian pesan kepada orang lain yang dapat mengubah sikap, pendapat, atau perilaku baik secara lisan ataupun tidak langsung. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah Etika Komunikasi deskriptif dan normatif. Etika Deskriptif adalah mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta, sedangkan Etika Normatif berbicara tentang norma atau aturan yang menuntun perilaku manusia Salam (1997).

Tabel.1 Pemaknaan Etika Komunikasi Etika

Komunikasi

Penjelasan

Deskriptif etika deskriptif, yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola perilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai.

Etika deskriptif berbicara mengenai fakta apa adanya, yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkret yang membudaya. Ia berbicara mengenai kenyataan penghayatan nilai, tanpa menilai, dalam suatu masyarakat, tentang sikap orang menghadapi hidup ini, dan tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia bertindak secara etis

Normatif etika normatif, yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola perilaku ideal yang seharusnya dimiliki manusia, atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia, atau apa yang seharusnya diambil untuk mencapai apa yang bernilai dalam hidup ini. Etika normatif berbicara mengenai norma-norma yang menuntun tingkah laku manusia, serta memberi penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya berdasarkan norma- norma. Ia menghimbau manusia untuk bertindak yang baik dan menghindari yang jelek.

Sumber: Salam (1997). Etika Sosial Asas Moral dalam Kehidupan Manusia. Jakarta: PT Rineka Cipta

Deskripsi mengenai etika Komunikasi secara deskriptif yaitu.

Gambar 1. Mematikan Kamera ketika Perkuliahan

Analisis prilaku mahasiswa yang mematikan kamera ketika perkuliahan dilakukan dengan beberapa pertimbangan, diantaranya sinyal tidak bagus, karena lagi sakit dan pada umumnya mereka meminta ijin dahulu untuk mematikan kamera video mereka selama perkuliahan. Jika dilihat data angket dalam rentang selalu, sering, kadang-kadang, jarang dan tidak pernah. Ada sekitar 70 orang mahasiswa menyatakan jarang mematikan kamera video mereka.

Diagram. 1 Mematikan Kamera Ketika Perkuliahan

Diagram. 6 Raise Hand Jika akan mengajukan Pertanyaan

Selanjutnya mengenai mengucapkan

salam jika ngirim teks email, chat kepada dosen, ada sekitar 145 orang yang mengatakan selalu mengucapkan salam.

Diagram 2. Mengucapkan Salam Kalau Mengirim Teks Email, Chat untuk Dosen

Media komunikasi yang digunakan pada selama perkuliahan umumnya menggunakan aplikasi pesan teks seperti whatsapp, SMS, dan email. Gambar di bawah merupakan ilustrasi pola komunikasi dosen dan mahasiswa yang terjadi ketika perkuliahan daring.

Gambar 2. Interaksi Mahasiswa dan Dosen melalui chat WA

Perubahan pola komunikasi ketika masa pandemi tentu menjadikan mahasiswa dengan dosen menjadi terbiasa berkomunikasi melalui media digital. Komunikasi antara mahasiswa dengan dosen semakin dibuat mudah karena kini banyak dosen yang dengan sengaja memberikan kontaknya kepada mahasiswa dan tidak keberatan untuk dihubungi. Seorang dosen yang memberikan kontaknya kepada para mahasiswa tentu

Nettiquette Pada Masa Pandemi Covid-19 (Studi Fenomenologi Pembelajaran Daring di Prodi PGSD UPI Kampus Sumedang) Dr. Nurdinah Hanifah, M.Pd1; Dr. Ani Nur Aeni, M.Pd2;Dr. Isrok’atun, M.Pd3

79

menyiratkan kesiapannya untuk dihubungi oleh banyak mahasiswa. Umumnya mahasiswa menghubungi dosen untuk urusan akademik seperti bimbingan, mengirim tugas, perbaikan nilai. Di bawah ini merupakan grafik yang mengilustrasikan etika mengenai waktu berkomunikasi dengan dosen, 93.2%

menyatakan selalu memperhatikan waktu ketika akan melakukan komunikasi dengan dosennya.

Diagram. 3 Memperhatikan waktu ketika akan berkirim pesan atau menelpon Kepada dosen

Etika normatif yang menjadi pedoman bagi manusia untuk bertindak. Norma-norma tersebut sekaligus menjadi dasar penilaian bagi manusia baik atau buruk, salah atau benar.

Pada penelitian ini etika normatif mengacu pada tata tertib ketika perkuliahan daring di kampus, sanksi, dll.

Selanjutnya paparan mengenai data etika Komunikasi yaitu secara normatif. Gambar diagram di bawah ini memperlihatkan mengenai keberadaan tata tertib panduan perkuliahan daring.

Diagram. 4 Di Kampus ada Tata Tertib panduan perkuliahan daring

Pernyataan selanjutnya mengenai dosen yang mengingatkan mahasiswa mengenai etika berkomunikasi ketika berkuliahan daring, ada 78.9% mahasiswa menyatakan dosen sering mengingatkan mereka mengenai etika dalam berkomunikasi.

Diagram. 7 Dosen mengingatkan para mahasiswa mengenai etika berkomunikasi

ketika perkuliahan daring

PEMBAHASAN

Suatu tindakan pendidikan (pedagogical encounter) merupakan suatu tindakan rasional etis. Hal ini membedakan manusia dengan binatang yang tindakan- tindakannya berdasarkan insting dan bukan berdasarkan pertimbangan rasional serta disadarkan pada etika. Manusia hidup untuk kebaikan dan oleh sebab itu pertimbangan- pertimbangan etis ditunjukkan pada perbaikan manusia sebagai mahluk yang baik, ini yang disebut manusia sebagai mahluk etis (Tilaar, 2009, hlm. 242).

Etika ialah menetapkan sikap dan pola perilaku yang ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam bertindak. Jadi etika ini berbicara tentang Norma-norma yang menuntun perilaku manusia serta memberi penilaian dan hiambauan kepada manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya Dengan Demikian etika normatif memberikan petunjuk secara jelas bagaimana manusia harus hidup secara baik dan menghindari diri

dari yang jelek. (Sulianti,2021).

Komunikasi melibatkan interaksi antar anggota masyarakat. Interaksi memerlukan norma-norma atau aturan-aturan yang berfungsi untuk pengendalian yang tujuannya adalah untuk tercapainya Ketertiban dalam masyarakat. Salah satu, upaya mewujudkan tertibnya masyarakat adalah adanya etika komunikasi yakni kajian tentang baik buruknya suatu tindakan komunikasi yang dilakukan manusia, suatu pengetahuan rasional yang mengajak manusia agar dapat berkomunikasi dengan baik, Setiyani (2013).

Proses pendidikan seyogyanya dijalankan dengan etika yang baik dan benar, karena pendidikan bukan saja berbicara dari sisi penananam nilai yang baik melalui pembelajaran tetapi juga berbicara dari sisi penerapan etika baik kepada pendidik maupun peserta didik.

Etika deskriptif dalam perkuliahan daring dalam berbagai platform berbicara mengenai etika komunikasi dari dosen kepada mahasiswa maupun sesama mahasiswa misalnya, ketika akan bertanya atau berbicara meminta ijin dulu jika menggunakan zoom ada fitur raise hand, atau ijin melalui chatbox, tidak mematikan kamera, mematikan audio yang ada jika perkuliahan dimulai dst. Jika melihat data yang dihasilkan secara keseluruhan mahasiswa prodi PGSD UPI Kampus Sumedang memilliki kesadaran tinggi dalam beretika ketika melaksanakan perkuliahan daring.

Pola komunikasi yang muncul memperlihatkan etika komunikasi yang mereka pahami secara bersama, dalam hal ini penggunaan bahasa yang baik merupakan hal yang dinilai penting sekali dalam etika komunikasi, memperhatikan waktu ketika akan

melakukan komunikasi, itu merupakan bagian- bagian penting ketika akan berkomunikasi dan mereka memperhatikan itu. Sehingga tujuan dari etika komunikasi dapat tercapai.

Etika komunikasi memiliki tujuan yang ingin dicapai, diantaranya adalah, 1) Membantu individu atau kelompok dalam masyarakat untuk bertindak secara bebas tapu dapat dipertanggungjawabkan; 2) Membantu individu atau kelompok dalam masyarakat untuk dapat mengambil sikap atau tindakan secara tepat;

3). Menciptakan rasa saling menghormati dan menghargai. (Kemendikbud.co.id).

Penelitian mengenai beretika dalam komunikasi sebagai faktor kemajuan pendidikan karena dalam berkomunikasi tidak saja harus menampilkan etika tapi juga estetika serta mengharuskan adanya keterlibatan pendidik dalam berbagai aktivitas peserta dididik sehingga memberikan banyak kemungkinan dalam proses belajar dan menjadikan pendidikan semakin terbuka (Aulia, Suwatno dan Santoso, 2018, hlm. 110)

Etika normatif dapat dilihat dalam suatu kegiatan perkuliahan misalkan ketika menggunakan aplikasi zoom, para peserta dalam zoom memahami peraturan yang harus dipatuhi bersama demi menjaga keamanan dan ketertiban perkuliahan, menjadi pedoman bagi mahasiswa maupun dosen untuk bertindak, berprilaku, menjadi dasar penilaian bagi dosen tentang baik atau buruk, salah dan benar, salah atau benar, etika normative ini ditegakkan untuk menjaga kedisiplinan dan kelancaran proses perkuliahan. Di Prodi UPI Kampus Sumedang sudah ada tata tertib yang mengatur mengenai perkuliahan, sanksi yang ada bukan tegas tertuang dalam suatu aturan tapi lebih pada sanksi sosial yang muncul dalam kesadaran moral para mahasiswa.

Nettiquette Pada Masa Pandemi Covid-19 (Studi Fenomenologi Pembelajaran Daring di Prodi PGSD UPI Kampus Sumedang) Dr. Nurdinah Hanifah, M.Pd1; Dr. Ani Nur Aeni, M.Pd2;Dr. Isrok’atun, M.Pd3

81

PENUTUP

Pada dasarnya komunikasi dapat dilakukan secara tatap muka, bermedia, melalui tulisan ataupun secara isyarat. Keberhasilan proses komunikasi dapat ditentukan juga dari etika berpesan, karena pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan dengan baik apabila komunikasi dapat dilakukan bersamaa dengan etika.

Saran yang akan disampaikan dalam artikel ini difokuskan pada Etika komunikasi dalam perkuliahan daring. Mengingat Etika komunikasi dapat menjadikan proses belajar mengajar menjadi lebih efektif jika dosen menjadi lebih di apresiasi jika mahasiswanya memberikan umpan balik yang baik. Konsisten dalam menetapkan aturan. Mempertegas aturan-aturan yang sudah ada agar mahasiswa dapat lebih disiplin dan patuh terhadap aturan- aturan yang sebaiknya tertuang dalam bentuk buku panduan, supaya berlaku sama bagi setiap dosen dan mahasiswa.

REFERENCES

Agus Susilo, F. (2013). Peningkatan Efektivitas Pada Proses Pembelajaran. MATHEdunesa, 2(1).

Bertens, K. (2004). Etika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Creswell, J. W. (2010). Research design:

pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed.

Yogjakarta: PT Pustaka Pelajar.

Dabbagh, N., & Bannan Ritland, B. (2005). Online Learning : Concept, Strategies, and Application. New Jersey : Pearson Education, Inc.

Denzin & Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Hajiah, & Amri, A. (2018). Pola Interaksi Sosial Mahasiswa Luar Aceh dan Mahasiswa Aceh di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah, 3(1).

http://www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP/article/vie w/6170/2748

Hanifah, N. (2021) Refleksi Pendekatan Humanis Dalam Memandang Pembelajaran Daring Dari Sisi Mahasiswa. E-Prosiding Seminar

Nasional Kurikulum Merdeka Belajar- Kampus Merdeka Berbasis Integrasi Keilmuan Di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru ISSN: 2662-0121 Edisi: Juni 2021

Hanifah, N. (2021). Merdeka Belajar Menurut Perspektif Ajaran Kihajar Dewantara (Dalam Bunga Rampai Implementasi dan Problematika Merdeka Belajar. Akademia Pustaka: Tulung Agung.

Hoi, S. C. H., Sahoo, D., Lu, J., & Zhao, P. (2018).

Online learning: A comprehensive survey. ArXiv, 1, 1–100

Iskandar, A. M., Zainuddin, R., Makassar, U. M., &

Bosowa, U. (2019). Interaksi dan

Komunikasi Dosen dan Mahasiswa dalam Proses Pendidikan. Jurnal Dakwah Dan Sosial Keagamaan, 5(1).

Lamanepa, A., Budjang, G., & Salim, I. (2016).

Interaksi Sosial Antar Mahasiswi Asrama Putri Kabupaten Kapuas Hulu di Kota Pontianak. Jurnal Penddikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa, 5(7), 1–13.

https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/arti cle/view/15983/13927

Lashley, Y. (2014). Integrating computer technology in the teaching of Biology. DOI:

10.20876/ijobed.93986

Maulana, H. A., & Iswari, R. D. (2020). Analisis Tingkat Stres Mahasiswa Terhadap Pembelajaran Daring Pada Mata Kuliah Statistik Bisnis Di Pendidikan Vokasi.

Khazanah Pendidikan, 14(1).

http://www.jurnalnasional.ump.ac.id/

index.php/khazanah/article/download d/8479/3391

Miles, M. B., & Huberman, M. (1994). Qualitative Data Analysis Second Edition. SAGE Publications. Milman, N. B. (2015). Distance Education. In International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences: Second Edition. https://doi.org/10.1016/B978-0-08- 097086-8.92001-4

Moore JL, Dickson-Deane C, Galyen K. 2011, E- Learning, online learning, and distance learning environments: Are they the same, The Internet and Higher Education.;14(2):129-35.

Muttaqin, M., Idris, U., KFrank, S., Ilham, I., Akhmad, A., & Tibul, S. (2021). Cultural Shock of College Students on Facing Online Learning System During Pandemic Covid-19 in Papua. March 2020.

https://doi.org/10.4108/eai.25-11- 2020.2306700

Rijal, S. (2021). Nuansa Edukasi Islami Interaksi Sosial Dosen Dan Mahasiswa. Journal of Education Science, 6(2).

http://jurnal.uui.ac.id/index.php/jes/article/vie w/1166

Salam, Burhanuddin. (1997). Etika Sosial Asas Moral dalam Kehidupan Manusia. Jakarta:

PT Rineka Cipta.

Setyani, 2013. Penggunaan Media Sosial sebagai Sarana Komunikasi bagi Komunitas (Studi Deskriptif Kualitatif Penggunaan Media

Sosial Twitter, Facebook, dan Blog sebagai Sarana Komunikasi bagi Komunitas Akademi Berbagi Surakarta). Skripsi.

Surakarta : Akademi Berbagi Surakarta.

Singh, G., O ’donoghue, J., & Worton, H. (2005). A Study Into The Effects Of eLearning On Higher Education. Journal Journal of University Teaching & Learning Practice, 2(1).

Retrieved from http://ro.uow.edu.au/jutlp Sri kuning, D. (2021). Culture Shock: Online

Learning in the Covid-19 Pandemic Phase.

Jurnal Humaniora Dan Ilmu Pendidikan, 1(1), 55–62

https://doi.org/10.35912/jahidik.v1i1.357 Sulianti, N., Asnawati., Yanto. (2021).

Communication Ethics In Online Learning Throungh The Zoom Application. Sengkuni Journal: Social Sciences and Humanities Vol. 2 No. 1 2021 page: 80–88. DOI:

https://doi.org/10.37638/sengkuni.2.1.81-88

SEMINAR NASIONAL ILMU PENDIDIKAN KE-1 FKIP Universitas Lampung

MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING DALAM

Dokumen terkait