• Tidak ada hasil yang ditemukan

URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER ANTARA CITA DAN REALITA

Siti Nurhaliza Rambe1*, Miswati2, Siti Halija3

123Program Studi Manajemen Universitas Dharmawangsa

*E-mail: [email protected] Abstrak

Apa pentingnya pendidikan karakter Bukankah selama ini peserta didik dalam setiap jenis dan jenjang pendidikan telah mendapat pendidikan agama dan pendidikan kewargaan Pendidikan karakter bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlaq mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorentasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang maha Esa berdasarkan Pancasila.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yang artinya penelitian ini bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dan makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Sumber data yang digunakan ialah data sekunder (secondary data), data ini diperoleh dari berbagai sumber seperti buku-buku, artikel, ilmiah, jurnal, internet serta data lainnya sebagai pelengkap kesesuaian fokus penelitian. Namun sumber yang digunakan pada penelitian kali ini hanya melalui jurnal dan internet. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara study pustaka (library research), yang salah satu nya melakukan penelusuran terhadap sumber-sumber jurnal dan internet data lainnya sebagai pelengkap kesesuaian fokus penelitian. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam mencapai tujuan pencerdasan dan pengembangan kecerdasan manusia untuk meningkatkan taraf hidup dan kehidupan yang lebih baik. Sistem Pendidikan Nasional mencita-citakan kecerdasan penuh yang nantinya akan dimiliki oleh semua anak bangsa melalui proses pendidikan yang dijalankan di Indonesia. Cita-cita itu diamanahkan dalam undang-undang sebagai landasan pelaksanaan pendidikan. Cita-cita dapat diartikan juga sebagai tujuan atau pedoman hidup.Pendidikan karakter merupakan hal yang tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Berbagai kasus amoral yang melanda negeri ini terlebih para pelakunya berasal dari kalangan pelajar mengindikasikan bahwa bangsa ini sedang menderita krisis karakter.

Kata Kunci : Urgensi Pendidikan Karakter, Cita-Cita, Realita.

Abstract

What is the importance of character education? Haven't all this time been that students in every type and level of education have received religious education and civic education? Character education aims to form a nation that is strong, competitive, has noble character, has morality, is tolerant, works together, has a patriotic spirit, develops dynamically, is science oriented. knowledge and technology, all of which are inspired by faith and piety to God Almighty based on Pancasila. This research is a qualitative research, which means that this research is descriptive and tends to use analysis. Process and meaning (subject perspective) are more highlighted in qualitative research.

The data source used is secondary data, this data is obtained from various sources such as books, articles, scientific journals, internet and other data as a complement to the suitability of the research focus. However, the sources used in this study were only through journals and the internet. The data collection technique was carried out by means of library research, one of which was to conduct searches on journal sources and other internet data as a complement to the suitability of the research focus. Education is a conscious and planned effort made by individuals or groups in achieving the goals of intelligence and the development of human intelligence to improve the standard of living and a better life. The National Education System aspires to full intelligence which will later be possessed by all children of the nation through the educational process carried out in Indonesia. These ideals are mandated in the law as the basis for the implementation of education. Ideals can also be interpreted as goals or guidelines for life. Character education is something that cannot be underestimated. Various immoral cases that have hit this country, especially the perpetrators from among students, indicate that this nation is suffering from a character crisis.

Keywords:Urgensi of Character Education, Ideals, Reality.

PENDAHULUAN

Apa pentingnya pendidikan karakter? Bukankah selama ini peserta didik dalam setiap jenis dan jenjang pendidikan telah mendapat pendidikan agama dan pendidikan kewargaan? Bahkan tujuan

pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sangatlah ideal yaitu“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,

URGENSIPENDIDIKANKARAKTERANTARACITADANREALITA Siti Nurhaliza Rambe1, Miswati2, Siti Halija3

109

bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

INDONESIA dewasa ini dihadapkan pada ragam persoalan internal dan ekternal yang ditimbulkan oleh berbagai macam perubahan, seperti perubahan teknologi, perubahan sosial dan perubahan budaya yang terutama membawa dampak dalam berbagai kemajuan dan perkembangan pendidikan. Pembangunan karakter harus didahulukan dari semua pembangunan yang ada agar bangsa ini bisa menjadi bangsa yang besar. Sebuah bangsa yang dihargai dan dijunjung tinggi oleh bangsa lain, bukan bangsa yang hanya sekedar menjadi kuli yang dipandang rendah oleh bangsa lain. Saat ini keberagaman sering dipandang sebagai perbedaan, perbedaan semakin dipertajam dan sering dimanfaatkan sebagian orang untuk memenuhi ambisi dan kepentingan pribadi atau golongannya. Ini menimbulkan konflik horizontal maupun vertikal yang menyebabkan terpuruknya bangsa Indonesia dan menimbulkan kerusuhan dan permusuhan terjadi dimana-mana.

Perguruan tinggi sebagai institusi mempunyai fungsi tidak hanya sekedar transfer of knowledge tetapi lebih penting lagi sebagai transfer of values. Faktualitas perbedaan etnis, agama, ras dan budaya, justru dapat dijadikan pembelajaran dalam membangun pengetahuan, keterampilan dan sikap subyek belajar. Menggunakan sistem Pendidikan multikultural dapat menjadi salah satu strategi untuk mengembangkan kesadaran atas kebanggaan seseorang terhadap bangsanya (the pride in ones’s home nation). Multikulturalisme merupakan ragam kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya, sebagai potensi yang harus dikembangkan dan dibina. Sebaliknya apabila keberagaman ini tidak dimanfaatkan, dan dibina secara benar akan berkembang menjadi sesuatu yang menakutkan. Salah satunya ialah memicu timbulnya konflik horizontal dan vertikal.

Pendidikan merupakan sarana transformasi menuju hakikat kemanusiaan yang sesungguhnya. Sebagaimana dikatakan “Tan Malaka (2019) bahwa, tujuan pendidikan adalah mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, dan

memperhalus perasaan.” Pendidikan menjadi sentral utama dalam menumbuhkan pengetahuan dan kesadaran manusia akan jati diri dan potensi yang dimilikinya. Persoalan pendidikan hakikatnya adalah persoalan masa depan, dan peradaban bangsa. Hal ini selaras dengan konstitusi bangsa Indonesia yang berbasis pada pendidikan mencerdaskan kehidupan bangsa. “Ki Hadjar Dewantara (1977) memaknai pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran dan tubuh anak”.

Bagian-bagain itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak bangsa. “Nuarani Soyomukti (2015) dalam bukunya teori-teori pendidikan mendefinisikan bahwa, pendidikan sebagai proses untuk memberikan manusia berbagai macam situasi yang bertujuan memberdayakan diri yang meliputi penyadaran, pencerahan, pemberdayaan, dan perubahan perilaku”.

Karenanya, pendidikan berkaitan dengan bagaimana manusia dipandang. Dalam hal ini, pandangan ilmiah tentang manusia sebagai makhluk Allah dengan segala keunikan yang dimilikinya. Memandangnya harus komprehensif dengan cara-cara yang juga manusiawi.

METODEPENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yang artinya penelitian ini bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dan makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Sumber data yang digunakan ialah data sekunder (secondary data), data ini diperoleh dari berbagai sumber seperti buku-buku, artikel, ilmiah, jurnal, internet serta data lainnya sebagai pelengkap kesesuaian fokus penelitian. Namun sumber yang digunakan pada penelitian kali ini hanya melalui jurnal dan internet.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara study pustaka (library research), yang salah satu nya melakukan penelusuran terhadap sumber-sumber jurnal dan internet data lainnya sebagai pelengkap kesesuaian fokus penelitian.

Teknik analisis data yang digunakan ialah dengan teknik deskriptif kualitatif yang berbentuk kata-kata dan bukan dalam bentuk angka-angka (Meleong, 1977:6) dengan mengikuti pola Miles dan Huberman (Upe, 2010) yang dimulai dari pengumpulan

data yang relevan dengan fokus penelitian (colecttion), kemudian dilakukan pemilihan dan penyederhanaan data (reduction) yang dilakukan penarikan kesimpulan dari data yang telah ditemukan. Semua data yang diperoleh lalu dikumpulkan dan dianalisis secara sistematis dengan mendalam, dalam bentuk narasi atau kalimat.

HASILDANPEMBAHASAN Pendidikan secara umum bertujuan membantu manusia menemukan hakekat kemanusiaannya, maksudnya pendidikan harus mampu mewujudkan manusia seutuhnya, melalui pendidikan dapat dilakukan penyadaran terhadap manusia atau individu untuk mengenal, mengerti dan memahami realitas kehidupan dan lingkungannya. Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia baik dalam bentuk formal maupun informal, pendidikan dalam bentuk formal adalah pengajaran yaitu proses transfer pengetahuan atau usaha mengembangkan potensi intelektualitas dalam diri manusia, namun pengetahuan dan intelektualitas tersebut belum sepenuhnya mewakili manusia. Oleh karena itu pendidikan bukan sekedar transfer ilmu saja tetapi juga mampu mengetahui dan memahami potensi dalam diri manusia itu sendiri. Proses memanusiakan manusia berujung pada pembebasan dalam mengekspresikan kemampuan dan kreativitas dalam diri.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam mencapai tujuan pencerdasan dan pengembangan kecerdasan manusia untuk meningkatkan taraf hidup dan kehidupan yang lebih baik.

Mencerdaskan kehidupan dalam cita-cita pendidikan nasional mencakup seluruh elemen masyarakat dan juga mencakup kecerdasan intelektual, kecerdasan spritual, dan kecerdasan emosional. Karena pada dasarnya ketiga kecerdasan ini tidak dapat dilepaspisahkan. Jika salah satu diantara tiga kecerdasan ini tidak dimiliki maka kecerdasan akan menjadi cacat atau penulis menyebutnya sebagai cacat kecerdasan.

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab 2 Pasal 3 menjelaskan tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik

agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Dari tujuan pendidikan nasional tersebut dapat diketahui bahwa kecerdasan intelektual bukanlah hal pertama yang hendak dicapai dari pendidikan bangsa ini, namun justru akhlak mulialah yang harus diraih terlebih dahulu. Hal tersebut ternyata senada dengan tujuan yang hendak dicapai dari pendidikan karakter yakni menjadikan manusia yang berakhlak mulia. Menurut Creasy sebagaimana dikutip oleh Zubaedi (2011:6) menjelaskan bahwa melalui pendidikan karakter perserta didik didorong agar tumbuh dan berkembang dengan kompetensi berpikir dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral dalam hidupnya serta mempunyai keberanian melakukan yang benar, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan.

Menurut Mohammad Athiyah al Abrasyi sebagaimana yang dikutip oleh Moh.

Roqib (2009: 28) bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membentuk akhlak mulia, persiapan untuk menghadapi kehidupan dunia dan akhirat, persiapan untuk mencari rizki, menumbuhkan semangat ilmiah, dan menyiapkan profesionalisme subyek didik sehingga jelas sudah bahwa tujuan pendidikan karakter khususnya dan pendidikan secara umum ialah untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia.

Tindakan-tindakan amoral yang justru pelakunya berasal dari kalangan para pelajar, mulai dari kebiasaan menyontek yang kini telah membudaya, minum minuman keras/alkohol, merokok di lingkungan sekolah, narkoba, pergaulan dan seks bebas, tawuran antarpelajar hingga peredaran video porno di kalangan pelajar.

Sistem Pendidikan Nasional mencita- citakan kecerdasan penuh yang nantinya akan dimiliki oleh semua anak bangsa melalui proses pendidikan yang dijalankan di Indonesia. Cita- cita itu diamanahkan dalam undang-undang sebagai landasan pelaksanaan pendidikan.

Cita-cita dapat diartikan juga sebagai tujuan atau pedoman hidup. Beberapa definisi tujuan atau pedoman hidup menurut beberapa ahli :

1)

Ken Mcelroy (1992)

Tujuan merupakan langkah pertama dalam proses mencapai kesuksesan dan tujuan juga merupakan kunci mencapai kesuksesan.

2)

Jemsly H & Martani H (2006)

Tujuan merupakan sesuatu yang mungkin untuk dicapai, bukan sesuatu yang utopis.

URGENSIPENDIDIKANKARAKTERANTARACITADANREALITA Siti Nurhaliza Rambe1, Miswati2, Siti Halija3

111

Cita cita sering disebut juga mimpi, seorang yang memiliki banyak cita cita biasanya disebut sebagai pemimpi. Namun jangan sampai kita hanya memiliki cita cita tanpa usaha untuk mewujudkannya, karena hal tersebut merupakan istilah bagi seorang pengkhayal. Secara umum, dibutuhkan banyak persiapan untuk menyelesaikan dan meraih cita cita yang kita impikan. Bahkan, tidak sedikit orang yang gagal hingga akhir hayatnya untuk mewujudkan cita cita yang telah lama ia impi impikan. Biasanya anak kecil akan lebih mudah mengatakan cita citanya karena kepercayaan dirinya masih tinggi. Namun sayangnya biasanya saat beranjak dewasa setelah mengalami beberapa tekanan banyak orang akan meninggalkan cita cita yang diinginkannya karena merasa kemampuannya tidak memenuhi hal dan kriteria tersebut.

Dunia pendidikan memang semakin maju dan tidak bisa dipungkiri banyak upaya- upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tetapi itu semua masih belum merata, kondisi pendidikan zaman now tidak hanya menyentuh sisi kemanusiaan tetapi juga menjadi tamparan keras, banyak kita menemui anak yang tidak bersekolah tetapi yang lebih menyedihkan mereka malah menjadi pengamen atau bekerja di jalanan bahkan terpaksa putus sekolah.

Realita dalam pendidikan lainnya yaitu masyarakat yang masih saja kurang peduli tentang apa yang anak-anak mereka pelajari, mereka berpikir apabila anaknya telah melakukan studi maka mereka akan mendapatkan sertifikat atau biasa kita sebut dengan ijazah, yang notabene sertifikat itu dianggap sebagai alat utama dalam mencari pekerjaan yang diharapkan dapat membantu memperbaiki kehidupannya di masa depan. Sertifikasi tersebut dianggap sebagai hasil nyata dari proses pendidikan padahal pendidikan bukan hanya sekedar untuk mendapatkan ijazah saja, tetapi bagaimana individu dapat memaknai dan memahami setiap hal yang diperoleh dalam proses pendidikan, bagaimana individu belajar untuk memahami realitas kehidupan dan beradaptasi, bagaimana mereka nantinya akan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang mereka peroleh untuk kehidupannya di masa depan. Anggapan-anggapan tersebut menjadikan sistem pendidikan melenceng dari tujuannya yaitu untuk memanusiakan manusia.

Sebelumnya, Pengertian realitas menurut beberapa ahli, “Berger, Peter L dan

Thomas Luckmann (1990), realitas adalah kualitas yang berkaitan dengan fenomena yang kita anggap berada di luar kemauan kita (sebab ia tidak dapat dienyahkan)”.

Menurut “Émile Durkheim (1939): realitas sosial adalah cara bertindak, apakah tetap atau tidak, yang bisa menjadi pengaruh atau hambatan eksternal bagi seorang individu”.

Maksudnya adalah sesuatu yang dianggap nyata adalah produk dari persepsi dan hasil interpretasi terhadap apa yang nyata.

Pencerdasan dan pemanusiaan manusia Indonesia dilakukan dengan bekal ilmu dan pengetahuan yang dimiliki oleh pelaksana pendidikan. Hal ini memberikan isyarat kepada semua pelaksana pendidikan agar terus meningkatkan kompetensi yang dimiliki sehingga tidak tertinggal jauh dalam hal pendidikan dan ilmu pengetahuan. Sebagai suatu cita-cita maka, mencerdaskan kehidupan bangsa ditafsirkan dalam ranah pencerdasan kognitif, afektif dan psikomor. Artinya bahwa proses pencerdasan bukan sekedar mengisi otak peserta didik dengan ilmu dan pengetahuan yang sifatnya materialistik semata, tetapi juga diimbangi dengan pendidikan agama dan moral. Antara ranah ini akan saling mendukung perkembangan anak didik, menuju kepada bangsa yang bermartabat.

Pendidikan tidak hanya sebagai suatu rutinitas, tetapi juga pendidikan yang operasional, mengacu pada prosesnya.

Rata-rata orang tua memiliki pola pikir yang salah, sebagian besar orang tua memandang pendidikan hanya dilakukan di sekolah dan diserahkan

PENUTUP

P

endidikan karakter merupakan hal yang tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Berbagai kasus amoral yang melanda negeri ini terlebih para pelakunya berasal dari kalangan pelajar mengindikasikan bahwa bangsa ini sedang menderita krisis karakter. Apabila hal tersebut tidak segera diselesaikan, maka masa depan dan nasib bangsa serta anak cucu kitalah yang nantinya akan menanggung segala akibat.

Untuk itu, agar harapan dari pelaksanaan pendidikan karakter dapat terwujud yakni terciptanya generasi yang berakhlak mulia maka perlu dilaksanakan pendidikan karakter yang efektif sebagaimana yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya. Akhirnya, karakter merupakan mustika hidup yang membedakan antara

manusia dengan binatang dan manusia yang sudah tidak memiliki karakter yang mulia adalah manusia yang sudah

“membinatang”.

REFERENCES

Alpert Harry, Emile Durkheim and His

Sociology, New York: Colombia University Press, 1939.

Ana Indriana & Kenlies Era Rosalina Marsudi, 2020, Urgensi Pembentukan Karakter Kewargaan

Multikultural Melalui Program Kurikuler Di Indonesia, El Wahdah Jurnal Pendidikan, Vol. I No. 2, 23 halaman

Aswadi, 2009, Antara Cita-cita dan Realita, Ulumuna, Vol. XIII No. 2, 21 halaman

Baso Iping dan Haeran, 2021, PERKULIAHAN DARING DAN TATAP MUKA : Antara Cita dan Realita, Jurnal Inovasi Penelitian, Vol. II No. 2, 10 halaman

Berger, Peter L dan Thomas Luckmann.

1990. Tafsir Sosial atas Kenyataan.

Jakarta. LP3ES Hutabarat, Jemsly dan Huseini,

Martini. 2006. Proses, Formasi &

Implementasi.

Jagad.id, 2020, Cita-cita adalah : Pengertian dan Contoh, https://jagad.id/cita- cita-adalah- pengertian-dan- contoh/

Ki Hadjar Dewantara. 1977. Karya Ki Hadjar Dewantara: Bagian I-Pendidikan.

Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

McElroy, J.C., & Stark, E. 1992. A thematic approach to leadership training.

Journal of Managerial Issues.

Munirah Munirah, 2015, Antara Keinginan dan Realita, Alauddin Jurnal Pendidikan Dasar Islam, Vol.II No. 2, 13 halaman

Redaksi, 2020, Realitas Pendidikan di Indonesia, https://gheroy.com/realitas- pendidikan-di- indonesia/ , 2 Desember

Rofiana Fika Sari, 2019,Cita-cita

Menurut Umum dan Para Ahli, https://www.idpengertian.net/pengertian- cita-cita/ , 27 Desember

Roqib, Moh, Ilmu Pendidikan Islam;

Pengembangan Pendidikan

Integratif di Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat, Yogyakarta: LkiS, 2009.

Saturadar, 2019, Pengertian Realitas

Sosial Adalah,

https://www.saturadar.com/2021/03/Pen gertian-Realitas-Sosial.html

Si Manis, 2020, Pengertian Realitas Sosial, https://www.pelajaran.co.id/realitas- sosial/

, 2 Juli Mohammad Kosim, 2011, Urgensi Pendidikan Karakter, Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman, Vol. IXI No. 1, 8 halaman

Soyomukti, Nuraini. (2015). Teori-Teori Pendidikan Dari Tradisional, (Neo) Liberal, Marxis- Sosialis, Hingga Postmodern. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Sutrimo Purnomo, 2014, PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA : Antara Asa dan Indonesia, Jurnal Pendidikan, Vol. II No. 2, 28 halaman

Syafruddin Munir. Tan Malaka: Kisah Cinta dan Pemikiran-Pemikirannya. Yogyakarta:

Araska. 2019.

Zubaedi, 2011. Desain Pendidikan Karakter : Konsepsi dan Aplikasinya Dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta:

Kencana Prenada Media Group.

SEMINAR NASIONAL ILMU PENDIDIKAN KE-1 FKIP Universitas Lampung

PERSEPSI GURU PAI TENTANG MEDIA PEMBELAJARAN PAI

Dokumen terkait