BAB II PAPARAN DAN TEMUAN
C. Tanggapan Tokoh Agama Islam
keakraban beragama toleransi memang betul itu urusan lingkugan. Jadi RT nya aja atur kan ngga perlu menteri agama sebetulnya. Jadi kalau menteri agama itu agak memuji aturan itu ada debat panjang di belakang itu, kenapa harus 100 desibel (jadi debat teknis).
Kesimpulannya adalah: kita masyarakat majumuk memang beda-beda ada yang masyarakat membutuhkan suara speker tinggi-tnggi (keras) atau ada yang ingin sedang, hendaknya aturan pengeras suara itu diserahkan kepada lembaga pegurus masjid untuk di setiap desa itu di berlakukan penggunaan pengeras suara itu tergantug hasil mupakat antara pengurus masjid dengan masyarakat sekitar.32
a. Dari akun Sinarta Adreas, tokoh masyrakat mengomentari seharusnya bisa dicontohkan dengan suara lain, jangan dengan suara binatang, saya pun sebagai umat Kristen pun akan tersinggung dengan bahasa seperti itu. Pak menag harus meminta maaf kepada umat muslim secepatnya semoga dengan kejadian ini tidak terulang kembali amin”
Dalam komentar tersebut dapat disimpulkan sebagai non muslim juga merasa apa yang di sampaikan kemenag Yaqut Cholil Qoumas tersebut sangat tidak pantas memberikan contoh suara adzan yang di bandingkan dengan gonggongn anjing, dalam kesalahan yang dilakukan bapak mentri sebaiknya segera meminta maaf kepada semua umat muslim di Indonesia.
1. Kata Rektor UIN Mataram, terkait pengaturan pengeras suara.Mataram, Suaranusa –Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Prof Masnun Tahir Dukung Surat Edaran Menteri Agama Nomor 5 Tahun 2022 Tentang Pengaturan Pengeras Suara di Masjid Atau Mushalla.
”Mari kita fahami secara utuh dan cermati pesan substantif dari surat edaran tersebut. SE itu bukan yang baru tetapi berkesinambungan dari SE yang pernah dikeluarkan oleh menteri yang sebelumnya.Hal ini sebagai prakondisi dalam rangka pencanangan tahun toleransi.Substansinya baik karena mengatur penggunaan pengeras suara di masjid dan mushalla untuik kemaslahatan bersama, bukan melarang sebgaimana sebagian narasi yang berkembang” ucapnya ditemui seusai acara pelantikan PCNU se-NTB sabtu (26/2/2022). Kesimpulan dari pernyataan Prof Masnun Tahir di atas adalah : kita sebagai masyarakat yang akan menerima informasi untuk lebih jelasnya informasi tersebut tersampikan dengan mempelajari serta menyimak pesan apa yang di sampaikan, dalam artian melihat cuplikan full dan tidak menerima informasi setengah-setengah atau menonton cuplikan yang sudah dipotong.
Pernyataan tersebut bahwa pengaturan pengeras suara ini perlu untuk menjaga keharmonisan, kemaslahatan bersama.Dikarenakan kita hidup di Negara Bangsa yang plural dengan berbagai latar agama yang berbeda kepercayaan, adat, budaya, suku, dan perbedaan lainnya.
Rektor UIN Mataram juga mengatakan bahwa ada dimensi yuridis, filosofis dan sosiologis dalam SE tersebut.Tugas kita adalah memberikan sosialisasi dan edukasi ke pada masyarakat. Yang dimana kebebasan kita dibatasi degan kebebasan orang lain agar hidup ini harmoni. Dan tidak mengedepankan ego individu semata.karena kita hidup ditangan yang majemuk di Indonesia, apalagi seperti yang di NTB ini.
“oleh karena itu saya sangat mendukung Bapak Menteri Agama RI mengeluarkan surat edaran itu, karena maqashidnya untuk kemaslahatan bersama, karena di banyak Negara dan komunitas itu sudah diberlakukan, mari kita terima, kita
sosialisasikan dan tentunya kita wujudkan dalam hubungan sosial kita ditengah masyarakat.
Prof Masnun Tahir juga mengatakan kalau tidak ada yang setuju dengan pernyataan tersebut berikan argumentasi bil hikmawal mauizatilhasanah sebagaimana mana pesan suci dalam al-Qur’an yang mengatakan
“jangan mengedepankan emosi apalagi smpai berlebihan, Alhamdulillah Gus Menteri sangat terbuka dengan diskusi karena beliau tokoh toleransi dan moderasi yang memang sejak awal beliau diamanahkan menjadi Menteri langsung mendeleclare visi moderasi dan toleransi serta yang beliau sampaikan agama sebgai inspirasi” ucapnya.
Oleh karenanya Prof Masnun Tahir selaku Rektor UIN Mataram tersebut meminta agar kita menjaga harmoni ini dengan regulasi kearifan tradisi dan sering ngopi, tentunya semuanya itu dalam makna yang luas
” jagan mengedepankan emosi apalagi anarki , jagan hobinya mengeduksi apalagi memprovokasi insaallah damai di hati dan di Bumi,33
2. Ada beberapa pendapat MUI tentang aturan penggunaan pengeras suara di antaranya
a. Ketua Bidang MUI KHAsrorun Niam mengapresiasikan terbitnya Surat Edaran (SE) Menteri Agama (Menag) Nomer SE 05 Tahun 2022 tentang pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan mushalla dalam pernyataanya sebagai berikut:
“ oh iya jamaah tersebut harus dibaca dalam konteks tanggung jawab Negara untuk mengadministrasikan penyelenggaraan ibadah umat islam agar dapat terlaksakan secara baik, mendatangkan kemaslahatan dan juga menghindarkan diri dari maksada untuk itu saya secara khusus member apresiasi atas lahirnya itu
33 Suaranusa,”Ini Kata Rektor Uin Mataram Terkai Pengaturan Penggunaan Pengeras Suara”, dalam http://suaranusa.co.id/2022/ini-kata-rektor-uin-mataram-terkait- pengaturan-penggunaan-pengeras-suara.htm?amp=1, diakses tanggal 15 Juni 2022, pukul 11.16.
dalam upaya mewujudkan kemaslahatan dalam penyelenggaraan aktifitas ibadah, akan tatapi aturan itu harus didudukan secara propesional karena realitas kemasyarakatan kita adalah beragam, karena itu ketika masyarakat sudah menerima satu volue satu nilai yang disepakati bersama maka itu bisa tetap diberlakukan sepanjang ada kesepakatan karena itu pemberlakukan SNI harus proforsional dan juga propesional memperhatiakan aspek kearifan lokal serta tidak digenlisir.34
b. Wakil Ketua MUI Anwar Abas juga mengatakan
“surat edaran inikan pemberitahuan iya, jadi inti dari surat edran ini sebetulnya kebiasaan, dan bagaimana kita bisa merubah kebiasaan yang lama ke kebisaan yang baru sesuai dengan surat edran pengaturan penggunaan pengeras suara tersebut. Jika pada shalat subuh dalam aturan tersebut hanya 5 menit sebelum adzan kan bisa direntang misalnya menjadi 10-15 menit, kalau begitukan ada tempat dan ruang. Yang jadi maslahnya ini adalah bunyi, dan bunyi itu sendiri yang harus diatur, misalnya suara yang enak di denger, tidak sumbang, kalaupun dalam ranah non muslim kalau suara itu bagus pasti akan senang mendengarkan kalaupun tidak tau artinya, sama kayak saya pribadipun suka mendengarkan lagu-lagu Cina dan Korea padahal tidak tau artinya” dalam perntyataan itu dapat di simpulkan bahwa pengaturan pengeras tersebut memang benar jika yang di atur adalah bunyi- bunyi yang di luar batas 100 desibel dan suara-suara yang sumbang.35
34 Tvone,” Pandangan MUI Terkait Aturan Pengeras Suara”, dalam https://yotu.be/TPULJ0koNNY, diakses tanggal 16 Juni, pukul 19.20.
35 TvOnenews, “MUI Tanggapi Surat Edaran Penggunaan Pengeras Suara di Masjis”, dalam http://youtu.be/b6NkBr4IFxs, diakses tanggal 24 Agustus, pukul 18.17.
3. Menurut para Ustadz dan kiyai
a. Buya Yahya juga menanggapi aturan menteri agama Yaqut Cholil Qoumas tentang aturan pengeras suara adzan dengan pernyataanyadalam konten youtube
“BuyaYahya Menanggapi Terkait Aturan Suara Adzansebagai berikut:
“kalau untuk urusan adzan adalah hal yang sangat spesial karena untuk mengundang orang shalat dan disunahkan untuk sekuat-kuatnya suara dan sejauh-jaunya suara, karena semua yang akan mendekat (jamaah yang datang) mejadi saksi di akhirat kelak. Kalau adzan tidak ada tawar menawar, akan tetapi bacaan al-qur’an atau pengajian semacam ini bisa saja dikelurkan dari masjid (tidak mmenggunakan pengeras suara) jika memang dibutuhkan. Karena pada masanya Sayyidina Umar Bin Khatab yang memarahi dua orang karena suara nya yang terlalu keras sehingga mengganggu orang lain”.36
b. Kemudain Ustadz Abdul Malik Al-Buthony Hafidzhahullah, juga mengeluarkan pendapatnya tentang aturan penggunaan pengeras suara adzan dalam unggahan youtube Muhamad Iqbal Al Makassary sebagai berikut
Dalam pernyataan Ustadz Abdul Malik Al-Buthony Hafidzhahullah dapat disimpulkan sebagai berikut :sebagai rakyat kita mentaati pemerintah karena allah SWT dan katannya dengan Toa masjid ini tentunya ada batasa-batasan sepeti suara adzan memang harus bersuara kencang untuk dapat didengarkan oleh semua masyarakat akan tetapi di luar suara itu sama sekali tidak di ajarkan oleh
36 Buya Yahya Menanggapi terkait Aturan Suara Adzan “, dalam https://youtu.be/F0JzeGtZRA, diakses tanggal 24 Agustus, pukul 18.24.
Nabi kita muhamad SAW. Jadi terus terang yang di luar adzan memang dikalangan umum umat muslim jadi mereka keberatan dan tidak terima tentang aturan pembatasan penggunaan pengeras suara tersebut.37
4. Menurut wakil rakyat Hidayat Nur Wahid mengatakan, iya apa perlunya sehingga surat edaran ini ditingkatkan dalam tanda kutip kewenangannya hingga dari dirjen ke menteri dari perubahan yang ada, apakah sudah ada kajian yang betul-betul objektif dari 2018-2022. Iyapun menyatakan setuju dengan surat edaran tersebut, yakni surat edaran nomor 5 tahun 2022 jika tujuannya untuk menciptakan harmoni, karena menurutunya kesyahduan baginya semua menginginkan hal yang demikian terjadi.
A. Pengeras Suara Menurut Al-Qur’an dan Hadist Untuk Beribadah Dilihat dari masalah diterbitkannya aturan pengeras suara tersebut pada tahun 1413 atau 1993 M, seorang ulama yang bernama Misbah Mustafa muncul dengan karya tafsirnya yang berjudul Taj al- muslimun iya adalah tokoh yang sangat berpegang teguh pada pendiriannya, pada setiap pembahasan mengenai dzikir selalu menggunakan maslah penggunaan pengeras suara.Misbah Mustafa juga menyampaikan dalam karya tafsirnya Taj al-muslimun pada QS Al- baqarah ayat 186 yang di kontektualisasikan atau dikaitkan dengan pengeras suara khususnya untuk beribadah.
Penafsiran Misbah Mustafa tentang terjemahan “kalian tidak sedang menyeru kepada tuli dan tidak bisa melihat” dari sinilah Misbah Mustafa berkesimpulan bahwa tidak seharusnya penggunaan pengeras
37 Abdul Malik Al-Buthony, “Tentang Aturan Pemerintah Pada Penggunan Pengeras Suara di Masjid dan Mushalla”, dalam https://t.me/berbagividiodakwah, diakses tanggal 19 Juni 2022, pukul 21.08.
suara tersebut digunakan untuk ibadah, namun saat ini banyak yang belum mengindahkan pesan nabi Muhammad SAW, banyak ditemukan masjid atau mushalla menggunakan pengeras suara untuk dzikir, shalat, tahlil, dan pembacaan solawat (kalau untuk dzan memang harus mengunakan suara yang keras yang bisa terdengar untuk semua masyarakat).
Namun dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim bahwasanya dari Ibnu Jarir, ia berkata, Amr telah berkata kepadaku bahwa Abu Ma’bad, -bekas budak Ibnu Abbas- menggambarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas rdiyallahu’anhuma berkata :
Mendengarkan suara dari pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi SAW, Ibnu Abbas berkata “aku mengetahui bahwa solat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarkannya(HR. Bukhari no 805 dan Muslim no. 583)
Mengeraskan suara ketika dzikir menurut sebagaian ulama adalah hal yang dianjurkan degan merujuk kepada dalil-dalil hadist Nabi Muhammad SAW, seperti berdasarkan hadist di atas.Namun adapula yang mengatakan bahwa menggunakan pegeras suara ketika dzikir adalah mkruh, terlepas dari perbedaan pendapat dikalangan ulama adalah hal yang semestiya tersebut.38
1. Kesimpulan
Dari opini masyarakat diatas dapat disimpulkan bahwa apapun yang dilakukan atau menyongsong keputusan untuk ke mashlahatan bersama perlu dilakukan dengan musyawarah, memberikan pengertian yang mudah dimengerti dengan tidak
38 Wiwin Handayani ,”Penggunaan Pengers Suara Dalam Al-Qur’an Telaah Pemikiran Misbah Mustafa Terhadap QS Al-Baqarah 186 Dalam Kitab Taj Al- Muslimun, (Skripsi, Fakultas Ushuluddin Dan Filsafat UIN Sunan Ampel, Surabaya, 2019), hlm.15-18.
menyinggung pihak manapun, memberikan arahan yang dapat diterima dengan baik, serta tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Kita dapat belajar dari adanya peraturan penggunaan pengeras suara ini bahwa tujuan penyampainnya untuk memberikan pengertian kenapa di layangkannya aturan pengeras suara di masjid tersebut malah membalikkan makna sehingga apa yang disampaikan oleh Yaqut Cholil Qoumas tersebut tidaklah demikian
Dari komentar diatas kita dapat melihat berbagai opini masyarakat non muslim dan muslim yang dituangkan dalam bentuk berbagai ekspresi pro, kontra dan netral atas dilayangkannya surat pernyataan aturan pengunaan pengeras suara tersebut dan seperti diketahui bersama pengeras suara pada masjid atau mushalla sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan karena dianggap salah satu cara sirman rohani dengan diputarnya lagu-lau qosidah, ceramah hingga murottal al-qur’an, selain menggunakannya sebgai adzan dan iqomah. padahal semua dapat menjadi dosa jika ada yang merasa terganggu waktu istirahatnya atau terlalu bising suaranya. Tidak hanya toleransi terhadap agama lain namun sesuatu yang berlebihan dan mengganggu bukanlah mendapatkan pahala, namun mendapatkan rasa ketidak nyamanan antar sesama dan antar bermasyarakat.
Selain itu di Indonesia sendiri ada banyak tempat yang memang tinggal dengan kelompok agama masing-masing, dan hal itu yang membuat kelompok itu juga tidak merasa terganggu atau malah menentang adanya aturan penggunaan suara tersebut.Tanpa memikirkan keadaan suatu kelompok yang tinggal berdampingan dengan mayoritas agama lain. Dengan diaturnya penggunaan suara tersebut menjadikan syiar agama berupa adzan di masjid atau mushalla tetap bisa dilakukan tanpa mengganggu masyarakat dan menjalin ketertiban antar umat beragama.
Dalam kebutuhan masing-masing individu, serta hidup berkelompok berdampingan dengan non muslim seperti yang di jelaskan bapak Menteri Yaqut Cholill Qoumas memang perlu pengaturan penggunaan pengeras suara tersebut, tetapi yang hidup berkelompok dengan muslim saja biarlah ini menjadi urusan masyarakat dengan takmir atau pengurus masjid.
Dalam Al-qur’an (QS al- A’raf :7:55) Allah SWT menjelaskan, salah satu etika dalam berdo’a dan berzikir adalah merendahkan suara, bahkan dengan sembunyi-sembunyi.:
Artinya : Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Allah maha mendengar dan maha mengetahui, jadi untuk mendapatkan pahala dan meminta dikabulkan doa kembalilah kepada zat yang maha memberi. Penggunaan pengeras suara dalam berdo’a mengaji atau selain penggunaanya untuk Adzan juga dikhawatirkan mengundang ria’ yang amalannya dilakukan hanya semata-mata di sanjung manusia bukan karena lillahita’ala,
Tindakan muslim sejati kata Nabi, tidak ada yang boleh mengganggu keyamanan orang lain (Hr bukhari). Tetangga dalam islam memiliki hak untuk dihormati.
Seruan dan mengapa aturan pengeras suara itu perlu di lakukan adalah sesuatu yang rasional dan realistis dilakukan terutama dibagian kota yang berdampingan dengan non islam sebagai hal yang harus dipertimbangkan keberadaannya, selain itu juga terdapat hadist Nabi yang mengatakan “demi Allah, tidak beriman. Demi Allah tidak beriman “.Lalu ada yang bertanya siapa itu ya Rasulullah (orang tidak beriman)”, Rasulullah menjelaskan bahwa orang tidak beriman itu adalah orang tidak pernah aman dengan tetangganya karena gangguan (kejahatannya). Jangan sampai hal yang dimaksudkan mendapat pahala dari Allah SWT malah mendapatkan dosa dengan terganggunya orang lain, terlebih di nilainya buruk citra islam oleh agama lain karena diniai mengganggu ketenangan dan kenyamanan orang lain. Tentu saja tujuan pengaturan pengeras suara betujuan baik untuk menertibkan antar sesama umat beragama.
BAB III PEMBAHASAN
A. Opini Publik Masyarakat Muslim dan Non Muslim Terkait Surat Edaran No 5 Tahun 2022
Menanggapi opini publik mengenai surat edaran nomor 5 tahun 2022 mengingatkan kita untuk belajar menyampakan pesan denga baik, sehingga tidak terjadi kesalah pahaman, seperti yang dikatakan Yaqut Cholil Qoumas “yang lebih sederhana lagi tetangga kita ini kalau kita hidup di dalam komplek itu misalnya kiri kanan pelihara anjing semua misalnya menggonggong dalam waktu yang bersamaan, kita ini terganggu ngga” peryataan yang demikian mengiring opini publik untuk berkomentar, jadi sebenarnya yang menjadi masalah adalah peryataan tersebut, bukan surat edaran kementerian nomor 5 tahun 2022 yang mengatur pengunaan pengeras suara di masjid atau mushalla.
Dalam surat edaran Nomor 5 tahun 2022 di jelaskan mengenai pengaturan durasi penggunaan dan volume pada masjid dan dapat ditemukan opini masyarakat tentang pengaturan penggunaan pengeras suara di masjid tersebut, diantaranya bunyi dari surat edaran menteri agama nomer 5 tahun 2022 merujuk kepada tujuan awal untuk menciptakan ketentraman antar umat beragama, dalam teori spiral of silent atau teori keheningan dapat di kaitkan dengan pengaturan penggunaan pengeras suara ini untuk dapat mewakili pendapat sebagian masyarakat non muslim yang tidak dapat mengemukakan pendapatnya secara bebas dikarenakan berada dalam ruang lingkup minoritas.
Melihat juga dari kebutuhan masing-masing individu memang berbeda-beda tetapi adanya batas ambang menggunakan speaker yang diatur 100 desibel bukan suara yang kecil, dan masih terdengar dengan jelas penggunaanya, melihat Indonesia dengan mayoritas muslim dan memiliki masjid yang jaraknya hampir berdekat-dekatan belum lagi terdapat banyak mushalla, dengan adanya surat edaran pengaturan ini jadi lebih mentoleransi antar umat beragama dalam menangani suara- suara yang berlebihan di antaranya penggunaan pengeras suara pada masjid.
Dalam surat edaran tersebut dijelaskan batas waktu dan durasi penggunan, kegiatan yang menggunakan speker dalam dan speker luar, pengelola masjid hendaknya lebih memperhatikan suara yang keluar dari masjid, misalnya yang mengumandangkan adzan suaranya merdu, tajwidnya benar, sehingga pendengar tidak merasa terganggu dan syiar agama itu tersampaikan dan memang sudah sepatutnya diatur, karena bukan hanya Indonesia saja yang mayoritas muslim mengatur suara di masjid, tetapi Negara dengan mayoritas muslim seperti Arab Saudi, Turki, dan Suriah juga mengatur peggunaan pengeras suara di masjid.
Kemudian banyaknya opini masyarakat yang mengatakan kementerian mengeluarkan surat edaran tidak boleh adzan, sehingga membanjiri komentar tanpa melihat video utuh dan hanya melihat cuplikan potongan video, dimana saat ini sangat mudah mengakses informasi.
Perkembangan teknologi telah mengubah dunia, dikarenakan dunia yang begitu luas akan menjadi desa global (global village). Pada tahun 1964 Marshall Mcluhan mengemukakan konsep barunya dan banyak orang yang sulit mengerti konsepsi global village tadi. Akan tetapi sekarang globalisi benar-benar menjadi nyata. Penduduk dunia berhungan semakin erat dan hampir disemua aspek kehidupan.Dari bertukar informasi, budaya, perdagangan investasi, pariwisata, hingga persoalan pribadi ataupun aspek kehidupan lainnya.39
Kajian lain mengenai media juga menunjukan bahwa sekarang ini pergerakan dunia investasi tidak lagi informasi, tetapi rumor atau isu. Rumor atau desas desus/ isu, sebenarnya muncul melalui beberapa kemungkinan, pertama ada rumor yang memang terjadi karena diciptakan oleh orang atau sekelompok orang tertentu dengan tujuan tertentu pula. Biasanya rumor atau isu demikian dilepas dengan tujuan keuntungan financial atau politik, untuk menjelekkan lawan politik hingga menjatuhkannya.
Intensional rumor, kalau sudah dikemukakan dia akan bergerk mengikuti komunikasi, diinterpretasikan oleh penerima, kemudian disampaikan pada yang lain. Pada tahapan berikut telah terjadi proses
39 Cahyo Pamungkas, ”Global Village dan Globalisasi Dalam Konteks ke Indonesiaan”,Global Strategis, Vol 9, Nomer 2, 2015, hlm 245.
interpretasi ulang dan kemudian disampaikan lagi, terus diterima dan diinterpretasikan lagi sampai terjadi interpretasi berkali-kali oleh orang banyak sesuai dengan orang yang terlibat dengan jaringan komunikasi yang dilalui. Oleh karena itu rumor yang berkembang bisa berbeda jauh dengan awal rumor tersebut ketika dilepaskan oleh sumbernya. Bahkan si pelepas rumorpun sampai tidak bisa mengontrol jalannya rumor maupun isinya ketika ia sudah menyampaikannya kepublik. 40
Publik share (ruang publik) adalah sebuah sarana untuk kepentingan publik dimana setiap orang atau semua masyarakat didalamnya mendapatkan akses untuk memanfaatkan ruang publik tersebut.
Konsep dari pada ruang publik adalah berfokus kepada lembaga sebagai media yang berpartisipasi untuk masyarakat. Ruang publik atau biasa disebut badan publik yang pemanfaatanya tunduk pada aturan konstitusi dan hukum Negara. Ruang publik sendiri tidak hanya berbentuk bangunan fisik tetapi media massa, cetak dan elektronik juga termasuk didalamnya seperti, majalah, Koran/surat kabar, radio, televisi, media sosialadalah media dari ruang publik.Ruang publik sendiri dapat dipergunakan sebagai seharusya untuk berkumpul, berdiskusi, dan perekspresi secara bebas dalam melayani kepentingan umum, termasuk untuk berbisnis birokrasi politik dan kepentigan lainnya.
Negara sebagai pemilik otoritas kebijkan dan pelaksana ruang politik tentu saja memiliki tugas untuk kesejahteraan rakyat melalui sistem demokrasi. Negara berperan sebagai pengontrol aktivitas pemanfaatan ruang publik politik dan menerima kritik dan penyelenggaraan badan publik baik seacara formal atapun informal.
Negara mengontrol dan memberikan kesempatan kepada setiap orang atau seluruh masyarakat untuk menyampaikan pendapatnya dan memperjuagkan haknya sebagai warga Negara dalam hukum dan pemerintahan, ruang publik berperan sebagai media publik.
Ruang publik menjadi tempat yang bisa diakes oleh semua orang baik dari semua kalangan tanpa terkecuali dan bersikap
terbuka.Konsep ruang publik ini diterima sebagai ruang demokratis hingga sekarang ini.41
Semakin tua usia era reformasi, menginjak usia yang ke 12 regulasi bukan lagi merupakan isu paling utama dari fenomena komunikasi politik di Indonesia. Isu utama yang muncul skarang ini adalah dramatis (drama) para aktor politiknya.
Definisi lain yang sering digunakan adalah definisi komunikasi politik dari Brian McNair, yang mendefinisikan komunikasi politik sebagai proses komunikasi antara aktor politik dan masyarakat melalui media Komunikasi politik menurut McNair terdiri dari tiga elemen yaitu : organisasi politik, masyrakat (audience) dan media.
Komunikasi politik berdasarkan definisi McNair, memiliki ragam karakter sebagai berikut, pertama semua komunkasi dilakukan oleh para politisi dan aktor politik lain demi meraih tujun khusus, kedua, komunikasi ditunjukan untuk actor ini oleh nonpolitisi seperti pemilih dan kolumnis suratkabar. Ketiga, komunikasi aktor ini beserta aktifitasnya dapat dilihat dalam laporan berita, editorial, dan bentuk diskusi politik lain dalam media.42
Didalam penelitian ini, digunakan teori komunikasi Spiral Of Silence oleh Elizabeth Noelle-Neumann seorang ilmuan politik berasal dari Jerman, teori spiral keheningan ini adalah sebuah teori media yang berfokus memberikan perhatian kepada mayoritas dan memberikan pandangan yang menkean kepada minoritas itu sendiri (mereka yang berada didalam pandangan minoritas cenderung takut dan kurang tegas dalammenyampaikan pendapatnya ketika beropini dengan bebas dikarenakan posisi sebagai minoritas sering merasa perlu untuk menyembunyikan pendapatnya. Sebaliknya mereka yang berada dalan pihak mayoritas akan lebih percaya diri dalam mengemukakan pendapatnya,
Ketakutan dalam mengemukakan pendaptanya sebagai minoritas akan merasa adanya ketakutan dari individu atau masyarakat yang mempunyai opini yang berbeda dari mayoritas masyarakat. Opini
41Yadi supriadi.“Relasi Ruang Publik dan Pers Menurut Humbermas”, Kajian Jurnalisme Vol. No. 1, 2017. Hlm 15-16
42Dr. Heri budianto, S.Sos.Ilmu komunikasi Sekarang dan Tantangan Masa depan, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2011),hlm. 258-261.