• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Couplet

C. Beberapa Teknik Penerjemahan

9. Teknik Couplet

Teknik kuplet adalah gabungan dua teknik yang terjadi pada suatu kalimat. Hal ini terjadi karena kalimat tersebut memang harus menggunakan dua teknik untuk mecapai sebuah kesepadanan.

Contoh penggunaan teknik kuplet pada sebuah hasil penelitian.

Bahasa Sumber (BSu) Bahasa Sasaran (Bsa)

At a reception held in Semarang two days later, he explained that his duties as acting panglima did not spare him ‘from the task of depelopment’ (Page; 59).

Pada sebuah resepsi di semarang dua hari kemudian, dia menjelaskan bahwa tugasnya sebagi pejabat panglima tidak mengalihkannya ‘dari tugas pembangunan’

(Hal; 121) The following month, his personal news

wasmore joyous; Tien, who had visited Suharto at his Makasar headquarters (Page;

84)

Bulan berikutnya, Suharto mendapat kabar gembira dari keluarganya; Tien, yang baru saja mengunjungi Suharto di markas Makasar, melahirkan anak kelima mereka (Hal; 167)

Pada contoh pertama data pertama penerjemah menggunakan dua teknik penerjemahan (couplet) yaitu teknik harfiah dan teknik

pengurangan (reduction). Pada data di atas terdapat dua frasa preposisi lokatif yaitu at a reception dan in semarang dimana kedua frasa tersebut dipisahkan oleh verba held. Peneliti menggunakan teknik harfiah pada penerjemahan frasa preposisi lokatif at a reception dan in Semarang yang keduanya diterjemahkan menjadi

‘pada sebuah resepsi’ dan ‘di semarang’.

Teknik harfiah terlihat pada kesamaan konstruksi kedua frasa preposisi lokatif baik bahasa sumber maupun bahasa sasaran. Frasa preposisi lokatif bahasa sumber yang pertama terlihat konstruksinya yaitu at (preposisi), a (atrikel), reception (nomina) diterjemahkan dalam bahasa sasaran dengan konstruksi ‘pada’ (preposisi), ‘sebuah’

(numeralia), ‘resepsi’ (nomina). Frasa preposisi lokatif bahasa sumber yang kedua terlihat juga kesamaan konstruksinya dengan bahasa sasaran, yaitu in (preposisi), Semarang (nomina) menjadi ‘di’

(preposisi) dan ‘Semarang’ (nomina).

Teknik kedua yang digunakan adalah teknik pengurangan (reduksi). Penerjemah tidak menerjemahkan verba held yang memisahkan dua frasa preposisi lokatif at a reception dan in Semarang, hal ini dilakukan agar kalimat lebih efektif dan tidak terjadi makna ganda.

Pada contoh kedua data kedua terlihat frasa preposisi lokatif at his Makasar headquarters yang diterjemahkan dengan menggunakan dua teknik penerjemahan atau teknik couplet. Dua teknik penerjemahan tersebut adalah teknik pengurangan dan teknik transposisi.

Teknik pengurangan terletak pada kata his yang tidak diterjemahkan oleh penerjemah dalam bahasa sasaran. Hal ini dilakukan oleh penerjemah untuk menghindari pemborosan kata yang terjadi pada keseluruhan kalimat. Teknik transposisi terletak pada kata jamak dalam bahasa sumber headquarters yang diterjemahkan menjadi bentuk tunggal dalam bahasa sasaran yaitu

‘markas’.

Teknik lain yang mesti dipahami juga oleh pelaku penerjemahan adalah teknik idiomatik dan teknik metafora yang mana keduanya acapkalidigunkan dalam penerjemahan sastra.

a. Teknik idomatik

Idomatik menurut kamus Collins English Dictionary adalah a group of words whose meaning cannot be predicted from the meanings of the constituent words (sekelompok kata yang maknanya sukar dicari dari unsur-unsur katanya). Idiomatik memang memiliki makna sendiri karena idiom berdiri sendiri maka idiom dapat menyatu dengan segala bentuk kalimat. Idiom tidak mengenal formal struktur tapi lebih mengedepankan makna atau konteks cerita.

Contoh penerjemahan idiomatic perhatikan di bawah ini dengan analisis di bawahnya.

1. I kiss of the death today 2. I am sleeping like in a palace 3. I kick something around with them

Kalimat pertama adalah kalimat berbentuk idiom. Terkadang penerjemah pemula masih bingung dalam menerjemahkan kalimat tersebut karena belum terlalu berpengalaman dalam menerjemahkan idiom. Apabila kalimat tersebut diterjemahkan dengan menggunakan teknik harifiah maka akan menjadi ‘saya mencium kematian hari ini’

terjemahan tersebut tentu salah karena yang dimaksud disini adalah

‘saya kehilangan nafsu makan hari ini’. Hal ini terasa janggal untuk penerjemah tapi hal tersebut tidak bisa dipungkiri karena yang demikian disebut idiom.

Kalimat kedua adalah juga berbentuk idiom. Jika diterjemahkan secara harfiah menjadi ‘ saya sedang tidur seperti di istana.’ Namun yang diinginkan bahasa sumber bukanlah itu melainkan ‘saya ingin hidup enak.’ Terjemahan tersebut memang menghindari translationese sehingga hasilnya pun memang tak terasa seperti terjemahan. Pada kalimat terakhir menujukan idiom

pada frasa kick something around yang diterjemahkan secara harfiah menjadi ‘menendang sesuatu disekeliling.’ Penerjemahan harfiah memang tidak berterima pada bahasa sasaran maka yang paling pas menggunakan teknik idiom menjadi ‘berdiskusi’.

b. Teknik Metafora

Metafora adalah sebuah majas atau kiasan yang digunakan untuk menunjukan suatu objek yang sedang dibicarakan. Metofara acapkali digunakan dalam dunia sastra seperti puisi atau novel. Permasalahan yang terjadi dalam metafora adalah sulitnya penerjemah mencari padanan yang pas untuk menerjemahkan metafora bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. sebagai contoh;

1. He is a book worm

2. Smith is a king of the jungle

Dari kalimat pertama terlihat bila diterjemahkan secara literal akan menjadi ‘dia adalah cacing buku’. Terjemahan tersebut jelas salah meskipun benar secara kata namun maknanya bukanlah itu melainkan ‘dia adalah orang yang rajin’. Hal ini terjadi karena kalimat tersebut adalah kalimat metafora untuk menunjukan sifat seseorang. Pada kalimat kedua tidak bisa diterjemahkan secara harfiah. Jika diterjemahkan secara harfiah menjadi ‘smith adalah raja hutan’ sementara smith sebenarnya tidak ada hubungannya dengan hutan melainkan smith adalah orang yang berkuasa.

Sementara itu, Machali lebih menekankan hubungan teknik penerjemahan dengan konsep dasar kebahasaan seperti komponen sintaksis, leksikal, semantis dll. Konsep dasar kebahasaan tersebut kemudian dibagi ke dalam beberapa pembahasan yaitu;

a. Teknik Penerjemahan dan Fungsi Teks

Penting untuk diperhatikan proses pembentukan makna leksikal dan kategorikal grammar, dimana penerjemah pasti berhati-hati dalam melihat fungsi dari masing-masing teks terjemahannya, yaitu melihat tata bahasa yang tepat untuk

membuat fungsi teks tersaji dengan baik.

b. Teknik Penerjemahan dan Gaya Bahasa

Selain memperhatikan jenis teks (dalam arti fungsi dan maksud keseluruhanya), seorang penerjemah juga harus memperhatikan gaya bahasa yang digunakan dalam teks Tsu. Misalnya, dalam kata “bertenaga” dengan memanfaatkan aspek konotatif.

c. Teknik Penerjemahan dan Ragam Fungsional

Seorang ahli bahasa mesti berhati-hati dalam hal jenis jenis atau ragam dalam penggunaan bahasa apalagi telah dalam proses penerjemahan. Sebagai contoh ahli bahasa atau penerjemah mesti memilih jenis bahasa yang telah sesuai dengan diskursus yang akan diterjemahkan.

d. Teknik Penerjemahan dan Dialek

Seorang ahli bahasa mesti melihat dan berhati-hati pada komponen dialektika baik yang berbentuk temporal atay kronological. Jadi contohnya ada dialog Bengkulu dan padang untuk bahasa melayu (dialektika geografis) dan ada dialek lama (kronolek)

Seorang penerjemah harus memperhatikan dialek yang digunakan terutama dalam drama.

e. Teknik Penerjemahan dan Dua Masalah Khusus

Teknik penerjemahan akan membantu penerjemah dalam menerjemahkan masalah-masalah khusus. Masalah- masalah khusus tersebut adalah Idiom dan Metafora. Untuk menerjemakan idiom diperlukan metode penerjemahan semantis atau komunikatif yang menghasilkan padanan fungsional, yaitu padanan yang dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan untuk menerjemahkan metafora diperlukan teknik pema- danan fungsional dengan metode semantis atau komunikatif D. Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa teknik penerjemahan merupakan sebuh instrument yang harus digunakan oleh penerjemah sebagai

alat bantu dalam menerjemahkan sebuah teks. Tidak lupa pula penerjemah memperhatikan tata bahasa yang tepat mulai dari diksi/

kata, frasa, klausa dan kalimat dalam bahasa sasaran sehingga tercipta sebuah terjemahan yang berkualitas.

Dari penjelesan teknik penerjemahan di atas bahwa Setiap teknik penerjemahan adalah struktur yang digunakan sebagai instrument dalam menerjemahkan teks dengan mempertimbangan tata bahasa yang baik dan benar. Perlu adanya rasa di dalam sebuah terjemahan artinya sebuah terjemahan dibentuk tidak seperti sebuah terjemahan sehingga pembaca merasa bahwa ia sedang membaca buku asli bukan buku hasil terjemahan. Pengambilan sebuah keputusan penerjemah dalam menggunakan teknik sangatlah penting untuk terciptanya sebuah kualitas.