• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengumpulan Data

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

C. Teknik Pengumpulan Data

Meurut P. Joko Subagyo dalam bukunya Metode Penelitian: Dalam Konsep dan Praktek “Pengumpulan data pada dasarnya merupakan suatu kegiatan operasional agar tindakannya masukpada pengertian yang sebenarnya”.83

Sesuai dengan permasalahan yang dibahas dan dikaji, maka penulis dalam pengumpulan data karya ilmiyah ini yaitu, “penelitian kepustakaan (library research), dalam

81 Haris Herdiansyah, Metodelogi Penelitian Kualitatif Untuk Ilmu- Ilmu Sosial, (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), Cet. ke-1, h. 66

82 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif; Teori dan Praktik, (Jakarta, Bumi Aksara, 2013),cet-I, h. 80

83 P. Joko Subagyo, Metode Penelitian: Dalam Konsep Dan Praktek,(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1991),cet-1, h. 37.

hal ini penulis mengatakan penelitian terhadap literatur yang ada kaitannya dengan apa yang dibahas dalam karya ilmiah ini. Adapun langkah yang ditempuh dalam studi kepustakaan ini adalah dengan cara membaca, mengutif, menganalisis dan merumuskan hal-hal yang dianggap urgen memenuhinya syarat dalam penelitian”.84

Penelitian kepustakaan yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara, mempelajari dan meneliti literatur- literatur yang relevan dengan judul skripsi dengan tujuan menganalisis suatu pengertian yang bersifat teoritis dan mengumpulkan data.

Dalam hal ini, data yang dikumpulkan berupa kata- kata, gambar, dan bukan angka-angka. Dengan demikian laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut.85 dalam pengumpulan data ini, penulis mencoba untuk mengkaji buku-buku, dan dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas mengenai kurikulum pendidikan islam.

84 Lexy. J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT.

Remaja Rosda Karya, 2001), h.3

85 Lexy. J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, h. 5

D. Teknik Analisi Data

Analisis data Kualitatif adalah “upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain”.86

Sedangkan dipihak lain, analisis dan kualitatif, prosesnya berjalan sebagai berikut:

1. Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri.

2. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, mensintesiskan, membuat ikhtisar, dan membuat indeksnya.

3. Berpikir, dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan, dan membuat temuan-temuan umum.87

86 Lexy. J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif, h. 248

87 Lexy. J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif, h. 248

Dalam penelitian ini setelah dilakukan pengumpulan data, maka data tersebut di analisi untuk mendapatkan kesimpulan, bentuk teknik analisis tersebut yaitu sebagai berikut:

1. Analisis Deskriptif

Adapun pengertian dari metode Analisis Deskriptif yaitu” usaha untuk mengumpulkan dan menusun suatu data, kemudian dilakukan analisis terhadap data tersebut”.88 Dengan demikian laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data.

2. Analisis isi

Merupakan metode untuk menganalisis isi sebuah teks. Sebagaiman penulis menganalisis semuabnetuk komunikasi, baik berupa surat kabar, buku, artikel, dan lain sebagainya.

88 Lexy. J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif,h. 248

87 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Tentang Syed Muhammad Naquib al- Attas

1. Biografi Syed Muhammad Naquib al-Attas

Nama lengkapnya Syed Muhammad Naquib ibn Ali ibn Abdullah ibn Muhsin Al-Attas dilahirkan di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 5 September 1931.

Silsilah keluarganya bisa dilacak hingga ribuan tahun ke belakang melalui silsilah sayyid dalam keluarga Ba‟Alawi di Hadramaut dengan silsilah yang sampai kepada Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad SAW.

Beliau, mendapatkan gelar “sayyid” yang dalam tradisi Islam Orang yang mendapat gelar tersebut merupakan keturunan langsung dari keturunan Nabi Muhammad SAW.89

Diantara leluhurnya ada yang menjadi wali dan ulama. Salah seorang diantara mereka adalah Syed Muhammad Al-„Aydarus (dari pihak ibunya), guru dan

89 Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis Filsafat Pendidikan Islam, (Ciputat: PT Ciputat Press, 2005), Cet. ke-2, h. 117

pembimbing ruhani Syed Abu Hafs‟ Umar ba Syaiban dari Hadramaut, yang mengantarkan Nur Al-Din Al- Raniri, salah seorang alim ulama terkemuka di dunia Melayu, ke tarekat Rifa‟iyyah. Ibunda syed Muhammad Naquib Al-Attas yaitu Syarifah Raquan Al-„Ayadrus, berasal dari bogor, jawa barat, dan merupakan keturunan ningrat sunda di Sukapura.

Dari Pihak Bapak, kakek Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang bernama Syed Abdullah ibn Muhsin ibn Muhammad Al-Attas adalah seorang wali yang pengaruhnya tidak hanya terasa di Indonesia, tetapi juga sampainegeri Arab. Muridnya, Syed Hasan Fad‟ak, kawan Lawrence of Arabian, dilantik menjadi penasehat agama Amir Faisal, saudara raja Abdullah dariYordania.

Neneknya, Ruqayah Hanum, Adalah wanita Turki berdarah aristokrat yang menikah dengan ungku Abdul Majid, adik sultan Abu Bakar Johor yang menikah dengan adik Ruqayah Hanum, Khadijah, yang kemudian menjadi Ratu Johor. Setelah Ungku Abdul Majid wafat (meninggalkan dua orang anak), Ruqoyah menikah untuk yang kedua kalinya dengan Syed Abdullah Al-Attas, dan di karuniai seorang anak, Syed Ali Al-Attas, yaitu bapak Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Syed Muhammad

Naquib Al-attas adalah anak kedua dari tiga bersaudara.

yang sulung bernama Syed Hussein, seorang ahli sosiologi dan mantan Wakil Rektor Universitas Malaya, sedangkan yang bungsu bernama SyedZaid, seorang insinyur kimia dan mantan dosen Institut Teknologi Mara.90

2. Latar Belakang Pendidikan dan Karir Syed Muhammad Naquib al-Attas

Latar belakang keluarganya dapat memberikan pengaruh yang besar dalam pendidikan awal Syed Muhammad Naquib . dari keluarganya yang terdapat di Bogor, dia memperoleh pendidikan dalam ilmu-ilmu keislaman, sedangkan dari keluarganya di johor, dia memperoleh pendidikan yang sangat bermanfaat baginya dalam mengembangkan dasar-dasar bahasa, sastra, dan kebudayaan melayu.91

Ketika umur 5 tahun, al-Attas diajak orangtuanya migrasi ke Malaysia. Di sini al-Attas dimasukkan dalam pendidikan dasar Ngee Heng PrimarySchool sampai usia

90 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, (Bandung: Mizan, 2003), Cet. Ke-1, h. 45-46

91 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas,h. 46

10 tahun. Melihat perkembangan yang kurang menguntungkan, yakni ketika jepang menguasai Malaysia, maka al-Attas dan keluarganya pindah ke Indonesia. Di sini, ia kemudian melanjutkan studinya di sekolah Urwah al-Wusqa, sukabumi selama lima tahun.

Di tempai ini, al-Attas mulai mendalami dan mendapatkan pemahaman tradisi Islam yang kuat, terutama tarekat. Hal ini dapat dimengerti karena saat itu,di sukabumi telah berkembang perkumpulan tarekat Naqsabandiyah.92

Karena terdorong oleh panggilan batinnya untuk mengamalkan ilmunya yang diperoleh di sukabumi, sekembalinya ke Malaysia, al-Attas memasuki dunia militer dengan mendaftarkan diri sebagai tentara kerajaan dalam upaya mengusir penjajah jepang. Dalam bidang kemiliteran ini, al-Attas telah menunjukkan kecerdasannya, sehingga atasannya memilih dia sebagai salah satu peserta pendidikan militer yang lebih tinggi.

Dia belajar berbagai sekolah militer di Inggris. Bahkan ia

92 Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta:

Rajagrafindo, 2012), Cet. k-1, h. 331.

sempat mengenyam pengalaman yang merupakan salah satu akademik militer yang cukup bergengsi di Inggris.93

Pada waktu itu Indonesia berada di bawah kolonialisme Belanda. Bila dilihat dari garis keturunannya, al-Attas termasuk orang yang beruntungsecara inheren. Sebab dari keduabelah pihak, baik pihak ayah maupun ibunya merupakan orang-orang yang berdarah biru. Ibunya yang asli bogor itu masih keturunan bangsawan sunda. Sedangkan pihak ayah masih tergolong bangsawan di Johor.94

Sesudah Malaysia merdeka, pada tahun 1957 al- Attas mengundurkan diri dari dinas militer dan mengembangkan potensi dasarnya di bidang intelektual.

Untuk itu, al-Attas sempat kuliah di Universitas Malaya selama dua tahun. Berkat kecerdasan dan kesungguhannya dalam belajar, ia kemudian dikirim oleh pemerintah Malaysia untuk melanjutkan studi di Institute of Islamic Studies, Mc Gill University, kanada. Dalam waktu yang relatif singkat, ia pada tahun 1962 berhasil

93Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam, h. 332.

94Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis Filsafat Pendidikan Islam, h. 117.

hingga meraih gelar Master dengan tesis yang berjudul Ranili and The Wujudiyyah of 17th Century Aceh.95

Syed sangat tertarik dengan praktik sufi yang berkembang di Indonesia dan Malaysia, sehingga cukup wajar bila tesis yang diangkat adalah konsep wujudiyah al-Raniriy. Salah satu alasannya adalah syed ingin membuktikan bahwa islamisasi yang berkembang di kawasan tersebut bukan di laksanakan oleh kolonial belanda, melainkan murni dari upaya umata Islam sendiri.96

Syed Muhammad Naquib Al-attas adalah seorang pakar sejarawan, ahli filsafat, dan seniman berkewarganegaraan Malaysia. Dalam dunia Akademis, ia dikenal sebagai sejarawan yang mengkhususkan diri pada sejarah Islam di Melayu. Ia adalah pendiri The International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), Kuala Lumpur, Malaysia.Dalam rangka Memperdalam dan memperluas wawasan intelektualnya, al-Attas kemudian melanjutkan studi ke

95Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta:

Rajagrafindo, 2012), Cet-1, h. 332.

96 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, (Jakarta: PT. Intermasa, 2002), Cet. ke-1, h. 119

School of Oriental and African Studies di Universitas London.97

Dalam bidang karier atau pekerjaan, al-Attas memulai dengan jabatan di jurusan kajian Melayu pada Universitas Malaya. Tugas ini ia laksanakan pada tahun 1966 hingga tahun 1970. Pada lembaga ini ia menekankan tentang pentingnya kajian melayu. Sebab mengkaji sejarah melayu dengan sendirinya juga mendalami proses Islamisasi di Indonesia dan di Malaysia. Dalam kaitan ini banyak karya pujangga Melayu yang berisi ajaran Islam yang bercorak tasawuf.98

Selanjutnya pada tahun 1977, al-Attas menyampaikan sebuah makalah yang berjudul Priliminary Thought on the Nature of Knowledge and the Definitionand Aims of Educationa di hadapan peserta konperensi dunia Islam pertama tentang pendidikan Islam di makkah al-Mukarramah. Dengan orasi yang menyakinkan banyak peserta yang memberikan respons positif. Dan salah satu respons tersebut adalah diterimanya ide tersebut oleh Organisasi konferensi

97 Hasan Muarif Hambaly, Suplemen Enslikopedi Islam jilid 2, (Jakarta: PT Ichtiar baru van Hoeve, 1996), Cet. Ke-1, h. 78

98 Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam, h. 333

Islam.99 Selanjutnya, sebagai realisasi dari ide-ide al- Attas, OKI memberikan kepercayaan kepadanya untuk mendirikan sebuah Universitas Internasional di Malaysia pada tahun 1984. Konsep universitas ini sama dengan universitas lainnya. Hanya saja yang sedikit membedakannya dalah dengan tambahan pengajaran dasar-daar islam dan bahasa arab. Agar Mahasiswa dapat menyaring konsep yang tidak Islami, sehingga Islamisasi terjadi dalam diri Mahasiswa bukan terhadap disiplin itu sendiri.100

Perjuangan dan aktivitas al-Attas di berbagai Institusi pendidikan tinggi yang terdapat di Malaysia sebuah negara multi agama, tetapi didominasi oleh umat Islam yang sekarang sedang mengalami perubahan sosial, ekonomi yang cepat tidak hanya memberikan peluang untuk memahami dengan jelas isu-isu fundamental yang mendasari permasalahan-permaalahan kompleks yang sekarang sedang menghadang umat Islam, tetapi juga

99 Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam, h. 334

100 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, (Jakarta: PT. Intermasa, 2002), Cet. ke-1, h. 121

mencarikan solusi yang tepat bagi permasalahan- permasalahan berikut.101

3. Karya-Karya Syed Muhammad Naquib al-Attas Unsur yang terpenting yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam mempertimbangkan kualitas dan bobot serta keilmuan seseorang adalah terletak pada karya-karya yang telah dihasilkannya, baik dalam bentuk tulisan maupun lain sebagainya, dari kualitas, maupun kuantitas.

Al-Attas telah menulis 26 buku dan monograf, baik dalam bahasa inggris maupun melayu dan banyak yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa lain, seperti bahasa Arab, Persia, Turki, Urdu, Malayalam, Indonesia, Perancis, Jerman, Rusia, Bosnia, Jepang, India, Korea, dan Albania. Karya-karyanya tersebut adalah:

a. Rangkaian Ruba‟iyat, Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Kuala Lumpur, 1959.

b. Some Aspects of shufism as Understood and PractisedAmong the Malays, Malaysian Sociological Research Institute, Singapura, 1963.

c. Raniri and the wujudiyyah of 17th Century Acheh, Mo

101 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Cet. ke-1, h. 54

d. nograph of the Royal Asiatic Society, Cabang Malaysia, No. 111, singapura, 1966.d. The Origin Of the malay sya‟ir, DBP, Kuala Lumpur, 1968.

e. Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization Of the Malay-indonesian Archipelago, DBP, Kuala Lumpur, 1969.

f. The Mysticism of hamzah Fanshuri, University of malaya Press, Kuala Lumpur, 1970.

g. Concluding Postscript to the Origin of the Malay Sya‟ir, DBP, Kuala Lumpur, 1971.

h. The Correct Date of the Terengganu Inscription, Museums Department, Kuala Lumpur, 1972.

i. Islam dalam sejarah dan kebudayaan Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, 1972. Sebagian isi buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia Dan Perancis. Buku ini juga telah hadir dalam versi bahasa Indonesia.

j. Risalah untuk kaum Muslimin, Monograf yang belum diterbitkan, 286 h., ditulis antara Februari-Maret 1973.

(Buku ini kemudian diterbitkan di Kuala Lumpur oleh ISTAC pada 2001-penerj.)

k. Islam: Paham Agama dan Asas Akhlak (ABIM, Kuala lumpur, 1997).

l. (Ed). Aims and Objectives of Islamic Education:

Islamic Eduvcation series (Hondder and Stiughton dan King Abdul Aziz University, London, 1979)

m. Islam, Secularism, and the Philosophy of The Future (Mansella, London dan New York, 1985).

n. Commentary on The Hujjat Al-Shiddiq of nur Al-Din Al- Raniri (kementerian Kebudayaan, kuala Lumpur, 1986).

o. The Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translational Of the Aqa‟id Al-Nasafi (Dept.

Penerbit Universitas Malaya, Kuala Lumpur, 1988).102 Berdasarkan karya-karya tersebut, terlihat bahwa Syed Naquib al-Attas adalah seorang intelektual muslim terkemuka, yang menguasai berbagai cabang studi Islam yang tergolong rumit, yaitu, filsafat dan tasawuf serta hubungannya dengan masalah pendidikan.103

102 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, h. 55-57

103Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta:

Rajagrafindo, 2012), Cet. ke-1, h. 335

B. Pendidikan Islam Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas

1. Pengertian Pendidikan

Pendidikan, menurut al-Attas, adalah berasal dari kata ta‟dib yang artinya adalah penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang. Al-Qur‟an menegaskan bahwa contoh ideal bagi orang yang beradab adalah Nabi Muhammad SAW. Yang banyak kebanyakan oleh sarjana muslim disebut sebagai Manusia sempurna atau Manusia Universal (al-insan al- kulliyy).oleh karena itu, pengaturan administrasi pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam sistem pendidikan Islam haruslah merefleksikan manusia sempurna.104

Dalam upaya merefleksikan Manusia sempurna dalam dunia pendidikan Islam, pada konverensi dunia pertama mengenai Pendidikan Islam yang diselenggarakan di Makkah, pada April 1971, ketika tampil sebagai salah seorang pembicara utama dan mengetahui komite yang membahas cita-cita dan tujuan pendidikan, secara sistematis al-Attas mengajukan agar

104 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib al-Atta,(Bandung: Mizan, 1998), Cet. ke-I, h. 174

definisi pendidikan Islam di ganti menjadi penanaman adab dan istilah pendidikan Islam menjadi ta‟dib. Alasan yang dikemukkan ketika mengajukan definisi dan istilah baru untuk pendidikan Islam tersebut sangat konsisten dengan perhatiannya terhadap akurasi dan autentisitas dalam ide-ide dan konsep-konsep Islam.105

Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam bukunya Konsep Pendidikan Dalam Islam menyatakan bahwa: konsep ta‟dib adalah pendidikan yang menekankan pada adab yang mencakup amal. dalam pendidikan dan proses pendidikan adalah untuk menjamin bahwasanya ilmu (ilm) dipergunakan secara baik di dalam masyarakat oleh karena itu para pakar pendidikan dan para sarjana-sarjan terdahulu mengombinasikan ilmu (ilm) dengan amal (amali) dan (adab). Dan menganggap kombinasi harmonis ketiganya sebagai pendidikan.106 Oleh karenanya setiap orang atau para pakar ilmuan tentunya selalu bersikap sesuai ilmu yang mereka terapkan dalam kehidupannya. Terdapat dalam Al-Qur‟an surat Az-Zumar ayat 9.

105 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib al-Atta, 174-175.

106 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, (Bandung: Mizan, 1984), Cet. ke-1, h. 62.

...

























“(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"

Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.(QS. Az- Zumar [39]: 9)

Syed Muhammad Naquib Al-Attas menyatakan bahwa orang terpelajar adalah orang baik. “Baik” yang dimaksudnya disini adalah adab dalam pengertian yang menyeluruh, yang meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang yang berusaha yang menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya.107 Oleh karena itu, orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam didefinisikan al-Attas sebagai orang yang beradab, yang mempunyai etika, karena orang yang berilmu menjaga prilaku. Dengan demikian etika yang dapat saya

107 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib al-Attas, h. 174

pahami adalah pandangan manusia yang menyelidiki terhadap prilaku manusia.

Bahwasanya orang baik adalah orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Tuhan Yang hak; yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakat; terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.108

Konsep pendidikan yang dirumuskan syed Muhammad Naquib al-Attas juga menjadi rumusan kurikulum pendidikan Islam. Konsep tersebut disebut al- Attas sebagai ta‟dib yang merupakan sumbangan penting diberikan al-Attas dalam dunia pendidikan Islam. Kata ta‟dib yang berakar pada kata adab dimaknai al-Attas sebagai disiplin ilmu, jiwa, dan ruh, yaitu pendipsiplinan yang menguatkan pengenalan dan pengakun tempat yang tepat dalam kaitannya dengan kapasitas dan potensi jasmani, intelektual, dan ruhani. Adab juga mempunyai makna pengenalan dan pengakuan bahwa ilmu dan wujud

108 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib al-Attas, h.174

disusun secara hierarki sesuai dengan tingkatnya dan derajatnya.109

Syed Muhammad Naquib al-Attas berpendapat kata “tarbiyah” yang bahasa latin adalah education.

Tarbiyah adalah proses menghasilkan dan mengembangkan mengacu kepada segala sesuatu yang bersifat fisik dan material. Yang dituju dalam konsepsi pendidikan yang diturunkan dari konsep-konsep latin yang dikembangkan dari istilah-istilah tersebut di atas meliputi spesies hewan dan tidak dibatasi pada hewan berakal. Pada dasarnya tarbiyah adalah mengasuh, menanggung, memberikan makan, mengembangkan, memelihara, membuat menjadikan menambah dalam pertumbuhan, membesarkan hasil produksi yang sudah matang dan menjinakkan. Penerapannya dalam bahasa arab tidak hanya terbatas pada manusia saja dan medan- medan semantiknya meluas kepada speies-spesies lain untuk minera, tanaman dan hewan.110

Konsep tarbiyah bisa diterapkan untuk berbagai spesies dan tidak terbatas hanya untuk manusia, dengan

109 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan Islam , (Kuala Lumpur: ISTAC,1999) Cet. ke-1, h. 22

110 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, (Bandung: Mizan, 1984)., Cet. ke-1, h. 64-66

demikian konsep tarbiyah cocok untuk menunjukkan pendidikan dalam artian Islam yang dimaksud hanya untuk manusia saja. selain itu tarbiyah pada dasarnya juga mengaju pada gagasan “pemikiran” seperti pemilikan keturunan oleh orang tuanya dan biasanya orangtuanya sebagai pemilik yang berhak mentarbiyahkan keturunannya. Pemilikan-pemilikan yang dimaksud adalah pemilikan yang berhubungan dengan relasional. Mengingat bahwa pemilikan yang sebenarnya ada pada tuhan sebagai sang pencipta, pemelihara, penjaga, pemberi, pengurus, dan pemiliki segala sesuatu yang kesemuanya itu tercakup dalam istilah tunggal ar-Rabb.111

Disebabkan oleh perubahan yang sangat mendasar dalam penggunaan istilah ta‟lim, tarbiyah, dan ta‟dib yang berbeda dari yang selama ini dipakai orang, bisa dipahami mengapa komite menerima usulan tersebut secara kompromis: “artinya pendidikan secara keseluruhan terdapat dalam konotasi istilah tarbiyah, ta‟lim, dan ta‟dib yang dipakai secara bersama.112

111 Syed Muhammad Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, h. 67-68

112 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib al-Atta, Cet. ke-1, h. 175.

Format pemikiran pendidikan yang ditawarkan al- Attas berusaha menampilkan wajah pendidikan menurutnya adalah mewujudkan manusia yang baik yaitu manusia Univeral (al-insan kamil). Al-Insan Kamil yang dimaksud adalah manusia yang cirikan manusia yang pertama manusia yang seimbang memiliki keterpaduan dua dimensi kepribadiannya. Kedua manusia seimbang dalam kualitas fikir, dzikir, dan amalnya. Sistem pendidikan terpadu menurut al-Attas adalah yang tertuang dalam rumusan sistem pendidikan yang diformulasikannya, dimana tampak sangat jelas upaya al- Attas untuk mengislamisasikannya ilmu pengetahuan dimana pendidikan Islam harus menghadirkan dan mengajarkan dalam proses pendidikannya tidak hanya ilmu-ilmu agama akan tetapi ilmu-ilmu rasional, intelek dan filosofis.113

2. Tujuan Pendidikan

Tujuan mencari pengetahuan dalam Islam ialah menanamkan kebaikan dalam diri manusia sebagai manusia dan sebagai diri individual. Tujuan akhir pendidikan Islam ialah menghasilkan manusia yang baik

113 Achmad Gholib, Teologi Dalam Perspektif Islam Barat, (Jakarta: Uin Jakarta Press, 2004), Cet. ke-1, h. 155.

Dokumen terkait