BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teoritik
4. Teori Komunikasi
Komunikasi SMCR pertama kali diperkenalkan oleh David K. Berlo pada tahun 1960-an. Komunikasi ini pada dasarnya mengadaptasi Teori Informasi dengan Model Matematika yang dikembangkan Shannon dan Weaver.
Model komunikasi ini biasa disebut sebagai model komunikasi Berlo, yang memusatkan pada proses komunikasi dan menekankan pemaknaan komunikasi ada pada manusia sehingga penafsiran suatu pesan bergantung pada pemaknaan kata atau gerak tubuh pihak komunikator dan komunikan.
Komunikasi ini juga menempatkan panca indera sebagai saluran komunikasi serta melibatkan komponen-
31 Rosady Ruslan, Metode Penelitian PR dan Komunikasi, (Jakarata : PT. Raja Grafindo Persada. 2003)
komponen yang berpengaruh pada proses kemunikasi, yaitu: keterampilan, sikap, pengetahuan, sistem sosial, dan budaya, yang semuanya ada pada sumber dan penerima.
Penekanan terhadap pentingnya pemaknaan ditanamkan dalam pesan yang disampaikan dari pengirim ke penerima.
Pendekatan komunikasi ini juga menjelaskan bahwa peristiwa dan relasi bersifat dinamis, berlanjut, dan berubah.
Perubahan yang paling mendasar dalam komunikasi ini yaitu pergeseran orientasi dalam sebuah proses komunikasi. Kerangka komunikasi ini mendorong terjadinya pergeseran fokus yang semula lebih menitik beratkan pada perpindahan informasi menjadi fokus pada penafsiran informasi. Pada prinsipnya, komunikasi SMCR merupakan gabungan dari komunikasi publik, komunikasi antarpribadi dan tertulis, serta komunikasi bentuk lain yang berkaitan.
Dalam dunia pendidikan, komunikasi SMCR menjadi salah satu konsep komunikasi yang bisa diimplementasikan. Sebagaimana dijelaskan Tim Pengembang Ilmu Pendidikan UPI bahwa konsep komunikasi ini juga lebih menitik beratkan pada aspek message (pesan) dan Channel (saluran), yang telah menjadi dasar pengembangan komunikasi berbasis audio visual.
Manfaat penerapan komunikasi ini yaitu terjadinya timbal balik dalam memberi informasi karena adanya perubahan
posisi antara pemberi dan penerima pesan dalam menerima, mengolah, serta menyampaikan umpan balik. 32
Gambar 1.1
Model Komunikasi S-M-C-R
S-M-C-R adalah singkatan dari istilah-istilah: S singkatan dari dari Source yang berarti sumber atau komunikator, M singkatan dari Message yang artinya Pesan, C singkatan dari Channel yang artinya saluran atau media, sedangkan R singkatan dari Receiver yang artinya penerima atau komunikan. Jangan keliru dengan singkatan Teori S-O-R, dimana S adalah singkatan dari Stimulus yang artinya pesan, sedangkan R singkatan dari Response yang artinya tanggapan atau reaksi.
Dalam model komunikasi SMCR, terdapat empat komponen yang meliputi:
1) Sender atau Source (Sumber)
Sender atau source adalah entitas yang menjadi asal suatu informasi. Sebagai pengirim pesan perlu memperhatikan beberapa faktor seperti:
32 Toto Haryadi, “Adaptasi Teori Difusi-Inovasi Dalam Game “Yuk Benahi”
Dengan Pendekatan Komunikasi SMCR”, Jurnal Audience, Vol. 1, Nomor 1, 2018, hlm.
5.
a) Keterampilan komunikasi
Penguasaan individu akan cara berkomunikasi seperti membaca, menulis, mendengarkan, berbicara dan lainnya merupakan unsur yang mempengaruhi proses komunikasi.
Komunikasi yang efektif dapat terjadi saat pengirim pesan memiliki keterampilan komunikasi yang baik.
b) Sikap
Sikap yang ditampilkan oleh pengirim dalam menyampaikan informasi dapat berdampak pada pesannya. Makna yang terkandung dalam pesan dapat berubah apabila sumber menunjukkan perangai yang kurang baik.
c) Pengetahuan
Keberagamanan wawasan yang dimiliki individu sebagai penyampai pesan memiliki kecenderungan lebih terhadap penerimaan khalayak. Ketika seseorang dengan pengetahuan yang baik perihal subjek tertentu dapat membuat pesan lebih mudah tersampaikan.
d) Sistem sosial
Aspek nilai, norma, kepercayaan, agama yang berkembang dalam lingkungan masyarakat tempat sender tinggal sangat mempengaruhi cara individu tersebut dalam menyampaikan pesan.
Sistem sosial seperti di atas berefek pada seseorang lantaran hal itu sangat berkaitan dengan rutinitas sehari-hari.
e) Budaya
Turut tergabung dalam sistem sosial, aspek budaya memiliki peran yang sama besar dalam mempengaruhi seorang narasumber dalam mengirimkan pesan kepada receiver. Suatu budaya yang diyakini oleh sender dapat saja
berbeda dengan budaya yang penerima pesan anut.
2) Message (Pesan)
Message adalah produk yang dikirimkan sender atau source. Pesan dapat dalam bentuk suara, teks, video, ataupun media lainnya. Setiap pesan yang dikirimkan terdapat beberapa elemen yang mempengaruhi, seperti:
a) Content (Isi)
Materi terkandung dalam pesan yang akan disampaikan guna menyampaikan tujuannya.
b) Elements (Elemen)
Melibatkan aspek non-verbal seperti bahasa, gestur, bahasa tubuh, dan lain sebagainya.
c) Treatment (Perlakuan)
Merujuk pada cara informasi dikemas.
Bagaimana pesan tersebut dikirimkan dapat memberikan efek pada respons balik yang diberikan oleh penerima pesan.
d) Structure (Struktur)
Sebagaimana dimaksud dalam susunan suatu pesan. Apabila tatanan struktur yang berantakan memiliki risiko pesan tidak tersampaikan dengan baik.
e) Code (Kode)
Kode yang digunakan dalam menyampaikan pesan ada baiknya sama. Jika tidak maka akan muncul kesalahan dalam proses interpretasi.
3) Channel (Saluran)
Saluran komunikasi atau cara penyampaian yang digunakan dalam mengirimkan pesan. Media yang digunakan beragam, tergantung pada target audiensnya.
Namun, secara umum saluran komunikasi yang paling berdampak pada efektivitas penyampaian pesan
adalah kelima indera manusia; pendengaran, penglihatan, penciuman, perasa, dan penyentuhan.
4) Receiver (Penerima)
Receiver adalah individu yang menerima pesan terkirim. Sebagaimana pengirim pesan, penerima pesan pun memiliki sejumlah elemen yang dapat mempengaruhi penerimaan informasi. Berikut beberapa faktor yang dimaksud:
a) Keterampilan Komunikasi
Kemampuan komunikasi yang dimiliki penerima pesan mencakup mendengarkan, menulis, membaca, berbicara, dan lainnya menentukan kualitas dari informasi yang diterima.
b) Sikap
Tanggapan yang ditunjukkan penerima pesan melalui perubahan sikap saat sebelum dan setelah menerima pesan.
c) Pengetahuan
Ketika pesan disampaikan oleh seseorang dengan pengetahuan yang baik maka perlu pendengar dengan wawasan serupa agar isi dari pesan tersebut memiliki makna yang sama.
d) Sistem Sosial
Respons berbeda-beda yang ditunjukkan receiver akan suatu informasi dapat dipengaruhi sejumlah aspek dalam sistem sosial seperti nilai, norma, kepercayaan, agama, budaya dan sebagainnya.
e) Budaya
Internalisasi terhadap budaya tertentu dapat berimbas pada cara penerima pesan dalam menyerap informasi yang diberikan.
Baik S-M-C-R maupun S-O-R adalah sama-sama proses komunikasi. Khususnya menganai istilah Channel yang disingkat C pada rumus S-M-C-R itu artinya saluran atau media. Komponen tersebut menurut Edward Sappir
mengandung dua pengertian, yakni primer dan sekunder.
Media sebagai saluran primer adalah lambang, misalnya bahasa dan gesture yaitu lambang yang digunakan khusus komunikasi tatap muka. Sedangkan Media sekunder adalah media yang berwujud, misalnya surat kabar, televisi, dan lain sebagainya33.
Kaitannya dengan penelitian ini, adalah bagaimana media pembelajaran dalam masa pandemi Covid 19 ini, peneliti bisa menemukan cara masing-masing dosen dalam menyampaikan materi kuliah selama pandemi Covid 19.
Baik itu secara online atau daring maupun secara offline bila diperlukan.
b. Analisis SWOT
Analisis SWOT diartikan sebagai evaluasi terhadap keseluruhan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.34 Analisis SWOT yang didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities),namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses), dan ancaman (threats).35
Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategis, dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencana strategis harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Model yang paling populer untuk analisis situasi adalah analisis SWOT.
Analisis SWOT merupakan salah satu metode untuk menggambarkan kondisi dan mengevaluasi suatu masalah, proyek atau konsep bisnis yang berdasarkan faktor
33 Ibid., hlm. 256.
34 Philip Kolter, dan Kevin Lane Keller, “Manajemen Pemasaran”, (Jakarta:
Indeks, 2009), hlm.63
35 Freddy Rangkuti, “Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis”, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2013), hlm. 19
eksternal dan faktor internal yaitu strength, opportunities, weaknesesses, threats.
Gambar 1.2 Diagram Analisis SWOT
kuadran 1: ini merupakan situasi yang sangat menguntungkan, perusahaan atau lembaga memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (growth oriented strategy).
Kuadran 2: meskipun menghadapi berbagai ancaman, perusahaan atau lembaga ini masih memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus diterapkan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi.
Kuadran 3: perusahaan atau Lembaga menghadapi peluang yang sangat besar, tetapi dilain pihak ia menghadapi beberapa kendala. focus strategi pada perusahaan atau Lembaga ini adalah meminimalkan masalah-masalah internal perusahaan atau lembaga sehingga dapat merebut peluang yang lebih baik.
Kuadran 4: ini merupakan situasi yang sangat tidak menguntungkan, perusahaan tersebut menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal.36
Berikut adalah pengertian dari masing-masing singkatan yang ada di analisis SWOT:
1) Kekuatan (Strengths)
Kekuatan (Strengths), merupakan kondisi internal yang menunjang suatu organisasi atau perusahaan untuk mencapai objektif yang diinginkan.
Kekuatan adalah sumber daya keterampilan atau keunggulan. Kekuatan dapat terkandung dalam sumber daya keuangan, citra, kepemimpinan, hubungan pembeli dengan pemasok, dan faktor- faktor lain. Faktor kekuatan yang dimiliki oleh suatu perusahaan atau lembaga termasuk satuan-satuan bisnis di dalamnya adalah kompetensi khusus yang terdapat dalam organisasi atau perusahaan yang berakibat pada kepemilikan keunggulan.
2) Hakikat Kelemahan (Weaknesses)
Kelemahan (Weaknesses), merupakan kondisi internal yang menghambat organisasi atau perusahaan untuk mencapai objektif yang diinginkan. Faktor kelemahan yang dimaksud adalah keterbatasan dan kekurangan kemampuan dalam hal sumber, keterampilan dan kemampuan, seperti kemampuan manajerial yang rendah dan tingkat perolehan
36 Freddy Rangkuti, “Analisis …, hlm. 20-21
keuntungan yang kurang memadai.37 Kelemahan ini masih bisa diatasi dengan cara memaksimalkan peluang yang ada jika perusahaan atau lembaga benar- benar memanfaatkan peluang yang ada dengan baik.
3) Hakikat Peluang (Opportunities)
Peluang (Opportunities) adalah berbagai situasi lingkungan yang menguntungkan bagi suatu perusahan atau lembaga. Peluang merupakan kondisi eksternal yang dapat memberikan peluang-peluang untuk kemajuan Lembaga.
4) Hakikat Ancaman (Threats)
Ancaman (Threats) adalah situasi penting yang tidak menguntungkan dalam lingkungan perusahaan atau organisasi. Ancaman merupakan penganggu utama bagi posisi sekarang yang diinginkan organisasi.
Threats adalah faktor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan suatu lembaga.
c. Konsep Pembelajaran Jarak Jauh
Dikenal dengan istilah Distance Learning atau Distance Education, yaitu Konsep Pembelajaran Jarak jauh yang merupakan suatu sistem pendidikan dengan dilaksanakan secara terpisah antara pengajar dan siswa baik secara ruang dan waktu. Pertama kali “Distance Learning”
dikembangkan di Amerika Serikat, Perancis, Jerman dan Inggris pada pertengahan abad 19, oleh Sir Isac Pitman, pada tahun 1840, mengajar jarak jauh dengan menggunakan surat.
Pembelajaran Jarak Jauh secara umum adalah berupa kegiatan yang terencana, sistematis, terdiri dari didaktik persiapan, presentasi bahan ajar, pengawasan dan dukungan pembelajaran siswa yang dicapai dengan menjembatani jarak fisik antara siswa dan guru melalui media teknis yang tepat.
37 Sondang P. Siagan, “Manajemen Strategi”, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995).
Pembelajaran Jarak Jauh juga sebagai bagian dari metode pembelajaran dimana perilaku mengajar dieksekusi terpisah dari perilaku belajar, termasuk juga yang dilakukan di hadapan peserta didik. Sehingga komunikasi antar guru dengan pelajar harus difasilitasi dengan sarana prasarana seperti media elektronik, mekanik dan lainnya.
Dibawah ini adalah deskripsi singkat mengenai peran-peran kunci utama dalam pembelajaran jarak jauh :
1) Mahasiswa (student), peran utama dari mahasiswa disini adalah belajar. Dalam proses pembelajaran jarak jauh ini tetap diperlukan keadaan yang baik, motivasi, perencanaan, dan kemampuan untuk menganalisa materi perkuliahan, tugas, dan tes yang diberikan seorang instruktur kepada mahasiswa. Kemampuan berinteraksi antara dosen dengan mahasiswa sangat bergantung pada hubungan teknis (technical linkage) yang menjembatani batasan antara kelas yang terpisah dengan partisipasi mahasiswa.
2) Kampus (faculty), kesuksesan dari sistem pembelajarasn jarak jauh ini sangat ditentukan oleh kampus. Pada sistem kelas tradisional, tanggung jawab seorang isntruktur adalah memberikan materi kursus dan memberikan keperluan yang dibutuhkan siswa.
Hal yang menarik adalah penyesuaian kemampuan mengajar secara jarak jauh. Seorang instruktur harus mampu membuat sistem pemahaman yang mudah.
3) Mengadaptasikan cara mengajar antara sistem kelas tradisional dengan teknologi dari sistem pembelajaran jarak jauh.
4) Fasilitator, sebagai jembatan antara siswa dengan pengajar. Agar efektif maka fasilitator harus mampu menganalisa kebutuhan-kebutuhan antara siswa dengan pengajar.
5) Staff pendukung (support staff), secara individual bagian ini tidak begitu menonjol, tetapi pada sistem pembelajaran jarak jauh secara luas, fungsi dari
support service sangat menentukan dari kesuksesan distance learning, yang antara lain adalah dalam sistem pendaftaran mahasiswa (regsitration), penggandaan dan penyebaran materi, pengaturan jadwal (schedulling), pemrosesan laporan penilaian (grades), pengaturan hal teknis, dan lain sebagainya.
6) Administrator, meskipun fungsi administrator sangat berpengaruh pada perencanaan awal sistem distance learning, tapi administrator juga berperan sebagai consensus builder, pengambil keputusan (decision maker), refree. Administrator bekerja secara personal dan memastikan resource dan teknologi yang ada dapat bekerja secara baik dan efektif, dan selalu bertanggung jawab dalam memaintenance sistem.38
Dari banyak konsep system pembelajaran jarak jauh yang dikembangkan, yang pada dasarnya konsep pembelajaran ini dibagi menjadi beberapa kategori diantaranya; Sistem Berbasis Video seperti yang dilakukan dosen KPI UIN Mataram.