Seputar KorupsiBab 1
C. TIPOLOGI KORUPSI
Sebagaimana disebutkan di atas, korupsi sudah mewabah dan terjadi di mana- mana. Korupsi bukan hanya soal pejabat publik yang menyalahgunakan jabat- annya, tetapi juga soal orang, setiap orang yang menyalahgunakan keduduk- annya, dengan demikian akan dapat memperoleh uang dengan mudah, yang memang bertujuan untuk memperkaya dirinya sendiri dan kroni-kroninya.
Korupsi dapat terjadi bila ada peluang dan keinginan dalam waktu yang bersamaan. Korupsi dapat dimulai dari sebelah mana saja. Misalnya, suap yang ditawarkan pada seorang pejabat atau seorang pejabat meminta (atau bahkan memeras) uang pelicin. Orang yang menawarkan suap melakukannya karena ia menginginkan sesuatu yang bukan haknya, dan ia menyuap pejabat
bersangkutan supaya pejabat itu mau mengabaikan peraturan, atau karena ia yakin pejabat bersangkutan tidak akan mau memberikan kepadanya apa yang sebenarnya menjadi haknya tanpa imbalan uang.32
Korupsi terjadi di setiap lapisan masyarakat, tidak saja pejabat yang duduk di pemerintahan, tetapi setiap kelas dalam masyarakat tidak lepas dari apa yang dinamakan dengan korupsi. Klasifikasi KKN yang terjadi di dalam masyarakat, secara garis besar dapat digolongkan sebagai berikut.33
1. Kelas bawah adalah KKN yang dilakukan secara kecil-kecilan, namun berdampak luas karena menyangkut ujung tombak dari pelaksanaan birokrasi. KKN pada tingkat ini dilakukan, pada dasarnya adalah untuk sekadar bertahan hidup, baik bagi lembaga ujung tombak birokrasi itu sendiri maupun kehidupan awaknya. Hal ini dilakukan pada umumnya dengan mempersulit pelayanan yang seharusnya dapat dipermudah.
Berbagai penyebab dari meluasnya KKN semacam ini, yang utama dan strategis adalah karena kecilnya gaji dan kurangnya sarana untuk dapat melakukan fungsinya secara wajar, namun kemudian berubah menjadi semacam kenikmatan yang kecenderungannya harus dipertahankan oleh yang bersangkutan.
2. Kelas menengah adalah KKN yang dilakukan oleh pegawai negeri dan awak birokrasi lainnya, dengan mempergunakan kekuasaan atau kewe- nangan yang ada padanya, karena kedudukannya yang strategis, walau- pun tidak memegang kunci kebijakan. KKN pada tingkat ini, tidak lagi untuk sekadar bertahan hidup, namun sudah untuk mempertahankan posisi dan menambah kekayaan. Hal ini sudah berkaitan erat dengan upaya melakukan link dengan penentu kebijakan pemosisian sumber daya manusia pada tiap lembaga. Hal ini terjadi mulai dari tahapan rekruitmen sampai dengan keputusan penentuan jabatan (posisi, jenisnya, lamanya, dan sebagainya).
32 Jeremy Pope, op.cit., hlm. xxv.
33 Zakaris Poerba, Kendala dalam Penanganan Kasus-Kasus KKN, dalam Ahmad Gunaryo (Ed.), Hukum Birokrasi & Kekuasaan di Indonesia, Walisongo Research Institute, Semarang, 2001, hlm. 201 dan 202.
3. Kelas atas adalah KKN yang dilakukan oleh para penentu kebijaksanaan, yang dalam pelaksanaannya bekerja sama dengan para konglomerat atau para pelaku bisnis multinasional, dengan cara-cara yang sukar untuk di- deteksi, karena hasil-hasil KKN semacam ini, biasanya telah mengakomo- dasi hukum dan perundang-undangan, di samping pergerakan finansial sebagai hasil keuntungan KKN semacam ini, telah memanfaatkan reke- ning bank internasional sebagai sarana mobilitas dana hasil KKN.
Dari klasifikasi di atas, dapat dipahami bahwa masalah KKN di Indonesia, merupakan problem yang terjadi pada semua tingkat lapisan masyarakat. Pada tingkat yang lebih bawah menjadi masalah besar karena kuantitas pelaku yang besar, sedangkan pada tingkat yang lebih atas menjadi masalah besar karena kuantitas pelibatan dana yang besar.
Bentuk-bentuk korupsi yang paling umum dikenal sebagaimana dikutip oleh Jeremy Pope dari Gerald E. Caiden dalam Toward a General Theory of Official Corruption, Asian Journal of Public Administration, Vol. 10 No. 1 Tahun 1988, yakni sebagai berikut.34
1. Berkhianat, subversi, transaksi luar negeri ilegal, penyelundupan.
2. Menggelapkan barang milik lembaga, swastanisasi anggaran pemerintah, menipu dan mencuri.
3. Menggunakan uang yang tidak tepat, memalsukan dokumen dan meng- gelapkan uang, mengalirkan uang lembaga ke rekening pribadi, mengge- lapkan pajak, serta menyalahgunakan dana.
4. Menyalahgunakan wewenang, intimidasi, menyiksa, penganiayaan, mem- beri ampun dan grasi tidak pada tempatnya.
5. Menipu dan mengecoh, memberi kesan yang salah, mencurangi dan memperdaya, memeras.
6. Mengabaikan keadilan, melanggar hukum, memberikan kesaksian palsu, menahan secara tidak sah, menjebak.
7. Tidak menjalankan tugas, desersi, hidup menempel pada orang lain seperti benalu.
34 Jeremy Pope, op.cit., hlm. xxvi.
8. Penyuapan dan penyogokan, memeras, mengutip pungutan, dan meminta komisi.
9. Menjegal pemilihan umum, memalsu kartu suara, membagi-bagi wilayah pemilihan umum agar bisa unggul.
10. Menggunakan informasi internal dan informasi rahasia untuk kepentingan pribadi, membuat laporan palsu.
11. Menjual tanpa izin jabatan pemerintah, barang milik pemerintah, dan surat izin pemerintah.
12. Manipulasi peraturan, pembelian barang persediaan, kontrak, dan pin- jaman uang.
13. Menghindari pajak, meraih laba berlebih-lebihan.
14. Menjual pengaruh, menawarkan jasa perantara, konflik kepentingan.
15. Menerima hadiah, uang jasa, uang pelicin dan hiburan, perjalanan yang tidak pada tempatnya.
16. Berhubungan dengan organisasi kejahatan, operasi pasar gelap.
17. Perkoncoan, menutupi kejahatan.
18. Memata-matai secara tidak sah, menyalahgunakan telekomunikasi dan pos.
19. Menyalahgunakan stempel dan kertas surat kantor, rumah jabatan, dan hak istimewa jabatan.
Choesnon sebagaimana dikutip oleh Artidjo Alkostar membedakan ma- Choesnon sebagaimana dikutip oleh Artidjo Alkostar membedakan ma- cam-macam atau jenis perbuatan korupsi sebagai berikut.35
1. Korupsi jenis halus.
Korupsi jenis ini lazim disebut uang siluman, uang jasa gelap, komisi gelap, macam-macam pungutan liar, dan sebagainya. Tindak kejahatan seperti ini boleh dikatakan tak tergolong oleh sanksi hukum positif.
2. Korupsi jenis kasar.
Korupsi jenis ini kadang-kadang masih dapat dijerat oleh hukum kalau kebetulan kepergok alias tertangkap basah. Beberapa contoh umpamanya menggelapkan uang negara yang dipercayakan kepada seorang bendaha-
35 Artidjo Alkostar, Korupsi Politik di Negara Modern, FH UII Press, Yogyakarta, 2008, hlm. 74 dan 75.
rawan, mempribadikan benda milik negara, mempribadikan benda-benda milik ahli waris (yang notabene tak berdosa) dari oknum-oknum yang ter- jerat oleh hukum karena politik dan lain-lainnya. Korupsi kasar semacam ini pun sering-sering masih juga bisa luput dari jeratan hukum karena rupa- rupa faktor “ada main” (hubungan tahu sama tahu yang saling mengun- tungkan) dan sebagainya.
3. Korupsi yang sifatnya administratif manipulatif.
Korupsi semacam ini agak lebih sukar untuk diteliti, kalaupun memang ada dilakukan penelitian oleh yang berwenang. Umpamanya adalah ongkos- ongkos perjalanan dinas yang sebenarnya sebagian atau seluruhnya tidak pernah dijalani, ongkos pemeliharaan kendaraan milik negara yang cepat rusak karena terlalu sering dipakai untuk keperluan pribadi, ongkos perbaikan bangunan pemerintah dengan biaya yang sengaja dilebih- lebihkan (over begroot), ongkos pemugaran rumah pribadi, dan sebagainya.
Alatas sebagaimana dikutip Chaerudin, mengembangkan tujuh tipologi korupsi sebagai berikut.36
1. Korupsi transaktif, yaitu korupsi yang terjadi atas kesepakatan di antara seorang donor dengan resipien untuk keuntungan kedua belah pihak.
2. Korupsi ekstortif, yaitu korupsi yang melibatkan penekanan dan pemak- saan untuk menghindari bahaya bagi mereka yang terlibat atau orang- orang yang dekat dengan pelaku korupsi.
3. Korupsi investif, yaitu korupsi yang berawal dari tawaran yang merupakan investasi untuk mengantisipasi adanya keuntungan di masa datang.
4. Korupsi nepotistik, yaitu korupsi yang terjadi karena perlakuan khusus, baik dalam pengangkatan kantor publik maupun pemberian proyek- proyek bagi keluarga dekat.
5. Korupsi otogenik, yaitu korupsi yang terjadi ketika seorang pejabat mendapat keuntungan karena memiliki pengetahuan sebagai orang dalam (insiders infor- mation) tentang berbagai kebijakan publik yang seharusnya dirahasiakan.
36 Chaerudin, dkk., Strategi Pencegahan & Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi, Refika Aditama, Bandung, 2008, hlm. 3.
6. Korupsi supportif, yaitu perlindungan atau penguatan korupsi yang men- jadi intrik kekuasaan dan bahkan kekerasan.
7. Korupsi defensif, yaitu korupsi yang dilakukan dalam rangka memper- tahankan diri dan pemerasan.
Berdasarkan tujuan yang mendorong orang melakukan korupsi, pada pokoknya korupsi dapat dibagi menjadi dua, yakni sebagai berikut.37
1. Korupsi politis.
Korupsi politis merupakan penyelewengan kekuasaan yang lebih meng- arah ke permainan-permainan politis yang kotor, nepotisme, klientelisme, penyalagunaan pemungutan suara, dan sebagainya. Arnold A. Rogow dan Harold D. Lasswell menyebut para pejabat yang melakukan korupsi poli- tis sebagai game politician (politisi pendapatan). Latar belakang psikologis yang mendorong korupsi politis adalah keinginan-keinginan untuk men- dapat pengakuan dari orang lain, keinginan untuk dituakan, dan diang- gap sebagai pemimpin oleh sebanyak mungkin orang. Maka deprivasi (pe- rasaan kehilangan atau kekurangan) yang dialami oleh pejabat-pejabat itu terutama berkaitan dengan nilai-nilai perbedaan (different values), yaitu perasaan bahwa dirinya berbeda dari orang lain, merasa diri sendiri lebih pintar atau lebih besar dari orang-orang lain, sehingga pantas untuk memperoleh pengakuan, penghormatan, dan kekuasaan yang besar atas orang-orang tersebut.
2. Korupsi material.
Korupsi material kebanyakan berbentuk manipulasi, penyuapan, pengge- lapan, dan sebagainya. Korupsi material lebih didorong oleh keinginan untuk memperoleh kenyamanan hidup, kekayaan, dan kemudahan dalam segala aspek. Jadi, deprivasi yang dialami oleh pejabat-pejabat yang mela- kukan korupsi material terutama menyangkut nilai-nilai kesejahteraan (welfare values), sehingga korupsi yang dilakukannya kebanyakan ditunjuk- kan untuk memperoleh keuntungan material yang sebanyak-banyaknya.
37 Wahyudi Kumorotomo, Etika Administrasi Negara, Raja Grafindo Persada, Jakar- ta, 2008, hlm. 305 dan 306.
Maraknya korupsi telah terjadi dari birokrasi tingkat atas sampai tingkat paling bawah, dari tingkat departemen sampai tingkat kelurahan, Hartiwi- ningsih menyebutkan jenis korupsi yang melanda birokrasi, antara lain sebagai berikut.38
1. Discretionery corruption.
Korupsi yang dilakukan karena adanya kebebasan dalam menentukan kebijaksanaan, sekalipun nampaknya bersifat sah, bukanlah praktik-prak- tik yang dapat diterima oleh para anggota organisasi. Misalnya petugas pengawas yang seolah-olah melakukan pengawasan tanpa benar-benar ber buat yang sesungguhnya. Di sini tidak peraturan yang dilanggar, kare- nanya risiko pun dapat diperkecil. Jenis korupsi seperti ini sangat sulit, kalau bukan tidak mungkin dideteksi, karena tidak dapat dengan mudah memastikan di mana dan kapan ia berlangsung.
2. Illegal corruption.
Suatu jenis tindakan yang bermaksud mengacaukan bahasa ataupun maksud-maksud hukum, peraturan, dan regulasi tertentu. Dalam hal ter- jadinya aksi-aksi seperti ini, risiko yang akan terjadi cukup implisit. Jenis korupsi seperti ini bisa saja dilakukan seseorang dengan tingkat efektivitas tertentu, namun sebaliknya, ia jauh lebih mungkin untuk dikendalikan.
Untuk melakukannya diperlukan tingkat kerahasiaan yang cermat.
3. Mercenery corruption.
Satu jenis korupsi yang dimaksud untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Ia meliputi kegiatan pemberian uang sogok dan uang semir. Korupsi seperti ini dapat disebut sebagai suatu tindakan penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan yang dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan material dan politis. Ia bisa bersifat illegal maupun terjadi karena adanya kekuasaan untuk mengeluarkan kebijaksanaan. Misalnya, petugas pengawas yang menerima uang dari suatu perusahaan industri yang menghasilkan limbah sebagai uang semir agar hasil olahan limbah dinyatakan baik, meskipun faktanya tidak memenuhi standar.
38 Hartiwiningsih, Perilaku Menyimpang Birokrasi Serta Upaya Pertanggungjawaban- nya, dalam Ahmad Gunaryo, op.cit., hlm. 354 dan 355.
4. Ideological corruption.
Jenis korupsi, baik yang bersifat illegal maupun diskresioneri yang di- maksudkan untuk mengejar tujuan-tujuan kelompok. Misalnya, kasus KKN mantan Presiden Soeharto, yaitu suatu skandal yang dilakukan oleh mantan Presiden Soeharto dan kroninya, di mana aparat penegak hukum, khususnya kejaksaan lebih memberikan komitmen ideologis mereka ke- pada mantan Presiden Soeharto dan kroninya ketimbang kepada undang- undang dan hukum.