Model pembelajaran Talking Stick diawali dengan penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan dipelajari. Kemudian dengan bantuan Stick (tongkat) yang bergulir pada peserta didik dituntun untuk merefleksikan atau mengulang kembali materi yang sudah dipelajari dengan cara menjawab pertanyaan dari guru. Siapa yang memegang tongkat, dialah yang wajib menjawab pertanyaan (talking).
Adapun langkah-langkah penerapan model pembelajaran Talking Stick, menurut Suyatno (2009:
124) adalah;
1. guru menyiapkan sebuah tongkat,
2. guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangan/paketnya, 3. setelah selesai membaca buku dan
mempelajarinya, guru mempersilahkan peserta didik untuk menutup bukunya,
4. guru mengambil tongkat dan memberikan kepada peserta didik, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan peserta didik yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar peserta didik
31
mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru,
5. guru memberikan kesimpulan, evaluasi, dan penutup.
Menurut Kurniasih dan Sani (2015: 83), langkah- langkah yang dijalankan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick yaitu sebagai berikut:
a. guru menjelaskan tujuan pembelajaran pada saat itu,
b. guru membentuk kelompok yang terdiri atas 5 orang,
c. guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm,
d. setelah itu, materi yang akan dipelajari kemudian memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran tersebut dalam waktu yang telah ditentukan, siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana, setelah kelompok selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilakan anggota kelompok untuk menutup isi bacaan,
e. guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu anggota kelompok, setelah itu guru memberi pertanyaan dan
32
anggota kelompok yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru, f. siswa lain boleh membantu menjawab
pertanyaan jika anggota kelompoknya tidak bisa menjawab pertanyaan,
g. setelah semuanya mendapat giliran, guru membuat kesimpulan dan melakukan evaluasi, baik individu atau pun secara berkelompok. Dan setelah itu menutup pelajaran.
Pembelajaran menggunakan Talking Stick yaitu pembelajaran yang menggunakan tongkat
untuk berbicara dapat membantu pembelajaran dan siswa akan dengan cepat menguasai pembelajaran karena terdorong oleh permainan yang dilakukan dalam pembelajaran Talking Stick. Talking stick dipakai sebagai tanda seseorang mempunyai hak suara (berbicara) yang diberikan secara bergiliran/bergantian. Model pembelajaran ini membuat anak didik ceria, senang, dan melatih mental anak didik untuk siap pada kondisi dan siatuasi apapun.
33
DAFTAR PUSTAKA
https://www.tripven.com/pembelajaran-talking-stick/
Ismail. (2003). Media Pembelajaran (Model-model Pembelajaran). Jakarta: Proyek Peningkatan
Mutu SLTP.
Widowati, Budijastuti. 2001 Pembelajaran Kooperatif.
Surabaya.
Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar
Ruzz Media.
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi
Pustaka, 2007)
Isjoni, Cooperative Learning, (Bandung: Alfabeta, 2010)
34
TENTANG PENULIS
ROSNANI Di lahirkan di Timor Leste tepatnya di Baucao 12 Desember 1988.
Anak ke tiga dari Tujuh bersaudara pasangan dari Hj Wati dan Muh Ridwan.
Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SDN 170 Rumpia Kecamatan Majauleng lulus tahun 2000 Kemudian melanjutkan Pendidikan di SMP Negeri 1 Majauleng dan lulus tahun 2003 kemudian melanjutkan di Sekolah Menegah Atas di SMA Negeri 1 Majauleng lulus tahun 2006. Kemudian melanjutkan Pendidikan di perguruan tinggi Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMUH) Jurusan D2 PGSD lulus Tahun 2008. Pada tahun 2010 melanjutkan Pendidikan Strata satu (S-1) di Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMUH) Lulus tahun 2013. Pada tahun 2020 peneliti melanjutkan Pendidikan Strata dua (S2) Universitas Bosowa Makassar (UNIBOS).
35
MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION
(CIRC)
A. Latar Belakang
Masalah yang dihadapi oleh guru dan siswa dalam keterampilan membaca pemahaman sebagai berikut; hasil belajarnya rendah, hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukannya, dan lambat dalam melaksanakan tugas-tugas belajar (Mulyati, 2004:9.4). Selain itu, sebagian guru mengalami kesulitan dalam menentukan kegiatan belajar mengajar yang tepat untuk mencapai kompetensi dasar, merumuskan materi pembelajaran yang harus disesuaikan dengan karakteristik daerah/sekolah, potensi daerah, dan perkembangan peserta didik. Rendahnya tingkat kemampuan membaca, minimnya pemahaman yang diperoleh, kurangnya minat baca, minimnya pengetahuan tentang cara membaca cepat dan efektif, serta adanya gangguan-gangguan fisik yang secara tidak sadar menghambat kecepatan membaca (Nurhadi, 2010:17). Di sisi lain, kebanyakan orang telah puas dengan kondisi kemampuan membacanya. Padahal secara teoretis kecepatan dan pemahaman terhadap bacaan itu dapat ditingkatkan.
36
Selama ini guru menganggap siswa telah memiliki keterampilan membaca jika mereka sudah mampu melafalkan bacaan dengan cepat. Guru mengalami kesulitan untuk menemukan cara menyajikan kegiatan pembelajaran membaca yang menarik agar pembelajaran tersebut dapat berlangsung secara komunikatif antara guru dan siswa. Selain itu, selama ini prosedur kegiatan pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut; 1) siswa diminta untuk membaca mandiri; 2) guru menyampaikan materi pembelajaran sesuai dengan pokok-pokok materi pembelajaran (membaca); 3) guru membacakan contoh yang ada di buku teks bahasa Indonesia, dan 4) guru meminta siswa untuk membuat tulisan sesuai dengan contoh dan materi yang telah disampaikan. Hal tersebut mengakibatkan siswa hanya dapat membaca namun tidak memahami materi yang dibaca dan kesulitan menceritakan kembali isi materi. Selain itu, rendahnya tingkat kemampuan membaca, minimnya pemahaman yang diperoleh, kurangnya minat baca, kurangnya pengetahuan tentang cara membaca cepat dan efektif, serta adanya gangguan- gangguan fisik yang secara tidak sadar menghambat kemampuan membaca.
Salah satu model pembelajaran yang ditawarkan untuk diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia yakni Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Model ini dianggap mampu mengatasi hambatan-hambatan pembelajaran bahasa Indonesia.
37
Karena itu, dalam tulisan ini dibahas tentang Cooperative Integrated Reading and Composition.