Menuju Poros Maritim Dunia diperlukan 3 (tiga) langkah transformasi, yaitu: (1) Transformasi Cara Pandang/Paradigma; (2) Transformasi Ekonomi;
dan (3) Transformasi Kelembagaan/Tata Kelola.
Pertama, perubahan cara pandang terhadap laut, yang memposisikan laut sebagai halaman terdepan dan wilayah kedaulatan yang harus dijaga secara maksimal baik secara ekologis, ekonomis, keamanan, maupun politik.
Kedua, mewujudkan laut sebagai sumber kemakmuran bangsa dan kesejahteraan rakyat, yang harus dikelola secara lestari dan adil, yang mencakup sektor perikanan, industri kemaritiman, transportasi laut, industri farmasi, eksplorasi energi, wisata bahari dan jasa kelautan lainnya.
Ketiga, menciptakan tata aturan yang jelas dalam pengelolaan dan pemanfaatan laut serta organisasi pengelola kelautan yang lebih efisien, termasuk pengaturan peran daerah dan pelibatan komunitas sipil secara aktif.
Strategi 1: Pembangunan Konektivitas Laut sebagai Kunci Perwujudan Poros Maritim Didukung oleh Pengembangan Wilayah Konektivitas laut menjadi langkah awal prioritas menuju Poros Maritim Dunia. Ini dilakukan untuk mengurangi disparitas ekonomi antar pulau, khususnya Kawasan Indonesia Timur.
• Jalur pelayaran dengan jadwal yang tetap
• Pengembangan Short Sea Shipping Jawa dan Sumatera dan pengembangan pelabuhan- pelabuhan laut;
• Sub-jalur pulau-pulau kecil, untuk menjangkau daerah terpencil, pulau terluar, dengan memberdayakan Pelayaran Rakyat/Pelra dan meningkatkan kemandirian armada nasional (termasuk industri galangan kapal).
Kemandirian armada kapal nasional untuk menunjang jalur pelayaran tetap. Pengembangan industri galangan kapal dengan fasilitas produksi untuk kapal baru maupun reparasi kapal sampai dengan kapasitas 300.000 DWT pada 2025 (200.000 DWT pada 2020).
Strategi 2: Pengembangan dan Penguatan Ekonomi Kelautan Sebagai Inti Pertumbuhan A. Industrialisasi Perikanan yang Berdaya Saing
dan Berkelanjutan
Indonesia merupakan negara produsen utama ikan tangkap dan budaya di dunia dengan nilai produksi lebih dari 20 juta ton (FAO 2016 State of World Fisheries and Aquaculture). Tingkat konsumsi total ikan dunia pada tahun 2030 diperkirakan sekitar 151 juta ton (World Bank, 2013). Dengan ketersediaan lahan produksi pangan yang berkurang, berbagai negara mulai beralih ke laut, melalui eksploitasi sumberdaya ikan baik untuk tangkap maupun budidaya.
Pembangunan budidaya perikanan modern (marikultur) yang berkelanjutan di tingkatkan, dengan tetap memperhatikan daya dukung
Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) sebagai areal penangkapan ikan semakin baik manajemennya. Transformasi WPP menjadi Fishing Management Authority (FMA) atau Badan Otorita Pengelolaan Perikanan berbasis WPP, menjadi kebutuhan, mengingat efektifitas rentang kendali, manajemen kontrol, tanggungjawab, serta keterlibatan daerah dan pelaku di lapangan akan semakin meningkat. Penguatan kapasitas pengelolaan dan pembentukan lembaga pengelola WPP dilakukan secara bertahap, sehingga pelibatan segenap stakeholder bisa dilakukan secara penuh.
Industrialisasi perikanan nasional dikembangkan. Pelaku industrialisasi perikanan dipersiapkan untuk menjadi pemain kelas dunia yang mampu berkompetisi. Industrialisasi perikanan nasional mencakup aspek hulu dan hilir.
Pembangunan industri pengolahan perikanan perlu diperkuat dengan pengembangan struktur industri pendukung, termasuk penguatan pasokan bahan baku industri yang konsisten didukung oleh sistem logistik perikanan yang efektif dan efisien. Disamping itu dikembangkan industri perikanan lanjutan yang bernilai tambah tinggi serta memiliki keunggulan kompetitif, seperti industri olahan rumput laut dan bahan farmasi dari alga laut; serta klaster industri sesuai dengan keunggulan regional.
Beberapa kebijakan yang perlu dilakukan adalah pengembangan kluster industri perikanan tangkap dan pengolahan untuk komoditas tuna (khususnya di ZEE Indonesia bagian timur dan barat Sumatera) dan pelagis kecil. Pemberdayaan nelayan tradisional serta pengembangan budaya bahari di pusat-pusat kluster industri perikanan tangkap. Ekspansi lahan perikanan budidaya laut dengan komoditas utama: kerapu, kakap, lobster,
teripang, udang dan rumput laut. Dukungan pemerintah terkait kredit untuk nelayan, pemberantasan IUU Fishing, penguatan MCS (monitoring, control and surveillance) dan restrukturisasi armada perikanan tangkap.
Ditargetkan komposisi perikanan tangkap dapat mencapai 50 persen berupa kapal diatas 30GT pada akhir tahun 2045.
B. Pengembangan Pariwisata Bahari yang Inklusif dan Berkelanjutan
Terdapat setidaknya enam dari sepuluh ekosistem terumbu karang terindah dan terbaik di dunia berada di Indonesia, yaitu di Raja Ampat, Wakatobi, Taka Bone Rate, Bunaken, Karimun Jawa, dan Pulau Weh.
Mayoritas turis mancanegara memiliki ketertarikan untuk menikmati wisata pantai dan laut. Lima negara yang merupakan penyumbang terbesar wisman ke Indonesia adalah Singapura, Malaysia, Cina, Australia, dan Jepang, dengan destinasi wisata bahari favorit di Raja Ampat, Derawan, Wakatobi, Bali, Sulawesi Utara, dan Kepulauan Riau Untuk target wisatawan kelas premium, ditambah strategi wisata bagi paket bisnis pelayaran kapal pesiar skala besar (sekelas
“cruise” di Caribbean), kluster wisata bahari terintegrasi antara ekosistem (diving) dan resort skala dunia (technopark pariwisata bahari), integrasi transportasi laut (“Tol Laut”
dan Pelra) dengan paket wisata bahari (kapal pesiar, diving, resort skala dunia), internasional hub kapal pesiar dan marina, serta pusat ijin terpadu dan pusat sistem informasi wisata bahari di beberapa wilayah representatif.
Pembangunan daya saing pariwisata bahari nasional dilakukan secara bertahap, mulai dari pengembangan promosi, pembangunan infrastruktur wisata, aksisesibilitas,
pembangunan fasilitas sehingga bisa kompetitif di tingkat ASEAN, Asia dan Dunia.
Strategi 3 : Pembangunan Kekuatan Maritim Pertahanan dan keamanan laut merupakan komponen penting untuk berkembangnya ekonomi maritim. Dalam pelaksanaannya, pertahanan dan keamanan laut dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu: (i) pertahanan dan keamanan laut sebagai bagian dari pertahanan dan keamanan NKRI; (ii) keamanan pelayaran dan penggunaan laut untuk kesejahteraan rakyat. Pembangunan kapasitas hankam laut menjadi kebutuhan yang penting mengingat tantangan konflik regional dan global di wilayah diperkirakan meningkat. Kedaulatan maritim menuntut kapasitas dan kapabilitas Indonesia dalam mengamankan wilayah perairan/laut dari ancaman dan gangguan eksternal.
Strategi 4: Pembangunan Peradaban Bahari, Kualitas SDM dan Inovasi Teknologi Kemaritiman dan Kelautan
Budaya bahari merupakan aset untuk peningkatan usaha ekonomi kelautan. Membangun dan mengembalikan budaya bahari sebagai unsur penting budaya bangsa merupakan tantangan yang harus dicapai menuju terwujudnya peradaban bahari.
Pengembangan SDM kelautan dilakukan melalui pendidikan formal yang berujung pada kompetensi para profesi di bidang industri perikanan secara luas, industri maritim secara luas, serta daya saing usaha di bidang kelautan dan perikanan. Keselarasan muatan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri akan dikembangkan sehingga tercipta kapasitas dan kompetensi SDM yang tepat sesuai tantangan dunia usaha. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan inovasi penting untuk pengembangan ekonomi kelautan dan kemaritiman. Riset kelautan dan kemaritiman, tidak saja ditujukan untuk peningkatan produktivitas usaha yang sudah ada, namun juga riset untuk pengembangan potensi baru. Penguasaan Iptek ditingkatkan untuk mendayagunakan aset kelautan dan kemaritiman, terutama ilmu pengetahuan yang terkait dengan pengembangan potensi baru, dan pengusahaan keahlian dan kepakaran atas kekayaan laut Indonesia yang belum tereksplorasi dengan baik.
Penataan lembaga riset dan teknologi, kolaborasi riset disertai dengan pengembangan center of excellence di bidang kelautan dan kemaritiman penting diwujudkan guna meningkatkan kapasitas pengelolaan kekayaan laut.
Menuju poros maritim dunia, Indonesia mengembangkan ekonomi maritim, meningkatkan kekuatan maritim, serta memperkuat budaya maritim. Strategi yang ditempuh meliputi pembangunan konektivitas laut didukung oleh pengembangan wilayah, pengembangan dan penguatan ekonomi kelautan, pembangunan kekuatan maritim, dan pembangunan peradaban bahari. Peranan PDB maritim diperkirakan meningkat dari 6,4 persen pada tahun 2015 menjadi sekitar 12,5 persen PDB di tahun 2045. Pelayaran nasional telah mencapai 100 persen berasal dari dalam negeri dengan penerapan azas cabotage secara penuh.