BAB II TINJAUAN PUSTAKA
J. Trilogy Akuntabilitas
Trilogy Akuntabilitas ini hampir sama dengan SET, konsep dasar trilogy akuntabilitas ini juga didasari oleh tiga hal pokok yang saling berhubungan. Tiga hal tersebut yaitu pemberi amanah (Allah) (Kholmi, 2012:68). Dalam trilogy akuntabilitas ini Tuhan sebagai pencipta alam semesta dijadikan sebagai tempat pertanggung jawaban utama hal ini sejalan dengan SET, sedangkan manusia dan alam itu berada pada posisi yang sama yang kedua-duanya tunduk atas perintah Allah. Lebih lanjut lagi Kholmi (2012: 69) menyatakan bahwa akuntabilitaas dari dimensi manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, manusia dengan alam menjadi operasional dan dapat dipraktikkan dalam dunia nyata.
Menurut Suartana (2010: 106) dalam pencapaian tujuan perusahaan, perusahaan selalu berinteraksi dengan lingkungan sebab lingkungan memberikan andil dan kontribusi bagi perusahaan atau organisasi, lebih lanjut mengatakan tujuan perusahaan yang dimaksud yaitu perusahaan tidak hanya mencapai laba maksimal tetapi juga kesejahteraan social dan lingkungannya yang disebut Triple Bottom Line.
Kesejahteraan social dan lingkungan merupakan bagian yang sangat melekat pada perusahaan yang tak terpisahkan dari perusahaan dan
memiliki kaitan yang sangat erat atas perkembangan perusahaan, sehingga perhatian perusahaan atas kesejahteraan social dan lingkungan ini harusnya menjadi tanggung jawab dilaksanakan oleh perusahaan untuk bisa tetap melaksanakan kegiatan operasional perusahaannya.
K. Penelitian Terdahulu
Table 2.4 Penelitian Terdahulu
No Nama Judul Metode
Penelitian
Hasil Penelitian
1 Asy’ari (2009)
Implementasi Corporate Social Responiblity (CSR) Sebagai Modal Sosial pada PT. Newtont
Kualitatif Kendala-kendala yang ditemui adalah meningkatnya ketidakpercayaan masyarakat persepsi yang muncul akibat tuduhan pencemaran terhadap operasi Newtont Minahasa Raya sehingga izin penempatan tailing PT. NNT, yang mesti diperpanjang pada
tahun 2005, akan tetap ditentang oleh LSM anti tambang, Kontroversi lain muncul terkait daerah eksplorasi Dodo di kecamatan Ropang yang
melibatkan Sembilan desa.
2 Purwitasari (2011)
Analisis Pelaporan
Corporate Social Responbility (CSR) Perbankan Syariah dalam Perspektif Shariah Enterprise Theory : Studi Kasus Pada Laporan Tahunan Bank Syariah
Kualitatif dengan pendekatan semiotic.
Pelaporan tanggung jawab social oleh Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Muamalat Indonesia (BMI) masih dipengaruhi oleh kepentingan mereka masing- masing, kepentingan- kepentingan ini terutama dipengaruhi oleh money dan
Mandiri Dan Bank Muamalat Indonesia.
power.
3 Kurnianto (2011)
Pengaruh
Corporate Social Responbility (CSR) Terhadap Kinerja
Keuangan
Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2008.
Kuantitatif dengan pendekatan ordinary least square.
Investor masih berorientasi jangka pendek dan tidak mempertimbangkan pengungkapan CSR di dalam melakukan investasi pada perusahaan perbankan pada tahun 2005-2008.
4 Syuhada Mansur (2012)
Pelaporan
Corporate Social Responbility Perbankan Syariah Dalam Perspektif
Deskriptif kualitatif
Pengungkapan Corporate Social Responbility (CSR) yang dilakukan oleh Bank Syariah
Mandiri masih belum
Syariah Enterprise Theory (Studi Kasus Pada Laporan Tahunan PT. Bank Syariah Mandiri)
sesuai dengan konsep Syariah Enterprise Theory (SET), terutama pada bagian akuntabilitas horizontal terhadap alam.
5 Syamsiah (2013)
Kajian Implementasi Corporate Social Responbility Perbankan Syariah Ditinjau Dari Shariah Enterprise Theory Pada PT.
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Bhakti Sumekar Cabang
Pamekasan.
Deksriptif kualitatif.
Implementasi Corporate Social Responbility (CSR) yang dilakukan oleh BPRS Bhakti Sumekar Cabang Pamekasan sebagian sudah sesuai konsep Shariah Enterprise Theory (SET), namun pada bagian implementas horizontal terhadap alam masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya.
6 Nugroho dan Agus
(2013)
Pengaruh Karakteristik Perusahaan, Struktur Kepemilikan, Dan Good Governance Terhadap Pengungkapan Triple Bottom Line Di Indonesia.
Kuantitatif dengan metode pemilihan sampel pusposive sampling
Profitabilitas, likuiditas, Kepemilikan institusional dan Kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap
pengungkapan Triple Bottom Line
sedangkan jenis industry, Perusahaan dengan jenis industry berkategori high profil, Ukuran dewan komisaris dan
Ukuran komite audit berpengaruh
terhadap
pengungkapan Triple Bottom Line.
7 Muh.
Fachmi
Pengaruh Implementasi
Kualitatif Corporate Social Responbility (CSR)
Velayati (2015)
Corporate Social Responbility (CSR) Terhadap Citra dan
Kepercayaan Masyarakat Pada PT. Bank BNI Cabang Mattoangin Makassar
berpengaruh Positif terhadap citra
perusahaan dan tidak berpengaruh
terhadap kepercayaan masyarakat pada Bank.
8
Anggari Pasha Dewani (2009)
Kebijakan
Implementasi dan Komunikasi Corporate Social Responbility (CSR) PT.
Indosement Tunggal Prakarsa Tbk.
Kualitatif dan
Kuantitatif
PT Indocement telah menetapkan
komitmen dan kebijakan CSR secara tertulis lalu diimplementasikan ke dalam berbagai kegiatan dan program.
9 Yustisia Puspa Ningrum
Pengaruh
Corporate Social Responbility
Kausar dan Komparatif.
CSR berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai
(2014)
(CSR) Dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Nilai Perusahaan Dengan
Profitabilitas dan Ukuran
Perusahaan Sebagai Variabel Moderating (Studi Empiris Pada Perusahaan Pertambangan Di Bursa Efek Indonesia).
perusahaan.
Kepemilikan manajerial
berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
10 Nanda Ayu Titofianti
Implementasi Corporate Social Responbility (CSR) PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk. Kantor Unit
Deskriptif Kualitatif.
Implementasi CSR oleh BRI Unit Porong tahun 2011 berfokus pada
Program Bina
Lingkungan berupa
Porong Program BRI Peduli
Pasar Rakyat
(PESAT) yang
dilaksanakan di Pasar Porong.
Persamaan penelitian terdahulu dengan skripsi yaitu sama-sama meneliti tentang Corporate Social Responbility (CSR). Sedangkan perbedaannya yaitu ada yang melakukan penelitian di perusahaan, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan pemerintahan.
L. Kerangka Pikir
CSR yang hanya berdasar pada TBL yang konsep dasarnya yaitu manusia, alam dan keuntungan/laba dengan menformulasikan nilai-nilai syariah dengan yang pada tujuan pertanggung jawaban utamanya itu pada sang pencipta (Tuhan Yang Maha Esa). Dengan dasar itu sehingga dibuat kerangka pikir yang terlihat dalam bentuk sebagai berikut.
Gambar 2.3 Kerangka Pikir
M. Hipotesis
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah dapat diduga bahwa : H1 : Corporate Social Responbility berdampak positif dan signifikan
terhadap Triple Bottom Line.
H2 : Triple Bottom Line berdampak positif dan signifikan terhadap citra dan nilai.
Bank Muamalat Cabang Makassar
Corporate Social Responbility (CSR)
Triple Bottom Line (TBL)
Nilai Citra
Hasil
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT. Bank Muamalat Cabang Makassar, sedangkan waktu penelitian diperkirakan sekitar dua bulan.
B. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah suatu metode penelitian yang bersifat induktif, objektif dan ilmiah dimana data yang diperoleh berupa angka –angka (score, nilai) atau pernyataan- pernyataan yang dinilai, dan dianalisis dengan analisis statistik.
C. Variabel
Variabel merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai dari seseorang, objek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti atau dipelajari dan ditarik kesimpulannya.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya.
D. Definisi Operasional Variabel 1. Variabel Independen (Bebas)
a. Corporate Social Resposibility
Corporate Social Resposibility adalah merupakan persepsi responden tentang seberapa tinggi perusahaan menerapkan praktek
30
corporate social responbility (CSR) seperti penyisihan dana untuk tanggung jawab sosial, adanya prioritas anggaran tanggung jawab sosial perusahaan, pelayanan sosial dan pemberdayaan karyawan, perlindungan hak karyawan perusahaan, proses monitoring dan evluasi, serta keterlibatan aktif dalam program corporate social responbility (CSR) perusahaan. Data variabel ini diperoleh dengan cara kuesioner dan diukur dengan menggunakan skala likert atau likert scale lima poin yaitu (1) Sangat Tidak Setuju (STS); (2) Tidak Setuju (TS); (3) Netral (N); (4) Setuju (S); dan (5) Sangat Setuju (SS) atas sejumlah pernyataan yang diajukan. Semakin tinggi jumlah poin jawaban responden, maka semakin tinggi pula perusahaan untuk melakukan corporate social responbility (CSR).
b. Triple Bottom Line
Kategori pengungkapan triple bottom line oleh Jennifer Ho dan Taylor (2007) dalam Nugroho (2013) meliputi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kategori pengungkapan ekonomi meliputi general, customer, suppliers, investor, creditor, public sector, corporate investment, others. Kategori sosial meliputi general, employee, diversity, opportunity, human rights, customers and communities, integrity and ethics. Kategori lingkungan meliputi general, energy, water, materials, pollution, waste management, others.
Data variabel ini diperoleh dengan cara kuesioner dan diukur dengan menggunakan skala likert atau likert scale lima poin yaitu (1) Sangat Tidak Setuju (STS); (2) Tidak Setuju (TS); (3) Netral (N); (4) Setuju (S); dan (5) Sangat Setuju (SS) atas sejumlah pernyataan yang diajukan. Semakin tinggi jumlah poin jawaban responden, maka semakin tinggi pula perusahaan untuk melakukan corporate social responbility (CSR).
2. Variabel Dependen (Terikat) a. Citra Perusahaan
Toni Wijaya (2008) dalam penelitiannya citra perusahaan adalah sekumpulan keyakinan-keyakinan, ide-ide dan kesan-kesan atas suatu obyek dari sudut pandang seseorang. Diukur menggunakan Corporate Image Scale yang digunakan dalam penelitian Andreassert (1999) yang dibuat dalam penelitian Itemized Rating Scale 5 poin dengan pertanyaan penilaian negatif atau positif persepsi konsumen terhadap perusahaan, sepuas apakah konsumen terhadap pernyataan diri dari perusahaan terhadap publik, seberapa tinggi orientasi perusahaan pada konsumen dan penilaian positif atau negatif hubungan konsumen dengan perusahaan. Data variabel ini diperoleh dengan cara kuesioner dan diukur dengan menggunakan skala likert atau likert scale lima poin yaitu (1) Sangat Tidak Setuju (STS); (2) Tidak Setuju (TS); (3)
Netral (N); (4) Setuju (S); dan (5) Sangat Setuju (SS) atas sejumlah pernyataan yang diajukan.
b. Nilai Perusahaan
Tri (2016) nilai perusahaan adalah persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan dalam mengelola sumber daya tentang seberapa baik kondisi perusahaan. Data variabel ini diperoleh dengan cara kuesioner dan diukur dengan menggunakan skala likert atau likert scale lima poin yaitu (1) Sangat Tidak Setuju (STS); (2) Tidak Setuju (TS); (3) Netral (N); (4) Setuju (S);
dan (5) Sangat Setuju (SS) atas sejumlah pernyataan yang diajukan.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian kuantitatif sangat berpengaruh pada hasil penelitian nantinya, oleh karena itu peneliti menggunakan tiga teknik pengumpulan data dalam penulisan ini yaitu : 1. Metode Observasi
Menurut Indirianto dan Bambang (2013) metode Observasi adalah pencatatan pola perilaku subjek (orang), objek (benda) atau kejadian yang sistematik tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi dengan individu-individu yang diteliti. Kelebihan metode ini yaitu data yang dikumpulkan umumnya tidak terdistorsi, lebih akurat dan bebas dari Response Bias. Metode ini dapat menghasilkan data yang lebih rinci mengenai perilaku (subjek), benda atau kejadian (objek). Namun
bukan berarti dengan demikian metode ini sudah bebas dari kesalahan- kesalahan karena sesuatu yang pasti bahwa tidak ada satupun yang sempurna didunia Allah SWT pencipta alam semesta beserta isinya.
Dalam metode observasi ini, ada dua tipe pada metode yang digunakan yaitu :
a. Observasi langsung (Direct Observation), yaitu observasi yang dilakukan peneliti pada objek penelitian tanpa adanya bantuan dari alat-alat penelitian, teknik ini bisa dilakukan dengan sepengetahuan atau tanpa sepengetahuan responden.
b. Observasi Mekanik (Mechanick Observation), yaitu observasi yang dilakukan peneliti dengan bantuan alat-alat mekanik, atas dasar bantuan alat-alat mekanik inilah sehingga dinamakan observasi mekanik. Sama dengan observasi langsung, teknik ini juga dapat dilakukan dengan atau tanpa sepengetahuan responden.
2. Kuesioner
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
F. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi merupakan sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu. Populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki karakteristik
tertentu, jelas dan lengkap yang akan teliti. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan Bank Muamalat Cabang Makassar.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi, sampel dari penelitian ini 35 nasabah.
G. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif data yang berbentuk kata-kata bukan dalam bentuk angka, data kuantitatif merupakan data-data yang disajikan dan mengandung makna. Sedangkan sumber data yang digunakan adalah data primer dengan membagikan kuesioner kepada responden atau karyawan PT. Bank Muamalat Cabang Makassar. Selain itu data pendukung diperoleh dari data-data yang berkaitan dengan Bank Muamalat Cabang Makassar sebagai data sekunder.
H. Metode Analisis Data
1. Metode Analisis Deskriptif
Metode analisis yang digunakan untuk menjawab masalah pokok dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif. Analisis deskriptif merupakan metode statistik yang digunakan untuk mengumpulkan, meringkas, menyajikan dan mendeskripsikan data sehingga dapat memberikan informasi yang berguna. Analisis deskriptif pada penelitian ini menyediakan tentang identitas responden, terhadap variabel penelitian.
2. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
Metode yang digunakan adalah dengan melihat distribusi normal probability plot yang membandingkan distribui kumulatif dari distribusi normal. (Ghozali, 2011) dan uji statistik nonparametric Kolmogorov Smirnov (K-S) (Ghozali, 2011: 164).
b. Uji Multikolinearitas
Ghozali (2011) menyatakan bahwa untuk mendeteksi ada tidaknya multikolonieritas dalam suatu model regresi dapat dilakukan melalui :
1) Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi individual variabel independen banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen.
2) Menganalisis matriks korelasi variabel independen. Jika antara variabel independen ada kolerasi yang cukup tinggi (umumnya diatas 0,90) maka hal ini merupakan indikasi adanya Multikolonieritas.
3) Multikolonieritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan lawannya Variance Inflation Factor (VIF). Nilai cut off yang umum dipakai adalah nilai tolerance 0,10 atau sama dengan nilai VIF diatas 10. Apabila terhadap variabel independen yang memiliki nilai tolerance kurang dari 0,10 dan nilai VIF kurang
dari 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada Multikolonieritas antar variabel bebas dalam model regresi.
3. Uji Kualitas Data a. Uji Validitas Data
Uji validitas (uji kesahihan) adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur sah/valid tidaknya kuesioner. Kriteria yang digunakan valid atau tidak valid adalah apabila koefisien korelasi r hitung kurang dari nilai r table dengan tingkat signifikansi 5 persen berarti butir pertanyaan tersebut tidak valid (Ghozali, 2005).
b. Uji Realibilitas
Uji reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk.Uji reliabilitas ini dilakukan untuk menguji konsistensi jawaban dari responden melalui pertanyaan yang diberikan, menggunakan metode statistic Cronbach Alpha dengan signifikansi yang digunakan lebih dari (>) 0,60.
4. Uji Hipotesis
a. Analisis Regresi Linear Berganda
Setelah hasil uji asumsi klasik dilakukan dan hasilnya secara keseluruhan menunjukkan model regresi memenuhi asumsi klasik, maka tahap berikut adalah melakukan evaluasi dan interpretasi model regresi berganda.
b. Uji Parsial (Uji t)
Uji parsial digunakan untuk melihat pengaruh masing- masing variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan uji t yaitu dengan melihat nilai signifikansi t hitung, Jika nilai signifikansi t hitung < dari 0,05 maka dapat dikatakan variabel independen tersebut mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.
c. Uji Simultan (Uji F)
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel independen mempunyai pengaruh yang sama terhadap variabel dependen. Dengan kriteria pengujian tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95% atau taraf signifikansi 5% (α=0,05).
d. Uji Koefisien Determinas1 ( )
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen (sanksi pajak dan Corporate Social Responbility) terhadap Variabel dependen (Citra dan Nilai Perusahaan Orang Pribadi).
BAB IV
GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
A. Sejarah Singkat PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk
PT. Bank Muamalat Indonesia,Tbk didirikan pada 24 Rabius Tsani H atau 1 Nopember 1991, diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pemerintah Indonesia, dan memulai kegiatan operasinya pada 27 Syawwal 1412 H atau 1 Mei 1992. Dengan dukungan nyata dari eksponen Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha Muslim, pendirian Bank Muamalat juga menerima dukungan masyarakat, terbukti dari komitmen pembelian saham Perseroan senilai Rp.84 miliar pada saat penandatanganan akta pendirian Perseroan.
Selanjutnya, pada acara silaturahmi peringatan pendirian tesebut di Istana Bogor, diperoleh tambahan komitmen dari masyarakat Jawa Barat yang turut menanam modal senilai 106 miliar.
Pada tanggal 27 Oktober 1994, hanya dua tahun setelah didirikan, Bank Muamalat berhasil menyandang predikat sebagai Bank Devisa.
Pengakuan ini semakin memperkokoh posisi Perseroan sebagai bank syariah pertama dan terkemuka di Indonesia dengan beragam jasa maupun produk yang terus dikembangkan.Pada akhir tahun 90an, Indonesia dilanda krisis moneter yang memporakporandakan sebagian besar perekonomian Asia Tenggara. Sektor perbankan nasional tergulung oleh kredit macet di segmen korporasi. Bank Muamalat pun terimbas dampak
39
krisis. Di tahun 1998, rasio pembayaran macet (NPF) mencapai lebih dari 60%. Perseroan mencatat rugi sebesar Rp 105 miliar. Ekuitas mencapai titik terendah, yaitu Rp 39,3 miliar, kurang dari sepertiga modal setor awal.
Dalam upaya memperkuat permodalannya, Bank Muamalat mencari pemodal yang potensial, dan ditanggapi secara positif oleh Islamic Development Bank (IDB) yang berkedudukan di Jeddah, Arab Saudi. Pada RUPS tanggal 21 Juni 1999 IDB secara resmi menjadi salah satu pemegang saham Bank Muamalat. Oleh karenanya, kurun waktu antara tahun 1999 dan 2002 merupakan masa-masa yang penuh tantangan sekaligus keberhasilan bagi Bank Muamalat. Dalam kurun waktu tersebut, Bank Muamalat berhasil membalikkan kondisi dari rugi menjadi laba berkat upaya dan dedikasi setipa Kru Muamalat, ditunjang oleh kepemimpinan yang kuat, strategi pengembangan usaha yang tepat, serta ketaatan terhadap pelaksanaan perbankan syariah secara murni.
Saat ini Bank Muamalat memberikan layanan bagi lebih dari 4,3 juta nasabah melalui 457 gerai yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia.
Jaringan BMI didukung pula oleh aliansi melalui lebih dari 4000 Kantor Pos Online/SOPP di seluruh Indonesi, 1996 ATM, serta 95.000 merchant debet. BMI saat ini juga merupakan satu-satuya cabang luar negeri, yaitu di Kuala Lumpur, Malaysia. Untuk meningkatkan aksesibilitas nasabah di Malaysia, kerjasama dijalankan dengan jaringan Malaysia Electronic Payment System (MEPS) sehingga layanan BMI dapat diakses di lebih dari
2000 ATM di Malaysia. Selain itu Bank Muamalat memiliki produk shar- e gold dengan teknologi chip pertama di Indonesia yang dapat digunakan di 170 negara dan bebas biaya diseluruh merchant berlogo visa. Sebagai Bank Pertama Murni Syariah, Bank Muamalat berkomitmen untuk menghadirkan layanan perbankan yang tidak hanya comply terhadap syariah, namun juga kompetitif dan aksesibel bagi masyarakat hingga pelosok nusantara. Komitmen tersebut diapresiasi oleh pemerintah, media massa, lembaga nasional dan iternasional serta masyarakat luas melalui lebih dari 70 award bergengsi yang diterima oleh BMI dalam 5 tahun terakhir. Penghargaan yang diterima antara lain sebagai Best Islamic Bank in Indonesia 2009 oleh Islamic Finance News (Kuala Lumpur), sebagai Best Islamic Financial Institution in Indonesia 2009 oleh Global Finance (New York) serta sebagai The Best Islamic Finance House in Indonesia 2009 oleh Alpha South East Asia (Hong Kong).
B. Visi dan Misi Organisasi 1. Visi
“ The Best Islamic Bank And Top 10 Bank in Indonesia With Strong Regional Presence”.
2. Misi
Membangun lembaga keuangan syariah yang unggul dan berkesinambungan dengan penekanan pada semangat kewirausahaan berdasarkan prinsip kehati-hatian, keunggulan sumber daya manusia
yang islami dan professional serta orientasi investasi yang inovatif, untuk memaksimalkan nilai kepada seluruh pemangku kepentingan.
C. Tujuan Berdiri Bank Muamalat Indonesia, Tbk
Adapun Tujuan Berdiri Bank Muamalat Indonesia yaitu:
1. Meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat Indonesia, sehingga semakin berkurang kesenjangan sosial ekonomi, dan dengan demikian akan melestarikan pembangunan nasional, antara lain melalui:
a. Meningkatkan kualitas dan kualitas kegiatan usaha.
b. Meningkatkan kesempatan kerja.
c. Meningkatkan penghasilan masyarakat banyak.
2. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan terutama dalam bidang ekonomi keuangan, yang selama ini masih cukup banyak masyarakat yang enggan berhubungan dengan bank karena masih menganggap bahwa bunga bank itu riba.
3. Mengembangkan lembaga bank dan sistem perbankan yang sehat berdasarkan efisiensi dan keadilan, mampu meningkatkan partisipasi masyarakat bahwa sehingga menggalakkan usaha- usaha ekonomi rakyat anatara lain memperluas jaringan lembaga perbankan ke daerah-daerah terpencil.
4. Mendidik dan bimbingan masyarakat untuk berpikir secara ekonomi, berperilaku bisnis dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
D. Struktur Organisasi
Gambar 4.1
STRUKTUR ORGANISASI
PT. BANK MUAMALAT,TBK. CABANG MAKASSAR.
Supervisi Operational Branch
Manager
Sekretaris
Relationship Manager Funding Financing
Team Leader
Funding Team Leader
Relationship Manager Financing
Customer Service Asistant
Relationship Manager
Head CS
Operational Manager
Back Office
Head Teller
Legal Unit Support
Pembiayaan
Tellers
E. Kegiatan Usaha PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk.
PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk. pada dasarnya melakukan kegiatan usaha yang sama dengan Bank Konvensional, yaitu melakukan penghimpunan dan penyaluran dana masyarakat di samping penyediaan jasa keuangan lainnya. Perbedaannya adalah seluruh kegiatan usaha PT.
Bank Muamalat Indonesia,Tbk. Didasarkan pada prinsip syariah.
Implikasinya, di samping harus selalu sesuai dengan prinsip hukum Islam juga adalah karena dalam prinsip syariah memiliki berbagai variasi akad yang akan menimbulkan variasi produk yang lebih banyak dibandingkan produk Bank Konvensional.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Corporate Social Responbility (CSR) Perusahaan
Bentuk Corporate Social Responbility (CSR) yang diterapkan pada PT. Bank Muamalat Cabang Makassar yaitu dalam program Bank Muamalat dan Baitulmaal Muamalat mengadakan Fun Walk, selain diadakan kegiatan Fun Walk, Bank Muamalat turut memberikan bantuan dana pendidikan kepada anak-anak yatim piatu peserta Fun Walk yang diberikan secara simbolis kepada BMM. Bank Muamalat berharap masyarakat untuk selalu mengingat tahun baru ini sebagai momentum yang sejalan dengan cita-cita perusahaan untuk selalu berusaha hadir dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat.
Salah satu program Corporate Social Responbility (CSR) Bank Muamalat yang terus dikembangkan dan dijalankan sepanjang tahun 2016 adalah ‘Sekolah Prestasi Muamalat’. Program ini bertujuan untuk
membantu pemerintah dalam meningkatkan Indeks Pembangungan Manusia (IPM) Indonesia baik dari sisi akademis maupun rohani. Sekolah Prestasi Muamalat merupakan komitmen Bank Muamalat untuk mendukung program di sector pendidikan berupa bantuan pendidikan untuk siswa/I berprestasi dari keluarga pra-sejahtera serta sarana dan prasarana untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar di sekolah universitas maupun pesantren.
45