• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Metode Analisis

3.5.3 Analisis Statistik Desktiptif

3.5.3.3 Analisis Regresi Logistik

Metode analisis yang digunakan dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan membayar upaya konservasi dan pelestarian sumber daya air umbul ponggok adalah metode analisis regresi logit, dan diolah menggunakan program SPSS EBM 25. Logit merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengestimasi sebuah fungsi dimana variabel terikatya bersifat kualitatif (qualitative response reggresion models). Sementara model logistik- biner (binary logistic regression) digunakan untuk menganalisis data kuantitatif yang mencerminkan pilihan antara dua alternatif. Model logit-biner adalah salah satu cara untuk mengkuantitatifkan hubungan antara probabilitas dua pilihan dengan beberapa karakteistik yang dipilih (Gujarati dan Porter, 2009).

Regresi Logistik adalah bagian dari analisis regresi yang diguakan ketika variabel dependen merupakan variabel dikotomi. Varibel dikotomi biasanya hanya terdiri dari dua nilai yang mewakili adanya kejadian atau tidak adanya kejadian yang biasanya diberi angka 0 dan 1. Penelitian ini berusaha melihat kesediaan membayar pengunjung Umbul Ponggok terhadap upaya konservasi dan pelestarian sumber daya air di Lereng Gunung Merapi. Kesediaaan membayar pengunjung adalah variabel dependen yang ditunjukan dengan 0 jika tidak bersedia, dan 1 jika bersedia. Variabel independen yang digunakan adalah variabel tingkat pendapatan, usia, tingkat pendidikan, frekuensi kunjungan, dan tingkat pengetahuan.

Dasar rumus yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1 2 1 3 2 4 3 5 4 6 5

Dimana X = variabel independen dan Y = 1 jika responden bersedia membayar dan Y = 0 jika responden tidak bersedia membayar. Model tersebut disebut model probabilitas linear, karena ekspektasi bersyarat dari terhadap , E( | ) dapat diintepretasikan sebagai probabilitas bersyarat bahwa kejadian akan terjadi terhadap , yaitu ( | ), sehingga dalam penelitian ini E( | ) adalah probabilitas responden bersedia membayar upaya konservasi dan pelestarian sumber air berkaitan dengan variabel yang ada.

= E( | ) = 1 2 1 3 2 4 3 5 4 6 5

( | ) menunjukan bahwa responden bersedia membayar. Sehingga sekarang kesediaan membayar terhadap upaya konservasi dan pelestarian sumber air dirumuskan sebagai berikut :

= E( | ) = 1

1

Kemudian persamaan diatas disederhanakan menjadi :

1

Dimana :

1 2 1 3 2 4 3 5 4 6 5

Persamaan di atas merupakan probabilitas kesediaan membayar pengunjung terhadap upaya konservasi dan pelestarian sumber air ( ). Sedangkan probabilitas responden tidak bersedia membayar adalah (1- ) yaitu sebagai berikut :

1 - = 1

1

Sehingga dapat di tulis :

/ (1 – adalah rasio peluang dari kesediaan membayar upaya konservasi dan pelestarian sumber air. Perbandingan atau rasio probabilitas individu bersedia membayar terhadap probabilitas kesediaan membayar upaya konservasi dan pelestarian sumber air.

Model logistik yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang diprediksi mempengaruhi kesediaan membayar terhadap upaya konservasi dan pelestarian sumber air di ambil dari penelitian yaitu:

(1 ) 1 2 1 3 2 4 3 5 4 6 5

Keterangan:

= Kesediaan membayar (1 = Bersedia, 0 = Tidak Bersedia) (1 ) = Odd ratio atau rasio peluang

1 = Konstanta

1 = Tingkat Pendapatan

2 = Usia

3 = Tingkat Pendidikan

4 = Frekuensi Kunjungan

5 = Tingkat pengetahuan

= error

77 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Lokasi dan Objek Penelitian

4.1.1 Deskripsi Kondisi Geografis Daerah Penelitian

Kabupaten Klaten adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang berada di wilayah lereng Gunung Merapi. Secara geografis, Kabupaten Klaten terletak pada 110° 30‟ – 110° 45‟ Bujur Timur dan 7° 30‟ – 7° 45‟

Lintang Selatan. Disebelah utara berbatasan langsung dengan Kabupaten Boyolali, sebelah timur berbatasan langsung dengan Kabupaten Sukoharjo, di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul (DIY) dan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Sleman (Provinsi DIY).

Secara topografi, Kabupaten Klaten terletak diantara Gunung Merapi dan Pegunungan Seribu yang membagi Kabupaten Klaten menjadi 4 wilayah, yaitu:

 Wilayah dengan ketinggian < 100 Mdpl, meliputi kecamatan Juwiring Karangdowo dan Camas;

 Wilayah dengan ketinggian 100-200 Mdpl, meliputi kecamatan prambanan, Jogonalan, Gantiwarno, Wedi, Bayat, Cawas (bagian barat), Trucuk, Kalikotes, Klaten Selatan, Klaten Tengah, Klaten Utara, Kebonarum (selatan), Ngawen (selatan dan timur), Ceper, Pedan, Karanganom (timur), Polanharjo (timur), Delanggu, Juwiring (barat), dan Wonosari (barat);

 Wilayah dengan ketinggian 200-400 mdpal, meliputi Kecamatan Manisrenggo, Jogonalan (utara), Karangnongko, Kebonarum (utara), Ngawen (utara), Jatinom, Karanganom (barat), Tulung, dan Polanharjo (barat);

 Wilayah dengan ketinggian 400-1000 mdpal, meliputi Kecamatan Kemalang, sebagian besa Manisrenggo, sebagian kecil Jatinom, dan sebagian kecil Tulung.

Gambar 4.1

Peta Topografi Kabupaten Klaten

Sumber : Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Klaten Kondisi tersebut memberikan gambaran tentang kondisi umum penyusun batuan, pola aliran air permukaan dan air tanah (hidrologi), yang selain menjadi kendala dalam dalam sistem transportasi dan komunikasi, tapi juga telah

memberikan berbagai manfaat bagi Kabupaten Klaten. Keuntungan yang dimaksud disini adalah bervariasinya jenis tanaman pangan yang bisa tumbuh di wilayah Kabupaten Klaten dan banyaknya sumber daya air untuk irigasi, drainase, domestic use maupun kebutuhan air minum. Bahkan, potensi sumber daya air ini telah mampu memberikan pasokan air bagi wilayah klaten daerah hilir yang digunakan sebagai objek wisata alam seperti Umbul Ponggok.

4.1.2 Lokasi Penelitian

Daerah penelitian yang menjadi studi empiris dalam penelitian ini adalah kondisi ekosistem hutan yang membentang di wilayah lereng Gunung Merapi tepatnya di Desa Sidorejo, Desa Balerante, hingga Desa Tegal Mulyo kecamatan Kemalang pada 110° 28‟ hingga 110° 31‟ bujur timur dan pada 7° 35‟ hingga 7°

39‟ lintang selatan. Penentuan lokasi konservasi dan pelestarian hutan ini didasarkan pada ditetapkannya bahwa Kecamatan Kemalang merupakan daerah rawan bencana yang berada di sekitar lereng gunung merapi. Daerah rawan bencana tersebut merupakan daerah yang berjarak 5 km dari puncak gunung merapi. Peta kawasan rawan bencana Gunung Merapi dapat dilhat pada gambar 4.2 dimana peta tersebut menunjukan tingkat kerawanan bencana suatu daerah apabila terjadi letusan Gunung Merapi. Kecamatan kemalang termasuk dalam daerah yang masuk dalam kawasan rawan bencana I (warna kuning), pada kawasan rawan bencana I di Kecamatan Kemalang akan terkena dampak lahar dingin yang keluar dari gunung merapi melalui sungai-sungai yang berhulu di

daerah sekitar puncak. Kecamatan Kemalang juga termasuk kawasan rawan bencana II (warna merah pudar) yang sering terlanda awan panas.

Gambar 4.2

Peta Rawan Bencana Gunung Merapi

Sumber: Peta Rawan Bencana Gunung Merapi, Fiqih Astriani 2016

Hutan di kabupaten Klaten terdapat 2 (dua) jenis hutan yang masuk dalam kawasan hutan negara yaitu hutan lindung seluas 810,6 Ha dan Hutan Produksi seluar 639,8 Ha. Hutan negara di kelola oleh perum perhutani, sedangkan hutan lainnya adalah hutan rakyat seluar 1.202 Ha. Hutan di Kabupaten Klaten di antaranya:

1. Hutan lindung, terletak di bagian barat dan secara administratif berada di wilayah Kecamatan Kemalang yang Mencakup Desa Tegalmulyo dan Desa

Sidoharjo, serta berada dilereng Gunung Merapi pada ketinggian 700 - 1.200 mdpl.

2. Hutan produksi, terletak di 3 (tiga) wilayah kecamatan yaitu: Kecamatan Bayar, Kecamatan Wedi, dan Kecamatan Kalikotes. Hutan diproduksi ini terletak pada perbukitan sekis-filit dan perbukitan kapur/batu gamping dengan ketinggian antara 300-500 mdpl.

3. Hutan rakyat, merupakan program pemerintah melalui program penghijauan dan rehabilitasi lahan serta konservasi tanah. Hutan rakyat ini tersebar di beberapa wilayah kecamatan yang mempunyai lahan kering, diantaranya Kecamatan Kemalang, Manisrenggo, Karangnongko, Jatinom, Tulung, Prambanan, Bayat dan Wedi.

Gambar 4.3

Perkembangan Lahan Kritis di Kabupaten Klaten Tahun 2013 – 2017

Sumber:Klaten dalam angka 2018

2195

1945

1695 1691 1672

1500 1600 1700 1800 1900 2000 2100 2200 2300 2400 2500

2013 2014 2015 2016 2017

Luas lahan (Ha)

Luas Lahan Kritis

Luas lahan…

Sampai dengan saat ini masih terdapat lahan kritis seluas 1.695 Ha pada tahun 2015, mengalami penurunan dibanding tahun 2014 seluas 1.945 Ha.

Sehingga masih diperlukannya adanya program konservasi hutan dan lahan, khusunya di wilayah Kecamatan Kemalang, Tulung, Jatinom, Karangnongko, Bayat, Prambanan, Wedi, dan Cawas. Lahan kritis ini sebagian besar karena dampak dari letusan Gunung Merapi yang mana Kecamatan Kemalang masuk dalam kawasan rawan bencana 1 dan 3 yang terkena lahar dingin serta awan panas, sehingga akan menimbulkan kerusakan ekosistem hutan di daerah tersebut.

Hutan di lereng gunung yang merupakan daerah resapan air dianggap sebagai daerah hulu yang memasok air untuk daerah-daerah hilir seperti Kecamatan Polanharjo ditandai dengan banyaknya umbul yang ada di kecamatan tersebut. Ada lebih dari 10 mata air (umbul yang tersebar di daerah selatan kecamatan ini dengan 3 umbul yang dijadikan destinasi wisata seperti Umbul Sigedang atau Umbul Kapilaler, Umbul Manten, serta yang paling besar dan dimanfaatkan sebagai destinasi wisata dengan rata-rata 1000 (seribu) pengunjung per hari yaitu Umbul Ponggok.

Umbul Ponggok merupakan destinasi wisata yang mulanya hanya umbul (mata air) jernih yang digunakan oleh warga sekitar sebagai perairan sawah dan budidaya ikan nila. Umbul yang menghasilkan air yang jernih ini juga dimanfaatkan sebagai sumber air bagi kebutuhan sehari, seperti air minum, mandi, serta mencuci pakaian. Pada tahun 2009 berdiri BUMDes Tirta Mandiri

Desa Ponggok, Umbul Ponggok di kelola dan kemudian di renovasi, yang telah resmikan pada tahun 2010. Pada tahun pertama dan kedua BUMDes Tirta Mandiri gencar mempromosikan Umbul Ponggok agar menjadi destinasi pilihan bagi masyarakat sekitar Ponggok. Spot snorkling air tawar yang di promosikan oleh BUMDes sangat diminati banyak masyarakat karena belum ada ditempat lain snorkling air tawar dengan fasilitas foto underwater yang disediakan oleh pengelola. Tahun 2012, pendapatan kotor BUMDes Tirta Mandiri masih berkisar Rp 150 juta. Baru setahun kemudian, meningkat menjadi Rp 600 juta. Tahun 2014, melonjak Rp 1,1 Miliar. Pada tahun 2015 melebihi target yang ditentukan Rp 3,8 miliar, mencapai Rp 6,1 miliar. Tahun 2016, dari target Rp 9 Miliar terealisasi Rp 10,3 miliar. Pada tahun 2017 mencapai 12 miliar.

Peningkatan pendapatan tersebut didukung dengan terus bertambahnya fasilitas yang di sediakan mulai dari pelampung, kacamata renang, penyewaan kamera underwater, taman bermain mengapung, pembukaan kios-kios makanan, guest house di sekitar wisata yang mendorong meningkatnya jumlah pengunjung tiap tahunnya. Dapat dilihat pada Gambar 1.1.

Jumlah pengunjung objek wisata alam Umbul Ponggok dari tahun 2012 mengalami peningkatan di tahun 2013, peningkatan cukup besar terjadi di tahun 2014 sebanyak 164.445 pengunjung dan naik sebanyak 200% di tahun 2015.

Namun mengalami penurunan di tahun 2016 menjadi 287.260 pengunjung yang kemudian melanjutkan tren naik pada tahun 2017 dan tahun 2018. Sempat mengalami penurunan di tahun 2016, penulis memutuskan untuk mengambil

rata-rata pengunjung selama 5 tahun terakhir untuk menjadi populasi penelitian sebagai rata-rata pengunjung tiap tahunnya.

4.2. Karakteristik Sosio-Ekonomi Responden

Responden dalam penelitian ini adalah pengunjung yang sedang atau telah mengunjungi Umbul Ponggok selama satu tahun terakhir dan tiap-tiap keluarga yang mengunjungi umbul ponggok hanya memperbolehkan satu anggota keluarga yang ikut berpartisipasi mengisi kuisioner penelitian. Karakteristik responden dalam penelitian ini sangat bervariasi, baik dilihat dari jenis kelamin, usia, status perkawinan, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan tingkat pendapatan. Berikut adalah karakteristik sosio-ekonomi dari 100 responden yang ikut berpartisipasi dalam penelitian Analisis Willingness to Pay Pengunjung terhadap Upaya Konservasi dan Pelestarian Sumber Air Objek Wisata Alam Umbul Ponggok.

Tabel 4.1

Karakteristik Sosio-Ekonomi Responden

Karakteristik Deskripsi Frekuensi (orang)

Jenis Kelamin Laki-laki 48

Perempuan 52

Usia

<20 Tahun 19

20-29 Tahun 59

30-39 Tahun 15

≥40 Tahun 12

Status Pernikahan Belum Menikah 56

Sudah Menikah 44

Karakteristik Deskripsi Frekuensi (orang)

Tingkat Pendidikan

SD – SMP 5

SMA 55

Akademisi/Diploma 5

Strata 35

Jenis Pekerjaan

Mahasiswa/pelajar 30

Belum Bekerja 0

Ibu Rumah Tangga 3

Pensiunan 0

TNI/Polri 10

PNS 24

Wiraswasta 29

Wirausaha 10

Petani, Peternak, Nelayan 0

Pekerja Kasar 0

Tingkat Pendapatan

˂ Rp 2.000.000 14

Rp 2.000.000 – Rp 3.000.000 34 Rp 3.000.100 – Rp 4.000.000 31

>Rp 4.000.000 21

Sumber : Data primer diolah, 2019

Pada tabel 4.1 dapar dilihat faktor-faktor sosio-ekonomi responden yang ikut berpartisipasi dalam penelitian, dilihat dari jenis kelamin Penelitian ini didominasi oleh responden berjenis kelamin perempuan, berdasarkan sampel sejumlah 100 responden, sebesar 52% responden berjenis kelamin perempuan, dan sisanya sebanyak 48% berjenis kelamin laki-laki. Responden pada penelitian ini didominasi oleh perempuan karena fasilitas snorkling dengan foto underwater sangat instagramable sehingga sangat diminati kaum hawa. Sedangkan untuk laki-laki kecenderungan wisata lebih mengarah ke kafe-kafe, atau tempat hiburan.

Berdasarkan 100 responden yang ikut berpartisipasi dalam penelitian ini, tingkat usia di dominasi oleh pengunjung berusia 21-29 tahun sebanyak 59% (59 orang), hal ini karena tingkat usia tersebut kebanyakan sudah memiliki kemampuan untuk berenang sehingga mereka dapat menikmati keindahan bawah air umbul ponggok, yang kedua di dominasi oleh pengunjung berusia < 20 tahun sebanyak 19% kemudian tingkat usia antara 30-39 sebanyak 15% (15 orang) dan terakhir di tingkat usia ≥40 tahun, pada tingkat usia terakhir ini responden kebanyakan hanya mengantarkan anaknya saja tanpa menikmati fasilitas snorkling air tawar yang disediakan.

Status pernikahan responden dalam penelitian ini sebesar 56% (56 orang) responden merupakan responden yang belum menikah. Sedangkan sisanya sebesar 44% (44 orang) merupakan responden yang sudah menikah. Hal ini dikarenakan kebanyakan responden yang belum menikah berkunjung pada daya tarik wisata yang menantang, sedangkan yang sudah menikah lebih memilih berkunjung pada tempat wisata yang bersantai melepas penat. Dari 100 responden yang ikut berpartisipasi pada penelitian ini, pendidikan mayoritas responden pada tingkat SMA sebanyak 55% (55 orang), kemudian pada tingkat paling tinggi strata sebanyak 35% (35 orang) responden serta pada tingkat SD- SMP dan Akademisi/Diploma masing-masing 5%. Hal ini terjadi karena pada saat peneliti melakukan penelitian bertepatan dengan hali libur sekolah dan tingkat antusiasme untuk mengisi bersama teman-teman sangat tinggi.

Dari 100 responden yang ikut berpartisipasi dalam penelitian ini, sebanyak 30% (30 orang) responden masih berstatus pelajar/mahasiswa, kemudian sebanyak 29% bekerja sebagai wiraswasta, sebanyak 24% berstatus PNS,pada status pekerjaan wiraswasta dan TNI/Polri masing masing 10 persen, dan IRT sebanyak 3%, tanpa ada responden yang berstatus pekerja kasar, petani,peternak,nelayan, pensiunan maupun belum bekerja.

Tingkat pendapatan responden dalam penelitian ini cukup bervariasi. Hal ini dikarenakan latar belakang pekerjaan responden yang bersifat heterogen.

Sebanyak 14% (14 orang) responden memiliki pendapatan dibawah Rp2.000.000,- perbulan. Responden dengan tingkat pendapatan antara Rp2.000.000,- – Rp 3.000.000,- perbulan menjadi mayoritas pendapatan responden yaitu sebanyak 34% (34 orang). Untuk tingkat pendapatan Rp3.000.001,- – Rp 4.000.000,- perbulan sebanyak 31% responden. Dan sebanyak 21% responden yang ikut berpartisipasi memiliki pendapatan > Rp 4.000.000. hal ini dikarenakan daerah sekitar Kabupaten Klaten seperti Kabupaten Boyolali, D.I Yogyakarta, Kota Surakarta, dan Kota Salatiga memiliki UMR berkisar antara Rp 1.800.000 hingga Rp. 2.000.000,-.

4.3. Rancangan Upaya Konservasi dan Pelestarian Sumber Air Objek Wisata Alam Umbul Ponggok

Dalam upaya konservasi dan pelestarian sumber air objek wisata alam Umbul ponggok di perlukan suatu rancangan yang merupakan usaha-usaha yang

dapat dilakukan oleh stakeholder dengan tujuan untuk mengembalikan atau memperbaiki fungsi ekosistem hutan di lereng Gunung Merapi sebagai daerah tangkapan air bagi daerah-daerah hulu di Klaten dan sekitarnya.

Rancangan upaya konservasi dan pelestarian dalam penelitian ini dapat dijadikan sebagai pedoman dan menunjang keberhasilan kegiatan konservasi dan pelestarian sumber air objek wisata alam umbul ponggok. rancangan upaya konservasi dan pelestarian sumber air objek wisata umbul ponggok di lereng gunung merapi disusun dalam 5 (lima) tahap utama, antara lain :

1. Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan merupakan tahap pertama yag berupa penyusunan strategi dan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi isu-isu pelestarian daerah lereng Gunung Merapi. Pada tahap perencanaan terdiri dari:

Pemetaan dan penyusunan profl wilayah, identifikasi isu dan permasalahan terkait ekosistem hutan, penyusunan visi, misi, tujuan, sasaran, dan gambaran hasil. Serta rencana kegiatan dalam jangka panjang, menengah, dan pendek.

2. Tahap Pra Pelaksanaan Kegiatan

Tahap pra pelaksanaan kegiatan adalah tahapan penyusunan strategi yang dapat menunjang keberhasilan kegiatan konservasi dan pelestarian. Tahap ini meliputi : kelembagaan, Prakondisi masyarakat, dan persiapan lokasi.

3. Tahap pelaksanaan kegiatan

Tahap pelaksanaan kegiatan adalah implementasi rencana bentuk kegiatan konservasi dan pelestarian yang telah disusun. Tahap ini meliputi : Penanaman

Pohon besrta pemeliharaanya, pembibitan, pengembangan Agroforestry, penyuluhan dan pelatihan, pembangunan infrastruktur dan pembangunan pusat dan pembelajaran dan pariwisata.

4. Tahap Monitoring, pendampingan, evaluasi, dan kajian

Tahap ini adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui kemajuan pelaksanaan kegiatan dan mengetahui kelemahan dan kekurangan kegiatan yang dilaksanakan. Tahap ini meliputi : monitoring dan evaluasi kegiatan, pendampingan serta pengembangan riset dan kajian.

5. Tahap Publikasi Hasil

Tahap publikasi hasil adalah menjabarkan kepada masyarakat mengenai kegiatan konservasi dan pelestarian sumber air objek wisata alam umbul ponggok yang dilakukan di lereng gunung merapi. Tahap ini meliputi :Publikasi cetak dan digital.

Penjelasan tahap rancangan upaya konservasi dan pelestarian sumber air objek wisata alam umbul ponggok dapat dijelaskan pada tabel 4.2 berikut ini:

Estimasi Biaya Konservasi dan Pelestarian Sumber Air Objek Wisata Alam Umbul Ponggok

Keterangan

Ekspektasi Sumber Dana

Kebutuhan x

Banyak Satuan Harga

Satuan Jumlah

Profil Wilayah

Pemerintah Data Demografi, Sosial Ekonomi, kelembagaan di Masyarakat 10.000.000

Pemetaan Isu Identifikasi isu dan permasalahan terkait hutan 5.000.000

Penyusunan Visi Misi Penyusunan Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, dan Ekspektasi Hasil 5.000.000

Penyusunan Rencana Kegiatan Rencana bentuk kegiatan berjangka 15.000.000

Pendanaan Penentuan sumber pendanaan 10.000.000

Jumlah 45.000.000 Kelembagaan

Pemerintah

Pembentukan KKMD dari masyarakat 10.000.000

Penentuan Prioritas Isu dan Permasalahan 8.000.000

Prakondisi Masyarakat Publikasi masyarakat tentang konservasi hutan 2.000.000

Sosialisasi rencana kegiatan konservasi hutan 5.000.000

Persiapan Lokasi Pemetaan target lokasi lahan kritis 2.000.000

Penyiapan lokasi lahan kritis 5.000.000

Jumlah 32.000.000 Penanaman 10.000 pohon

untuk 10 Ha

Masyarakat (Pengunjung) Pohon mahoni 1.500 Pohon 12.000 18.000.000

Pohon Sengon 1.500 Pohon 7.000 10.500.000

Pohon akasia 2.000 Pohon 4.000 8.000.000

Pohon jabon 5.000 Pohon 2.000 10.000.000

Pohon Cadangan (Akasia) 500 pohon 7.000 3.500.000

90

Masyarakat (Pengunjung)

Pupuk Kompos 15.000 Kilogram 1.500 22.500.000

Pupuk NPK/Phonska 300 Kilogram 2.000 600.000

Ajir 10.000 Buah 500 5.000.000

Upah Angkut tanaman 5/ha x 10ha HOK 75.000 3.750.000

Upah penyiapan lahan dan penanaman pohon 125/hax10ha HOK 75.000 93.750.000

Pemeliharaan 5 tahun

Pupuk NPK/Phonska 9.300 Kilogram 2.000 18.600.000

Upah Penyulaman 12 10/ha x10 ha HOK 75.000 90.000.000

Upah Penyiangan 16 10/ha x10 ha HOK 75.000 120.000.000

Upah Pemupukan 13 10/ha x10 ha HOK 75.000 97.500.000

Upah Pendangiran 20 10/ha x10 ha HOK 75.000 150.000.000

Upah Pemangkasan 5 10/ha x10 ha HOK 75.000 37.500.000

Upah Penjarangan 16 10/ha x10 ha HOK 75.000 120.000.000

Jumlah 805.700.000

Pembibitan 5000 pohon untuk 5 Ha

Masyarakat (Pengunjung)

Bibit Pohon Mahoni 2.000 Bibit 2.000 4.000.000

Bibit Pohon Sengon 1.000 Bibit 1.000 1.000.000

Bibit Pohon Akasia 1.000 Bibit 1.000 1.000.000

Bibit Pohon Jabon 1.000 Bibit 500 500.000

Polybag ukuran 10x15cm 5.000 Plastik 500 2.500.000

Pupuk kompos 5.000 Kilogram 1.500 7.500.000

Upah pembibitan pada polybag 25 HOK 75.000 1.875.000

Upah Pemelihara pembibitan 6 bulan 25 x 6 HOK 75.000 11.250.000

Penanaman 5000 Pohon hasil pembibitan

Masyarakat (Pengunjung) Pupuk Kompos 7.500 Kilogram 1.500 11.250.000

Pupuk NPK/Phonska 150 Kilogram 2.000 300.000

Ajir 5.000 Buah 500 2.500.000

Upah Pengangkutan 5/ha x 5ha HOK 75.000 1.875.000

Upah Penyiapan lahan dan Penanaman 125/ha x5ha HOK 75.000 46.875.000

91

Pemeliharaan 5 Tahun

Masyarakat (Pengunjung)

Pupuk NPK/Phonska 4650 Kilogram 2000 9.300.000

Upah Penyulaman 12 10/ha x 5 ha HOK 75.000 45.000.000

Upah Penyiangan 16 10/ha x 5 ha HOK 75.000 60.000.000

Upah pemupukan 13 10/ha x 5 ha HOK 75.000 48.750.000

Upah Pendangiran 20 10/ha x 5 ha HOK 75.000 75.000.000

Upah Pemangkasan 5 10/ha x 5 ha HOK 75.000 18.750.000

Upah Penjarangan 16 10/ha x 5 ha HOK 75.000 60.000.000

Jumlah 407.725.000

Pengembangan Agroforestry

Masyarakat (Pengunjung)

Pohon Kopi Arabika 2.000 Pohon 45.000 90.000.000

Pupuk Kompos 30.000 Kilogram 1.500 45.000.000

Pupuk kimia (Urea+SP36+KCL+Dolomit) 4.000 Kilogram 10.200 40.800.000

Ajir 2.000 Buah 500 1.000.000

Upah Angkut tanaman 5/ha x 2 ha HOK 75.000 750.000

Upah Penyiapan lahan dan penanaman pohon kopi arabika 125/ha x 2 ha HOK 75.000 18.750.000

Pemeliharaan 5 tahun

Upah penyulaman 36 10/ha x 2 ha HOK 75.000 54.000.000

Upah penyiangan 27 10/ha x 2 ha HOK 75.000 40.500.000

Upah pemupukan 10 10/ha x 2 ha HOK 75.000 15.000.000

Upah pemangkasan 10 10/ha x 2 ha HOK 75.000 15.000.000

Upah Panen dan pasca panen Kopi Arabika 5 1 0/ha x 2 ha

HOK 75.000 7.500.000

Jumlah 328.300.000 Penyuluhan dan Pelatihan

Swasta

Penyuluhan Konservasi Hutan 5.000.000

Pelatihan Konservasi Hutan 6.000.000

Pembangunan Infrastruktur Pembuatan tandon air 15.000 L untuk pengairan hutan 10.000.000

Jumlah 21.000.000

92

Monitoring dan evaluasi upaya konservasi dan pelestarian sumber air

Pemerintah

Monitoring dan evaluasi realisasi kegiatan 10.000.000

Pengawasan kelembagaan dan kelompok 5.000.000

Laporan pertanggung jawaban akhir 8.000.000

Pengembangan riset dan kajian

Kajian riset valuasi ekonomi konservasi hutan 5.000.000

Kajian riset pengembangan agroforestry 5.000.000

Kajian fungsi konservasi dan pelestarian sumber air 5.000.000

Jumlah 38.000.000

Publikasi dalam bentuk cetak dan digital

Pemerintah Pedoman dan Penyuluhan Publikasi 5.000.000

Buku, Pamflet, brosur, Booklet Konservasi 5.000.000

Modul upaya konservasi dan pelestarian hutan 5.000.000

Pembuatan website resmi 3.000.000

Iklan digital 2.000.000

Jumlah 20.000.000 Sumber : Data Primer, diolah 2019

93

4.4. Analisis Contingent Value Method (CVM)

Pendekatan contingent value method dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui nilai willingness to pay responden terhadap kesedian membayar upaya konservasi dan pelestarian sumber daya air. Hasil pelaksanaan CVM adalah sebagai berikut:

a) Share dari Pengunjung terhadap upaya Konservasi dan Pelestarian Sumber Air Umbul Ponggok

Perhitungan willingness to pay (WTP) pengunjung dengan menggunakan metode contingent valuation method, perlu diketahui bahwa upaya konservasi dan pelestarian sumber air Umbul Ponggok dimana pembiayaannya berasal dari kontribusi pengunjung dalam upaya konservasi dan pelestarian sumber air umbul Ponggok di kawasan lereng Gunung Merapi. Share ini kemuadian dijadikan acuan dalam membangun pasar hipotetik. Kontribusi dari pengunjung dalam upaya konservasi dan pelestarian sumber air Umbul Ponggok meliputi kegiatan penanaman berbagai jenis pohon penyerap air beserta pemeliharaanya, pembibitan pohon beserta pemeliharaanya, dan pengembangan agroforestry.

Biaya dalam upaya konservasi dan pelestarian sumber air Umbul Ponggok dikawasan lereng Gunung Merapi disajikan pada tabel berikut:

Tabel 4.3

Share Dari Pengunjung terhadap upaya Konservasi dan Pelestarian Sumber Air Umbul Ponggok

Keterangan Kebutuhan x Banyak Satuan Harga Satuan Jumlah

Penanaman 10.000 Pohon (perawatan 5

tahun)

Penanaman 10.000 Pohon (sukses 95%)

Pohon mahoni 1.500 Pohon 12.000 18.000.000

Pohon Sengon 1.500 Pohon 7.000 10.500.000

Pohon akasia 2.000 Pohon 4.000 8.000.000

Pohon jabon 5.000 Pohon 2.000 10.000.000

Pohon Cadangan (Akasia) 500 pohon 7.000 3.500.000

Pupuk Kompos 15.000 Kilogram 1.500 22.500.000

Pupuk NPK/Phonska 300 Kilogram 2.000 600.000

Ajir 10.000 Buah 500 5.000.000

Upah Angkut tanaman 5/ha x 10ha HOK 75.000 3.750.000

Upah penyiapan lahan dan penanaman

pohon 125/ha x 10ha HOK

75.000 93.750.000 Pemeliharaan 5 Tahun

Pupuk NPK/Phonska 9.300 Kilogram 2.000 18.600.000

Upah Penyulaman 12 10/ha x 10 ha HOK 75.000 90.000.000

Upah Penyiangan 16 10/ha x 10 ha HOK 75.000 120.000.000

Upah Pemupukan 13 10/ha x 10 ha HOK 75.000 97.500.000

Upah Pendangiran 20 10/ha x 10 ha HOK 75.000 150.000.000

Upah Pemangkasan 5 10/ha x 10 ha HOK 75.000 37.500.000

Upah Penjarangan 16 10/ha x 10 ha HOK 75.000 120.000.000

Pembibitan 5000

Pembibitan 5.000 Pohon

Bibit Pohon Mahoni 2.000 Bibit 2.000 4.000.000

Bibit Pohon Sengon 1.000 Bibit 1.000 1.000.000

Bibit Pohon Akasia 1.000 Bibit 1.000 1.000.000

Bibit Pohon Jabon 1.000 Bibit 500 500.000

95

Dokumen terkait