MODEL-MODEL PEMBELAJARAN FISIKA DI ERA 5.0
F. UPAYA YANG HARUS DILAKUKAN INDONESIA DALAM MENGHADAPI ERA SOCIETY 5.0 PADA DUNIA PENDIDIKAN
Belum selesai dengan hiruk pikuknya era revolusi industri 4.0 Indonesia dikejutkan dengan konsep baru yaitu society 5.0 Fokus
Sudirman, 2023 | 34 keahlian bidang pendidikan abad 21 saat ini meliputi cretivity, critical thingking, communication dan collaboration atau yang dikenal dengan 4Cs (Risdianto, 2019).
Beberapa kemampuan yang harus dimiliki di abad 21 ini meliputi: leadership, digital literacy, communication, emotional intelligence, enterpreneurship, global citizenship, problem solving, team-working. Apakah pendidikan kita siap untuk menghadapi society 5.0? Beberapa cara yang bisa dilakukan oleh dunia pendidikan di Indonesia untuk menghadapi society 5.0 yaitu yang pertama dilihat dari infrastruktur, pemerintah harus berusaha untuk meningkatkan pemerataan pembangunan dan perluasan koneksi internet ke semua wilayah Indonesia, karena seperti yang kita ketahui bahwa saat ini belum semua wilayah Indonesia dapat terhubung dengan koneksi internet.
Kedua, dari segi SDM yang bertindak sebagai pengajar harus memiliki keterampilan dibidang digital dan berfikir kreatif. Menurut Zulkifar Alimuddin, Director of Hafecs (Highly Functioning Education Consulting Services menilai di era masyarakat 5.0 (society 5.0) guru dituntut untuk lebih inovatif dan dinamis dalam mengajar di kelas (Alimuddin, 2019).
Ketiga, pemerintah harus bisa menyinkronkan antara pendidikan dan industri agar nantinya lulusan dari perguruan tinggi maupun sekolah dapat bekerja sesuai dengan bidangnya dan sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan oleh industri sehingga nantinya dapat menekan angka pengangguran di Indonesia. Keempat, menerapkan teknologi sebagai alat kegiatan belajar – mengajar.
Sudirman, 2023 | 35 G. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN PADA ERA SOCIETY 5.0 a. Experiential Learning
Model pembelajran Experiental Learning adalah suatu model pembelajaran yang mengaktifkan proses pembelajaran untuk membangun pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman secara langsung. Model ini akan bermakna bila siswa berperan serta dalam melakukan kegiatan (Silberman, 2015).
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan tentang model pembelajaran Experiential Learning di antaranya oleh Raga (2014) model pembelajaran Experiential Learning berpengaruh terhadap keterampilan berfikir kritis siswa. Pengaruh-pengaruh yang positif dari model ini dimungkinkan karena model ini mampu menarik dan menantang seseorang untuk belajar sehingga menumbuhkan motivasi yang nantinya akan berpengaruh terhadap proses belajarnya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa model pembelajaran experiential learning merupakan model pembelajaran yang memperhatikan dan menitiberatkan pada pengalaman yang akan dialami dan dipelajari oleh peserta didik. Dengan terlibatnya langsung dalam proses belajar dan menkontruksi sendiri pengalaman-pengalaman yang didapat sehingga menjadi suatu pengetahuan.
Konsep Experiental Learning theory (ELT), yang kemudian menjadi dasar mdoel pembelajaran experiental learning dikembangkan oleh davud kolb sekitar awal 1980-an. Model ini menekankan pada sebuah model pembelajaran yang holistic dalam
Sudirman, 2023 | 36 proses belajar. Dalam experiental learning, pengalaman mempunyai peran sentral dalam proses belajar.
Pembelajaran Experiental Learning adalah suatu model proses belajar mengajae yang mengaktifkan pembelajaran untuk membangun pengetahuan dan keterampilan melalui pengalamannya secara langsung. Dalam hal ini, experiental learning menggunakan pengalaman sebagai katalisator untuk menolong pembelajar mengembangkan kapasitas dan kemampuannya dalam proses pembelajaran.
Tujuan dari model ini adalah untuk mempengaruhi siswa dengan tiga cara, yaitu
1) Mengubah struktur kognitif siswa 2) Mengubah sikap siswa
3) Memperluas keterampilan-keterampilan siswa yang telah ada.
Ketiga elemen tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi secara keseluruhan, tidak terpisah-pisah, karena apabila salah satu elemen tidak ada, maka kedua elemen lainnya tidak akan efektif. Model ini menekankan pada keinginan kuat dari dalam diri siswa untuk berhasil dalam belajarnya.
Model experiential learning memebri kesempatan kepada siswa untuk memutuskan pengalaman apa yang mereka ingin kembangkan, dan bagaimana cara mereka membuat konsep dari pengalaman yang mereka alami tersebut.
Fathurrohman (2015:130) menyatakan “Experiental learning “itu sendiri berisi tiga aspek, yaitu pengetahuan (konsep, fakta, dan informasi), aktivitas (penerapan dalam kegiatan) dan refleksi (analisis dampak kegiatan terhadap perkembangan
Sudirman, 2023 | 37 individu). Ketiganya merupakan kontribusi penting dalam tercapainya tujuan pembelajaran.
b. Flipped Clasroom
Flepped Clasroom merupakan model pembelajaran yang masih minim dilakukan di Indonesia. Jika kita mendnegar flipped room secara arti bahasa memang akan mengandung arti kelas yang dibalik. Tapi, bukan ruang kelas yang dibalik melainkan prosesnya.
Definis dari flipped classroom adalah proses pembelajaran di mana pengajar memberikan materi kepada para pelajar untuk dipelajari di rumah mereka dan membahas ketika sampai di rumah.
Flipped Clasroom adalah model pembelajaran yang mengurangi proses belajar langsung, dimana murid mempelajari materi pembelajaran secara mandiri dirumah terlebih dulu. Pada dasarnya, konsep pembelajaran ini yaitu pembelajaran formal di kelas dilaksanakan dirumah dan tugas rumah dari pembelajaran formal dikerjakan di kelas. Sehingga model pembelajaran flipped Clasroom disebut juga pembelajaran kelas terbalik.
Model pembelajaran ini dikenalkan pada tahun 2000 dengan tokoh yang pertama kali memperkenalkan metode belajar flipped classroom adalah J. Wesley Baker. Metode Flipped Clasroom juga diartikan sebagai pembelajaran yang mengombinasikan pembelajaran dalam dan luar kelas guna mengomptimalkan proses belajar dan mengajar yang dilakukan. Pada model pembelajaran terbalik abad ke- 21, guru sebagai fasilitator menyediakan materi yang akan dipelajari dalam bentuk video untuk murid pelajari di rumah sehingga saat di kelas murid sudah siap dengan materi pembelajaran.
Sudirman, 2023 | 38 Flipped Clasroom adalah model di mana proses belajar mengajar tidak dilakukan seperti pada umumnya yaitu dalam proses pembelajaran siswa mempelajari materi pelajaran di rumah sebelum kelas dimulai dan kegiatan belajar mengajar di kelas berupa mengerjakan tugas, membahas materi atau masalah yang belum dipahami siswa dengan teman atau guru sehingga masalah biasa diselesaikan.
Konsep Flipped Clasroom adalah bentuk pembelajaran blended (melalui interaksi tatap muka dan virtual/online) yang menggabungkan pembelajaran sinkron (synchronous) dengan pembelajaran mandiri yang di askinkron. Pembelajaran sinkron biasanya terjadi sexara real time di kelas. Sedangkan pembelajaran asinkron adalah pembelajaran yang sifatnya lebih mandiri. Kontens biasanya diakses melalui beberapa bentuk media pada platform digital.
Metode Flipped Clasroom, dibagi menjadi tigas kegiatan yaitu, sebelum kelas dimulai (pres-class), saat kelas dimulai (in-class) dan setelah kelas berakhir (out of class). Menurut Utami (2017) model pembelajaran flipped Clasroom memiliki beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:
1) Traditional Flipped 2) Mastery Flipped
3) Peer Instruction Flipped 4) Problem Based Learning Flipped
Menurut Abeysekera dan Dawson (2015), karakteristik model pembelajaran Flipped Classroom, yang membedakan dengan model pembelajaran lainnya diantarannya yait :
Sudirman, 2023 | 39 1) Murid diminta belajar secara mandiri dari video pembelajaran
yang diberi guru
2) Murid bias mengulang video pembelajaran hingga memahami materi tersebut
3) Murid bias akses video dimanapun asalkan sarannya tercukupi bahkan dapat menyalin video tersebut dengan cara diunduh atau dicopy ke flasdisk
4) Metode ini dirasa lebih efesien sebab murid mempelajari materi pembelajaran yang akan dibahas dikelas di rumah sehingga saat dikelas mereka akan fokus pada kesulitan yang mereka temukan pada materi tersebut.
Menurut Ulfa (2014: 11) langkah-langkah pembelajaran flipped classroom adalah sebagai berikut:
1) Siswa belajar mandir di rumah mengenai materi untuk pertemuan berikutnya
2) Di kelas, peserta didik dibentuk berkelompok secara acak 3) Peran guru pada saat kegiatan belajar berlangsung adalah
memfasilitasi berlangsungnya diskusi dengan metode kooperatif learning. Di samping itu, guru juga akan menyiapkan beberapa pertanyaan (soal) dari materi tersebut.
4) Guru memebrikan kuis/tes sehingga siswa sadar bahwa kegiatan yang mereka lakukan bukan hanya permainan, tetapi merupakan proses belajar, serta guru
5) Berlaku sebagai fasilitator dalam membantu siswa dalam pembelajaran serta menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan materi.
Sudirman, 2023 | 40 c. Web-Based Learning
Teknologi Informasi (TI) telah memberikan sejumlah dampak positif di berbagai bidang (Abdillah et al., 2020). Pada dunia bidang pendidikan, TI memberikan corak tersendiri dengan berbagai mode yang mungkin digunakan. Pendidikan modern di masa globalisasi dan berbasis Teknologi Informasi telah bertransformasi ke arah digital. TI telah menjadi tulang punggung proses pembelajaran modern (Abdillah et al., 2021). Proses pendidikan yang tadinya dilakukan secara klasik dengan mode tatap muka secara langsung telah mengalami pergeseran ke arah mode pembelajaran jarak jauh (distance learning). Pada mode pembelajaran distance learning, para peserta didik dapat mengakses materi perkuliahan melalui internet.
Gambar 4. Tipe Sistem Distance Education (DavidsonShivers, Rasmussen and Lowenthal, 2018)
Internet dan World Wide Web atau Web menciptakan sejumlah pilihan pendidikan jarak jauh (Distance Education).
Setidaknya ada 5 (lima) macam bentuk Distance Education
Sudirman, 2023 | 41 (Davidson-Shivers, Rasmussen and Lowenthal, 2018) seperti yang nampak pada Gambar 1, yaitu:
1) Internet & World Wide Web 2) Computer & Digital Technologies
3) Teleconference Systems & Communication Networks, 4) Broadcast Systems, dan
5) Correspondence Courses.
Khusus untuk pembelajaran yang memberdayakan internet dan WWW atau dikenal dengan e-learning memiliki 5 (lima) tipe (Horton and Horton, 2003), yaitu:
1) Learner-led e-learning.
2) Facilitated e-learning 3) Instructor-led e-learning 4) Embedded e-learning
5) Telementoring and e-coaching
“Web-Based Learning” sebagai salah satu trend TI di bidang pendidikan. Pembelajaran berbasis web sering juga disebut online learning atau e-learning karena di dalamnya terdapat konten kursus online (McKimm, Jollie and Cantillon, 2003) dan mencakup semua intervensi pendidikan yang menggunakan internet (atau intranet lokal) (Cook, 2007).
Pada kalian yang dibahas dalam “Web-Based Learning”
adalah:
1) Web-based Learning Framework
2) Advantages & Disadvantages Web-based Learning Model 3) Developing Web-based Learning
4) Web-based Learning Menggunakan Platform Moodle
Sudirman, 2023 | 42 5) Virtual Web-based Learning Menggunakan WordPress
6) Social Media Web-based Learning
7) Web-based Learning Evaluation by using Google Forms
Web-Based Learning (WBL) mengacu pada penggunaan teknologi Internet untuk menyampaikan instruksi (Aggarwal, 2003) dari dosen/guru/pendidik ke mahasiswa/siswa/peserta. Ketika merancang suatu Web-Based Learning perlu memerhatikan 8 (delapan) dimensi dari Web-Based Learning atau E-Learning Framework (Khan, 2005):
1) Pedagogical 2) Technological 3) Interface Design 4) Evaluation 5) Management 6) Resource Support 7) Ethical
8) Institutional
Sudirman, 2023 | 43 Gambar 5. Web-Based Learning Framework (khan,2005).
Lebih lanjut, Web-Based Learning atau E-Learning Framework yang ada di Gambar 4.2 dapat diuraikan dalam bentuk deskripsi yang nampak pada Tabel 1.
Tabel 1. Dimensi E-Learning Dimensi