BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
2. Usulan terhadap permasalahan
Hasil dari analisis menunjukan bahwa penanganan dan pengelolaan limbah padat di pelabuhan penyeberangan sofifi belum sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. 29 Tahun 2014 tentang pencegahan pencemaran lingkungan maritim, maka seharusnya yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Fasilitas penampungan limbah padat di wilayah pelabuhan penyeberangan sofifi
Menurut peraturan menteri perhubungan No. 29 Tahun 2014 tentang pencegahan pencemaran lingkungan maritim pasal 74 ayat 1 Setiap pelabuhan dan terminal khusus yang dioperasikan wajib memenuhi persyaratan untuk mencegah timbulnya pencemaran yang bersumber dari kegiatan operasional kapal dengan melengkapi fasilitas penampungan (Reception Facilities). Setelah dilakukan analisa pada bab sebelumnya adapun usulan pemecahan masalah yang dapat diambil pada analisa ini yaitu pihak pelabuhan penyeberangan sofifi
64 wajib memfasilitasi tempat penampungan limbah padat di kawasan pelabuhan untuk limbah yang dihasilkan dari aktivitas operasional kapal dan aktivitas pengguna jasa di pelabuhan, menyediakan tempat penampungan limbah padat pada area yang mendominasi berkumpulnya penumpang, misalnya pada ruang tempat tunggu lapangan parkir siap muat dan lapangan pengantar/penjemput penumpang, serta kantin.
Gambar 4. 30 Fasilitas penampungan untuk di dalam ruangan Sumber : jayastainless.com
Gambar 4. 31 Fasilitas penampungan untuk di luar ruangan yang seharusnya disediakan.
Sumber : Mavink.com
65 Untuk itu kami memberikan gambaran berupa Layout penentuan penambahan letak fasilitas tempat sampah dan tempat penampungan sementara sebagai penentuan penempatan fas yang seharusnya tersedia di lingkungan pelabuhan dengan rincian penambahan tempat sampah sebanyak 2 (dua) di dalam ruang tunggu, 2 (dua) di depan loket dan kantor, 1 (satu) di lapangan parkir kendaraan, 5 (lima) di lapangan parkir siap muat, 2 (dua) di area kantin pelabuhan, dan 1 (satu) tempat penampungan sementara bersifat bergerak (Mobile) sebagai upaya penanganan dan pengelolaan limbah di area pelabuhan penyeberangan sofifi. Gambar dapat dilihat pada Lampiran 1.3.
b. Penanganan dan Pengelolaan limbah padat di pelabuhan penyeberangan sofifi
Menurut peraturan menteri perhubungan No. 29 tahun 2014 tentang pencegahan pencemaran lingkungan maritiim pasal 75, Fasilitas penampungan (Reception Facilities) sebagaimana dimaksud dalam pasal 74 harus dirancang dan ditempatkan secara memadai untuk memenuhi keperluan penampungan tanpa mengakibatkan keterlambatan yang tak perlu bagi kapal (undu delay) dan pasal 77, Fasilitas penampungan (Reception Facilities) di pelabuhan seharusnnya dibuat dengan tipe tetap dan ataupun tipe bergerak (Mobile) dimana harus memadai untuk menampung limbah dari kapal.
Kondisi yang saat ini ada di lapangan pihak pelabuhan wajib menyediakan tempat penampungan limbah sebagai upaya dalam penanganan dan pengelolaan limbah yang dihasilkan oleh aktivitas operasional kapal serta aktivitas pengguna jasa, tempat penampungan limbah tersebut dapat bersifat tetap maupun bersifat bergerak (Mobile), dan seharusnya pihak pelabuhan penyeberangan sofifi dapat melakukan kerjasama dengan instansi terkait sebagai kerjasama dalam pengadaan fasilitas penampungan limbah dalam upaya penanganan dan pengelolaan limbah di area pelabuhan, bentuk tempat penampungan limbah yang dapat menjadi contoh adalah sebagai berikut :
66 Gambar 4. 32 Contoh tempat penampungan limbah padat
yang bersifat tetap Sumber : Kumparan.com
Gambar 4. 33 Contoh tempat penampungan limbah padat yang bersifat bergerak (Mobile).
Sumber : www.karyaerat.co.id
c. Pengawasan oleh pejabat yang berwenang terhadap penanganan dan pengelolaan limbah padat di pelabuhan penyeberangan sofifi
Berdasarkan peraturan menteri perhubungan No. 29 tahun 2014 tentang pencegahan pencemaran lingkungan maritim pasal 79, kegiatan pengawasan terhadap pembuangan dan penampungan limbah di pelabuhan dilakukan syahbandar di pelabuhan setempat, kondisi dillapangan tidak ada pengawasan oleh pejabat terkait yaitu syahbandar dari BPTD yang mengawasi terhadap pembuangan limbah
67 dan penampungan limbah yang dihasilkan oleh operasional kapal serta aktivitas pengguna jasa di pelabuhan, seharusnya pihak pelabuhan penyeberangan sofifi menyiapkan petugas syahbandar, serta pihak syahbandar juga mempersiapkan kebutuhan personil sebagai pengawas dalam upaya pembuangan dan penampungan limbah dalam upaya penanggulangan limbah di pelabuhan penyebernagan sofifi, adapun kebutuhan personil dalam upaya penanggulangan limbah di pelabuhan yaitu :
1) 6 (enam) orang operator atau pelaksana
2) (satu) orang penyedia atau komando lapangan dan ; 3) 1 (satu) orang manajer atau administrator
d. kerjasama (Memorandum of Understanding) antara pelabuhan penyeberangan sofifi dengan instansi terkait dengan masalah pengangkutan limbah padat.
Pihak pelabuhan seharusnya melakukan kerjasama dengan instansi terkait dalam hal penanganan limbah padat di pelabuhan, serta melakukan koordinasi terkait pengadaan tempat penampungan sebagai upaya dalam melakukan penanganan limbah di area pelabuhan dan sebaiknya dilakukan pengangkutan limbah padat yang ada di area pelabuhan untuk spesifiknya berada disamping lapangan parkir siap muat atau tepat dipinggir pelabuhan dikarenakan jika tidak diangkut akan mencemari lingkungan laut karena limbah padat yang mendominasi adalah limbah plastik yang tidak dapat terurai.
e. Penambahan Petugas Kebersihan dan Pemasangan poster atau spanduk larangan membuang sampah sembarangan
Pelabuhan penyeberangan sofifi harus menambah jumlah petugas kebersihan yang sebelumnya hanya 1 orang agar kegiatan pembersihan area pelabuhan dapat dilaksanakan dengan lebih cepat dan terkait jumlah petugas kebersihan dapat menyesuaikan dengan anggaran yang ada pada pelabuhan penyeberangan sofifi, serta pihak pelabuhan harus memasang spanduk larangan karena ini adalah salah satu cara
68 mencegaha dan meminimalkan pembuangan limbah padat sembarangan. efektivitas pemasangan spanduk himbauan ini mempunyai nilai normatif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan hal terkait. Selain itu cara pemasangan spanduk himbauan seperti dilarang membuang limbah padat sembarangan ini tergolong cepat dalam penyampaian informasi dan ekonomis dalam pembuatannya.
Dengan dipasangkan spanduk himbauan dilarang membuang limbah padat sembarangan pada lingkungan pelabuhan diharapkan masyarakat yang ada dalam lingkungan pelabuhan ataupun masyarakat pengguna jasa dapat mengurangi jumlah limbah padat yang dibuang sembarangan tidak pada tempatnya. Berikut contoh spanduk himbauan membuang limbah padat sembarangan :
Gambar 4. 34 Poster larangan membuang sampah ke laut Sumber : Tim Praktek kerja lapangan Maluku Utara (2024)
69 Gambar 4. 35 Spanduk himbauan membuang sampah pada tempatnya Sumber : Tim Praktek Kerja Lapangan Maluku Utara (2024)
f. Tingkat Penerapan SOP (Standar Operational Procedure)
Berdasarkan data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa standar operasional prosedur sudah selayaknya diadakan dalam memenuhi persyaratan pelabuhan yang berwawasan lingkungan nyaman dan bersih. Serta jika terjadinya suatu musibah mengenai pencemaran dalam jumlah besar dapat ditanggulangi dengan segera, yang mana pihak pelabuhan penyeberangan sofifi sebagai regulator dan dinas perhubungan kota tidore kepulauan sebagai operator pelabuhan dapat mengatasi pelimpahan wewenang tersebut, standar operasional prosedur sudah selayaknya untuk dijalankan apabila terjadinya pencemaran yang diakibatkan oleh limbah dari hasil kegiatan operasional kapal dan kegiatan pengguna jasa di pelabuhan seperti temuan oleh peneliti saat sedang melakukan obervasi, selain itu peneliti juga merancang Standar Operasional Prosedur sebagai bahan masukan bagi intansi penyelenggara transportasi yaitu pelabuhan penyeberangan sofifi dalam upaya penanganan dan pengelolaan limbah padat yang terdapat pada lampiran.
70 BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN
Hasil dari analisis data serta pembahasan permasalahan pada bab sebelumnya, diperoleh kesimpulan mengenai usulan perbaikan sistem penanganan dan pengelolaan limbah padat dari kegiatan di pelabuhan penyeberangan sofifi, yaitu :
1. Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 29 Tahun 2014 tentang pencegahan pencemaran lingkungan maritim pasal 74 ayat 2 setiap pelabuhan dan terminal khusus yang dioperasikan wajib memenuhi persyaratan untuk mencegah timbulya pencemaran yang bersumber dari kegiatan operasional kapal dengan melengkapi fasilitas penampungan (Reception Facilities). Sesuai dengan survei yang telah dilakukan di pelabuhan penyeberangan sofifi didapati masih kurangnya ketersedian tempat penampungan limbah padat yang tersedia di area-area yang mendominasi berkumpulnya penumpang misalnya ruang tempat tunggu penumpang, lapangan parkir siap muat dan lapangan parkir pengantar/penjemput penumpang dimana area ini sering terjadinya penumpukan dimana pengguna jasa membuang limbah padat sembarangan tidak pada tempatnya.
2. Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 29 Tahun 2014 tentang pencegahan pencemaran lingkungan maritim pasal 79 kegiatan pengawasan terhadap pembuangan dan penampungan limbah di pelabuhan dilakukan oleh Syahbandar di pelabuhan setempat, kondisi dilapangan tidak ada pengawasan oleh pejabat terkait yaitu syahbandar dari BPTD yang mengawasi terhadap pembuangan dan penampungan limbah yang dihasilkan oleh aktivitas operasional kapal dan aktivitas pengguna jasa.
3. Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 29 Tahun 2014 tentang pencegahan pencemaran lingkungan maritim pasal 75, fasilitas penampungan (Reception Facilities) sebagaimana dimaksud dalam pasal 74 harus dirancang dan ditempatkan secara memadai untuk memenuhi
71 keperluan penampungan tanpa mengakibatkan keterlambatan yang tidak perlu bagi kapal (undue delay) dan pasal 77, fasilitas penampungan (Reception Facilities) di pelabuhan dapat dirancang dengan tipe yang bersifat tetap dan ataupun tipe yang dapat bergerak (Mobile) yang memadai untuk menampung limbah dari kapal. Pada pelabuhan penyeberangan sofifi dimana tempat penampungan limbah padat yang dihasilkan oleh aktivitas operasional kapal dan kegiatan pengguna jasa di pelabuhan belum tersedia di lingkungan pelabuhan, hal ini yang membuat limbah padat yang dihasilkan menumpuk di area pinggir pelabuhan yang dijadikan tempat penampungan limbah padat tanpa adanya penanganan lebih lanjut.
4. Berdasarkan dari hasil wawancara pada pihak operator dan regulator pelabuhan penyeberangan sofifi didapati belum adanya standart operational procedures dalam hal penanganan dan pengelolaan limbah padat yang ada pada pelabuhan penyeberangan sofifi dimana seharunya hal ini sudah dibuat agar ada landasan terkait kegiatan penanganan dan pengelolaan limbah padat di pelabuhan serta tidak ada kegiatan seperti pembuangan dan pembakaran limbah padat yang dapat mencemari lingkungan.
B. SARAN
Usulan perbaikan sistem penanganan dan pengelolaan limbah padat oleh aktivitas operasioanal kapal dan pengguna jasa di pelabuhan penyeberangan sofifi, bagi pihak satuan pelayanan pelabuhan penyeberangan sofifi, BPTD Kelas II Maluku Utara dan Dinas Perhubungan Kota Tidore Kepulauan sebagai berikut :
1. Untuk melakukan pengadaan fasilitas penampungan limbah padat di area dimana terjadinya penumpukan penumpang seperti ruang tunggu penumpang, lapangan parkir siap muat kendaraan, lapangan parkir pengantar/penjemput penumpang dan kantin pelabuhan serta menambah petugas kebersihan yang awalnya 1 menjadi beberapa orang sesuai dengan anggaran yang ada dan melakukan pemasangan poster atau spanduk
72 larangan di ruang tunggu pelabuhan, kantin dan area yang mendominasi penumpang lainnya terhadap pembuangan limbah padat secara sembarangan terutama membuangnya ke tepi pantai.
2. Menyiapkan petugas syahbandar sebagai pengawas dalam pembuangan dan penampungan limbah/sampah dan merekrut petugas kebersihan pelabuhan, agar penanganan dan pengelolaan limbah di pelabuhan penyeberangan sofifi dapat berjalan dengan maksimal.
3. Menyediakan fasilitas penampungan limbah padat yang bersifat bergerak (Mobile) di area pelabuhan penyeberangan sofifi mengingat area pelabuhan yang sangat terbatas dan dekat dengan pemukiman maka sangat disarankan menggunakan fasilitas penampungan tipe bergerak (container) dengan sifat bergerak (Mobile).
4. Membuat SOP (Standart operational procedures) sebagai prosedur yang terstandarisasi mengikuti peraturan yang ada terkait penanganan dan pengelolaan limbah padat di pelabuhan penyeberangan sofifi.
73 DAFTAR PUSTAKA
ADNYANA, I. K. (2017). PERENCANAAN TEMPAT PENAMPUNGAN SEMENTARATERPADU DENGAN PENGELOLAAN SAMPAH ORGANIK ANAEROB DIGESTER. 10, 13-15,.
Daniel Imanuel Tangkau, R. O. (2020). Perencanaan Pengelolaan Limbah Padat . JURNAL TEKNIK ITS Vol. 9.
Irwan Ridwan Rahim, S. H. (2013). STUDI PENGELOLAAN SAMPAH PELABUHAN SEOKARNO-HATTA, MAKASSAR.
Irwan Ridwan Rahim, S. H. (2014). STUDI PENGELOLAAN SAMPAH . Simposium Nasional RAPI XIII.
Klasifikasiwarnasampah.(n.d.).Mavink.com.https://mavink.com/explore/Klasifika si-Warna-Sampah
Marine Polution 1973/1978. 2013 annex V Amandemen 2013.
Pasla, B. N. (2023, february 15). Limbah Domestik: Pengertian dan Contohnya.
Jambi, Jambi, Indonesia.
Pemerintah Indonesia. (2008). Undang-Undang Nomor 17 Tentang Pelayaran.
Jakarta: Presiden Republik Indonesia.
Pemerintah Indonesia. (2010). Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tentang Perlindungan Lingkungan Maritim. Jakarta: Presiden Republik Indonesia.
Pemerintah Indonesia. (2013). Peratuan Menteri Perhubungan Nomor 13 Tentang Penanggulangan Pencemaran di Perairan dan Pelabuhan
Pemerintah Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 29 Tentang Pencegahan Pencemaran Lingkungan Maritim. Jakarta: Presiden Republik Indonesia.
Rahma, R. (2023, June 30). Pengertian Limbah Domestik & Contoh Limbah Domestik. Gramedia Literasi. https://www.gramedia.com/literasi/limbah- domestik/
Retno Muninggar, H. R. (2022). PERIKANAN, PENGELOLAAN LIMBAH PADAT DI PELABUHAN. ALBACORE 5.
Safira Rizkiah Wahyudi, H. I. (2023). Model Evaluasi Fasilitas Pengelolaan Limbah : Studi Kasus Pelabuhan Tanjung . Model Evaluasi Fasilitas Pengelolaan Limbah .
Tri Kusumaning Utami, F. S. (2013). KAJIAN PEMANFAATAN RECEPTION FACILITIES. KAJIAN PEMANFAATAN RECEPTION FACILITIES DI PELABUHAN BELAWAN.
74 LAMPIRAN
Lampiran 1. 1 Standart Operational Procedures (SOP) Yang diajukan oleh peneliti
PENANGANAN DAN PENGELOLAAN SAMPAH PELABUHAN
STANDART OPERATIONAL
PROCEDURES
No. Dokumen : No. Revisi : Tanggal Terbit : BPTD KELAS II
MALUKU UTARA Halaman : 1. Tujuan
Meminimalisir dampak negatif dari limbah kegiatan pengguna jasa di lingkungan pelabuhan penyeberangan sofifi provinsi maluku utara.
2. Penanggung Jawab
a. BPTD KELAS II Provinsi Maluku Utara
b. Kasi Transportasi Sungai Danau dan Penyeberangan c. Satuan Pelayanan Pelabuhan Sofifi
3. Acuan
3.1 UU Nomor 17 tahun 2008 tentang pelayaran.
3.2 PP Nomor 21 tahun 2010 tentang perlindungan lingkungan maritim.
3.1 PM Nomor 29 tahun 2014 tentang pencegahan pencemaran lingkungan maritim.
3.2 UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
3.3 (MARPOL 1973/1978) annex V.
3.4 Permenhub Nomor 58 tahun 2013 tentang penanggulangan pencemaran di perairan dan pelabuhan.
75 4. Prosedur
4.1 Pembuatan Tempat Sampah 4.1.1 Perkantoran
4.1.1.1 Setiap perkantoran harus dilengkapi dengan tempat sampah yang memadai, terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, kedap air, dan memiliki permukaan halus pada bagian dalamnya serta dilengkapi dengan penutup.
4.1.1.2 Bisa terbuat dari kaleng bekas cat, kayu atau drum bekas.
4.1.1.3 Penempatan bisa di dalam ruangan maupun di luar ruangan, tergantung pada jenis sampah yang dibuang.
4.1.2 Kantin di lingkungan Pelabuhan
4.1.2.1 Setiap Kantin di lingkungan Pelabuhan harus dilengkapii dengan tempat sampah dibuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air serta mempunyai permukaan yang halus dibagian dalamn dan dillengkapi dengan penutup.
4.1.2.2 Dapat terbuat dari barang bekas seperti jerigen/galon , kaleng ember cat dengan tutupnya, khusus bekas chemical harus dibuang label dan dicuci dengan bersih sebelum dipakai.
4.1.2.3 Penempatan harus berada diluar ruangan yang dapat dijangkau.
4.1.2.4 Tempat sampah bagi kantin di lingkungan Pelabuhan harus seragam.
4.2 Pembuatan dan Penempatan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (Permanen atau Bergerak).
4.2.1 Tempat penampungan sampah sementara menggunakan dinding yang terbuat dari tembok dengan alas yang kedap air (permanen).
4.2.2 Jarak dari rumah warga atau kantin di sekitar tempat penampungan sementara ≥15 meter agar tidak mengganggu rumah atau kantin terdekat.
4.2.3 Tempat Penampungan Sementara dibuat dalam area yang masih jangkauan.
76 4.2.4 Tempat penampungan sampah sementara dibuat dengan sifat bergerak
(Movable).
4.2.5 TPS bergerak diletakkan pada tempat yang masih dalam jangkauan serta tidak terlalu dekat dengan area dominasi penumpang.
5. Pelaksanaan
5.1 Masing-masing pegawai dilingkup pelabuhan dan pelaku usaha kantin pelabuhan wajib menjaga kebersihan area pelabuhan serta pelaku usaha kantin diwajibkan mengumpulkan sampah secara rutin pada Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang disediakan dan membersihkan halaman sekitar kantin pelabuhan.
5.2 Petugas kebersihan harian bertanggung jawab untuk mengambil sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan mengangkutnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional yang ada di daerah menggunakan alat yang sudah disediakan.
5.3 Petugas diharuskan membersihkan ceceran sampah di sekitar Tempat Penampungan Sementara (TPS) pada saat mengambil sampah.
6. Ketentuan K3
6.1 Petugas harus memastikan bahwa tugasnya dilaksanakan dengan penuh perhatian terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
6.2 Peralatan K3 yang sesuai, seperti sarung tangan karet, masker, dan sepatu karet safety harus digunakan.
Catatan :
"Tidak diizinkan melakukan pembakaran sampah dalam bentuk apapun tanpa izin dari pihak kantor satuan pelayanan Pelabuhan Penyeberangan Sofifi."
77 Lampiran 1. 2 Alur Penanganan dan Pengelolaan Sampah Pelabuhan Penyeberangan Sofifi.
78 Lampiran 1. 3 Layout Peletakan Tempat Sampah dan Tempat Penampungan Sementara