• Tidak ada hasil yang ditemukan

WAKAF VERSUS KAPITALISME

Dalam dokumen Manajemen Wakaf Produktif - Repository UMJ (Halaman 129-145)

WAKAF VERSUS KAPITALISME

W

akaf bukanlah kata baru dalam khazanah budaya umat Islam, dengan mudah kita menemukan tanah wakaf, masjid, madrasah, dan juga tentunya kuburan. Namun say- ang sepertinya Indonesia relatif terlambat mengkapitalisasi potensi yang amat besar tersebut sebagai kekuatan ekonomi umat yang sangat berpeluang menjadi solusi ekonomi yang lebih adil.

Wakaf adalah salah satu lembaga Islam yang bersifat sosial kemasyarakatan, bernilai ibadah, dan sebagai pengabdian kepada Allah swt. Dalam kamus bahasa arab al-Munjid (1986: 916 dan 114) kata Wakaf berasal dari bahasa Arab (waqafa -- yaqifu – waqfa) yang berarti berhenti, persamaannya adalah habasa, atau (habasa—yahbisu—habsan wa mahbasa). Pada zaman Nabi saw dan para sahabat dikenal dengan istilah habs, tasbil, atau tahrim. Belakangan baru dikenal waqf. Menurut Encyclopedia Britania Wakaf adalah suatu institusi khusus dalam Islam dengan jalan pemilik melepaskan hak miliknya, untuk selanjutnya menjadi milik Allah dengan maksud agar harta tersebut dimanfaatkan selamanya untuk tujuan kebaikan, termasuk untuk keperluan keluarganya, (Fathurrohman, 2006: 36-37).

Imam Nawawi mendefinisikan Wakaf dengan ”Menahan

harta yang dapat diambil manfaatnya bukan untuk dirinya.

Sementara benda itu tetap ada. Dan digunakan manfaatnya untuk kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah”.

Terlihat dengan jelas wakaf mempunyai watak abadi, artinya wakaf merupakan aset yang abadi, yang akan selalu bertambah dan tumbuh dan kepemililkan wakaf adalah milik Allah. Aset nasional wakaf mencapai Rp. 590 triliyun, Jumlah tanah wakaf di Indonesia mencapai 2.686.536.656,68 meter persegi atau 268.653,67 hektar yang tersebar di 366.595 lokasi diseluruh Indonesia, ini merupakan tanah wakaf terluas di dunia. Potensi wakaf uang di Indonesia mencapai Rp. 3 triliyun pertahun (Nasution, 2002).

Merupakan potensi besar bagi pembangunan.

Melihat potensi wakaf yang tidak akan berkurang, malah terus bertambah seiring dengan wakatu, maka diyakini kuat Wakaf bisa menjadi pesaing berimbang penguasaan aset oleh Kapitalisme.

Kapitalisme

Kapitalisme atau Kapital adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan membuat keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.

Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tetapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untuk kepentingan-kepentingan pribadi (wikipedia).

Kapitalisme global dalam dirinya sendiri mempunyai daya kemajuan yang bisa mempermudah dan membantu

manusia dalam menjalankan aktivitas hidupnya. Namun kemajuan yang sama bisa membawa dunia dalam perubahan yang semakin sulit untuk dikendalikan oleh manusia.

Semangat kemajuan yang melekat dalam diri kapitalisme global mempunyai kecendrungan untuk membawa dunia dalam situasi yang penuh dengan ketidakpatian, penuh dengan ketimpangan dan hegemoni. (Kushendrawati, 2006).

Stiglitz, peraih nobel ekonomi 2001, menyebutkan bahwa krisis keuangan AS terjadi akibat kesalahan di hampir semua putusan ekonomi yang dalam bahasa arsitek kerap disebut “system failure”. Kondisi ini telah dimulai sejak pergantian Paul Voleker yang lebih memandang perlunya pengaturan dalam pasar keuangan, oleh Alan Greenspan sebagai Chief the Fed. Pilihan kebijakan lain yang juga menjadi akar krisis, antara lain terlihat dari kebijakan-kebijakan di sekitar Wall Street yang cendrung memberi perlindungan lebih kepada dunia perbankan AS dalam spekulasi dan derivasi produk keuangan, kebijakan anggaran dimasa George W Bush, dan ketidakacuhan terhadap sejumlah skandal keuangan yang sebelumnya telah terjadi seperti dalam kasus Enron dan Worldcom.

Barry Eichengreen, melihat akar krisis selain berasal dari keserakahan pelaku pasar (greed and corruption on Wall Street) juga menunjukkan beberapa kebijakan ekonomi dalam beberapa dasawarsa terakhir sebagai sebab utama terjadinya krisis (Hamid, 2009).

Sistim moneter kapitalisme yang saat ini diterapkan oleh mayoritas negara di dunia baru berusia sekitar 240 tahun. Tapi dalam waktu tersebut telah puluhan kali

mengalami krisis moneter yang berdampak pada hancurnya perekonomian suatu negara bahkan kemudian berimbas kepada negara-negara lain di dunia, dan tentu membuat kehidupan masyarakat dunia terpuruk (Indrianto, 2016).

Sistim kapitalisme sebenarnya sudah terang benderang membuat krisis yang berulang dalam perekonomian.

Dominasi kapitalisme didunia tak bisa dihindari karena gagalnya sistim sosialisme di belahan bumi lainnya.

Kapitalisme bukan hanya menyebabkan krisis yang berulang, juga membuat ketimpangan ekonomi yang semakin tajam.

Dalam pandangan Kapitalisme, setiap individu, berhak untuk melakukan maksimalisasi penguasaan aset dimanapun mereka berada, konon 5% orang didunia menguasai 95%

aset dan uang di dunia, kebalikannya adalah 95% orang didunia, berebut aset 5% saja. Ketimpangan nyata dengan mudah terlihat, tidak hanya di pedesaan, juga diperkotaan.

“Dalam 15 tahun terakhir, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat. Pencapaian ini telah mengurangi tingkat kemiskinan dan memperbesar jumlah kelas menengah. Namun, manfaat dari pertumbuhan ini lebih dinikmati oleh 20% masyarakat terkaya. Sekitar 80 persen penduduk – atau lebih dari 205 juta orang – rawan merasa tertinggal. Antara tahun 2003 hingga 2010, bagian 10 persen terkaya di Indonesia mempertambah konsumsi mereka sebesar 6% per tahun, setelah disesuaikan dengan inflasi. Bagi 40% masyarakat termiskin, tingkat konsumsi mereka tumbuh kurang dari 2% per tahun. Hal ini mengakibatkan koefisien Gini naik pesat dalam 15 tahun – naik dari 30 pada tahun 2000 menjadi 41 pada tahun 2013”

(worldbank.org).

Kondisi inilah yang dengan nyata bisa kita lihat saat ini, jika anda tinggal di perkotaan besar seperti di Jakarta, anda bisa menemukan orang-orang yang hidup mewah, dengan pendapatan ratusan bahkan milyaran rupiah perbulan, namun tidak jauh dari kantor-kantor mereka yang mempunyai pendapatan super tinggi tersebut, kita akan menemukan masyarakat yang kurang beruntung, bahkan untuk mendapatkan makan untuk sehari-haripun, mereka harus mengkais-kais sampah.

Menyedihkan dan sangat menyedihkan, untuk itu kita harus mau dan berani melakukan evaluasi terhadap sistim ekonomi yang digunakan, yakinkah pembangunan yang kita lakukan melahirkan kesejahteraan apalagi bahagia?

Sistim yang ada mendorong kalaupun kelas menengan tumbuh, tingkat konsumsi tinggi, melahirkan sosok yang mudah berhutang, yakinkah kita bisa bahagia dengan hutang?, baik individu, perusahaan bahkan negara. Per Februari 2017 hutang Indonesia mencapai angka Rp. 3.589 Triliyun (republika.co.id). Telah melewati total APBN Indonesia Rp. 2.080 Triliyun.

Akibatnya keseimbangan primer keuangan negara terganggu. Keseimbangan primer merupakan selisih dari total pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Bila pendapatan lebih besar dari belanja negara di luar pembayaran bunga utang, maka keseimbangan primer akan positif atau surplus.

Sejak 2012 mulai defisit sebesar Rp 52,7 triliun. Begitu pun yang terjadi pada 2013, dengan besaran defisit Rp 98,6 triliun, lalu 2014 defisit sebesar Rp 93,2 triliun.

Lewat kondisi defisit ini, berarti pemerintah sudah tidak memiliki kemampuan untuk membayar bunga utang dari hasil penerimaan negara. Pemerintah harus mencari utang baru untuk membayar bunga utangnya. Lonjakan drastis keseimbangan primer terjadi pada 2015, yang nilainya menjadi Rp 142,4 triliun. Pada 2016, dalam APBN Perubahan (APBN-P) dicantumkan defisit keseimbangan primer Rp 105,5 triliun dan defisit keseimbangan primer di 2017 diperkirakan sebesar Rp 111,4 triliun. (finance.

detik.com). Pada tahun 2017 pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 221 triliun untuk membayar utang, pemerintah juga dipastikan akan menambah utang dalam rangka menutup defisit anggaran APBN 2017 sebesar 2,41 persen dari PDB atau Rp 330 triliun (bisniskeuangan.

kompas.com). Data ini memberikan informasi bahwa saat ini pemerintah sudah tidak mempunyai kemampuan dalam membayar bunga hutang, untuk membayar bunga hutang saja, pemerintah mencari hutang baru. Kondisi ini dikhawatirkan menjerumuskan Indonesia pada perangkap hutang yang tidak berkesudahan. Dan ini bagian dari corak kapitalisme, yang kaya semakin kaya dan yang miskin akan tetap atau bahkan semakin miskin?

Masihkah kita percaya dengan sistim kapitalisme yang menjadi corak ekonomi dunia saat ini, yakinkah sistim ini tepat?, dan tidak terfikirkankah kita alternatif lain yang secara bertahap menjadi solusi perekonomian dunia?.

Wakaf Versus Kapitalisme

Wakaf berpotensi menjadi lawan berimbang kapitalisme, karena karakter wakaf yang abadi, ini berarti

secara prinsip wakaf tidak akan berkurang, terus bertambah dan berkembang, karakter inilah yang pada akhirnya bisa melahirkan akumulasi aset yang sangat besar dan bisa menjadi kekuatan besar untuk menandingi kapitalisme.

Dari hasil wawancara dengan nadzir wakaf al-azhar, Jakarta, diketahui mereka mempunyai program akan membeli lahan kelapa sawit 6000 hektar, seperti yang penulis paparkan berikut ini:

“Wakaf perkebunan sawit adalah wakaf tunai untuk diproduktifkan melalui akuisisi perkebunan sawit.

Penghimpunan dimulai dari tahun 2011 dan terus dilanjutkan sampai memadai untuk membeli minimal 6.000 ha di Mamuju.

Direncanakan didaerah Mamuju yang sudah didukung oleh pemerintah dan masyarakat setempat. Insya Allah akan dibantu dikelola oleh advisor perkebunan sawit yang saat ini menjadi salah satu komisaris di perusahaan perkebunan sawit. Caranya dengan mengakuisisi perkebunan yang layak sehingga lebih cepat menghasilkan”

“Belajar dari negeri tetangga yang menginvestasikan dana tabung hajinya melalui kurang lebih 200.000 hektar perkebunan sawit di Indonesia dan darinya mereka memberikan fasilitas yang nyaris 2X lipat nilainya dari fasilitas yang diterima jamaah haji Indonesia dan konon ditambah dengan cash back 50%. Hanya dengan Rp.

150.000,- anda sudah berwakaf produktif 10M2 perkebunan sawit dan membiayai penggelolaannya untuk jangka waktu 25- 30 tahun. Setiap 1M2 bernilai wakaf tanah perkebunan Rp.

10.000,- dan operasional pengembangan wakaf Rp. 5.000,-.

Bebas biaya replanting hingga akhir zaman. Dapat sertifikat bila berwakaf mulai dari Rp. 1.500.000,-. Dapat sertifikat dan kavling wakaf bila berwakaf mulai dari Rp. 15.000.000,-.

Hasilnya untuk pendidikan dan dakwah. Melihat potensi yang

luar biasa besar tersebut untuk kemaslahatan bangsa dan dengan dukungan tenaga ahli perkebunan sawit di Indonesia, wakaf al- azhar peduli ummat melalui badan usaha milik wakaf berikhtiar mengelola dan menyalurkan hasil wakaf produktif perkebunan sawit untuk: (a). Menyediakan wadah investasi akhirat yang abadi bagi para Wakif. (b). Ikut memakmurkan masyarakat melalui program indonesia gemilang. (c). Ikut mengentaskan kemiskinan dan pengganguran usia produktif melalui program rumah gemilang Indonesia. Rencanakan wakaf anda dan raih pahala yang terus mengalir abadi melalui program wakaf produktif perkebunan sawit”.

Nadzhir Wakaf Al-azhar juga mempunyai program produktif lainnya, diantaranya wakaf 100 hektar perkebunan buah-buahan berikut ini:

“Wakaf perkebunan buah-buahan adalah wakaf tunai untuk diproduktifkan melalui perkebunan buah-buahan lokal seperti manggis, durian, duku, salak. Hanya dengan Rp. 15.000,- / m2. Bahu membahu membeli lahan dan membuka perkebunan buah-buahan lokal. Perkebunan buah-buahan lokal, merupakan salah satu bisnis untuk meningkatkan kesejahteraan petani buah lokal. Penghimpunan mulai dari tahun 2015 dan terus dilanjutkan sampai memadai untuk membeli minimal 100 hektar. Direncanakan di daerah Jawa Barat. Insya Allah akan dibantu dikelola oleh advisor perkebunan buah dan para praktisi lainnya. Dengan cara memproduktifkan lahan sekitar yang kurang produktif agar jadi lebih produktif.”

Program selanjutnya adalah perkebunan Jati Kebon (Jabon), berikut ini:

“Wakaf Perkebunan Jabon adalah wakaf tunai untuk diproduktifkan melalui perkebunan jabon. Karena merupakan

salah satu bisnis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dengan konsep tumpang sari. Penghimpunan mulai dari tahun 2011 dan dimulai dengan perkebunan di Ciseeng Bogor dan akan terus dikembangkan di daerah-daerah sekitar Jabodetabek untuk dijadikan hutan kota yang produktif. Insya Allah akan dibantu dikelola oleh advisor perkebunan dan para praktisi lainnya. Dengan cara memproduktifkan lahan sekitar yang kurang produktif agar lebih produktif ”

“Wakaf perekebunan ini untuk dibelikan pohon jati kebon (jabon) sebesar Rp. 95.000,-/m (Rp 70.000.-/m tanah + Rp 25.000,- untuk pohon dan biaya operasional 5 s/d 8 tahun). Wakaf pohon Jabon ini adalah salah satu bentuk upaya memproduktifkan lahan wakaf agar segera berdaya guna bagi masa depan pendidikan dan dakwah sesuai dengan cita-cita besar wakaf produktif Al- Azhar yang berada dibawah naungan Yayasan Pesantren Islam wakaf Al-Azhar. Teknis pelaksanaannya melalui kerjasama agribisnis penanaman pohon jabon dan singkong ditanah wakaf yang berlokasi di Ciseeng, Bogor, yang kesepakatannya telah ditandatangani pada bulan Oktober 2012. Kerjasama ini akan berlangsung selama delapan tahun dimana penanaman pohon jabon dan singkong akan dilakukan secara tumpangsari selama kurun 5-8 tahun dan 2 tahun. Sebagai permulaan, wakaf Al- Azhar telah mendayagunakan tanah wakaf Al-Azhar yang terletak di desa Cibentang kecamatan Parung kabupaten Bogor seluas lebih kurang 2 hektar untuk ditanami 2.500 pohon jabon dan 31.250 tanaman singkong. Wakaf perkebunan jati kebon (Jabon) yaitu berupa 1M2 tanah perkebunan, variasinya juga ada family yaitu berupa paket 10M2 tanah dan 1 batang pohon Jabon”.

Di atas hanyalah sebagian kecil dari program nadzhir wakaf produktif di Indonesia, banyak nadzhir wakaf di

Indonesia yang juga mempunyai program sejenis. Program wakaf seperti ini akan menjadi solusi penguasaan aset kembali ke umat Islam. Sudah menjadi realita bahwa lahan pertanianpun sudah dikuasai pemilik modal (baca;

kapitalisme), lahan pertanian ribuan hektar saat ini bukanlah dikuasai oleh petani, namun dikuasai oleh perusahaan- perusahaan yang mempunyai lini usaha pertanian, petani hanya memiliki beberapa hektar saja, bahkan ada petani yang saat ini menjadi pegawai di perusahan-perusahaan yang menguasai lahan-lahan tersebut, saking tragisnya bahkan ada petani yang menjadi buruh diperusahaan dan lahan perusahaan-perusahaan tersebut. Sungguh memprihatinkan, lahan-lahan dikuasai kapitalisme.

Alur yang sama bisa diadabtasi oleh nadzhir wakaf untuk penguasaan aset strategis di kota-kota besar, sebutlah perkantoran area Sudirman Central Business District (SCBD), Mega Kuningan, Sudirman dan TB Simatupang di Jakarta, yang sekarang sudah banyak berpindah tangan ke kapitalisme, sebagiannya adalah asing. Sementara anak-anak kita bisa bekerja saja di perusahaan-perusahaan tersebut, bagi mereka sudah membanggakan. Begitu juga pusat perbelanjaan (Mall) dikota-kota besar saat ini dikuasai oleh kapitalisme, bahkan sampai ke mini market, properti berupa perumahan dan appartemen, saat ini dikuasai oleh kapitalisme.

Dengan demikian harus ditumbuhkan kesadaran bersama untuk “melawan” kapitalisme global yang merugikan pemilik sah tanah air mereka masing-masing.

Gerakan wakaf bisa mengembalikan marwah setiap bangsa dengan cara mengembalikan aset strategis bangsa kepada

pemilik sahnya, bukan kaum kapitalisme.

Mekanisme yang ditawarkan wakaf adalah sebagai berikut:

Berikut penjelasan lebih lanjut:

1. Inventarisir aset wakaf dan kampanye pentingnya berwakaf

Lakukan inventarisir aset wakaf yang ada, termasuk potensi pengembangannya, karena banyak aset wakaf yang jika dikelola, bisa melahirkan gerakan ekonomi yang besar bagi masyarakat. Kategorisasikan cara mengelola aset wakaf agar produktif, seperti berikut:

a. Wakaf berbentuk aset yang sulit dikembangkan b. Wakaf yang membutuhkan sumber daya yang besar

dalam proses memproduktifkan

c. Wakaf yang strategis dan mudah dikembangkan Masing-masing kategori dibuatkan alternatif upaya

untuk mengembangkan dan diurutkan berdasarkan prioritas. Regulasi wakaf Indonesia memberikan mandat

kepada nadzhir untuk mengembangkan wakaf secara produktif. Artinya seorang/badan nadzhir tidak berhasil tugasnya jika aset wakaf yang dikelolanya tidak menjadi aset wakaf yang produktif.

Saat yang sama diperlukan gerakan kampanye berwakaf, sehingga masyarakat aware tentang pentingya berwakaf baik untuk individu maupun mengembalikan izzah bangsa Indonesia, sebagai pemilik sah tanah air ini, dibuktikan dengan peguasaan mayoritas terhadap aset produktif terutama dibidang ekonomi.

2. Pengumpulan Wakaf uang, hingga cukup untuk membeli/memproduktifkan aset wakaf

Setelah inventarisir dilakukan dengan baik, selanjut adalah menjadikan aset wakaf yang sudah ada untuk dijadikan produktif, atau membeli aset produktif lainnya dengan konsep wakaf. salah satu faktor pentingnya adalah wakaf uang. Akaf uang inilah yang akan dijadikan instrument untuk memproduktifkan aset wakaf atau membeli aset wakaf produktif.

3. Dibelikan aset produktif

Setelah wakaf uang terkumpul, dibutuhkan sumber daya manusia yang fasih sebagai entrepreneur handal untuk melakukan studi kelayakan dan intuisi yang tajam untuk dibelikan diaset produktif. Dengan membuat sistim yang paling aman menjaga dana abadi wakaf.

4. Dikelola secara professional dan menguntungkan

Dibutuhkan sumber daya manusia yang handal dalam mengelola wakaf, sehingga menguntungkan, para bankir, ahli syariah, ahli keauangan, ahli investasi, berkontribusi mengembangkan wakaf secara optimal.

5. Distribusi hasil pengelolaan

Distribusi wakaf, tentunya diperuntukkan secara luas, dan boleh diprioritaskan pada sektor-sektor strategis pembangunan SDM dan ekonomi masyarakat.

Dari gambar di atas diketahui, bahwa siklus terus berputar untuk mengkapitaliasi aset wakaf, saat ini nadzir wakaf masih bergerak diarea pertanian, suatu hari seiring meningkatnya kesadaran wakaf dimasyarakat, bahkan gedung-gedung mencakar langit di area eksklusif seperti Mega Kuningan, SCBD, Sudirman, MH Thamrin, dan area perkantoran TB Simatupang, akan bisa kembali dibeli oleh umat Islam, dengan mengembangkan model Wakaf.

Saat ini, area ekslusif tersebut sebagian besar telah dikuasai konglomerat dengan mekanisme kapitalisme, yang melahirkan ketimpangan ekonomi yang sangat nyata dan menyakitkan.

Tantangan Wakaf Produktif

Wakaf tidak terlepas dari tantangan, karena menjadi suatu tabiat alami, melaksanakan kebaikan selelu diiringi dengan tantangan yang tidak sedikit, diantaranya:

1. Masih lemahnya sosialisasi wakaf produktif

2. Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk berwakaf 3. Minimnya contoh sukses pengelolaan wakaf produktif

yang terpublikasi dengan baik

4. Perlu penyiapan SDM wakaf yang semakin baik

Darimana memulainya, mulailah dari kampanye wakaf yang semakin kuat, saat yang sama lembaga pendidikan didorong untuk menyiapkan sumber daya manusia yang

professional, terstandarisasi, tersertifikasi, dan semua perangkat hukum disiapkan. Mau tidak mau, jika kampanye wakaf bisa dilakukan secara masif, maka pemerintah akan melihat peluang wakaf yang sangat mengiurkan untuk penopang pembangunan.

Wakaf sangat berpotensi menjadi pesaing berimbang penguasaan ekonomi oleh kapitalisme, karena wakaf mempunyai watak abadi yag terus tumbuh dan berkembang, dengan lima langkah: (1). Inventarisir aset wakaf dan pengumpulan wakaf uang. (2). Setelah jumlah wakaf uang cukup untuk pembelian aset produktif. (3).

Dibelikan aset produktif. (4). Dikelola secara professional dan menguntungkan.

Dengan cara seperti itu aset ekonomi akan lebih baik dikuasai dalam format wakaf, yang berarti kepemilikan Allah dalam aset ekonomi. Ini lebih mendekati makna kepemilikan harta dalam Islam, yang sesungguhnya mutlak milik Allah, dan manusia hanyalah sang pengelola aset tersebut mendekati adil.

Referensi Al-Qur’an

Nusution, Mustafa Edwin. (2002). Waqaf tunai: strategi untuk mensejahterakan dan melepaskan ketergantungan ekonomi, IIIT dan Depag RI, Batam, dikutip dari Muhammad Ramadhan dan Azwani Lubis, Wakaf uang dalam perspektif UU No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf Fathurrohman, Tata. (2006), Wakaf dan Usaha

penangulangan kemiskinan tinjauan hukum Islam dan peraturan perundang-undangan di Indonesia (Studi

kasus pengelolaan Wakaf di Kabupaten Bandung), Disertasi Doktor Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta

Indrianto, Aries, ( ), Komparasi sistem moneter ekonomi kapitalisme dan ekonomi Islam, SUHUF, Vol. 28, No.

1, Mei 2016.

Kushendrawati, Selu Margaretha, (2006), Masyarakat konsumen sebagai ciptaan kapitalisme global: fenomena budaya dalam realitas sosial, Makara, sosial humaniora, vol. 10, N0. 2, desember 2006: 49-57.

Hamid, Edy Suandi, (2009), Akar Krisis Ekonomi Global dan dampaknya terhadap Indonesia, La-riba, Jurnal Ekonomi Islam, volume III, No. 1, Juli 2009.

………….…., Kamus bahasa Arab, Al Munjid, (1986), Penerbit Beirut.

https://id.wikipedia.org/wiki/Kapitalisme, diakses 30 April 2017

http://www.worldbank.org/in/news/feature/2015/12/08/

indonesia-rising-divide, diakses 30 April 2017

h t t p : / / w w w. r e p u b l i k a . c o . i d / b e r i t a / e k o n o m i / keuangan/17/03/20/on3eur383-meningkat-utang- pemerintah-hingga-februari-2017-capai-rp-3589- triliun, diakses 30 April 2017

http://finance.detik.com/ekonomi-bisnis/3277588/sejak- kapan-ri-berutang-untuk-bayar-bunga-utang-ini- datanya, di akses 30 April 2017.

h t t p : / / b i s n i s k e u a n g a n . k o m p a s . c o m / read/2016/10/26/200829626/tahun.2017.rp.221.triliun.

untuk.bayar.bunga.utang, di akses 30 April 2017.

Dalam dokumen Manajemen Wakaf Produktif - Repository UMJ (Halaman 129-145)