• Tidak ada hasil yang ditemukan

Warga Negara Muda Berkomitmen Menegakkan Hukum dan HAM

Dalam dokumen Pendidikan Pancasila Kelas XII (Halaman 130-134)

Pengingkaran Kewajiban

A. Merancang Gagasan Solutif atas Permasalahan Pelanggaran Hak dan Pengingkaran Kewajiban

1. Warga Negara Muda Berkomitmen Menegakkan Hukum dan HAM

Pada pembahasan sebelumnya, kamu mendapatkan penjelasan tentang siapa warga negara dan penduduk. Jika ada istilah warga negara muda, itu merupakan panggilan untuk kamu sebagai warga negara harapan bangsa. Setiap generasi memiliki tantangan sesuai zamannya masing-masing. Tantangan yang dihadapi oleh kamu sama beratnya dengan generasi sebelumnya ketika memperjuangkan hak dan melaksanakan kewajiban.

Sebelum kita membahas tantangan apa yang dihadapi oleh warga negara muda, mari, kita lakukan aktivitas Siap Mengingat Kembali 4.1 berikut. Aktivitas ini agar kamu memahami bahwa banyak hal yang harus kita waspadai.

Siap Mengingat Kembali

1. Carilah kasus pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban yang terjadi di lingkungan sekitarmu. Boleh kasus dari pemberitaan media cetak, elektronik, atau radio dan televisi. Kemudian, ceritakan ulang kasus tersebut melalui lisan maupun tulisan.

2. Analisislah peraturan apa yang dilanggar dan diingkari.

3. Berempatilah terhadap peristiwa tersebut dengan berandai-andai: jika kamu berada pada posisi tersebut, apa yang akan dilakukan?

4. Buatlah sebuah komitmen bagaimana cara memperbaiki kasus tersebut.

Jelaskan dalam bentuk tulisan, gambar, lagu, atau apa pun sesuai kegemaranmu.

5. Aktivitasmu akan dinilai berdasarkan kriteria pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Rambu-Rambu Asesmen Karya

Kriteria Skor Nilai Akhir (NA)

Menceritakan kembali kasus. 10-25

Skor 1 + skor 2 + skor 3 + skor 4 = NA

Mencantumkan peraturan yang dilanggar

atau diingkari. 10-25

Solusi untuk kasus tersebut. 10-25

Menyatakan komitmen. 10-25

Ceritakan pengalamanmu saat melaksanakan aktivitas tersebut! Perasaan

Aktivitas 4.1

Bab 4 Generasi Solutif Mengatasi Pelanggaran Hak dan Pengingkaran Kewajiban 113 Sekarang, kita akan membahas mengapa kamu menjalani aktivitas tersebut.

Tiada lain untuk memupuk jiwamu bahwa dalam kondisi apa pun, seorang warga negara yang baik harus memiliki jiwa menjunjung tinggi nilai kebenaran. Tidak mustahil selalu ada tantangan yang dihadapi, baik yang muncul dari motivasi diri maupun lingkungan.

Pada pembahasan berikut, kamu akan diajak untuk mengidentifikasi mengapa pelanggaran dan pengingkaran tersebut terjadi di negara ini. Hal ini menjadi kerisauan lembaga Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP, 2019:x). Dalam sambutan peluncuran buku Pancasila Dialektika dan Masa Depan Bangsa, Hariyono sebagai Ketua BPIP menyatakan tantangan mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan publik di era kekinian di antaranya: (1) menguatnya individualisme; (2) liberalisme pasar; (3) radikalisme-fundamentalisme “agama”;

(4) kosmopolitanisme; (5) ideologi transnasional; dan (6) dominasi sistem hukum modern, yang menegaskan makna nasionalisme di era globalisasi. Di samping itu, dia menyebutkan tantangan yang tidak kalah krusialnya: (1) distorsi (pemutarbalikan suatu fakta) pemahaman Pancasila, (2) eksklusi sosial, (3) melemahnya keteladanan Pancasila, (4) melemahnya institusionalisasi Pancasila, dan (5) tantangan keadilan sosial yang telah mencabik kita baik secara individu maupun sosial dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Data menunjukkan bahwa terdapat tiga isu yang saling terkait sebagai tantangan dalam implementasi ideologi Pancasila. Pertama, kemiskinan –eksklusi sosial – underclass, di antaranya hasil evaluasi terhadap pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan (MPd) yang sedang dilakukan oleh Studi Perdesaan Universitas Gajah Mada (2013) khusus yang menyangkut tingkat perkembangan atau kondisi

eksklusi sosial yang tidak sama untuk setiap desa di Indonesia. Kedua, evaluasi kritis yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kementerian Sosial (2013), khusus yang terkait dengan usaha intervensi yang lebih berlandas pada inovasi pertanian.

Dengan demikian, hanya dengan modernisasi ekologik, pengentasan kemiskinan dapat menjadi lebih efektif dan berkelanjutan. Ketiga, evaluasi yang dilakukan Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Dalam Negeri,

https://buku.kemdikbud.go.id/s/

o8dkp0

Tahukah Kamu?

khusus yang terkait dengan begitu banyaknya investasi di daerah perdesaan yang cenderung merusak lingkungan hidup masyarakat. Akibatnya, sangat boleh, hal itu memperbesar lagi eksklusi sosial dan akhirnya berujung pada pemiskinan (Robert M.Z. Lawang).

Gambar 4.2 Eksklusi sosial merupakan salah satu tantangan di era kekinian.

Sumber: KOMPAS.com/Vanya Karunia Mulia Putri

Menurut Agus Machfud Fauzi dalam buku Potret PPKM dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia (2021), eksklusi sosial adalah tindakan masyarakat untuk menyingkirkan individu atau komunitas dari sistem yang berlaku. Akhirnya, menimbulkan ketidakberdayaan seseorang untuk berpartisipasi dalam masyarakat.

Dalam menghadapi tantangan itu, Indonesia harus berkomitmen kuat dan menempatkan Pancasila sebagai ideologi, pandangan-dunia, dan dasar negara, yang nilai-nilainya niscaya diwujudkan melalui proses pembangunan yang konkret. Pembangunan itu di antaranya bidang: (1) mental-spiritual dan sumber daya manusia; (2) ekonomi, pendidikan, dan kesehatan; (3) pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup; (4) pertahanan dan keamanan; (5) penegakan hukum dan HAM; (6) produksi; dan (7) perhubungan dan distribusi (BPIP, 2019:x).

Kamu dapat menggarisbawahi bahwa bidang penegakan hukum dan HAM merupakan salah satu komitmen yang dapat menghadang tantangan yang dihadapi bangsa ini, terutama dengan cara mendidik warga negara muda berkomitmen untuk menegakkannya. Bagaimanakah caranya? Salah satu caranya

Bab 4 Generasi Solutif Mengatasi Pelanggaran Hak dan Pengingkaran Kewajiban 115 Di hadapan kader-kader Pancasila pada tanggal

5 Juli 1958, Presiden Sukarno memberikan “Kursus Pancasila” dan mengurai secara mendalam topik mengenai “Perikemanusiaan dalam Pancasila”. Pada kesempatan itu, Sukarno menegaskan, “menschlichtkeit, kemanusiaan itu memang dari dulu ada. Rasa perikemanusiaan ialah hasil daripada pertumbuhan rohani, hasil daripada pertumbuhan kebudayaan, hasil daripada alam tingkat rendah ke taraf yang lebih tinggi. Tertampiknya Tuhan dan realitas spiritual dalam ruang-sadar mereka.”

Maksud dari tulisan di atas bahwa menurut Presiden Sukarno, perikemanusiaan itu pada dasarnya sudah mendekam dalam rohani seseorang dan hanya perlu

ditumbuhkan dan dikuatkan. Dalam hal ini, simpati merupakan salah satu wujud dari rasa kemanusiaan itu. Bahkan, diperkuat kembali dengan menyadarkan diri manusia di era modern, yakni membangun imajinasi untuk menumbuhkan rasa empati. Hal ini diungkapkan dalam buku Pancasila, Dialektika dan Masa Depan (2019), berikut cuplikannya.

Seorang filsuf dan pemikir, Martha Nussbaum, berpandangan bahwa simpati membuat seseorang mampu memosisikan dirinya seperti dalam situasi orang lain. Simpati membuat seseorang mampu membayangkan dirinya berada di dalam posisi orang lain. Simpati menumbuhkan kesadaran seseorang untuk menganggap dan memperlakukan orang lain sebagai sesama manusia, dan bukan sekadar objek di sekitar kita. Kita menjadi mampu membayangkan dan merasakan apa yang menimpa orang lain, seperti diperlakukan tidak adil karena identitas gender, pilihan agama, pilihan politik, dan sebagainya.

Dengan memahami arti pentingnya nilai perikemanusiaan dalam aktivitas pembelajaran, semoga kamu bisa menumbuhkan rasa simpati terhadap penderitaan orang lain.

Gambar 4.3 Presiden Sukarno berpidato saat memberi kursus Pancasila pada 5 Juli 1958.

Sumber: Penerbit Mpu Tantular (1960)

2. Mengidentiikasi Permasalahan Pelanggaran Hak di Lingkungan

Dalam dokumen Pendidikan Pancasila Kelas XII (Halaman 130-134)