• Tidak ada hasil yang ditemukan

Zona Pemanfaatan

Dalam dokumen RPJP TN Gunung Merapi Periode 2015-2024 (1) (Halaman 76-79)

III. ZONA PENGELOLAAN TN GUNUNG MERAPI

3.3 Zona Pemanfaatan

Berdasarkan info masyarakat, keberadaan anggrek Vanda tricolor melimpah di lereng selatan (Resort PTN Cangkringan dan Pakem Turi) namun karena aktivitas erupsi Gunung Merapi keberadaan anggrek tersebut saat ini sangat sulit dijumpai di alam (selain hasil relokasi). Argumentasi ini yang menyebabkan pentingnya mempertahankan habiat alami anggrek Vanda tricolor di lereng timur kawasan TNGM dan mengembangkan di lereng lain Gunung Merapi.

Secara umum, sesuai fungsinya sebagai buffer zona inti, kondisi habitat dan potensi keanekaragaman hayati zona rimba hampir sama dengan zona inti, terutama zona rimba yang berada di Resort Pakem Turi dan Resort Cangkringan (SPTNW I) dan Resort Kemalang, Musuk Cepogo dan Selo (SPTNW II). Arahan utama pengelolaan zona rimba TN Gunung Merapi adalah melakukan kegiatan- kegiatan sebagai berikut :

a) perlindungan dan pengamanan sebagai buffer zona inti;

b) penelitian keanekaragaman hayati sebagai data pendukung ekosistem reference;

c) pembinaan habitat dan populasi dalam rangka mempertahankan keberadaan populasi hidupan liar terutama Lutung dan Elang.

d) penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan terutama pada model hutan pegunungan 1.000-2.000 mdpl (Zona Rimba I) dan 1.500-2.968 mdpl (Zona Rimba II) ;

e) penyimpanan dan penyerapan karbon terutama identifikasi cadangan karbon pada berbagai tipe hutan;

f) pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk penunjang budidaya terutama untuk kepentingan bioprospeksi.

g) pembangunan sarana dan prasarana pengelolaan terbatas untuk menunjang kegiatan pada huruf (a), huruf (b), huruf ©, huruf (d), huruf (f), dan huruf (g).

pemanfaatan jasa wisata alam oleh beberapa pemerintah desa dalam diskusi terbatas di resort.

Arahan pengelolaan zona pemanfaatan TN Gunung Merapi dikategorikan dalam 2 hal, yaitu :

1. Zona Pemanfaatan I merupakan zona pemanfaatan untuk aktivitas wisata alam. Zona pemanfaatan I terluas terletak di Resort Pakem Turi yaitu Bukit Plawangan, Bukit Turgo dan blok Tritis. Bukit Plawangan merupakan areal wisata yang telah lama dikelola oleh Dinas Kehutanan DIY mulai tahun 1984 dan diteruskan oleh Balai TN Gunung Merapi. Pintu loket terletak di 2 lokasi yaitu Tlogo Muncar dan Nirmolo dan merupakan penyumbang PNBP TNGM terbesar. Bukit Turgo saat ini dalam proses pengembangan wisata bersama masyarakat yang didukung oleh Pemda Sleman dan Dinas Pariwisata DIY.

Aktivitas yang dilakukan berupa perbaikan jalur trekking menuju Maqom Syeh Jumadil Qubro di puncak Turgo. Blok Tritis adalah wilayah yang direncanakan untuk pengembangan wisata alam sejak awal penunjukkan TN Gunung Merapi.

Saat ini blok Tritis masih dalam tahap perencanaan untuk dikembangkan bersama masyarakat Desa Girikerto dan Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman bersama tim resort.

Selain di Resort Pakem Turi, zona pemanfaatan I di Resort Srumbung (SPTN Wilayah I), dikenal sebagai kawasan wisata Jurang Jero, merupakan areal wisata alam yang dikembangkan bersama masyarakat sejak tahun 2016.

Pengelolaan wisata alam di wilayah tersebut bertujuan sebagai alternative income / pengalihan ekonomi dari ketergantungan terhadap pemanfaatan material vulkanik dari dalam kawasan.

Zona pemanfaatan I berupa jalur pendakian menuju Pasar Bubar (titik terdekat dengan Puncak Merapi) hanya terletak di SPTN Wilayah II yaitu Resort Selo dan Kemalang. Namun sejak Mei 2018 kedua jalur pendakian ditutup karena peningkatan aktivitas Gunung Merapi. Pengalihan wisata minat khusus ini kemudian mulai digagas dengan inisiasi pembuatan jalur soft trekking, yaitu : Tritis-Plawangan, Plunyon Watu-Kemloso dan Deles-Sapu Angin.

Zona pemanfaatan I yang lain adalah blok Kalikuning, blok Deles Indah, blok Gumuk, blok Go Bumi, Bukit Cluntang, Bukit Bakalan. Lokasi-lokasi ini direncanakan dikelola Balai TNGM bersama masyarakat setempat.

2. Zona Pemanfaatan II, merupakan areal sumber mata air dan aliran air di dalam kawasan. Sebagian besar lokasi zona pemanfaatan II terletak di Resort Pakem

Turi dan Cangkringan. Debit air terbesar terletak di Umbul Temanten (Umbul Lanang dan Umbul Wadon) yang digunakan untuk kepentingan masyarakat dan komersial. Laporan TN Gunung Merapi Tahun 2018 menyebutkan bahwa terdapat 43 sumber air di dalam kawasan. Dari 43 sumber air tersebut, 23 sumber air sudah ditetapkan dalam Areal Pemanfaatan Air TNGM menurut SK Dirjen KSDAE Nomor: SK.319/KSDAE/SET/KSA.3/9/2017 tanggal 13 September 2017 tentang Penetapan Areal Pemanfaatan Air dan Energi Air pada Taman Nasional Gunung Merapi. Secara umum, hasil monitoring sumber air di dalam kawasan TN Gunung Merapi menyebutkan bahwa debit di musim kemarau menurun dibandingkan dengan musim penghujan. Beberapa sumber air yaitu sumber air Sapuangin, sumber air Goa Lawa (Sido Rukun), Tuk I Sendang Kalireno, Tuk III Sendang Kalireno, yang berada di wilayah Resort PTN Kemalang bahkan tidak ada air yang mengalir. Hal ini bisa dipahami dikarenakan daerah sisi tenggara merupakan daerah “bayangan hujan” yang mengakibatkan sumber air dalam debit yang besar sulit ditemukan. Sumber air digunakan sebagian besar masyarakat untuk kebutuhan air minum dan rumah tangga.

Arahan pengelolaan TN Gunung Merapi pada zona pemanfaatan I dan zona pemanfaatan II ini adalah :

a) perlindungan dan pengamanan terhadap kawasan maupun sarana prasarana wisata dan pemanfaatan air yang telah ada;

b) inventarisasi dan monitoring sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;

c) pembinaan habitat dan populasi dalam rangka mempertahankan keberadaan populasi satwa liar;

d) penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

e) pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam;

f) penyimpanan dan atau penyerapan karbon;

g) pemanfaatan sumber daya genetik dan plasma nutfah untuk penunjang budidaya;

h) pengembangan potensi dan daya tarik wisata alam;

i) pengusahaan pariwisata alam dengan prioritas pada mekanisme kerjasama dengan masyarakat setempat.

j) pengusahaan kondisi lingkungan berupa penyimpanan dan/ atau penyerapan karbon,

k) pemanfaatan masa air, energi air secara non komersial, khususnya pada sumber air yang tidak memungkinkan untuk diberlakukannya meknisme ijin namun merupakan kebutuhan pokok masyarakat akan diterapkan mekanisme kerjasama pemanfaatan air dengan masyarakat.

l) pembangunan sarana dan prasarana pengelolaan terbatas untuk menunjang kegiatan pada huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, huruf i, huruf j, dan huruf k;

m) pemulihan ekosistem baik pada zona pemanfaatan I dan zona pemanfatan II dengan pendanaan dari berbagai sumber..

Dalam dokumen RPJP TN Gunung Merapi Periode 2015-2024 (1) (Halaman 76-79)