MANAJEMEN PANEN DAN ANGKUT TBS KELAPA SAWIT DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV REGIONAL 4
UNIT USAHA BUNUT
LAPORAN MAGANG
KRISTA NATALIA BR SEBAYANG D1B021123
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2024
i
LEMBAR PENGESAHAN
Judul : Manajemen Panen Dan Angkut TBS Kelapa Sawit
Di PT. Perkebunan Nusantara IV Regional 4 Unit Usaha Bunut
Nama Mahasiswa : Krista Natalia Br Sebayang Nomor Pokok Mahasiswa : D1B021123
No. Kontak : 082383419605
Nama Pembimbing Magang : Dr. Ir. Saidin Nainggolan, M.Si.
No. HP/ E-Mail : 082269842693/ [email protected] Nama Instansi/ Perusahaan
Tempat Magang/ KKL
: PT. Perkebunan Nusantara VI Unit Usaha Bunut
Alamat lokasi Magang/KKL : Desa Markanding, Kecamatan Bahar Utara, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi Waktu Pelaksanaan : 8 minggu
Jambi, September 2024
Mengetahui, Menyetujui,
Ketua Komisi Magang Pembimbing Magang/KKL
Fakultas Pertanian
Dr. Ir Mohd. Zuhdi, M.Sc. Dr. Ir. Saidin Nainggolan, M.Si NIP. 196705071994031006 NIP. 196412011986031004
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat karunianya, penulis dapat menyelesaikan laporan magang yang berjudul
“Manajemen Panen dan Angkut TBS di PT. Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Bunut” dengan baik. Laporan magang ini dibuat untuk memenuhi syarat kelulusan mata kuliah Magang di Universitas Jambi. Tujuan dibuatnya laporan ini ialah sebagai sumber informasi, ilmu pengetahuan yang dapat berguna untuk banyak orang.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir.
Saidin Nainggolan, M.Si selaku pembimbing magang dan Bapak Ahmad Rizky S.P selaku pembimbing lapangan yang telah memberikan masukan serta bimbingan kepada penulis selama kegiatan magang dan penulisan laporan magang. Kemudian kepada rekan-rekan yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan magang ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan laporan magang ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk memperbaiki hasil laporan magang yang akan datang.
Jambi, September 2024
Penulis,
Krista Natalia Br Sebayang
iii DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
BAB II METODOLOGI ... 3
2.1 Waktu dan Tempat ... 3
2.2 Metode Pengumpulan Data Lapangan ... 3
2.3 Ruang Lingkup Kegiatan Magang/ KKL ... 4
2.3.1 Kegiatan Umum di Perusahaan ... 4
2.3.2 Kegiatan yang Diperdalam ... 4
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN ... 5
3.1 Keadaan Umum Perusahaan ... 5
3.2 Kegiatan yang Dilaksanakan ... 7
3.2.1 Apel Pagi ... 7
3.2.2 Pembibitan (Pre-Nusery) ... 8
3.2.3 Pengendalian Gulma ... 12
3.2.4 Pengendalian Hama ... 14
3.2.5 Penunasan/ Prunning ... 17
3.2.6 Pemupukan ... 17
3.2.7 Konservasi ... 18
3.2.8 Perhitungan Sensus Produksi ... 19
3.2.9 Pemanenan ... 21
3.2.10 Pabrik ... 21
3.2.11 Pengelolaan Limbah ... 25
3.3 Pembahasan ... 25
3.3.1 Perencanaan (Planning) ... 25
3.3.2 Pengorganisasian (Organizing) ... 34
3.3.3 Pelaksanaan (Actuating) ... 35
3.3.4 Pengawasan (Controlling) ... 44
3.3.5 Evaluasi (Evaluation) ... 45
iv
BAB IV PENUTUP ... 46
4.1 Kesimpulan ... 46
4.2 Saran ... 46
DAFTAR PUSTAKA ... 47
LAMPIRAN ... 48
v
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Peta areal PTPN Unit Usaha Bunut ... 5
2. Struktur Organisasi PTPN IV Unit Usaha Bunut ... 6
3. Kegiatan Apel Pagi ... 8
4. Kegiatan Persiapan Bedengan dan Naungan... 9
5. Kegiatan Mengayak Tanah dan Mengisi Polybag ... 9
6. Kegiatan Penyusunan Polybag dan Penyiraman. ... 10
7. Kegiatan Sortir dan Penyemprotan Bibit dengan Fungisida ... 11
8. Kegiatan Membuat Lubang Tanam dan Penambahan Pupuk Hayati ... 11
9. Kegiatan Menanam Kecambah Kelapa Sawit ... 11
10. Kegiatan Babat dan Penyemprotan Herbisida... 12
11. Bahan-bahan Herbisida yang Digunakan ... 13
12. Benefical Plants ... 15
13. Penangkaran Sycanus sp ... 15
14. Perangkap Feromon (Ferotrap) ... 16
15. Kandang Burung Hantu... 16
16. Kegiatan Penunasan dan Penyusunan Pelepah ... 17
17. Kegiatan Pemupukan Dolomit ... 18
18. Tanaman Mucuna, Susunan Pelepah I Shape dan Rorak ... 19
19. Contoh BS dan Kegiatan Sensus Produksi... 20
20. Notasi Hasil Sensus yang Ditulis di Pohon ... 20
21. Susunan TS dan PS ... 20
22. Jembatan Timbang dan Tempat Sortasi PKS Bunut ... 22
23. Lori ... 23
24. Theresing ... 23
25. Storage Tank ... 24
26. Pengaplikasian Tandan Kosong dan Limbah Cair ke Lahan ... 25
27. Peta Kapveld Panen Afd II ... 26
28. Contoh Desain TPH di Jalan ... 28
29. Contoh Penempatan TPH di Blok 16 Ha ... 28
30. Contoh Penempatan TPH di Blok 25 Ha ... 29
vi
31.Contoh Penempatan TPH di Blok 30 Ha ... 29
32. Penomoran TPH di Pohon ... 29
33. Dodos ... 30
34. Egrek dan Gancu ... 31
35. Kapak ... 31
36. Angkong dan tojok ... 32
37. Alat Pelindung Diri ... 32
38. Alat Pengaman untuk Alat Panen ... 33
39. Struktur Organisasi Afdeling II ... 33
40. Alur Proses Panen Kelapa Sawit. ... 35
41. Kegiatan Penurunan dan Penyusunan Pelepah ... 38
42. Posisi Tumpukan Pelepah "I Shape" ... 40
43. Kegiatan Panen Kelapa Sawit ... 41
44. Penandaan Inisial, Informasi Tanggal Panen dan Jumlah TBS ... 42
vii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Contoh Format Buku Pemeriksaan KCS ... 43 2. Sanksi/Denda Pengawas untuk Temuan Sampling Sortasi di PKS ... 45
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Struktur Organisasi PTPN IV Unit Usaha Bunut ... 48
2. Kegiatan yang Dilaksanakan ... 48
3. Alur Panen Kelapa Sawit ... 50
4. Alat Panen dan Angkut TBS ... 50
5. APD dan Alat Pelindung untuk Alat Panen ... 51
6. Jadwal Kegiatan ... 52
7. Jurnal Harian ... 53
1
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Kelapa sawit adalah tanaman tahunan penghasil minyak nabati. Menurut Pahan (2006) kelapa sawit merupakan tanaman yang paling produktif dengan produksi yang paling tinggi dibandingkan seluruh tanaman penghasil minyak nabati lainnya.
Hasil olahan kelapa sawit berupa minyak sawit mentah (CPO atau Crude Palm Oil) dan minyak inti sawit (PKO atau Palm Kernel Oil). Perkebunan kelapa sawit telah menyebar ke berbagai wilayah Indonesia dengan luas areal yang semakin bertambah setiap tahun. Luas areal mencapai 14.685.484 ha pada tahun 2022 dengan total produksi 45.580.892 ton (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2022).
Salah satu aspek penting pada budidaya kelapa sawit adalah pemanenan.
Pemanenan memiliki peran penting dalam menjaga jumlah (rendemen) dan mutu minyak yang dihasilkan. Waktu panen yang tepat akan memperoleh kandungan minyak yang maksimal, tetapi pemanenan buah yang masih mentah akan menurunkan kandungan minyak walaupun ALB nya rendah. Sebaliknya pemanenan buah kelewat matang akan meningkatkan asam lemak bebas (ALB).
Rendemen dan kadar ALB dapat diatur melalui fraksi matang panen. Pahan (2008) menyampaikan bahwa rendemen dapat ditingkatkan melalui pemanenan buah sesuai kriteria matang panen, sedangkan kadar ALB dapat diturunkan melalui pengangkutan hasil tepat waktu. Kadar ALB yang tinggi dapat menurunkan kualitas yang menyebabkan minyak berbau tengik. Kondisi turunnya kualitas minyak mengakibatkan penurunan harga minyak. Oleh sebab itu perusahaan tidak dapat hanya mementingkan rendemen saja tetapi juga harus menjaga persyaratan mutu melalui manajemen panen dan angkut TBS.
Manajemen berasal dari kata to manage (Bahasa Inggris) yang artinya mengatur, mengurus, melaksanakan atau mengelola. Manajemen merupakan proses kegiatan yang dilakukan secara bersama untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif. Manajemen dibutuhkan oleh semua organisasi, karena tanpa manajemen, semua akan sia-sia dan pencapaian tujuan akan lebih sulit. Manajemen panen dan angkut TBS kelapa sawit merupakan kegiatan pengelolaan pemanenan kelapa sawit agar tercapai hasil produksi yang maksimal dan menguntungkan. Untuk mendapatkan hasil produksi yang optimal dibutuhkan beberapa faktor yang dapat
2
mempengaruhi produktivitas tanaman kelapa sawit. Faktor-faktor manajemen panen dan angkut dimulai dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), pengawasan (controlling) dan evaluasi (evaluation).
Kuliah Kerja Lapangan/Magang merupakan salah satu mata kuliah Fakultas Pertanian yang wajib di tempuh oleh mahasiswa untuk menyelesaikan Pendidikan pada jenjang Sarjana (S1). Kuliah Kerja Lapangan (KKL) akan dilaksanakan di PT.
Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Bunut.
PT. Perkebunan Nusantara VI Unit Usaha Bunut merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memproduksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. PT. Perkebunan Nusantara VI Unit Usaha Bunut terbagi menjadi afdeling sebagai pengelompokan wilayah perkebunan kelapa sawit. Afdeling II merupakan salah satu contoh bagian dari wilayah perkebunan dengan luas 647,62 ha dan jumlah blok sebanyak 38 blok.
Manajemen panen dan angkut diperlukan di PTPN IV Unit Usaha Bunut agar dapat mengurangi kehilangan hasil panen dan juga mempengaruhi jumlah hasil panen selanjutnya. Apabila manajemen panen dan angkut tidak dilakukan dengan baik dan benar, akan menyebabkan dampak yaitu terjadi banyak losses (kehilangan buah sawit), sistem panen yang tidak teratur, serta target rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) untuk produksi tidak tercapai. Oleh karena itu, dengan adanya manajemen panen dan angkut, diharapkan agar terhindar dampak yang tidak ingin ditimbulkan.
1.2 Tujuan
Tujuan Umum
1. Mempelajari dan memahami pengetahuan tentang pelaksanaan teknik budidaya kelapa sawit yang dilaksanakan di PT. Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Bunut.
Tujuan Khusus
1. Mengetahui fungsi manajemen panen dan angkut TBS kelapa sawit yang dilaksanakan PT. Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Bunut dan dibandingkan dengan teori yang diterima dijenjang akademik.
3
II. METODE PELAKSANAAN MAGANG/KKL 2.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan magang ini dilaksanakan selama 8 minggu, yaitu dimulai tanggal 23 Juli hingga 20 September 2024. Kegiatan magang akan dilaksanakan di PT.
Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Bunut di Desa Markanding, Kecamatan Bahar Utara, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.
2.2 Metode Pengumpulan Data Lapangan
Kegiatan magang meliputi kegiatan teknis di lapangan yang disesuaikan dengan kegiatan yang sudah ditetapkan oleh pihak perusahaan. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder.
Pengumpulan data primer dilakukan sebagai berikut:
1. Metode Observasi
Ikut serta ke lapangan untuk melaksanakan kegiatan, mengamati serta melihat keadaan yang sebenarnya terjadi di lapangan dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan di lapangan.
2. Metode Wawancara
Melakukan dialog dan bertanya langsung dengan pihak perusahaan baik ke Pimpinan dan staf maupun orang yang terlibat dalam pelaksanaan teknis di lapangan.
3. Diskusi
Melakukan diskusi dengan pihak perusahaan baik ke Pimpinan dan staf maupun terhadap pekerja yang ada di lapangan.
Pengumpulan data sekunder dilakukan sebagai berikut:
1. Studi Pustaka
Mempelajari dan menghimpun data dari laporan perusahaan berupa arsip perusahaan dan berbagai literatur yang berkaitan dengan manajemen panen di PT. Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Bunut.
2. Dokumentasi
Menggunakan kamera dan mendokumentasikan setiap pekerjaan yang dilakukan untuk memperkuat isi laporan yang akan disusun.
4 2.3 Ruang Lingkup Kegiatan Magang/ KKL
Ruang lingkup kegiatan magang ini yaitu:
2.3.1 Kegiatan Umum di Perusahaan
Mengamati, mempelajari dan mengumpulkan informasi dari kegiatan pengelolaan kebun kelapa sawit meliputi: pemeliharaan dan pemupukan tanaman menghasilkan serta pelaksanaan pemanenan dan pengangkutan hasil produksi.
2.3.2 Kegiatan yang Akan Diperdalam
Mengamati, mempelajari dan mengumpulkan informasi dari keseluruhan aspek yang berhubungan dengan manajemen panen di PTPN IV Unit Usaha Bunut, meliputi (a) pelaksanaan ketentuan panen seperti sistem panen, rotasi panen, kriteria matang panen dan persentase berondolan, dan (b) pelaksanaan angkutan panen sesegera mungkin ke pabrik
5
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Keadaan Umum Perusahaan
PT. Perkebunan Nusantara VI Unit Usaha Bunut merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara yang memproduksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.
PTPN VI Unit Usaha Bunut terbagi menjadi afdeling sebagai pengelompokan wilayah perkebunan kelapa sawit. Wilayah Kebun Bunut secara administratif meliputi dua desa, yaitu Desa Markanding untuk afdeling 1 sampai 3 dan Desa Pinang Tinggi untuk Afdeling 4 hingga 6. Adapun kedua desa ini terletak di Kecamatan Bahar Utara, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.
Formasi geografis Kebun Bunut tergolong dalam kelompok tertier dengan bahan induk batuan pasir (Sand Stone) dan batuan liat (Clay Stone) dengan bentuk wilayah umumnya datar dan bergelombang. Jenis tanah adalah Psammetic Papeludult dan Typic Paleudult dengan tekstur lempung liat berpasir dan kelas Drainase tergolong sedang.
Gambar 1. Peta areal PTPN Unit Usaha Bunut
Per tahun 2024, Kebun Bunut memiliki area produktif seluas 4.004,19 Ha yang terdiri dari Tanaman Menghasilkan (TM) dengan 11 kategori tahun tanam mulai dari tahun 2006 hingga 2020. Selain itu, terdapat pula Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 1 dengan luas 20 Ha yang berlokasi di Afdeling IV dan VI.
6
Selain area TM dan TBM, cakupan area Kebun Bunut juga meliputi kompleks emplasmen dan perumahan afdeling, area konservasi, rawa, dan pabrik. Sehingga secara total, seluruh area Kebun Bunut adalah 4.475 Ha
PTPN IV Unit Usaha Bunut memiliki visi ”Menjadi perusahaan agribisnis nasional yang unggul dan berdaya saing kelas dunia serta berkontribusi secara berkesinambungan bagi kemajuan bangsa”. PTPN IV Unit Usaha Bunut juga memiliki misi, sebagai berikut:
1. Menghasilkan produk yang berkualitas tinggi bagi pelanggan
2. Membentuk kapabilitas proses kerja yang unggul (operational excellence) melalui perbaikan dan inovasi berkelanjutan dengan tata Kelola perusahaan yang baik.
3. Mengembangkan organisasi dan budaya yang prima serta SDM yang kompeten dan Sejahtera dalam merealisasi potensi setiap insani
4. Melakukan optimalisasi pemanfaatan aset untuk memberikan imbal hasil terbaik
5. Turut serta dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan untuk kebaikan generasi masa depan.
Dalam melaksanakan visi dan misi perusahaan maka dibentuklah organisasi perusahaan sebagai berikut:
Gambar 2. Struktur Organisasi PTPN IV Unit Usaha Bunut
Tugas pokok dan fungsi pada struktur organisasi dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Manajer
Manajer bertanggung jawab untuk memimpin unit pelaksana perusahaan, yang mencakup bidang pertanian, teknik, administrasi, kesehatan, keuangan, dan umum.
Manajer juga bertanggung jawab untuk memberikan masukan, pendapat, dan saran
7
kepada direktif mengenai kebijakan, perbaikan, atau perbaikan manajemen perusahaan.
b. Asisten kepala
Kepala unit kebun yang mengelola budidaya di afdeling bertanggung jawab untuk membantu pengelola dengan memberikan bimbingan, koordinasi, dan supervisi. Hal ini memastikan bahwa tujuan lapangan tercapai sesuai dengan jumlah pekerjaan yang telah ditentukan.
c. Asisten afdeling
Asisten afdeling bertanggung jawab untuk mengawasi bagian kebun untuk memastikan bahwa budidaya dilakukan dengan benar dan produksi mencapai target.
d. Asisten personalia kebun & umum
Asisten personalia kebun & umum memiliki fungsi penting dalam melakukan bagian manajemen dan administrasi terkait perusahaan dan juga karyawan.
e. Kepala tata usaha
Kepala tata usaha bertanggung jawab untuk membantu pengelola dalam menjalankan kegiatan tata usaha, keuangan, dan umum. Mereka juga memberikan informasi atau bahan pertimbangan kepada pengelola saat mereka membuat keputusan, dan menetapkan kebijakan untuk membuat laporan kegiatan tata usaha perkebunan dan laporan keuangan berkala.
3.2 Kegiatan yang Dilaksanakan 3.2.1 Apel Pagi
Pekerjaan di setiap Afdeling PTPN Unit Usaha Bunut diawali dengan apel pagi. Apel pagi dipimpin oleh pimpinan kebun dan diikuti oleh seluruh pekerja di Afdeling. Pimpinan kebun memberikan arahan kepada para pekerja. Apel dilakukan dari pukul 06.00 sd 06.30 WIB di depan kantor kebun Afdeling.
Kegiatan apel pagi dapat dilihat pada gambar.
8
Gambar 3. Kegiatan Apel Pagi
3.2.2 Pembibitan (Pre-Nusery)
Pembibitan kelapa sawit merupakan langkah awal dari seluruh kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit dengan tujuan menghasilkan bibit yang berkualitas. Sebelum sampai ke tahap pembibitan pre-nusery (pra-pembibitan) ada beberapa yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Kecambah Kelapa Sawit
Kecambah kelapa sawit digunakan merupakan varietas hasil persilangan Dura (D) dan Pesifera (P) yang diproduksi oleh Balai atau Sumber Benih seperti PPKS Medan. Kecambah harus dalam keadaan sejuk, lembab dan terhindar dari matahari langsung sampai saat penanaman. Kemudian kecambah harus ditanam sesegera mungkin setelah pengambilan dari PPKS dan tidak disimpan lebih dari 5 hari dan simpan dalam ruangan bersuhu 22-24 derajat Celsius.
2. Persiapan Bedengan dan Naungan
Arah bedengan diusahakan memanjang dari Utara ke Selatan. Bedengan dibuat dengan ukuran panjang 10 m, lebar 1,2 m dan jarak antar bedengan 0,8 m.
tepi bedengan dibuat palang atau dinding dari bambu, papan atau balok kayu setingi baby polybag (10-20 cm). Dasar bedengan dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah dan diberi lapisan pasir setinggi 2-5 cm untuk memperlancar drainase. Dalam satu bedengan dapat menampung 1.200 polybag atau lebih.
Tujuan pembuatan naungan adalah untuk mengurangi sinar matahari langsung ke bibit yang baru tumbuh dari kecambah. Naungan dapat dibuat secara individu per bedeng, per kelompok/petakan ataupun secara keseluruhan.
Tiang/bahan naungan dapat dibuat dari bambu, kayu ataupun besi. Tinggi tiang
9
atap naungan/pelindung 2-2,5 m dari permukaan tanah. Untuk pelindung/atap naungan dapat dibuat dari pelepah kelapa sawit atau paranet dengan intensitas cahaya 55-65%.
Gambar 4. Kegiatan Persiapan Bedengan dan Naungan
3. Polybag
Polybag yang digunakan harus berwarna hitam dan harus tahan lapuk dengan ukuran saat pembibitan awal (Pre Nusery) 22 x 14 cm, tebal 0,07-0,10 mm.
Lalu ukuran polybag pembibitan utama (Main Nusery) 60 x 50 cm, tebal 0,18 mm.
Gambar 5. Kegiatan Mengayak Tanah dan Mengisi Polybag
4. Tanah
Tanah yang digunakan sebagai media tanam adalah tanah lapisan atas (topsoil) yang mengandung cukup banyak bahan organik, bebas dari OPT kemudian tanah diayak dengan ayakan 2 cm. Tanah yang sudah diayak dicampur merata dengan pupuk Rock Phosphate sebanyak 0,5kg/1M3. Pengisian tanah ke polybag harus cukup dan padat agar tidak terjadi rongga-rongga air dan bagian atas disisakan 0,5-1 cm. polybag yang telah diisi tanah tersebut sebelum kecambah ditanam harus disiram setiap hari dengan kapasitas lapang sampai kecambah ditanam.
10
Gambar 6. Kegiatan Penyusunan Polybag dan Penyiraman.
Setelah memastikan persiapan pra-pembibitan telah sesuai dengan standar, langkah selanjutnya adalah memeriksa lokasi atau tempat pembibitan pre-nusery (PN) bedengan, yaitu:
1. Lokasi pembibitan baiknya dengan areal penanaman.
2. Topografi rata atau kemiringan <15 derajat.
3. Dekat dengan sumber air dan sumber tanah pengisi polybag.
4. Memiliki akses jalan yang baik dalam segala cuaca.
5. Lahan terhindar dari banjur, kondisi kedap air, dan angin kencang.
6. Aman dari gangguan hama, ternak, dan manusia.
7. Bedengan dengan ukuran 1,2 x 10 m dapat memuat 1000 bibit PN.
8. Bagian dasar bedengan dibuat lebih tinggi dari permukaan.
9. Tambahan papan sebagai pemisah persilangan atau kelompok pertumbuhan.
10. Bedengan harus dipagar.
Setelah tahapan dan persiapan pra-pembibitan terpenuhi, selanjutnya cara pembibitan kelapa sawit, berikut langkah-langkahnya:
1. Kantong kecambah dikeluarkan dan ditempatkan dalam baki dangkal berisi air agar kecambah tetap dingin, kecambah dalam kantong tidak boleh terkena air.
2. Kantong dibuka dan dipercik dengan larutan fungisida (Dithane M-45) dosis 2 gram/l air untuk menghambat pertumbuhan jamur penyebab penyakit.
11
Gambar 7. Kegiatan Sortir dan Penyemprotan Bibit dengan Fungisida
3. Membuat lubang tanam kedalaman 2 cm. Menambahkan pupuk hayati (Miza Plus) untuk menunjang pertumbuhan bibit kelapa sawit.
Gambar 8. Kegiatan Membuat Lubang Tanam dan Penambahan Pupuk Hayati
4. Kecambah harus ditanam dalam polybag dengan akar (radikula) menghadap ke bawah pada kedalaman sekitar 2 cm sehingga daun (plumula) berada 1 cm, di bawah permukaan setelah ditutup dengan tanah. Jangan tanam kecambah abnormal, patah, busuk, atau berpenyakit.
Gambar 9. Kegiatan Menanam Kecambah Kelapa Sawit
5. Ratakan tanah di sekeliling kecambah tetapi jangan menekannya terlalu kuat. Kecambah harus disiram segera setelah tanam.
12 3.2.3 Pengendalian Gulma
Pengendalian gulma merupakan kegiatan pemeliharaan dalam teknik budidaya tanaman kelapa sawit. Ada 2 teknik pengendalian gulma yang dilakukan yaitu secara manual dan mekanis. Pengendalian gulma secara manual dilakukan dengan cara dibabat menggunakan parang/golok.
Gambar 10. Kegiatan Babat dan Penyemprotan Herbisida
Sedangkan pengendalian gulma secara mekanis dengan penyemprotan herbisida dibagi menjadi 3 metode yaitu chemis selektif, chemis pasar pikul, dan chemis piringan. Chemis selektif merupakan metode pengendalian gulma yang dirancang untuk mematikan gulma tertentu, seperti alang-alang (Imperata cylindrica), tukulan (anakan sawit, atau anakan pohon liar), dan berbagai jenis gulma lainnya. Chemis piringan adalah metode pengendalian gulma secara kimia yang diterapkan pada area piringan melingkar di sekitar pangkal batang kelapa sawit. Piringan dibuat dengan jarak 1,5 m dari batang kelapa sawit, yang bertujuan untuk mengurangi persaingan nutrisi dan udara antara tanaman sawit dan gulma, sekaligus memudahkan pemupukan serta perawatan tanaman. Rotasi chemis piringan biasanya dilakukan 3 bulan sekali. Sedangkan chemis pasar pikul merupakan metode pengendalian gulma yang dilakukan hanya pada pasar pikul atau jalan yang bertujuan untuk memperlancar jalannya pemanenan.
13
Bahan-bahan yang digunakan untuk pengendalian secara kimiawi terdiri dari:
1. Isopropil Amina Glifosat
Glisofat yang digunakan adalah merk Konup yang diproduksi oleh PTPN Group. Konup Di gunakan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar (Ageratum conyzoides dan Clidemia hirta) dan gulma berdaun sempit (Imperata cylindrica, Ottochloa nodasa, dan Paspalum conjugatum). Untuk mengendalikan gulma berdaun lebar dengan dosis 0,35 cc /Ha, menggunakan kep 15 L, dengan ketinggian jarak semprot 30-40 cm.
2. Metil Metsulfuron
Metil Metsulfuron yang digunakan adalah merk dagang Trendy. Efektif untuk mengendalikan gulma berdaun lebar (Ageratum conyzoides, dan Asistasia intrusa), gulma teki (Cyperus kyllingia) dan gulma berdaun sempit (Axonopus kompressius, Ottochloa nodosa dan paspalum konjugatum) mengendalikan gulma dengan dosis 0,025 cc / Ha dengan ketinggian jarak semprot 30-40 cm 3. Perekat (Alkylphenol Ethoxylates Succinicester Sulfonic Acid Sodium)
Spreader adalah surfaktan pestisida yang mengandung bahan aktif perekat, perata pembasah dan penembus. Digunakan untuk meningkatkan daya rakat pestisida, mencegah pencucian oleh air hujan, mencegah penguapan pestisida, mengurangi daya kekebalan OPT terhadap pestisida, mengurangi polusi lingkungan yang diakibatkan oleh pestisida dan berfungsi sebagai emulator.
Dosis yang digunakan adalah 0,75 cc /Ha.
Gambar 11. Bahan-bahan Herbisida yang Digunakan
14
Bahan-bahan yang digunakan untuk chemis selektif adalah Glisofat dan Trendy. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan untuk chemis pasar pikul dan chemis piringan adalah Glifosat, Trendy dan Spreader.
3.2.4 Pengendalian Hama
Pengendalian hama tanaman kelapa sawit yang dilakukan harus menganut sistem pengendalian hama terpadu (Intergrated Pest Management), yaitu pengendalian secara fleksibel menggabungkan dua cara atau lebih untuk menurunkan populasi hama tanaman sampai di bawah ambang ekonomi.
Berikut teknik pengendalian hama yang dilakukan tergantung pada jenis hama:
1. Hama ulat pemakan daun kelapa sawit
Jenis ulat api yang sering ditemui dan sangat merugikan pada perkebunan kelapa sawit adalah Setora nitens, Thosea bisura, Thosea vetusta, Darna trima dan Ploneta diductor, sedangkan ulat kantung yang sering ditemui dan sangat merugikan adalah Mahasena corbetti, Metisa plana dan cremastopsyche pendula.
Selain ulat api dan ulat kantung, jenis hama ulat yang sering dijumpai adalah ulat bulu Dasychira inclusa, Amathusia phidippus dan Calliteara horsfieldii saunders.
Tindakan pengendalian yang dilakukan didasarkan pada populasi ulat tersebut di lapangan. Pengendalian manual dapat dilakukan dengan cara kutip manual ulat dan kutip kepompong. Pengendalian secara kimawi dilakukan apabila tingkat serangan sudah mencapai kategori sedang dan hanya dilakukan pada areal yang terserang saja. Pengendalian kimiawi dilakukan dengan penyemprotan insektisida menggunakan alat mist blower ataupun fogging. Pengendalian hayati dengan menanam beneficial plants seperti tanaman Bunga Pukul Delapan Kuning (Turnera Subulata), Ketapang Cina (Cassia Cobanensis), dan Air Mata Pengantin (Antigonon Leptopus).
15
Gambar 12. Benefical Plants
Pengendalian biologi juga dilakukan dengan menggunakan predator alami yaitu serangga Sycanus sp. Teknis perbanyakan dan pelepasan serangga Sycanus sp yang tepat dapat meningkatkan populasinya di lapangan sehingga dapat menekan populasi hama ulat pemakan daun kelapa sawit.
Gambar 13. Penangkaran Sycanus sp
2. Kumbang Tanduk (Oryctes Rhinocerus)
Pengendalian dengan menggunakan perangkap feromon (ferotrap). Perangkap feromon dibuat dengan menggantungkan ember plastik pada tiang bambu dengan ketinggian 4 m dari permukaan tanah. Dalam ember tersebut letakkan tandan kosong kelapa sawit dan 1 (satu) sachet feromon guna menarik/memancing datangnya kumbang ke dalam ember, sehingga kumbang akan terperangkap.
16
Gambar 14. Perangkap Feromon (Ferotrap)
3. Tikus
Hama tikus merupakan salah satu hama berbahaya pada perkebunan kelapa sawit yang dapat menimbulkan kerusakan pada saat TBM maupun TM. Pada TBM, tikus menyerang umbut (titik tumbuh). Sedangkan pada TM, tikus memakan mesokarp buah (daging buah) yang masih muda maupun yang sudah matang.
Pengendalian hama tikus yang dilakukan adalah pengendalian biologi dengan predator alami yaitu burung hantu (Tytoalba). Burung hantu dikembangkan secara alami dengan membuat kandang burung hantu.
Gambar 15. Kandang Burung Hantu
Kandang terbuat dari papan yang tahan air, tidak berat dengan ukuran 100 x 70 x 50 cm. atap terbuat dari seng dan sebaiknya dilapisi atap nipah supaya tidak terlalu panas. Pintu inspeksi terletak pada bagian samping kandang dan diberi engsel yang terbuat dari bahan karet atau logam. Pada ruang tengah terdapat penyekat yang bertujuan untuk memisahkan tempat bertelur, istirahat dan
17
mencegah anak burung terjatuh. Tiang kandang haru kuat dengan tinggi minimal 5,5 m dan ditanam sedalam 75-120 cm. lubang penanaman dicampur semen =, pasir dan kerikil. Kandang diberi nomor urut yang terbuat dari seng dan dasar warna hitam dengan tulisan (nomor urut, bulan dan tahun pembuatan) berwarna putih. Nomor diletakkan di bagian bawah seng. Kandang diletakkan di gawangan untuk menghindari gangguan dari pemanen serta diletakkan di tengah blok, jumlah kandang adalah 1 untuk setiap 25 Ha.
3.2.5 Penunasan/ Prunning
Penunasan yang dilakukan terhadap tanaman kelapa sawit merupakan pemangkasan pelepah yang sudah tidak produktif seperti pelepah kering maupun untuk menjaga tanaman kelapa sawit agar tidak kebanyakan pelepah dan mengganggu proses pemanenan.
Penunasan yang diterapkan di PTPN Unit Usaha Bunut yaitu progressive.
Penunasan progressive yaitu penunasan yang dilakukan secara bertahap dan terus- menerus sepanjang tahun bersamaan dengan panen. Pelepah yang di potong menggunakan prinsip songgo 1 atau 2. Setelah dilakukan penunasan, pelepahnya disusun diantara pokok membentuk huruf I dan bertumpuk ke atas. Kegiatan penunasan dan penyusunan pelepah yang dilakukan dapat dilihat pada gambar.
Gambar 16. Kegiatan Penunasan dan Penyusunan Pelepah
18 3.2.6 Pemupukan
Pemupukan dilakukan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan tanaman karena keterbatasan daya dukung lahan dalam menyediakan unsur hara sehingga harus diimbangi dengan pupuk untuk memenuhi kebutuhan hara.
Pemupukan pada tanaman kelapa sawit tanaman belum menghasilkan (TBM) bertujuan untuk meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan tanaman pada fase vegetatif sedangkan pada tanaman menghasilkan (TM) bertujuan untuk meningkatkan hasil produksi atau pada fase generatif.
Gambar 17. Kegiatan Pemupukan Dolomit
Pupuk yang digunakan di Kebun Bunut untuk TM adalah pupuk dolomit.
Dosis yang diberikan adalah 250g/pokok. Cara aplikasi dengan ditabur dan di tempatkan di pasar mati dengan interval U dan waktu pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun.
3.2.7 Konservasi
Konservasi tanah dan air atau yang sering disebut pengawetan tanah merupakan usaha-usaha yang dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas tanah, kuantitas dan kualitas air. Konservasi yang diterapkan di kebun Bunut yaitu menanam tanaman penutup tanah atau legume cover crops (LCC) berjenis Mucuna bracteate, pembuatan parit/rorak dan penyusunan pelepah di antara pokok kelapa sawit dengan posisi I shape. Konservasi yang dilakukan berfungsi untuk menekan pertumbuhan gulma, melindungi tanah dari tetesan air hujan secara langsung, mengurangi aliran permukaan, menjaga tanah tetap lembab dan dapat menjadi pupuk hijau menambah kesuburan tanah.
19
Gambar 18. Tanaman Mucuna, Susunan Pelepah I Shape dan Rorak
3.2.8 Perhitungan Sensus Produksi
Sensus produksi adalah kegiatan pengumpulan data terkait dengan produksi perkebunan, seperti tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, untuk mendapatkan gambaran akurat terkait hasil perkebunan. Pelaksanaan sensus jumlah tandan dilakukan 2 kali dalam 1 tahun, dengan pembagian waktu yaitu :
• Semester I : 20 s/d 31 Desember
• Semester II : 20 s/d 30 Juni
Petugas sensus jumlah tandan terdiri dari 4 orang dalam 1 tim dengan pembagian tugas yaitu, satu orang bertindak sebagai ketua tim dengan tugas mensensus TS dan pemegang administrasi, serta tiga orang lainnya yang bertugas mensensus PS. Norma prestasi yang berlaku 1 Hk = 15 Ha. Penentuan Baris Sensus (BS), Titik Sensus (TS) dan Pohon Sensus (PS) memiliki ketentuan sebagai berikut:
1.
Baris Sensus (BS)Baris sensus merupakan barisan tanaman yang di dalamnya terdapat Titik Sensus (TS) dan Pohon Sensus (PS). Penetapan BS dimulai dari baris ke-3 (dengan arah Barat-Timur apabila baris tanaman Utara-Selatan atau Arah Selatan-Utara jika baris tanaman Timur-Barat) dan selanjutnya setiap 5 baris atau baris ke-6 (baris 3, 9, 15, 21,...., sampai batas blok). Semua BS diberi notasi berupa tanda tapak jalak dan bernomor dibawahnya serta ditulis pada pohon yang telah dikerok dan berada di tepi jalan.
20
Gambar 19. Contoh BS dan Kegiatan Sensus Produksi
2. Titik Sensus (TS)
Merupakan titik tanaman di lapangan sebagai pusat dilakukannya sensus.
Penetapan sensus dimulai dari pohon ke-4 di setiap BS dan selanjutnya setiap selang ke-15 pohon atau pohon ke-16 dari TS ke TS selanjutnya (pohon ke 4, 20, 36,..., sampai batas blok).
3. Pohon Sensus (PS)
Pohon Sensus (PS) adalah pohon yang mengeliling TS yang merupakan pohon pengamatan. PS diberi nomor dengan cat berwarna putih dengan ketinggian 1,5 m dan mengarah ke pasar pikul. PS masing – masing TS berjumlah PS.
Perhitungan jumlah tandang untuk setiap TS berjumlah 7 (6 PS + 1 TS). Apabila salah satu PS mati, maka pohon didekatnya akan menjadi pengganti (pohon memiliki posisi searah dengan TS).
TS 1
PS 1 7 II − 18
PS 2 7 II − 18
PS 3 7 II − 18 PS 4
7 II − 18 PS 5
7 II − 18
PS 6 7 II − 18
7 II − 18
Jumlah Tandan Tahun Sensus (2 digit terakhir) Semester
Pelaksanan Sensus
Gambar 21. Susunan TS dan PS Gambar 20. Notasi Hasil Sensus yang Ditulis di Pohon
21 4. Notasi Sensus
Perhitungan tandan dimulai dari TS. Tandan yang telah dihitung dilaporkan ke ketua tim dan menuliskan notasi di pohon dengan ketentuan :
𝑱𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝑻𝒂𝒏𝒅𝒂𝒏
𝒔𝒆𝒎𝒆𝒔𝒕𝒆𝒓 𝒑𝒆𝒍𝒂𝒌𝒔𝒂𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒏𝒔𝒖𝒔 − 𝒕𝒂𝒉𝒖𝒏 𝒔𝒆𝒏𝒔𝒖𝒔 (𝟐 𝒅𝒊𝒈𝒊𝒕 𝒕𝒆𝒓𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓)
Tandan yang dihitung adalah semua tandan yang ada, termasuk bunga betina yang sudah dibuahi (bunga cengkih dengan perkiraan siap dipanen dalan 5-6 bulan berikutnya); setelah rotasi terakhir potong buah pada blok tersebut.
3.2.9 Pemanenan
Panen merupakan pekerjaan paling kritis dalam perkebunan kelapa sawit.
Kontroversi mengenai kriteria matang panen, pengutipan berondolan (loose fruit) dan kadar serta mutu minyak tetap selalu menjadi bahan kajian yang menarik walaupun telah cukup banyak penelitian dan literatur yang membahas hal tersebut.
Dalam industri kelapa sawit, kriteria matang dapat dibagi menjadi: matang fisiologi (pemuliaan tanaman), matang panen (kebun), matang olah (PKS). Buah matang panen hanya dapat diartikan terjadinya perubahan warna. Buah mulai terlepas dari tandan ketika minyak telah optimum tersintesis yaitu pada buah yang telah berumur 20-22 minggu setelah reseptik. Urutan aktivitas panen dimulai dari pemotongan tandan buah matang panen, pengutipan berondolan, pemotongan pelepah, pengangkutan hasil ke TPH dan pengangkutan hasil ke pabrik. Aktivitas panen yang dilakukan dengan baik dan benar sesuai prosedurnya akan membantu meningkatkan hasil produksi.
3.2.10 Pabrik
Buah kelapa sawit yang telah dipanen selanjutnya akan dilakukan proses pengolahan, pengolahan kelapa sawit dilakukan di pabrik kelapa sawit, hasil dari pengolahan kelapa sawit menghasilkan produk turunan salah satunya adalah Crude Palm Oil (CPO). Pada pabrik kelapa sawit terdapat beberapa proses yaitu, proses pada stasiun penerimaan, proses pada pengolahan kelapa sawit dan proses pada pengolahan limbah kelapa sawit. Berikut stasiun yang ada pada pabrik:
22 1. Stasiun Penerimaan
Stasiun penerimaan buah adalah stasiun yang menerima TBS yang berasal dari kebun inti perusahaan, kebun plasma perusahaan dan kebun masyarakat, pada stasiun penerimaan ini terdapat ada 2 stasiun yaitu stasiun Timbangan dan Stasiun Loading ramp. Jembatan Timbangan adalah alat ukur timbangan berupa jembatan yang digunakan untuk menimbang bahan baku pabrik, hasil produksi pabrik dan material lain yang dianggap perlu untuk kepentingan pabrik sehingga nantinya akan didapatkan Berat Bersih (neto) setiap material yang masuk dan keluar dari pabrik.
Gambar 22. Jembatan Timbang dan Tempat Sortasi PKS Bunut
Sebelum masuk ke loading ramp TBS di sortasi terlebih dahulu, sortasi adalah suatu kegiatan penyortiran (pemisahan) tandan buah segar terhadap mutu buah yang dikirim ke pabrik berdasarkan kualitas buah yang diterima oleh pabrik.
Sortasi dilakukan di lantai apron pabrik, TBS yang tidak sesuai dengan kualitas yang diterima pabrik akan dikembalikan kecuali TBS yang berasal dari kebun perusahaan sendiri. Loading ramp adalah tempat penampungan TBS sementara yang telah di sortasi, sebelum masuk ke lori untuk di proses.
2. Stasiun Streilizer
Pengolahan kelapa sawit di mulai dari pemasukan buah ke dalam Lori setelah itu masuk ke Sterilizer. Lori merupakan alat penampung buah sawit yang akan direbus di Sterilizer.
23
Gambar 23. Lori
Sterilizer merupakan salah satu alat pengolahan buah kelapa sawit berupa suatu bejana uap bertekanan yang berfungsi untuk merebus tandan buah segar (TBS) dengan memanfaatkan uap (steam) dari Back Pressure Vessel (BPV) dengan temperatur didalam Sterilizer antara 250 ºC – 275 ºC. Jenis Sterilizer yang digunakan adalah Sterilizer jenis horizontal yang dipasang mendatar yang berjumlah unit 3 unit. Metode perebusan yang digunakan adalah Triple Peak dengan tekanan 3 bar.
3. Stasiun Theresser
Setelah kelapa sawit di rebus langkah selanjutnya masuk ke Threshing, Threshing adalah alat yang berfungsi untuk memisahkan buah dari janjangannya dengan cara mengangkat, membanting dan mendorong janjang kosong menuju empty bunch conveyor. Setelah itu masuk ke stasiun Digester, Digester merupakan satu mesin bejana pengadukan berondolan untuk memisahkan fiber dari nut dan melepaskan minyak dari oil bearing cell.
Gambar 24. Theresing
24 4. Stasiun Press
Bahan yang keluar dari Digester dilanjutkan proses pengolahannya pada alat kempa (screw press), screw press merupakan pengepresan berondolan yang telah dilumatkan pada digester untuk mendapat rendemen yang maksimal dan kernel pecah yang minimal. Cairan yang keluar dari alat press terdiri dari campuran minyak, air dan padatan atau disebut Non Oily Solids (NOS). Selanjutnya ampas dari hasil pengepresan masuk ke Cake Breaker Conveor (CBC) untuk memisahkan fiber dengan inti sawit (nut). Fiber akan langsung masuk ke pembakaran lalu inti sawit (nut) akan dimasak sampai kadar air dibawah 5%.
5. Stasiun Pemurnian Minyak
Untuk memisahkan minyak dari kotoran perlu dilakukan dengan proses pemurnian (fibrasing) yang disebut dengan Klasifikasi. Setelah minyak dilakukan pemurnian maka minyak diendapkan ke dalam Storage Tank, Storage Tank adalah tempat penampungan sementara CPO sebelum dilakukan pengiriman dengan temperatur 50-70°C
Gambar 25. Storage Tank
3.2.11 Pengelolaan Limbah
Limbah dari pabrik ini dimanfaatkan untuk kebutuhan pabrik dan kebun, Untuk limbah padat seperti fiber digunakan untuk bahan bakar awal boiler, tandan kosong kelapa sawit di aplikasikan ke lahan sebagai mulsa organik dan limbah cair pabrik kelapa sawit diolah dan diaplikasikan ke tanaman kelapa sawit. Limbah cair yang dikenal dengan istilah POME (Palm Oil Mill Effluent) mempunyai kandungan
25
bahan organik, sehingga dimanfaatkan untuk pupuk. Pemanfaatan limbah cair menjadi pupuk dikenal dengan sebutan sistem Land application.
Gambar 26. Pengaplikasian Tandan Kosong dan Limbah Cair ke Lahan
3.3.3 Pembahasan
3.3.1 Perencanaan (Planning)
Fungsi manajemen perencanaan yang dilakukan oleh PTPN IV Unit Usaha Bunut adalah perencanaan administrasi dan perencanaan teknis lapangan.
Perencanaan administrasi adalah sebagai berikut:
a. RKAP (Rencana Kerja Anggaran Perusahaan)
Rencana kerja anggaran perusahaan merupakan perwujudan dari perencanaan PT. Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Bunut yang ditetapkan oleh pihak direksi. Di PTPN IV, dibuatkan suatu standar yang dimuat dalam buku pedoman penyusunan rencana kerja anggaran perusahaan per tahunnya dan digunakan sebagai dasar penyusunannya. Penyusunan rencana kerja anggaran perusahaan dipengaruhi oleh jumlah kebun, luas bidang pekerjaan, sarana yang tersedia, kemampuan tenaga pelaksana dan sebagainya.
b. RKO (Rencana Kerja Operasional).
RKO (Rencana Kerja Operasional) adalah pelaksanaan dalam kegiatan operasional perusahaan yang dilakukan perusahaan dalam tahun yang di setujui oleh Direksi. RKO (Rencana Kerja Operasional) disusun setelah RKAP. RKO dijadikan sebagai acuan kebun dalam melaksanakan realisasi dari RKAP atas kegiatan operasional perusahaan. RKO juga berisi biaya-biaya yang dianggarkan kebun. Rencana kerja operasional dimulai dari RKH (Rencana kerja harian) yang kemudian di rekap menjadi RKB (Rencana kerja bulanan)
26
hingga menjadi RKO (Rencana kerja operasional) dan RKAP (Rencana kerja anggaran perusahaan).
Perencanaan teknis lapangan PTPN IV Unit Usaha Bunut adalah sebagai berikut:
(1) Kapveld Panen
Kapveld panen adalah luasan area panen yang harus diselesaikan dalam satu hari. Luas setiap kaveld ditentukan berdasarkan kondisi tanaman, topografi, kapasitas pemanen, jam kerja dan situasi areal. Peta kapveld dibuat per afdeling dan menjadi pedoman pelaksanaan lokasi panen. Peta kapveld diusulkan oleh Asisten Afdeling, diperiksa oleh Asisten Kepala dan disetujui oleh Manajer Kebun.
Penomoran kapveld memakai huruf Romawi, yakni Kaveld I, Kapveld II, Kapveld III, Kapveld IV, Kapveld V dan Kapveld VI. Kapvled panen dibuat searah dengan jarum jam. Berikut contoh peta Kavpveld panen di Afdeling II Kebun Bunut:
Gambar 27. Peta Kapveld Panen Afd II
(2) Kriteria Matang Panen
Definisi dan parameter kematangan TBS antara Kebun dan PKS di seluruh PTPN diatur sebagai berikut:
a. Secara tingkat kematangan, hanya terdapat tiga kelas kematangan TBS yaitu: mentah, matang dan lewat matang
27
b. Parameter matang panen yang digunakan di Kebun Kelapa Sawit adalah jumlah berondolan alami yang jatuh di piringan. Kriteria matang panen untuk seluruh Kebun Kelapa Sawit kecuali areal rencana replanting ditetapkan:
i. Mentah : < 5 (lima) berondolan ii. Matang : ≥ 5 (lima) berondolan
c. Parameter yang digunakan di Pabrik Kelapa Sawit adalah jumlah berondolan yang lepas dari TBS.
i. Mentah : < 10 (sepuluh) berondolan ii. Matang : ≥ 10 (sepuluh) berondolan
iii. Lewat matang : > 75% buah terluar memberondol (3) Pusingan Panen
Pusingan panen atau rotasi panen adalah interval (jumlah hari) yang diperlukan antara panen terakhir dengan panen berikutnya pada areal atau hanca yang sama. Penetapan pusingan panen berguna untuk menentukan produksi TBS, kualitas/mutu buah dan mutu transport. Di PTPN IV Unit Usaha Bunut pusingan panen ditetapkan pusingan panen 7 (tujuh) hari dengan rumus standar 6/7 (6 hari panen 1 hari libur). Pusingan panen dengan interval 7 hari sekali sehingga dalam satu bulan terdapat 4 rotasi panen dalam satu kapveld. Rasio kebutuhan pemanen dapat ditentukan sesuai dengan luas areal panen per kapveld dalam satu rotasi.
(4) Perencanaan Tenaga Panen
Faktor yang harus diperhatikan dalam produksi kelapa sawit adalah tenaga kerja. Tenaga kerja panen adalah salah satu aspek yang dapat menunjang produksi pada suatu kebun. Penentuan tenaga kerja panen harus memperhatikan luas areal, jumlah buah yang akan dipanen dan kapasitas pemanen. Kekurangan tenaga kerja akan menyebabkan produksi yang dihasilkan tidak maksimal, sedangkan kelebihan tenaga kerja akan meningkatkan biaya produksi.
Tenaga pemanen di setiap afdeling Kebun Bunut terdapat pada 2 kemandoran yaitu kemandoran A dan B dengan pemanen rata-rata 15 orang pada setiap kemandoran. Penetapan tenaga kerja di setiap afdeling tidak ditentukan dengan perhitungan taksasi melainkan dihitung dari budget per tahun sesuai dengan
28
kondisi buah yang ada di lapangan (buah sedikit, buah normal dan panen raya).
Perencanaan tenaga panen ditentukan pada saat panen puncak dengan rumus:
∑ 𝑝𝑒𝑚𝑎𝑛𝑒𝑛 = 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑇𝑀 (ℎ𝑎)
∑ 𝑘𝑎𝑝𝑣𝑒𝑙𝑑 𝑥 (𝑐𝑜𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑎𝑟𝑒𝑎 𝑝𝑒𝑚𝑎𝑛𝑒𝑛 (ℎ𝑎/𝐻𝐾) (5) Persiapan Infrastruktur, Sarana dan Prasarana Panen
Infrastruktur, sarana dan prasarana panen yang harus dipersiapkan untuk kelancaran proses panen adalah tempat pengumpulan hasil (TPH) yaitu tempat yang disiapkan dan disediakan di pinggir jalan di mana semua hasil panen dikumpulkan sebelum diangkut dengan kendaraan, akses jalan di dalam blok di antara dua baris tanaman kelapa sawit (pasar pikul), jalan penghubung yaitu jalan yang menghubungkan tiga pasar pikul, titi panen, collection road dan main road.
Gambar 28. Contoh Desain TPH di Jalan
Gambar 29. Contoh Penempatan TPH di Blok 16 Ha 4 meter
29
Gambar 30. Contoh Penempatan TPH di Blok 25 Ha
Gambar 31.Contoh Penempatan TPH di Blok 30 Ha
Gambar 32. Penomoran TPH di Pohon
Nomor Blok
No.TPH Tahun TPH
Tanam Afdelin g
30 (6) Persiapan Alat Panen
Agar proses panen dapat berjalan efektif, dibutuhkan alat panen yang memadai. Alat panen borong disediakan oleh perusahaan, namun dituangkan dalam kontrak terkait pengembalian alat panen setelah kontrak selesai. Masa pakai alat panen disesuaikan dengan rotasi tunas. Model dan jenis alat panen diusulkan oleh kebun dan ditentukan oleh kebun (contoh alat dan merek spesifikasi). Berikut adalah beberapa alat panen kelapa sawit yang harus ada di perkebunan:
a. Dodos
Alat panen dodos digunakan untuk memanen tanaman yang berumur ≤ 8 tahun. Alat panen dodos diklasifikasikan sebagai berikut:
• Dodos ukuran 8 cm untuk tanaman umur 3 tahun
• Dodos ukuran 10 cm untuk tanaman umur 4-6 tahun
• Dodos ukuran 12 cm untuk tanaman 7-8 tahun
Gambar 33. Dodos
b. Egrek
Alat panen egrek digunakan untuk memanen tanaman yang berumur > 8 tahun. Alat panen egrek diklasifikasikan sebagai berikut:
• Egrek standar untuk umur 8-12 tahun
• Egrek long untuk umur 13-20 tahun
• Egrek ekstra long untuk umur > 20 tahun
31
Gambar 34. Egrek dan Gancu
c. Gancu
Alat panen sawit yang satu ini biasanya digunakan untuk mengaitkan buah sawit dan mengorek berondolan di celah pelepah. Gancu lengkap dengan mata tombak yang terbentuk melengkung atau sabit dengan panjang sekitar 40-50 cm.
d. Kapak
Kapak digunakan untuk memotong tangkai buah yang terlalu panjang ataupun bagian pelepah daun yang sudah jatuh ketanah. Agar proses panen berjalan lancar, kapak yang digunakan harus memiliki mata pisau yang tajam.
Gambar 35. Kapak
e. Angkong
Jika seluruh buah sudah dipanen, proses berikutnya adalah mengangkut atau membawa TBS yang sudah dipanen menuju TPH menggunakan angkong.
32
Gambar 36. Angkong dan tojok
f. Tojok
Tojok terbuat dari pipa besi berongga seperti tombak dengan panjang sekitar 100 cm. Digunakan untuk mengangkat buah sawit dan melemparkannya ke truk.
Alat ini termasuk unik karena memiliki pegangan berbentuk huruf D atau T.
(7) Persiapan Alat Pelindung Diri dan Alat Pengaman untuk Alat Panen
Alat pelindung diri adalah kelengkapan wajib yang digunakan karyawan dalam menjamin keselamatan dan kesehatan kerja, dan upaya dalam menjamin keutuhan jasmaniah tenaga kerja. Alat Pelindung Diri yang digunakan di PTPN IV Unit Usaha Bunut adalah helm, boots, sarung tangan dan kacamata. Selain menggunakan APD. Alat pengaman untuk alat panen juga menjadi kelengkapan wajib untuk menjamin keselamatan kerja. Alat pengaman untuk alat panen yang digunakan adalah sabuk untuk dodos dan egrek.
Gambar 37. Alat Pelindung Diri
33
Gambar 38. Alat Pengaman untuk Alat Panen
(8) Angka Kerapatan Panen (AKP)
Rencana panen harian dibuat berdasarkan Angka Kerapatan Panen (AKP).
AKP adalah perbandingan antara buah matang dengan jumlah tanaman pada luasan sampel yang akan dipanen. AKP didapatkan dari kegiatan taksasi panen yang dilakukan satu hari sebelum panen. Kegunaan AKP adalah memperkirakan produksi yang akan dipanen, tenaga kerja pemanen dan kebutuhan armada pengangkutan per hari.
Tata cara perhitungan AKP:
a. Tetapkan blok sampel untuk setiap kapveld.
b. Satu blok sampel untuk setiap tahun tanam dalam satu kapveld maksimum 50 ha.
c. Pohon yang diamati 2-6% dari jumlah pohon dalam satu blok sampel.
3.3.2 Pengorganisasian (Organizing)
Dalam melaksanakan visi dan misi perusahaan maka dibentuklah organisasi perusahaan, pada setiap wilayah atau afdeling memiliki struktur organisasi masing- masing. Berikut contoh struktur organisasi di Afdeling II:
Gambar 39. Struktur Organisasi Afdeling II
Ahmad Rizky Asisten Afd II
Hotman SInurat
Mandor Panen A
Muhamad Ridho
Mandor Panen B
Wildan Hasibuan
Krani Cek Sawit A
Anton Teller Pane
Krani Cek Sawit B
Mintono
Pet. Timb Berondol
Tamam dan Suhriadi
Mandor Pemel Zulkarnain
Mandor I
Riza Wardani Siregar Krani Afdeling
34
Tugas pokok dan fungsi pada struktur organisasi dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Asisten afdeling
Asisten afdeling bertanggung jawab untuk mengawasi bagian kebun untuk memastikan bahwa budidaya dilakukan dengan benar dan produksi mencapai target.
b. Mandor I
Mandor I bertugas mengawasi pekerjaan dan bertanggungjawab atas terlaksananya pekerjaan yang menjadi pengawasannya. Mandor I juga membantu Asisten Afdeling dalam hal supervise dan pengoordinasian pekerjaan rutin.
c. Kerani Afdeling
Kerani Afdeling bertugas melakukan semua pencatatan di afdeling seperti laporan pengupahan karyawan afdeling, pencatatan premi tambahan, tunjangan, bantuan sosial. Membuat laporan-laporan hasil kerja pemanenan, pemeliharaan dan melakukan penginputan ke sistem. Melakukan pendataan karyawan, misalnya mutasi-mutasi karyawan, status pensiun, berapa jumlah tanggungan anak, istri serta status pernikahan.
d. Mandor Panen
Mandor panen bertugas memberikan arahan seputar areal dan hanca masing- masing pemanen, mengawasi pekerjaan di lapangan secara langsung dan memberi instruksi kepada pemanen, melaksanakan inspeksi panen setiap hari setelah kegiatan panen oleh pemanen selesai.
e. Kerani Cek Sawit
Kerani cek sawit (KCS) bertugas mencatat buah pemanen dari masing-masing pemanen, memandu dan ikut dalam proses pengangkutan TBS, dimana setiap truk akan ditimbang. Catatan dari KCS akan dilaporkan ke mandor panen.
f. Petugas Timbang Berondol
Petugas timbang berondol bertugas melakukan penerimaan dan penimbangan berondolan dari masing-masing pemanen dan dicatat yang akan dilaporkan ke KCS dan mandor panen.
35 g. Mandor Pemeliharaan
Mandor pemeliharaan membawahi pekerja pemeliharaan secara langsung yang melakukan pekerjaan pemeliharaan seperti pengendalian gulma (chemis maupun membabat), pemangkasan, pemupukan serta pengendalian hama.
3.3.3 Pelaksanaan (Actuating)
Pelaksanaan panen dimulai dari kegiatan apel pagi yang dipimpin langsung oleh asisten dan/atau Mandor I yang berisikan evaluasi hari sebelumnya (pemanen dengan output terendah, pembacaan hasil kap inspeksi hanca terbaik dan terburuk).
Evaluasi dalam apel pagi dibuat seoptimal mungkin, paling lambat 15-20 menit.
Apel pagi dibuat absensi setiap hari. Jika Manajer atau Asisten Kepala mengikuti kegiatan apel pagi, maka pembacaan dilakukan oleh pimpinan tertinggi. Mandor I memberikan pengarahan dan membagi hanca kepada pemanen.
Berikut alur panen kelapa sawit:
Gambar 40. Alur Proses Panen Kelapa Sawit.
1. Pemanen memasuki hanca panen seksi 1 untuk memotong TBS yang sesuai kriteria matang panen, setelah itu dilanjutkan dengan seksi 2 dan seterusnya sesuai pengarahan mandor panen dimulai pukul 07.00 pagi. Berikut contoh pengaturan seksi panen kelapa sawit sesuai ukuran blok:
1. Pemanen Masuk Hanca
2. Identifikasi Brondolan Dipiringan
3. Menurunkan Pelepah
4. Memotong dan Menyusun Pelepah
5. Menyusun Pelepah di Gawangan Mati 6. Memotong dan
Menurunkan TBS 7. Memotong
Gagang "Cangkem Kodok"
8. Mengutip Brondolan
9. Meletakkan TBS dan Berondolan di
PAsar Pikul
10. Pindah pokokk berikutya sampai 2
pasar pikul
11. Menyusun TBS di Angkong
12. Mengangkut TBS ke TPH
13. Menurunkan dan Menyusun TBS
di TPH 14. Menuang
Brondolan ke Goni Gelaran
36 Pengancakan pertama:
Seksi I :0,90 Ha
Jlh pohon/TPH : ± 130 pohon 1 TPH untuk 6 baris tanaman
Pengancakan kedua:
Seksi II :0,90 Ha Jlh pohon/TPH : ± 130 pohon 1 TPH untuk 6 baris tanaman
Pengancakan pertama:
Seksi I :0,60 Ha Jlh pohon/TPH : ± 85 pohon 1 TPH untuk 6 baris tanaman
Pengancakan kedua:
Seksi II :0,60 Ha Jlh pohon/TPH : ± 65 pohon 1 TPH untuk 6 baris tanaman
38 Pengancakan pertama:
Seksi I :0,60 Ha Jlh pohon/TPH : ± 85 pohon 1 TPH untuk 6 baris tanaman Pengancakan kedua:
Pengancakan ketiga:
Seksi III adalah sisa dari luas hanca yang diberikan pada hari tersebut, pemanen melanjutkan dengan pindah ke blok yang lain
Seksi II :0,60 Ha Jlh pohon/TPH : ± 65 pohon 1 TPH untuk 6 baris tanaman
2. Setelah menemukan buah matang turunkan atau panen buah dengan menggunakan pisau egrek atau dodos.
3. Sebelum menurunkan TBS matang, terlebih dahulu dilakukan penurunan pelepah. Namun untuk tanaman yang berumur < 8 tahun jumlah pelepah yang tinggal di pokok harus sesuai dengan standar umur tanaman sehingga dimungkinkan melaksanakan ”curi buah’ untuk mempertahankan jumlah pelepah yang ideal. Apabila pemotongan pelepah daun mengenai pelepah lain sehingga pelepah tersebut menjadi sengkleh/terkulai, atau terdapat pelepah sengkleh/terkulai dari hasil pekerjaan panen sebelumnya, maka pelepah tersebut agar ikut diturunkan.
Gambar 41. Kegiatan Penurunan dan Penyusunan Pelepah
4. Turunkan buah matang dengan cara memotong tangkai tandan menggunakan egrek atau dodos.
5. Pelepah yang telah diturunkan agar dipotong menjadi 2-3 bagian dan ditumpuk pada tempat rumpukan sesuai arah aturan (“I shape”). Pada areal
40
berbukit sd curam, pelepah tidak dipotong dan ditumpuk diantara barisan tanaman dengan posisi tegak lurus (melintang) terhadap kemiringan areal yang bertujuan untuk mengurangi erosi (bibir terasan).
Gambar 42. Posisi Tumpukan Pelepah "I Shape"
6. Geser buah ke tempat yang bersih di dalam piringan dekat pasar pikul dengan menggunakan gancu
7. Potong tangkai tandan buah (gagang buah) dengan kapak. Pemotongan gagang dilakukan masuk ke arah dalam tandan buah hingga membentuk
“V” atau “cangkem kodok”. Kumpulkan semua berondolan di dekat buah pada pasar pikul. Pastikan tidak ada berondolan yang tertinggal/tidak dikutip.
8. Seluruh tahapan panen harus dilakukan pohon per pohon kemudian dilanjutkan mencari buah matang pada pokok selanjutnya. Sampai batas pasar kontrol.
9. Setelah memanen sampai pukul 08.00, mandor memberikan instruksi kepada pemanen untuk mengeluarkan buah yang telah dipanen (hal ini bertujuan agar proses kegiatan angkut buah sudah bisa dimulai). Buah dikeluarkan dengan menggunakan angkong atau alat bantu lainnya ke TPH.
Rumpukan Pelepah
41
10. Pastikan tidak berondolan yang tertinggal di piringan atau di ketiak daun.
Pada saat membawa TBS ke TPH diperhatikan agar berondolan tidak tercecer di sepanjang pasar pikul. Apabila terdapat buah mentah yang terlanjur dipanen, tandan buah tersebut tetap harus dibawa ke TPH dengan diberi tanda “X” menggunakan ”pensil tukang merah-biru” pada bekas potongan gagang buah oleh pengawas. Buah mentah yang ter panen tetap dilaporkan dan dikirim ke PKS.
11. TBS disusun di TPH kelipatan 5 setiap barisnya dan gagang menghadap jalan, sedangkan brondolan dimasukkan ke dalam jaring/karung goni brondolan dan ditetapkan di belakang susunan TBS.
12. Apabila terdapat tandan buah busuk maka tandan buah tersebut harus dirontokkan sampai bersih dengan cara membantingkan ke tandan buah lainnya kemudian berondolan dimasukkan ke dalam karung goni. Tandan yang telah kosong dibuang ke gawangan/ di pinggir TPH.
13. Setelah buah untuk satu TPH terkumpul semua, pada semua TBS diberi penanda kode mandor dan nomor pemanen menggunakan pensil kopi atau alat tulis lainnya.
Gambar 43. Kegiatan Panen Kelapa Sawit
14. Penandaan (kode mandor & nomor pemanen) dilakukan oleh pemanen.
Jumlah TBS per TPH dan tanggal panen dituliskan pada tangkai bekas potongan tandan dan ditempatkan diatas jaring brondolan atau di atas susunan TBS.
42
Gambar 44. Penandaan Inisial, Informasi Tanggal Panen dan Jumlah TBS
15. Lanjutkan pemanenan sampai seluruh hanca selesai dipanen. Apabila pemanen sudah menyelesaikan seluruh seksi dalam satu hanca Kapveld namun masih ingin melanjutkan panen untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak, maka pemanen meminta ijin kepada mandor untuk membantu pemanen lain yang belum tembus hanca atau dapat pindah ke hanca Kapveld berikutnya.
16. Sebelum pulang, pemanen wajib melaporkan hasil pekerjaannya kepada mandor panen terkait hancanya (selesai atau tidak).
17. Hasil produksi setiap pemanen harus ditulis di buku catatan oleh Kerani Cek Sawit dan setiap pemanen dapat melihat hasil produksinya dalam catatan pemeriksaan ini.
43
Afdeling :
Nama Pemanen : Nomor Pemanen : Kemandoran :
Tgl panen Blok
Basis Borong/Basis
Tugas (Kg)
Pendapatan (Tandan)
Brondolan (Kg)
Denda (Rp)
Paraf Mandor Normal Mentah Lewat
Matang/Busuk Total
1 2 3 4 5 6 7=4+5+6 8 9 10
Tabel 1. Contoh Format Buku Pemeriksaan KCS
Setelah pemanenan dan hasil sudah terkumpul di TPH, hal berikutnya yang dilakukan adalah pengangkutan TBS. Pengangkutan TBS memiliki peranan penting dalam menjaga kualitas minyak yang telah dipanen. Buah yang tidak segera diangkut akan menyebabkan kerugian seperti kenaikan kadar asam lemak bebas (ALB) dan meningkatnya risiko kehilangan yang disebabkan pencurian TBS di TPH. Pengangkutan di PTPN IV Unit Usaha Bunut menggunakan kendaraan pemborong. Jumlah truk ditentukan berdasarkan kerapatan buah (AKP) karena tiap bulan jumlah truk yang dibutuhkan berbeda akibat produksi tiap bulan yang berbeda. Truk tersebut hanya digunakan untuk mengangkut hasil panen dan tidak digunakan untuk kegiatan lain.
3.3.4 Pengawasan (Controlling)
Pengendalian kualitas panen kelapa sawit sangat mutlak diperlukan dan merupakan dari Quality Control (QC) Operasional Tanaman Kelapa Sawit. Quality Control adalah pemeriksaan seluruh proses operasional tanaman. Salah satu kegiatan QC yaitu melakukan pemeriksaan terhadap seluruh proses panen dengan memberikan nilai/poin kesalahan sesuai dengan mutu panen.
Guna mempertahankan mutu panen agar sesuai dengan norma, maka dilaksanakan pemeriksaan Inspeksi Panen oleh Mandor Panen. Mandor panen bertanggungjawab terhadap mutu TBS yang dipanen oleh pemanen yang berada dibawah pengawasannya. Pengendalian kualitas panen TBS di lapangan sangat mempengaruhi capaian rendemen dan mutu CPO. Oleh karena itu kesalahan dan
44
pelanggaran terhadap norma serta ketentuan yang berlaku akan diberikan punishment atau denda.
Berikut punishment atau denda pemanen untuk temuan di hanca panen:
(1) Buah matang tidak dipanen/tinggal di pohon : Rp. 5.000/tandan (2) Buah mentah diperam dihanca : Rp. 5.000/tandan (3) Buah dipanen tidak diangkat ke TPH : Rp. 25.000/tandan (4) Berondolan di potongan gagang : Rp. 1.000/tandan (5) Berondolan tidak dikutip bersih : Rp. 50/butir (6) Pelepah tidak disusun rapi : Rp. 1.000/pohon (7) Pelepah sengkleh/kering tidak diturunkan : Rp. 1.000/pohon
(8) Egrek tidak dilengkapi dengan pengaman : Rp. 5.000/egrek/temuan Berikut punishment atau denda pemanen untuk temuan di TPH:
(1) Buah mentah di TPH : Rp. 10.000/tandan
(2) Buah busuk tidak diberondolkan : Rp. 2.000/tandan (3) Tangkai panjang tidak dipotong : Rp. 2.000/tandan
(minimal 2 cm)
(4) Tangkai TBS tidak berbentuk ”V” : Rp. 500/tandan (5) Tandan tidak diberi informasi : Rp. 500/TPH
(nomor mandor dan pemanen)
(6) TBS tidak disusun rapi di TPH : Rp. 5.000/TPH
45
Berikut punishment atau denda pengawas untuk temuan sampling sortasi di PKS:
No Di Loading Ramp Yang Didenda Sanksi/Denda
1 Buah Mentah • Mandor Panen Rp. 3.600/tandan
• Kerani Cek Sawit Rp. 3.600/tandan
• Mandor I Rp. 2.500 /tandan
• Asisten Afdeling Rp. 750/tandan
• Asisten Kepala Rp. 350/tandan
• Manajer Kebun Rp. 200/tandan 2 Tangkai panjang tidak
dipotong berbentuk “V”
(cangkem kodok)
• Kerani Cek Sawit Rp. 1.000/tandan
• Mandor I Rp. 500/tandan
• Asisten Afdeling Rp. 400/tandan
• Asisten Kepala Rp. 200/tandan
• Manajer Kebun Rp. 100/tandan 3 Buah tidak bernomor • Kerani Cek Sawit Rp. 500/tandan
• Mandor I Rp. 250/tandan
• Asisten Afdeling Rp. 200/tandan
• Asisten Kepala Rp. 100/tandan
• Manajer Kebun Rp. 50/tandan 4 TBS busuk tidak
diberondolkan • Kerani Cek Sawit Rp. 1.000/tandan
• Mandor I Rp. 500/tandan
• Asisten Afdeling Rp. 400/tandan
• Asisten Kepala Rp. 200/tandan
• Manajer Kebun Rp. 100/tandan
Tabel 2. Sanksi/Denda Pengawas untuk Temuan Sampling Sortasi di PKS
Catatan:
Denda diberlakukan apabila tidak ada tanda silang pada tangkai buah (sebagai bukti telah dilaksanakannya sortasi afdeling).
3.3.5 Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi panen dilaksanakan setiap hari pada pukul 17.00 yang diikuti oleh Mandor I, Mandor Panen, KCS yang membahas mengenai hanca-hanca yang tidak tembus, kap inspeksi, output panen dan perencanaan untuk pekerjaan panen di hari berikutnya. Kegiatan pemeliharaan dan pemupukan juga dapat dilakukan bersamaan dengan rapat evaluasi ini. Setiap kegiatan rapat monitoring dan evaluasi dilengkapi dengan absensi dan dokumentasi.
46 IV. PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Dari hasil magang yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa fungsi manajemen panen dan angkut TBS kelapa sawit yang dilakukan PT. Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Bunut ada 4 yaitu, perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), pengawasan (controlling) dan evaluasi (evaluation). Fungsi Manajemen panen dan angkut TBS kelapa sawit dilakukan agar sistem panen teratur sehingga dapat mengurangi kehilangan hasil panen (losses) dan juga mempengaruhi jumlah hasil panen selanjutnya. Ke empat fungsi manajemen yang dilakukan juga sesuai dengan teori yang diterima dijenjang akademik.
4.2 Saran
Meskipun fungsi manajemen sudah diterapkan dengan beberapa aturan, namun masih ada beberapa karyawan yang tidak patuh dalam menjalankan aturan tersebut.
Sebaiknya diberi teguran atau sanksi untuk karyawan yang tidak patuh, terutama pada pemakaian kelengkapan alat pelindung diri pada saat bekerja yang wajib digunakan dalam menjamin keselamatan dan kesehatan kerja,