8.1 Tatalaksana dan edukasi gagal jantung A. Tatalaksana Non farmakologi
a) Manajemen Perawatan Mandiri
Manajemen perawatan mandiri dapat didefinisikan sebagai tindakan-tindakan yang bertujuan untuk menjaga stabilitas fisik, menghindari perilaku yang dapat memperburuk kondisi dan mendeteksi gejala awal perburukan gagal jantung.
Manajemen perawatan mandiri mempunyai peran penting dalam keberhasilan pengobatan gagal jantung dan dapat memberi dampak bermakna untuk perbaikan gejala gagal jantung, kapasitas fungsional, kualitas hidup, morbiditas, dan
prognosis1
b) Ketaatan pasien berobat
Ketaatan pasien untuk berobat dapat mempengaruhi morbiditas, mortalitas dan kualitas hidup pasien. Berdasarkan literatur, hanya 20-60% pasien yang taat pada terapi farmakologi maupun non-farmakologi1
c) Pemantauan berat badan mandiri
Pasien harus memantau berat badan rutin setap hari, jika terdapat kenaikan berat badan kurang lebih 2 kg dalam 3 hari, pasien harus menaikan dosis diuretik atas pertimbangan dokter1
d) Asupan cairan Restriksi cairan 900 ml–1,2 liter/hari sesuai berat
badan)dipertimbangkan terutama pada pasien dengan gejala berat yang disertai hiponatremia. Restriksi cairan rutin pada semua pasien dengan gejala ringan sampai sedang tidak memberikan keuntungan klinis1
e) Kehilangan berat badan tanpa rencana Malnutrisi klinis atau subklinis umum dijumpai pada gagal jantung berat. Kaheksia jantung (cardiac cachexia)
merupakan prediktor penurunan angka mortalitas. Jika selama 6 bulan terakhir terjadi kehilangan berat badan >6 % dari berat badan stabil sebelumnya tanpa disertai retensi cairan, pasien didefinisikan sebagai kaheksia. Status nutrisi pasien harus dinilai dengan hati-hati1
f) Latihan fisik Latihan fisik direkomendasikan kepada semua pasien gagal jantung kronik stabil. Program latihan fisik memberikan efek yang sama baik dikerjakan di rumah sakit atau di rumah1
B. Tatalaksana Farmakologi
golongan obat yang digunakan pada terapi farmakologis gagal jantung, meliputi: diuretik, ACE-inhibitor Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor, Angiotensin Receptor Blocker, Beta Blocker, Antagonis Aldosteron
a) Diuretic
Obat-obatan golongan diuretik diberikan pada pasien gagal jantung dengan tanda kongesti . Efek utama dari pemberian diuretik yakni mengurangi tekanan darah dan preload ventrikel. Selain itu, pada pasien gagal jantung kiri, pemberian diuretik akan membantu mengurangi pembengkakan jantung sehingga pemompaan lebih efisien
Tiazid bekerja dengan menghambat reabsorpsi natrium dan klorida. Sedangkan diuretik loop bekerja dengan menghambat transporter Na-K-Cl di lengkung henle sehingga reabsoprsi mineral-mineral tersebut berkurang. Obat- obatan diuretik loop sangat mudah berikatan dengan protein plasma sehingga obatobatan tersebut kurang difiltrasi di glomerulus2
b) ACE-inhibitor merupakan terapi lini pertama bagi pasien gagal jantung. Obat golongan ini harus diberikan pada pasien dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri
kurang lebih empat puluh persen . Mekanisme kerja dari ACE-inhibitor yakni dengan menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II yang diperantarai oleh ACE . Dengan begitu, jumlah angiotensin II akan menurun diikuti dengan jumlah aldosteron. Berkurangnya hormon-hormon tersebut akan mencegah terjadinya fibrosis miokard, apoptosis miosit, hipertropi jantung, pelepasan norepinefrin, vasokontriksi, dan retensi cairan2
c) Obat-obat ARB bekerja dengan memblok reseptor angiotensin II subtipe 1 . Sehingga, efek dari angiotensin II akan terhambat. Dampak dari terbloknya reseptor AT1 yakni vasodilatasi dan terhambatnya perburukan ventrikel. Karena obat ARB tidak menghambat ACE, sehingga tidak mempengaruhi aktivitas bradikinin. Bradikinin merupakan mediator inflamasi yang dapat menyebabkan batuk. Oleh sebab itu, ARB biasanya diberikan pada pasien yang tidak toleran terhadap pemberian ACE-inhibitor, khususnya batuk.Sama halnya dengan ACE- inhibitor, obat-obat ARB dapat menyebabkan perburukan fungsi ginjal,
hiperkalemia, dan hipotensi simptomatik. Hanya saja ARB tidak menyebabkan batuk2
d) Metoprolol, carvedilol, dan biprolol adalah obat golongan beta blocker yang terbukti dapat mengurangi mortilitas gagal jantung. Metoprolol dan bisoprolol bekerja selektif memblok reseptor β1 sedangkan carvedilol memblok reseptor β1, β2, dan α1. Obat-obat beta blocker tidak boleh diberikan pada pasien yang
memiliki asma dan dapat menyebabkan bradikardia2
e) Spironolakton dan eplerenon merupakan obatobat golongan antagonis aldosteron yang bekerja dengan memblok reseptor mineralokortokoid. Di ginjal, antagonis aldosteron menghambat reabsorpsi natrium dan ekskresi potasium. Sehingga antagonis aldosteron juga memiliki efek diuretik. Di jantung, antagonis aldosteron menghambat terbentuknya deposit kolagen dan matriks. Deposit kolagen dan matriks merupakan salah satu pemicu terjadinya fibrosis jantung dan remodeling ventrikel2
Referensi
1. PERKI. Pedoman Tatalaksana Gagal Jantung. Perhimpun Dr Spes Kardiovask Indones. 2020;848–53
2. Nurkhalis, Adista RJ. Manifestasi Klinis dan Tatalaksana Gagal Jantung. J Kedokt Nanggroe Med. 2020;3(3):36–46.