HAMA DAN PENYAKIT PENTING TANAMAN UTAMA PERKEBUNAN
Dani Sutanta S
Definisi Hama dan Penyakit
Hama ialah semua binatang yang mengganggu dan merugikan tanaman yang diusahakan manusia
Hama tanaman sering disebut ‘serangga hama’ (pest) atau dalam dunia pertanian dikenal sebagai ‘musuh petani’
Para ahli pertanian membuat beberapa versi pengertian (definisi) hama tanaman, diantaranya sebagai berikut:
Organisme “jahat” yang mempunyai kemampuan untuk merusak, mengganggu,
Organisme “jahat” yang mempunyai kemampuan untuk merusak, mengganggu, atau merugikan organisme lainnya (inang)
Organisme yang “memusuhi” (merugikan) kesejahteraan manusia
Setiap spesies organisme yang dalam jumlah besar tidak kita kehendaki kehadirannya
Organisme yang merugikan dari segi andangan manusia
Organisme hidup yang merupakan saingan kita dalam memenuhi kebutuhan pangan dan pakaian, ata menyerang kita secara langsung
Berdasarkan pernyataan (pendapat) di atas, hama tanaman dalam arti luas adalah semua organisme atau binatang yang karena aktivitas hidupnya merusak tanaman sehingga menimbulkan kesugian ekonimi bagi manusia
Penyakit tanaman adalah sesuatu yang menyimpang dari
keadaan normal, cukup jelas menimbulkan gejala yang dapat
dilihat, menurunkan kualitas atau nilai ekonomis, dan merupakan akibat interaksi yang cukup lama
Tanaman sakit adalah suatu keaadaan proses hidup tanaman yang menyimpang dari keadaan normal dan menimbulkan yang menyimpang dari keadaan normal dan menimbulkan kerusakan
Makna kerusakan tanaman adalah setiap perubahan pada
tanaman yang menyebabkan menurunya kuantitas dan kualitas hasil
Penyakit pada tanaman budidaya biasanya disebabkan oleh
Cendawan, Bakteri, Virus dan faktor lingkungan (iklim, tanah, dan
lain-lain)
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
- Tanaman tahunan dengan umur ekonomis 25 – 30 tahun
- Sistem pertanian monokultur
- Ditanam pada hamparan luas
- Siklus hidup hama dan penyakit pendek AKIBAT SERANGAN
- Kehilangan bahan tanam
- Tambahan biaya sisipan dan perawatan
- Penundaan panen
- Penurunan produksi
- Tambahan biaya pengendalian
FALSAFAH
MANUSIA
ORGANISMEPENGGANGGU
MAKHLUK HIDUP
MAKHLUK HIDUP
BERSAING
MANA YANG MENANG ?
MANUSIA MEMBERANTAS ORGANISME PENGGANGGU
ORGANISME PENGGANGGU MEMBERANTAS MANUSIA
MANUSIA + ORGANISME PENGGANGGU
KEDUDUKAN ORGANISME PENGGANGGU DALAM TEKNIK BERCOCOK TANAM
TANAMAN
PRODUKSITINGGI
FAKTOR + FAKTOR -
KUALITAS KUANTITAS
FAKTOR + FAKTOR -
ORGANISME PENGGANGGU
ORGANISME PENGGANGGU DIKENDALIKAN
HAMA
PENYAKIT
GULMA PERLINDUNGAN TANAMAN
- DAPAT DIKUASAI
- TIDAK DAPAT DIKUASAI
ORGANISME PENGGANGGU DAN LINGKUNGANNYA
IKLIM
OP
INANG
MUSUH ALAMIOP
OP = ORGANISME PENGGANGGU
PERLINDUNGAN TANAMAN
PD (SI) = BP - ER
PD = Population Density (Kerapatan Populasi) (Kerapatan Populasi) SI = Source of Innoculum
(Banyaknya Sumber Penular) BP = Biotic Potential
(Kemampuan Biotic)
ER = Environmental Resistance (Ketahanan Lingkungan)
BP
Produksi telur/spora/biji Daya tetas telur, daya kecambah spora/biji
Lama berlangsungnya fase
Cara reproduksi
Sex ratio
ER
Faktor luar yang menghambat Iklim- Hujan
Inang - Jumlah
ER
- Hujan- Kelembaban - Suhu
- Penyinaran - Angin
Musuh Alami - Predator - Parasit - Penyakit
- Jumlah - Jenis - Mutu
- Tersedianya
EKOSISTEM HUTAN
PD/SI
gk (a) gk (a)
Waktu Kerapatan populasi/Banyaknya sumber penular
Faktor penghambat
EKOSISTEM PERKEBUNAN
PD/SI
gk (ab)
gk (a)
Waktu
Kerapatan populasi/Banyaknya sumber penular Faktor penghambat
PERLINDUNGAN TANAMAN
PD (SI) = BP - ER
A. Menurunkan BP
1.
Cara Mekanis2.
2.
Cara Biologis3.
Cara Kimiawi B. Menaikan ER1.
Cara teknik bercocok tanam2.
Cara seleksi3.
Cara BiologisC. Karantina Tumbuhan
Tugas Presentasi
Hama dan penyakit penting tanaman karet
Hama dan penyakit penting tanaman teh
Hama dan penyakit penting tanaman tebu
HAMA DAN PENYAKIT PENTING KELAPA SAWIT
Dani Sutanta S
Pendahuluan
Luas lahan kelapa sawit di Indonesia 10.856.500 ha
Produksi kelapa sawit nasional mencapai 26.015.520 ton Kelapa sawit merupakan komoditas yang memiliki banyak pungsi dan kebutuhan, baik untuk skala rumah tangga maupun industri
Program konversi sumber energi minyak fosil (minyak bumi) ke biodiesel yang menggunakan bahan baku kelapa sawit
yang menggunakan bahan baku kelapa sawit
Bila ditinjau dari segi produktivitas, Indonesia dari tahun 2006 sudah mengalami peningkatan dan mengalahkan produktivitas Malaysia
Melihat kondisi – potensi lahan, industri minyak kelapa sawit, pasar hasil industri kelapa sawit baik dalam negeri maupun luar negeri serta
membandingkannya dengan nilai perdagangan kelapa sawit Indonesia dan dunia
HAMA PENTING KELAPA SAWIT
HAMA PEMAKAN DAUN
1. Jenis
Ulat api Ulat kantong
Setothosea asigna Mahasena corbetti Setothosea asigna Mahasena corbetti Setora nitens Metisa plana
Darna trima Pteroma pendula
Ploneta diducta
Larva Setothosea asigna
Larva Setora nitens
Larva Darna trima
Larva Ploneta diducta
Larva Mahasena corbetti
Siklus Hidup
Kelompok Nama Ilmiah
Siklus hidup (hari)
Jumlah Telur Larva (instar) Kepompong
Ulat api
S. asigna S. nitens D. trima
4 – 8 3 – 5 4 – 6
49 – 51 (VI – VIII) 29 (VI – VIII) 30 – 39 (V – VI)
40 23 11 – 14
93 – 99 55 – 57 45 – 59 Ulat api D. trima
P. diducta
4 – 6 5
30 – 39 (V – VI) 34 (V – VI)
11 – 14 13
45 – 59 52
Ulat kantong
M. corbetti M. plana P. pendula
16 18 18
80 (IV – V) 50 (IV – V) 50 (IV – V)
30 25 25
126 93 93
Tujuan mengetahui siklus hidup :
- Memperkirakan waktu munculnya hama tersebut pada
generasi berikutnya
- Memperkirakan ketersediaan waktu pengendalian
- Memperkirakan ketersediaan waktu pengendalian
- Menyusun strategi pengendalian (alat, bahan kimia
dan tenaga kerja)
Pengendalian
Hasil pengendalian yang efektif sangat ditentukan oleh deteksi awal dan diikuti perlakuan/tindakan segera
Rekomendasi teknik pengendalian hama ulat api dan ulat kantong adalah :
(I) Pengutipan larva (Hand picking) (II) Penyemprotan insektisida
(II) Penyemprotan insektisida (III) Injeksi batang
(IV) Infus akar
(V) Pengutipan kepompong
(VI) Konservasi dan eksploitasi musuh alami
Pengendalian dengan menggunakan salah satu teknis tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan, sehingga perlu diterapkan pengendalian hama terpadu (PHT)
HAMA TIKUS
KERUSAKAN
(I) Pembibitan
- Memakan kecambah yang baru tumbuh, sehingga kecambah mati
- Mengerat bagian pangkal pelepah sampai jaringan muda, bibit tumbuh abnormal atau mati.
(II) Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
- Mengerat bagian pangkal pelepah sehingga pelepah tumbang - Mengerat jaringan meristem sehingga bibit mati
- Mengerat jaringan meristem sehingga bibit mati (III) Tanaman Menghasilkan (TM)
- Mengerat buah muda dan buah masak - Memakan brondolan
- Merusak bunga jantan
JENIS TIKUS
Tikus sawah :Rattus argentiventer Tikus pohon :Rattus tiomanicus Tikus rumah :Rattus-rattus diardii
Tikus rumah : Rattus-rattus diardii
Serangan baru tikus pada Tanaman Belum Menghasilkan
Bekas serangan tikus pada TBM, tampak pelepah sengkleh
Serangan tikus pada tanaman menghasilkan
Bekas serangan tikus pada tandan buah
INFORMASI RACUN TIKUS
Berdasarkan cara kerjanya, racun tikus digolongkan dalam 2 kelompok yaitu Acute dan Chronic.
Racun tikus acute bersifat sangat mematikan walaupun tikus baru makan dalam jumlah sedikit, racun tikus acute juga berbahaya terhadap makan dalam jumlah sedikit, racun tikus acute juga berbahaya terhadap manusia dan binatang piaraan lainnya. Selain itu racun tikus acute dapat menyebabkan kejeraan.
Contoh : Phosphide, Endrin, Bidrin
Racun tikus chronic bekerja sebagai antikoagulan, yaitu apabila tikus makan racun dalam jumlah cukup akan menyebabkan pendarahan secara terus menerus.
Serangan baru tikus pada Tanaman Menghasilkan
Serangan baru tikus pada tandan muda
Serangan tikus pada bunga jantan
Burung Hantu, Tyto albasebagai predator potensial hama tikus
HAMA TANDAN BUAH (Tirathaba rufivena)
Status Hama
Dalam perkebunan kelapa sawit, populasi Tirathaba pada tingkat rendah selalu ada pada semua tingkat umur tanaman menghasilkan
Populasi yang rendah ini selalu terjaga oleh adanya musuh- Populasi yang rendah ini selalu terjaga oleh adanya musuh- musuh alami dan praktek budidaya. Namun serangan serius dan luas dapat terjadi pada tanaman yang baru menghasilkan.
Dalam keadaan normal, hama Tirathaba hanya merusak
permukaan buah dengan membuat gerekan-gerekan. Akan
tetapi pada kondisi serangan berat dapat menyebabkan
rusaknya tandan buah sehingga menurunkan hasil yang nyata.
Siklus Hidup
Stadia Uraian Waktu (hari)
Telur
Diletakkan secara berkelompok 1 – 20 butir pada permukaan seludang bunga jantan dan betina
4 – 5 Larva muda berwarna putih kotor,
Larva
Larva muda berwarna putih kotor, sedangkan yang dewasa berwarna coklat muda-gelap, panjang 40 mm dan ditutupi oleh rambut-rambut yang panjang
16 – 21 (5 instar)
Kepompong
Kepompong dilindungi oleh kokon dan
berada di dalam tandan atau antara tandan dan pelepah warna kepompong coklat
9 – 12
Kupu-kupu
Sayap depan berwarna coklat muda
kehijauan dan sayap belakang berwarna coklat muda
5 – 10
Gejala Serangan
Kehadiran hama Tirathaba pada perkebunan kelapa sawit dapat dideteksi dengan gejala sebagai berikut :
(I) Dijumpai adanya bekas gerekan pada permukaan buah berbentuk cincin atau alur-alur
berbentuk cincin atau alur-alur
(II) Adanya kotoran larva yang menutupi permukaan tandan buah
Serangan baru : kotoran berwarna kemerahan (larva masih aktif) Serangan lama : Kotoran berwarna coklat gelam sampai kehitaman (larva tidak aktif/kepompong)
Serangan baru : kotoran berwarna kemerahan (larva
masih aktif
)Bekas serangan hama Tirathaba
Pohon terserang adalah pohon yang terdapat kotoran baru berwarna kemerahan pada permukaan salah satu tandan atau lebih
satu tandan atau lebih
Pengendalian
Tanaman Belum Menghasilkan dan Sisipan
Dalam keadaan normal kebijaksanaan kastrasi yang dilakukan tepat waktu dan konsisten akan mampu mencegah meningkatnya populasi Tirathaba
Apabila pada saat melakukan rotasi kastrasi dijumpai adanya serangan, tindakan yang dianjurkan adalah :
serangan, tindakan yang dianjurkan adalah :
- Semua bunga/tandan yang dipotong dikumpulkan, dikeluarkan dari lapangan dan dibakar
ATAU
- Semua bunga/atau tandan yang dipotong dikumpulkan dan disemprot dengan insektisida Thiodan 35 EC atau Regent 50 SC
Pencegahan dengan penyemprotan insektisida
Untuk menekan peningkatan populasi Tirathaba pada tanaman muda, dua rotasi penyemprotan pencegahan dianjurkan :
Rotasi I
: 2 – 3 bulan sebelum panen
Rotasi II
: 2 minggu setelah penyemprotan rotasi I
Penyemprotan hanya terbatas pada pohon terserang.
Penyemprotan hanya terbatas pada pohon terserang.
Penyemprotan pada seluruh bunga, tandan baik yang terserang
maupun sehat termasuk tandan yang sudah busuk.
Oryctes rhinoceros
Hama kumbang tanduk Oryctes rhinoceros merupakan hama
penting kelapa sawit pada areal peremajaan. Kumbang tanduk
dapat menyerang sejak di pembibitan, tanaman muda di
lapangan dan bahkan tanaman dewasa > 7 tahun (terutama
pada areal yang memanfaatkan janjang kosong sebagai
pada areal yang memanfaatkan janjang kosong sebagai
mulsa).
Bekas serangan hama Oryctes
Potensi Kerusakan
Pembibitan
Kumbang tanduk menggerek pangkal pelepah terbawah, dan langsung mencapai titik tumbuh. Kerusakan yang dapat dilihat adalah daun tombak mengering dan mudah dicabut.
TBM TBM
Kumbang menggerek pangkal pelepah sebelah atas, kemudian meneruskan gerekan ke bawah sampai jaringan muda. Gejala yang dapat dilihat adalah adanya lubang gerekan, daun tumbang mengering dan mudah dicabut.
TM
Membuat lubang gerekan pada pangkal pelepah sebelah atas, setelah pelepah membuka sebagian pelepah akan patah.
Tanaman muda terserang Oryctes berulangkali
Siklus Hidup
Telur diletakkan kumbang betina secara tunggal pada bahan-bahan organik yang sedang melapuk (kayu, batang kelapa sawit, janjang kosong)
Telur menetas setelah 10 – 18 hari. Larva terbagi dalam tiga instar dan berlangsung selama 102 hari (63 - 180 hari).
Pre-pupa dilindungi oleh serabut-serabut media hidupnya dan berlangsung 7,7 hari (6 – 12 hari)
7,7 hari (6 – 12 hari)
Pupa berada pada tempat yang sama selama 22,4 hari (16 – 27 hari)
Setelah menjadi kumbang dewasa, tetap tinggal di dalam kokon selama 19,7 hari (11 – 29 hari)
Siklus hidup Oryctes adalah rata-rata 164,3 hari (106 – 266 hari)
Larva Oryctes rhinoceros
Kumbang Oryctes rhinoceros
Permasalahan
Tumbuh dan berkembangnya hama Oryctes serta kerusakan yang ditimbulkannya sangat ditentukan oleh dua faktor :
(I) Ada tidaknya sumber hama (I) Ada tidaknya sumber hama
(II) Tersedianya media untuk berkembang biak
Pengendalian
Di dalam usaha pengendalian dilakukan dua hal penting yaitu pencegahan (menghindari penyediaan media perkembangbiakannya) dan penyembuhan yaitu dengan mematikan/menangkap serangga (kumbang, larva dan kepompong)
Pencegahan
Menanam kacangan penutup tanah
Menghancurkan tempat/media perkembangbiakannya
Penyebaran janjangan kosong dalam satu lapisan
LCC sebagai sarana pencegahan Perkembangbiakan
Oryctes
Penyembuhan
Wingkling (mengutip dan membunuh kumbang yang menyerang tanaman) dengan rotasi
Tingkat Serangan Frekuensi
2 pohon/ha 1 bulan
3 – 5 pohon/ha 2 minggu
> 5 pohon/ha 1 minggu
Aplikasi Insektisida
Aplikasi insektisida dilakukan apabila tingkat serangan > 5 pohon/ha.
Insektisida Jumlah/pohon
Teknik aplikasi Frekuensi aplikasi Nama dagang Bahan aktif insektisida air
Decis 2,5 EC Matador 25 EC
Deltamethrin L-sihalothrin
3,5 ml 3,5 ml
100 ml 100 ml
Penyemprotan daun tombak
2 minggu Matador 25 EC
Cymbush 50 EC
L-sihalothrin Sipermethrin
3,5 ml 10 ml
100 ml 100 ml
daun tombak dan pangkal pelepah
Curater 3 G Carbofuron 15 g - Penaburan di
sekitar pangkal daun tombak
2 minggu
Marshal 5 G Carbosulfan 10 g - 1 bulan
Feromone
Pherotrap terdiri dari bahan ember kapasitas 15 L dengan tutup terbailk dan ditengah- tengah tutup diberi lubang dengan diameter 5 cm. Selain itu di dalam ember digantungkan pheromone
Tingkat Serangan Frekuensi
5 – 10 pohon/ha setiap 10 ha
5 – 10 pohon/ha setiap 10 ha
10 – 20 pohon/ha setiap 5 ha
Pemanfaatan Jamur Metarrhizium
Jamur Metarrhizium anisopliae merupakan jamur entomophatogen terhadap larva Oryctes.
Keberhasilan penggunaan jamur ini adalah apabila secara pasti sudah diketahui tempat perkembangbiakan dari Oryctes.
Dosis aplikasi jamur Metarrhizium anisopliae adalah 20 gr/m3 media tumbuh.
Pemasangan feromon di lapangan
Aplikasi jamur Metarrhizium pada media perkembangbiakkan
Larva Oryctes terinfeksi jamur Metarrhizium
PENYAKIT PENTING KELAPA SAWIT
PENYAKIT DI PEMBIBITAN
Management pembibitan yang baik seperti : pemilihan media tanam yang baik, pemupukan tepat waktu dan dosis, penyiraman yang cukup, pengendalian gulma dan jarak tanam yang sesuai telah mampu menghindarkan pembibitan dari serangan penyakit.
Penyakit daun yang menyerang pembibitan (pre dan main nursery) lebih banyak disebabkan karena faktor-faktor persyaratan di atas tidak terpenuhi.
Tanaman pembibitan yang stres karena proses kompetisi unsur
hara, cahaya dan air akan sangat mudah terinfeksi berbagai
penyakit. Pemberian fungisida secara intensif tidak akan
memberikan hasil yang baik apabila faktor-faktor penyebab
stres tersebut tidak diperbaiki.
Penyakit Anthracnose (Leaf Early Disease)
Penyakit ini menyerang pada tanaman yang relatif muda di pre nursery yang disebabkan oleh jamur :
- Botryodiplodia
- Glomerella dan
- Glomerella dan
- Melanconium
PenyakitAntracnose yang disebabkan oleh Botryodiplodia
Gejala Penyakit
Penyakit Anthracnose pada awalnya menyerang ujung- ujung anak daun di pre-nursery dengan gejala awal bintik-bintik kecil berwarna hijau terang. Bintik-bintik berubah warna menjadi coklat gelap dan melebar di pucuk-pucuk anak daun
Penyebab penyakit
- Botryodiplodia palmarum - B. theobromae
- Melanconium elaeidis dan
- Glomerella cingulata
Pengendalian
Pencegahan
(I)
Mengurangi penyiraman berlebihan
(II)
Memperkecil butiran penyiraman
(III)
Pengaturan jarak tanam Pengaturan jarak tanam Penyemprotan
Fungisida Konsentrasi
(formulasi produk) (g/L air)
Frekuensi (minggu) Nama dagang Bahan aktif
Benlate
Dithane M-45 80 WP Derosal 60 WP
Benomil Mankozeb Karbendazim
2,0 2,0 2,0
1
Penyakit Bintik Daun (Leaf Spot Disease)
Penyakit ini pada umumnya menyerang bibit yang baru dipindah tanam ke Main Nursery. Serangan penyakit akan menjadi serius terhadap bibit yang terlambat transplanting.
transplanting.
Penyebab penyakit adalah jamur Curvularia
Penyakit Curvularia di Pre Nursery
Penyakit Curvularia di pembibitan Main Nursery
Gejala Penyakit
Pertama kali menyerang daun yang belum membuka atau yang baru membuka. Gejala awal ditunjukkan oleh bulatan kecil yang tembus pandang berwarna kuning.
Bintik tersebut melebar dan berubah warna menjadi coklat cerah.
coklat cerah.
Penyebab Penyakit
Penyebab penyakit Leaf Spot Disease adalah jamur
Culvularia eragrotidis dan C. fallac
Pengendalian
Management pembibitan yang baik biasanya telah mampu mengendalikan penyakit ini. Apabila penyebab penyakit karena tanaman stres, maka faktor penyebab tersebut harus diperbaiki.
Bibit yang terserang berat sebaiknya dimusnahkan. Penyemprotan fungisida dibawah akan membantu penyembuhan.
Fungisida Konsentrasi
(formulasi produk) (g/L air)
Frekuensi (minggu) Nama dagang Bahan aktif
Benlate
Dithane M-45 80 WP
Benomil Mankozeb
2,0
2,0 1
Cercospora
Penyakit Cercospora terutama menyerang bibit di Main Nursery yang sudah dewasa > 7 bulan.
Gejala Penyakit
Menyerang pada daun muda yang telah membuka penuh
ditandai bintik coklat kemudian melebar dan agak
cekung berwarna coklat gelap.
Penyebab Penyakit
Jamur dari jenis Cercospora elaeidis Pengendalian
Management pembibitan yang baik biasanya telah mampu menekan serangan penyakit ini. Bibit yang mengalami serangan berat, sebaiknya harus mengalami serangan berat, sebaiknya harus dimusnahkan.
Penyemprotan penyembuhan dapat dilakukan dengan :
Fungisida Konsentrasi
(formulasi produk) (g/L air)
Frekuensi (minggu) Nama dagang Bahan aktif
Benlate
Derosal 60 WP
Benomil
Karbendazim
2,0
2,0 1
Penyakit Busuk Daun (Corticium)
Penyakit busuk daun dapat menyerang di pembibitan Pre-Nursery dan Main Nursery
Gejala Penyakit
Menyerang daun yang belum membuka. Mula-mula
terjadi luka berwarna hijau pudar dan dikelilingi warna
kecoklatan. Luka tersebut melebar menjadi coklat gelap
dan mengering.
Penyebab Penyakit
Penyakit disebabkan oleh jamur Corticium solani Pengendalian
Semua bibit yang terserang berat dikeluarkan dari pembibitan dan dihancurkan/dibakar. Untuk serangan ringan dapat diperlakukan sebagai berikut :
ringan dapat diperlakukan sebagai berikut :
Fungisida Konsentrasi
(formulasi produk) (g/L air)
Frekuensi (minggu) Nama dagang Bahan aktif
Benlate
Dithane M-45 80 WP
Benomil Mankozeb
2,0
2,0 1
Crown Disease biasanya muncul pada tanaman berumur 2 – 3 tahun setelah penanaman di lapangan. Gejala tersebut berlangsung sampai 1 – 2 tahun dan kadang- kadang dapat sembuh.
Penyakit CD tidak menyebabkan kematian tanaman,
CROWN DISEASE (CD)
Penyakit CD tidak menyebabkan kematian tanaman, akan tetapi menghambat pertumbuhan dan
menurunkan produksi.
Penyakit Crown Disease pada T B M
Gejala Penyakit
Gejala awal hanya dapat dilihat apabila pelepah yang belum membuka dipotong, jaringan yang terserang menunjukkan warna coklat kemerahan. Pada saat daun membuka, menunjukkan pelepah yang membengkok.
membuka, menunjukkan pelepah yang membengkok.
Penyebab Penyakit
Secara tepat belum diketahui penyebab penyakitnya.
Kepekaan beberapa progeny terhadap penyakit CD dikendalikan oleh gen. Dalam program mengawinsilangkan (Breeding), induk jantan/betina yang menunjukkan gejala CD tidak digunakan. Pemberian pupuk N yang berlebihan juga dapat memperparah gejala penyakit.
dapat memperparah gejala penyakit.
Pengendalian
Bibit yang menunjukkan gejala awal CD harus dimusnahkan
Menghindari pemberian pupuk N pada pohon yang
menunjukkan gejala awal CD
Pada umumnya penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) menyerang tanaman berumur lebih dari 10 tahun, tetapi untuk daerah peremajaan serangan dapat terjadi lebih awal yaitu umur kurang dari 5 tahun.
PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG (Ganoderma)
tahun.
Pada keadaan tertentu serangan BPB dapat
menyebabkan kematian lebih dari 80 % (areal
peremajaan) dan dapat menurunkan produksi
sampai 50 %.
Gejala Serangan
Penyakit BPB mula-mula menyerang akar, kemudian
menjalar ke pangkal batang. Kerusakan pada pangkal
batang menyebabkan pembusukan jaringan sehingga
transportasi air dan unsur hara dari tanah ke daun
mengalami gangguan. Akibat terganggunya transportasi
air tersebut beberapa daun tombak (lebih dari 3) tidak
air tersebut beberapa daun tombak (lebih dari 3) tidak
membuka, walaupun air tanah mencukupi. Gejala
selanjutnya pelepah-pelepah daun tua mulai berpatahan
dan mati. Gejala lain yang dapat dilihat adalah
munculnya badan buah pada pangkal batang.
Tanaman muda terserang Ganoderma
Pelepah sengkleh akibat serangan Ganoderma
Badan buah Ganoderma pada pangkal batang
Penyebab Penyakit
Busuk pangkal batang atau Basal Stem Rot disebabkan oleh jamur Ganoderma spp dari berbagai spesies seperti :
G. boninense G. chalceum
G. pseudoferreum G. miniatocinctum
G. applanatum G. tornatum
Pengendalian
Sekali tanaman menunjukkan gejala serangan, tidak ada harapan untuk menyembuhkan tanaman tersebut.
Pengendalian Sebelum Tanam Membersihkan sumber infeksi : Membersihkan sumber infeksi :
(I) Membongkar seluruh tanaman, menghancurkan termasuk masa akar di dalam tanah
(II) Pengolahan Tanah
Pembajakan tanah untuk mematikan sisa-sisa penyakit dalam tanah (III) Penanaman kacangan
Tanaman penutup tanah akan memacu proses pembusukan sisa-sisa tanaman.
Penanaman LCC, untuk mempercepat pembusukan batang
Pengendalian Setelah Tanam Pohon terserang
Dipastikan sebagai pohon terserang apabila menunjukkan gejala :
-
Lebih dari 3 daun tombak tidak membuka
-
Lebih dari 3 daun tombak tidak membuka
-
Beberapa pelepah daun menggantung/sengkleh
-
Dijumpai adanya badan buah Pembongkaran Pohon
Setelah 3 – 4 minggu dari peracunan pohon, pada
umumnya seluruh pelepah sudah mengering,
sehingga pembongkaran dapat segera dilakukan.
HAMA DAN PENYAKIT PENTING KAKAO
Dani Sutanta S
Pendahuluan
Luas lahan kakao di Indonesia 1.852.900 Ha
Produksi kakao nasional 777.500 ton
Bahan baku cokelat
Komoditi ekspor yang tidak pernah turun
Komoditi ekspor yang tidak pernah turun
permintaan
HAMA PENTING KAKAO
Penggerek buah kakao (PBK)
Conopomorpha cramerella
Famili Gracillariidae
Ordo Lepidoptera
COCOA POD BORER
Gejala serangan pada buah (warna kuning tidak merata)
tidak merata)
Ulatnya merusak dengan cara menggerek buah, memakan kulit buah, daging buah dan saluran ke biji.
Buah yang terserang akan lebih awal menjadi berwarna kuning, dan jika digoyang tidak berbunyi
Biasanya lebih berat daripada yang sehat
Biji-bijinya saling melekat, berwarna kehitaman serta ukuran biji lebih kecil
Daur hidup
Telur berwarna jingga, diletakkan satu per satu pada permukaan kulit buah
Ulat berwarna putih kekuningan atau hijau muda (panjang sekitar 11 mm)
Setelah ulat keluar dari dalam buah lalu berkepompong pada permukaan buah, daun, serasah, karung atau
pada permukaan buah, daun, serasah, karung atau keranjang tempat bua
Kepompong berwarna putih
Ngengat aktif (panjang 7 mm) pada malam hari (sejak matahari terbenam sampai dengan pukul 20.30)
Pada siang hari berlindung di tempat yang teduh
Seekor ngengat betina mampu bertelur 50-100 butir
Hama ini dapat dikendalikan dengan :
Sanitasi
Pemangkasan
membenam kulit buah
membenam kulit buah
memanen satu minggu sekali
Kondomisasi
cara hayati/biologi
Penyakit Penting Kakao Busuk Buah
Phytophthora palmivora
Famili Pythiaceae
Ordo Pythiales
FRUIT ROT
FRUIT ROT
Gejala Penyakit
Menyerang buah muda – masak
Buah yang terserang nampak bercak- bercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari pangkal, tengah atau ujung buah
Bila kondisi lahan lembab, maka bercak tersebut akan meluas dengan cepat ke seluruh permukaan buah, sehingga menjadi busuk, kehitaman dan apabila ditekan dengan jari terasa lembek dan basah
Penyebaran penyakit dibantu oleh keadaan lingkungan yang lembab
Penyebaran penyakit dibantu oleh keadaan lingkungan yang lembab terutama pada musim hujan.
Buah yang membusuk pada pohon juga mendorong terjadinya infeksi pada buah lain dan menjalar kebagian batang/cabang
Soilborn dan Airborn dengan spora
Pada saat tidak ada buah, jamur dapat bertahan di dalam tanah
Penyakit ini akan berkembang dengan cepat pada daerah yang
mempunyai curah hujan tinggi, kelembaban udara dan tanah yang tinggi terutama pada pertanaman kakao dengan tajuk rapat
Pengendalian penyakit
Sanitasi kebun
Mekanis (mengumpulkan dan membakar buah yang terserang)
Kultur teknis :
Pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan tanaman
Pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan tanaman kakao merupakan hal yang penting dilakukan terutama pada musim hujan.
Penanaman klon resisten atau toleran merupakan cara yang wajib diperhatikan
Pengendalian kimiawi : langkah preventif, sebelum
serangan muncul
Tugas
Tuliskan Hama dan Penyakit Penting kakao lain masing-masing satu (sertakan gambarnya)
Deskripsikan dengan lengkap : Siklus hidup, Gejala serangan, pengendaliannya
serangan, pengendaliannya
Dikumpulkan minggu depan
HAMA DAN PENYAKIT PENTING TANAMAN KOPI
Dani Sutanta S
Pendahuluan
Areal kopi di Indonesia 1.240.900 Ha (BPS, 2014)
Produksi kopi nasional 698.900 ton
Produsen kopi terbesar keempat setelah Brazil, Kolumbia, dan Vietnam
Kolumbia, dan Vietnam
Sumber : Dirjenbun, Deptan
HAMA PENTING KOPI
Penggerek buah kopi (PBKo)
Coffee Berry Borer
Hypothenemus hampei
Famili Scolytidae
Famili Scolytidae
Ordo Coleoptera
PBKo sangat merugikan, karena mampu merusak biji kopi dan sering mencapai populasi yang tinggi
Umumnya, hanya kumbang betina yang sudah kawin yang akan menggerek buah kopi dengan buat lubang kecil dari ujungnya
buat lubang kecil dari ujungnya
Menyerang buah kopi yang baru terbentuk (8 minnggu setelah bunga – panen)
Dalam buah tua dan kering dapat ditemukan lebih
dari 100 PBKo
Daur hidup
Kumbang betina menggerek ke dalam biji kopi dan bertelur sekitar 30-50 butir.
Telur menetas menjadi larva yang menggerek biji kopi
Larva menjadi pupa di dalam biji
Larva menjadi pupa di dalam biji
Dewasa(kumbang) keluar dari pupa
Jantan dan betina kawin di dalam buah kopi, kemudian sebagian
betina terbang ke buah lain untuk masuk lalu bertelur lagi
Jantan tidak bisa terbang sehingga tetap di dalam buah tempat
lahirnya sepanjang hidup
Pengendalian
Pengendalian hayati
Jamur Beauveria bassiana (Bb)
Petik merah (buah yang masak pertama) buah yang terserang PBKo
Kumpulkan dan diperlakukan dengan Bb
Kumpulkan dan diperlakukan dengan Bb
Ditutup dengan plastik jernih
Inkubasi satu malam
Dewasa akan keluar dari buah dan terinfeksi oleh Bb
Dewasa ini kelihatan di bawah plastik
Dewasa tersebut dilepas sehingga dapat menularkan Bb
kepada pasangannya di lahan kopi
Pengendalian mekanis
Petik buah yang tertinggal pada pohon kopi dan ambil buah yang jatuh ke tanah
Sebaiknya buah yang dikumpulkan tersebut direbus atau dipendam
Sebaiknya buah yang dikumpulkan tersebut direbus atau dipendam
Hal ini penting untuk menurunkan jumlah PBKo di kebun kopi karena cara ini menghilangkan makanan untuk PBKo yang akan datang/berpindah ke kebun serta yang sudah ada di kebun
Dengan cara ini daur hidup PBKo dapat diputus
PENYAKIT PENTING KOPI Karat daun kopi
Coffee Leaf Rust
Hemileia vastatrix
Famili Urediaceae
Ordo Uredinales
Penyakit ini menyerang dipembibitan - tanaman dewasa
Pada 1970-an di Amerika, penyakit ini menurunkan produksi 80%
80%
Pada 1980, di Sri Lanka kehilangan > 50%
Di Uganda kehilangan 30%
Di Brasil menurunkan hasil 30%
Di India sebesar 70%
Di Kolumbia 15-25%
Di Papua New Guinea 70%
Di Indonesia 20-70%
daun yang sakit timbul bercak kuning kemudian berubah menjadi coklat
Di permukaan bercak pada sisi bawah daun terdapat uredospora seperti tepung berwarna oranye atau jingga
Pada serangan berat tanaman tampak kekuningan,
Gejala :
Pada serangan berat tanaman tampak kekuningan, daunnya gugur akhirnya tanaman menjadi gundul
Penyebaran penyakit melalui uredospora yang dapat dibentuk sepanjang tahun
Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban
Spora yang telah matang dapat disebarkan oleh angin
dan untuk perkecambahannya diperlukan tetesan air yang
mengandung udara
Siklus Hidup
Uredospora sampai pada daun yang peka
berkecambah dan secara cepat menginfeksi daun melalui stomata pada permukaan daun bagian bawah
Dalam waktu 10-20 hari, pada permukaan daun bagian bawah terbentuk uredospora baru oleh uredium yang keluar lewat stomata
keluar lewat stomata
Tiap uredium menghasilkan > 70.000 uredospora dalam 3- 5 bulan sebagai sumber penular penyakit yang sangat
potensial
Karena kopi merupakan tanaman tahunan, pembentukan daun berlangsung sepanjang tahun sehingga
memungkinkan jamur tersebut hidup dan terus
berkembang setiap saat
Pengendalian
Memperkuat ketahanan tanaman melalui pemupukan berimbang
Pemangkasan
Pengaturan naungan untuk mengurangi
Pengaturan naungan untuk mengurangi kelembaban kebun dan memberikan sinar matahari yang cukup pada tanaman
Penanaman varietas kopi yang tahan atau toleran,
seperti: S 795, S 1934, USDA 62, Kartika 1 dan 2
Pengendalian Kimiawi
Terdapat 11 jenis bahan aktif fungisida yang
direkomendasikan di Indonesia, yaitu siprokanazol, heksakanazol, triadimefon, triadimenol, benomil,
tembaga oksiklorida, mankozeb, tembaga hidroksida, tembaga oksida, dinikonazol, dan propikonazol
tembaga oksiklorida, mankozeb, tembaga hidroksida, tembaga oksida, dinikonazol, dan propikonazol
Apabila diikuti dengan praktik kultur teknis yang benar, aplikasi fungisida dapat menurunkan tingkat kerusakan tanaman oleh penyakit karat daun sampai 64,9%
Tanpa diikuti praktik kultur teknis yang benar, aplikasi
fungisida hanya menurunkan tingkat kerusakan tanaman
oleh penyakit karat daun 20%
Tugas
Tuliskan Hama dan Penyakit Penting kopi lain masing-masing satu (sertakan gambarnya)
Deskripsikan dengan lengkap : Siklus hidup, Gejala serangan, pengendaliannya
serangan, pengendaliannya
Dikumpulkan minggu depan