• Tidak ada hasil yang ditemukan

adoc.pub hama-dan-penyakit-penting-tanaman-utama-perkebunan (1)

N/A
N/A
Herbert Panjaitan

Academic year: 2025

Membagikan "adoc.pub hama-dan-penyakit-penting-tanaman-utama-perkebunan (1)"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

HAMA DAN PENYAKIT PENTING TANAMAN UTAMA PERKEBUNAN

Dani Sutanta S

(2)

Definisi Hama dan Penyakit

Hama ialah semua binatang yang mengganggu dan merugikan tanaman yang diusahakan manusia

Hama tanaman sering disebut ‘serangga hama’ (pest) atau dalam dunia pertanian dikenal sebagai ‘musuh petani’

Para ahli pertanian membuat beberapa versi pengertian (definisi) hama tanaman, diantaranya sebagai berikut:

Organisme “jahat” yang mempunyai kemampuan untuk merusak, mengganggu,

Organisme “jahat” yang mempunyai kemampuan untuk merusak, mengganggu, atau merugikan organisme lainnya (inang)

Organisme yang “memusuhi” (merugikan) kesejahteraan manusia

Setiap spesies organisme yang dalam jumlah besar tidak kita kehendaki kehadirannya

Organisme yang merugikan dari segi andangan manusia

Organisme hidup yang merupakan saingan kita dalam memenuhi kebutuhan pangan dan pakaian, ata menyerang kita secara langsung

Berdasarkan pernyataan (pendapat) di atas, hama tanaman dalam arti luas adalah semua organisme atau binatang yang karena aktivitas hidupnya merusak tanaman sehingga menimbulkan kesugian ekonimi bagi manusia

(3)

Penyakit tanaman adalah sesuatu yang menyimpang dari

keadaan normal, cukup jelas menimbulkan gejala yang dapat

dilihat, menurunkan kualitas atau nilai ekonomis, dan merupakan akibat interaksi yang cukup lama

Tanaman sakit adalah suatu keaadaan proses hidup tanaman yang menyimpang dari keadaan normal dan menimbulkan yang menyimpang dari keadaan normal dan menimbulkan kerusakan

Makna kerusakan tanaman adalah setiap perubahan pada

tanaman yang menyebabkan menurunya kuantitas dan kualitas hasil

Penyakit pada tanaman budidaya biasanya disebabkan oleh

Cendawan, Bakteri, Virus dan faktor lingkungan (iklim, tanah, dan

lain-lain)

(4)

PENDAHULUAN

(5)

LATAR BELAKANG

- Tanaman tahunan dengan umur ekonomis 25 – 30 tahun

- Sistem pertanian monokultur

- Ditanam pada hamparan luas

- Siklus hidup hama dan penyakit pendek AKIBAT SERANGAN

- Kehilangan bahan tanam

- Tambahan biaya sisipan dan perawatan

- Penundaan panen

- Penurunan produksi

- Tambahan biaya pengendalian

(6)

FALSAFAH

MANUSIA

ORGANISME

PENGGANGGU

MAKHLUK HIDUP

MAKHLUK HIDUP

BERSAING

MANA YANG MENANG ?

 MANUSIA MEMBERANTAS ORGANISME PENGGANGGU

 ORGANISME PENGGANGGU MEMBERANTAS MANUSIA

 MANUSIA + ORGANISME PENGGANGGU

(7)

KEDUDUKAN ORGANISME PENGGANGGU DALAM TEKNIK BERCOCOK TANAM

TANAMAN

PRODUKSI

TINGGI

FAKTOR + FAKTOR -

KUALITAS KUANTITAS

FAKTOR + FAKTOR -

ORGANISME PENGGANGGU

ORGANISME PENGGANGGU DIKENDALIKAN

 HAMA

 PENYAKIT

 GULMA PERLINDUNGAN TANAMAN

- DAPAT DIKUASAI

- TIDAK DAPAT DIKUASAI

(8)

ORGANISME PENGGANGGU DAN LINGKUNGANNYA

IKLIM

OP

INANG

MUSUH ALAMI

OP

OP = ORGANISME PENGGANGGU

(9)

PERLINDUNGAN TANAMAN

PD (SI) = BP - ER

PD = Population Density (Kerapatan Populasi) (Kerapatan Populasi) SI = Source of Innoculum

(Banyaknya Sumber Penular) BP = Biotic Potential

(Kemampuan Biotic)

ER = Environmental Resistance (Ketahanan Lingkungan)

(10)

BP

Produksi telur/spora/biji

Daya tetas telur, daya kecambah spora/biji

Lama berlangsungnya fase

Cara reproduksi

Sex ratio

ER

Faktor luar yang menghambat Iklim

- Hujan

Inang - Jumlah

ER

- Hujan

- Kelembaban - Suhu

- Penyinaran - Angin

Musuh Alami - Predator - Parasit - Penyakit

- Jumlah - Jenis - Mutu

- Tersedianya

(11)

EKOSISTEM HUTAN

PD/SI

gk (a) gk (a)

Waktu Kerapatan populasi/Banyaknya sumber penular

Faktor penghambat

(12)

EKOSISTEM PERKEBUNAN

PD/SI

gk (ab)

gk (a)

Waktu

Kerapatan populasi/Banyaknya sumber penular Faktor penghambat

(13)

PERLINDUNGAN TANAMAN

PD (SI) = BP - ER

A. Menurunkan BP

1.

Cara Mekanis

2.

2.

Cara Biologis

3.

Cara Kimiawi B. Menaikan ER

1.

Cara teknik bercocok tanam

2.

Cara seleksi

3.

Cara Biologis

C. Karantina Tumbuhan

(14)

Tugas Presentasi

Hama dan penyakit penting tanaman karet

Hama dan penyakit penting tanaman teh

Hama dan penyakit penting tanaman tebu

(15)

HAMA DAN PENYAKIT PENTING KELAPA SAWIT

Dani Sutanta S

(16)

Pendahuluan

Luas lahan kelapa sawit di Indonesia 10.856.500 ha

Produksi kelapa sawit nasional mencapai 26.015.520 ton Kelapa sawit merupakan komoditas yang memiliki banyak pungsi dan kebutuhan, baik untuk skala rumah tangga maupun industri

Program konversi sumber energi minyak fosil (minyak bumi) ke biodiesel yang menggunakan bahan baku kelapa sawit

yang menggunakan bahan baku kelapa sawit

Bila ditinjau dari segi produktivitas, Indonesia dari tahun 2006 sudah mengalami peningkatan dan mengalahkan produktivitas Malaysia

Melihat kondisi – potensi lahan, industri minyak kelapa sawit, pasar hasil industri kelapa sawit baik dalam negeri maupun luar negeri serta

membandingkannya dengan nilai perdagangan kelapa sawit Indonesia dan dunia

(17)

HAMA PENTING KELAPA SAWIT

(18)

HAMA PEMAKAN DAUN

1. Jenis

Ulat api Ulat kantong

Setothosea asigna Mahasena corbetti Setothosea asigna Mahasena corbetti Setora nitens Metisa plana

Darna trima Pteroma pendula

Ploneta diducta

(19)

Larva Setothosea asigna

(20)

Larva Setora nitens

(21)

Larva Darna trima

(22)

Larva Ploneta diducta

(23)

Larva Mahasena corbetti

(24)

Siklus Hidup

Kelompok Nama Ilmiah

Siklus hidup (hari)

Jumlah Telur Larva (instar) Kepompong

Ulat api

S. asigna S. nitens D. trima

4 – 8 3 – 5 4 – 6

49 – 51 (VI – VIII) 29 (VI – VIII) 30 – 39 (V – VI)

40 23 11 – 14

93 – 99 55 – 57 45 – 59 Ulat api D. trima

P. diducta

4 – 6 5

30 – 39 (V – VI) 34 (V – VI)

11 – 14 13

45 – 59 52

Ulat kantong

M. corbetti M. plana P. pendula

16 18 18

80 (IV – V) 50 (IV – V) 50 (IV – V)

30 25 25

126 93 93

(25)

Tujuan mengetahui siklus hidup :

- Memperkirakan waktu munculnya hama tersebut pada

generasi berikutnya

- Memperkirakan ketersediaan waktu pengendalian

- Memperkirakan ketersediaan waktu pengendalian

- Menyusun strategi pengendalian (alat, bahan kimia

dan tenaga kerja)

(26)

Pengendalian

Hasil pengendalian yang efektif sangat ditentukan oleh deteksi awal dan diikuti perlakuan/tindakan segera

Rekomendasi teknik pengendalian hama ulat api dan ulat kantong adalah :

(I) Pengutipan larva (Hand picking) (II) Penyemprotan insektisida

(II) Penyemprotan insektisida (III) Injeksi batang

(IV) Infus akar

(V) Pengutipan kepompong

(VI) Konservasi dan eksploitasi musuh alami

Pengendalian dengan menggunakan salah satu teknis tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan, sehingga perlu diterapkan pengendalian hama terpadu (PHT)

(27)

HAMA TIKUS

KERUSAKAN

(I) Pembibitan

- Memakan kecambah yang baru tumbuh, sehingga kecambah mati

- Mengerat bagian pangkal pelepah sampai jaringan muda, bibit tumbuh abnormal atau mati.

(II) Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)

- Mengerat bagian pangkal pelepah sehingga pelepah tumbang - Mengerat jaringan meristem sehingga bibit mati

- Mengerat jaringan meristem sehingga bibit mati (III) Tanaman Menghasilkan (TM)

- Mengerat buah muda dan buah masak - Memakan brondolan

- Merusak bunga jantan

JENIS TIKUS

Tikus sawah :Rattus argentiventer Tikus pohon :Rattus tiomanicus Tikus rumah :Rattus-rattus diardii

(28)

Tikus rumah : Rattus-rattus diardii

(29)

Serangan baru tikus pada Tanaman Belum Menghasilkan

(30)

Bekas serangan tikus pada TBM, tampak pelepah sengkleh

(31)

Serangan tikus pada tanaman menghasilkan

(32)

Bekas serangan tikus pada tandan buah

(33)

INFORMASI RACUN TIKUS

Berdasarkan cara kerjanya, racun tikus digolongkan dalam 2 kelompok yaitu Acute dan Chronic.

Racun tikus acute bersifat sangat mematikan walaupun tikus baru makan dalam jumlah sedikit, racun tikus acute juga berbahaya terhadap makan dalam jumlah sedikit, racun tikus acute juga berbahaya terhadap manusia dan binatang piaraan lainnya. Selain itu racun tikus acute dapat menyebabkan kejeraan.

Contoh : Phosphide, Endrin, Bidrin

Racun tikus chronic bekerja sebagai antikoagulan, yaitu apabila tikus makan racun dalam jumlah cukup akan menyebabkan pendarahan secara terus menerus.

(34)

Serangan baru tikus pada Tanaman Menghasilkan

(35)

Serangan baru tikus pada tandan muda

(36)

Serangan tikus pada bunga jantan

(37)

Burung Hantu, Tyto albasebagai predator potensial hama tikus

(38)

HAMA TANDAN BUAH (Tirathaba rufivena)

Status Hama

Dalam perkebunan kelapa sawit, populasi Tirathaba pada tingkat rendah selalu ada pada semua tingkat umur tanaman menghasilkan

Populasi yang rendah ini selalu terjaga oleh adanya musuh- Populasi yang rendah ini selalu terjaga oleh adanya musuh- musuh alami dan praktek budidaya. Namun serangan serius dan luas dapat terjadi pada tanaman yang baru menghasilkan.

Dalam keadaan normal, hama Tirathaba hanya merusak

permukaan buah dengan membuat gerekan-gerekan. Akan

tetapi pada kondisi serangan berat dapat menyebabkan

rusaknya tandan buah sehingga menurunkan hasil yang nyata.

(39)

Siklus Hidup

Stadia Uraian Waktu (hari)

Telur

Diletakkan secara berkelompok 1 – 20 butir pada permukaan seludang bunga jantan dan betina

4 – 5 Larva muda berwarna putih kotor,

Larva

Larva muda berwarna putih kotor, sedangkan yang dewasa berwarna coklat muda-gelap, panjang 40 mm dan ditutupi oleh rambut-rambut yang panjang

16 – 21 (5 instar)

Kepompong

Kepompong dilindungi oleh kokon dan

berada di dalam tandan atau antara tandan dan pelepah warna kepompong coklat

9 – 12

Kupu-kupu

Sayap depan berwarna coklat muda

kehijauan dan sayap belakang berwarna coklat muda

5 – 10

(40)

Gejala Serangan

Kehadiran hama Tirathaba pada perkebunan kelapa sawit dapat dideteksi dengan gejala sebagai berikut :

(I) Dijumpai adanya bekas gerekan pada permukaan buah berbentuk cincin atau alur-alur

berbentuk cincin atau alur-alur

(II) Adanya kotoran larva yang menutupi permukaan tandan buah

Serangan baru : kotoran berwarna kemerahan (larva masih aktif) Serangan lama : Kotoran berwarna coklat gelam sampai kehitaman (larva tidak aktif/kepompong)

(41)

Serangan baru : kotoran berwarna kemerahan (larva

masih aktif

)
(42)

Bekas serangan hama Tirathaba

(43)

Pohon terserang adalah pohon yang terdapat kotoran baru berwarna kemerahan pada permukaan salah satu tandan atau lebih

satu tandan atau lebih

(44)

Pengendalian

Tanaman Belum Menghasilkan dan Sisipan

Dalam keadaan normal kebijaksanaan kastrasi yang dilakukan tepat waktu dan konsisten akan mampu mencegah meningkatnya populasi Tirathaba

Apabila pada saat melakukan rotasi kastrasi dijumpai adanya serangan, tindakan yang dianjurkan adalah :

serangan, tindakan yang dianjurkan adalah :

- Semua bunga/tandan yang dipotong dikumpulkan, dikeluarkan dari lapangan dan dibakar

ATAU

- Semua bunga/atau tandan yang dipotong dikumpulkan dan disemprot dengan insektisida Thiodan 35 EC atau Regent 50 SC

(45)

Pencegahan dengan penyemprotan insektisida

Untuk menekan peningkatan populasi Tirathaba pada tanaman muda, dua rotasi penyemprotan pencegahan dianjurkan :

Rotasi I

: 2 – 3 bulan sebelum panen

Rotasi II

: 2 minggu setelah penyemprotan rotasi I

Penyemprotan hanya terbatas pada pohon terserang.

Penyemprotan hanya terbatas pada pohon terserang.

Penyemprotan pada seluruh bunga, tandan baik yang terserang

maupun sehat termasuk tandan yang sudah busuk.

(46)

Oryctes rhinoceros

Hama kumbang tanduk Oryctes rhinoceros merupakan hama

penting kelapa sawit pada areal peremajaan. Kumbang tanduk

dapat menyerang sejak di pembibitan, tanaman muda di

lapangan dan bahkan tanaman dewasa > 7 tahun (terutama

pada areal yang memanfaatkan janjang kosong sebagai

pada areal yang memanfaatkan janjang kosong sebagai

mulsa).

(47)

Bekas serangan hama Oryctes

(48)

Potensi Kerusakan

Pembibitan

Kumbang tanduk menggerek pangkal pelepah terbawah, dan langsung mencapai titik tumbuh. Kerusakan yang dapat dilihat adalah daun tombak mengering dan mudah dicabut.

TBM TBM

Kumbang menggerek pangkal pelepah sebelah atas, kemudian meneruskan gerekan ke bawah sampai jaringan muda. Gejala yang dapat dilihat adalah adanya lubang gerekan, daun tumbang mengering dan mudah dicabut.

TM

Membuat lubang gerekan pada pangkal pelepah sebelah atas, setelah pelepah membuka sebagian pelepah akan patah.

(49)

Tanaman muda terserang Oryctes berulangkali

(50)

Siklus Hidup

Telur diletakkan kumbang betina secara tunggal pada bahan-bahan organik yang sedang melapuk (kayu, batang kelapa sawit, janjang kosong)

Telur menetas setelah 10 – 18 hari. Larva terbagi dalam tiga instar dan berlangsung selama 102 hari (63 - 180 hari).

Pre-pupa dilindungi oleh serabut-serabut media hidupnya dan berlangsung 7,7 hari (6 – 12 hari)

7,7 hari (6 – 12 hari)

Pupa berada pada tempat yang sama selama 22,4 hari (16 – 27 hari)

Setelah menjadi kumbang dewasa, tetap tinggal di dalam kokon selama 19,7 hari (11 – 29 hari)

Siklus hidup Oryctes adalah rata-rata 164,3 hari (106 – 266 hari)

(51)

Larva Oryctes rhinoceros

(52)

Kumbang Oryctes rhinoceros

(53)

Permasalahan

Tumbuh dan berkembangnya hama Oryctes serta kerusakan yang ditimbulkannya sangat ditentukan oleh dua faktor :

(I) Ada tidaknya sumber hama (I) Ada tidaknya sumber hama

(II) Tersedianya media untuk berkembang biak

(54)

Pengendalian

Di dalam usaha pengendalian dilakukan dua hal penting yaitu pencegahan (menghindari penyediaan media perkembangbiakannya) dan penyembuhan yaitu dengan mematikan/menangkap serangga (kumbang, larva dan kepompong)

Pencegahan

Menanam kacangan penutup tanah

Menghancurkan tempat/media perkembangbiakannya

Penyebaran janjangan kosong dalam satu lapisan

(55)

LCC sebagai sarana pencegahan Perkembangbiakan

Oryctes

(56)

Penyembuhan

Wingkling (mengutip dan membunuh kumbang yang menyerang tanaman) dengan rotasi

Tingkat Serangan Frekuensi

 2 pohon/ha 1 bulan

3 – 5 pohon/ha 2 minggu

> 5 pohon/ha 1 minggu

(57)

Aplikasi Insektisida

Aplikasi insektisida dilakukan apabila tingkat serangan > 5 pohon/ha.

Insektisida Jumlah/pohon

Teknik aplikasi Frekuensi aplikasi Nama dagang Bahan aktif insektisida air

Decis 2,5 EC Matador 25 EC

Deltamethrin L-sihalothrin

3,5 ml 3,5 ml

100 ml 100 ml

Penyemprotan daun tombak

2 minggu Matador 25 EC

Cymbush 50 EC

L-sihalothrin Sipermethrin

3,5 ml 10 ml

100 ml 100 ml

daun tombak dan pangkal pelepah

Curater 3 G Carbofuron 15 g - Penaburan di

sekitar pangkal daun tombak

2 minggu

Marshal 5 G Carbosulfan 10 g - 1 bulan

(58)

Feromone

Pherotrap terdiri dari bahan ember kapasitas 15 L dengan tutup terbailk dan ditengah- tengah tutup diberi lubang dengan diameter 5 cm. Selain itu di dalam ember digantungkan pheromone

Tingkat Serangan Frekuensi

5 – 10 pohon/ha setiap 10 ha

5 – 10 pohon/ha setiap 10 ha

10 – 20 pohon/ha setiap 5 ha

Pemanfaatan Jamur Metarrhizium

Jamur Metarrhizium anisopliae merupakan jamur entomophatogen terhadap larva Oryctes.

Keberhasilan penggunaan jamur ini adalah apabila secara pasti sudah diketahui tempat perkembangbiakan dari Oryctes.

Dosis aplikasi jamur Metarrhizium anisopliae adalah 20 gr/m3 media tumbuh.

(59)

Pemasangan feromon di lapangan

(60)

Aplikasi jamur Metarrhizium pada media perkembangbiakkan

(61)

Larva Oryctes terinfeksi jamur Metarrhizium

(62)

PENYAKIT PENTING KELAPA SAWIT

(63)

PENYAKIT DI PEMBIBITAN

Management pembibitan yang baik seperti : pemilihan media tanam yang baik, pemupukan tepat waktu dan dosis, penyiraman yang cukup, pengendalian gulma dan jarak tanam yang sesuai telah mampu menghindarkan pembibitan dari serangan penyakit.

Penyakit daun yang menyerang pembibitan (pre dan main nursery) lebih banyak disebabkan karena faktor-faktor persyaratan di atas tidak terpenuhi.

Tanaman pembibitan yang stres karena proses kompetisi unsur

hara, cahaya dan air akan sangat mudah terinfeksi berbagai

penyakit. Pemberian fungisida secara intensif tidak akan

memberikan hasil yang baik apabila faktor-faktor penyebab

stres tersebut tidak diperbaiki.

(64)

Penyakit Anthracnose (Leaf Early Disease)

Penyakit ini menyerang pada tanaman yang relatif muda di pre nursery yang disebabkan oleh jamur :

- Botryodiplodia

- Glomerella dan

- Glomerella dan

- Melanconium

(65)

PenyakitAntracnose yang disebabkan oleh Botryodiplodia

(66)

Gejala Penyakit

Penyakit Anthracnose pada awalnya menyerang ujung- ujung anak daun di pre-nursery dengan gejala awal bintik-bintik kecil berwarna hijau terang. Bintik-bintik berubah warna menjadi coklat gelap dan melebar di pucuk-pucuk anak daun

Penyebab penyakit

- Botryodiplodia palmarum - B. theobromae

- Melanconium elaeidis dan

- Glomerella cingulata

(67)

Pengendalian

Pencegahan

(I)

Mengurangi penyiraman berlebihan

(II)

Memperkecil butiran penyiraman

(III)

Pengaturan jarak tanam Pengaturan jarak tanam Penyemprotan

Fungisida Konsentrasi

(formulasi produk) (g/L air)

Frekuensi (minggu) Nama dagang Bahan aktif

Benlate

Dithane M-45 80 WP Derosal 60 WP

Benomil Mankozeb Karbendazim

2,0 2,0 2,0

1

(68)

Penyakit Bintik Daun (Leaf Spot Disease)

Penyakit ini pada umumnya menyerang bibit yang baru dipindah tanam ke Main Nursery. Serangan penyakit akan menjadi serius terhadap bibit yang terlambat transplanting.

transplanting.

Penyebab penyakit adalah jamur Curvularia

(69)

Penyakit Curvularia di Pre Nursery

(70)

Penyakit Curvularia di pembibitan Main Nursery

(71)

Gejala Penyakit

Pertama kali menyerang daun yang belum membuka atau yang baru membuka. Gejala awal ditunjukkan oleh bulatan kecil yang tembus pandang berwarna kuning.

Bintik tersebut melebar dan berubah warna menjadi coklat cerah.

coklat cerah.

Penyebab Penyakit

Penyebab penyakit Leaf Spot Disease adalah jamur

Culvularia eragrotidis dan C. fallac

(72)

Pengendalian

Management pembibitan yang baik biasanya telah mampu mengendalikan penyakit ini. Apabila penyebab penyakit karena tanaman stres, maka faktor penyebab tersebut harus diperbaiki.

Bibit yang terserang berat sebaiknya dimusnahkan. Penyemprotan fungisida dibawah akan membantu penyembuhan.

Fungisida Konsentrasi

(formulasi produk) (g/L air)

Frekuensi (minggu) Nama dagang Bahan aktif

Benlate

Dithane M-45 80 WP

Benomil Mankozeb

2,0

2,0 1

(73)

Cercospora

Penyakit Cercospora terutama menyerang bibit di Main Nursery yang sudah dewasa > 7 bulan.

Gejala Penyakit

Menyerang pada daun muda yang telah membuka penuh

ditandai bintik coklat kemudian melebar dan agak

cekung berwarna coklat gelap.

(74)

Penyebab Penyakit

Jamur dari jenis Cercospora elaeidis Pengendalian

Management pembibitan yang baik biasanya telah mampu menekan serangan penyakit ini. Bibit yang mengalami serangan berat, sebaiknya harus mengalami serangan berat, sebaiknya harus dimusnahkan.

Penyemprotan penyembuhan dapat dilakukan dengan :

Fungisida Konsentrasi

(formulasi produk) (g/L air)

Frekuensi (minggu) Nama dagang Bahan aktif

Benlate

Derosal 60 WP

Benomil

Karbendazim

2,0

2,0 1

(75)

Penyakit Busuk Daun (Corticium)

Penyakit busuk daun dapat menyerang di pembibitan Pre-Nursery dan Main Nursery

Gejala Penyakit

Menyerang daun yang belum membuka. Mula-mula

terjadi luka berwarna hijau pudar dan dikelilingi warna

kecoklatan. Luka tersebut melebar menjadi coklat gelap

dan mengering.

(76)

Penyebab Penyakit

Penyakit disebabkan oleh jamur Corticium solani Pengendalian

Semua bibit yang terserang berat dikeluarkan dari pembibitan dan dihancurkan/dibakar. Untuk serangan ringan dapat diperlakukan sebagai berikut :

ringan dapat diperlakukan sebagai berikut :

Fungisida Konsentrasi

(formulasi produk) (g/L air)

Frekuensi (minggu) Nama dagang Bahan aktif

Benlate

Dithane M-45 80 WP

Benomil Mankozeb

2,0

2,0 1

(77)

Crown Disease biasanya muncul pada tanaman berumur 2 – 3 tahun setelah penanaman di lapangan. Gejala tersebut berlangsung sampai 1 – 2 tahun dan kadang- kadang dapat sembuh.

Penyakit CD tidak menyebabkan kematian tanaman,

CROWN DISEASE (CD)

Penyakit CD tidak menyebabkan kematian tanaman, akan tetapi menghambat pertumbuhan dan

menurunkan produksi.

(78)

Penyakit Crown Disease pada T B M

(79)

Gejala Penyakit

Gejala awal hanya dapat dilihat apabila pelepah yang belum membuka dipotong, jaringan yang terserang menunjukkan warna coklat kemerahan. Pada saat daun membuka, menunjukkan pelepah yang membengkok.

membuka, menunjukkan pelepah yang membengkok.

(80)

Penyebab Penyakit

Secara tepat belum diketahui penyebab penyakitnya.

Kepekaan beberapa progeny terhadap penyakit CD dikendalikan oleh gen. Dalam program mengawinsilangkan (Breeding), induk jantan/betina yang menunjukkan gejala CD tidak digunakan. Pemberian pupuk N yang berlebihan juga dapat memperparah gejala penyakit.

dapat memperparah gejala penyakit.

Pengendalian

Bibit yang menunjukkan gejala awal CD harus dimusnahkan

Menghindari pemberian pupuk N pada pohon yang

menunjukkan gejala awal CD

(81)

Pada umumnya penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) menyerang tanaman berumur lebih dari 10 tahun, tetapi untuk daerah peremajaan serangan dapat terjadi lebih awal yaitu umur kurang dari 5 tahun.

PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG (Ganoderma)

tahun.

Pada keadaan tertentu serangan BPB dapat

menyebabkan kematian lebih dari 80 % (areal

peremajaan) dan dapat menurunkan produksi

sampai 50 %.

(82)

Gejala Serangan

Penyakit BPB mula-mula menyerang akar, kemudian

menjalar ke pangkal batang. Kerusakan pada pangkal

batang menyebabkan pembusukan jaringan sehingga

transportasi air dan unsur hara dari tanah ke daun

mengalami gangguan. Akibat terganggunya transportasi

air tersebut beberapa daun tombak (lebih dari 3) tidak

air tersebut beberapa daun tombak (lebih dari 3) tidak

membuka, walaupun air tanah mencukupi. Gejala

selanjutnya pelepah-pelepah daun tua mulai berpatahan

dan mati. Gejala lain yang dapat dilihat adalah

munculnya badan buah pada pangkal batang.

(83)

Tanaman muda terserang Ganoderma

(84)

Pelepah sengkleh akibat serangan Ganoderma

(85)

Badan buah Ganoderma pada pangkal batang

(86)

Penyebab Penyakit

Busuk pangkal batang atau Basal Stem Rot disebabkan oleh jamur Ganoderma spp dari berbagai spesies seperti :

G. boninense G. chalceum

G. pseudoferreum G. miniatocinctum

G. applanatum G. tornatum

(87)

Pengendalian

Sekali tanaman menunjukkan gejala serangan, tidak ada harapan untuk menyembuhkan tanaman tersebut.

Pengendalian Sebelum Tanam Membersihkan sumber infeksi : Membersihkan sumber infeksi :

(I) Membongkar seluruh tanaman, menghancurkan termasuk masa akar di dalam tanah

(II) Pengolahan Tanah

Pembajakan tanah untuk mematikan sisa-sisa penyakit dalam tanah (III) Penanaman kacangan

Tanaman penutup tanah akan memacu proses pembusukan sisa-sisa tanaman.

(88)

Penanaman LCC, untuk mempercepat pembusukan batang

(89)

Pengendalian Setelah Tanam Pohon terserang

Dipastikan sebagai pohon terserang apabila menunjukkan gejala :

-

Lebih dari 3 daun tombak tidak membuka

-

Lebih dari 3 daun tombak tidak membuka

-

Beberapa pelepah daun menggantung/sengkleh

-

Dijumpai adanya badan buah Pembongkaran Pohon

Setelah 3 – 4 minggu dari peracunan pohon, pada

umumnya seluruh pelepah sudah mengering,

sehingga pembongkaran dapat segera dilakukan.

(90)

HAMA DAN PENYAKIT PENTING KAKAO

Dani Sutanta S

(91)

Pendahuluan

Luas lahan kakao di Indonesia 1.852.900 Ha

Produksi kakao nasional 777.500 ton

Bahan baku cokelat

Komoditi ekspor yang tidak pernah turun

Komoditi ekspor yang tidak pernah turun

permintaan

(92)
(93)

HAMA PENTING KAKAO

Penggerek buah kakao (PBK)

Conopomorpha cramerella

Famili Gracillariidae

Ordo Lepidoptera

COCOA POD BORER

Gejala serangan pada buah (warna kuning tidak merata)

tidak merata)

Ulatnya merusak dengan cara menggerek buah, memakan kulit buah, daging buah dan saluran ke biji.

Buah yang terserang akan lebih awal menjadi berwarna kuning, dan jika digoyang tidak berbunyi

Biasanya lebih berat daripada yang sehat

Biji-bijinya saling melekat, berwarna kehitaman serta ukuran biji lebih kecil

(94)

Daur hidup

Telur berwarna jingga, diletakkan satu per satu pada permukaan kulit buah

Ulat berwarna putih kekuningan atau hijau muda (panjang sekitar 11 mm)

Setelah ulat keluar dari dalam buah lalu berkepompong pada permukaan buah, daun, serasah, karung atau

pada permukaan buah, daun, serasah, karung atau keranjang tempat bua

Kepompong berwarna putih

Ngengat aktif (panjang 7 mm) pada malam hari (sejak matahari terbenam sampai dengan pukul 20.30)

Pada siang hari berlindung di tempat yang teduh

Seekor ngengat betina mampu bertelur 50-100 butir

(95)

Hama ini dapat dikendalikan dengan :

Sanitasi

Pemangkasan

membenam kulit buah

membenam kulit buah

memanen satu minggu sekali

Kondomisasi

cara hayati/biologi

(96)
(97)

Penyakit Penting Kakao Busuk Buah

Phytophthora palmivora

Famili Pythiaceae

Ordo Pythiales

FRUIT ROT

FRUIT ROT

(98)

Gejala Penyakit

Menyerang buah muda – masak

Buah yang terserang nampak bercak- bercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari pangkal, tengah atau ujung buah

Bila kondisi lahan lembab, maka bercak tersebut akan meluas dengan cepat ke seluruh permukaan buah, sehingga menjadi busuk, kehitaman dan apabila ditekan dengan jari terasa lembek dan basah

Penyebaran penyakit dibantu oleh keadaan lingkungan yang lembab

Penyebaran penyakit dibantu oleh keadaan lingkungan yang lembab terutama pada musim hujan.

Buah yang membusuk pada pohon juga mendorong terjadinya infeksi pada buah lain dan menjalar kebagian batang/cabang

Soilborn dan Airborn dengan spora

Pada saat tidak ada buah, jamur dapat bertahan di dalam tanah

Penyakit ini akan berkembang dengan cepat pada daerah yang

mempunyai curah hujan tinggi, kelembaban udara dan tanah yang tinggi terutama pada pertanaman kakao dengan tajuk rapat

(99)

Pengendalian penyakit

Sanitasi kebun

Mekanis (mengumpulkan dan membakar buah yang terserang)

Kultur teknis :

Pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan tanaman

Pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan tanaman kakao merupakan hal yang penting dilakukan terutama pada musim hujan.

Penanaman klon resisten atau toleran merupakan cara yang wajib diperhatikan

Pengendalian kimiawi : langkah preventif, sebelum

serangan muncul

(100)

Tugas

Tuliskan Hama dan Penyakit Penting kakao lain masing-masing satu (sertakan gambarnya)

Deskripsikan dengan lengkap : Siklus hidup, Gejala serangan, pengendaliannya

serangan, pengendaliannya

Dikumpulkan minggu depan

(101)

HAMA DAN PENYAKIT PENTING TANAMAN KOPI

Dani Sutanta S

(102)

Pendahuluan

Areal kopi di Indonesia 1.240.900 Ha (BPS, 2014)

Produksi kopi nasional 698.900 ton

Produsen kopi terbesar keempat setelah Brazil, Kolumbia, dan Vietnam

Kolumbia, dan Vietnam

(103)

Sumber : Dirjenbun, Deptan

(104)

HAMA PENTING KOPI

Penggerek buah kopi (PBKo)

Coffee Berry Borer

Hypothenemus hampei

Famili Scolytidae

Famili Scolytidae

Ordo Coleoptera

(105)

PBKo sangat merugikan, karena mampu merusak biji kopi dan sering mencapai populasi yang tinggi

Umumnya, hanya kumbang betina yang sudah kawin yang akan menggerek buah kopi dengan buat lubang kecil dari ujungnya

buat lubang kecil dari ujungnya

Menyerang buah kopi yang baru terbentuk (8 minnggu setelah bunga – panen)

Dalam buah tua dan kering dapat ditemukan lebih

dari 100 PBKo

(106)
(107)

Daur hidup

Kumbang betina menggerek ke dalam biji kopi dan bertelur sekitar 30-50 butir.

Telur menetas menjadi larva yang menggerek biji kopi

Larva menjadi pupa di dalam biji

Larva menjadi pupa di dalam biji

Dewasa(kumbang) keluar dari pupa

Jantan dan betina kawin di dalam buah kopi, kemudian sebagian

betina terbang ke buah lain untuk masuk lalu bertelur lagi

Jantan tidak bisa terbang sehingga tetap di dalam buah tempat

lahirnya sepanjang hidup

(108)

Pengendalian

Pengendalian hayati

Jamur Beauveria bassiana (Bb)

Petik merah (buah yang masak pertama) buah yang terserang PBKo

Kumpulkan dan diperlakukan dengan Bb

Kumpulkan dan diperlakukan dengan Bb

Ditutup dengan plastik jernih

Inkubasi satu malam

Dewasa akan keluar dari buah dan terinfeksi oleh Bb

Dewasa ini kelihatan di bawah plastik

Dewasa tersebut dilepas sehingga dapat menularkan Bb

kepada pasangannya di lahan kopi

(109)
(110)

Pengendalian mekanis

Petik buah yang tertinggal pada pohon kopi dan ambil buah yang jatuh ke tanah

Sebaiknya buah yang dikumpulkan tersebut direbus atau dipendam

Sebaiknya buah yang dikumpulkan tersebut direbus atau dipendam

Hal ini penting untuk menurunkan jumlah PBKo di kebun kopi karena cara ini menghilangkan makanan untuk PBKo yang akan datang/berpindah ke kebun serta yang sudah ada di kebun

Dengan cara ini daur hidup PBKo dapat diputus

(111)

PENYAKIT PENTING KOPI Karat daun kopi

Coffee Leaf Rust

Hemileia vastatrix

Famili Urediaceae

Ordo Uredinales

Penyakit ini menyerang dipembibitan - tanaman dewasa

Pada 1970-an di Amerika, penyakit ini menurunkan produksi 80%

80%

Pada 1980, di Sri Lanka kehilangan > 50%

Di Uganda kehilangan 30%

Di Brasil menurunkan hasil 30%

Di India sebesar 70%

Di Kolumbia 15-25%

Di Papua New Guinea 70%

Di Indonesia 20-70%

(112)

daun yang sakit timbul bercak kuning kemudian berubah menjadi coklat

Di permukaan bercak pada sisi bawah daun terdapat uredospora seperti tepung berwarna oranye atau jingga

Pada serangan berat tanaman tampak kekuningan,

Gejala :

Pada serangan berat tanaman tampak kekuningan, daunnya gugur akhirnya tanaman menjadi gundul

Penyebaran penyakit melalui uredospora yang dapat dibentuk sepanjang tahun

Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban

Spora yang telah matang dapat disebarkan oleh angin

dan untuk perkecambahannya diperlukan tetesan air yang

mengandung udara

(113)
(114)

Siklus Hidup

Uredospora sampai pada daun yang peka

berkecambah dan secara cepat menginfeksi daun melalui stomata pada permukaan daun bagian bawah

Dalam waktu 10-20 hari, pada permukaan daun bagian bawah terbentuk uredospora baru oleh uredium yang keluar lewat stomata

keluar lewat stomata

Tiap uredium menghasilkan > 70.000 uredospora dalam 3- 5 bulan sebagai sumber penular penyakit yang sangat

potensial

Karena kopi merupakan tanaman tahunan, pembentukan daun berlangsung sepanjang tahun sehingga

memungkinkan jamur tersebut hidup dan terus

berkembang setiap saat

(115)

Pengendalian

Memperkuat ketahanan tanaman melalui pemupukan berimbang

Pemangkasan

Pengaturan naungan untuk mengurangi

Pengaturan naungan untuk mengurangi kelembaban kebun dan memberikan sinar matahari yang cukup pada tanaman

Penanaman varietas kopi yang tahan atau toleran,

seperti: S 795, S 1934, USDA 62, Kartika 1 dan 2

(116)

Pengendalian Kimiawi

Terdapat 11 jenis bahan aktif fungisida yang

direkomendasikan di Indonesia, yaitu siprokanazol, heksakanazol, triadimefon, triadimenol, benomil,

tembaga oksiklorida, mankozeb, tembaga hidroksida, tembaga oksida, dinikonazol, dan propikonazol

tembaga oksiklorida, mankozeb, tembaga hidroksida, tembaga oksida, dinikonazol, dan propikonazol

Apabila diikuti dengan praktik kultur teknis yang benar, aplikasi fungisida dapat menurunkan tingkat kerusakan tanaman oleh penyakit karat daun sampai 64,9%

Tanpa diikuti praktik kultur teknis yang benar, aplikasi

fungisida hanya menurunkan tingkat kerusakan tanaman

oleh penyakit karat daun 20%

(117)

Tugas

Tuliskan Hama dan Penyakit Penting kopi lain masing-masing satu (sertakan gambarnya)

Deskripsikan dengan lengkap : Siklus hidup, Gejala serangan, pengendaliannya

serangan, pengendaliannya

Dikumpulkan minggu depan

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi hama dan penyakit pada tanaman jarak pagar dan menentukan hama dan penyakit yang potensial menimbulkan kerusakan

Kompetensi utama disajikannnya buku ajar ini, diharapkan mahasiswa memahami dengan seksama, mampu mengidentifikasi jenis penyakit pada tanaman

Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dibuat suatu aplikasi sistem pakar untuk memberikan informasi mengenai hama penyakit tanaman dan dapat mendiagnosa gejala – gejala

Gejala penyakit ini dimulai dari bagian tanaman yang paling dekat dengan permukaan tanah dan menjalar ke bagian atas, pada varietas yang tidak tahan penyakit

Gejala penyakit busuk pelepah pada tanaman jagung umumnya terjadi pada pelepah daun, bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah menjadi abu-abu, bercak

Penyakit ini juga dapat menimbulkan mati pucuk (die back), selain itu juga menyerang daun muda (bercak daun), bunga, buah dan biji. Gejala penyakit

Hama dan penyakit pada tanaman tomat merupakan kendala yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen, sehingga perlu dilakukan upaya pengendalian yang

Laporan hasil penelitian pengendalian hama dan penyakit terpadu pada tanaman perkebunan