Asesmen Nasional merupakan upaya untuk menangkap secara komprehensif kualitas proses dan hasil pembelajaran pendidikan dasar dan menengah di seluruh Indonesia. Informasi hasil asesmen nasional diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran pada satuan pendidikan yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu hasil belajar peserta didik. Salah satu komponen hasil belajar siswa yang diukur dalam asesmen nasional adalah kemampuan membaca dan kemampuan matematika (berhitung).
Berbeda dengan penilaian berbasis mata pelajaran yang menangkap hasil belajar siswa pada mata pelajaran tertentu, AKM menangkap kompetensi dasar yang diperlukan untuk sukses dalam berbagai mata pelajaran. Buku bersampul tipis ini disusun untuk memberikan informasi dan wawasan mengenai soal-soal AKM serta implikasinya terhadap pembelajaran lintas kurikuler. Kami berharap buku paperback ini dapat menjadi inspirasi bagi terbentuknya budaya belajar yang berpusat pada siswa, pergeseran paradigma dari bahan ajar ke pengembangan kompetensi yang konstruktif dan adaptif.
Pusat Pengkajian dan Pembelajaran, Badan Penelitian dan Pengembangan serta Akuntansi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan dan penyusunan buku paperback ini. Kami berharap buku saku ini dapat bermanfaat khususnya bagi kelangsungan dunia pendidikan di Indonesia, dalam upaya mencerdaskan kehidupan negara.
Tentang AKM
Penilaian kompetensi minimum dirancang untuk memperoleh informasi yang memicu peningkatan kualitas proses belajar mengajar, yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tingkat kompetensi tersebut dapat dimanfaatkan oleh guru berbagai mata pelajaran untuk mengembangkan strategi pengajaran yang efektif dan berkualitas sesuai dengan tingkat prestasi siswa. Pembelajaran yang dirancang berdasarkan tingkat prestasi siswa akan memfasilitasi penguasaan siswa terhadap konten atau kompetensi yang diharapkan dalam mata kuliah tersebut.
Komponen Instrumen AKM
Contoh Soal Literasi Membaca
Penelitian ilmiah sebenarnya bisa dilakukan dimana saja, baik di laboratorium maupun di luar laboratorium, misalnya mengamati kepatuhan siswa terhadap peraturan lalu lintas di persimpangan jalan atau mengamati pergerakan bulan saat terjadi gerhana bulan. Inkuiri ilmiah merupakan serangkaian observasi yang dihubungkan dan diakumulasikan secara terus menerus untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji jawaban atas pertanyaan atau permasalahan. Kunci utama dalam penelitian ilmiah adalah melakukan pengamatan secara sistematis baik mengenai objek pengamatan, waktu pengamatan, apa yang kita lakukan terhadap objek tersebut, dan data yang kita catat.
Contoh penelitian ilmiah yang bisa Anda lakukan di rumah adalah observasi untuk menjawab pertanyaan, “Apakah jumlah air yang Anda siram mempengaruhi tinggi tanaman?” Ada dua situasi berbeda saat menyiram secara teratur untuk mengetahui apakah jumlah air benar-benar mempengaruhi tinggi tanaman. Anda tidak boleh sembarangan menukar pengolahan air tanaman A dengan tanaman B. Oleh karena itu dalam penelitian ilmiah sangat penting Anda menetapkan prosedur agar penelitian Anda dapat dilakukan secara sistematis.
Hal ini sangat penting agar dapat dipastikan yang mempengaruhi perubahan tinggi tanaman adalah jumlah air yang diairi, bukan karena tanaman tipe B tumbuh lebih cepat dibandingkan tanaman A. Jika sudah menyiram secara sistematis, catat juga tingginya. tanaman secara sistematis. Misalnya, tandai tinggi tanaman seminggu sekali, dalam milimeter, tegak lurus dengan permukaan tanah tempat tanaman tumbuh. Setelah data tinggi tanaman terus dikumpulkan, data gabungan dapat menjawab pertanyaan penelitian Anda.
Tentukan apakah setiap kegiatan berikut merupakan langkah sistematis dalam melakukan penelitian ilmiah di atas atau tidak. Sistematis Jumlah air untuk menyiram tanaman A. bertambah setelah dua minggu, kedua tanaman disiram pada waktu yang sama setiap hari. Peneliti menyimpulkan bahwa tanaman A yang disiram dengan sedikit air lebih unggul dibandingkan tanaman B yang disiram dengan banyak air.
Ada tanda di rumah "Maaf saya tidak ada karena saya sedang menonton Piala Dunia di Eropa". Contoh soal kelas 5 adalah teks fiksi, sedangkan contoh kelas 8 dan kelas 11 adalah teks informasi. Soal-soal AKM mengukur kemampuan siswa tidak hanya pada tingkat pemahamannya saja, namun juga mampu merefleksikan isi teks (seperti pada contoh soal kelas 5 dan 8).
Hal ini tidak sering terjadi pada ujian pada umumnya, seperti pada contoh soal ujian berikut ini: Kompetensi yang diukur sudah mencapai tingkat interpretasi (pemahaman), namun belum pada tingkat penilaian dan refleksi terhadap isi teks.
Contoh Soal Numerasi
Teman Ben memberitahukan bahwa baju yang diinginkan Ben juga dijual di toko F dengan harga yang sama. Melalui contoh soal tersebut (KTA kelas 8 dan kelas 11) siswa diberdayakan dalam mengolah informasi dan menafsirkan informasi, selain itu siswa dituntut untuk mampu menalar dengan menggunakan konsep-konsep matematika yang telah dipelajarinya untuk memberikan alasan terhadap suatu permasalahan. Soal-soal diberikan dalam konteks dunia nyata dan membawa siswa pada tahap penalaran sehingga solusi yang diberikan lebih aplikatif.
Kompetensi diukur pada tingkat kemampuan menggunakan pengetahuan untuk menginterpretasikan data dalam bentuk tabel atau diagram batang dalam permasalahan akuntansi, namun tidak pada tingkat penalaran. Pada soal-soal ujian sekolah kelas 5, kompetensi yang diperoleh hanya sebatas kemampuan menyelesaikan soal berdasarkan konsep matematika saja, namun belum menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana Hasil AKM Dilaporkan
Siswa memiliki kemampuan dasar matematika: perhitungan dasar berupa persamaan langsung, konsep dasar yang berkaitan dengan geometri dan statistika, serta penyelesaian masalah matematika rutin yang sederhana. Siswa mampu bernalar untuk memecahkan masalah yang kompleks dan tidak rutin berdasarkan konsep matematikanya.
Pemanfaatan Hasil AKM untuk Menguasai Konten: Implikasi
Contoh Strategi Penguasaan Konten di Mata
Siswa di tingkat SD mampu mengekstrak informasi dari teks, namun belum sepenuhnya memahami isi topik kolaboratif. Siswa dapat memperoleh sumber belajar pendamping berupa catatan singkat atau kesimpulan untuk pemahaman yang utuh. Siswa pada tingkat Mahir sudah mampu memahami isi teks tentang koperasi dengan baik, namun belum mampu melakukan refleksi.
Siswa pada tingkat lanjutan mampu memahami isi bacaan dan merefleksikan penggunaan kooperatif teks yang diberikan guru.
Contoh Strategi Penguasaan Konten di Mata
Siswa pada tingkat dasar sudah menguasai konsep-konsep dasar, namun masih kesulitan menerapkannya pada situasi yang relevan. Siswa hendaknya diberikan contoh cara menyajikan data atau memasukkan data dari catatannya ke dalam bentuk penyajian yang tepat dan akurat. Siswa pada tingkat Mahir sudah memahami konsep dan mampu menerapkan konsep tersebut, namun perlu menyempurnakan kemampuan penalarannya untuk mendeteksi kesalahan data atau anomali data.
Siswa dapat ditugaskan untuk membandingkan datanya dengan data kelompok lain dan kemudian menarik kesimpulan umum dari hasil penelitian di suatu kelas. Siswa pada tingkat mahir mampu menerapkan konsep matematikanya dalam konteks dan alasan yang berbeda untuk memecahkan masalah. Siswa ini dapat ditugaskan untuk membandingkan data miliknya, data kelompok lain, dan data dari sumber lain (misalnya jurnal ilmiah yang relevan) kemudian menggeneralisasi hasil percobaan yang dilakukan dengan menganalisis data yang berbeda.
Pemanfaatan Hasil AKM untuk Meningkatkan Kompetensi
Contoh Strategi Meningkatkan Kompetensi Literasi
Siswa pada tingkat ini, selain membuat jig, dapat ditugaskan untuk membuat catatan/ringkasan singkat tentang cara membuat jig, disertai dengan penanda bagian-bagian penting atau bagian-bagian yang dapat dimodifikasi pada saat pembuatan jig. Siswa tingkat keterampilan sudah memahami betul isi resep, namun belum mampu melakukan refleksi dan evaluasi. Siswa diberi kebebasan untuk memodifikasi resep/cara pembuatan cirengi, kemudian ditugaskan membuat laporan perbandingan antara cara membuat cirengi dengan resep yang sudah dimodifikasi dengan resep guru.
Siswa pada tingkat ini sebelum membuat cireng bertugas mencari resep cireng lainnya, membandingkan resep-resep tersebut, kemudian menentukan langkah-langkah pembuatan cireng yang akan dijadikan resep untuk dipraktikkan. Siswa tingkat dasar diberikan contoh hasil pertandingan antara suatu kelompok dengan keadaan pemenangnya. Siswa tingkat Cakap diberikan hasil pertandingan di dua grup berbeda serta ketentuan pertandingan babak selanjutnya.
Siswa tingkat Mahir diminta memperkirakan kemungkinan pemenang pada babak selanjutnya berdasarkan hasil empat pertandingan grup pada babak sebelumnya.
Penutup