• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa pengaruh dewan komisaris independen, komite audit independen, dan kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Analisa pengaruh dewan komisaris independen, komite audit independen, dan kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Analisa pengaruh dewan komisaris independen, komite audit independen, dan kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan

Veny

[email protected]

Program Studi Akuntansi, Fakultas Sosial dan Humuniora, Universitas Bunda Mulia, Tangerang, Indonesia

Dian Angelene [email protected]

Program Studi Akuntansi, Fakultas Sosial dan Humuniora, Universitas Bunda Mulia, Tangerang, Indonesia

Merry Putri

[email protected]

Program Studi Akuntansi, Fakultas Sosial dan Humuniora, Universitas Bunda Mulia, Tangerang, Indonesia

Abstract

The purposes of this study is to investigate of independent commissioners, independent audit committees, and financial performances on company value. This study was accompanied on state-owned firms listed on the IDX for the 2018-2021 period. The data are taken from the annual reports from the IDX website and each company. The research population consisted of 20 BUMN companies and several samples were occupied by the purposive sampling, so that 19 sample companies were obtained for the four observation periods (2018-2021) and a total of 58 observational data were obtained. Data is collected and processed using multiple regressions analysis. This study results shows that the independent board of commissioner has positive insignificant influence on company value, the independent audit committee does not significantly and negatively impact company value, and financial performance significantly and positively affects company value.

Keywords: independent audit committee; independent board of commissioner; company value;

financial performances

Abstrak

Tujuan studi ini ialah untuk menginvestigasi pengaruh dewan komisaris independen, komite audit independen, dan kinerja keuangan kepada nilai perusahaan. Studi ini dilakukan pada perusahaan BUMN yang terdaftarkan di BEI periode 2018-2021. Data penelitian diambil dari laporan tahunan dari laman BEI dan masing-masing perusahaan. Populasi penelitian sebanyak 20 perusahaan BUMN dan diambil beberapa sampel mempergunakan purposive sampling, maka didapatkan 19 perusahaan sampel untuk empat periode pengamatan (2018-2021) dan didapatkan total 58 data pengamatan. Data dikumpulkan dan diolah dengan menggunakan analisis regresi berganda. Hasil temuan ini mengungkapkan bahwa dewan komisaris independen secara positif tidak signifikan mempengaruhi nilai perusahaan, komite audit independen secara negatif tidak signifikan mempengaruhi nilai perusahaan, dan kinerja keuangan secara signifikan positif mempengaruhi nilai perusahaan.

Kata kunci: komite audit independen; dewan komisaris independen; nilai perusahaan; kinerja keuangan

(2)

PENDAHULUAN

Suatu perusahaan memiliki tujuan utama yaitu guna meningkatkan kesejahteraannya para pemegang saham (Ramadhani & Oktoviani, 2022). Perusahaan mampu meningkatkan kemakmuran pemegang saham dengan menaikkan nilai perusahaannya. Meningkatnya nilai perusahaan dapat dipengaruhi oleh perselisihan kepentingan diantara pemegang saham dan manajemennya. Perbedaan kepentingan ini mungkin disebabkan oleh fakta bahwa manajemen memiliki akses terhadap lebih banyak informasi dan cenderung menjalankan aktivitas operasional perusahaan demi kepentingannya sendiri.

Good corporate governance (GCG) hendaknya bisa dijadikan penyelesaian untuk meminimalisir konflik berkepentingan antara pemegang saham dan manajemen (Kurniawan &

Fadjrih, 2020). Keberadaan dewan komisaris independen hendaknya mampu mengawasi direksi selama melaksnakan aktivitas operasional perusahaannya serta memberikan masukan kepada direksi dalam mengoperasionalkan aktivitasnya (Sondokan, Koleangan, & Karuntu, 2019). Dengan adanya dewan komisaris diharapkan dapat mengurangi tindakan manajemen untuk berlaku sesuai dengan kepentingannya dan juga bisa meningkatkan nilai dari perusahaan tersebut.

Komite audit pula merupakan bagian penting dari GCG di perusahaan. Peranan komite audit dibutuhkan guna memantau pelaporan keuangan dan kinerja auditor internal dan eksternal yg berkaitan dengan menyajikan pelaporan keuangan (Kurniawan & Fadjrih, 2020).

Diharapkan keberadaan komite audit laporan keuangan lebih berkualitas, maka mampu mengurangi kemungkinan manajemen perusahaan untuk membuat kecurangan dalam pelaporan keuangannya. Hal tersebut juga diharapkan dapat menunjukkan informasi yang berkualitas dan tidak salah saji akan membuat citra dan nilai perusahaan baik dimata investor dan pemegang saham.

Kinerja perusahaan juga bisa menjadi faktor yang dapat berdampak bagi nilai perusahaan.

Kinerja perusahaan satu diantaranya mampu diukur oleh tingkat profitabilitas yang diperoleh perusahaan pada suatu periode akuntansi. Profitabilitas menjelaskan tingkat kemampuan entitas untuk menciptakan laba dari pengelolaan aset perusahaannya. Bertambah tinggi tingkat profitabilitas, sehingga bertambah tinggi juga kemampuan perusahaan memaksimalkan kekayaan pemegang saham (Widyaningsih, 2018).

Pada awal tahun 2019, dua komisaris PT Garuda Indonesia menolak membubuhkan tanda tangannya pada laporan finansial PT Garuda Indonesia tahun 2018 dikarenakan menilai laporan keuangannya belum memenuhi standar akuntansi (Hartomo, 2019). Berkat ulah dua komisaris itu, yang kemudian terungkaplah kekeliruan pada laporan keuangan PT Garuda Indonesia.

Pasca skandal pelaporan keuangan PT tersebut terungkap, image dan harga sahamnya ikutserta anjlok hingga 2,97% (Saragih, 2019). Hal ini mengungkapkan bahwasanya GCG mampu mempengaruhi nilai suatu perusahaan di mata investor dan masyarakat. Aspek GCG, seperti komite audit dan dewan komisaris, dianggap sebagai penyaring yang baik, membantu meminimalkan perbuatan yang menimbulkan kerugian bagi perusahaan dan pengguna laporan keuangan. Adanya kasus ini, PT Garuda Indonesia perlu menyesuaikan laporan keuangannya dari laba menjadi rugi. Menurunnya harga saham kemungkinan juga diakibatkan oleh menurunnya kinerja keuangan PT Garuda Indonesia.

Populasi dalam penelitian ini ialah perusahaan BUMN Persero, dikarenakan pada tahun 2018 hingga 2019, sejumlah kasus kecurangan dan ketidakakuratan pelaporan keuangan BUMN Persero terungkap. Pada tahun 2020, Menteri BUMN, Erick Thohir mengemukakan bahwasanya sebagian besar perusahaan BUMN yang mengedit laporan keuangan (Sandi, 2020).

Permasalahan pada penelitian ini ialah penerapan GCG yang dilakukan perusahaan hendaknya bisa mengurangi konflik antar agensi di perusahaan, dengan demikian diharapkan

(3)

mampu meningkatkan kinerja keuangan serta nilai perusahaan. Sehubungan dengan itu, kajian ini dilaksanakan untuk mengumpulkan bukti empiris akankah komponen GCG misalnya dewan komisaris independen dan komite audit mempengaruhi nilai perusahaan dan kinerja keuangan perusahaan, dan kajian ini dilaksanakan guna mengungkapkan akankah GCG berpengaruh terhadap nilai perusahaan melaluo kinerja keuangan perusahaannya.

TINJAUAN PUSTAKA

Agency theory

Agency theory adalah landasan yang bisa dipergunakan untuk melakukan pemahaman mengenai GCG (Hery, 2017). Teori ini menerangkan mengenai kesepakatan antara pemilik saham sebagai principal dan manajemen sebagai agent (Widyaningsih, 2018). Konsep ini membahas terkait permasalahan keagenan yg disebabkan oleh asimetris informasi diantara principal & agent (Hery, 2017). Berkenaan dengan manajemennya yg akan menggunakan informasi yg dimiliki guna mengoptimalkan kompensasi yang diharapkan dan bertindak dengan cara yang tidak merepresentasi kepentingan pemegang saham. Perihal ini bisa mengakibatkan kerugian bagi pemegang saham dikarenakan mampu menurunkan nilai perusahaan dan kinerja keuangan. Dewan direksi & komite audit berperan sebagai mediator pada perselisihan yang berkepentingan antara pemegang saham & manajemen. Hal ini dikarenakan dewan komisaris dan komita audit diharapkan dapat memberikan pengawasan kepada tindakan manajemen yang tidak sesuai kepentingan pemegang saham.

Singnalling theory

Teori sinyal menjelaskan terkait tindakan perusahaan untuk memberikan gambaran terhadap pemilik atau pihak berkepentingan dari laporan keuangannya (Hery, 2017).

Penggunaan teori sinyal ini berhubungan dengan profitabilitas. Jika tingkat profitabilitas perusahaan baik maka dapat dikatakan bahwa kinerja perusahaan tesebut bagus dan sebaliknya (Sudarno, et.al, 2022). Sinyal yang baik seperti profitabilitas yang baik dapat memberikan sinyal yg positif bagi nilai perusahaan. Bertambah baik sinyal yang diberikan oleh perusahaan akan bertambah baik pula reaksi investor pada nilai perusahaan tersebut.

Nilai perusahaan

Nilai perusahaan yaitu pandangan yang dimiliki investor mengenai perusahaan tersebut, dan pandangan ini seringkali dikaitkan dgn harga sahamnya (Hidayat, Triwibowo, &

Marpaung, 2021). Bertambah meningkat nilai saham perusahaan mengindikasikan bahwasanya investor mempunyai nilai yang makin tinggi terhadap perusahaan tersebut. Semakin tinggi harga saham dibanding dengan nilai bukunya, mengungkapkan bahwasanya investor berkenan mempergunakan uangnya lebih banyak guna pembelian saham perusahaan itu (Ramadhani &

Oktoviani, 2022). Tingginya nilai perusahaan tidak hanya diakibatkan oleh baiknya kinerja keuangan, tetapi juga dikarenakan keyakinan pada masa depan perusahaannya (Amaliyah &

Herwiyanti, 2019). Keyakinan mengenai suatu perusahaan di masa mendatang bisa dianggap terlepas dari keyakinan yang berkaitan dengan kapasitas perusahaan untuk berkinerja baik, tetapi berkaitan juga dgn keaslian laporan keuangan yang diterbitkan perusahaannya seperti faktor penilaian investor. Keberadaaan dewan komite audit dan komisaris independen, maka manajemen akan mampu menjalankan kegiatan operasional tersebut dengan sukses serta akan menciptakan hasil finansial yg baik.

Dewan komisaris independen

Dewan komisaris ialah prosedur pemantauan yang bertanggung jawab memberi arahan dan

(4)

petunjuk kepada manajemen perusahaannya (Hasnati, 2014). Sebagaimana Peraturan OJK No.

33 Tahun 2014 dijelaskan bahwasanya dewan komisaris independen yaitu dewan yang berasalkan dari pihak eksternal perusahaan ditunjuk oleh hasil RUPS. Dewan ini merupakan penghubung antara manajemen perusahaan dan pemegang saham (Hidayat, Triwibowo, &

Marpaung, 2021). Yang mana, dewan komisaris independen akaan menjalankan fungsi penasehatan serta tugas pengawasannya mengenai aktivitas manajemen ketika melaksanakan kegiatan perusahaannya. Melalui fungsi penasehatannya, komisaris independen sebaiknya bisa meringankan manajemen dalam proses mengambil keputusan perusahaan secara strategis, dengan tujuan untuk menaikkan nilai perusahaan. Berkat fungsi pengawasan dewan komisaris independen, kecurangan atau kesalahan yang diperbuat manajemen perusahaan dapat diminimalisir. Hal ini akan meningkatkan rasa keyakinan masyarakat kepada manajemen perusahaan, yang pada akhirnya nilai perusahaan akan meningkat juga. Pengukuran dewan komisarisindependen dilakukan melalui memperbandingkan persentase total dewan komisaris independen dgn seluruh komisaris perusahaannya (Nagayu, 2022).

H1: Dewan komisaris berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Komite audit

Sebagaimana Peraturan OJK No. 55 tahun 2015, disebutkan bahwasanya komite audit ialah badan yang bentukan & di bawah tanggung jawabnya dewan komisaris guna mendukung pelaksanaan kewajiban dan fungsi dewan komisarisnya. Komite audit merupakan keanggotaan bentukan dewan komisaris perusahaannya, dan dewan komisaris bertugas untuk melantik dan memberhentikan para anggotanya (Hidayat, Triwibowo, & Marpaung, 2021). Komite audit bertugas meringankan dewan direksi pada pengawasannya mengenai manajemen perusahaan dan memberikan masukan terhadap dewan komisaris atas laporan keuangan yang diungkapkan oleh manajemen agar dapat mengurangi tindakan kecurangan atau ketidaksesuaian informasi akuntansi yang dapat mengakibatkan kerugian pada citra perusahaan (Amaliyah & Herwiyanti, 2019). Keberadaan komite audit independen akan mampu meningkatkan pengawasan pada proses laporan keuangan perusahaan, dengan demikian mampu menaikkan nilai perusahaannya. Komite audit pada studi ini dievaluasi dengan banyaknya komite audit independen dibagi seluruh komite audit didalam perusahaan (Widyaningsih, 2018).

H2: Komite audit berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.

Kinerja keuangan

Kinerja keuangan ialah deskripsi mengenai kesuksesan perusahaan pada pengelolaan keuangan dalam satu periode (Shanti, 2020). Kinerja keuangan bisa diukur dengan tingkat profitabilitas. Rasio profitabilitas mengungkapkan kesanggupan perusahaan untuk menciptakan laba dalam suatu perode tertentu dalam kegiatan operasionalnya (Hery, 2017).

Bertambah tinggi tingkat keuntungan yang dihasilkan akan menarik pihak investor terhadap saham perusahaannya, sehingga nilai perusahaan tersebut bertambah meningkat. Sebaliknya, semakin kecil tingkat kinerja profitabilitas yang dihasilkan perusahaan akan bertambah menurun nilai perusahaan tersebut dimata investor. Kehadiran dewan komisaris independen dan komite audit diharapan dapat manajerial bisa mendapatkan masukkan untuk dapat menjalankan kegiatan opersional perusahaan dengan lebih maksimal, maka hendaknya mampu meningkatkan kinerja keuangannya juga, serta nantinya nilai perusahaan ikut serta meningkat.

Kinerja keuangan pada studi ini akan diukur menggunakan rumus laba bersih dibagai dengan total aset (Nagayu, 2022).

H3: Kinerja perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

(5)

Paradigma penelitian

Pada studi ini, paradigma penelitiannya yaitu:

Figure 1. Paradigma penelitian Sumber: dibuat peneliti

METODE PENELITIAN

Prosedur penelitian

Penelitian ini mempergunakan jenis pendekatan kuantitatif berbentuk data sekunder yaitu annual report perusahaan BUMN periode 2018 hingga 2021. Studi ini mempergunakan 2 jenis variabel ialah variable independent dan variable dependent. Variabel independen studi ini ialah komite audit, dewan komisaris independen, serta kinerja keuangan. Variabel dependennya ialah nilai perusahaan. Uji ini dilaksanakan mempergunakan analisis regresi berganda. Hasil regresi berganda akan menjadi dasar pengambilan keputusan untuk menguji hipotesis pada studi ini. Metode sampling yg diimplementasikan yakni purposive sampling, yang mana perusahaan yg hendak dijadikan sampel yaitu perusahaan dengan laporan keuangan lengkap dari 2018-2021 & mempunyai data secara lengkap untuk keperluan penghitungan variabelnya.

Pengukuran variabel

Pengukuran variabel yang dipergunakan pada studi ini, antara lain:

Tabel 1. Pengukuran variabel

Variabel Proxy Pengukuran Skala

Nilai perusahaan (NP)

Harga saham penutupan Nilai ekuitas/jumlah saham beredar

Rasio Dewan komisaris

independent (DK)

Jumlah dewan komisaris independen

Jumlah seluruh dewan komisaris independen

Rasio Komite audit (KA) Jumlah komite audit

independen

Jumlah seluruh komite audit independen

Rasio Kinerja keuangan

(PROF)

Return on asset (ROA) Laba bersih/total aset Rasio Sumber: Dibuat peneliti

Dewan komisaris independen

Kinerja keuangan

Nilai perusahaan Komite audit

(6)

Pengujian statistik Uji analisis deskriptif

Uji ini dipergunakan memberikan gambaran deskriptif data penelitiannya. Menyajikan nilai umum contohnya nilai nilai maksimum, minimum, mean, jumlah data dan simpangan data.

Nilai ini bisa berguna untuk menggambarkan data penelitian yang dipergunakan sehingga karakteristik data dapat diinterpretasikan (Priyanto, 2016).

Uji asumsi klasik Uji normalitas

Uji ini dilaksanakan guna mengungkapkan akankah data pada model regresi mempunyai residual yang berdistribusi normal. Uji normalitas yang akan dilaksanakan pada uji ini yaitu mempergunakan uji One Kolmogorov Smirnov Z. Bilamana nilai Asymp-sig >0,05 sehingga data residu normal berdistribusi. Data dianggap baik yaitu data yg normal berdistribusi (Priyanto, 2016).

Uji multikolinearitas

Uji multikolinearitas ialah pengujian guna membuktikan akankah variabel-variabel penelitian mempunyai keterkaitan yg linier ataupun tidak. Pengujian multikolineritas yang akan dilaksanakan pada studi ini berfokus pada nilai VIF dan tolerance. Bilamana nilai VIF

<10 dan nilai tol. >0,1, jadi masalah multikolinearitas tidak terjadi pada suatu data. Baiknya suatu data yaitu data yg multikolinearitasnya tidak terjadi (Priyanto, 2016).

Uji heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas dimanfaatkan guna mengungkapkan akankah data penelitian mempunyai variasi yang tidak serupa. Model regresi yang baik memerlukan tidak ada gejala heteroskedastisitasnya. Uji heteroskedastisitas pada studi ini, akan dilaksanakan dengan menggunakan uji scatterplots, di mana data tidak mempunyai gejala heteroskedastisitas bilamana titik-titiknya di grafik scatter plots berdistribusi & tidak terbentuk sebuah pola khusus (Priyanto, 2016).

Uji autokorelasi

Autokorelasi ialah fenomena yang terjadi korelasi antara residual amatan satu dengan pengamatan lainnya. Baikanya sebuah model regresi ialah yg tidak menimbulkan gejala autokorelasi. Uji ini akan dilaksanakan mempergunakan uji Durbin-Watson. Di mana hasil uji ini harus sesuai dengan syarat du< DW<4-du, dengan demikian data dipercaya bebas dari gejala autokorelasi (Priyanto, 2016).

Uji multiple regression

Selanjutnya dalam penelitian ini akan dilakukan uji multiple regression untuk melihat hubungan antara komite audit, dewan komisaris independen, dan kinerja keuangan kepada nilai perusahaan dan pengaruh dewan komisaris dan komite audit kepada kinerja keuangannya, mempergunakan rumus yaitu:

NPi = α + β1DKi + β2KAi + β3PROFi + εi

NP : Nilai perusahaan DK : Dewan komisaris KA : Komite audit PROF : Kinerja keuangan

(7)

Uji simultan

Uji F dipergunakan membuktikan pengaruh seacara bersamaan variabel independent dengan variabel dependent (Priyanto, 2016). Uji f dilaksanakan dgn memeriksa hasil nilai signifikan dalam table ANOVA. Bilamana nilai sig. <0,05, jadi variabel independent juga memberikan dampak pada variabel dependent.

Uji individual

Uji t dipergunakan untuk membuktikan pengaruh variabel independent dengan variabel dependent secara individual (Priyanto, 2016). Pengujian ini dilaksanakan dgn mengamati hasil nilai sig. pada table coefficients. Bilamana nilai sig. <0,05 sehingga variabel independent secara individual mempengaruhi variabel dependent.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengujian Analisi deskriptif

Berikut ialah hasil uji analisi deskriptif:

Tabel 2. Statisik deskriptif

Variabel N Minimum Maksimum Rata-rata Deviasi standar DK 58 0,28571 0,75000 0,45582 0,11633 KA 58 0,40000 1,00000 0,86244 0,16287 PROF 58 - 0,09217 0,22248 0,02745 0,04632 NP 58 0,42832 3,35417 1,51680 0,78203

Sumber: Hasil pengolahan SPSS

Dari hasil analisis deskriptif tersebut didapatkan bahwasanya; nilai mean dewan komisaris independen pada perusahaan BUMN adalah 45,58% dari jumlah dewan komisarisnya. Nilai minimumnya adalah sebesar 28,57% yaitu perusahaan dengan kode SMGR dan nilai maksimumnya adalah 75% yaitu pada perusahaan dengan koder WIKA pada tahun 2020. Nilai standar deviasinya adalah 0,1163. Untuk nilai rata-rata komite audit independen pada perusahaan BUMN, terdapat 86,24% dari jumlah komite auditnya. Nilai minimumnya adalah sebesar 40% dan nilai maksimalnya adalah sebesar 100%, Dengan nilai standar deviasi adalah sebear 0,1628. Selain itu, nialai rata-rata kinerja keuangan perusahaan BUMN adalah sebsar 2,75%. Nilai maksimumnya adalah sebesar 22,28% dan nilai minimumnya -0,0921%. Dengan nilai standar deviasinya adalah 0,04631. Akhirnya, nilai rata-rata NP yaitu 1,5168. Nilai minimumnya 0,4283 dan nilai maksimumnya adalah 3,3542. Nilai standar deviasinya adalah 0,7820.

Uji asumsi klasik Uji normalitas

Hasil uji normalitasnya antara lain:

Tabel 3. Uji normalitas

Item Penjelasan Nilai

N 58

Mean 0,0000000

(8)

Normal parameters

Std.deviation 0,66993924

Most extreme Absolute 0,101

Positive 0,101

Negative -0,53

Test statistic 0,101

Asymp. sig (2-tailed) 0,2

Sumber: Hasil pengolahan SPSS

Sesuai hasil di Tabel 3, didapatkan bahwasanya nilai asymp. sig. (2-tailed) di atas 0,05, sehingga data pada studi ini mempunyai persebaran normal.

Uji multikolinearitas

Hasil uji multikolinearitasnya, yaitu:

Tabel 4. Uji multikolinearitas Variabel Tolerance VIF

DK 0,922 1,085 KA 0,866 1,154 ROA 0,878 1,139 Sumber: Hasil pengolahan SPSS

Sesuai hasil Tabel 4 didapatkan bahwasanya nilai VIF >10 dan tolerance <0,1. Sesuai hasil di atas, berkesimpulan bahwasanya data penelitiannya tidak mengalami gejala multikolinieritas.

Uji autokorelasi

Hasil uji autokorelasinya yaitu :

Tabel 5. Uji autokorelasi Model Durbin Watson

1 1,77900

Sumber: Hasil pengolahan SPSS

Dari Tabel 5 terlihat bahwasanya nilai Durbin Watson dari studi ini yaitu 1,779. Dimana dari tabel DW didapatkan bahwa nilai du adalah 1,6860 dan bernilai 4-du 2,314. Dari hasil tersebut dapat diketahui baha nilai nilai Durbin Watson dalam pengujian ini lebih tinggi dari du tabel namun lebih kecil dibandingkan 4-du, dengan demikian data studi ini tidak memiliki gejala autokorelasi.

Uji heteroskedastisitas

Hasil uji heteroskedastisitasnya antara lain:

Tabel 6. Uji heteroskedastisitas

Item B Std. error Standardized coefficients beta t Sig.

Konstanta - 2,554 1,739 - 1,469 0,155

DK 4,484 2,168 0,394 2,069 0,050

KA - 0,972 1,807 - 0,110 0,538 0,596

(9)

ROA 7,372 4,860 0,304 1,517 0,142 Sumber: Hasil pengolahan SPSS

Sesuai Tabel 6, didapatkan bahwasanya nilai sig. di atas 0,05, jadi data studi ini tidak memiliki gejala heterokedastisitas.

Uji koefisien korelasi

Hasil uji koefisien korelasinya antara lain:

Tabel 7. Uji koefisien korelasi

Model R R square Adjusted R square Std. error of the estimate

1 0,516 0,26600 0,25500 0,6882971414

Sumber: Hasil pengolahan SPSS

Dari Tabel 7, didapatkan bahwasanya nilai adjusted R2 yaitu 0,225. Dari hasil ini didapatkan bahwasanya variabel dewan komisari, komite audit, dan kinerja keuangan mempengaruhi nilai perusahaan yaitu 22,5% dan sisa sebesar 77,5% dijabarkan oleh indikator lainnya di luar penelitiannya.

Uji F

Hasil Uji F, antara lain:

Tabel 8. Uji F

Model Item Sum of square Df Mean square F Sig

1 Regression 9,277 3,000 3,092 6,527 0.001

Residual 25,583 54,000 0,474

Total 34,859 57,000

Sumber: Hasil pengolahan SPSS

Sesuai Tabel 8 didapatkan bahwasanya nilai sig. 0,001 <0,05. Hasil ini mengungkapkan bahwasanya variabel dewan komisaris, kinerja keuangan dan komite audit secara simultan mempengaruhi nilai perusahaannya.

Uji t

Hasil dari uji t, yaitu :

Tabel 9. Uji t

Item B Std. error Standardized coefficients beta t Sig. Hasil

Constant 1,203 0,608 1,977 0,53

DK 2,243 0,816 0,334 2,748 0,08 H1 ditolak

KA -1.026 0,601 -0,214 -1.706 0,094 H2 ditolak

ROA 6.436 2,1 0,381 3,064 0,003 H3 diterima

Sumber: Hasil pengolahan SPSS

Sebagaimana hasil penelitian tersebut bisa diinterpretasikan bahwa, dewan komisaris secara positif memberikan pengaruh pada nilai perusahaan, namun tidak signifikan. Hasil ini bisa disebabkan semakin besarnya proporsi dewan komisarisindependen akan dapat meningkatkan daya kendali pada pengelolaan perusahaan. Dimana hal tersebut hendaknya mampu meningkatkan hasil kineja dan nilai perusahaan tersebut. Sebaliknya semakin sedikit dewan komisaris independen dalam perusahaan tersebut dapat menjadi isyarat yang kurang baik bagi publik terkait dengan pengendalian perusahaan. Temuan ini selaras dgn penelitiannya

(10)

(Hidayat, Triwibowo, & Marpaung, 2021) dan (Elga Cindy Nagayu, 2022) mengungkapkan bahwasanya dewan secara signifikan positif komisaris independen mempengaruhi nilai perusahaannya. Namun disini, peranan dewan komisaris secara signifikan tidak mampu mengerak nilai perusahaan.

Selain itu, komite audit independen secara negatif tidak signifikan mempengaruhi nilai perusahaan ini. Perihal ini dapat diakibatkan oleh adanya komite audit akan dapat mengurangi praktik-praktik manipulasi laporan keuangan yang mungkin dapat dilakukan oleh perusahaan.

Dengan adanya komite audit akan mampu menurunkan laba yang meningkat karena adanya praktek manajemen laba yang dilakukan perusahaan. Hal tersebut dapat menjadi penyebab turunnya nilai perusahaan. Masih banyak kuantitas laba dibandingkan dengan kualitas laba tersebut tanpa peran dari komite audit untuk menciptakan kualitas perusahaan yang baik tidak terlalu berdampak pada penilaian investor. Namun hal tersebut tidak signifikan karena tidak semua investor hanya tinggi rendahnya laba tidak selalu tergantung dengan manajemen laba yang dilaksanakan perusahan. Temuan ini sependapat dgn penelitiannya Gosal, Tielung, &

Pangemanan (2018) dan Putranto, Maulidhika, & Scorita (2022).

Untuk kinerja keuangan yang diproksi dengan ROA, terdapat pengaruh secara positif signifikan terhadap nilai perusahaannya. Hal tersebut disebabkan investor akan menilai baik perusahaan yang mampu menghasilkan keuntungan yang memuaskan untuk investor dan sebaliknya jika perusahaan tidak dapat menghasilkan keuntungan yang baik akan nilai perusahaan tersebut akan dipandang kurang baik. Hasil ini selaras dengan penelitiannya Inggrida, Setiawan, & Veny (2023), Saputra (2018) dan Josephine, Trisnawati, & Setijaningsih (2019) yang mengungkapkan bahwasanya kinerja keuangan atau profitabilitas berpengaruh positif pada nilai perusahaan.

KESIMPULAN

Sebagaimana penelitian ini dapat diketahui bahwa dewan komisaris secara positif dan kaomite audit secara negatif tidak signifikan mempengaruhi nilai perusahaan. Sedangkan, profitabilitas memberikan pengaruh positif dan signifikan pada nilai perusahaan. Hasil ini mengungkapkan bahwa persentase dewan komisaris independen dan komite audit baik untuk pengelolaan perusahan namun tidak dapat mendorong perubahan nilai perusahaan. Laba perusahaan akan meningkatkan nilai dari perusahaan BUMN di Indonesia. Penelitian dimasa yang akan dapat dapat mempertimbangkan untuk menambahkan variabel GCG lainnya seperti kepemilikian manajerial atau kepemilikan institusional, dan juga melihat pengaruhnya pada sektor perusahaan lain di Indonesia seperti perusahaan konsumsi atau sektor manufaktur sebagai sektor yang berperanan penting dalam perekonomian dan kebutuhan masyarakat Indonesia, dikarenakan faktor-faktor tersebut diduga akan mempengaruhi nilai perusahan.

DAFTAR PUSTAKA

Amaliyah, F., & Herwiyanti, E. (2019). Pengaruh kepemilikan institusional, dewan komisaris independen, dan komite audit terhadap nilai perusahaan sektor pertambangan. Jurnal Akuntansi, 9(3), 187-200.

Elga Cindy Nagayu, M. (2022). Pengaruh keputusan investasi, keputusan pendanaan, keputusan dividen, profitabilitas dan ukuran dewan komisaris terhadap nilai perusahaan. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 10(1), 428-437.

(11)

Gosal, M. M., Pangemanan, S. S., & Tielung, M. V. (2018). The influence of good corporate governance on firm value: Empirical study of companies listed in IDX30 index within 2013-2017 period. Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi, 6(4), 2688 – 2697.

Hartomo, G. (2019, Oktober 28). https://economy.okezone.com/. Retrieved from https://economy.okezone.com/:

https://economy.okezone.com/read/2019/06/28/320/2072245/kronologi-kasus- laporan-keuangan-garuda-indonesia-hingga-kena-sanksi

Hasnati. (2014). Komisaris independen dan komite audit organ perusahaan yang berperan untuk mewujudkan good corporate governance di Indonesoa. Yogyakarta: Absolute Media.

Hery. (2017). Balance scorecard for busines. Jakarta:: Kompas Gramedia.

Hidayat, T., Triwibowo, E., & Marpaung, N. V. (2021). Pengaruh good corporate dan kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan . Jurnal Akuntansi Bisnis Pelita Bangsa, 6(1),1-18.

Inggrida, N., Setiawan, T., & Veny. (2023). Performa keuangan yang mempengaruhu nilai perusahaan. Jurnal Ekonomi & Ekonomi Syariah, 871-880.

Josephine, K., Trisnawati, E., & Setijaningsih, H. T. (2019). Pengaruh modal intelektual dan tata kelola perusahaan terhadap nilai perusahaan melalui kinerja keuangan (Studi empiris pada perusahaan LQ45 di bursa efek Indonesia periode 2015-2017). Jurnal Muara Ilmu Ekonomi dan Bisnis, 59-70.

Kurniawan, E. R., & Fadjrih, A. N. (2020). Pengaruh good corporate governance terhadap nilai perusahaan dan profitabilitas. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi, 9(11), 1-25.

OJK. (2014). 22/PJOK.04/2014 : Direksi dan dewan komisaris emiten atau perusahaan publik OJK. (2015). 55/PJOK.04/2015 : Pembentukan dan pedoman pelaksana kerja komite audit Priyanto, D. (2016). Belajar alat analisis data dan cara pengelolaannya dengan SPSS.

Yogyakarta: Gava Media.

Putranto, P., Maulidhika, I., & Scorita, K. B. (2022). Dampak good corporate governance dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan. Jurnal Online Insan Akuntan, 7(1), 61-74.

Ramadhani, R., & Oktoviani, A. (2022). Pengaruh struktur modalm pertumbuhan perusahaan dan ukuraan dewan komisaris terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktir sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI periode 2018-2020. Journal or Accounting, Taxation dan Finance, 1(1), 1-12.

Sandi, F. (2020, January 11). https://www.cnbcindonesia.com/. Retrieved from https://www.cnbcindonesia.com/:

https://www.cnbcindonesia.com/market/20200111122513-17-129350/erick-thohir- akhirnya-ungkap-modus-bumn-vermak-lapkeu-duh

Saputra, W. S. (2018). Pengaruh corporate governance, corporate social resposibility dan intelectual capital terhadap nilai perusahaan. National Conference of Creative Industry:

Sustaibanle Tourism Industri for Economic Development, 1034-1050.

Saragih, H. P. (2019, July 26). www.cnbcindonesia.com. Retrieved from www.cnbcindonesia.com: https://www.cnbcindonesia.com/market/20190726094620- 17-87741/rugi-setelah-restatement-harga-saham-garuda-amblas

Shanti, Y. K. (2020). Pengaruh komite audit terhadap kinerja perusahaan dengan dewan komisaris sebagai variabel intervening. IQTISHADUNA: Jurnal Ilmiah Ekonomi Kita, 9(2), 147-158.

Sondokan, N. V., Koleangan, R. A., & Karuntu, M. M. (2019). Pengaruh dewan komisaris independen, dewan direksi, dan komite audit terhadap nilai perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2014-2017. Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi, 7, 5821-5830.

(12)

Sudarno, Renaldo, N., Harahuruk, M. B., Junaedi, A. T., & Suyono. (2022). Teori penelitian keuangan. Malamg: CV Literasi Nusantara Abadi.

Vlaminck, N. D., & Sarens, G. (2013). The relationship between audit committee characteristics and financial statement quality. Journal of Management and Governance, 19(1), 145 - 166. doi:10.1007/s10997-013-9282-5

Widyaningsih, D. (2018). Kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, komisaris independen, serta komite audit pada nilai perusahaan dengan pengungkapan CSR sebagai variabel moderating dan firm size sebagai variabel kontrol. Jurnal Akuntansi dan Pajak, 19(1), 38-52.

Referensi

Dokumen terkait

PENGARUH KARAKTERISTIK DEWAN KOMISARIS DAN KOMITE AUDIT TERHADAP NILAI PERUSAHAAN. (Studi Empiris Perusahaan Publik

Variabel pengaruh kepemilikan institusional, prosentase dewan komisaris independen, jumlah dewan komisaris, kualitas audit dan komite audit dalam penelitian oleh

Penelitian ini diharapkan dapat membantu pengembangan ilmu pengetahuan terutama mengenai pengaruh dewan komisaris independen dan komite-komite dewan komisaris

Pengaruh Komposisi Dewan Komisaris Independen, Ukuran Dewan Pengawas Syariah, Ukuran Komite Audit Dan Kepemilikan Institusional Terhadap Pengungkapan Corporate Social

Penelitian bertujuan untuk memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh besaran dewan komisaris, independensi dewan komisaris, diversitas gender komite audit, besaran

Kata Kunci : Proporsi Komisaris Independen, Ukuran Dewan Komisaris, Frekuensi Rapat Dewan Komisaris, Ukuran Komite Audit, Frekuensi Rapat Komite Audit, Ukuran

Pada tabel 4.3 terlihat bahwa semua variabel penelitian (proporsi dewan komisaris independen, jumlah rapat dewan komisaris dan jumlah rapat komite audit) memiliki

Dapat disimpulkan bahwa pengaruh variabel GCG dengan proksi ukuran komite audit, ukuran komisaris independen, dan kepemilikan manajerial serta leverage terhadap variabel manajemen laba