KEWIRAUSAHAAN
ANALISIS BMC DAN SWOT UMKM TENUNCUP TROSO
Disusun Oleh :
Kelompok 8
Anshori Choiron (G.331.21.0061) Aldo Diva (G.331.21.0126) Ardiansyah (G.331.21.0098) Raviendra Bayu (G.331.21.0063)
Mario Ahamto(G.331.21.0118)
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS TEKNOLOGI INFOMASI DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS SEMARANG
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tenuncup ini berasal dari Jepara yang didirikan oleh Ilham Irfannudin atau biasa di panggil Ucup ini beralamatkan di Jl. Raya Jepara-Bugel No.5 RT. 01/02 Km. 1, Rw. 1, Troso, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59411
Kerajinan Tangan Kain Tenun ini kain ini dibuat menggunakan cara yang masih tradisional dengan bahan serat kayu yang di campur dengan benang perak, Tenun Jepara Ini memiliki motif special yang sehingga sekarang masih di pertahankan, yaitu motif yang bernuansakan etnik, tradisional, klasik dan unik.
Sehingga menggunakan aneka macam motif misalnya misris, krisna dan motif ukir.
BAB II ANALISIS BMC
1. VALUE PROPOSITION
Salah satu keunikan Kain produk tenuncup adalah pada motifnya.
Selain indah, motif kain tenuncup ini tidak melulu bernuansakan tradisional, klasik atau etnik. Namun juga citarasa modern dengan motif-motif kontemporernya.
2. CUSTOMER SEGMEN
Kebanyakan peminat dari kain tenuncup ini lebih banyak diminati oleh para produsen besar, untuk diolah kembali menjadi sarung, baju dan lain lain.
3. CUSTOMER RELATIONSHIP
Untuk produk tenuncup sendiri dia berani melakukan pengiriman barang ke pulau bali, walaupun di bali sendiri sudah banyak pesaing
untuk produk tenun dengan kualitas yang lebih unggul di banding tenun di bali, itu adalah bentuk service untuk mempertahankan customer.
4. CHANNELS
Untuk pelanggan kain tenun cup didapatkan melalui media sosial, marketplace, dan rekomendasi dari konsumen lama. Pelanggan kain tenun cup berasal dari bali, Brunei Darussallam, dan daerah Timur Tengah.
5. KEY ACTIVITIES
Kain tenuncup memproduksi setiap hari dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore, karyawanya sendiri berjumlah 300 orang dan biasanya dikerjakan di rumah karyawan masing-masing lalu di setorkan ke rumah produksi tenuncup.
6. KEY RESOURCES
untuk menunjang kinerja produksi, tenuncup menyediakan alat produksi berupa mesin tenun tradisional berjumlah 300 mesin, dan sebagian di letalan di rumah masing-masing karyawan produksi sehingga produksi bisa di lakukan kapanpun.
7. KEY PATNERS
Untuk supplyer bahan baku benang sendiri, kain tenuncup sudah memiliki partener di daerah Jepara yang merupakan tempat asal produksi tenuncup sendiri, hal ini dapat mengurangi cost produksi kain tenun. Jenis benang yang digunakan yaitu benang rayon, yang dimana benang rayon memiliki keunggulan tahan terhadap penyusutan, pemudaran, dan pengelupasan.
8. COST STRUCTURES
Kain tenuncup mendapatkan harga bahan baku benang rayon Rp. 11.000/25 M yang dimana dapat memproduksi 10 kain berukuran 2,5 M. Untuk gaji karyawan tenuncup mereka mendapatkan gaji mingguan dengan nominal sesuai jumlah produksi mereka, rata rata karyawan dapat memenuhi target mingguan dengan gaji Rp1.000.000. Untuk harga kain tenuncup dikisaran Rp 80.000/pcs-Rp 300.000/pcs.
9. REVENUE STREAMS
Sumber pendapatan kain tenuncup berasal dari hasil export ke pulau bali dan sebagian ada yang sudah sampai mancanegara, biasanya tenuncup mendapatkan pesanan dari kantor kantor di jawa tengah untuk pembuatan seragam.
BAB III ANALISIS SWOT 1. Strengths ( kekuatan )
Kualitas kain tenun cup yang sudah terjamin karena menggunakan benang premium, memiliki banyak varian motif yang sudah menjadi ciri khas kain tenun cup, harga yang bersaing sesuai dengan kualitas produk kain tenun cup
2. Weaknesses ( kelemahan )
Terbatasnya dalam promosi sosial media, cuaca yang terkadang tidak menentu menjadi kelemahan produk kain tenun cup karena dalam proses pengeringan warna memerlukan cahaya matahari yang cukup
3. Oppoturnities ( peluang )
Dengan banyaknya karyawan dan alat tenun dapat membantu mempercepat produksi kain tenun yang di jual, target pemasaran
yang luas hingga dapat ekspor di Brunei Darusalam dan Timur Tengah
4. Threats ( ancaman )
Kain tenun cup masih menggunakan alat tradisional hal ini mengakibatkan kain tenun cup kurang effisien dan produktif
LAMPIRAN