• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Analisis Deteksi Laba Overstated Pada Laporan Keuangan PT. Totalindo Eka Persada Tbk Periode 2017 – 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of Analisis Deteksi Laba Overstated Pada Laporan Keuangan PT. Totalindo Eka Persada Tbk Periode 2017 – 2019"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

RAJ, Vol 4 (1) 2024 : 28-35, http://journal.yrpipku.com/index.php/raj |

Copyright © 2019 THE AUTHOR(S). This article is distributed under a a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International license.

ANALYSIS OF LABA OVERSTATED DETECTION IN THE FINANCIAL STATEMENTS OF PT TOTALINDO EKA PERSADA TBK IN 2017-2019

Analisis Deteksi Laba Overstated Pada Laporan Keuangan PT. Totalindo Eka Persada Tbk Periode 2017 – 2019

Nazwira Azani

1

Marsya Aliya Dini Ruslan

2

Dinda Amanah Hayyu

3

Universitas Muhammadiyah Riau, Ekonomi & Bisnis, Jalan Tuanku Tambusai, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

1[email protected]

ABSTRACT

The purpose of this study is to detect the possibility of overstated earnings on the financial statements of PT. Totalindo Eka Persada Tbk. Financial statements are the result of management's accountability for the use of the resources entrusted to them. Financial statement data is explored and researched to find the possibility of overstated earnings. The results show that (1) an indication of aggressive revenue recognition at PT. Totalindo was not found and operating cas flow was normal. (2) In the suspension of expenses on PT. Totalindo, there is no amortization with similar companies so that the period comparison is relatively the same, and there are no deferred costs other than taxes recorded as assets on the balance sheet. (3) For the classification of non-operating income, the description of the operation of PT. Totalindo is as it should be, no recurring items are included in the revenue. (4) And for the classification of operational costs at PT. Totalindo, has no extraordinary fees or margins, everything is presented fairly.

Keywords : Overstated Earnings, Aggressive Revenue Recognition, Deferred Expenses

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini mendeteksi kemungkinan laba overstated pada laporan keuangan PT. Totalindo Eka Persada Tbk. Laporan keuangan merupakan hasil pertanggung jawaban pihak manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Data laporan keuangan dieksplorasi dan diteliti untuk mencari kemungkinan laba overstated. Hasil menunjukkan bahwa (1) Indikasi pengakuan pendapatan yang agresif pada PT. Totalindo, tidak ditemukan dan arus kas operasi perusahaan berjalan dengan wajar. (2) Dalam penangguhan beban pada PT. Totalindo, tidak terdapat amortisasi dengan perusahaan sejenis sehingga perbandingan periode relatif sama, dan tidak terdapat biaya tangguhan selain pajak yang dicatat sebagai aset di neraca. (3) Untuk item klasifikasi non-operasi pendapatan, deskripsi operasi PT. Totalindo sesuai dengan hal yang semestinya, tidak terdapat item berulang yang termasuk dalam pendapatan. (4) Dan untuk klasifikasi biaya operasional pada PT. Totalindo, tidak terdapat biaya atau margin yang luar biasa, semua tersaji secara wajar.

Kata Kunci : Laba Overstated, Pengakuan Pendapatan Agresif, Penangguhan Beban

1. Pendahuluan

Laporan keuangan merupakan dokumen atau laporan yang menggambarkan kondisi keuangan suatu entitas, seperti perusahaan, organisasi, atau individu, pada suatu periode tertentu. Laporan keuangan merupakan hasil pertanggungjawaban pihak manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Salah satu tugas manajemen atau investor sejak akhir tahun adalah menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan dengan tujuan untuk memberikan informasi yang relevan dan dapat diandalkan kepada pemangku kepentingan guna untuk mengukur kinerja keuangan suatu entitas, melacak arus kas dan

(2)

29

membuat keputusan bisnis yang lebih baik, sehingga hasil analisis akhir dapat digunakan oleh perusahaan untuk menentukan langkah selanjutnya. Menurut PSAK No. 1 (2020:2), “Laporan keuangan adalah penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas”. Laporan ini menunjukkan sejarah entitas yang diukur dengan nilai moneter. Purba et al (2023) menjelaskan laporan keuangan sebagai hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.

Di Indonesia pada tahun 2001, terjadi sebuah peristiwa yang menimpa PT. Kimia Farma Tbk. Menurut laporan itu, Kimia Farma menghasilkan laba sebesar Rp 132 Miliar. Kemudian dilakukan audit ulang pada 3 Oktober 2002 atas laporan keuangan tahun 2001 lalu disajikan ulang (restated), karena ditemukan kesalahan yang cukup mendasar setelah proses audit.

Dalam laporan keuangan baru, laba yang dilaporkan sebesar Rp 99,56 miliar, atau turun sebesar Rp 32,6 milyar, atau sekitar 24,7% dari laba yang dilaporkan semula. Hal ini disebabkan karena terdapat overstated pada beberapa unit perusahaan.

Kasus akuntansi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di perusahaan jasa keuangan global yaitu Lehman Brothers tahun 2008 di Amerika Serikat. Kasus yang terjadi bahwa perusahaan telah menyembunyikan pinjaman lebih dari $50 milliar. Pinjaman ini telah disamarkan sebagai penjualan dengan menggunakan celah akuntansi. Menurut penyelidikan SEC, perusahaan tersebut telah menjual aset beracun ke bank-bank di Kepulauan Cayman dalam jangka pendek. Dipahami bahwa Lehman Brothers akan membeli kembali aset tersebut.

Ini memberi kesan bahwa perusahaan memiliki $50 milliar lebih banyak dalam bentuk tunai dan $50 milliar lebih sedikit dalam aset beracun. Akibat skandal itu, Lehman Brothers bangkrut.

Pada dasarnya, menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2020:3) laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. kata lain, laporan keuangan adalah catatan yang mencerminkan bisnis dan kinerja keuangan perusahaan. Semua orang dapat melakukan suatu kesalahan, termasuk seorang akuntan. Karena akun-akun akuntansi saling terkait, kesalahan dalam catatan keuangan sangat mempengaruhi kegiatan operasional perusahaan. Contohnya: pada saat input pendapatan yang tidak perlu akan melebih-lebihkan (overstated) pendapatan bersih dan laba ditahan, sementara input biaya yang tidak perlu, bisa mengecilkan (understated) pendapatan bersih dan laba ditahan. Namun, seorang akuntan dapat memposting entri jurnal untuk memperbaiki kesalahan dalam laporan keuangan tersebut.

Jika terjadi kesalahan biaya, aturan umumnya adalah memperkirakan biaya yang terlalu tinggi akan menyebabkan laba bersih menurun. Sebaliknya, jika biaya terlalu rendah akan menyebabkan tingginya pendapatan. Agar lebih kompleks, biaya sering kali berupa biaya yang belum dibayarkan oleh perusahaan. Jika mengeluarkan biaya saat tidak membutuhkannya, maka pendapatan yang diterima sedikit. Misalnya, jika seorang akuntan menerima bunga pada akhir tahun dan ternyata biaya bunga tidak perlu dibayar, laba bersih yang diterima sedikit atau dinilai terlalu rendah. Demikian juga, beban yang ditangguhkan yang tidak perlu akan menyebabkan meningkatnya pendapatan bersih yang overstated.

Jika terdapat kesalahan pada pendapatan. Jika total pendapatan meningkat, maka laba bersih menurun dan sebaliknya. Namun, seorang akuntan tetap teliti dalam mencari kesalahan tentang pendapatan ditangguhkan (deffered). Pendapatan ditangguhkan terjadi ketika perusahaan telah menerima pembayaran tetapi barang dan jasa yang terkait dengan pembayaran belum dikirim atau dilakukan. Jika akuntan mendeffered pendapatan yang tidak perlu, pendapatan bersih pasti understated. Pendapatan ditangguhkan bearti perusahaan

(3)

30

telah mengakui pendapatan tetapi belum menerima uang tunai. Jika penangguhan pendapatan yang tidak perlu dicatat, pendapatan bersih akan meningkat.

Apabila terjadi kesalahan dalam persediaan. Kesalahan yang terjadi pada saldo persediaan akan mempengaruhi akun Harga Pokok Penjualan (HPP) dan pendapatan bersih.

Harga Pokok Penjualan (HPP) dihitung dengan menambahkan pembelian ke persediaan pada saldo awal dan dikurangi total saldo dari persediaan akhir. Jika nilai persediaan akhir tinggi, bearti nilai harga pokok penjualan rendah dan nilai laba bersihnya tinggi. Efek sebaliknya terjadi pada kesalahan dalam saldo persediaan awal, jika nilai persediaan awalnya tinggi, bearti nilai harga pokok penjualan juga tinggi sehingga nilai laba bersihnya rendah.

Dan jika terdapat kesalahan dalam ekuitas, kesalahan pada laporan laba rugi tidak mempengaruhi aset dan kewajiban, tetapi akan mempengaruhi ekuitas. Pada akhir periode pembukuan, akuntan akan menutup laba bersih dengan laba ditahan. Laba ditahan adalah akumulasi dari laba yang dihasilkan oleh perusahaan dari tahun ke tahun dan belum dibagikan kepada pemegang saham. Ketika laba bersih dinilai terlalu tinggi untuk jangka waktu tertentu, laba ditahan juga dinilai terlalu tinggi dan sebaliknya.

Tugas akuntan adalah membuat, menghitung, memeriksa dan melakukan pengawasan keuangan yang berkenaan dengan masalah keuangan perusahaan. Pentingnya peran akuntan dalam melakukan pemeriksaan laporan keuangan ini harus patuh pada kode etik profesi akuntan publik dan berpegang pada Standar Profesional Akuntan Publik agar dapat menghindari terjadinya penipuan dalam pemeriksaan, antara lain terjadinya “mark up” atau

overstated” menaikkan nilai laba perusahaan dari nilai yang sebenarnya. Berdasarkan hal diatas laporan keuangan yang overstated adalah penggelembungan laba keuntungan dalam laporan keuangan perusahaan.

Ketidakstabilan perusahaan sering ditutupi oleh manajemen dengan menyajikan atau melaporkan kinerja keuangannya tetap stabil. Akibat dari ketidakstabilan tersebut, manajemen biasanya berkolusi dengan akuntan untuk menjaga kinerja tetap terlihat baik oleh calon investor, owner, serta pihak-pihak yang berkepentingan dengan kinerja perusahaan.

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul

“Analisis Deteksi Laba Overstated Pada Laporan Keuangan PT. Totalindo Eka Persada Tbk Periode 2017 – 2019”

2. Tinjauan Pustaka

1.Teori Agensi (agency theory)

Teori keagenan mendefenisikan hubungan keagenan sebagai sebuah kontrak dimana satu atau lebih prinsipal (pemilik) menyewa orang lain (agen) untuk melalukan beberapa jasa untuk kepentingan mereka dengan mendelegasikan beberapa wewenang untuk membuat keputusan kepada agen (Ernawati & Santoso, 2022). Pada model keagenan dirancang sebuah sistem yang melibatkan kedua belah pihak yaitu pemilik dan agen. Di antara pemilik dan agen, investor lebih menyukai laporan dari agen. Hal ini karena agen yang menjalankan perusahaan serta mengetahui keadaan perusahaan yang sebenarnya, sedangkan pemilik hanya menerima laporan dari manajemen. Karena manajer diangkat oleh pemilik maka idealnya mereka bertindak yang terbaik untuk kepentingan pemilik (Azmi et al., 2021).

Ada dua kelompok kategori motivasi manajemen dalam teori agensi yaitu kategori:

Opportunistic dan Signaling. Motivasi opportunistic manajemen cenderung menyajikan laba lebih tinggi daripada yang sesungguhnya, karna berhubungan dengan kompensasi. Sementara pada motivasi signaling manajemen cenderung menyajikan laba yang mempunyai kualitas, karena berhubungan dengan evaluasi kinerja dan selanjutnya digunakan sebagai sinyal kepada para pemegang saham (Pasaribu & Mulyani, 2019) .

(4)

31 2.Pengakuan Pendapatan Agresif

Pengakuan pendapatan agresif yang dikutip oleh SEC (Djuadi et al., 2022) adalah salah satu bentuk paling popular dari manajemen laba. Pengakuan pendapatan agresif terjadi ketika perusahaan melebih-lebihkan pendapatan. Perusahaan yang melaporkan pendapatan secara berlebih-lebihan atau curang pada laporan laba rugi sehingga menghasilkan salah saji pada neraca. Jika nilai laba terlalu tinggi, maka nilai laba ditahan di neraca juga tinggi. Untuk menghindarinya perusahaan harus melebih-lebihkan aset, mengurangi kewajiban agar lebih rendah, atau mengurangi faktor lain dalam ekuitas. Pengakuan pendapatan yang agresif mengakibatkan peningkatan piutang.

3.Penangguhan Beban

Beban ditangguhkan adalah biaya yang dibayar dimuka jangka panjang, tetapi aset dasarnya tidak akan sepenuhnya digunakan sampai satu atau beberapa periode masa depan telah selesai. Maka dari itu beban yang ditangguhkan dilakukan di neraca sebagai aset sampai biaya tersebut digunakan. Setelah digunakan, biaya yang ditangguhkan akan diklasifikasi sebagai beban dalam periode berjalan. Contohnya, ABC International membayar $10.000 pada bulan April untuk sewa gedung bulan Mei. Itu menangguhkan biaya pada titik pembayaran (pada bulan April) di akun aset sewa dibayar dimuka. Pada bulan Mei, ABC sekarang telah menggunakan aset prabayar, sehingga mengkredit akun sewa dibayar dimuka dan mendenbit akun biaya sewa.

4.Klasifikasi Pendapatan Operasional dan Non-Operasional

Pendapatan operasional adalah hasil yang didapat langsung dari kegiatan operasional suatu perusahaan sebagai hasil usaha pokok yang dilakukan oleh perusahaan, seperti pendapatan diterima dimuka, dan depresiasi. Pendapatan non-operasional adalah pendapatan yang didapat selain dari aktivitas operasional perusahaan selama jangka waktu tertentu. Misalnya, sebuah bengkel sepeda motor yang merupakan perusahaan jasa menerima pendapatan non- operasional dari menjual sparepart dan oli. Jenis pendapatan non-operasional dapat dibagi menjadi dua yaitu:

 Pendapatan dari penggunaan aktiva perusahaan atau sumber daya ekonomi dari pihak ketiga. Misalnya, pendapatan bunga, sewa, dan royalti.

 Pendapatan dari penjualan barang atau aset yang tidak memiliki catatan produksi.

Misalnya, menjual surat berharga atau menjual aset tidak berwujud.

5. Klasifikasi Biaya Operasional dan Non-Operasional

Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari sebuah perusahaan. Misalnya, komisi penjualan, tunjangan karyawan, transportasi, dan biaya lainnya. Biaya non-operasional adalah biaya yang digunakan untuk kepentingan di luar perusahaan, namun masih ditangguh oleh perusahaan. Misalnya, biaya parkir, biaya kerugian bencana alam dan biaya lain yang terkait langsung dengan biaya non-operasional.

3. Metode Penelitian

1.Jenis dan Model Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah content analysis atau analisis isi. Analisis isi ini digunakan dalam penelitian untuk menganalisis isi dari suatu dokumen (Azmi et al., 2019).

(5)

32 2.Data dan Sumber Data

Data dari penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari materi mata kuliah Analisa Laporan Keuangan.

3.Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simak dan catat.

4.Validitas Data

Validitas data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan triangulasi data yaitu dengan cara memeriksa kebenaran data dengan perbandingan antara data dari sumber yang satu dengan sumber data yang lain, sehingga keaslian dan kebenaran data akan diuji oleh sumber data yang berbeda.

5.Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah content analysis (kajian isi).

Analisis isi merupakan teknik untuk menentukan apakah data kualitatif tertentu memiliki data, tema atau konsep tertentu. Dengan menggunakan analisis isi, penelitian dapat menganalisis kebenaran suatu konsep tertentu.

4. Hasil dan Pembahasan

Manajemen laba adalah tindakan pihak manajemen dengan cara sengaja agar mendapatkan keuntungan pribadi atau untuk organisasi dalam suatu proses terkait pelaporan keuangan. Teknik manajemen laba bisa dilakukan dengan cara memilih metode akuntansi yang dapat menaikkan dan menurunkan laba. Menurut (Dharma et al., 2021) manajemen laba adalah upaya yang dilakukan oleh pihak manajemen untuk mempengaruhi atau memanipulasi laba yang dilaporkan dengan menggunakan metode akuntansi atau mempercepat transaksi pengeluaran atau pendapatan, atau metode lain yang dirancang untuk mempengaruhi laba.

(Kurniawan et al., 2020) menjelaskan bahwa kecurangan adalah setiap usaha yang disengaja untuk menipu, dengan tujuan memperoleh harta atau hak orang lain. Sampai saat ini, manajemen laba dapat dianggap sebagai kecurangan yang dilakukan oleh manajemen dengan meningkatkan laba yang dilaporkan (overstated) atau menurunkan laba (understated).

Ada dua jenis kecurangan dalam akuntansi yaitu:

1. Pelaporan Keuangan yang Curang

Kecurangan laporan keuangan adalah kecurangan yang dilakukan oleh manajemen dalam bentuk salah saji material laporan keuangan. Tindakan ini merugikan investor dan kreditor.

Sebagian besar contoh kecurangan laporan keuangan melibatkan keuntungan yang terlalu tinggi dengan melebih-lebihkan asset, atau menghindari kewajiban dan biaya-biaya serta menyajikan laba perusahaan yang rendah. Hal ini dapat dilakukan untuk mengurangi pajak penghasilan. Jika laba tinggi, perusahaan dengan sengaja menurunkan laba dan membangun

cookie jar reserve” yang dapat digunakan untuk memperbesar laba dimasa depan. Metode ini disebut perataan pendapatan (income smoothing) dan pengaturan laba (earnings management).

2. Penyalahgunaan Aktiva

Penyalahgunaan aset adalah salah satu bentuk kecurangan yang dilakukan dengan cara memiliki secara tidak sah dan penggelapan terhadap aset entitas. Didalam beberapa kasus, tetapi tidak semua jumlah yang terlibat tidak material terhadap laporan keuangan sehingga mengkhawatirkan manajemen akibat seringnya pencurian aset, yang jumlahnya semakin hari semakin banyak.

Berikut ini beberapa pertanyaan pada Checklist Warning untuk mendeteksi laba overstated pada perusahaan:

(6)

33 Pengakuan Pendapatan Agresif

1. Periksa kebijakan pengakuan pendapatan dalam catatan kaki terhadap perusahaan sejenis.

Pada PT. Totalindo Eka Persada Tbk, Kebijakan pengakuan pendapatan dan beban konstruksi Perusahaan mensyaratkan penggunaan estimasi yang dapat mempengaruhi jumlah yang dilaporkan dari pendapatan dan beban pokok pendapatan. Perusahaan mengakui pendapatan kontrak dan biaya kontrak yang berhubungan dengan kontrak konstruksi berdasarkan tahap penyelesaian aktivitas kontrak pada tanggal akhir periode pelaporan (metode persentase penyelesaian). Perusahaan melaksanakan proyek yang lamanya lebih dari satu periode akuntansi dan dicatat sebagai kontrak konstruksi. Kebijakan akuntansi Perusahaan untuk proyek membutuhkan pendapatan dan biaya yang akan dialokasikan pada periode akuntansi dan pengakuan berikutnya pada akhir periode atas aset atau liabilitas kontrak untuk proyek yang masih dalam proses.

2. Apakah Piutang pelanggan tumbuh lebih cepat dari pada pendapatan?

Berdasarkan analisis indeks berseri peningkatan pendapatan usaha PT. Totalindo Eka Persada Tbk, mengalami penurunan yang cukup tinggi pada tahun 2019 sebesar -53% sedangkan piutang usaha mengalami kenaikan pada tahun 2019 sebesar -7%.

3. Apakah arus kas operasi secara signifikan lebih rendah dari pada laba akuntansi?

Pada PT. Totalindo Eka Persada Tbk, arus kas operasi lebih tinggi dari pada laba akuntansi yang mana hal ini dapat dilihat di laporan keuangan perusahaan dari tahun 2017 – 2019.

4. Apakah pendapatan yang signifikan terjadi diakhir tahun?

Berdasarkan data laporan keuangan PT. Totalindo Eka Persada Tbk, Pendapatan usaha Totalindo berasal dari dua sumber pendapatan yaitu jasa konstruksi bangunan dan pengembangan properti. Meskipun realisasi proyek Perseroan pada tahun 2019 mencapai Rp2,17 triliun, namun Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp681,37 miliar, mengalami penurunan 53,26% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal tersebut karena saat ini masih banyak proyek-proyek tersebut yang masih dalam tahap persiapan dan belum dapat direalisasikan sebagai pendapatan Perseroan pada 2019.

Penagguhan Beban / Beban ditangguhkan

1. Apakah periode depresiasi / amortisasi lebih lama dari perusahaan sejenis?

Pada laporan tahunan PT. Totalindo Eka Persada Tbk dan PT. Surya Semesta Internusa Tbk memiliki kesamaan dalam periode depresiasi / amortisasi yaitu Penyusutan aset tetap dimulai pada saat aset tersebut siap untuk digunakan sesuai maksud penggunaannya dan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan estimasi masa manfaat ekonomis aset.

2. Apakah ada biaya tangguhan yang dicatat sebagai asset di neraca (selain pajak)?

Didalam laporan tahunan PT. Totalindo Eka Persada Tbk, tidak terdapat biaya tangguhan yang dicatat sebagai asset di neraca.

3. Apakah ada asset yang tidak biasa atau peningkatan besar yang tidak dijelaskan dalam aset seperti inventaris, terutama yang terkait dengan pendapatan?

Peningkatan aset masalalu menggambarkan profitabilitas dan pertumbuhan dimasa yang akan datang. Pada PT. Totalindo Eka Persada Tbk, aset perusahaan tercatat wajar baik, dari segi peningkatan dan penurunannya.

Klasifikasi Pendapatan Non-Operasional

1. Apakah “keuntungan” termasuk dalam pendapatan?

Pendapatan merupakan suatu penghasilan yang diperoleh dari penjualan barang atau jasa selama suatu periode tertentu, sedangkan keuntungan merupakan suatu penghasilan yang jumlahnya lebih dari modal yang dikeluarkan. Keuntungan tidak termasuk kedalam pendapatan. Namun PT. Totalindo Eka Persada Tbk, mengakui keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui dalam penghasilan komprehensif lain di laporan laba rugi.

(7)

34 2. Apakah deskripsi operasi perusahaan sesuai?

Deskripsi operasi perusahaan adalah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan perusahaan untuk tercapainya rencana – rencana tujuan perusahaan. Deskripsi perusahaan PT. Totalindo Eka Persada Tbk, sesuai dengan operasi yang telah dihitung.

3. Apakah item satu kali atau tidak berulang termasuk dalam ponderation?

Item satu kali atau tidak berulang adalah keuntungan, kerugian, atau pengeluaran pada laporan laba rugi yang tidak berulang dan oleh karena itu tidak dianggap sebagai bagian dari opersi bisnis perusahaan yang berjalan. Pada PT. Totalindo Eka Persada Tbk, tidak ada item satu kali atau tidak berulang karena tidak adanya biaya kerusakan akibat bencana alam, kemudian tidak adanya biaya restrukturisasi (biaya yang mengubah struktur utang), tidak adanya kerugian dari operasi yang ditutup, dan tidak adanya keuntungan dari penjualan peralatan.

4. Apakah ada keuntungan atau pendapatan berdasarkan revaluasi aset?

Pada PT. Totalindo Eka Persada Tbk, tidak ada keuntungan atau pendapatan berdasarkan revaluasi aset, karena tidak adanya penilaian kembali terhadap aset tetap milik perusahaan.

Klasifikasi pada Biaya Operasional

1. Apakah ada biaya atau kerugian yang terdaftar sebagai ‟khusus‟, luar biasa, atau tidak berulang dibagian laporan laba rugi?

Biaya luar biasa adalah kejadiannya tidak normal dan tidak sering terjadi atau tidak terulang lagi dimasa yang akan datang dan kerugian dalam laporan keuangan perusahaan yang jarang terjadi dan tidak biasa. Misalnya : biaya untuk perbaikan sarana karena kerusakan akibat peristiwa gempa bumi. Pada PT. Totalindo Eka Persada Tbk, tidak terdapat kerusakan akibat peristiwa alam, sehingga tidak ada biaya atau kerugian yang dikeluarkan.

2. Apakah ada margin yang luar biasa tinggi dibandingkan dengan perusahaan sejenis (juga berlaku untuk penangguhan biaya) ?

Margin adalah persentase keuntungan dari produk barang atau jasa yang dijual. Nilai keuntungan tersebut dihitung dari angka penjualan dan juga biaya produksi. Didalam dunia akuntansi, margin umumnya dikenal dengan profit margin. Pada PT. Totalindo Eka Persada Tbk, dilihat dari rasio margin laba, penurunan dan kenaikan perusahaan wajar sehingga tidak terdapat margin yang luar biasa tinggi.

5. Penutup

Berdasarkan pertanyaan serta jawaban dari checklist warning diatas, dapat disimpulkan tidak terdapatnya indikasi pengakuan pendapatan yang agresif pada PT. Totalindo tidak ditemukan serta arus kas operasi perusahaan berjalan dengan wajar. Didalam laporan tahunan PT. Totalindo Eka Persada Tbk, tidak terdapat biaya tangguhan yang dicatat sebagai asset di neraca (Suriati et al., 2022).

Pada klasifikasi pendapatan non–operasi PT. Totalindo Eka Persada Tbk, tidak ada item satu kali atau tidak berulang karena tidak adanya biaya kerusakan akibat bencana alam, kemudian tidak adanya biaya restrukturisasi (biaya yang mengubah struktur utang), tidak adanya kerugian dari operasi yang ditutup, dan tidak adanya keuntungan dari penjualan peralatan. Dan untuk klasifikasi dari biaya operasional PT. Totalindo Eka Persada Tbk, dilihat dari rasio margin laba, penurunan dan kenaikan perusahaan wajar sehingga tidak terdapat margin yang luar biasa tinggi. (Ramadani et al., 2021)

Daftar Pustaka

Annual Report PT. Totalindo Eka Persada Tbk tahun 2017-2019

Azmi, Z., & Aprayuda, R. (2021). Apakah Kompensasi Eksekutif Bank dapat Mempengaruhi Manajemen Laba?. Jurnal Kajian Akuntansi, 5(2), 193-211.

Larasati, A., Azmi, Z., & Agustiawan, A. (2022). Apakah Corporate Governance Berperan

(8)

35

Menekan Manajemen Laba?. Jurnal Akuntansi STIE Muhammadiyah Palopo, 8(1), 59-76.

Purba, R., Nugroho, L., Santoso, A., Hasibuan, R., Munir, A., Suyati, S., Azmi, Z., & Supriadi, Y.

(2023). Analisis Laporan Keuangan. Global Eksekutif Teknologi.

Dharma, D. A., Damayanty, P., & Djunaidy, D. (2021). Analisis Kinerja Keuangan Dan Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba. Jurnal Bisnis, Logistik Dan Supply Chain (BLOGCHAIN), 1(2), 60–66. https://doi.org/10.55122/blogchain.v1i2.327

Djuadi, D., Penyelesaian, M. P., & Kontrak, M. (2022). Analisis metode pengakuan pendapatan perusahaan jasa konstruksi untuk mengetahui laba rugi dalam laporan keuangan cv asia konstruksi. Jurnal Vokasi Akuntansi, 1(1), 79–94.

Ernawati, E., & Santoso, S. B. (2022). Pengaruh Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen Dan Leverage Terhadap Kinerja Keuangan (Studi Empiris Pada Bank Umum Syariah Yang Terdaftar Di Ojk Indonesia Tahun 2015-2019). Kompartemen : Jurnal Ilmiah Akuntansi, 19(2), 111. https://doi.org/10.30595/kompartemen.v19i2.13246 Kurniawan, A. A., Hutadjulu, L. Y., & Simanjuntak, A. M. A. (2020). Pengaruh Manajemen Laba

Dan Corporate Governance Terhadap Kecurangan Laporan Keuangan. Jurnal Akuntansi Dan Keuangan Daerah, 15(1), 1–14. https://doi.org/10.52062/jakd.v15i1.1461

Pasaribu, D. M., & Mulyani, S. D. (2019). Pengaruh Leverage dan Liquidity Terhadap Tax Avoidance Dengan Inventory Intensity Sebagai Variabel Moderasi. Jurnal Akuntansi Maranatha, 11(2), 211–217. https://doi.org/10.28932/jam.v11i2.1996

Ramadani, A., Aulia, F. W., & Putri, N. H. (2021). Analisis Deteksi Laba Overstated Untuk Menganalisis Laporan Keuangan Pt. Unilever Indonesia Tbk Periode 2016 – 2019. Jurnal Menara Ekonomi : Penelitian Dan Kajian Ilmiah Bidang Ekonomi, 7(2), 13–21.

https://doi.org/10.31869/me.v7i2.2772

Suriati, A., Viarna, F. A., & Kurniawan, M. (2022). Analisis Deteksi Laba Overstated Pada Laporan Keuangan PT Adaro Energy Tbk Periode 2015 – 2020. 6(1), 12137–12143.

Referensi

Dokumen terkait

Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan suatu perusahaan dengan pihak

Menurut Munawir (2001:2) Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau

Menurut Munawir (2000), laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu

Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan

Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu

Laporan Keuangan adalah hasil dari proses Akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak

Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu

Laporan keuangan pada dasarnya adalah sebuah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas