• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Efisiensi Kinerja Pengolahan Tanah Sawah Secara Manual dan Mekanis

N/A
N/A
vcso trial

Academic year: 2024

Membagikan " Analisis Efisiensi Kinerja Pengolahan Tanah Sawah Secara Manual dan Mekanis"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

JKPTB

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 8(1) 29-04 2020 1

Analisis Efisiensi Kinerja pada Aktivitas Pengolahan Tanah Sawah secara Manual dan Mekanis

Nadia Karimah*1, Wahyu Kristian Sugandi1, Ahmad Thoriq1, Asep Yusuf1

1Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem - Fakultas Teknologi Industri Pertanian - Universitas Padjajaran email: [email protected]

RIWAYAT ARTIKEL Penerimaan 13 01 2020 Terbitan 29 04 2020

ABSTRAK

Pengolahan tanah merupakan proses terberat dari keseluruhan proses budi daya, dimana lebih dari 1/3 energi yang digunakan untuk seluruh proses budi daya terserap pada kegiatan pengolahan tanah. Pada proses pengolahan tanah sendiri, Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) Sugih Mandiri Kecamatan Cicalengka telah memiliki alat mesin pertanian (alsintan) yaitu delapan unit traktor roda dua beserta implemennya. Akan tetapi kegiatan pertanian secara mekanis belum dapat diterapkan secara optimal karena beberapa kendala.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi kinerja pengolahan tanah secara manual dan mekanis. Metode yang digunakan adalah survei dengan melakukan pengukuran kinerja dan kelayakan finansial pengolahan tanah secara langsung. Pengolahan tanah dilakukan secara manual menggunakan tenaga manusia (cangkul) dan tenaga kerbau, sedangkan pengolahan tanah secara mekanis dilakukan menggunakan traktor roda dua. Hasil penelitian menunjukan efisiensi kinerja pengolahan tanah untuk sumber tenaga cangkul, kerbau, dan traktor roda dua masing-masing sebesar 45.556%, 29.977%, dan 56.21%.

KATA KUNCI

Efisiensi Kinerja; pengolahan tanah; manual; mekanis

doi https://doi.org/10.21776/ub.jkptb.2020.008.01.01

1. Pendahuluan

Padi adalah salah satu tanaman budi daya yang memegang peranan penting bagi masyarakat Indonesia. Total produksi padi saat ini mencapai 78.8 juta ton, yang dihasilkan dari 7.1 juta hektar sawah (BPS,2018). Akan tetapi luas sawah mengalami penurunan dengan laju sebesar 2.62% per tahun pada periode tahun 2013 – 2018 [1].

Petani yang terlibat dalam kegiatan usaha tani mencapai 28.79 % dari total jumlah tenaga kerja. Akan tetapi, keterlibatan tenaga kerja di sektor pertanian terus mengalami penurunan, dengan laju 1.1% pertahun pada periode 2010-2017 [1] yang disebabkan oleh beralihnya para petani ke profesi lain, karena dinilai lebih menjamin pendapatan finansial.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan produktivitas dan mengatasi permasalahan tenaga kerja di sektor pertanian adalah melalui penerapan mekanisasi pertanian [2]. Penggunaan mekanisasi pertanian terbukti dapat meningkatkan keuntungan usaha tani sebesar 81.61% dan dapat meningkatkan hasil produksi sebesar 33.83%, jika dibandingkan dengan kerja secara manual [3].

(2)

JKPTB

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 8(1) 29-04 2020 2

Pengembangan mekanisasi pertanian di Indonesia hingga kini masih pada tahap awal. Mekanisasi pertanian belum dapat menyentuh petani-petani padi sawah Indonesia yang mayoritas merupakan petani dengan kepemilikan lahan kecil, yaitu kurang dari 0.2 ha [4]. Saat ini di beberapa daerah masih terdapat petani yang melakukan kegiatan pertanian secara tradisional sebagaimana yang terjadi di Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Meskipun telah ada UPJA Sugih Mandiri yang menyediakan berbagai alsintan untuk kegiatan pertanian padi, tetapi petani belum dapat memanfaatkan fasilitas tersebut dengan optimal. Menurut [5], terdapat 20% atau baru dua dari 12 desa yang sudah melakukan aktivitas pertanian secara mekanis dan memanfaatkan bantuan alsintan dari UPJA, sehingga potensi produksi dan peningkatan pendapatan pertanian padi di Kecamatan Cicalengka belum optimal.

Pada proses pengolahan tanah sendiri, alsintan yang tersedia di UPJA Sugih Mandiri yaitu delapan unit traktor roda dua beserta implemennya. Bila dibandingkan dengan total luas lahan Kecamatan Cicalengka, yaitu sekitar 24,000 ha, traktor roda dua yang tersedia belum memadai. Padahal pengolahan tanah merupakan proses terberat dari keseluruhan proses budidaya, dimana lebih dari 1/3 energi yang digunakan untuk seluruh proses budidaya terserap pada kegiatan pengolahan tanah [6].

Berdasarkan hasil wawancara, beberapa petani masih melakukan aktivitas pengolahan tanah sawah secara manual dengan menggunakan tenaga manusia dan tenaga kerbau, dengan alasan keterbatasan kemampuan pengoperasian alat serta kurangnya alsintan yang tersedia. Penelitian ini bertujuan menganalisis efisiensi kinerja pada aktivitas pengolahan tanah sawah secara manual dan mekanis.

2. Metode Penelitian 2.1 Alat dan Bahan

Alat-alat penunjang penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data pada penelitian ini yaitu mistar ukur untuk mengukur kedalaman pembajakan, meteran untuk mengukur luas lahan, patok sebagai penanda saat melakukan pengukuran, gelas ukur untuk mengukur konsumsi bahan bakar, bola golf sebagai alat bantu untuk mengukur indeks kelunakan, dan stopwatch sebagai alat ukur waktu saat proses pengolahan tanah. Kemudian data yang diperoleh dari hasil pengukuran diolah menggunakanMicrosoft Excel. Adapun bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah bahan bakar solar untuk mengoperasikan traktor roda dua. Pada penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari pengukuran secara langsung melalui kuisioner, wawancara yang dilakukan kepada petani dan turun langsung ke lapangan.

2.2 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei pengukuran kinerja pengolahan tanah secara langsung. Survei dilakukan dengan menghimpun data awal, melakukan pengukuran, pengamatan perhitungan, dan menyusun secara sistematis, kemudian menganalisis data yang didapat. Pengukuran langsung yang dilakukan antara lain pada proses pengolahan tanah yang meliputi kegiatan pembajakan, penggaruan dan pelumpuran dengan sumber tenaga manusia, hewan ternak (kerbau) dan traktor roda dua. Pengukuran yang dilakukan berkaitan dengan aspek kinerja pengolahan tanah yang meliputi kapasitas lapang, efisiensi kinerja, indeks pelumpuran, indeks kelunakan, slip roda, dan konsumsi bahan bakar. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini sesuai dengan diagram alir yang disajikan pada Gambar 1.

Penelitian yang dilakukan terdiri atas lima kegiatan, yaitu penelitian pendahuluan, penelitian utama, pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis data. Penelitian pendahuluan dilakukan melalui observasi

(3)

JKPTB

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 8(1) 29-04 2020 3

kondisi lapangan, yang kemudian hasil observasi digunakan sebagai landasan untuk proses pengambilan data pada penelitian utama. Setelah dilakukan penelitian utama, selanjutnya dilakukan pengumpulan data.

Pengumpulan data dilakukan pada kegiatan pengolahan tanah secara manual dan pengolahan tanah secara mekanis. Data yang dikumpulkan adalah data kinerja pengolahan tanah menggunakan sumber tenaga manusia (cangkul), sumber tenaga hewan (kerbau), dan sumber tenaga mesin traktor roda dua. Selanjutnya dilakukan pengolahan data dan analisis data, berupa analisis efisiensi kinerja.

Pengumpulan Data

Manual Mekanis

Pengolahan Tanah (Cangkul/Kerbau)

Observasi Lapangan Penelitian Pendahuluan

Penelitian Utama

Pengolahan Tanah (Traktor Roda Dua)

Pengolahan Data

Analisis Efisiensi Kinerja Tidak

Rekomendasi

Ya Mulai

Selesai

Gambar 1. Diagram Alir Tahapan Penelitian

(4)

JKPTB

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 8(1) 29-04 2020 4

3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Kinerja Pengolahan Tanah

Aktivitas pengolahan tanah sawah yang dilakukan di Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung meliputi kegiatan pembajakan, penggaruan dan pelumpuran. Pada setiap kegiatan tersebut dilakukan pengukuran kinerja terhadap tiga jenis sumber tenaga, yaitu secara manual menggunakan cangkul dan tenaga hewan (kerbau), serta secara mekanis yang dilakukan menggunakan traktor roda dua.

Pada pengolahan tanah menggunakan kerbau, aktivitas penggaruan hanya akan dilakukan bila kondisi tanah belum cukup lunak. Bila sudah cukup lunak, maka akan langsung dilanjutkan ke proses pelumpuran, sedangkan untuk pengolahan tanah dengan menggunakan cangkul, proses olah tanahnya dapat dilakukan dua/tiga kali tergantung kedalaman tanahnya.

Pengolahan tanah secara mekanis dilakukan dengan menggunakan traktor roda dua Yanmar YST PRO XL dengan waktu kerja 7 jam/hari. Dalam melakukan pengolahan tanah menggunakan traktor roda dua, perlu menggunakan pola-pola tertentu untuk menghasilkan pengolahan tanah yang efektif dan efisien. Pola pengolahan tanah yang dilakukan oleh petani pada aktivitas pembajakan menggunakan kerbau atau traktor roda dua adalah pola tepi atau melingkar kontinyu, karena memiliki derajat pembelokan yang cukup rendah dibandingkan pola yang lain. Kemudian pola pengolahan tanah yang dipilih pada aktivitas penggaruan dan pelumpuran adalah pola bolak balik rapat karena memiliki jumlah belokan yang paling sedikit dengan derajat pembelokan yang tidak terlalu besar. Menurut [7] pola tepi/melingkar kontinyu menghasilkan efisiensi tertinggi setelah pola spiral yaitu sebesar 81.20%, yang artinya perbandingan daya efektif traktor dengan daya teoritis yang dihasilkan tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan pola pengolahan lainnya.

3.2 Pembajakan

Perhitungan kinerja pembajakan diawali dengan mengukur kapasitas lapang efektif yang didapatkan dari hasil pengamatan dan perhitungan pengolahan tanah secara manual (dengan cangkul dan tenaga hewan), juga pengolahan tanah secara mekanis menggunakan traktor yang dapat dilihat pada Gambar 2.

(a) (b) (c)

Gambar 2. Kegiatan Pembajakan dengan (a) Cangkul, (b) Kerbau, dan (c) Traktor Roda Dua

Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh rata-rata lebar kerja pembajakan menggunakan cangkul sebesar 0.16 m, kerbau sebesar 0.267 m dan traktor roda dua sebesar 0.4 m. Data hasil pengukuran secara lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 1.

(5)

JKPTB

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 8(1) 29-04 2020 5

Tabel 1. Variabel Kerja pada Pembajakan

No. Variabel Satuan Cangkul Kerbau Traktor Roda Dua

1.

2.

3.

Kedalaman Olah Lebar Kerja Kecepatan Kerja

m m m/s

0.100 0.160 0.223

0.110 0.267 0.577

0.160 0.400 0.928

4. Slip Roda Traktor % 0 0 16.855

Data pada Tabel 1 tersebut menunjukkan bahwa lebar kerja pembajakan antar sumber tenaga berbeda- beda sehingga mempengaruhi kapasitas lapang teoritis. Lebar kerja terbesar adalah pada penggunaan traktor roda dua, yaitu sebesar 0.4 m sehingga dihasilkan kapasitas lapang teoritis 0.134 ha/jam yang tidak jauh berbeda dengan nilai kapasitas lapang efektifnya. Lebar kerja kerbau dan traktor roda dua didapat dari pengukuran implemen yang dapat dilihat pada Gambar 3.

0,4

(a) (b)

Gambar 3. Bajak Singkal yang digunakan (a) Kerbau dan (b) Traktor Roda Dua

Berdasarkan Tabel 1, penggunaan cangkul sebagai pengolahan tanah secara manual, memiliki nilai kecepatan kerja paling kecil yaitu sebesar 0.222 m/s, karena menggunakan tenaga manusia yang dipengaruhi oleh usia.

Kecepatan kerja terbesar diperoleh pada penggunaan traktor roda dua yaitu sebesar 0.928 m/s, karena menggunakan tenaga mesin dan dipengaruhi pula oleh kemampuan operator dalam mengoperasikan traktor.

Semakin besar kedalaman pengolahan, maka slip ban juga semakin besar. Demikian pula dengan lebar alat dan jenis alat yang digunakan akan berpengaruh terhadap slip ban. Hal ini sesuai dengan literatur [8] yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi slip ban adalah, beban pada traksi, jenis, ukuran, kondisi roda traksi dan jenis dan kondisi tanah (landasan traksi). Slip roda pada kegiatan pembajakan bernilai sebesar 16.855%. Nilai slip ini lebih besar dibandingkan aktivitas lain, karena kedalaman olahnya paling besar dan kondisi tanah yang masih keras. Slip roda yang terjadi pada roda traksi traktor dapat diketahui dari pengurangan kecepatan traktor pada saat operasi dengan beban dibandingkan dengan kecepatan teoritis. Pada penelitian ini jumlah putaran roda yang diukur sebanyak lima putaran, sehingga jarak tempuh roda traktor teoritis didapat dari lima kali putaran roda traktor dikalikan dengan keliling roda.

Nilai slip yang didapat dari penelitian ini termasuk tinggi, karena pada saat mengolah tanah tingkat nilai slip tertinggi bisa mencapai 15-25%, sedangkan pada tanah tanah liat basah slip bisa terjadi sekitar 35%. Semakin tinggi nilai slip yang terjadi maka akan semakin banyak tenaga yang hilang menarik traktor tersebut. Efisiensi tenaga tarik yang tertinggi dalam pengolahan tanah adalah pada tingkat slip 15-25%.

(6)

JKPTB

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 8(1) 29-04 2020 6

Salah satu penilaian terhadap kualitas pembajakan adalah dari kedalaman olah pembajakan tersebut.

Kedalaman yang diinginkan dari sebuah lapisan pembajakan untuk budi daya tanaman padi adalah berkisar antara 0.15 dan 0.2 m. Dari hasil pengamatan diperoleh rata rata kedalaman lapisan olah masing-masing sebesar 0.1 m, 0.11 m dan 0.16 m untuk pengolahan tanah menggunakan cangkul, kerbau, dan traktor roda dua. Oleh karena itu, penggunaan traktor roda dua memberikan hasil yang paling optimum terhadap kondisi ideal budi daya tanaman padi yang diharapkan.

Data hasil pengukuran kapasitas lapang dan efisiensi dapat dilihat pada Tabel 2. Kapasitas lapang efektif (KLE) diperoleh dari waktu efektif yang dibutuhkan untuk mengolah tanah pada luas areal tertentu, sedangkan perhitungan kapasitas lapang teoritis (KLT) diperoleh dari perkalian kecepatan maju dengan lebar pengolahan.

Tabel 2. Kapasitas Lapang Pembajakan

No. Sumber Tenaga KLE (ha/jam) KLT (ha/jam) Efisiensi (%)

1.

2.

3.

Cangkul Kerbau Traktor Roda Dua

0.006 0.028 0.119

0.013 0.054 0.134

45.556 52.050 88.804

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat, nilai kapasitas lapang efektif pembajakan terbesar adalah pada traktor dua yaitu sebesar 0.119 ha/jam dan nilai kapasitas lapang efektif pembajakan terkecil yaitu pada pengolahan tanah menggunakan cangkul sebesar 0.006 ha/jam. Kapasitas lapang teoritis pembajakan terbesar adalah pada traktor roda dua, yaitu 0.134 ha/jam dan nilai kapasitas lapang teoritis terkecil yaitu pada pembajakan menggunakan cangkul sebesar 0.011 ha/jam. Nilai kapasitas lapang yang diperoleh menunjukan kemampuan kerja suatu alat untuk menyelesaikan pekerjaan pengolahan tanah, artinya kemampuan traktor roda dua dalam melakukan pembajakan lebih besar dari sumber tenaga yang lain.

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh efisiensi pengolahan tanah untuk kegiatan pembajakan masing-masing sebesar 45.556%, 52.05%, dan 88.804%, untuk pengolahan tanah menggunakan cangkul, tenaga hewan, dan traktor roda dua. Penggunaan traktor roda dua pada pengamatan tersebut menunjukkan nilai efisiensi terbesar, karena perbedaan yang tidak terlalu jauh antara kapasitas lapang efektif dan kapasitas lapang teoritis. Kapasitas lapang itu sendiri dipengaruhi waktu yang digunakan untuk mengolah tanah. Hal ini menunjukkan penggunaan traktor roda dua memiliki waktu kerja yang lebih cepat dibandingkan sumber tenaga lain dalam melakukan aktivitas pembajakan.

3.3 Penggaruan

Penggaruan yang dilakukan oleh traktor roda dua dan kerbau masing-masing menggunakan implemen garu sisir yang dapat dilihat pada Gambar 4.

(a) (b)

Gambar 4. Kegiatan Penggaruan dengan (a) Kerbau dan (b) Traktor Roda Dua

(7)

JKPTB

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 8(1) 29-04 2020 7

Implemen yang digunakan pada proses penggaruan adalah garu sisir, dengan panjang 1.2 m, sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Garu Sisir yang digunakan Kerbau dan Traktor Roda Dua

Berdasarkan hasil pengukuran, diperoleh data rata-rata lebar kerja penggaruan menggunakan cangkul sebesar 0.16 m, kerbau sebesar 1.2 m dan traktor roda dua sebesar 1.2 m. Lebar kerja kerbau dan traktor roda dua bertambah menjadi 1.2 m. Hal ini mempengaruhi kapasitas lapang teoritis yang didapat. Data hasil pengukuran secara lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Variabel Kerja pada Penggaruan

No. Variabel Satuan Cangkul Kerbau Traktor Roda Dua

1.

2.

3.

Kedalaman Olah Lebar Kerja Kecepatan Kerja

m m m/s

0.100 0.160 0.223

0.110 1.200 0.470

0.150 1.200 0.960

4. Slip Roda Traktor % 0 0 16.258

Kedalaman olah pada penggunaan traktor roda dua berkurang menjadi 0.15 m. Hal ini mempengaruhi besar nilai slip yang didapat. Semakin besar kedalaman pengolahan, maka slip ban juga semakin besar, dan sebaliknya.

Slip roda pada kegiatan penggaruan bernilai sebesar 16.258%. Dalam hal ini aktivitas penggaruan memiliki rata- rata slip yang lebih kecil dibandingkan aktivitas pembajakan, karena beban traktor lebih ringan akibat tanah yang sudah mulai hancur.

Penggunaan traktor roda dua dalam aktivitas penggaruan memiliki nilai kecepatan kerja paling besar yaitu sebesar 0.96 m/s, sedangkan kecepatan kerja terkecil yaitu pada penggunaan cangkul yaitu sebesar 0.223 m/s, karena menggunakan tenaga manusia yang dipengaruhi oleh usia. Besarnya kecepatan kerja masing-masing sumber tenaga mempengaruhi nilai kapasitas lapang teoritis, yang selanjutnya akan mempengaruhi nilai efisiensi kinerja. Semakin besar nilai kecepatan kerja, maka akan semakin besar pula nilai efisiensi kinerja. Hal ini ditunjukan oleh penggunaan traktor roda dua pada aktivitas penggaruan yang memiliki efisiensi kinerja 51.571%.

Hasil perhitungan kinerja penggaruan dapat dilihat pada Tabel 4.

(8)

JKPTB

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 8(1) 29-04 2020 8

Tabel 4. Kapasitas Lapang Penggaruan

No. Sumber Tenaga KLE (ha/jam) KLT (ha/jam) Efisiensi (%)

1.

2.

3.

Cangkul Kerbau Traktor Roda Dua

0.006 0.051 0.214

0.013 0.203 0.415

45.556 25.234 51.571

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh, nilai kapasitas lapang efektif penggaruan terbesar adalah pada traktor roda dua yaitu sebesar 0.214 ha/jam dan nilai kapasitas lapang efektif penggaruan terkecil yaitu pada pengolahan tanah menggunakan cangkul sebesar 0.006 ha/jam. Kapasitas lapang teoritis penggaruan terbesar adalah pada traktor roda dua, yaitu 0.415 ha/jam dan nilai kapasitas lapang teoritis terkecil yaitu pada pembajakan menggunakan cangkul sebesar 0.013 ha/jam. Nilai kapasitas lapang yang diperoleh menunjukan kemampuan traktor roda dua dalam melakukan penggaruan lebih besar dari sumber tenaga yang lain.

Dalam hal ini, kapasitas lapang pengolahan tanah menggunakan cangkul akan sama tiap elemen kerja pembajakan, penggaruan dan pelumpuran. Menurut petani, hal ini bergantung bagaimana kondisi tanah hasil pembajakan. Oleh karena itu, dalam kondisi ini nilai kapasitas lapang penggaruan menggunakan cangkul diasumsikan sama dengan nilai kapasitas lapang pembajakan.

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh efisiensi penggaruan masing-masing sebesar 45.556%, 25.234%, dan 51.571%, untuk pengolahan tanah menggunakan cangkul, tenaga hewan, dan traktor roda dua. Penggunaan traktor roda dua pada pengamatan tersebut menunjukkan nilai efisiensi terbesar, karena perbedaan yang tidak terlalu besar antara nilai kapasitas lapang efektif dan kapasitas lapang teoritisnya. Penggunaan sumber tenaga kerbau pada aktivitas penggaruan menunjukan nilai efisiensi terkecil, karena perbedaan yang cukup besar antara nilai kapasitas lapang efektif dan kapasitas lapang teoritisnya, dipengaruhi oleh lebar kerja yang besar pada aktivitas penggaruan. Secara umum nilai efisiensi penggaruan lebih kecil dibandingkan kegiatan pembajakan, karena perbedaan pola olah tanah juga pemecahan bongkahan tanah yang dapat dilakukan berulang kali.

3.4 Pelumpuran

Pelumpuran dilakukan setelah proses penggaruan yang bertujuan untuk meratakan tanah yang telah diolah agar mudah untuk ditanami. Pelumpuran dilakukan dengan menggunakan implemen papan kayu yang dipasang pada kerbau dan traktor roda dua. Aktivitas pelumpuran yang dilakukan secara manual dan mekanis dapat dilihat pada Gambar 6.

(a) (b)

Gambar 6. Kegiatan Pelumpuran dengan (a) Cangkul dan (b) Traktor Roda Dua

(9)

JKPTB

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 8(1) 29-04 2020 9

Berdasarkan hasil pengukuran di lahan diperoleh data rata-rata lebar lerja pelumpuran menggunakan cangkul sebesar 0.16 m, kerbau sebesar 1 m, dan traktor roda dua sebesar 1 m. Perbedaan lebar kerja dari aktivitas sebelumnya terjadi karena implemen yang digunakan berbeda, yaitu sebongkah kayu. Pada aktivitas pelumpuran ini tanah sudah menjadi lumpur, sehingga kedalaman olahnya pun relatif lebih rendah. Kedalaman olah menggunakan traktor pada kegiatan pelumpuran sama dengan kegiatan penggaruan yaitu 0.15 m. Hal ini mempengaruhi besar nilai slip yang didapat. Data hasil pengukuran secara lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Variabel Kerja pada Pelumpuran

No. Variabel Satuan Cangkul Kerbau Traktor Roda Dua

1.

2.

3.

Kedalaman Olah Lebar Kerja Kecepatan Kerja

m m m/s

0.100 0.160 0.223

0.110 1.000 0.473

0.150 1.000 0.960

4. Slip Roda Traktor % 0 0 16.050

5. Indeks Pelumpuran % 80.67 75 82.40

6. Indeks Kelunakan % 75.48 73.40 81.64

Slip roda pada kegiatan penggaruan bernilai sebesar 16.05%. Dalam hal ini aktivitas pelumpuran memiliki rata- rata slip yang lebih kecil dibandingkan aktivitas pengolahan tanah lainnya karena beban traktor lebih ringan akibat tanah yang sudah mulai hancur. Semakin kecil kedalaman pengolahan, maka slip ban juga semakin kecil.

Dalam aktivitas pelumpuran, kualitas hasil pelumpuran dapat dibandingkan dengan melihat nilai Indeks Pelumpuran (IP) maupun Indeks Kelunakan (IK) hasil pelumpuran yang dapat dilihat pada Tabel 5. Nilai indeks pelumpuran yang didapat menunjukkan nilai lumpur yang tercipta setelah dilakukan pengolahan tanah (bajak dan garu). Tingkat persentase lumpur lebih dari 50 % menunjukkan nilai lumpur yang pekat, sehingga baik untuk pertumbuhan padi dan nilai IP yang semakin mendekati 100% menunjukkan pencampuran antara air dengan lumpur semakin baik, sedangkan persentase lumpur yang kecil menunjukkan tanah yang masih encer sehingga tidak baik untuk pertumbuhan padi. Nilai indeks pelumpuran yang didapat dari pengukuran adalah lebih dari 50%, sehingga kondisi lumpur sudah cukup baik untuk dilakukan proses selanjutnya.

Pengolahan tanah dengan mengggunakan traktor roda dua memberikan hasil IP yang tertinggi karena dilakukan secara mekanis, sehingga proses pembentukan lumpur lebih cepat dan lebih baik, sedangkan nilai IP terendah dihasilkan oleh pengolahan tanah menggunakan cangkul sebesar 75%. Meskipun nilai tersebut masih diatas batas persentase yang disyaratkan.

Nilai IK yang diperoleh dari kegiatan pelumpuran adalah sebesar 73.4%, 75.48%, dan 81.64 %, masing-masing dengan menggunakan cangkul, kerbau, dan traktor roda dua, berbanding lurus dengan nilai IP. Kualitas pelumpuran yang paling optimal diperoleh dengan penggunaan traktor tangan.

Berdasarkan pengamatan, banyaknya ulangan pada proses pelumpuran mempengaruhi hasil pengukuran, dimana pada ulangan pertama keadaan lumpur belum terbentuk. Kedalaman olah juga mempengaruhi hasil pelumpuran. Semakin besar kedalaman olah, maka nilai IP dan IK yang dihasilkan akan lebih besar. Hal ini sesuai dengan literatur [9], yang menyatakan bahwa pada proses pelumpuran, semakin besar kedalaman olah akan memberikan nilai indeks kelunakan hasil pelumpuran yang lebih besar, yang disebebkan gaya tekan ke bawah menjadi lebih besar sehingga proses pengadukan (mixing) lebih efektif.

(10)

JKPTB

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 8(1) 29-04 2020 10

Penggunaan implemen juga dapat mempengaruhi mempengaruhi kualitas hasil pelumpuran. Selain itu, putaran roda traktor yang juga menghasilkan gelombang dan tekanan pada genangan air dapat membantu proses pelumpuran. Hasil perhitungan kinerja pelumpuran menggunakan traktor roda dua dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Kapasitas Lapang Pelumpuran

No. Sumber Tenaga KLE (ha/jam) KLT (ha/jam) Efisiensi (%)

1.

2.3.

Cangkul Kerbau Traktor Roda Dua

0.006 0.049 0.170

0.013 0.170 0.346

45.556 28.630 49.175

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh rata-rata kapasitas lapang efektif pelumpuran terbesar adalah pada traktor roda dua yaitu sebesar 0.17 ha/jam dan nilai kapasitas lapang efektif penggaruan terkecil yaitu pada pengolahan tanah menggunakan cangkul sebesar 0.006 ha/jam. Kapasitas lapang teoritis pelumpuran terbesar adalah pada traktor roda dua, yaitu 0.346 ha/jam dan nilai kapasitas lapang teoritis terkecil yaitu pada pelumpuran menggunakan cangkul sebesar 0.013 ha/jam. Nilai kapasitas lapang yang diperoleh menunjukan kemampuan traktor roda dua dalam melakukan pelumpuran lebih besar dari sumber tenaga yang lain. Nilai kapasitas lapang efektif untuk kegiatan pelumpuran sulit diperkirakan karena pekerjaan pelumpuran dilakukan berulang-ulang sampai keadaan lumpur yang diinginkan terbentuk.

Nilai efisiensi terbesar pada aktivitas pelumpuran adalah pada penggunaan traktor roda dua, yaitu sebesar 49.175%. Hal ini terjadi karena perbedaan yang tidak terlalu jauh antara kapasitas lapang efektif dengan kapasitas teoritisnya. Nilai efisiensi pengolahan tanah pada aktivitas peraataan menggunakan traktor roda dua sangat besar, bila dibandingkan dengan penelitian [10], dimana efisiensi yang dihasilkan hanya sebesar 10.81%. Hal ini terjadi karena perbedaan kapasitas lapang efektif yang cukup besar, artinya kemampuan kerja traktor yang digunakan lebih besar.

Nilai efisiensi terendah diperoleh pengolahan tanah menggunakan kerbau, yaitu sebesar 28.63%. Hal ini terjadi karena kapasitas lapang efektif jauh lebih kecil di bandingkan kapasitas teoritisnya. Pengulangan kegiatan pelumpuran yang dilakukan biasanya tidak memiliki acuan, yang terpenting adalah keadaan lumpur dan tanah yang lunak sudah terbentuk. Walaupun pada beberapa literatur [10] disebutkan jumlah pengulangan yang optimal yaitu 6-8 kali, namun kegiatan pelumpuran biasanya sangat dipengaruhi faktor lingkungan yang menyebabkan jumlah pengulangan akan sulit ditentukan.

Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi efisiensi kerja kegiatan pelumpuran adalah kuantitas air yang tergenang pada lahan. Jika kuantitas air cukup banyak, maka operator akan kesulitan untuk mengamati rata atau tidaknya lahan yang telah diolah. Parameter baik atau tidaknya pelumpuran lahan dilihat ketika permukaan tamah telah benar-benar rata.

3.5 Konsumsi Bahan Bakar

Pengukuran konsumsi bahan bakar pada mesin pertanian (traktor roda dua) dilakukan dengan metode gelas ukur. Sebelum mesin beroperasi, tangki bahan bakar pada mesin diisi hingga penuh sesuai dengan kapasitas tangki lalu setelah mesin selesai beroperasi nilai konsumsi bahan bakar pada mesin akan diketahui dengan mengisi kembali (refill) bahan bakar pada tangki mesin dengan menggunakan gelas ukur. Sehingga untuk mengetahui konsumsi bahan bakar saat traktor beroperasi, dilakukan dengan melihat tinggi bahan bakar awal

(11)

JKPTB

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 8(1) 29-04 2020 11

dalam tangki dan tinggi bahan bakar akhir setelah pengolahan tanah, lalu dihitung kenaikannya. Nilai konsusmi bahan bakar untuk tiap elemen kerja pengolahan tanah dapat dilihat pada Tabe 7.

Tabel 7. Nilai Rata-Rata Konsumsi Bahan Bakar

No. Elemen Kerja Konsumsi Bahan Bakar (l/ha) 1.

2.

3.

Pembajakan Penggaruan Pelumpuran

6.300 6.232 5.852

Total Konsumsi Bahan Bakar 18.384

Berdasarkan hasil pengukuran, konsumsi bahan bakar terbesar diperoleh pada aktivitas pembajakan menggunakan bajak singkal, yaitu sebesar 6.3 l/ha, sedangkan konsumsi bahan bakar terkecil diperoleh dari pelumpuran menggunakan papan kayu, yaitu sebesar 5.852 l/ha. Hal ini menunjukkan semakin berat aktivitas pengolahan tanah, maka semakin besar pula konsumsi bahan bakarnya karena memerlukan tenaga mesin yang lebih besar.

Konsumsi bahan bakar sangat dipengaruhi oleh lamanya pengerjaan suatu luasan lahan. Semakin lama pengoperasian traktor, maka konsumsi bahan bakar akan semakin tinggi, dan sebaliknya. Lamanya pengoperasian traktor ini tidak terlepas dari kapasitas lapang traktor. Kapasitas lapang efektif terkecil atau pengoperasian traktor terlama adalah pada aktivitas pembajakan, yaitu sebesar 0.119 ha/jam dengan konsumsi bahan bakar sebesar 6.3 l/ha. Hasil ini sesuai dengan literatur [10], yang menyatakan bahwa semakin lama pengoperasian traktor, maka semakin tinggi konsumsi bahan bakar. Selain itu, terdapat faktor lain yang juga mempengaruhi konsumsi bahan bakar yaitu kedalaman pengolahan dan ketinggian air pengolahan. Semakin dalam peralatan mengolah tanah, maka beban yang ditarik oleh traktor juga akan semakin besar. Ketinggian genangan pengolahan mempengaruhi tingkat kepadatan tanah yang akan diolah. Air yang cukup akan memperlunak tanah, sehingga beban yang ditarik oleh traktor semakin berkurang. Ketiadaan genangan pengolahan akan membuat beban traktor menjadi berat yang dapat memperbesar konsumsi bahan bakar.

3.6 Efisiensi Kinerja Pengolahan Tanah

Efisiensi kinerja pengolahan tanah didapat dari rata-rata kapasitas lapang tiap sumber tenaga pada aktivitas pembajakan, penggaruan, dan pelumpuran. Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa kapasitas lapang efektif terbesar untuk aktivitas pengolahan tanah adalah pada penggunaan traktor roda dua, yaitu sebesar 0.168 ha/jam, sedangkan kapasitas lapang efektif terkecil adalah pada penggunaan cangkul, yaitu sebesar 0.006 ha/jam.

Kapasitas lapang teoritis terbesar untuk aktivitas pengolahan tanah adalah pada traktor roda dua, yaitu 0.298 ha/jam dan nilai kapasitas lapang teoritis terkecil yaitu pada pengolahan tanah menggunakan cangkul sebesar 0.013 ha/jam.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa besarnya kapasitas lapang tiap jam dengan tiga sumber tenaga memperlihatkan perbedaan yang besar. Artinya besar luas lahan yang dapat diselesaikan dalam satu jam oleh tiga sumber tenaga berbeda-beda. Penggunaan cangkul sebagai sumber tenaga merupakan aktivitas pengolahan tanah dengan durasi waktu terlama, sedangkan penggunaan traktor roda dua merupakan aktivitas pengolahan tanah dengan durasi waktu tercepat dibandingkan sumber tenaga lainnya.

(12)

JKPTB

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 8(1) 29-04 2020 12

Tabel 8. Efisiensi Kinerja Pengolahan Tanah

No. Sumber Tenaga KLE (ha/jam) KLT (ha/jam) Efisiensi (%)

1.

2.

3.

Cangkul Kerbau Traktor Roda Dua

0.006 0.043 0.168

0.013 0.142 0.298

45.556 29.977 56.210

Berdasarkan data yang diperoleh, diketahui bahwa nilai total efisiensi kinerja terbesar pengolahan tanah adalah menggunakan traktor roda dua yaitu sebesar 56.210%, sedangkan efisiensi kinerja terkecil adalah pada pengolahan tanah menggunakan kerbau, yaitu sebesar 29.977%. Perbedaan ini terjadi karena pengolahan tanah secara manual menggunakan kerbau dipengaruhi oleh tenaga yang memiliki keterbatasan dalam waktu kerja per hari, sedangkan pengolahan tanah secara mekanis menggunakan traktor roda dua memiliki kemampuan kerja yang lebih tinggi karena menggunakan mesin. Dalam hal ini nilai rata-rata efisiensi yang didapat dipengaruhi oleh aktivitas pengolahan tanah penggaruan dan pelumpuran. Kegiatan penggaruan dan pelumpuran menghasilkan efisiensi lapang yang jauh lebih kecil daripada kegiatan pembajakan. Hal ini mempengaruhi rata-rata efisiensi kinerja pengolahan tanah.

4. Kesimpulan

Analisis efisiensi kinerja pengolahan tanah sawah secara manual dan mekanis dapat disimpulkan antara lain, hasilefisiensi kinerja pada pengolahan tanah sawah dengan menggunakan cangkul, kerbau, dan traktor roda dua masing-masing sebesar 45.556%, 29.977%, dan 56.21%. Efisiensi terbesar diperoleh pada penggunaan traktor roda dua, sedangkan efisiensi terkecil diperoleh pada penggunaan kerbau. Dalam hal ini efisiensi pengolahan tanah didapat dari nilai rata-rata efisiensi tiap aktivitas pengolahan tanah pembajakan, penggaruan, dan pelumpuran. Kegiatan penggaruan dan pelumpuran menghasilkan efisiensi lapang yang jauh lebih kecil daripada kegiatan pembajakan. Hal ini mempengaruhi rata-rata efisiensi kinerja pengolahan tanah.

Daftar Pustaka

[1] Badan Pusat Statistik (BPS),Luas Panen dan Produksi Padi di Jawa Barat.BPS Provinsi Jawa Barat, 2018.

[2] Muanah, “Pendekatan Ergonomi Ekonomika Untuk Perancangan Optimal Tenaga Kerja dan Mekanisasi Produksi Beras (Studi Komparasi Padi Sawah Organik dan Konvensional)”, Bogor. Departemen Teknik Mesin dan Biosistem Institut Pertanian Bogor, 2018.

[3] Aldillah, R, “Kinerja Pemanfaatan Mekanisasi Pertanian dan Implikasinya Dalam Upaya Percepatan Produksi Pangan di Indonesia”.Jurnal Edisi 34 No.2 163-177.Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2016.

[4] Sadewo, W.B., “Kinerja Pemanenan Padi dengan Sabit, Paddy Mower, dan Combine Harvester pada Sistem Tanam Jajar Legowo”, Bogor. Departemen Teknik Mesin dan Biosistem Institut Pertanian Bogor, 2018.

[5] Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Luas dan Produksi Tanaman Padi Menurut Desa di Kecamatan Cicalengka.

Dilihat 27 September 2019. https://distan.bandungkab.go.id/ komoditas. 2016.

[6] Rizaldi, T. Mesin Peralatan. Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, 2006.

[7] Sinaga, G., “Pola Pengolahan Tanah pada Lahan Sawah Menggunakan Traktor Tangan Bajak Rotari di Kecamatan Pangkalan Susu”, Medan. Program Studi Teknik Pertanian. Universitas Sumatera Utara, 2014.

(13)

JKPTB

Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem 8(1) 29-04 2020 13

[8] Sembiring, E.N. Suastawa, I. N., Hermawan,W., “Konstruksi dan Pengukuran Kinerja Traktor Pertanian”, Bogor Teknik Pertanian. Fateta. Institut Pertanian Bogor, 2000.

[9] Yudistira A., “Pertumbuhan Padi (Oriza sativa L.) pada berbagai Metode Pelumpuran Tanah di Kabupaten Ciamis dan Pemerintahan Kota Banjar Propinsi Jawa Barat”, Bogor. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, 2004.

[10] Sinaga, D. R, “Kapasitas Lapang, Efisiensi dan Tingkat Pelumpuran Pengolahan Tanah Sawah Di Kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat”, Bogor. Departemen Teknik Mesin dan Biosistem Institut Pertanian Bogor, 2009.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan dari hasil penelitian dan pembahasan, yaitu pengolahan limbah sayuran secara mekanis melalui pengukusan selama 10 menit dengan suhu 100 0 C, menghasilkan

Alat pengupas kacang tanah akan sangat membantu petani untuk melakukan pengolahan hasil secara kontinyu, akan tetapi alat ini memiliki kelemahan yaitu adanya getaran

Pengolahan tanah dalam usaha budidaya pertanian bertujuan untuk menciptakan keadaan tanah olah yang siap tanam baik secara fisis, kemis, maupun biologis, sehingga tanaman

Tanaman padi pada dasaranya memerlukan pengolahan tanah yang intensif, dibutuhkan tanah yang basah dan pada waktu tertentu diperlukan tanah

Faktor-faktor penyebab meningkatnya kebutuhan akan sumber tenaga pengolahan tanah secara mekanis antara lain (a) terbatasnya luasan tanah yang dapat dipergunakan

Faktor-faktor penyebab meningkatnya kebutuhan akan sumber tenaga pengolahan tanah secara mekanis antara lain (a) terbatasnya luasan tanah yang dapat dipergunakan

Perbandingan efisiensi produksi usahatani padi sawah secara teknis lebih efisien sistem tanam konvensional dari pada sistem tanam jajar legowo berarti bahwa dalam pengolahan rata-rata

Makalah ini membahas tentang alat berat yang digunakan dalam pengumpulan tanah