• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis jual beli furniture dengan sistem arisan di

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "analisis jual beli furniture dengan sistem arisan di"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

PROVINSI SUMATERA SELATAN

SKRIPSI

Oleh:

MEIRA NUR KHOLIPAH NIM 102190069

Pembimbing:

Dr. Hj. ROHMAH MAULIDIA, M.Ag.

NIP. 197711112005012003

JURUSAN HUKUM EKONOMI SYARIAH FAKULTAS SYARIAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO

2023

(2)

ii

Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Skripsi Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo. Pembimbing: Dr. Hj. Rohmah Maulidia, M. Ag.

Kata Kunci:AnalisisJual Beli, Sistem Arisan

Penelitian ini bermula dari arisan barang yang ada di Toko Furniture Aston Di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan yang mana dalam praktiknya memperbolehkan anggota arisan yang namanya keluar saat pengundian memilih barang furniture yang diinginkan sehingga menyebabkan adanya sisa uang arisan bagi anggota yang memilih barang dibawah harga total keseluruhan uang arisan.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana analisis jual beliterhadap syarat dan ketentuan akad arisan furniture di Toko Furniture Aston Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan? Bagaimana analisis jual beliterhadap praktik arisan furniture di Toko Furniture Aston Di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan?

Adapun skripsi ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan normatif. Sedangkan teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode induktif.

Dari penelitian yang dilakukan selama ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Akad yang digunakan dalam arisan furniture di Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir ini sah diperbolehkan dan tidak bertentangan dengan hukum Islam dan sudah memenuhi rukun dan syarat.

Akad ini juga patut dengan ketentuan akad jual beli mu’athah yang sama dalam hukum Islam dimana terdapat pihak yang bertindak sebagai penjual dan pembeli, terdapat barang yang diperjualbelikan, terdapat alat tukar penganti barang dan juga terdapatija>b danqabu>ldi dalamnya (2) Mekanisme praktik arisan barang di Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir diperbolehkan selama angsuran yang ditetapkan diawal tidak berubah-ubah sesuai kesepakatan diawal dan terkait sisa uang yang tidak dapat diuangkan dan menjadi milik ketua arisan diperbolehkan karena posisi ketua arisan ini adalah petugas yang layak mendapat gaji atas jerih payah yang telah dilakukan.

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

1 A.Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk sosial dimana dalam sehari-hari hidup bermasyarakat dan tolong menolong dalam menghadapi suatu persoalan yang ada untuk memenuhi kebutuhan. Adapun salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari serta menjalin hubungan sesama masyarakat yaitu dengan adanya arisan.

Arisan merupakan suatu aktivitas mengumpulkan sejumlah uang atau barang yang memiliki nilai sama dan dilakukan oleh sejumlah orang kemudian dilakukan pengundian, untuk menetapkan siapa yang berhak menerimanya.1 Pengundian diadakan di sebuah tempat pertemuan yang sudah disepakati oleh anggota arisan, undian arisan ini dilakukan secara berkala pada waktu dan tempat yang telah ditentukan. Adapun sistem praktik arisan tergantung pada persetujuan sesama anggota dan ketua arisan.

Arisan merupakan kegiatan mu’a>malah yang hukumnya belum dijelaskan secara langsung baik di al-Qur’a>n dan al-Sunnah. sehingga hukum arisan kembali ke hukum asal yaitu diperbolehkan sepanjang tidak ada dalil al-Qur’a>n dan al-Sunnah yang menentangnya. Walau

1Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, “Arisan,” dalam https://kbbi.kemendikbud.go.id/enteri/arisan/ , (diakses pada 28 januari 2023, jam 13.05).

(8)

diperbolehkan pelaksanaanya harus sesuai dengan aturan-aturan yang ada dalam Islam dan menggunakan akad yang ada dalam Islam.

Pada hakikatnya, arisan memiliki arti bahwa setiap anggota arisan memberikan pinjaman yaitu berupa uang iuran arisannya kepada anggota arisan lain yang menerima undian akan tetapi hal ini tidak berlaku untuk anggota arisan yang mendapatkan undian pertama, karena anggota arisan yang mendapatkan undian pertama akan berhutang kepada anggota yang namanya belum keluar pada saat penguundian selama arisan berlangsung.

Dan begitupula sebaliknya anggota arisan yang mendapatkan hasil undian terakhir akan meminjamkan kepada anggota yang lain. Dari segi subtansi arisan merupakan akad qard{, akan tetapi pada kenyataannya arisan furniture yang ada di toko furiture aston ini menggunakan akad jual beli karenaanggota arisan tidak pernah berhutang kepada penjual dan penjual tidak pernah berhutang kepada pembeli.

Dalam Islam akad jual beliberarti suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela diantara kedua belah pihak, sesuai dengan ketentuan yang dibenarkan oleh syara.2 Jadi akad jual beli furnituredengan sistem arisan boleh dilakukan karena termasuk bentuk tolong menolong dan dapat memudahkan orang yang sedang membutuhkan selama hal tersebut bukan untuk hal yang dilarang.

Pada suatu perikatan dapat dianggap sah apabila memenuhi rukun dan syarat akad yang digunakan, dan ini berlaku juga untuk akad jual beli,

2Akhmad Farroh Hasan, Fiqh Muamalah Dari Klasik Hingga Kontemporer (Teori Dan Praktik),(Malang: Uin Maliki Malang Press, 2018), 34.

(9)

adapun rukun dan syarat jual beli.3 Pertama, disyaratkan Aqid (penjual dan pembeli) yang dalam hal ini dua atau beberapa orang melakukan akad, adapun syarat-syarat bagi orang yang melakukan akad harus baligh dan sehat akalnya. Kedua, Ma'qud alaih (obyek akad). Syarat-syarat benda yang menjadi obyek akad ialah suci, memberi manfaat menurut syara', dapat diserahkan, milik sendiri dan dapat dilihat.Ketiga,shighat (Ijab dan qabul) terdiri dari qaulun (perkataan) dan fi'lun (perbuatan). Qaulun dapat dilakukan dengan lafal sharih (kata-kata yang jelas) dan lafal kinayah (kata kiasan/sindiran). Lafal sharih ialah sighat jual beli yang tidak mengandung makna selain dari jual beli. Lafal kinayah ialah lafal yang di samping menunjukkan makna jual beli juga dapat menunjukkan kepada arti selain jual beli. Adapun shighat berupa fi'lun (perbuatan) adalah berwujud serah terima yaitu menerima dan menyerahkan dengan tanpa disertai sesuatu perkataan pun.4

Dalam praktiknya arisan barang di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan dilaksanakan dengan undian dan jika nama anggota keluar maka anggota tersebut berhak memilih barang yang ada di Toko Funiture Aston serta ketua arisan juga menyarankan barang yang sesuai dengan harga arisan yang diikuti, jika sudah memilih barang yang akan diambil maka barang tersebut akan diantar kerumah anggota yang menerima undian, dan jika

3Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah : Fiqh Muamalah (Jakarta: Kencana Prennada Media Group, 2012), 102.

4Abdul Rahman, Ghufron, Dkk, Fiqh Muamalat (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2010),72.

(10)

harga barang yang diambil kurang dari jumlah uang arisan maka sisanya tidak dapat diuangkan dan menjadi hak milik ketua arisan misalnya anggota yang menang undian memilih satu set meja makan seharga Rp.

4.900.000,- sedangkan total jumlah uang arisan Rp. 5.000.000,- maka memiliki sisa Rp. 100.000,- maka uang sisa sejumlah Rp. 100.000,- tersebut menjadi milik ketua arisan begitu pula jika anggota memilih barang yang harganya kurang dari jumlah total uang arisan.

Dari penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan pada sisa uang arisan yang mana hal ini berdasarkan barang yang diambil oleh anggota arisan semakin mahal harga barang maka semakin sedikit sisa uang arisan begitu pula sebaliknya jika harga barang yang diambil lebih murah maka semakin banyak pula sisa uang arisan yang tidak dapat diuangkan beda dengan penerima undian yang memilih barang harganya sama dengan arisan yang diikuti maka memang tidak ada sisa yang tidak dapat diuangkan. Sedangkan umumnya arisan dibuat bertujuan untuk tolong menolong dan tentunya tidak memberatkan atau merugikan salah satu pihak.

Berdasarkan latar belakang inilah, penulis ingin mengkaji dan meneliti masalah tersebut dalam skripsi yang berjudul “Analisis Jual Beli FurnitureDengan Sistem Arisan Di Toko Furniture Aston Di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan”

B.Rumusan Masalah

(11)

Berlandaskan pemaparan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka permasalahan yang ditelaah dalam penelitian ini, yaitu:

1. Bagaimana analisis jual beliterhadap syarat dan ketentuan akad arisan furniture di Toko Furniture Aston Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan?

2. Bagaimana analisis jual beliterhadap praktik arisan furniture di Toko Furniture Aston Di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan?

C.Tujuan Penelitian

Mengacu pada rumusan masalah yang diteliti, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut:

1. Untuk menjelaskan analisis jual beliterhadap syarat dan ketentuan akad pada arisan furniture di Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan.

2. Untuk menjelaskan analisis jual beli terhadap praktik arisan furniture di Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan.

D.Manfaat Penelitian

Setiap penelitian memiliki manfaat, manfaat tersebut bisa bersifat teoritis dan praktis. Adapun makna yang dapat dicapai pada penelitian ini.

sebagai berikut:

1. Secara Teoritis

(12)

Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi kemajuan ilmu Hukum Ekonomi Syariah (Mu’a>malah) dalam artian membangun, dan melengkapi teori yang ada khususnya mengenai jual belei dengan sistem arisan, serta sebagai sumbangan pemikiran bagi Institut Agama Islam Negeri Ponorogo selaku lembaga pendidikan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dibidang mu’a>malah.

2. Secara Praktis

a. Bagi Ketua dan Anggota Arisan

Melalui penelitian ini diharapkan pengelola dan anggota arisan dapat mengembangkan wawasan dan pengetahuan serta mampu menerapkan hukum Islam dalam kegiatan praktik arisan

b. Bagi Masyarakat

Melalui penelitian ini diharapkan masyarakat dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta menerapkan hukum Islam dalam kegiatan praktik arisan.

E.Telaah Pustaka

Telaah pustaka atau penelitian terdahulu adalah analisis terhadap penelitian yang sesuai serta cocok dengan permasalahan yang diteliti berisikan deskripsi singkat tentang seputar permasalahan yang diteliti sehingga nantinya dapat dilihat dengan nyata bahwa penelitian yang diteliti ini bukan tiruan atau pengulangan dari sebuah penelitian yang

(13)

sudah dilakukan.5 Maka peneliti menemukan beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini, yakni:

Pertama, Acing Olana dalam “Praktik Jual Beli dengan Sistem Arisan (Studi Kasus Akun Facebook Risa Nadef).6Hasil penelitian ini menunjukan bahwa praktik jual beli dengan sistem arisan untuk peserta yang menginginkan nomor urut 1 sampai 4 mereka boleh memilih akan tetapi disyaratkan harus membayar angsuran tiap putarannya dilebihkan untuk keperluan biaya administrasi. Sedangkan untuk nomor urut 5 dan seterusnya menggunakan sistem kocokan yakni peserta yang belum mendapatkan bagiannya namanya akan dikocok, setelah ada salah satu nama peserta yang keluar maka ia yang mendapatkan barang yang dijadikan objek arisan. Praktik jual beli dengan sistem arisan di akun Facebook Risa Nadef hukumnya haram, karena sistem arisan yang digunakan sebagai media simpan pinjam disini disyaratkan diawal untuk membayar biaya administrasi kepada owner. Dari penelitian tersebut persamaannya terletak pada objeknya yaitu barang. Sedangkan perbedaannya terletak pada sistem arisan yang digunakan dan pada arisan yang diteliti oleh peneliti tidak ada biaya administrasi.

Kedua, Tri Yulida dalam “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Arisan Bahan Bangunan (Studi Kasus Desa Kemiling, Kec. Sekampung Udik,

5J. R. Raco,Metode Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT Grasindo,2010), 104.

6Acing Olana, Praktik Jual Beli dengan Sistem Arisan (Studi Kasus Akun Facebook Risa Nadef),Skripsi(Lampung: IAIN Metro, 2029), 37.

(14)

Kab. Lampung Timur”.7penelitiannya membahas tentang tinjauan hukum Islam mengenai arisan bahan bangunan yang dilakukan di Desa Kemiling Kec. Sekampung Udik, Kab. Lampung Timur . Pada hasil penelitian menunjukan bahwa praktik arisan di Desa Kemiling Kec. Sekampung Udik, Kab. Lampung Timur menggunakan akad qard akan tetapi pada praktinya tidak sesuai dengan akad qard karena didalamnya mengandung unsur penambahan pada transaksinya dan semen atau bahan bagunan lain antara satu dan anggota lainnya memiliki perbedaan kualitas.Dari penelitian tersebut persamaannya terletak pada objeknya yaitu barang, dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang diteliti oleh peneliti terdapat pada analisis yang digunakan.

Ketiga, penelitian oleh Suci Ilhami mengenai “ Praktik Jual Beli Peralatan Rumah Tangga Dengan Sistem Arisan Di Kelurahan Pulau Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar Persfektif Fiqh Muamalah”.8 Dalam penelitianya membahas mengenai praktik akad jual beli peralatan rumah tangga dengan sistem arisan dan tinjauan fiqh mengenai praktik akad jual beli peralatan rumah tangga dengan sistem arisan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa praktik jual beli peralatan rumah tangga dengan sistem arisan yang dilaksanakan di Kelurahan Pulau telah dilaksanakan sesuai dengan aspek-aspek muamalah yaitu suka sama suka

7Tri Yulida, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Arisan Bahan Bangunan (Studi Kasus Desa Kemiling, Kec. Sekampung Udik, Kab. Lampung Timur, Skripsi(Lampung: IAIN Metro, 2018), 41.

8Suci Ilhami, Praktik Jual Beli Peralatan Rumah Tangga Dengan Sistem Arisan Di Kelurahan Pulau Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar Persfektif Fiqh Muamalah, Skripsi( Riau: UIN Sultan Syarif Kasim Riau, 2022), 54.

(15)

tanpa adnya unsur paksaan dan menurut tinjauan fiqih muamalah terhadap praktik jual beli peralatan rumah tangga ini diperbolehkan karena hukum asal arisan itu mubah dan dalam arisan ini menggunakan akad qard yang telah memenuhi rukun dan syarat sehingga diperbolehkan selagi tidak ada garar dalam pelaksanaannya. Adapun perbedaan penelitian terdapat pada akad yang digunakan serta admin arisan terlibat secara langsung didalamnya karena juga mengikuti arisan ini.

Keempat, penelitian oleh Jeni Rochmawati mengenai “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktik Arisan Sembako Di Dusun Dawung Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun”.9 Dalam penelitian ini membahas mengenai tinjauan hukum Islam terhadap akad dan penentuan besaran upah pengelola arisan sembako di Dusun Dawung Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa arisan sembako di Dusun Dawung Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun diperbolehkan dan sah, arisan ini menggunakan akad wadi>’ah serta sudah memenuhi rukun dan syaratnya akad sedangkan untuk ketentuan besaran upah pengelola arisan sembako di Dusun Dawung Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun ini belum sesuai dengan konsep upah (ujrah) dan bertentangan hukum Islam. Penelitian dalam melakukan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun perbedaan pada peneitian ini

9Jeni Rochmawati, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktik Arisan Sembako Di Dusun Dawung Desa Sukorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun, Skripsi (Ponorogo: IAIN Ponorogo. 2017), 131.

(16)

terdapat pada analisis dan akad yang digunakan dalam kegiatan arisan tersebut.

Kelima, penelitian oleh Thissa Afifatur Rizka tentang “Analisis Hukum Islam Terhadap Praktik Jual Beli Dengan Sistem Arisan Pada

“Arisan Mapan” Di Sidoarjo”.10 Membahas mengenai kedudukan dan prosedur jual-beli dengan sistem arisan dan akibat hukumnya pada “Arisan Mapan” di Sidoarjo. Dalam penelitian ini menunjukan bahwa Lembaga

“Arisan Mapan” berkedudukan sebagai penjual suatu barang-barang tertentu yang dipilih dan diminati oleh anggota arisan selaku pembeli adapun prosedur jual beli dalam “Arisan Mapan” jika anggota telah menyelesaikan pembayaran yang dilakukan secara kredit dalam jangka waktu yang disetujui dalam perjanjian maka anggota akan dinyatakan memiliki sepenuhnya atas barang tersebut dan menurut hukum Islam jika praktik jual beli dengan sistem arisan termasuk akad wakalah sehingga boleh dilakukan selama dalam kegiatan tersebut tidak ada perbuatan yang menyimpang. Penelitian ini dalam penelitiannya menggunakan pendekatan kualitatif.

F.Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan sebuah cara keilmuan untuk memperoleh data penelitian dengan maksud tujuan dan kepentingan

10Thissa Afifatur Rizka, Analisis Hukum Islam Terhadap Praktik Jual Beli Dengan Sistem Arisan Pada “Arisan Mapan” Di Sidoarjo,Skripsi( Surabaya: UIN Sunan Ampel, 2020), 36

(17)

tertentu.11 Agar mendapat hasil yang valid dan dapat dipertangungjawabkan, maka peneliti menggunakan beberapa metode, yaitu sebagai berikut:

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian yang peneliti lakukan termasuk jenis penelitian lapangan (field research), dengan mencari data langsung di lapangan seperti berinteraksi dan mengamati objek yang diteliti. Peneliti memilih jenis penelitian ini karena akan meneliti praktik arisan yang terjadi di arisan barang Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Jadi pada hakikatnya penelitian lapangan (field research) adalah penelitian yang mempergunakan informasi yang diperoleh dari pihak yang berkaitan dengan penelitian biasanya disebut sebagai informan melalui instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi dan sebagainya.12

Bersandarkan pada rumusan masalah dan tujuan penelitian, metode pendekatan yang diterapkan peneliti dalam melakukan penelitian adalah pendekatan normatif. Adapun maksud penggunaan pendekatan normatif dalam penelitian ini yaitu disamping mengamati kasus-kasus yang sedang dibicarakan di masyarakat terkait masalah yang diteliti, peneliti juga menggunakan teori-teori hukum Islam dalam menganalisisnya. Penelitian ini merupakan model penelitian

11Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D(Bandung: Alfabeta, 2013), 2

12J. R. Raco,Metode Penelitian Kualitatif(Jakarta: PT. Grasindo, 2010), 9

(18)

kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan suatu proses penelitian yang mana hasilnya berupa data yang bersifat deskriptif seperti perkataan atau lisan dari sekelompok orang atau perilaku yang sedang diamati.13 2. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai pengamat penuh, peneliti mengumpulkan data yang diperlukan dengan wawancara kepada narasumber dan melakukan observasi secara langsung di Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan

3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan oleh peneliti di Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan selaku tempat diadakannya arisan barang. Lokasi ini ditetapkan untuk mempertangungjawabkan data yang akan diambil dan objek yang menjadi sasaran penelitian ini sehingga fokus pada pokok permasalahan.

4. Data dan Sumber Data a. Data

Data adalah fakta empirik yang dikumpulkan oleh peneliti guna menjawab permasalahan yang diteliti.14 Data dapat berupa teks, foto, dan objek-objek yang ditemukan di lapangan. Dalam

13Sandu Siyoto, Ali Sodik,Dasar Metodologi Penelitian(Yogyakarta: Literasi Media Publishing, 2015), 28

14Sandu Siyoto, Ali Sodik,Dasar Metodologi Penelitian(Yogyakarta: Literasi Media Publishing, 2015), 67

(19)

penelitian ini peneliti membutuhkan data-data antara lain:

penerapan akad jual beli dan mekanisme praktik arisan barang di Toko Furniture Aston Di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan.

b. Sumber Data

Pada penelitian ini terdapat dua sumber data yang digunakan oleh peneliti: Sumber data primer yaitu hasil wawancara dengan pemilik Toko Furniture Aston Di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera dan beberapa anggota arisan dan hasil dari pengamatan peneliti;

Sumber data sekunder adalah dokumen pendukung yang berkaitan dengan penelitian ini.

5. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini adalah penelitian lapangan, maka teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan dalam melakukan penelitian ini yakni:

a. Wawancara

Wawancara merupakan percakapan antar dua orang atau lebih dengan tujuan untuk bertukar data atau cerita yang diketahui melalui tanya jawab terkait topik tertentu.15

Metode ini peneliti guunakan untuk memperoleh data tentang akad dan sistem arisan barang Di Toko Furniture Aston Di

15Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D(Bandung: Alfabeta, 2013), 231.

(20)

Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Adapun yang peneliti wawancarai adalah ketua arisan dan empat orang anggota arisan.

b. Observasi

Observasi merupakan melakukan sebuah pengamatan secara sistematik pada fenomena yang tampak dalam suatu permasalahan terhadap objek penelitian.16 Metode observasi yang dilakukan yaitu dengan cara mengamati gejala dalam permasalahan yang diteliti, dicatat kemudiaan akan dianalisis. Dalam hal ini peneltian melakukan pengamatan terhadap penerapan akad dan sistem yang digunakan dalam arisan barang arisan barang Di Toko Furniture Aston Di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan.

c. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu mencari dan menganalis hal-hal berupa buku, catatan dan lain-lainnya. Dalam hal ini peneliti meneliti catatan pembukuan dari arisan barang Di Toko Furniture Aston Di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan.

6. Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode induktif yaitu analisis diawali dengan

16Ibid.,226.

(21)

mengutarakan bukti nyata yang memiliki sifat khusus dan kemudian tutup dengan sebuah kesimpulan bersifat umum.

Pada penelitian ini, peneliti mengungkapkan informasi data arisan barang yang bersifat khusus mengenai dengan akad dan mekanisme praktik arisan barang, kemudian dikaitkan dengan teori dan dalil-dalil yang ada. Kemudian dilakukan analisa terhadap data dan teori kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat umum.

7. Pengecekan Keabsahan Data

Uji keabsahan data merupakan konsep penting, karena data adalah unsur utama penelitian. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik triagulasi, yaitu peneliti akan mengecek data yang diperoleh dari berbagai metode pengumpulan data dan sumber data yang digunakan peneliti.17 Dengan teknik triagulasi peneliti menggabungkan data bersamaan dengan menguji kredibilitas data.

Adapun yang dilakukan peneliti yaitu membandingkan data hasil wawancara dengan data hasil observasi atau pengamatan yang dilakukan terkait akad dan mekanisme sistem arisan barang, kemudian menarik hasil akhir berdasarkan hasil yang ditemui di lapangan.

G.Sistematika Pembahasan

Untuk mempermudah dalam memahami isi dari permasalahan fenomena yang diteliti, peneliti menyajikam penelitian ini dalam bentuk

17Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D(Bandung: Alfabeta, 2013), 241

(22)

beberapa bab. Berikut dibawah ini diuraikan sistematika pembahasan dalam penelitian ini.

Bab I Pendahuluan. Bab ini memuat tentang latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penelitian terdahulu, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab II Konsep jual beli, Arisan dan Qard{. Pada bab ini memuatlandasan teori tentang konsep jual beli, arisan, dan qard{ mulai dari pengertian jual beli,, dasar hukum jual beli,, rukun jual beli,, syarat jual beli, pengertian arisan, manfaat arisan, pengertian qard{, dasar hukum qard{, rukun qard{, syarat qard{, dan hukum qard{,

Bab III Praktik Arisan Barang Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Bab ini membahas tentang gambaran secara umum terkait data penelitian arisan barang di Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Bab ini terdiri dari beberapa pembahasan yaitu: gambaran secara umum arisan barang, pelaksanaan akad dalam arisan barang, dan mekanisme praktik arisan barang di Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan.

Bab IVFurniture Dengan Sistem Arisan Di Toko Furniture Aston Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir.

Bab ini membahas tentang analisa penelitian terhadap penerapan akad dan

(23)

praktik arisan barang di Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan.

Bab V Penutup. Bab ini merupakan unsur akhir dari penelitian berisikan kesimpulan dan saran. Kesimpulan disampaikan sebagai ringkasan dari hasil penelitian dan saran di berikan untuk memberikan masukan.

(24)

18 A. Jual Beli

1.Pengertian Jual Beli

Secara etimologisjual beli berasal dari bahasa arab al-bai' yang makna dasarnya menjual, mengganti dan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam prakteknya, bahasa ini terkadang digunakan untuk pengertian lawannya, yakni kata as-syira' (beli). Maka, kata al-bai' berarti jual, tetapi sekaligus juga beli.1 Jadi dari definisi diatas dapat dipahami bahwa inti jual beli ialah suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela diantara kedua belah pihak, sesuai dengan ketentuan yang dibenarkan oleh syara‟.

Dalam pengertian jual beli menurut istilah fuqaha, terdapat beberapa pendapat di kalangan para Imam Madzhab, yakni Menurut Mazdhab Hanafi, jual beli mengandung dua makna, yakni:2

a. Saling menukar harta dengan harta melalui cara tertentu.

b. Tukar menukar sesuatu yang diingini dengan yang sepadan melalui cara tertentu yang bermanfaat.

Ulama Madzhab Maliki, Syafi'i dan Hanbali memberikan pengertian, jual beli adalah saling menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan pemilikan. Definisi ini menekankan pada

1Hendi Suhendi,Fiqh Muamalah(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), 67.

2Ahmad Wardi Muslich,Fiqh Muamalat(Jakarta: Amzah, 2017), 273.

(25)

aspek milik pemilikan, untuk membedakan dengan tukar menukar harta/barang yang tidak mempunyai akibat milik kepemilikan, seperti sewa menyewa.3

2.Dasar Hukum Jual Beli

Secara asalnya, para ulama fiqh mengatakan bahwa hukum asal jual beli adalah mubah atau di bolehkan. Jual beli merupakan akad yang diperbolehkan berdasarkan Al-Quran, Hadist dan Ijma’ para Ulama.

a. Al-Quran

Firman Allah SWT yang menjadi dasar hukum jual beliterdapat dalam QS. al-Baqarah ayat 275:

㌠㌷㌮ ㌠ Èǘ Ì ꭀ ǘĀ䁰䁰䁰 䁰㌷䁰ǘÌ ¿ 䁰Ǭ ᓿ ǘⅨ㌷ À ㌮ 䁰Ǭ Ⅸ ¦ 䁰 ㌷ºÌ À ÈÉ ㌠Ǭ㌷䁰ǘÌ

¿ǘºÉǴ ǞÈ䁰ĀÈÌ ǘ݊ ǘDzÉƷǴ ¦ 䁰 ㌷ºÌ DzÈȂ㌷㌮ ǞÈ䁰ĀÈÌ ǘƦ㌷ ¦ Ì Èdzǘ ㌷ǫ dz㌷Ì ㌷ ᓿÈÌ 噠㌷ ʋɺÈ㌮ƷǴ ǂ Ƿ ㌮ ʋꭀ 䁰Ǵ ȄÈ䁰䁰È Ǵ ㌷ꭀ㌷ǘdz ㌠㌷㌮ ƨÈ㌷ǜÈ ㌮ ʋÉ ㌠ᓿǴ ¦ 䁰 ㌷ºÌ ÀǴ ㌷Ê È ㌷Ǵ Èdz⸰ ㌷dz ǘÌ ¦ È Ʒ dz㌷ÌǴ Ǵ ® ǜ È㌠㌮Ǵ ㌷ǘ݊

Artinya : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat),

3Syamsudin Muhammad Ar-Ramli, Nihayah Al-Muhtaj, Juz III (Beirut: Dar Al-Fikr, 2004), 204.

(26)

sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.4

b. As-Sunnah

Hadist Nabi yang diriwayatkan oleh HR. Bazzar yang artinya:

Rifa'ah bin Rafi', sesungguhnya Nabi SAW. ditanya tentang mata pencaharian yang paling baik. Nabi SAW menjawab:

seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual-beli yang mabrur”.(HR. Al- Bazzar).5

Dari hadits di atas dapat di pahami bahwa jual beli yang di berkahi oleh Allah SWT adalah jual beli yang jujur, yang tidak ada unsur curang, tidak mengandung unsur penipuan dan penghianatan serta jual beli yang dilakukan itu adalah jual beli yang di dasari atas suka sama suka

c. Ijma

Landasan ijmaulama telah sepakat bahwa jual beli di perbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak mampu

4Departemen agama RI, Al-Quran Tajwid dan Terjemahnya (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Quran, 1971), 69.

5Ibnu Hajjar Al-Asqalani,Bulughul Maram(Beirut: Darul Akhyar, 773 H-852 H), 195.

(27)

mencukupi kebutuhan dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain.

Pasalnya, manusia bergantung pada barang yang ada pada orang lain dan tentu orang tersebut tidak akan memberinya tanpa ada timbal balik. Oleh karna itu, dengan diperbolehkannya jual beli maka dapat membantu memenuhi kebutuhan setiap orang dan membayar atas kebutuhan itu. Berdasarkan landasan hukum di atas, jual beli di perbolehkan dalam agama Islam untuk memudahkan manusia dalam mencukupi kebutuhan hidup sehari hari dengan di dasari suka sama suka tanpa ada unsur paksaan.6 3.Rukun dan Syarat Jual Beli

Dalam melaksanakan suatu perikatan, terdapat rukun dan syarat yang harus dipenuhi. Rukun jual beli ada tiga, yaitu aqid (penjual dan pembeli), ma'qud alaih (obyek akad), shigat (lafaz ijab qabul).7

a.‘Aqid(penjual dan pembeli) yang dalam hal ini dua atau beberapa orang melakukan akad, adapun syarat-syarat bagi orang yang melakukan akad ialah:

1) Baligh dan berakal agar tidak mudah ditipu orang maka batal akad anak kecil, orang gila dan orang bodoh, sebab mereka tidak pandai mengendalikan harta, oleh karena itu anak kecil, orang gila, dan orang bodoh tidak boleh menjual harta sekalipun miliknya.

6Abdullah Bin Muhammad Ath-Thayyar, Dkk,Ensiklopedia Fiqih Muamalah Dalam Pandangan 4 Madzhab, Terj. Miftahul Khairi (Yogyakarta: Maktabah Al-Hanif, 2014), 5.

7Abdul Rahman, Ghufron, Dkk,Fiqh Muamalat(Jakarta: Kencana, 2010), 70.

(28)

b.Ma’qu>d ‘alaih (obyek akad). Syarat-syarat benda yang menjadi obyek akad ialah:8

1) Suci atau mungkin untuk disucikan, maka tidak sah penjualan benda-benda najis seperti anjing, babi dan yang lainnya.

2) Memberi manfaat menurut Syara', maka dilarang jual beli benda-benda yang tidak boleh diambil manfaatnya menurut Syara', seperti menjual babi, cecak dan yang lainnya

3) Tidak dibatasi waktunya, seperti perkataan saya jual motor ini kepada Tuan selama satu tahun, maka penjualan tersebut tidak sah, sebab jual beli adalah salah satu sebab pemilikan secara penuh yang tidak dibatasi apa pun kecuali ketentuan syara'.

4) Dapat diserahkan dengan cepat maupun lambat, tidak sah menjual binatang yang sudah lari dan tidak dapat ditangkap lagi, barangbarang yang sudah hilang atau barang yang sulit diperoleh kembali karena samar, seperti seekor ikan jatuh ke kolam, maka tidak diketahui dengan pasti sebab dalam kolam tersebut terdapat ikan-ikan yang sama.

5) Milik sendiri, tidaklah sah menjual barang orang lain dengan tidak seizin pemiliknya atau barang-barang yang baru akan menjadi miliknya.

8Imam Taqiyuddin Abu Bakar Bin Muhammad Alhusaini, Kifayatul Akhyar, Terj.

Syariffudin Anwar (Surabaya: CV.Bina Iman, 1995), 539.

(29)

6) Diketahui (dilihat), barang yang diperjualbelikan harus dapat diketahui banyaknya, beratnya, takarannya, atau ukuran- ukuran yang lainnya, maka tidaklah sah jual beli yang menimbulkan keraguan salah satu pihak.

Ditinjau dari segi benda yang dijadikan obyek jual beli dapat dikemukakan pendapat Imam Taqiyuddin bahwa jual beli dibagi menjadi tiga bentuk: ketiga bentuk jual beli sebagai berikut:9 1) jual beli benda yang kelihatan 2) jual beli yang disebutkan sifat- sifatnya dalam janji dan 3) jual beli benda yang tidak ada. Jual beli benda yang kelihatan ialah pada waktu melakukan akad jual beli benda atau barang yang diperjualbelikan ada di depan penjual dan pembeli, hal ini lazim dilakukan masyarakat banyak, seperti membeli beras di pasar dan boleh dilakukan.

Jual beli yang disebutkan sifat-sifatnya dalam perjanjian ialah jual beli salam (pesanan). Menurut kebiasaan para pedagang, salam adalah untuk jual beli yang tidak tunai (kontan), salam pada awalnya berarti meminjamkan barang atau sesuatu yang seimbang dengan harga tertentu, maksudnya ialah perjanjian sesuatu yang penyerahan barangbarangnya ditangguhkan hingga masa tertentu, sebagai imbalan harga yang telah ditetapkan ketika akad.10

Jual beli benda yang tidak ada serta tidak dapat dilihat ialah jual beli yang dilarang oleh agama Islam, karena barangnya tidak

9Hendi Suhendi,Fiqh Muamalah(Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2010), 75-76

10Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), 113.

(30)

tentu atau masih gelap, sehingga dikhawatirkan barang tersebut diperoleh dari curian atau barang titipan yang akibatnya dapat menimbulkan kerugian salah satu pihak.

c. S{ighat ( ija>b dan qabu>l )

ija>b dan qabu>l terdiri dari qaulun (perkataan) dan fi'lun (perbuatan). Qaulun dapat dilakukan dengan lafal sharih (kata-kata yang jelas) dan lafal kinayah (kata kiasan/sindiran). Lafal sharih ialah sighat jual beli yang tidak mengandung makna selain dari jual beli. Lafal kinayah ialah lafal yang di samping menunjukkan makna jual beli juga dapat menunjukkan kepada arti selain jual beli.

Adapun shighat berupa fi'lun (perbuatan) adalah berwujud serah terima yaitu menerima dan menyerahkan dengan tanpa disertai sesuatu perkataan pun. Misalnya: seseorang membeli sesuatu barang yang harganya sudah dia ketahui, kemudian ia (pembeli) menerimanya dari penjual dan dia (pembeli) menyerahkan harganya kepada penjual, maka dia (pembeli) sudah dinyatakan memiliki barang tersebut karena dia (pembeli) telah menerimanya. Shighat berupa fi'lun (perbuatan) merupakan cara lain untuk membentuk 'akad dan paling sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, shigat ini disebutal-mu’athah.

B. Jual BeliMu’athah (Ba’i Mu’athah) 1. PengertianMu’athah

(31)

Al-Mu’athah dan Al-Munawalah berasal dari kata ‘atha yu’thi jika dia saling memberi bentuk mufaalah (saling bekerja) dari kata ‘atha’

yaitu saling menyerahkan tanpa ada akad. Jual beli dengan sistem mu’athah adalah jual beli yang hanya dengan penyerahan dan penerimaan tanpa dan ucapan atau ada ucapan tetapi dari satu pihak saja namun kemudian kalangan ahli fiqh memakainya untuk jual beli yang bersifat saling memberi secara khusus.11Terkadang akad dilakukan tanpa menggunakan perkataan atau lafaz melainkan dengan perbuatan yang muncul dari kedua pengakad.

Sementara itu menurut istilah, bai’ mu’athah ialah mengambil dan memberikan tanpa perkataan (ijab dan qabul), sebagaimana seseorang membeli sesuatu yang telah diketahui harganya kemudian mengambilnya dari penjual dan memberikan uang sebagai pembayaran.

C. Arisan

1. Pengertian Arisan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi Arisan yaitu kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang yang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yang memperolehnya, undian dilaksanakan di sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.12 Hakekat arisan

11Abdul Aziz Muhammad Azzam, Fiqh Muamalat Sistem Transaksi Dalam Fiqh Islam(Jakarta: Amzah, 2014), 35

12Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, “Arisan,” dalam https://kbbi.kemendikbud.go.id/enteri/arisan/ , (diakses pada 28 januari 2023, jam 13.05).

(32)

juga bisa dimaknai setiap orang dari anggotanya meminjamkan uang kepada anggota yang menerimanya dan meminjam dari anggota yang sudah menerimanya kecuali orang yang pertama mendapatkan arisan maka ia menjadi orang yang berhutang terus setelah mendapatkan arisan, dan juga orang yang terakhir mendapatkan arisan, maka ia selalu menjadi pemberi hutang kepada anggota. Pengembalian hutang tersebut juga harus sesuai dengan apa yang dipinjamkan.

Arisan ada yang bertentangan dengan syariat islam dan ada pula yang saling bermanfaat sesama manusia dengan saling tolong –menolong, tergantung dengan syarat yang telah dibuat di awal yang telah disetujui oleh semua pihak, ini bertujuan agar tidak terjadinya kesalahpahaman dan merugikan pihak yang terlibat. Hukum islam adalah sebuah syariat yang berarti aturan yang diadakan oleh Allah untuk umat-Nya yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, baik hukum yang berhubungan dengan kepercayaan maupun hukum-hukum yang berhubungan dengan perbuatan yang dilakukan oleh umat muslim. Hukum arisan secara syariah yaitu arisan merupakan muamalat yang belum pernah di bahas dalam Al-quran dan As-sunah secara langsung, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum asal muamalah yaitu dibolehkan (mubah).13 Para ulama Arisan sendiri juga dibahas oleh kalangan para ulama, dan muncul dua pendapat yakni dihukumi haram dan dihukumi boleh, berikut kedua pendapat tersebut: Pendapat pertama yang mengharamkan didukung oleh Dr. Shalih

13Imam Mustofa,Fiqih Muamalah Kontemporer(Yogyakarta: Kaukuba 2015), 8.

(33)

Al- Fauzan, menurut pendapat tersebut arisan terdapat unsur riba. Karena menurutnya arisan pada hakikatnya adalah akad pinjaman, dimana orang yang pertama mendapatkan uang yang terkumpul tersebut hakikatnya ia menerima pinjaman dari anggota-anggota lainnya dan begitulah seterusnya setiap orang yang menerima uang adalah peminjam terhadap anggota yang belum menerima, akad peminjaman disini terdapat syarat apabila ingin dipinjami maka harus meminjami juga. Dan setiap pinjaman yang menarik manfaat atau pensyaratan maka dihukumi riba. Untuk pendapat arisan yang kedua diperbolehkan atau mubah, pendapat ini merupakan fatwa lembaga di kerajaan Arab Saudi nomor: 164, th. 1410 H yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, bahkan Syaikh Ibnu Utsmaimin rahimahullah, mengatakan hukumnya sunnah, karena merupakan salah satu cara untuk mendapatkan modal dan menumpulkan uang yang terbebas dari riba.14 Karena menurut fatwa tersebut apabila tidak ada pensyaratan penambahan nominal didalamnya maka akad tersebut diperbolehkan, terlepas dari konsep pendapat yang pertama, karena arisan sendiri sistemnya seperti itu yakni mendapatkan uang secara bergantian sesuai apa yang di angsur.

Arisan dilihat dari sisi substansi pada hakekatnya merupakan akad pinjam meminjam lebih tepatnya akad al-qardh yaitu (utang- piutang).

Dengan demikian uang arisan yang diambil oleh orang yang mendapat atau memenangkan undian itu adalah utangnya. Wajib untuk memenuhi

14Mokhamad Rohma Rozikin, Hukum Arisan Dalam Islam, Jurnal Nizham, Vol. 06, No. 02 (2018), 29.

(34)

kewajibannya dengan membayar sejumlah uang secara berkala sampai semua anggota mendapatkan hak atas arisan tersebut. Didalam arisan juga termasuk ta’awun (tolong menolong). Secara prinsip, arisan dengan berbagai macam bentuknya diperbolehkan menurut Islam, asalkan objek arisan halal (mubah) dan tanpa ada bunga (riba) yang disyaratkan. Hal itu merujuk pada kaidah umum fiqh muamalah “pada dasarnya semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya”.

Arisan juga bagian dari tolongmenolong (ta’awun) untuk memenuhi kebutuhan masing-masing anggota arisan.Memberikan pinjaman adalah transaksi kebaikan (tabarru’), sedangkan meminta kompensasi adalah transaksi bisnis. Jadi, transaksi yang dari semula diniatkan sebagai transaksi kebaikan tidak boleh diubah menjadi transaksi bermotif bisnis.

Dan yang termasuk riba qardh adalah jika akadnya mensyaratkan atau memperjanjikan pihak peminjam harus membayar lebih dari pokok pinjaman. Qardh dihukumi mubah (boleh) sesuai penjelasan diatas apabila murni untuk tolong- menolong dan menjadi haram apabila mengambil manfaat dari adanya praktik qardh tersebut, hal itu masuk kedalam kategori riba qardh.15

Sedangkan dalam praktiknya arisan barang menggunakan akad jual beli bukan utang piutang karena anggota arisan tidak pernah berhutang kepada penjual dan penjual tidak pernah berhutang kepada pembeli. Ada beberapa unsur dalam arisan, pertama yaitu pertemuan yang diadakan

15Abdullah Bin Muhammad Ath-Thayyar, Dkk,Ensiklopedia Fiqih Muamalah Dalam Pandangan 4 Madzhab, Terj. Miftahul Khairi (Yogyakarta: Maktabah Al-Hanif, 2014), 169.

(35)

secara rutin dan berkala, kemudia pengumpulan uang oleh setiap anggota dengan nilai yang sama, dan pengundian uang untuk menentukan siapa yang mendapatkan uang yang terkumpul tersebut. Kedua yaitupengumpulan uang oleh setiap anggota dengan nilai yang sama dalam setiappertemuan. Dan yang ketiga, penyerahan uang yang terkumpul kepadapemenang yang ditentukan melalui pengundian. Dalam arisan sendiri apabila panitia atau bandar arisan ini statusnya sebagai petugas maka diperbolehkan mengambil upah karena panitia atau petugas layak mendapatkan upah atas jerih payah mereka dalam mengurusi arisan.

2. Manfaat Arisan16 a. Sebagai Tabungan

Arisan dianggap sebagai salah satu cara untuk menabung, dengan mengikuti arisan, menabung menjadi hal yang wajib karena kita mempunyai kewajiban untuk membayar sejumlah uang sebagai setoran setiap periodenya, dan akan mendapatkan pembayaran atas tabungan tersebut pada satu periode arisan.

b. Sebagai tempat silaturrahmi

Manfaat arisan juga bisa sebagai tempat untuk silaturrahmi, biasanya anggota arisan berasal dari berbagai kalangan atau tempat yang berbeda.Dengan demikian, arisan memberikan manfaat positif untuk salingbersilaturrahmi antar peserta arisan.

c. Sebagai tempat bersosialisasi

16Aufi Ramadhania Pasha, “Manfaat Dari Arisan Uang Atau Barang,” dalam https://www.cermati.com/artikel/manfaat-dari-arisan-uang-atau-barang/ , (diakses pada tanggal 18 Mei 2023, jam 15.39.

(36)

Selain menjalin silaturrahmi, mengikuti arisan juga sebagai tempat atau cara bagi setiap peserta untuk bersosialisasi, sehingga mereka tidak hanya bersosialisasi pada satu lingkungan saja namun melalui arisan akan membantu kita untuk bersosialisasi dengan lingkungan atau komunitas yang lain.

Dapat disimpulkan bahwa arisan berisi unsur kerjasama, tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, karena arisan merupakan salah satu cara menutupi kebutuhan orang yang membutuhkan dan menolong mereka untuk menjahui kegiatan muamalah yang dilarang. Manfaat yang didapat dari arisan tidak mengurangi sedikitpun harta orang yang meminjami dan manfaat yang didapatkan akan dirasakan oleh seluruh anggota arisan.17 D. Qard

1. PengertianQard{

Qard{{ berarti pinjaman atau utang-piutang. Secara etimologi,qard{ bermakna memotong. Adapunqard{ secara terminologis adalahmemberikan harta kepada orang yang memanfaatkannya dan mengembalikangantinya dikemudian hari.18 Berbicara tentang utang- piutang buka hal yangasing ditelinga semua orang, karena setiap hari selalu ada saja masalah mengenai hal ini. Utang-piutang merupakan perjanjian pada umumnya berupa uang.Kedudukan pihak yang satu sebagai pihak yang memberikan pinjaman,sedang pihak yang lain

17Maftukhan, “Hukum Uang Yang Diambil Panitia Arisan,” dalam https://islam.nu.or.id/bahtsul -masail/hukum-uang-yang-diambil-panitia-arisan-Pwifa/ , (diakses pada tanggal 18 Mei 2023, jam 20.02).

18 Mardani, Fiqih Ekonomi Syariah: Fiqih Muamalah (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), 335.

(37)

menerima pinjaman uang. Uang yang dipinjam akandikembalikandalam jangka waktu tertentu sesuai dengan yangdiperjanjikan.

Menurut kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES), qard{ adalah penyediaan dana atau tagihan antar lembaga keuangan syariah dengan pihak peminjam yang mewajibkan pihak peminjam untuk melakukan pembayaran secara tunai maupun cicilan dalam jangka waktu yang telah ditentukan.19 Kesimpulannya, qard{ adalah memberikan harta kepada orang lain dengan maksud untuk dikembalikan dikemudian hari sesuai kesepakatan kedua pihak dengan harta yang serupa dan ukuran yang sama tanpa mengambil manfaat di dalamnya.

Sedangkan menurut Fatwa Dewan Syariat Nasional (DSN-MUI) menyatakan bahwa Al-qardh adalah pinjaman yang diberikan kepada nasabah (muqtaridh) yang memerlukan dengan ketentuan nasabah di kemudian hari wajib mengembalikan jumlah pokok yang diterima pada waktu yang telah disepakati bersama dan dalam praktik perbankan di Indonesia, segala biaya administrasi akibat transaksi Al-qardh dapat dibebankan kepada nasabah.20 Secara substansi dapat dipahami bahwa hampir tidak ada perbedaan pendapat dari pengertian yang telah dipaparkan diatas.

2. Dasar HukumQard{

a. Al-Qur’a>n

19Tim Penyusun KHES, Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (Jakarta: Mahkamah Agung Republik Indonesia, 2011), 164.

20Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No.19/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Qardh.

(38)

Firman Allah SWT yang menjadi dasar hukum Qard{ terdapat dalam QS Al-Baqarah (2); 245:

M㌷ĀÈ䁰Ǭ ǘ݊ Ǵ ċɍ㌷Ȃ Ǵ mÈaƷ ʋꭀÌ ʋꭀ ㌷mÊ 䁰Ǵ É aȺ䁰 ǘ݊ È㌷ºÈ䁰Ǭ ㌷䁰ǘÌ ¦ ㌠ǘ㌮

À m Ⱥ䁰Ƴ ㌷ꭀÈÌ㌷Ǵ lArÈĀ䁰ǬǴ

Artinya: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”21

Berdasarkan ayat diatas dapat dipahami bahwa siapa yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik dalam masalah bersedekah di jalan Allah SWT, seraya melakukannya dengan tulus dan ikhlas semata-mata ingin memperoleh ridha-Nya, maka Allah SWT akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak dengan ukuran satu banding dua juta. Dan Allah SWT menggenggam (menyempitkan) dan melapangkan (rezeki) meluaskan harta dan rejeki di dunia ini bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan setelah kematian.

Lalu kamu akanmemperoleh balasan atas amal perbuatan yang kamu lakukan.

21 Departemen agama RI, Al-Quran Tajwid dan Terjemahnya (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Quran, 1971), 62.

(39)

b. Al-Sunnah

Selain dasar hukum yang bersumber dari al-Quran maka dikuatkan lagi dengan beberapa hadith. Salah satu hadithnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah yang bersumber dari Ibnu Mas’ud r.a.

Yang artinya:

“Dari Ibnu Mas’ud r.a. dari Nabi Saw, beliau bersabda

“Tidaklah seorang muslim memberi pinjaman kepada orang muslim yang lain dua kali melainkan pinjaman itu (berkedudukan) seperti sedekah satu kali”. (HR Ibn Majjah no. 2421, kitab al- ahkam; Ibn Hibban dan Baihaqi)

3. Rukun dan SyaratQard{

Utang piutang adalah salah satu transaksi umum, utang piutang dapat dikatakan sah apabila terpenuhi semua syarat dan rukunnya. Adapun rukun dan syarat qard} sebagai berikut.22

a. Rukun Qard{

Seperti halnya akad-akad yang lain, qard} memiliki rukun-rukun, sebagai berikut.

1) Muqrid{ (pemilik atau pemberi barang)

Pemberi hutang harus seorang Ahliyat at-Tabarru’ (layak bersosial), maksudnya orang yang mempunyai kecakapan dalam menggunakan hartanya secara mutlak menurut pandangan dalam syariat islam. Tidak adanya paksaan (ikhtiyar), seorang muqridh dalam memberikan bantuan

22Abdullah Bin Muhammad Ath-Thayyar, Dkk,Ensiklopedia Fiqih Muamalah Dalam Pandangan 4 Madzhab, Terj. Miftahul Khairi (Yogyakarta: Maktabah Al-Hanif, 2014), 259.

(40)

hutang harus didasarkan atas keinginannya sendiri dan tidak ada paksaan dari pihak lain.

2) Muqtarid{h (yang mendapatkan barang atau pinjaman) Orang yang berhutang haruslah orang yang Ahliyah Mu’amalah artinya orang tersebut harus baligh, berakal, dan tidak mahjur (bukan orang yang oleh syariat tidak diperkenankan mengatur sendiri hartanya karena faktor- faktor tertentu)

3) S{ighat (Ijab dan Qabul)

Sebagai akad utang-piutang diperlukan adanyaijab qabul.Hal inidimaksudkan sebagai pernyataan bahwa para pihak benar-benarmenghendaki adanya ikatan hukum hak dengankewajiban masing-masing. Ucapan serah terima harus jelas dan bisa dimengerti oleh keduabelah pihak, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman dikemudian hari baik secara lisan maupun tertulis. Berhutang dalam hutang-piutang dilarang untuk mengambil atau memberi tambahan pembayaran (yang ditentukan dalam perjanjian), maka lafal dari kedua belah pihak tidak perlu diberi tambahan sebagai syarat lain dengan ucapan‚ “diberi tambahan sebanyak ini‛.

4) Muqtarad{ (barang yang dipinjamkan)

(41)

Barang yang dipinjamkan disyaratkan harus dapat diserahterimakan dan dapat dijadikan barang pesanan, yaitu berupa barang yang mempunyai nilai ekonomis (boleh dimanfaatkan menurut syara’)

b. Syarat Qard}23

Untuk sahnya suatu perjanjian qard} harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1) SyaratA<qidain (muqrid{ dan muqtarid{)

a)Ahliyah at-tabarru’ dan ahliyah at-tasharrufat, yaitu orang yang mampu secara lisan yakni baligh, berakal sehat, dan cakap. Layak bersosial bagi muqrid{ dan layak membelanjakan harta bagimuqtarid{.

b) Tanpa ada paksaan, bahwa muqrid{ dalam memberikan hutang tidak dalam paksaan atau tekanan orang lain, begitu pula dengan muqtarid{.

Kedua belah pihak saling ridho.

c) Syaratmuqtarad{ (barang yang dijadikan objek), yaitu barang yang bermanfaat dan dapat dipergunakan.

d) Syarat s{ighat (ijab dan qabul) menunjukan kesepakatan kedua belah pihak, dan tidak boleh merugikan salah satu pihak.

4. HukumQard{

23Akhmad Farroh Hasan, Fiqh Muamalah Dari Klasik Hingga Kontemporer (Teori Dan Praktik),(Malang: UIN Maliki Malang Press, 2018), 68.

(42)

Pada dasarnya pinjam-meminjam (qard{) adalah sunnah bagi orang yang meminjamkan dan mubah bagi orang yang meminjam. Ini adalah hukum al-qard{ dalam situasi biasa, terkadang ada dalam situasi- situasi yang bisa mengubah hukumnya, bergantung pada sebab seseorang meminjam. Oleh karena itu, hukumnya bisa berubah sebagai berikut.24 a. Haram

Apabila seseorang memberikan pinjaman, padahal dia mengetahui bahwa pinjaman tersebut akan digunakan untuk perbuatan haram, seperti untuk minuman yang memabukan, judi, dan perbuatan lainnya.

b. Makruh

Apabila yang memberi pinjaman mengetahui bahwa peminjam akan menggunakan hartanya bukan untuk kemaslahatan, tetapi untuk berfoya- foya dan menghambur-hamburkannya. Begitu juga jika peminjam mengetahui bahwa dirinya tidak akan sanggup mengembalikan pinjaman itu.

c. Wajib

Apabila ia mengetahui bahwa peminjam membutuhkan harta untuk menafkahi diri, keluarga dan kerabatnya sesuai dengan ukuran yang disyariatkan, sedangkan peminjam itu tidak memiliki cara lain untuk mendapatkan nafkah itu selain dengan cara meminjam.

24Abdullah Bin Muhammad Ath-Thayyar, Dkk,Ensiklopedia Fiqih Muamalah Dalam Pandangan 4 Madzhab, Terj. Miftahul Khairi (Yogyakarta: Maktabah Al-Hanif, 2014), 157.

(43)

37

KABUPATEN PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR

A. Gambaran Umum Arisan Furniture 1. Sejarah Berdirinya Arisan Furniture

Praktik arisan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan adalah arisan furniture.

Arisan furniture merupakan kegiatan mengumpulkan sejumlah uang dengan nilai yang sama dari masing-masing anggota arisan dengan menggunakan sistem pengundian. jadi arisan furniture ini, dimana media pembayarannya berupa sejumlah uang. Akan tetapi yang akan didapatkan nantinya berupa barang furniture yang ada di Toko Furniture Aston sesuai dengan kesepakatan antara pengelola dan anggota arisan.

Arisan furniture ini mulai berdiri pada tahun 2020 sampai sekarang, sehingga sudah berjalan selama kurang lebih 3 tahun.1 Kegiatan arisan ini berawal dari rasa ingin mencoba pemilik Furniture Aston dan banyak yang menyukai sehingga arisan ini dapat berjalan hingga saat ini, arisan ini juga dikelolah oleh pemilik Furniture Aston untuk membantu masyarakat yang ingin memiliki barang furniture yang diinginkan akan tetapi dicicil setiap

1Heryani,Hasil Wawancara, Babat, 13 Maret 2023

(44)

bulan dengan harga cash (kontan).2 Arisan furniture di Toko Furniture Aston ini dirintis dan dikelola oleh Ibu Heryani. Seluruh anggota arisan berjumlah 10 orang selaku anggota atau peserta arisan. Mayoritas dari anggota arisan ini berasal dari kalangan ibu-ibu rumah tangga dengan usia sekitar 40 tahun keatas. Adapun penanggung jawab arisan ini adalah pengelola arisan dan disetujui oleh anggota arisan.

Arisan furniture ini biasanya dimulai setelah lebaran dan berlangsung selama selama 10 bulan. Pengkoordiniran arisan furniture ini dilakukan sebulan sekali yaitu biasanya ditanggal 10 (pembayaran uang arisan) dan tanggal 15 (pengundian arisan) yang bertempat di rumah Ibu Heryani selaku pengelola arisan furniture. Dari pembayaran arisan semua anggota arisan dalam sebulan, yaitu terkumpul uang sejumlah Rp. 5. 000.

000,- (lima juta rupiah).3

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan bahwa arisan furniture ini seperti arisan pada umumnya, dimana seluruh anggota arisan dalam periode tertentu berkumpul untuk mengumpulkan uang dalam jumlah yang sama kemudian nantinya akan dilakukan pengundian untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan barang. Hal yang membedakan arisan ini dengan arisan lain yaitu jika nama anggota keluar saat pengundian maka anggota dapat memilih barang yang diinginkan sesuai dengan kesepakatan dengan pengelola.4

2. Tujuan Diadakannya Arisan furniture

2Heryani,Hasil Wawancara, Babat, 13 Maret 2023

3Ibid.

4Hasil Observasi lapanganoleh penulis, 15 Maret 2023

(45)

Tujuan diadakannya arisan furniture di Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Provinsi Sumatera Selatan ini salah satunya untuk meringankan beban ibu- ibu rumah tangga yang ingin membeli barang furniture yang dicicil setiap bulan tetapi dengan harga cash (kontan) karena pembelian dengan harga cash (kontan) dan pembelian dengan harga kredit memiliki perbedaan harga yang mana untuk harga kredit relatif lebih mahal. Lebih tepatnya, arisan furniture ini dapat dikatakan berhutang barang furniture tetapi dengan harga barang cash (kontan).5 Hal ini sesuai dengan pernyataan di Ibu Heryani selaku ketua arisan di Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir pada saat diwawancarai sebagai berikut:

“Tujuan saya membentuk arisan furniture ini untuk membantu masyarakat yang ingin barang furniture tetapi tidak punya uang cash, karena arisan furniture ini sama saja dengan mencicil, bedanya dengan cicilan biasa tanpa arisan yaitu harganya menjadi harga barang kredit dan jika mengikuti arisan ini harga barang menjadi harga cash tetapi dicicil setiap bulan dengan membayar iuran arisan.

Harga cash dan kredit sendiri memiliki jumlah yang beda. Dengan arisan ini saya juga mendapatkan keuntungan setiap bulannya.”6

5Heryani,Hasil Wawancara, Babat, 13 Maret 2023

6Ibid.

(46)

Selain itu, menurut anggota arisan dengan adanya arisan furniture dapat mempererat tali silaturahmi antara ibu-ibu rumah tangga.

Mereka dapat bersosialisasi walaupun dilakukan sebulan sekali. Dari arisan ini pula dapat menghidupkan kegiatan saling tolong-menolong antar sesama muslim terutama sesama anggota arisan. Kegiatan tolong menolong sesama anggota arisan juga sebagai bentuk kerukunan sesama tetangga karena tidak jarang sesama anggota arisan berasal dari lingkungan yang sama.7

3. Ketentuan dalam Arisan furniture a. Persyaratan Bagi Peserta

Dalam pelaksanaannya arisan furniture di Toko Furniture Aston tidak ada syarat khusus akan tetapi adapun syarat yang harus dipenuhi oleh seluruh anggota arisan yang ingin mengikuti arisan ini, sebagai berikut.8

1) Anggota harus mendaftarkan diri kepada ketua arisan atau pengelola arisan yaitu Ibu Heryani. Dalam hal ini anggota diperbolehkan mendaftar lebih dari satu nama, dalam putaran ini berisikan 10 slot.

2) Kesanggupan bagi anggota untuk memenuhi pembayaran pada waktu yang telah ditentukan yaitu setiap tanggal 10, dan pengundian dilakukan setiap tanggal 15.

7Susi,Hasil Wawancara,Babat, 13 Maret 2023

8Heryani,Hasil Wawancara, Babat, 13 Maret 2023

(47)

3) Pembayaran arisan berupa uang yang jumlahnya sesuai dengan yang disepakati dalam hal ini yaitu sejumlah Rp. 500.000,- perbulannya.

4) Tiga bulan berturut tidak membayar angsuran atau berhenti ditengah jalan (ditengah arisan berlangsung) maka uang dianggap hangus dan barang-barang yang sudah diterima (nama sudah keluar diundian) akan disita.

5) Semua anggota arisan harus mematuhi peraturan yang berlaku dan telah disetujui oleh masing-masing anggota arisan.

Dari beberapa peraturan di atas, pembayaran merupakan syarat pokok dalam pelakanaan arisan furniture ini. Oleh karena itu ketika waktu pembayaran tiba maka seluruh anggota arisan wajib menyerahkan uang kepada ketua arisan sesuai dengan jumlah arisan yang diikuti.

Menurut Ibu Heryani, meskipun sudah ada ketentuan tersebut tetapi masih ada beberapa anggota yang tidak rutin dalam membayar setiap bulan. Ada beberapa anggota yang suka menunda pembayaran arisan sampai beberapa minggu, sehingga harus beliau beri peringatan.

Dikarenakan jika tidak membayar selama tiga bulan berturut apabila sudah menerima barang maka barang tersebut akan disita sesuai dengan kesepakatan yang ada pada awal pembentukan arisan.9 Hal ini juga disampaikan oleh Ibu Pesi selaku anggota arisan, beliau mengatakan:

“....Setahu saya kalau ada yang menunggak angsuran nanti akan diingatkan. Sesuai dengan perjanjian sebelum terbentuk kalau

9Heryani,Hasil Wawancara, Babat, 13 Maret 2023

(48)

sudah sering nunggak berturut-turut selama tiga bulan kan barang disita. Kalau untuk sanksi sepertinya hanya untuk yang nunggak berturut-turut dan yang keluar ditengah jalan nanti uang angsuran dianggap hangus. Kalau untuk telat bayar sepertinya tidak ada tapi harus konfirmasi dulu sebelum diingatkan”.10

4. Hak dan Kewajiban Anggota arisan dan Pengelola

Semua anggota arisan furniture di Toko Furniture Aston memiliki hak dan kewajiban yang sama. Setiap anggota arisan mendapatkan barang yang diinginkan sesuai dengan mekanisme praktik arisan yang ada. Jumlah uang yang harus dibayarkan oleh 10 orang anggota arisan sama yaitu sejumlah Rp. 500.000 dalam 10 bulan.11

Anggota arisan juga harus mentaati peraturan sesuai dengan kesepakatan bersama antara ketua risan atau pengelola dan anggota.

Adapun kewajiban yang paling pokok adalah membayar iuran arisan furniture setiap bulan disesuaikan dengan jumlah arisan yang disepakati.

Adapun pengelolah memiliki kewajiban membelikan barang yang diinginkan oleh anggota arisan yang menerima undian.

B. Akad Arisan Furniture

Akad arisan furniture di Toko Furniture Aston di Desa Babat Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir adalah akad jual beli bukan utang piutang. Dalam jual beli furniture dengan sistem arisan, yang disebut penjual (ketua arisan) adalah yang menawarkan barang sementara yang disebut dengan pembeli adalah orang-orang yang bersedia

10Pesi,Hasil Wawancara, Babat, 13 Maret 2023

11Heryani,Hasil Wawancara, Babat, 13 Maret 2023

(49)

bergabung dalam sistem arisan tersebut dan bersedia menyetorkan sejumlah uang secara berkala yang mana dalam arisan ini yaitu sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu) selama 10 bulan. Dalam jual beli barang dengan sistem arisan pertukaran antara uang dengan furniture terjadi secara sukarela, tanpa adanya paksaan dari penjual karena penjual sejak awal menawarkan kepada siapa pun yang bersedia bergabung dengan sistem arisan tersebut.

Adapun Shighot dalam arisan ini dilakukan dengan perbuatan langsung tanpa adanya ijab dan qabul yaitu dengan cara mengkontak ketua arisan melalui Whatapps.12Masyarakat yang tertarik dapat mengungkapkan keinginanya untuk mengikuti jalannya arisan ini dengan menghubungi ketua arisan dan akan diberi tahu mengenai peraturan pelaksanaan arisan yang akan diikuti, terkait peraturan sudah dituliskan pada caption postingan terkait pembukaan arisan akan tetapi dijelaskan lagi agar tidak ada kesalapahaman nantinya. Kesepakatan ini dilakukan oleh ketua arisan atau pengelola arisan dengan masyarakat yang ingin mendaftarkan diri sebagai peserta arisan furniture. Dalam arisan ini sesama anggota tidak bertemu secara langsung tetapi melalui perantara yang mana dalam hal ini yaitu ketua arisan.

Dalam melakukan kesepakatan ini tidak ada keharusan menggunakan kata-kata khusus, karena masing-masing pihak yang akan mengikuti arisan tersebut telah mengetahui syarat dan tujuan arisan yang akan diikuti. Bahasa apapun yang digunakan dalam pendaftaran diperbolehkan, asalkan dapat dipahami oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Intinya adalah para pihak

12Heryani,Hasil Wawancara, Babat, 13 Maret 2023

(50)

yang bertransaksi dapat memahami maksud dari perkataan dan pebuatan tersebut sehingga tidak menimbulkan kesalapahaman yang dapat menimbulkan perselisihan di kemudian hari.

Pelaksanaan akad dilakukan dengan cara perbuatan yaitu ketika anggota mendaftarkan diri kepada pengelola atau ketua arisan dengan pernyataan ija>b dan qabu>l. Adapun contoh dari akad dengan perbuatan yaitu ketika anggota menulis di chat “Saya ingin mengikuti arisan furniture padamu”, kemudian ketua arisan menjawab “Iya, saya catat nama kamu sebagai anggota arisan furniture ini”.13Dan ketika arisan sudah dimulai, uang sudah terkumpul dari semua anggota dan diterima oleh penjual maka hal ini disebutqabul.

Akad yang dilakukan dalam arisan furniture ini dilakukan atas dasar saling percaya antara sesama peserta arisan furniture kepada pihak pengelola atau ketua arisan. 14Pihak anggota juga mempercayakan sistem pengelolahan arisan ini kepada pihak pengelola atau ketua arisan. Masing-masing anggota arisan sepakat menyetorkan sejumlah uang kepada pengelola setiap bulannya.

Pihak pengelola pun juga sepakat akan membelikan barang yang diinginkan oleh anggota arisan yang namanya keluar pada pengundian pada waktu yang disepakati bersama. Adapun unsur-unsur yang ada pada arisan furniture di Toko Furniture Aston.15

1. Adanya pengelola arisan atau ketua arisan furniture (Ibu Heryani) 2. Adanya anggota arisan furniture

13Heryani,Hasil Wawancara, Babat, 13 Maret 2023

14Ibid.

15Ibid.

(51)

3. Adanya obyek atau barang. Dalam hal ini sesuatu yang dijadikan obyek ialah barang yang diinginkan anggota arisan yang namanya keluar saat pengundian.

4. Adanya akad yang menunjukan kerelaan masing-masing pihak dalam melaksanakan arisan furniture.

C. Mekanisme Jual Beli Furniture Dengan Sistem Arisan

Jual beli barang dengan sistem arisan sebenarnya adalah jual beli biasa. Hanya saja barang yang ingin dibeli cukup mahal bagi sebagian orang, maka pemilik Toko Furniture Aston mengagas dengan sistem arisan furniture untuk saling membantu membayarkan, sehingga masing-masing anggota arisan bisa mendapatkan barang tersebut sesuai gilirannya.16 Jadi, jual beli furniture dengan sistem arisan ini adalah akad jual beli biasa, tetapi dengana cara pembayaran yang khas. Pembayaran dalam jual beli barang dengan sistem arisan tidak dilakukan oleh satu orang pembeli sebagai individu melainkan bibayarkan dengan bantuan orang lain dengan sistem arisan.

Praktik arisan yang ada di Toko Furniture Aston merupakan arisan furniture, yang mana proses perekrutan anggota dilakukan menggunakan sosial media yaitu Whatsapp. Pemilik Toko furniture Aston selaku pengelola arisan terlebih dahulu melalukan promosi sehingga banyak yang tertarik untuk bergabung menjadi anggota arisan furniture. Adapun mekanisme dari praktik arisan yang ada di Toko Furniture Aston yaitu:17

16Heryani,Hasil Wawancara, Babat, 13 Maret 2023

17Ibid.

(52)

1. Pengelola arisan mempromosikan arisan furniture yang akan dibentuk dengan mencantumkan gambar furniture dan iuran perbulan dan peraturan yang harus ditaati menggunakan sosial media.

2. Masyarakat yang tertarik mendaftarkan diri ke pengelola arisan dan diberitahukan lagi syarat-syarat yang harus dipenuhi.

3. Setelah slot arisan furniture yaitu 10 slot penuh maka akan diadakan pembayaran pertama pada tanggal 10 sebesar jumlah arisan yang diikuti, dalam arisan ini sejumlah Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah)

4. Setelah terkumpul uang arisan maka dilakukan pengundian pada tanggal 15, nama anggota arisan yang keluar dapat memilih barang yang diinginkan, dan pengelola arisan menyarankan barang yang harganya sesuai dengan total uang arisan.

5. Jika barang yang dipilih oleh anggota arisan tersebut kurang dari jumlah total uang arisan maka sisa uang arisan tidak dapat diuangkan, sisa tersebut menjadi milik ketua arisan dan apabila harga barang yang diambil lebih dari jumlah uang arisan maka, anggota yang memilih barang tersebut harus menambah sejumlah kekurangan yang ada sesuai dengan penjelasan ketua arisan sebelum arisan dimulai.18

18Heryani,Hasil Wawancara, Babat, 13 Maret 2023

Referensi

Dokumen terkait

Khiyar majlis adalah hak bagi penjual dan pembeli yang melakukan akad jual beli untuk membatalkan atau meneruskan akad jual beli selama mereka masih belum berpisah dari tempat

Ketentuan mengenai hak dan kewajiban penjual dan pembeli tersebut diatas, berlaku juga dalam transaksi jual beli secara elektronik, walaupun antara penjual dan pembeli tidak

Meskipun dalam pelakasanaan akad penjual dan pembeli tidak mengucapkan akad secara jelas namun jual beli dengan perbuatan (saling memberikan) atau dikenal muathah diperbolehkan

objek jual beli tersebut dipesan sesuai dengan kemauan para pembeli dan akan diterima dikeudian hari sebagaimana kesepakatan yang dibuat oleh pembeli (pemesan) dan penjual. Barang

Dalam transaksi di Pasar Terapung tersebut, penjual dan pembeli tetap melakukan akad jual beli (ijab qabul) sesuai dengan ketentuan hukum Islam, padahal sebenarnya situasi

Ketentuan mengenai hak dan kewajiban penjual dan pembeli tersebut diatas, berlaku juga dalam transaksi jual beli secara elektronik, walaupun antara penjual dan pembeli

Dalam hukum Islam dianjurkan bahwa, apabila pembeli (pedagang) membatalkan akad jual beli, maka penjual (petani) berkewajiban untuk mengembalikan uang muka

Dalam jual beli ini tidak ada yang dirugikan atau di untungkan penjual atau pembeli selain menggunakan sistem timbangan dalam jual beli merupakan salah satu cara yang sah dalam Islam