• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kualitas Pelayanan Kesehatan Berdasarkan PMKP di Rumah Sakit Swasta di Indonesia

N/A
N/A
dewi kartika

Academic year: 2024

Membagikan "Analisis Kualitas Pelayanan Kesehatan Berdasarkan PMKP di Rumah Sakit Swasta di Indonesia"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Dewi Kartika

Tugas Penulisan Ilmiah

Analisis mutu dan keselamatan pasien berdasarkan PMKP pada rumah sakit swasta di Indonesia

No Peneliti Judul Metode

penelitian

Hasil penelitian

1 Dedi Mulyadi (2013)

Analisis

Manajemen Mutu Pelayanan

Kesehatan Pada Rumah Sakit Islam Karawang

Kualitatif dengan pendekatan teriangulasi (gabungan)

Manajemen mutu pada rumah sakit Islam Karawang cukup baik dan mempunyai suatu sistem manajemen yang baik dalam penanganan terhadap pasiennya, namun masih terdapat sebagian kecil permasalahan yang terjadi dalam penanganan pelayanan yang bersumber dengan standar yang telah ada pada rumah sakit, dan telah memilki beberapa pelayanan namun pihak rumah, namun masih ada beberapa permasalahan yang terjadi dari segi SDM nya masih menjadi kendala terbesar, meskipun keseluruhan prosedur pelaksanaannya sudah sesuai dengan standar yang ada, serta dari standar manajemen mutu pelayanan kesehatan karena SDM yang paling dominan mendapatkan keluhan sehingga diperoleh bahwa masih terganggunya pelayanan yang aksimal terhadap pasien.

2 Francisco Gilberto (2014)

Human Error and Patient Safety In Health Services

Studi reflektif

Pada penelitian ini terdapat keselahan-kesalahan manusia yang berhubungan dengan banyak faktor di bidang kesehatan, sebab-sebab kesalahan ini melekat pada pasien, faktor-faktor kelembagaan, keuangan, struktural, dan manusia, seperti kurangnya pengetahuan dan kemampuan sumber daya manusia.

3 Widiya Wati (2019)

Analisis Kualtias Pelayanan Program Jaminan Kesehatan Nasional Di Ruang Rawat Inap Rumah

Kualitatif (indepth inteview) dengan pendekatan

Pada penelitian ini untuk kompenen input, kebijakan belum tersosialisasi dengan optimal, SDM masih kurang, serta sarana prasarana diruang rawat inap masih kurang, dan pada komponen proses, dimensi mutu tangibility terdapat kekurangan pada fasilitas diruang rawat inap seperti tidak adanya tirai pembatas, pendingin ruangan serta ruangan penuh sesak. Serta dimensi

(2)

Sakit X kabuupaten Kerinci

Focus group discussion

mutu, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty mendapat penilaian baik dan pada proses pengajuan klaim RS selalu terlambat setiap bulannya karena RS belum menggunakan SIMRS.

4 Anna Faluzi (2017)

Analisis Penerapan Upaya Pencapaian Standar Sasaran Keselamatan Pasien Bagi Profesional Pemberi Asuhan Dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Di Rawat Inap RSUP Dr. M. Djamil Padang

Kualitatif (indepth inteview) dengan pendekatan focus group discussion

Rumah sakit kekurangan SDM keperawatan dan farmasi, pengadaan sarana yang belum tercukupi seperti handraill, bel, wastafel, tissu. Budaya keselamatan pasien, budaya pelaporan IKP, serta kepatuhan profesional pemberi asuhan dalam implementasi SKP belum optimal, rata-rata capaian 89%. Output belum sesuai target 100%, dan juga asih terdapat KTD dan KNC.

5 Reno Afriza Neri (2018)

Analisis

Pelaksanaan Sasaran Keselamatan Pasien Di Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Padang Pariaman

Kualitatif (indepth inteview) dengan pendekatan focus group discussion

Kebijakan SPO di rumah sakit sudah lengkap namun tenaga penanggung jawab keselamatan pasien dalam hal ini tim keselamatan pasien belum bekerja optimal, metode sudah sesuai dengan pedoman yang ada, dana sudah mencukupi namun pengadaan sarana belum lengkap, dan kepatuhan petugas dalam pelaksanaan sasaran keselamatan pasien belum optimal, nilai rata-rata capaian 73,4% (standar 100%)

(3)

6 Agus Ariyano Haryoso (2019)

Strategi Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit

Umum Daerah

Kabupaten kepulauan seribu 2019-2023

Studi kualitatif dengan pendekatan faktor internal dan eksternal (IFE dan EVE)

Hasil penelitian ini semua pegawai rumah sakit bersemangat melaksanakan kegiatan yang ditetapkan, sumber daya keuangan yang sangat banyak merupakan faktor kekuatan. Akan tetapi, sosialisasi visi dan misi belum maksimal, belum menetapkan ptioritas program dan belum melakukan pengukuran mutu dan keselamatan pasien masih menjadi faktor kelemahan RSUD Kepulauan Seribu.

7 Aisah Nur Pertiwi (2016)

Analisis Perbedaan Kualitas Pelayanan Pada Pasien BPJS dan Pasien Umum Terhadap

Kepuasan Pasien di Rawat Jalan RSUD Kota Surakarta

Kuantitatif Penelitian ini menemukan adanya siginfikan kualitas pelayanan berdasarkan keselamatan pasien, efektivitas dan efisiensi, dan berorientasi pada pasien terhadap kepuasan pasien.

(4)

8 Melia Frastusi (2018)

Perbandingan Pengaruh Kinerja Mutu, Manajemen Pemasaran dan Audit Internal Terhadap

Akreditasi

Pelayanan Rumah Sakit Swasta di Palembang dan Pekanbaru

Kuantitatif Berdasarkan penelitian Akreditasi Pelayanan Rumah Sakit Swasta di Palembang dan Pekanbaru sudah baik namun tingkat kepatuhan dari manajemen rumah sakit swasta di Pekanbaru lebih tinggi, karena dari 26 rumah sakit 61,5 % terakreditasi sedangkan dari 28 rumah sakit swasta di Palembang hanya 50 % terakreditasi oleh KARS.

9 Dyna Safitri Rakhel mi (2018)

Analisis Penyebab Ketidaktepatanan Waktu Pelaporan Insiden

Keselamatan Pasien di RSU Bunda Thamrin

Kualitatif Ketidak tepatan waktu pelaporan insiden keselamatan pasien di RSU Bunda Thamrin disebabkan oleh rasa malas dan takut sehingga enggan untuk menuliskan kronologis insiden karena budaya keselamatan pasien yang belum menyeluruh di lingkungan rumah sakit.

10 Euis Komala Restiaw ati (2013)

Respon Pemimpin Rumah Sakit Terhadap Penerapan

Akreditasi Rumah

Kualitatif Pendekatan top down dengan sosialisasi dan pelatihan yang belum menyeluruh. Pemahaman direktur masih pada tujuan, metode penilaian dan bab yang dinilai, Kepala Bidang Perawatan mengatakan tujuan akreditasi adalah peningkatan mutu, dan melihat implikasi pada pelayanan, sedangkan Koordinator Pelayanan Perawatan hanya memahami akreditasi sebagai peningkatan mutu. Direktur belum melakukan tahap perencanaan yang

(5)

Sakit KARS Versi 2012

terstruktur, sehingga program bersifat reaktif. Persiapan akreditasi belum sepenuhnya berdampak pada perubahan perilaku terutama pada proses identifikasi dan budaya hand hygiene.

11 Arfella Dara Tristanti a (2018)

Evaluasi Sistem Pelaporan

Keselamatan Pasien di Rumah Sakit

Kualitatif Hasil evaluasi sistem pelaporan insiden keselamatan pasien di sebuah rumah sakit di Surabaya menunjukkan bahwa dari segi input telah ada kebijakan yang mengatur pelaporan insiden keselamatan pasien akan tetapi pada pelaksanaan kebijakan ini sayangnya masih belum sesuai, tidak ada dana yang secara langsung namun diberikan fasilitas untuk pembuatan laporan, para petugas telah diberikan sosialisasi namun adanya perbedaan pemahaman serta rasa tanggung jawab petugas, struktur organisasi tim keselamatan pasien telah ada, metode penyelesaian masalah belum

menggunakan PDSA (Plan, Do, Study, Action), teknologi yang digunakan sudah terkomputerisasi.

12 Saptono Putro (2018)

Apakah Status Akreditasi Rumah Sakit Memberikan Perbedaan

Pemberian Obat yang Benar dan Keselamatan pasien

Kuantitatif Kedua rumah sakit menunjukkan tingkat implementasi benar pemberian obat yang baik dan persepsi IKP yang rendah meskipun rumah sakit terakreditasi perdana menunjukkan gambaran yang sedikit lebih baik dibandingkan rumah sakit terakreditasi paripurna. Pada rumah sakit dengan akreditasi perdana menunjukkan bahwa semakin baik implementasi benar pemberian obat maka semakin rendah persepsi IKP menurut perawat maupun pasien. Tidak didapatkan hubungan serupa pada rumah sakit dengan status akreditasi paripurna, tidak ada perbedaan tingkat implementasi benar pemberian obat dan persepsi IKP menurut perawat maupun pasien

(6)

13 Fahmi Hakam (2017)

Analisis Sistem Dan Teknologi Informasi Sebagai Acauan Dalam Perancangan Rencana Strategis Sistem Informasi Dan Teknologi Informasi

(RENSTRA SI/TI) Di Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI

Kualitatif Temuan pada Rumah Sakit Islam Yogyakarta PDHI sudah menerapkan SIMRS, namun sistem informasi yang ada belum di dukung dengan dokumen legal yang digunakan sebagai arahan organisasi dalam pengembangan SI/TI, selain itu RSIY PDHI belum menyesuaikan dengan standar dan protokol arsitektur SI/TI, serta pengembangan SIM-RS yang berlaku.

14 Siti Kurnia Widi Astuti (2017)

Hubungan Mutu Pelayanan dengan Kepuasan Pasien Peserta BPJS di Rumah Sakit

Kualitatif Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara keduanya tangibility, reliability, responsiveness, assurance, empathy dan kepuasan pasien terhadap layanan kualitas. Variabel responsiveness tidak berpengaruh terhadap kepuasan.

(7)

Umum Daerah Yogyakarta

15 Lovi Krissand i Endari (2019)

Penerapan Sistem Teknologi

Informasi SI PRIMA dalam Melaksanakan Program Mutu Terintegrasi di RS Prima Husada

Kualitatif Hasil menunjukkan pada periode empat bulan setelah diterapkan sistem teknologi informasi didapatkan peningkatan akurasi dan efisiensi waktu proses pengumpulan data dan pelaporan serta hasil validasi data sebesar 73.1%. Peningkatan tersebut dua kali lebih besar bila dibandingkan dengan empat bulan sebelum diberlakukan sistem teknologi informasi. Kenaikan validitas dikarenakan beberapa faktor salah satunya adalah tersedianya sistem informasi yang memungkinkan hasil data program mutu tidak perlu diproses secara manual namun secara terintegrasi.

Referensi

Dokumen terkait

Jimmy Nadersyah : Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Jasa Kesehatan pada Rumah Sakit Swasta..., 2000... Jimmy Nadersyah : Analisis Faktor – Faktor yang

Penyusunan skripsi ini telah berdasarkan penelitian tentang perbedaan kepuasan pasien dirumah sakit negeri dengan rumah sakit swasta di daerah surakarta, dan pada kesempatan

Rumah sakit wajib melaksanakan standar keselamatan pasien, komite medik rumah sakit dalam upaya melindungi keselamatan pasien melalui proses kredensial dan

“Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien Pengguna Asuransi Kesehatan JAMKESMAS di Rumah Sakit Umum.

Dievaluasinya peningkatan mutu RSIA Putra Dalima melalui pemantauan indikator mutu dan keselamatan pasien yang telah ditetapkan berdasarkan standar PMKP 3 dan 7 dalam

Promosi Kesehatan di Rumah Sakit adalah upaya Rumah Sakit untuk meningkatkan kemampuan pasien, klien, dan kelompok-kelompok masyarakat, agar pasien dapat

Perizinan rumah sakit merupakan regulasi eksternal yang diterapkan bagi seluruh rumah sakit (pemerintah ataupun swasta) yang bertujuan untuk melindungi keselamatan masyarakat

Berdasarkan identifikasi tersebut, dapat diketahui bahwa masih ada 7 permasalahan kritis yang dialami oleh pasien rawat inap ketika memperoleh layanan jasa dari rumah