• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENGARUH RETURN ON EQUITY (ROE), NET PROFIT MARGIN (NPM) DAN EARNING PER SHARE (EPS) TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) PERIODE 2015 - 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "ANALISIS PENGARUH RETURN ON EQUITY (ROE), NET PROFIT MARGIN (NPM) DAN EARNING PER SHARE (EPS) TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) PERIODE 2015 - 2019"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH RETURN ON EQUITY (ROE), NET PROFIT MARGIN (NPM) DAN EARNING PER SHARE (EPS) TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN PERKEBUNAN

KELAPA SAWIT YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) PERIODE 2015 - 2019

JURNAL ILMIAH

Disusun oleh :

Farel Abhinaya 175020407111011

JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2021

(2)

31.7 31.48

34.94

43.9 51,8

2015 2016 2017 2018 2019

Dalam Juta Ton

Produksi CPO Indonesia Tahun 2015 - 2019

Produksi CPO Indonesia Tahun 2015 - 2019 Gambar 1 1 Produksi CPO Indonesia Tahun 2015-2019

Analisis Pengaruh Return On Equity (ROE), Net Profitt Margin (NPM) dan Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

(BEI) Periode 2015 - 2019 Farel Abhinaya

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Email: [email protected]

ABSTRAK

Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan bagi Indonesia karena menjadi penyumbang devisa terbesar bagi negara dibanding dengan komoditas lainnya. Hal ini disebabkan karena tingginya permintaan akan minyak mentah sawit semenjak diberlakukannya kebijakan penggunaan bahan bakar nabati (biodiesel). Namun, sentimen positif tersebut tidak sejalan dengan pergerakan harga saham industri kelapa sawit yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh rasio profitabilitas terhadap harga saham perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019. Dalam penelitian ini rasio profitabilitas diukur dengan Return On Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM) dan Earning Per Share (EPS).

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel ROE tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Sedangkan, variabel NPM dan EPS memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Secara simultan, variabel ROE, NPM dan EPS memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.

Kata kunci: Kelapa Sawit, Harga saham, Rasio Profitabilitas, ROE, NPM, EPS,

A. PENDAHULUAN

Pasar saham di Indonesia dikelompokkan menjadi sembilan sektor usaha yang mana di dalamnya terdapat sektor usaha pertanian. Dalam sektor pertanian terdapat empat subsektor, yaitu subsektor perikanan, subsektor tanaman pangan, subsektor peternakan dan subsektor perkebunan. Diantara keempat subsektor tersebut, subsektor perkebunan merupakan bidang usaha yang didominasi oleh perusahaan kelapa sawit. Kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan utama di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi dibandingkan dengan komoditas perkebunan lainnya dan merupakan salah satu penyumbang devisa negara terbesar (Fauzi et al, 2012). Produk utama dari kelapa sawit terdapat pada minyak mentah sawit (crude palm oil / CPO). Hal tersebut membuat Indonesia menjadi negara dengan produsen CPO terbesar di dunia, dengan total produksi CPO tahun 2019 mencapai 51,8 juta ton (Investor Daily, 2020).

Sumber : Katadata 2020, data diolah

(3)

0 2,000,000 4,000,000 6,000,000 8,000,000 10,000,000 12,000,000

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

KL

Produksi dan Konsumsi Biodiesel 2009 - 2019

Produksi Konsumsi

Gambar 1 2 Produksi dan Konsumsi Biodiesel 2009-2019

Mengutip data dari Katadata (2019) kelapa sawit memberikan kontribusi devisa yang tak kalah dari sektor batu bara, yaitu sebesar US$ 20,54 miliar atau setara dengan Rp 289 triliun pada 2018-data BPS. Sedangkan untuk sektor batu bara menyumbang devisa negara sebesar US$18,9 miliar atau setara dengan Rp 265 triliun. Tidak heran apabila kelapa sawit menjadi komoditas andalan Indonesia dan menjadi penyumbang devisa negara terbesar.

Tingginya angka produksi CPO Indonesia tentu ada faktor pemicunya. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi tingginya produksi CPO Indonesia adalah kenaikan permintaan dari dalam negeri. Permintaan domestik pada tahun 2019 mengalami kenaikan sangat tinggi mencapai 16,7 juta ton CPO atau setara dengan 24%

dari total produksi keseluruhan. Tingginya permintaan ini disebabkan oleh konsumsi biodiesel yang tinggi yaitu sebesar 49%, kemudian disusul dengan pangan 14% dan oleokimia sebesar 9% (Investor Daily 2020). Biodiesel menjadi hal yang menarik karena komitmen Indonesia dalam menjaga kelestarian lingkungan dengan menggalakkan program Bahan Bakar Nabati (BBN). Berdasarkan penjelasan dari EBTKE Kemeterian ESDM (2019) program ini berlandaskan hukum melalui Peraturan Menteri ESDM No. 32 Tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga BBN sebagai Bahan Bakar Lain sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Menteri ESDM No. 12 Tahun 2015.

Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang berasal dari minyak nabati dengan tingkat kebahayaan terhadap lingkungan yang lebih rendah dibandingkan dengan solar konvensional. Kandungan yang dimiliki oleh biodiesel memiliki kemiripan dengan solar konvensional, namun lebih ramah lingkungan (Gebremariam dan Marchetti, 2018:

74-84). Penggunaan biodiesel dapat meningkatkan kualitas lingkungan karena bersifat degreabel (mudah terurai) dan mengeluarkan emisi yang lebih sedikit dibandingkan dengan pembakaran bahan bakar fosil. Dorongan akan kepedulian terhadap lingkungan menjadi pemicu tingginya kebutuhan biodiesel di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari grafik peningkatan produksi biodiesel di Indonesia dari tahun 2009 – 2019.

Sumber : Katadata 2020, data diolah

Namun, sentimen positif dari industri kelapa sawit tidak sejalan dengan pergerakan harga saham perusahan subsektor kelapa sawit. Meskipun ada isu positif terkait penggunaan biodiesel dan tingginya angka produksi CPO, namun tidak terlihat adanya dampak yang signifikan dari pergerakan saham perusahaan subsektor kelapa sawit yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini dapat terlihat dari harga penutupan pada saham Gozco Plantation Tbk (GZCO) tahun 2014 harga sahamnya berada di angka Rp.135, namun pada closing price tahun 2017 harga sahamnnya hanya mencapai Rp.62 per lembar saham. Hal serupa juga terjadi dengan emiten Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) yang mana harga saham penutupan tahun 2014 berada di angka Rp.500 per lembar saham, lalu turun hingga Rp.163 pada harga penutupan 2017. Penurunan ini kemudian berdampak kepada pergerakan harga indeks sektor pertanian yang mengalami penurunan juga. Dalam indeks pertanian terdapat 24 emiten terdaftar dimana 15 diantaranya merupakan perusahan yang bergerak di bidang kelapa sawit dan sisanya masing-masing bergerak dalam bidang perikanan, peternakan, dan tanaman.

(4)

1753

2284 2146 2062 2139 2351

1741 1864

1616 1564 1524

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

CLOSING PRICE INDEKS HARGA SEKTOR PERTANIAN 2009 - 2019

Closing Price Indeks Harga Sektor Pertanian

Gambar 1 3 Closing Price Indeks Harga Sektor Pertanian 2009-2019

Sumber : Investing 2020, data diolah

Penurunan harga saham yang terjadi akan membuat investor memberikan penilaian yang buruk terhadap kinerja perusahaan dalam mengelola usahanya. Hal ini akan berdampak kepada minimnya jumlah dana yang akan ditanamkan oleh investor karena harga saham merupakan salah satu faktor yang menggambarkan kinerja perusahaan. Jika harga saham mengalami penurunan, maka kinerja perusahaan akan dinilai buruk dan pembelian saham akan menurun (Arifin dan Agustami, 2016). Banyak faktor yang mempengaruhi pergerakan harga saham, investor dapat mengetahuinya dengan salah satu cara yaitu melakukan analisis fundamental. Menurut Martalena dan Malinda (2011) analisis fundamental adalah mengestimasi nilai faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan datang dan menerapkan hubungan antar variabel tersebut untuk mempraktekkan harga saham di masa mendatang.

Variabel yang dijelaskan dapat diambil dari laporan keuangan perusahaan. Menurut Tyas dan Saputra (2016) untuk melakukan analisis diperlukan tolak ukur. Penelitian ini menggunakan tolak ukur berupa rasio keuangan, yaiu rasio profitabilitas.

Profitabilitas adalah margin keuntungan yang mengukur seberapa besar tingkat keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan. Semakin tinggi tingkat keuntungan maka semakin baik pengelolaan manajemen perusahaan (Sutrisno, 2012: 222). Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan memperoleh laba dari penjualan, aset yang dimiliki dan ekuitasnya. Rasio ini dapat diukur dengan beberapa indikator seperti Return on Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), dan Earning Per Share (EPS).

Return on Equity (ROE) adalah kemampuan perusahaan untuk menggunakan modalnya untuk menciptakan laba (Filbert, 2020). ROE sering digunakan oleh pemegang saham untuk mengevaluasi kinerja perusahaan terkait, selain itu ROE juga digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian modal perusahaan (Sawir, 2005). Dalam penelitian ini komponen ROE yang digunakan ialah laba bersih setelah pajak. Tambun (2007) mengemukakan bahwa semakin tinggi ROE yang dihasilkan suatu perusahaan maka semakin tinggi pula harganya. Selain melihat kemampuan perusahaan dalam mengelola modal, investor tentunya juga akan melihat perbandingan laba bersih dan penjualan perusahaan.

Rasio Net Profit Margin (NPM) dapat menunjukkan perbandingan laba bersih dan penjualan suatu perusahaan.

Menurut Fahmi (2012) NPM merupakan rasio yang digunakan untuk menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Rasio ini merupakan indikator penting bagi investor untuk menilai suatu perusahaan. NPM yang kecil menandakan keuntungan atas usaha yang dilakukan terlalu tipis sehingga menyebabkan risiko di kemudian hari, relatif kecil bila di bawah inflasi Indonesia, akan lebih baik jika di atas 10% (Filbert, 2020). Jadi, semakin tinggi NPM maka pendapatan yang akan diterima oleh pemegang saham juga akan meningkat. Besarnya jumlah pendapatan per lembar sahamnya dapat digambarkan oleh rasio Earning Per Share (EPS).

EPS adalah jumlah keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham setelah dikurangi pajak pendapatan, dengan cara membagi jumlah keuntungan yang tersedia untuk pemegang saham biasa dengan lembar saham biasa yang beredar (Diniarti, 2007). Investor tentu akan menanamkan modalnya apabila return yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan. Semakin tinggi EPS maka harga saham akan meningkat karena investor akan mengharapkan EPS yang tinggi. Semakin besar laba yang disediakan tentu akan membuat pemegang saham senang (Darmadji, 2001 dalam Praditha, 2018).

(5)

Beberapa penelitian terdahulu dengan penggunaan variabel yang sama terlihat adanya inkonsistensi karena memberikan kesimpulan yang berbeda – beda. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Tyas dan Saputra (2016) menyatakan bahwa variabel ROE tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham. Sedangkan menurut Jiwandono (2014) variabel ROE memiliki pengaruh terhadap harga saham. Arifia dan Sany (2018) menyebutkan dalam penelitiannya bahwa variabel Net Profit Margin memiliki pengaruh positif terhadap harga saham. Namun, penelitian mereka tidak sejalan dengan Astrid dan Iin (2012) menyatakan bahwa Net Profit Margin tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Penelitian yang dilakukan oleh Arifin dan Agustami (2016) menyatakan bahwa variabel EPS memiliki pengaruh positif terhadap harga saham. Hal ini berseberangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tyas dan Saputra (2016) yang menyatakan bahwa EPS tidak berpengaruh secara parsial terhadap harga saham. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh Return on Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM) Dan Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2015 - 2019”.

B. TINJAUAN PUSTAKA Investasi

Menurut Tandelilin (2017) investasi adalah janji untuk mengorbankan konsumsi saat ini (sacrifice current consumption) untuk meningkatkan konsumsi di masa depan. Investasi juga didefinisikan sebagai sebagai komitmen sejumlah dana atau sumber daya lain yang dibuat pada saat ini, dengan tujuan memperoleh beberapa manfaat di masa datang. Dalam arti yang lebih luas, ketika seseorang memutuskan untuk tidak membelanjakan semua pendapatannya saat ini, dia menghadapai keputusan investasi. Jenis investasi ini adalah mata uang yang digunakan untuk meningkatkan konsumsi di masa depan, sehingga investasi dapat dipahami sebagai konsumsi yang ditangguhkan.

Istilah investasi bisa berkaitan dengan berbagai macam aktivitas. Menginvestasikan sejumlah dana pada aset riil (tanah, emas, mesin, atau bangunan) maupun aset finansial (deposito, saham, reksa dana, sukuk, ataupun obligasi) merupakan aktivitas investasi yang umumnya dilakukan. Adapun pihak-pihak yang melakukan kegiatan investasi disebut sebagai investor. Investor pada umumnya bisa digolongkan menjadi dua, yaitu investor individual (individual / retail investor) dan investor institusional (institutional investor). Investor individual terdiri atas individu-individu yang melakukan aktivitas investasi. Sedangkan investor institusional, biasanya terdiri atas perusahaan-perusahaan asuransi, lembaga penyimpan dana (bank dan lembaga simpan pinjam) lembaga dana pensiun, maupun perusahaan investasi (Tandelilin, 2017).

Pasar Modal

Pasar modal adalah tempat atau sarana bertemunya antara permintaan dan penawaran atas suatu instrumen keuangan jangka panjang umumnya lebih dari 1 (satu) tahun. Menurut undang-undang, pasar modal didefinisikan sebagai kegiatan yang berkaitan dengan penawaran umum dan transaksi efek, perusahaan tercatat yang terkait dengan efek yang diterbitkan serta lembaga dan pekerjaan yang terkait dengan efek (Samsul, 2006). Kegiatan di dalam pasar modal dikelola secara terorganisir dengan aktivitas perdagangan surat berharga, seperti saham, obligasi, option, warrant, right, dengan menggunakan jasa perantara, komisioner, dan underwriter (Sudirman, 2015).

Dalam pasar modal, pihak yang membutuhkan dana disebut emiten (perusahaan) dan pihak yang kelebihan dana disebut investor. Investor di dalam pasar modal berasal dari kalangan masyarakat yang ingin menanamkan modalnya di suatu perusahaan. Pasar modal sejatinya merupakan sarana yang diarahkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menunjang pembangunan, serta pembiayaan nasional yang berguna untuk mendorong ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Sudirman, 2015).

Efisiensi Pasar

Menurut Tandelilin (2017), pasar modal efisien adalah pasar di mana harga semua sekuritas yang diperdagangkan telah mencerminkan semua informasi yang tersedia. Konsep tersebut menyiratkan terdapat sesuatu proses penyesuaian harga sekuritas menuju harga keseimbangan yang baru, sebagai reaksi atas data baru yang masuk ke pasar.

Perihal terpenting dari mekanisme pasar ialah harga yang tercipta tidak bias dengan taksiran harga keseimbangan.

Harga keseimbangan akan tercipta sehabis investor telah sepenuhnya memperhitungkan akibat dari informasi tersebut.

Menurut Tandelilin (2017) dalam menilai efisiensi pasar terdapat aspek penting, yaitu kecepatan suatu informasi baru yang diserap pasar kemudian menyesuaikan harga menuju keseimbangan yang baru. Pada pasar yang efisien harga sekuritas akan dengan cepat terevaluasi dengan adanya informasi penting yang berkaitan dengan sekuritas tersebut.

(6)

Saham

Menurut Budiantara (2012) saham merupakan surat berharga yang dikeluarkan oleh emiten untuk diperjual belikan, yang kemudian apabila seseorang membelinya maka akan menjadi pemilik perusahaan. Saham merupakan salah satu pilihan bagi investor yang ingin menanamkan modalnya.

Saham memiliki wujud berbentuk selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut. Membeli saham termasuk kegiatan berinvestasi. Imbalan yang akan diperoleh bagi pemilik saham adalah kemampuannya memberikan keuntungan yang tidak terhingga, tidak terhingga yang dimaksud adalah tergantung perkembangan perusahaannya (Zahroh, 2015).

Teori Sinyal (Signalling Theory)

Teori sinyal (signalilling theory) adalah salah satu teori yang penting dalam kita memahami dasar manajemen keuangan. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Spence (1973) yang menyatakan bahwa pihak pemilik informasi memberikan sebuah isyarat atau sinyal berupa informasi yang bermanfaat atas suatu kondisi perusahaan kepada pihak penerima (investor). Teori sinyal menjelaskan tentang pandangan manajemen terhadap pertumbuhan suatu perusahaan di masa yang akan datang, di mana akan berpengaruh terhadap respon calon investor kepada perusahaan. Sinyal yang ada ialah berupa suatu informasi yang menjelaskan tentang upaya manajemen perusahaan dalam mewujudkan keinginan pemilik (Brigham dan Houston, 2014).

Menurut Jogiyanto (2011), informasi yang telah disampaikan oleh perusahaan dan diterima oleh investor akan diinterpretasikan dan dianalisis terlebih dahulu apakah informasi tersebut dianggap sinyal positif atau sinyal negatif.

Apabila berupa informasi positif maka investor akan merespon secara positif dan dapat membedakan antara perusahaan yang bagus dan tidak. Hal ini tentu akan berdampak kepada semakin tinggi dan bernilai suatu perusahaan.

Namun, apabila investor memberikan sinyal negatif maka menandakan bahwa keinginan investor untuk berinvestasi semakin menurun yang mana mempengaruhi penurunan nilai perusahaan.

Adapun informasi yang ada dapat berupa dividen dari perusahaan. Hal ini dapat dijelaskan oleh dividend signalling theory yang menerangkan bahwa dividen yang dibayarkan mengandung informasi. Dividend signalling theory berdasarkan pada asumsi bahwa dividen diperlukan untuk memberikan informasi yang positif dari manajemen perusahaan yang memiliki informasi positif tentang kondisi perusahaan kepada investor. Dividen signalling theory adalah teori yang menyatakan bahwa investor menganggap dividen perusahaan sebagai pertanda bagi perkiraan manajemen atas laba. Apabila dividen mengalami kenaikan maka akan ada kecenderungan harga saham mengalami kenaikan. Dividen sejatinya tidak akan menyebabkan kenaikan atau penurunan harga saham, namun peluang terhadap masa depan oleh perusahaan yang ditunjukkan oleh meningkatnya dividen yang dibayarkan dapat menjadi penyebab perubahan harga saham (Atmaja, 2013).

Analisis Saham

Sebelum melakukan pembelian saham, ada baiknya seorang investor melakukan analisis terlebih dahulu terhadap saham yang ingin dibeli. Dalam menganalisis saham, Tandelilin (2017) memperkenalkan pendekatan analisis fundamental secara top-down approach. Tahapan ini dilakukan dengan menganalisis kondisi makroekonomi terlebih dahulu kemudian melakukanan analisis industri dan terakhir ialah analisis perusahaan. Investor juga biasa menambahkan analisis teknikal untuk dapat menentukan kapan waktu untuk beli dan jual.

Rasio Profitabilitas

Menurut Djarwanto (2004) rasio profitabilitas merupakan alat untuk mengukur efektivitas manajemen perusahaan yang dapat dilihat dari investasi melalui kegiatan penjualan. Dalam menilai suatu perusahaan yang memiliki prospek cerah di masa depan, pertumbuhan profitabilitas merupakan alat yang pas. Menurut Tandelilin (2017) rasio profitabilitas penting untuk mengetahui sejauh mana kegiatan investasi dilakukan di suatu perusahaan dan mampu memberikan imbal hasil yang sesuai diinginkan. Dalam penelitian ini digunakan rasio profitabilitas dengan rasio yang digunakan, yaitu Return On Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM) dan Earning Per Share (EPS).

1. Return On Equity (ROE)

Menurut Pande dan Nyoman (2018) Return on Equity (ROE) adalah indikator untuk mengukur kemampuan dari modal perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bagi seluruh investornya. Semakin tinggi ROE akan membuat investor tertarik menanamkan modalnya di perusahaan, hal ini akan memberikan penilaian bagi investor bahwa perusahaan tersebut baik dalam mengelola modal yang dimiliki. ROE yang tinggi menandakan perusahaan mampu dalam mengelola investasi perusahaan dan dapat melakukan manajemen biaya yang efektif (Van Horne dan Warchowicz, 2008). ROE dapat dihitung membandingkan laba bersih setelah dikurangi pajak dengan total ekuitas.

(7)

𝑅𝑂𝐸 = 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑆𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠

2. Net Profit Margin (NPM)

Net Profit Margin (NPM) merupakan salah satu rasio yang digunakan dalam mengukur laba bersih yang dihasilkan perusahaan oleh setiap penjualan (Hutami, 2012). Menurut Van Horne dan Warchowicz (2008) NPM adalah ukuran profitabilitas perusahaan dari hasil penjualan setelah memperhitungkan biaya – biaya dan pajak pendapatan.

NPM yang semakin tinggi dianggap baik karena perusahaan dinilai mampu untuk mendapatkan laba yang tinggi. NPM dapat dihitung dengan membagi laba bersih dengan total pendapat perusahaan.

NPM = Laba Bersih Total Pendapatan 3. Earning Per Share (EPS)

Earning per Share (EPS) merupakan rasio yang digunakan untuk membandingkan laba bersih setelah pajak dengan harga per lembar saham. Menurut Kasmir (2013:207) EPS adalah rasio laba per lembar saham atau disebut juga dengan rasio nilai buku, merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur keberhasilan manajemen perusahaan dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham.

Membeli saham sama dengan membeli prospek perusahaan yang tercermin dari laba per lembar saham (Nurriqli dan Sofyan, 2018). Semakin besar rasio ini akan semakin baik bagi perusahaan. EPS dapat dihitung dengan formula, sebagai berikut :

𝐸𝑃𝑆 = 𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟

Hubungan Antar Variabel

1) Pengaruh Return On Equity (ROE) Terhadap Harga Saham

Semakin tinggi ROE maka semakin baik karena rasio ini menunjukkan bahwa perusahaan dapat menggunakan modalnya seefisien mungkin dalam menghasilkan laba. Bagi para investor rasio ini biasa dijadikan tolak ukur karena menunjukkan seberapa besar tingkat pengembalian perusahaan dari modal yang dimiliki. ROE sendiri merupakan rasio yang mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri (Kasmir, 2013). Pada penelitian yang dilakukan oleh Pande dan Nyoman (2018) variabel ROE memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arifia dan Sany (2018) yang menunjukkan bahwa ROE berpengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham. Hal ini menunjukkan bahwa investor cenderung tidak menggunakan analisis fundamental dalam pengambilan keputusan investasinya.

2) Pengaruh Net Profit Margin (NPM) Terhadap Harga Saham

Net Profit Margin (NPM) adalah indikator yang menganalisis kapasitas perusahaan untuk mendapatkan keuntungan dari tingkat penjualan tertentu. Menurut Kasmir (2013) margin laba bersih adalah proporsi keuntungan dengan melihat keuntungan setelah bunga dan pajak dibandingkan dengan penjualan. Indikator ini menunjukkan keuntungan bersih perusahaan atas penjualan. Semakin tinggi tingkat NPM maka keuntungan bersih yang didapat oleh perusahaan semakin besar. Penelitian yang dilakukan oleh Rescyana dengan judul “Pengaruh Dividend Per Share, Return On Equity dan Net Profit Margin Terhadap Harga Saham Perusahaan Industri Manufaktur Yang Tercatat Di Bursa Efek Indonesia” menyimpulkan bahwa variabel NPM berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham. Hal ini sesuai dengan penelitian Rizqi dan Rishi (2016) serta Arifia dan Sany (2018) yang menyatakan bahwa rasio ini mempengaruhi harga saham.

3) Pengaruh Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham

Earning Per Share suatu perusahaan digunakan sebagai alat untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan dan membagikannya kepada pemegang saham, maka dari itu EPS merupakan salah satu pendekatan untuk mengukur pencapaian perusahaan dalam mendapatkan keuntungan bagi para pemilik saham dalam perusahaan (Tandelilin, 2017). Semakin tinggi nilai EPS suatu perusahaan, para investor akan tertarik untuk

(8)

membeli saham perusahaan. Sesuai penelitian Rosdian dan Ventje (2016) yang berjudul “Pengaruh Return On Assets (ROA), Net Profit Margin (NPM), dan Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Perbankan Di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015” menunjukkan bahwa EPS berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahan perbankan di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2011-2015. Penelitian yang dilakukan oleh Jiwandono (2014) dengan judul “Analisis Faktor Fundamental Terhadap Harga Saham Sektor Perbankan Yang Go Public Di Indeks Kompas 100” menunjukkan bahwa EPS berpengaruh terhadap harga saham.

Hal ini menunjukkan bahwa investor mempertimbangkan EPS dalam pengambilan keputusan karena EPS juga diidentifikasi dengan keuntungan perusahaan, dimana semakin tinggi EPS maka penawaran perusahaan juga menghasilkan keuntungan yang besar.

C. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Menurut (Siyoto dan Sodik 2015) penelitian kuantitatif adalah penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Demikian pula pada tahap kesimpulan, penelitian akan lebih baik bila disertai gambar, tabel, grafik, atau tampilan lainnya. Metode penelitian kuantitatif dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan dilakukan perhitungan dengan menggunakan alat yang objektif. Penelitian jenis kuantitatif termasuk kategori penelitian ilmiah.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa data – data kuantitatif. Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, atau data yang diangkakan (scoring) (Sugiyono, 2016). Data yang diperoleh untuk menunjang penelitian ini bersumber dari laporan kuangan perusahaan yang dipublikasikan oleh BEI yang dapat di akses di www.idx.co.id, kemudian data juga diperoleh dari website bps.go.id dan Kementerian Perindustrian.

Metode Analisis Data

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis data kuantitatif yaitu analisis regresi linier berganda.

Penulis dalam membantu menganalisis data dibantu dengan aplikasi komputer melalui program SPSS. Objek pada penelitian ini adalah perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di BEI periode 2015 – 2019.

D.HASILDANPEMBAHASAN Regresi Linear Berganda

Analisis regresi berganda merupakan suatu model yang digunakan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara variabel independen, yaitu ROE, NPM, dan EPS terhadap variabel dependen, yaitu harga saham. Berikut adalah hasil dari pengujian regresi dengan menggunakan alat bantu SPSS :

Tabel 4 1 Hasil Regresi

Model B Std. Error Beta t Sig

(constant) 6,371 ,161 39,592 ,000

ROE -1,677 ,000 -,002 -,020 ,984

NPM ,008 ,002 ,372 3,679 ,000

EPS ,002 ,000 ,386 3,824 ,000

Sumber : data diolah, 2021

Berdasarkan pada tabel di atas didapatkan persamaan regresi sebgai berikut :

Y = 6,371 ‒ 1,677 × 10-6 X1 + 0,008 X2 + 0,002 X3

Dari persamaan di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut :

a. Nilai konstanta a sebesar 6,371 mengartikan bahwa apabila semua variabel independen tidak dimasukkan dalam penelitian maka harga saham akan mengalami peningkatan sebesar 6,371%.

b. Koefisien regresi pada variabel ROE diperoleh sebesar –1,677 (negatif) yang artinya bahwa apabila ROE meningkat sebesar 1%, maka harga saham akan mengalami penurunan sebesar 1,677% dengan menganggap variabel lain konstan.

(9)

c. Koefisien regresi pada variabel NPM diperoleh sebesar 0,008 (positif) yang artinya bahwa apabila NPM meningkat sebesar 1%, maka harga saham akan mengalami peningkatan sebesar 0,008% dengan menganggap variabel lain konstan.

d. Koefisien regresi pada variabel EPS diperoleh sebesar 0,002 (positif yang artinya bahwa apabila EPS meningkat sebesar 1%, maka harga saham akan mengalami peningkatan sebesar 0,002% dengan menganggap variabel lain konstan.

Pengujian Hipotesis Uji T (Parsial)

Uji statistik t dilakukan untuk menguji apakah ada tidaknya pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen. Pengujian signifikansi secara parsial dapat diketahui melalui ringkasan pada tabel berikut :

Tabel 4 2 Hasil Pengujian Signifikansi Secara Parsial

Variabel Koefisien T Statistics Sig.

(Constant) 6,371 39,592 0,000

ROE -1,677 -0,020 0,984

NPM 0,008 3,679 0,000

EPS 0,002 3,824 0,000

Sumber : data diolah, 2021

Berdasarkan tabel di atas hasil pengujian hipotesis dapat dijelaskan sebagai berikut ; a. Pengaruh variabel ROE terhadap harga saham

Berdasarkan hasil pada tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai t statistik yang dihasilkan dari pengaruh ROE terhadap harga saham adalah sebesar -0,020 dengan nilai signifikansi sebesar 0,984. Nilai signifikansi tersebut diketahui lebih besar dari significant alpha 5% atau 0,05. Hal ini mengartikan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari ROE terhadap harga saham. Sehingga hipotesis 1 yang menyatakan Return On Equity berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di BEI periode 2015 – 2019 ditolak.

b. Pengaruh variabel NPM terhadap harga saham

Berdasarkan hasil pada tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai t statistik yang dihasilkan dari pengaruh NPM terhadap harga saham adalah sebesar 3,679 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Nilai signifikansi tersebut diketahui lebih kecil dari significant alpha 5% atau 0,05. Hal ini mengartikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari NPM terhadap harga saham. Sehingga hipotesis 2 yang menyatakan Net Profit Margin berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di BEI periode 2015 – 2019 diterima.

c. Pengaruh variabel EPS terhadap harga saham

Berdasarkan hasil pada tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai t statistik yang dihasilkan dari pengaruh EPS terhadap harga saham adalah sebesar 3,824 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Nilai signifikansi tersebut diketahui lebih kecil dari significant alpha 5% atau 0,05. Hal ini mengartikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari EPS terhadap harga saham. Sehingga hipotesis 3 yang menyatakan Earning Per Share berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di BEI periode 2015 – 2019 diterima.

Uji F (Simultan)

Pengujian F atau pengujian secara simultan dilakukan untuk menguji hipotesis mengenai ada atau tidaknya pengaruh variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen. Pengujian signifikansi dapat diketahui pada tabel berikut :

Tabel 4 3 Hasil Pengujian Signifikansi Secara Simultan

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Regression 79,095 3 26,365 16,601 0,000

Residual 112,762 71 1,588

Total 191,857 74

Sumber : data diolah, 2021

(10)

Berdasarkan pengujian pada tabel di atas, dapat dilihat nilai F hitung sebesar 16,601 dengan probabilitas 0,000.

Hal ini menunjukkan bahwa probabilitas < level of significant (α=5% atau 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari ROE, NPM, dan EPS secara simultan terhadap harga saham. Sehingga hipotesis 4 yang menyatakan ada pengaruh yang signifikan antara Return On Equity, Net Profit Margin, Earning Per Share secara bersama – sama terhadap harga saham perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di BEI periode 2015 – 2019 diterima.

Koefisien Determinasi (R²)

Uji koefisien determinasi dilakukan untuk mengetahui besarnya keragaman variabel independen dalam menjelaskan keragaman variabel dependen atau dengan kata lain untuk mengetahui besarnya kontribusi variabel independen terhadap variabel dependen. Koefisien determinasi dalam analisis dilambangkan dengan R2.

Tabel 4 4 Hasil Uji R-squared

Model R R Square Adjusted R Square

1 0,642 0,412 0,387

Sumber : data diolah, 2021

Nilai R-square pada model ini adalah 0,412 atau 41,2%. Hal ini dapat menunjukkan bahwa variabel harga saham mampu dijelaskan oleh variabel Return On Equity, Net Profit Margin, Earning Per Share¸sebesar 41,2% atau dengan kata lain kontribusi pengaruh variabel independen terhadap harga saham sebesar 41,2% sedangkan sisanya sebesar 58,8% merupakan kontribusi variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

Pengaruh Return On Equity (ROE) terhadap Harga Saham

Rasio return on equity (ROE) merupakan rasio yang menunjukkan kesuksesan manajemen perusahaan dalam menghasilkan tingkat pengembalian kepada pemegang saham, semakin besar ROE maka semakin baik. Berdasarkan hasil penelitian dari pengaruh ROE terhadap harga saham perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terdaftar di BEI periode 2015 – 2019 menunjukkan bahwa ROE tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Hal ini terlihat dari besarnya t statistik yang dihasilkan adalah -0,020 dengan nilai signifikansi 0,984 atau lebih besar dari signifikan alpha 0,05 yang artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari ROE terhadap harga saham. Hal ini menunjukkan bahwa apabila terdapat kenaikan ROE dari emiten perusahaan perkebunan kelapa sawit maka tidak akan berpengaruh kepada harga sahamnya. Kondisi ini cukup tergambarkan oleh rata-rata tahunan dari ROE perusahaan perkebunan kelapa sawit yang mengalami kenaikan dari tahun 2015 sampai 2019, namun tidak sejalan dengan pergerakan indeks sektor pertanian yang berjalan sebaliknya.

Kondisi ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jiwandono (2014) yang menyatakan bahwa variabel return on equity tidak berpengaruh terhadap harga saham karena investor dinilai tidak responsif terhadap informasi ini dalam mengambil keputusan investasi. Penelitian yang dilakukan oleh Raharjo dan Muid (2013) juga menemukan bahwa variabel ROE tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap harga saham.

Pengaruh Net Profit Margin (NPM) terhadap Harga Saham

Rasio net profit margin (NPM) merupakan rasio yang menunjukkan posisi keuntungan dari kegiatan bisnis sebagai persentase dari pendapatan atau penjualan bersih. Berdasarkan hasil dari penelitian pengaruh NPM terhadap harga saham perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terdaftar di BEI periode 2015 – 2019 menunjukkan bahwa NPM memiliki pengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Hasil tersebut dapat terlihat dari nilai t statistik sebesar 3,679 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang diketahui lebih kecil dari signifikansi alpha sebesar 0,05 yang artinya terdapat pengaruh signifkan NPM terhadap harga saham. Hal ini menunjukkan bahwa apabila terdapat kenaikan pada NPM maka akan mempengaruhi pergerakan harga saham perusahaan kelapa sawit secara positif.

Kondisi ini dapat tergambarkan oleh rata-rata tahunan dari NPM perusahaan perkebunan kelapa sawit yang mengalami penurunan dari tahun 2015 sampai 2019 dan ternyata diiringi juga oleh pergerakan indeks sektor pertanian yang mengalami penurunan dari tahun 2015 sampai 2019.

Hasil ini juga ditemukan oleh penelitian yang dilakukan oleh Riziqi dan Rishi (2016) yang menyatakan bahwa variabel NPM mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham. Hutami (2012) juga menemukan bahwa NPM memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Hal ini mengartikan bahwa investor mempertimbangkan rasio ini dalam pengambilan keputusan investasinya.

Pengaruh Earning Per Share (EPS) terhadap Harga Saham

Earning per share (EPS) merupakan rasio yang digunakan untuk menunjukkan berapa banyak keuntungan yang dihasilkan perusahaan tiap lembar sahamnnya. Rasio ini biasa digunakan oleh investor untuk menilai apakah

(11)

perusahaan tersebut mengahasilkan laba yang besar atau kecil. Berdasarkan hasil dari penelitian pengaruh EPS terhadap harga saham perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terdaftar di BEI periode 2015 – 2019 menunjukkan bahwa EPS memiliki pengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Hal ini ditunjukkan oleh nilai t statistik sebesar 3,824 dengan signfikansi 0,000 yang mana lebih kecil dari signifikansi alpha 0,05 yang artinya terdapat pengaruh signifikan EPS terhadap harga saham. Hal tersebut digambarkan oleh rata-rata tahunan EPS dari perusahaan perkebunan kelapa sawit yang mengalami penurunan dan didukung oleh penurunan pergerakan indeks sektor pertanian dari tahun 2015-2019.

Penelitian yang dilakukan oleh Rosdian dan Ventje (2016) juga menyimpulkan bahwa variabel EPS berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hal ini mengartikan bahwa dalam memperdagangkan saham, laba per saham dapat mempengaruhi harga saham karena para investor selalu memperhatikan akan pertumbuhan laba per saham perusahaan sehingga dapat mempengaruhi pergerakan harga saham.

Pengaruh antar Return On Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM) dan Earning Per Share (EPS) secara simultan terhadap harga saham

Pengaruh antara variabel ROE, NPM, dan EPS secara bersama – sama terhadap harga saham perusahaan perkebunan kelapa sawit di BEI periode 2015 – 2019 dapat dilihat dari nilai R-square hasil analisis. Hasil R-square dari analisis adalah 41,2%. Hal ini mengartikan bahwa seluruh variabel independen memiliki pengaruh sebesar 41,2%

dan sisanya sebesar 58,8% dipengaruhi oleh variabel lain. Hasil ini juga didukung oleh uji F yang menyatakan nilai F sebesar 16,601 dengan nilai probabilitas F hitung (sig) 0,000. Probabilitas F menghasilkan nilai yang lebih kecil dari level of significant 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa seluruh variabel independen berpengaruh secara bersama – sama terhadap harga saham.

E.KESIMPULANDANSARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh Return On Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), dan Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2015 – 2019” maka dapat disimpulkan hasil perhitungan dan pembahasan yang telah dilakukan sebagai berikut :

1. Variabel Return On Equity (ROE) diketahui tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terdaftar di BEI periode 2015 – 2019. Hal ini dikarenakan ROE merupakan rasio yang berkaitan dengan besaran dividen yang diterima. Investor yang melihat dividen dalam keputusan investasi biasanya merupakan investor jangka panjang. Sedangkan pada sektor kelapa sawiti, para investor cenderung berinvestasi dengan jangka pendek. Hal ini membuat ROE tidak terlalu dilirik oleh investor.

2. Variabel Net Profit Margin (NPM) diketahui memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terdaftar di BEI periode 2015 – 2019. Hal ini terjadi dikarenakan investor percaya kepada perusahaan yang dapat menghasilkan laba yang optimal namun dengan menekan biaya- biaya yang ada. Laba optimal yang dihasilkan perusahaan akan menarik perhatian investor dengan menanamkan modalnya pada perusahaan.

3. Variabel Earning Per Share (EPS) diketahui memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terdaftar di BEI periode 2015 – 2019. Hal ini mengartikan bahwa setiap terjadi kenaikan dari EPS akan berpengaruh kepada kenaikan harga saham juga. Investor tentunya melihat rasio EPS sebagai tolak ukur dalam keputusan investasinya karena rasio ini menggambarkan seberapa untung perusahaan atas lembar saham yang beredar.

4. Variabel Return On Equity, Net Profit Margin¸dan Earning Per Share berdasarkan hasil analisis diketahui secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.

Saran

Berdasarkan kesimpulan dan hasil penelitian yang telah diuraikan, maka penulis memberikan saran sebagai berikut:

1. Perusahaan perkebunan kelapa sawit di Bursa Efek Indonesia tahun 2015 – 2019 diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan kinerja keuangannya. Hal ini disarankan penulis karena ROE merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memberikan keuntungan bagi investor. ROE yang tinggi merupakan gambaran bahwa perusahaan optimal dalam mengelola investasinya.

2. Perusahaan perkebunan kelapa sawit di Bursa Efek Indonesia tahun 2015 – 2019 diharapkan dapat mempertahankan rasio NPM atau menekan biaya – biaya yang ada agar laba yang didapat bisa lebih maksimal lagi. NPM yang signifikan pada harga saham menandakan bahwa laba perusahaan yang tinggi menjadi daya tarik bagi para investor.

(12)

3. Perusahaan perkebunan kelapa sawit di Bursa Efek Indonesia tahun 2015 – 2016 diharapkan mampu mempertahankan laba per lembar sahamnya karena rasio EPS dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Investor yang baik tentunya akan melihat labar per lembar saham yang dihasilkan oleh perusahaan karena menggambarkan seberapa optimal perusahaan dalam menghasilkan laba.

DAFTARPUSTAKA

Agnes Sawir. 2005. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Astri Wulandari dan Iin Indarti. 2012. “Pengaruh Net Profit Margin (NPM), Return On Assets (ROA) dan Return On Equity (ROE) Terhadap Harga Saham yang Terdaftar Dalam Indeks Emiten LQ45 Tahun 2008 – 2010” dalam Jurnal Kajian Akuntansi dan Bisnis Volume 1. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Widya Manggala, Semarang.

Atmaja, L. S. 2013. Teori dan Praktek Manajemen Keuangan. Yogyakarta: Penerbit ANDI.

Budiantara, M. 2012. Pengaruh Tingkat Suku Bunga, Nilai Kurs dan Inflasi Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2005 – 2010” dalam Jurnal Sosiohumaniora Volume 3 Nomor 3.

Brigham, Eugene F.dan Joel F. Houston. 2014. Dasar – dasar manajemen keuangan. Edisi 11. Jakarta : Salemba Empat.

Darmaji, Tjiptono dan Fakhruddin. 2012. Pasar Modal Di Indonesia. Jakarta : Salemba Empat.

Diniarti, Irma. 2007. “Analisis Pengaruh Earning Per Share, Total Aktiva, dan Kurs Rupiah yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia” dalam jurnal Ekonomi Akuntasi Volume 15. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi (EBTKE).2019.FAQ:Program Mandatori Biodiesel 30% (B30). https://ebtke.esdm.go.id/post/2019/12/19/2434/faq.program.mandatori.biodie

sel.30.b30. Diakses pada 30 Desember 2020.

Djarwanto. 2004. Pokok – Pokok Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: BPFE.

Fahmi, Irham. 2012. “Analisis Kinerja Keuangan”, Bandung: Alfabeta.

Fauzi, Yan, Satyawibawa, Iman, Yustinan dan Rudi H. 2012. Kelapa Sawit. 1st ed. Bogor: Penebar Swadaya.

Filbert, Ryan. 2020. Trading vs Investing. Cetakan ke-8. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.

Gebremariam, S.N, Marchetti, J.M. 2018.”Economics of Biodiesel Production”. Energy Conversion and Management.

Norwegian University of Life Sciences. Norway.

Ghozali, Imam. 2018. Aplikasi Analisis Multivariete Dengan Program IBM SPSS 25 (Edisi 9).Cetakan ke IX.

Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Gujarati, Damodar N. 2012. Dasar – Dasar Ekonometrika Buku 2 (Edisi 5). Jakarta : Salemba Empat.

Hutami, R.P. 2012. “Pengaruh Dividend Per Share, Return On Equity, dan Net Profit Margin Terhadap Harga Saham Perusahaan Industri Manufaktur Yang Tercatat Di Bursa Efek Indonesia Periode 2006-2010” dalam Jurnal Nominal Volume 1 Nomor 1. Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta.

Indopremier. 2018. Indsutri Sawit Kontribusi Rp177 Triliun Terhadap Devisa.

https://www.indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?jdl=Industri_Sawit_K ontribusi_Rp177_Triliun_Terhadap_Devisa&news_id=95724&group_news=I POTNEWS&news_date=&taging_subtype=KOMODITAS&name=&search=y_

general&q=sawit&halaman=1. Diakses pada 31 Desember 2020.

(13)

James C. Van Horne, John M. Wachowicz. 2008. Fundamentals of Financial Management. England: Pearson Education Limited.

Jiwandono, Teguh. 2014.”Analisis Faktor Fundamental Terhadap Harga Saham Sektor Perbankan Yang Go Public di Indeks Kompas 100” dalam Jurnal Ilmu Manajemen I Volume 2. Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia.

Jogiyanto, Hartono. 2007. Teori Portofolio dan Analisis Investasi.Yogyakarta : BPFE.

Jogiyanto, Hartono. 2011. Metodologi Penelitian Bisnis.Yogyakarta: BPFE.

Kasmir. 2013. Analisis Laporan Keuangan (Edisi Pertama). Cetakan keenam. Jakarta: Penerbit PT.RajaGrafindo Persada.

Lokadata. Volume produksi kelapa sawit (CPO), 2000-2018. https://lokadata.beritagar.id/chart/preview/volume- produksi-kelapa-sawit-cpo- 2000-2018-1550473390. Diakses pada 1 Januari 2021.

Martalena, dan Malinda. 2011. Pengantar Pasar Modal. Edisi Pertama. Yogyakarta: Andi.

Nita Fitriani Arifin dan Silviana Agustami. 2016 ”Pengaruh Likuiditas, Solvabilitas, Profitabilitas, Rasio Pasar, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Harga Saham (Studi Pada Perusahaan Subsektor Perkebunan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010 – 2014)” dalam Jurnal Riset Akuntansi & Keuangan Volume 4 (hlm.

1189 – 1210) Program Studi Akuntansi, FPEB, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia.

Nurriqli, Arifia dan Sofyan, Sany. 2018.”Pengaruh Faktor – Faktor Fundamental Terhadap Harga Saham (Studi Pada Perusahaan Sub Sektor Pertambangan Batubara yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2012 – 2015)” dalam Jurnal KINDAI Volume 14 (hlm 1 – 11). Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pacasetia Banjarmasin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Pande, W.R, Nyoman A. 2018.”Pengaruh EPS, PER, CR, dan ROE Terhadap Harga Saham di Bursa Efek Indonesia”

dalam Jurnal Manajemen Unud Volume 7, Nomor 4. Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Udayana, Bali, Indonesia.

Rizqi Aning Tyas dan Rishi Septa Saputra. 2016. “Analisis Pengaruh Profitabilitas Terhadap Harga Saham (Studi Kasus Perusahaan Telekomunikasi Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2012-2014” dalam Jurnal Online Insan Akuntan Volume 1 Nomor 1. Program Studi Akuntansi, Akademi Akuntansi Bina Insani, Bekasi Timur.

Samsul, Mohamad. 2006. Pasar Modal & Manajemen Portofolio. Universitas Airlangga: PT Gelora Aksara Pratama.

Suad, Husnan. 2005. Dasar – Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Yogyakarta : UPP YKPN.

Sutrisno. 2012. Manajemen Keungan Teori, Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: EKONISIA.

Siyoto, Sandu dan Ali Sodik.2015.Dasar Metodologi Penelitian.Yogyakarta: Literasi Media Publishing.

Sudirman. 2015. Pasar Modal dan Manajemen Portofolio. Gorontalo : Sultan Amai Press.

Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT Alfabeta.

Suharyadi dan Purwanto. 2004. Metodologi Penelitian. Jakarta : Gramedia Pustaka Umum.

Suharyadi dan Purwanto. 2009. Statistika Untuk Ekonomi dan Keuangan Modern. Jakarta : Salemba Empat.

Spence, Michael. 1973. Job Market Signaling. The Quarterly Journal of Economics, Vol. 87, No.3.

(14)

Syukra, Ridho. 2020. 2019, Produksi CPO-PKO Capai 51,8 Juta Ton. https://investor.id/business/2019-produksi- cpopko-capai-518- jutaton#:~:text=JAKARTA%2C%20investor.id%20%2D%20Produksi,dalam%

20beberapa%20tahun%20terakhir%20ini. Diakses pada 30 Desember 2020.

Tandelilin, Eduardus. 2010. Portofolio dan Investasi Teori dan Aplikasi. Yogyakarta : Kanisius.

Tambun. 2007. Menilai Harga Wajar Saham. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tambunan, Andy Porman. 2008. Menilai Harga Wajar Saham. Elex Media Komputindo.

Tim Riset dan Publikasi – Tim Publikasi Katadata. 2019. Kelapa Sawit Sebagai Penopang Perekonomian Nasional.

https://katadata.co.id/timrisetdanpublikasi/berita/5e9a4e6105c28/kelapa- sawit- sebagai- penopang-perekonomian-nasional. Diakses pada 30 Desember 2020.

Tim Publikasi Katadata. 2020. Produksi Biodiesel 2009-2018 Meningkat 3000 persen.

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/01/09/produksi-biodiesel- 2009-2018-meningkat- 3000-persen#. Diakses pada 31 Desember 2020.

Tim Publikasi Katadata. 2020. Konsumsi Biodiesel Sebesar 29% dari Total Energi Sektor Transportasi.

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/01/09/konsumsi- biodiesel- sebesar-29-dari- total-energi-sektor-transportasi. Diakses pada 31 Desember 2020.

Widiyanto, M.A. 2013. Statistika Terapan, Jakarta : PT Elex Media Komputindo

Yolanda, Friskan. 2020. Produksi Sawit 2019 Capai 51,8 Juta Ton. https://republika.co.id/berita/q54sje370/produksi- sawit-2019-capai-518-juta- ton. Diakses pada 1 Januari 2020.

Zahroh, Aminatuz. 2015. “Instrumen Pasar Modal” dalam Iqtishoduna Jurnal Ekonomi Islam I Volume 5. Jurusan Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Syarifuddin.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian mengenai Analisis Pengaruh Return On Assets (ROA), Net Profit Margin (NPM), Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham Dengan Price Earning Ratio (PER)

Mengetahui besarnya pengaruh Net Profit Margin (NPM), Return On Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER) terhadap return saham LQ45 di Bursa

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini akan menganalisis PENGARUH EARNING PER SHARE(EPS), DEBT TO EQUITY RATIO (DER) DAN RETURN ON EQUITY (ROE) TERHADAP

On Assets), ROE (Return On Equity), NPM (Net Profit Margin) dan EPS (Earning Per Share) terhadap Harga Saham pada sektor Perbankan yang terdaftar di Bursa

Kerangka Konseptual Pengaruh Earning Per Share (EPS) , Return On Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER) dan Net Profit Margin (NPM) terhadap Harga Saham. Earning

Untuk mengetahui Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Net Profit Margin (NPM) berpengaruh secara parsial terhadap Harga

PENGARUH NET PROFIT MARGIN (NPM), RETURN ON EQUITY (ROE), PRICE BOOK VALUE (PBV), DAN EARNINGS PER SHARE (EPS).. TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR

Dan dari uji F simultan diperoleh tingkat sig sebesar 0,003 < 0,05 jadi dapat disimpulkan bahwa Debt To Equity Rasio Der, Net Profit Margin Npm, Earning Per Share Eps, Return On Asset