• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis penyebab terjadinya cerai talak pada

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "analisis penyebab terjadinya cerai talak pada"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENYEBAB TERJADINYA CERAI TALAK PADA LANSIA DI PENGADILAN AGAMA KABUPATEN MALANG

(STUDI KASUS PERKARA NOMOR 3952/Pdt.G/2020/PA.Kab.Mlg)

SKRIPSI

OLEH:

SITI NUR KHOIRIYAH NPM. 21801012048

UNIVERSITAS ISLAM MALANG FAKULTAS AGAMA ISLAM

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM 2022

(2)

ANALISIS PENYEBAB TERJADINYA CERAI TALAK PADA LANSIA DI PENGADILAN AGAMA KABUPATEN MALANG (STUDI KASUS

PERKARA NOMOR 3952/Pdt.G/2020/PA.Kab.Mlg)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Islam Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Sarjana (S1)

Pada Studi Hukum Keluarga Islam

OLEH:

Siti Nur Khoiriyah NPM. 21801012048

UNIVERSITAS ISLAM MALANG FAKULTAS AGAMA ISLAM

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM 2022

(3)

ABSTRAK

Khoiriyah, Siti Nur 2022. Analisis Penyebab Terjadinya Cerai Talak Pada Lansia Di Pengadilan Agama Kabupaten Malang (Studi Kasus Perkara Nomor 3952/Pdt.G/PA.Kab.Mlg). Skripsi, Program Studi, Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Malang, Pembimbing 1: Dwi Ari Kurniawati, S.H, M.H. Pembimbing 2

Kata Kunci: Analisis, Cerai Talak, Usia Lansia

Perkawinan ialah ikatan lahir dan batin antara seorang wanita dan pria yang diwujudkan dalam bentuk rumah tangga yang harapannya mencapai kebahagia sakinnah mawadah warrahmah serta kekal berdasarkan ketuhanan yang maha Esa.

Pada dasarnya perkawinan termasuk hal yang penting guna memperoleh keseimbangan hidup dalam segi psikologis, biologis, bahkan sosial. Harapannya pernikahan hanya dilaksanakan sekali seumur hidup dan kekal hingga maut memisahkan, namun tak jarang pula keluarga yang gagal dalam membina rumah tangga mereka. Perjalanan dalam membina rumah tangga bukanlah hal yang mudah serta tidaklah mungkin tanpa adanya permasalahan apalagi hingga memasuki masa lansia yang pastinya dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab terjadinya keretakan rumah tangga yang berujung cerai talak pada lansia.

Atas latar belakang permasalahan yang telah dijelaskan diatas, maka penulis mengambil rumusan masalah yaitu 1) apa yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menetapkan putusan cerai talak pada lansia di Pengadilan Agama Kabupaten Malang dan 2) apa faktor penyebab terjadinya cerai talak pada lansia di Pengadilan Agama Kabupaten Malang.

Tujuan penelitian ini ialah 1) untuk mengetahui dan menganalisa apa yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menetapkan perkara cerai talak pada lansia di Pengadilan Agama Kabupaten Malang serta 2) untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya perkara cerai talak pada lansia di Pengadilan Agama Kabupaten Malang.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan penelitian kualitatif, yakni bermaksud guna memahami fenomena yang dialami subjek penelitian yang bersumber dari tulisan juga tingkah laku yang di observasi kemudian dideskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Dengan pendekatan kualitatif yang berdasarkan pada data-data sehingga akan menjawab permasalahan yang akan di teliti dengan baik dan akurat terhadap pokok penelitian. Kemudian, dilihat dari segi tempat penelitiannya, penelitian ini termasuk penelitian lapangan atau (field research) dimana yang berarti peneliti terjun atau mendatangi langsung ke lokasi penelitian untuk mengumpulkan data dari informan yang telah ditentukan yakni Hakim yang telah memutus perkara nomor (3952/9Pdt.G/2020/PA.Kab.Mlg) dengan kata lain

(4)

peneliti turun langsung dan berada di lapangan atau berada langsung di lokasi penelitian yaitu Pengadilan Agama Kabupaten Malang.

Hasil dari penelitian yang pertama yaitu 1) Yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara Nomor 3952/Pdt.G/2020/PA.Kab.Mlg tentang cerai talak pada lansia yaitu Pasal 19 huruf (b) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (b) Kompilasi Hukum lslam. dan Pasal 39 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Selanjutnya dalam Pasal 19 huruf (b) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (b) Kompilasi Hukum lslam menegaskan salah satu alasan perceraian yaitu salah satu pihak meninggalkan yang lain selama dua tahun berturut-turut, tanpa persetujuan pihak dan tanpa alasan yang sah. Berdasarkan ketentuan Pasal 34 Ayat (2) UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 83 Ayat (2) Kompilasi Hukum Islam. Pasal 5 huruf (d) jo. Pasal 9 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Hasil dari penelitian yang kedua yaitu 2) yaitu istri tidak menjalankan kewajibannya kepada suami karena pergi meninggalkan suami tanpa izin suami dan tanpa alasan yang sah selama kurang lebih 6 tahun 4 bulan berturut turut hingga sekarang. Istri tidak kirim kabar dan tidak diketahui alamatnya yang jelas dan pasti di wilayah Republik Indonesia sehingga keharmonisan keluarga tidak ada Hal ini sesuai dg Pasal 19 huruf (b) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (b) Kompilasi Hukum lslam.

(5)

ABSTRACT

Khoiriyah, Siti Nur 2022. Analysis of the Causes of Divorce in the Elderly at the Religious Court of Malang Regency (Case Study Number 3952/Pdt.G/PA.Kab.Mlg). Thesis, Study Program, Islamic Family Law, Faculty of Islamic Religion, Islamic University of Malang, Supervisor 1:

Dwi Ari Kurniawati, S.H, M.H. Advisor 2 Keywords: Analysis, Divorce, Elderly Age

Marriage is an outer and inner bond between a woman and a man which is manifested in the form of a household whose hope is to achieve happiness, sakinah, mawaddah, warrahmah and eternal based on God Almighty. Basically, marriage is an important thing in order to obtain a balance of life in terms of psychological, biological, and even social. The hope is that marriage is only carried out once in a lifetime and lasts until death do them part, but it is not uncommon for families to fail in fostering their household. The journey in fostering a household is not an easy thing and it is not possible without problems, especially until entering the elderly period which is certainly influenced by several factors that cause household rifts that lead to divorce in the elderly.

Based on the background of the problems described above, the authors take the formulation of the problem, namely 1) what is the basis for the judge's consideration in determining the decision for divorce in the elderly at the Malang Regency Religious Court and 2) what are the factors causing the occurrence of divorce in the elderly at the Regency Religious Court. Poor.

The purpose of this study is 1) to find out and analyze what is the basis for judges' considerations in determining divorce cases in the elderly at the Malang Regency Religious Court and 2) to determine the factors that cause divorce cases in the elderly at the Malang Regency Religious Courts.

In this study, the author uses qualitative research, which intends to understand the phenomena experienced by the research subjects originating from writing as well as observed behavior and then described in the form of words and language. With a qualitative approach based on data so that it will answer the problems that will be examined properly and accurately on the subject of research.

Then, from the point of view of the place of research, this research includes field research, which means the researcher goes or goes directly to the research location to collect data from predetermined informants, namely the judge who has decided on case number (3952/9Pdt.G /2020/PA.Kab.Mlg) in other words, researchers go down directly and are in the field or are directly at the research location, namely the Malang Regency Religious Court.

(6)

The results of the first study are 1) The basis for the judge's consideration in deciding the case Number 3952/Pdt.G/2020/PA.Kab.Mlg regarding talak divorce in the elderly, namely Article 19 letter (b) Government Regulation Number 9 of 1975 in conjunction with Article 116 letter (b) Compilation of Islamic Law. and Article 39 of Law Number 1 of 1974 concerning Marriage. Furthermore, Article 19 letter (b) of Government Regulation Number 9 of 1975 in conjunction with Article 116 letter (b) of the Compilation of Islamic Law affirms that one of the reasons for divorce is that one party leaves the other for two consecutive years, without the consent of the parties and without any other reason. legitimate. Based on the provisions of Article 34 Paragraph (2) of Law Number 1 of 1974 jo. Article 83 Paragraph (2) Compilation of Islamic Law. Article 5 letter (d) jo. Article 9 of Law Number 23 of 2004 concerning the Elimination of Domestic Violence.

The results of the second study are 2) that the wife does not carry out her obligations to her husband because she leaves her husband without her husband's permission and without a valid reason for approximately 6 years 4 months in a row until now. The wife does not send news and the address is not known which is clear and definite in the territory of the Republic of Indonesia so that there is no family harmony. This is in accordance with Article 19 letter (b) Government Regulation Number 9 of 1975 in conjunction with Article 116 letter (b) Compilation of Islamic Law.

(7)

BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian

Manusia sebagai makhluk sosial yang diciptakan oleh Allah SWT untuk hidup berpasang-pasangan, saling mengisi, melengkapi, mencintai menyayangi, serta saling bekerja sama dalam hal apapun yang diwujudkan dalam suatu bentuk perkawinan. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita yang diwujudkan dalam bentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Rifqi, 2018).

Perkawinan bukan hanya untuk memuaskan nafsu semata melainkan meraih ketenangan, menjadikan keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah, meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat serta saling mengayomi antara suami istri yang dilandasi dengan adanya cinta dan kasih sayang.

Di dalam Islam tujuan pernikahan tidak terlepas dari al-Qur’an yang menegaskan yakni diantara tanda-tanda-Nya bahwa Allah menciptakan perempuan untuk para lelaki, agar mereka yakni suami dan istri merasa tentram (sakinah) serta Allah menumbuhkan rasa saling cinta dan saling sayang (mawaddah warahmah) antara suami dan istri (Atabik & Mudhiiah, 2014).

Karena pernikahan itu tujuannya sangat mulia, pernikahan tidak sepatutnya dirusak oleh hal-hal yang sepele, karena setiap hal sepele yang bisa merusak rumah tangga yakni perceraian itu sangat tidak disukai oleh Allah SWT

Pada dasarnya perkawinan itu termasuk hal yang penting, karena dengan perkawinan seseorang akan memperoleh keseimbangan hidup dalam segi psikologis, biologis bahkan sosial. Perkawinan merupakan fitrah yang

(8)

2

diberikan kepada manusia yang dianjurkan oleh agama apapun agar manusia bisa mendapatkan keturunan dan keberlangsungan hidup manusia. Setelah perkawinan, kedua belah pihak yakni suami dan istri akan menerima beban dan tanggung jawab sebagai suami dan istri. Beban dan tanggung jawab itu bukanlah hal yang mudah dilaksanakan, sehingga mereka harus memikul tanggung jawab yang besar tersebut dan harus melaksakannya entah itu beban ringan ataupun seberat apapun mereka harus tetap melewatinya bersama-sama (Choirurroziqin, 2020).

Setiap perkawinan harapannya dapat bertahan seumur hidup sebagaimana harapan suami dan istri sesuai dengan janji pernikahan yang telah diucapkan seorang suami kepada istri di hadapan penghulu, orang tua dari mempelai, saksi serta para tamu undangan yang hadir pada saat acara pernikahan kala itu berlangsung (Saputri, 2020). Akan tetapi kenyataannya dalam masyarakat tak sedikit keluarga yang gagal dalam membina rumah tangga dengan berbagai macam sebab perselisihan entah disebabkan karena masalah ekonomi, ketidakcocokan dalam berpendapat, bahkan perselingkuhan yang sudah lumrah menjadi sebab retaknya rumah tangga.

Perjalanan dalam pernikahan bukan hal yang mudah apalagi hingga memasuki usia lansia dan tidak mungkin tanpa adanya konflik perselisihan dalam keluarga (Saputri, 2020). Seringnya terjadi konflik yang mengakibatkan terjadinya perselisihan antara suami dan istri mengakibatkan berubahnya suasana yang awalnya keluarga harmonis, tentram, dan damai, menjadi keluarga yang banyak percekcokan yang berujung pada hal yang dibenci oleh Allah yakni perceraian.

(9)

3

Perceraian adalah “menjatuhkan talak atau memutuskan hubungan sebagai suami istri” (Perceraian menurut KBBI). Perceraian yakni pengakhiran suatu perkawinan karena putusan hakim atas tuntutan dari salah satu pihak atau kedua belak pihak dalam perkawinan. Islam sendiri membolehkan perceraian, tetapi perceraian adalah hal yang dibenci oleh Allah SWT. Bercerai adalah jalan terakhir bagi pasangan suami istri ketika memang tidak ada lagi jalan keluar dalam rumah tangga.

Perceraian termasuk perbuatan yang diperbolehkan oleh Allah tetapi juga termasuk hal yang paling dibenci oleh Allah. Istri yang menggugat suaminya dengan jalur pengadilan bisa disebut khulu’ (dengan tebutsan) dan fasakh (tanpa tebusan). Di dalam Islam sendiri istri boleh mengajukan khulu’

atau fasakh kepada suaminya, misalkan suami sudah pergi dari rumah tanpa alasan yang jelas dengan tenggang waktu yang lama dan istri tidak ridho maka istri bisa mengajukan ke pengadilan agama. Sedangkan suami yang menggugat cerai istrinya disebut talaq (Dzulkifli, 2012).

Perceraian dapat diajukan dengan alasan-alasan yang telah ditentukan misal salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, bahkan penjudi dan lain sebagainya. Terkadang salah satu pihak juga melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan. Bahkan juga salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami atau istri. Dan yang paling sering menjadi alasan perceraian yakni antara suami dan istri terus menerus terjadi pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun kembali. Serta peralihan

(10)

4

agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga (Kompilasi Hukum Islam Pasal 116).

Perceraian hanya dapat dilakukan melalui proses pengadilan dan hanya dapat terjadi apabila kedua belah pihak tidak dapat disatukan kembali oleh pihak pengadilan. Perkawinan dapat putus disebabkan karena kematian, perceraian dan atas putusan pengadilan (Indonesia, 1974). Perceraian dalam perkawinan hanya dapat dilakukan melalui proses di pengadilan, dan bisa dikabulkan apabila kedua belah pihak benar-benar sudah tidak bisa disatukan Kembali. Hal ini sudah jelas, jika perceraian hanya bisa dikabulkan melalui jalan persidangan di pengadilan.

Perceraian terjadi tidak hanya pada pasangan muda saja, perceraian juga banyak terjadi pada lansia yang notabenenya sudah membangun rumah tangga puluhan tahun hidup bersama dikaruniai anak bahkan juga cucu.

Padahal lansia merupakan proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kesehatan terutama kesehatan fisik dan kemampuan untuk beradaptasi lingkungan (Choirurroziqin, 2020). Perceraian pada lansia itu tidak hanya disebabkan karena karena istri meninggalkan pasangannya sehingga tdk bisa jalankan kewajiban untuk mengurus rumah tangga.

Adapun maksud dari perceraian pada lansia yakni perceraian yang dilakukan oleh pasangan suami istri yang sudah berusia 60 tahun keatas (Saputri, 2020). Alasan penulis mengambil judul penelitian cerai talak pada lansia ini yakni karena pasangan suami istri yang sudah lanjut usia itu sebaiknya mempertimbangkan alasan untuk bercerai, karena faktor usia yang sudah tua, faktor lamanya usia rumah tangga, dan adanya anak serta cucu.

(11)

5

Seharusnya pernikahan pada lansia itu sudah saatnya saling menjaga, menyayangi, serta saling menghabiskan masa tua bersama, bahkan bersama anak dan cucu. Dari masalah diatas penelitian ini penting dilakukan, sehingga penulis menentukan judul yakni, “ANALISIS PENYEBAB TERJADINYA CERAI TALAK PADA LANSIA DI PENGADILAN AGAMA KABUPATEN MALANG (STUDI KASUS PERKARA NOMOR 3952/Pdt.G/2020/PA.Kab.Mlg)”.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan konteks penelitian yang telah dijabarkan, ada beberapa pokok permasalahan yaitu sebagai berikut:

1. Apa yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menetapkan putusan cerai talak pada lansia di Pengadilan Agama Kabupaten Malang?

2. Apa faktor penyebab terjadinya cerai talak pada lansia di Pengadilan Agama Kabupaten Malang?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijabarkan, maka tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui dan menganalisa apa yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menetapkan perkara cerai talak pada lansia di Pengadilan Agama Kabupaten Malang.

2. Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya perkara cerai talak pada lansia di Pengadilan Agama Kabupaten Malang.

(12)

6

D. Kegunaan Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian yang saya teliti ini yakni:

1. Kegunaan Teoritis

Secara teoritis, penelitian yang saya lakukan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pemahaman terhadap perkara cerai talak pada lansia. Serta harapannya bisa bermanfaat sebagai ilmu pengetahuan untuk semua khalayak, khususnya mahasiswa jurusan hukum keluarga islam.

2. Kegunaan Praktis

a. Kegunaan bagi penulis yakni, harapannya dapat memenuhi tugas akhir guna memeperoleh gelar Strata 1 serta mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang hukum keluarga islam.

b. Bagi Pengadilan Agama Kabupaten Malang, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terutama bagi apparat penegak hukum dalam melaksanakan ketentuan menegani cerai talak pada lansia.

c. Bagi Lembaga Universitas Islam Malang penelitian ini dapat menambah referensi serta informasi tentang cerai talak pada lansia yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa.

d. Bagi Mahasiswa hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai cerai talak usia lansia yang

(13)

7

berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam.

e. Bagi masyarakat hasil penelitian ini diharapkan mampu dijadikan sarana dan informasi agar masyarakat mengetahui akibat hukum dari putusnya perkawinan karena istri meninggalkan suami menurut peraturan perundang-undangan dan kompilasi hukum Islam.

E. Definisi Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan dalam beberapa istilah dalam skripsi ini, maka peneliti memberi pengertian sebagai berikut:

1. Analisis yakni suatu aktivitas menyelidiki suatu peristiwa (karangan, perbuatan) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya bagaimana sebab musabab serta asal muasal perkara. Analisis bisa disimpulkan yakni suatu bentuk usaha dalam mengamati suatu hal secara detail dengan cara menguraikan komponen-komponen tersebut untuk dikaji lebih lanjut secara rinci.

2. Cerai talak ialah, putusnya perkawinan yang dijatuhkan oleh pihak suami yang dijatuhkan kepada istri.

3. Lansia adalah seseorang yang sudah tua. Batasan lansia yakni kelompok pertengahan lansia yang berumur 45-59. Kelompok lansia yakni yang berumur 60-69. Dan kelompok lanjut usia yang beresiko tinggi berumur 70 tahun keatas. Dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 1998 pasal 1 ayat (2) menyatakan bahwa : Lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Dan Undang-Undang No. 4 Tahun 1965

(14)

8

menyatakan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang sudah berusia 55 tahun ke atas.

(15)

94 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan

Setelah penulis menguraikan pembahasan di bab-bab sebelumnya dan melakukan analisis data mengenai dasar pertimbangan hakim dalam memutus perkara nomor 3952/Pdt.G/2020/Pa.Kab.Mlg dan faktor penyebab terjadinya cerai talak pada usia lansia. Kemudian penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Dasar pertimbangan hakim dalam memutus perkara nomor 3952/Pdt.G/2020/Pa.Kab.Mlg perkara cerai talak pada lansia yakni Pasal 19 huruf (b) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (b) Kompilasi Hukum lslam. dann Pasal 39 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Berdasarkan ketentuan Pasal 34 Ayat (2) UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 jo. Pasal 83 Ayat (2) Kompilasi Hukum Islam “isteri wajib mengatur urusan rumah tangga dengan sebaik-baiknya”. Berdasarkan fakta di atas Termohon sebagai isteri justru pergi meninggalkan Pemohon selama lebih 2 tahun berturut-turut sampai sekarang tanpa pernah kembali dan tanpa memberi kabar berita kepada pemohon.

2. Faktor penyebab terjadinya cerai talak pada lansia yaitu Istri tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri kepada suami. Rumah tangga yang sudah tidak ada keharmonisannya dan tetap dipertahankan maka akan timbul lebih banyak lagi masalah yang akan membuat pasangan suami istri itu tidak bahagia juga Pihak Termohon yang telah

(16)

95

3. tanpa izin dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain yang diluar kemampuannya.

B. Saran

Setelah penulis menguraikan pembahasan, menganalisis data, serta menyimpulkan. Selanjutnya penulis merasa perlu memberikan saran kepada para pihak terkait, dalam hal ini:

1. Guna mengurangi angka perceraian maka diharapkan adanya kesadaran mengenai kewajiban dari masing-masing pihak yakni suami dan istri serta lebih memahami pasangannya.

2. Pengadilan Agama diharapkan dapat bekerja secara maksimal dan memberikan penyuluhan yang terpadu dan menyeluruh agar pasangan tersebut dapat mengurungkan niat untuk bercerai serta rujuk kembali dengan cara memberikan nasehat-nasehat yang berhubungan dengan perkawinan.

(17)
(18)

96

DAFTAR PUSTAKA

Atabik, A., & Mudhiiah, K. (2014). Pernikahan dan Hikmahnya Perspektif Hukum Islam. Yudisia, 5(2), 293–294.

Burlian. (2016). Eksistensi Perkawinan Dan Perceraian Menurut Hukum Islam Dan Pasca Berlakunya UU NO. 1 Tahun 1974 Existence Marriage and Legal Separation of Islam and Pasca Go Into Effect UU No. 1 Year 1974. Ilmu Hukum, 8(July), 1–23.

Choirurroziqin, M. (2020). Analisis Putusan Perkara Dispensasi Nikah Tahun 2018 Ditinjau Dari Fiqh Madzhab Syafi’i (Studi di Pengadilan Agama Kabupaten Malang). Sakina: Journal of Family Studies, 4(3).

Dr. Umar Sidiq, M.Ag Dr. Moh. Miftachul Choiri, M. (2019). Metode Penelitian Kualitatif di Bidang Pendidikan. In Journal of Chemical Information and Modeling (Vol. 53, Issue 9).

Hadi. (2016). Pemeriksaan Keabsahan. Jurnal Ilmu Pendidikan, 74–79.

Hukum, F., Pertimbangan, P., Perkara, M., & Agama, P. (2021). Kosmik Hukum.

21(1), 24–34.

Ii, B. A. B., Hakim, A. P., & Hakim, P. P. (2004). Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, cet V (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2004), h.140 1 10. 10–49.

Iii, B. A. B. (2007). Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2004), 29. 1 28. 149, 28–48.

Indonesia, R. (1974). Undang-Undang Tentang Perkawinan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1985 Tentang Jalan, 2003(1), 2.

Khoirul Abror. (2017). Hukum Perkawinan dan Perceraian Akibat Perkawinan Campuran.

Latif, A. (2019). Implikasi Pemikiran Ulama Dewan Hisbah PERSIS terhadap Pengembangan Hukum Perkawinan di Indonesia. Khazanah Hukum, 1(1), 21–

27. https://doi.org/10.15575/kh.v1i1.7131

Malang, P. A. K. (2016). Reviu Rencana Strategis Pengadilan Agama Kabupaten Malang Tahun 2015-2019 Ke-4 Tahun 2018. July, 1–23.

Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitiian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya.

Naftali, A. R., Ranimpi, Y. Y., & Anwar, M. A. (2017). Kesehatan Spiritual dan Kesiapan Lansia dalam Menghadapi Kematian. Buletin Psikologi, 25(2), 124–

135. https://doi.org/10.22146/buletinpsikologi.28992.

(19)

97

Rifqi, M. J. (2018). Analisis Utilitarianisme Terhadap Dispensasi Nikah Pada Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974. Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 10(2), 156. https://doi.org/10.14421/ahwal.2017.10204 Siswanto, J. (2018). Fakultas Ushuluddin Adab Dan Dakwah Institut Agama Islam

Negeri ( Iain ) Bengkulu.

Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Penerbit Alfabeta.

UU Peradilan Agama. (2009). Undang-undang RI Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. 1–24.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang menganalisis putusan Pengadilan Agama Kalianda mengenai perceraian dengan alasan cerai talak dan gugatan rekonvensi, majelis hakim

Skripsi yang berjudul “Studi Analisis Terhadap Pertimbangan Hakim Memutus Cerai Talak dalam Perkara No.4403/Pdt.G/2014/Pa.Sby Tentang Berani Kepada Suami” adalah hasil penelitian

0181/Pdt.G/2013/PA.Gs tentang Cerai Talak karena Pria Idaman Lain (PIL) ini, hakim membuat dasar dan pertimbangan hukum dengan menarik benang merah dari

Berdasarkan uraian diatas menganalisis pertimbangan hukum pada putusan Nomor 45/Pdt.G/2017/MS.Aceh tentang Cerai Talak ini; bahwa, judex facti Mahkamah

Skripsi dengan judul “UPAYA PENYELESAIAN KEWAJIBAN MEMBAYAR NAFKAH IDDAH DAN MUT`AH OLEH SUAMI KEPADA ISTERI DALAM PERKARA CERAI TALAK (Analisis Putusan Hakim

Pertimbangan hakim dalam tanggung jawab tergugat dalam memberikan nafkah dalam kajian putusan nomor 2257/Pdt.G/2011/PA.Sm bahwa perkara cerai gugat ini tidak

Pernyataan utama yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah: (1) Bagaimana profil putusan perkara cerai talak dalam penetapan kadar nafkah iddah dan mu

Sebagaimana pada gugatan perkara cerai talak di Pengadilan Agama Kuningan, Hakim menunda sidang dikarenakan persidangan yang tidak dihadiri Termohon, dengan begitu Hakim mengajukan