• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDF Analisis Semiotika Roland Barthes Dalam Anime "The Journey" Skripsi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PDF Analisis Semiotika Roland Barthes Dalam Anime "The Journey" Skripsi"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh:

Syaqrah Karara Azzen NIM: D20191019

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER

FAKULTAS DAKWAH 2023

(2)

i

ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES DALAM ANIME “THE JOURNEY”

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

Gelar Sarjana Sosial (S.Sos) Fakultas Dakwah

Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Oleh:

Syaqrah Karara Azzen NIM: D20191019

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER

FAKULTAS DAKWAH MEI 2023

(3)

ii

ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES DALAM ANIME “THE JOURNEY”

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

Gelar Sarjana Sosial (S.Sos) Fakultas Dakwah

Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Oleh:

Syaqrah Karara Azzen NIM: D20191019

Disetujui Pembimbing

Dr. Siti Raudhatul Jannah, S.Ag, M.Med.Kom.

NIP. 197207152006042001

(4)

iii

ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES DALAM ANIME “THE JOURNEY”

SKRIPSI

Telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Fakultas Dakwah

Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Hari : Selasa

Tanggal : 30 Mei 2023 Tim Penguji Ketua

Mochammad Dawud, S.Sos., M.Sos NIP. 197907212014111002

Sekretaris

Ani Qotuz Zuhro’ Fitriana, S.E., MM NIP.199602242020122007

Anggota:

1. Muhibbin, S.Ag., M.Si (---) 2. Dr. Siti Raudhatul Jannah, S.Ag, M.Med.Kom (---)

Menyetujui Dekan Fakultas Dakwah,

Prof. Dr. Ahidul Asror, M.Ag NIP. 197440606200031003

(5)

iv MOTTO

َ هٰاللّ َّنِاۗ َ هٰاللّ اوُقَّتاَوۖ ِناَوْدُعْلاَو ِم ْثِ ْلَا ىَلَع اْوُنَواَعَت َلََو ۖى هوْقَّتلاَو ِّرِبْلا ىَلَع اْوُنَواَعَتَو ِباَقِعْلا ُدْيِدَش

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikandan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah

kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya”

.

1

(QS. Al Maidah [5]:2)

1 Al-Qur’an Dan Terjemah (Jakarta: DKUprint, 2015). Hlm 106

(6)

v

PERSEMBAHAN

Dengan rahmat Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, kepada- Nya saya persembahkan sujud dan syukur sebesar-besarnya. Karena dengan karunia dan rahmat yang sangat luas telah memberikan kedamaian dalam jiwa yang sedang gelisah. Atas izin Allah karya tulis ilmiah dalam bentuk naskah skripsi yang sederhana dapat terselesaikan. Selawat serta salam selalu terlimpahkan keharibaan Rasulullah Saw.,

1. Skripsi ini saya persembahkan kepada dua insan hebat yang telah mengantarkan saya ke dunia ini, Ibu (Ita Nurul Nikmah) dan Ayah (Muhammad Zainul Arifin). Terima kasih atas kasih sayang, doa, materi, bahkan tenaga yang terus Ibu dan Ayah berikan.

2. Kepada kakak saya (Shahnas Aisyah Arifiah) yang dengan sukarela menampung keluh kesah, memberikan dukungan, dan semangat yang luar biasa untuk keberhasilan saya.

3. Segenap guru dari Taman Kanak-Kanak, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, hingga Madrasah Aliyah yang telah mendidik dan memberikan bekal berupa pengetahuan sehingga menjadikan saya pribadi yang berilmu.

4. Teman-teman KPIO1 angkatan 2019 yang menemani saya selama mengenyam bangku perkuliahan, saling berbagi pengetahuan, dan sebagai motivator. Semoga doa dan hal baik yang telah diberikan akan kembali ke kalian semua.

(7)

vi

5. Kepada teman-teman dari Radio Nada FM UIN KH. Achmad Siddiq Jember yang menjadi tempat saya berproses, melatih kemampuan, dan membukakan jalur untuk berkoneksi dengan orang-orang hebat di luar sana khususnya di bidang penyiaran.

6. Seluruh pihak yang memberikan kekuatan dan motivasi kepada saya untuk terus menjalani hidup.

(8)

vii

KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji syukur penulis haturkan kepada Allah Swt., karena limpahan rahmat serta hidayah-Nya. Selawat serta salam semoga senantiasa mengalir kepada Nabi Muhammad Saw., keluarganya, para sahabat, ulama, dan mudah-mudahan kepada kita semua. Dengan rida Allah Swt., penulis memperoleh kemampuan untuk menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Roland Barthes dalam Anime The Journey” guna memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan pada jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakutas Dakwah, UIN KH. Achmad Siddiq Jember.

Tidak ada satupun karya manusia yang tidak memiliki campur tangan manusia lainnya. Pada kesempatan kali ini izinkan peneliti untuk menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas segala bantuan, bimbingan, serta motivasi yang telah diberikan. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:

1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E., M.M, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

2. Prof. Dr. Ahidul Asror, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Dakwah.

3. Mochammad Dawud, S.Sos., M.Sos, selaku Kepala Program Studi (Kaprodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

4. Dr. Siti Raudhatul Jannah, S.Ag., M.Med.Kom, selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing dan memberi masukan-masukan dalam proses penulisan skripsi.

(9)

viii

5. Seluruh Dosen Fakultas Dakwah yang telah mendidik serta memberikan beragam ilmu yang sangat bermanfaat.

6. Seluruh staf dan karyawan Fakultas Dakwah yang telah membantu penulis dalam menyiapkan hal-hal administratif selama perkuliahan dan proses penulisan skripsi.

Skripsi ini tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Peneliti mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari pembaca dan semua pihak. Semoga skripsi ini dapat memberikan kontribusi positif untuk menambah wawasan keilmuan serta menambah khazanah perpustakaan.

Jember, 8 April 2023

Penulis

(10)

ix ABSTRAK

Syaqrah Karara Azzen, 2023: “Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Anime The Journey”. Skripsi Fakultas Dakwah, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Dosen pembimbing Dr. Siti Raudhatul Jannah, S.Ag, M.Med.Kom.

Kata Kunci: Anime, Semiotika, Moral

Anime seringkali dianggap hanya sebagai tontonan anak-anak tanpa ada manfaat selain hiburan. Padahal teknologi telah berkembang sehingga cerita dalam anime dan visual menjadi beragam. Kita telah mendengar kisah tentang kekalahan Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah karena Allah menurunkan kawanan burung Ababil untuk memusnahkan pasukan Abrahah. Peristiwa ini telah termaktub dalam Alquran Surah Al-Fiil. Kisah ini diadaptasi ke dalam anime berjudul The Journey yang merupakan anime pertama hasil kolaborasi dua negara dengan kebudayaan serta keagamaan yang sangat berbeda yaitu Jepang dan Arab Saudi.

Fokus masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah 1) Apa saja penanda (signifier) dan pertanda (signified) yang bermakna pesan moral dalam anime The Journey. 2) Apa saja mitos (myth) yang terkandung dalam anime The Journey sesuai dengan penanda (signifier) dan pertanda (signified) yang telah ditemukan.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pesan moral yang terdapat dalam anime The Journey dengan metode penelitian kualitatif dengan alat analisis semiotika Roland Barthes. Subjek penelitian menggunakan anime The Journey dengan scene-scene yang menunjukkan pesan moral dalam perspektif Islam sebagai objek penelitiannya.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pesan moral perspektif Islam yang terkandung pada anime The Journey di antaranya adalah untuk senantiasa berbuat ta’awun (tolong-menolong), syaja’ah (keberanian), mujahadah (mencurahkan segala kemampuan), birrul walidain (berbakti kepada orang tua), optimis, bijaksana, tobat, taqwa (mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya), amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar), pemaaf, serta memenuhi kewajiban istri terhadap suami. Selain itu, terdapat pesan untuk selalu menjauhi perbuatan khianat, jubun (takut), takabur (sombong), serta menghindari gaya kepemimpinan yang azh- zhulumat (kegelapan).

(11)

x DAFTAR ISI

Halaman Sampul ... i

Persetujuan Pembimbing ... ii

Pengesahan Tim Penguji ... iii

Motto ... iv

Persembahan ... v

Kata Pengantar ... vii

Abstrak ... ix

Daftar Isi... x

Daftar Tabel ... xii

Daftar Gambar ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Fokus Penelitian ... 7

C. Tujuan Penelitian... 8

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Definisi Istilah ... 9

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 14

A. Penelitian Terdahulu ... 14

B. Kajian Teori ... 21

BAB III METODE PENELITIAN ... 39

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 39

B. Lokasi Penelitian ... 40

(12)

xi

C. Subyek Penelitian ... 40

D. Teknik Pengumpulan Data ... 40

E. Analisis Data ... 41

F. Keabsahan Data ... 43

G. Tahap-Tahap Penelitian ... 44

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS ... 45

A. Gambaran Obyek Penelitian ... 45

B. Penyajian Data ... 53

C. Analisis Data dan Pembahasan ... 74

BAB V PENUTUP ... 123

A. Kesimpulan ... 123

B. Saran ... 124

DAFTAR PUSTAKA ... 125

(13)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penelitian terdahulu ... 16

Tabel 2.2 Teknik dalam pengambilan gambar ... 30

Tabel 3.1 Kerangka semiotika Roland Barthes ... 43

Tabel 4.1 Scene 1, menit ke 4.58 ... 75

Tabel 4.2 Scene 2, menit ke 6.30 ... 77

Tabel 4.3 Scene 3, menit ke 10.03 ... 79

Tabel 4.4 Scene 4, menit ke 11.45 ... 81

Tabel 4.5 Scene 5, menit ke 14.23 ... 83

Tabel 4.6 Scene 6, menit ke 19.17 ... 85

Tabel 4.7 Scene 7, menit ke 23.37 ... 87

Tabel 4.8 Scene 8, menit ke 31.22 ... 89

Tabel 4.9 Scene 9, menit ke 33.17 ... 90

Tabel 4.10 Scene 10, menit ke 38.13 ... 92

Tabel 4.11 Scene 11, menit ke 40.31 ... 94

Tabel 4.12 Scene 12, menit ke 40.45 ... 96

Tabel 4.13 Scene 13, menit ke 42.44 ... 98

Tabel 4.14 Scene 14, menit ke 43.43 ... 100

Tabel 4.15 Scene 15, menit ke 46.45 ... 101

Tabel 4.16 Scene 16, menit ke 47.10 ... 103

Tabel 4.17 Scene 17, menit ke 49.36 ... 105

Tabel 4.18 Scene 18, menit ke 01.05.33 ... 106

Tabel 4.19 Scene 19, menit ke 01.06.34 ... 108

(14)

xiii

Tabel 4.20 Scene 20, menit ke 01.11.39 ... 110

Tabel 4.21 Scene 21, menit ke 01.16.19 ... 112

Tabel 4.22 Scene 22, menit ke 01.21.57 ... 113

Tabel 4.23 Scene 23, menit ke 01.24.10 ... 115

Tabel 4.24 Scene 24, menit ke 01.25.24 ... 117

Tabel 4.25 Scene 25, menit ke 01.32.30 ... 118

Tabel 4.26 Scene 26, menit ke 01.43.06 ... 120

(15)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Poster Anime The Journey ... 46

Gambar 4.2 Aws bin Zubair ... 49

Gambar 4.3 Abrahah ... 50

Gambar 4.4 Zurara ... 51

Gambar 4.5 Hind ... 51

Gambar 4.6 Hisyam ... 52

Gambar 4.7 Musab ... 52

Gambar 4.8 Abdul Muthalib ... 53

Gambar 4.9 Nizar ... 54

Gambar 4.10 Aws membantu Hisyam megambil pisau ... 54

Gambar 4.11 Musab melakukan orasi di hadapan warga kota Mekkah ... 55

Gambar 4.12 Dialog Aws dengan Nizar ... 56

Gambar 4.13 Keluarga Zubair ... 57

Gambar 4.14 Hind memberikan eyeshadow kepada Aws ... 58

Gambar 4.15 Kebijaksanaan Muthallib menanggapi kesombongan Abrahah ... 59

Gambar 4.16 Zurara mengejek Aws ... 60

Gambar 4.17 Naram dibantu oleh Yafet ... 61

Gambar 4.18 Kaum Nuh selamat dari terjangan badai ... 62

Gambar 4.19 Keberanian Nizar... 62

Gambar 4.20 Zayd menghasut para pasukan untuk menyerah ... 63

Gambar 4.21 Pasukan Mekkah pesimis dan mundur sebelum berperang ... 63

(16)

xv

Gambar 4.22 Sikap optimis Aws dan teman-temannya ... 64

Gambar 4.23 Keoptimisan warga Mekkah ... 65

Gambar 4.24 Perbudakan di masa Fir’aun ... 66

Gambar 4.25 Elfraim mengajak Rahel untuk ikut bersama rombongan Nabi Musa ... 66

Gambar 4.26 Ribka memberikan air kepada Rahel ... 67

Gambar 4.27 Pasukan Mekkah bersiap melawan pasukan Abrahah ... 68

Gambar 4.28 Ketamakan Abrahah ... 69

Gambar 4.29 Khuzaymah dan Musab ... 70

Gambar 4.30 Kerjasama Zurara dan Aws ... 70

Gambar 4.31 Emosi Thawab ... 71

Gambar 4.32 Emosi Thawab (2) ... 71

Gambar 4.33 Pemberontakan budak suku Aad ... 72

Gambar 4.34 Aws yang pantang menyerah ... 73

Gambar 4.35 Kemenangan pasukan Mekkah... 74

(17)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Film animasi atau kartun umumnya dianggap hanya untuk anak-anak karena dipandang sebagai hiburan semata tanpa ada manfaat lainnya. Namun di era perkembangan teknologi yang semakin pesat memunculkan perkembangan dan perubahan besar dalam film animasi. Perkembangannya mulai dari segi visualisasi hingga alur cerita yang semakin beragam. alur cerita dalam anime tidak hanya bertujuan untuk menghibur, melainkan juga memiliki tujuan tersendiri seperti pendidikan. Anime The Journey adalah anime pertama yang memiliki sisi pendidikan secara Islam yang kental karna terinspirasi dari kisah yang terkandung dalam surah Al-Fiil. Sejak awal rilis, anime ini mengundang banyak perhatian komunitas dan penggemar Anime di seluruh dunia karena diproduksi oleh dua negara dengan kebudayaan dan keagamaan yang berbeda yaitu Jepang dan Arab Saudi.

Banyak lapisan masyarakat antusias menonton film animasi untuk belajar, menghilangkan stress, menenangkan pikiran, bahkan untuk mencari inspirasi. Internet yang mudah untuk diakses dari mana saja dan kapan saja serta banyaknya platform streaming online membuat film animasi tidak hanya digemari oleh kalangan anak-anak, melainkan kalangan dewasa juga mulai tertarik untuk menonton film animasi. Menurut riset dalam jumlah pencarian query pada Tahun 2019 yang berhubungan dengan anime menunjukkan

1

(18)

bahwa Indonesia berada di peringkat ketiga terbanyak penggemar anime di seluruh dunia.2

Menurut Gilles Poltras, anime memiliki dua pengertian. Pertama adalah kata yang digunakan orang Jepang untuk menyebut segala film animasi.

Kedua, pengertian anime yang digunakan oleh orang dari luar Jepang adalah film animasi dua dimensi yang berasal dari Jepang.3

Anime yang menjadi objek penelitian adalah anime berjudul “The Journey”. The Journey adalah anime unik karena hasil dari kolaborasi antara dua negara dengan kebudayaan sangat berbeda yaitu negara Jepang dengan studio Toei Animation dan Arab Saudi dengan Manga Productions. Anime berdurasi satu jam empat puluh sembilan menit ini disutradarai oleh Kobun Shizuno dan tayang melalui beberapa platform streaming online seperti Youtube, Bilibili, dan Hulu pada Tanggal 25 Juni 2021.

Terinspirasi dari surah Al-Fiil, anime ini berkisah tentang kisah raja Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah dan memperbudak rakyat Mekkah. Beruntungnya masyarakat Mekkah yang diceritakan dalam anime The Journey digambarkan memiliki keyakinan yang amat kuat akan tauhidnya. Mereka percaya bahwa Tuhan akan selalu melindungi hambanya sehingga mereka memilih untuk mempertahankan kotanya dan melindungi keluarganya. Maka terjadilah peperangan dengan pasukan Abrahah. Anime dengan kisah sejarah yang diambil dari salah satu surah Alquran, tentunya

2 Bayu Dewey, “10 Negara Dengan Jumlah Wibu Terbanyak, Tebak Indonesia Nomor Berapa?,”

idntimes.com, Desember 2019, https://www.idntimes.com/science/experiment/bayu-d- wicaksono/negara-dengan-jumlah-wibu-terbanyak-c1c2?page=all.

3 Mark W. S MacWilliams, Japanese Visual Culture (New York: M.E. Sharpe, 2008).hlm 5

(19)

mengandung sebuah teladan yang dapat menjadi media pembelajaran moral agar bisa menjadi lebih baik di kemudian hari. Terdapat qishash atau cerita yang dapat diambil dan dijadikan sebagai pelajaran bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.

Film sebagai media massa merupakan media yang paling efektif dalam menyampaikan pesan karena film dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang menyenangkan sebab memiliki kekuatan audio-visual.

Pesan di dalam film biasanya direpresentasikan ke dalam adegan atau narasi cerita.4 Perkembangan zaman yang pesat sekarang ini belajar tentang moral tidak hanya bisa dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, namun bisa juga belajar melalui film yang menarik dengan visualisasi yang bagus seperti film dengan cerita sejarah. Media belajar yang menyenangkan akan membuat proses belajar menjadi lebih efektif. Agar daya pikir semakin terolah, maka diperlukan untuk mengetahui dan mempelajari kisah kejadian yang pasti memiliki makna yang dapat dijadikan sebagai teladan. Setelah mengetahui pesan moral yang terkandung dalam sebuah film secara tidak langsung dapat membentuk kepribadian menjadi lebih baik.

Berikut surah Alquran yang berkaitan dengan judul yang akan diteliti yaitu surah surah Al-Fiil yang dituliskan sebagai berikut:

4 Nita Khairani and Yayu Sriwartini, “Pesan Moral Pernikahan Pada Film Wedding Agreement (Analisis Semiotika Roland Barthes),” Jurnal Sosial Dan Humaniora 5, no. 1 (2020): 111–29. Hlm 111

(20)

ميح َّرلا ِنمح َّرلا اللّ ِمسِب

مَلَأ ِب هَح صَأِب َكُّبَر َلَعَف َف يَك َرَت ِليِف لٱ

١ ٖليِل ضَت يِف مُهَد يَك لَع جَي مَلَأ ٢

َليِباَبَأ اًر يَط مِه يَلَع َلَس رَأَو ٣

مِهيِم رَت ٖليِّجِس نِّم ٖةَراَجِحِب ٤

ِِۢلوُك أَّم ٖف صَعَك مُهَلَعَجَف ٥

Artinya : “Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar. Sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”. (QS. Al-Fiil [105]:1-5)5

Tafsir Al-Misbah Jilid 15, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menjelaskan tentang surah Al-Fiil yang memiliki arti gajah. Surah yang turun setelah surah Al-Quraisy ini menjelaskan tentang uraian kegagalan upaya ekspansi yang dilakukan oleh Raja Abrahah al-Asyram al-Habsyi dengan pasukan bergajahnya yang dikerahkan dari arah yaman menuju Mekah untuk menghancurkan Ka’bah.6 Surah yang merupakan surah ke-19 dari perurutan turunnya ini memiliki tujuan untuk membuktikan tentang kebenaran menyangkut kebinasaan para pendurhaka yang memberikan contoh langsung dari surah yang turun sebelumnya.

Melansir dari liputan6.com, The Journey meraih Penghargaan Terbaik Penghargaan Film Eksperimental dalam Festival Film Septimius yang diadakan di Amsterdam, Belanda. Film ini bersaing dengan kategori film eksperimental dengan film-film lainnya. Kategorisasi ini dinilai berdasarkan

5 Al-Qur’an Dan Terjemah. Hlm 601

6 Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah Pesan Kesan Dan Keserasian Al-Qur’an, Juz ’Amma (Jakarta:

Lentera Hati, 2002). Hlm 530

(21)

keunggulan film dalam menciptakan kekuatan ekspresif dan gaya seni yang unik dan menarik.

Anime The Journey menceritakan seorang tokoh utama bernama Aws yang merupakan seorang pembuat tembikar. Pemuda bernama Aws itu memiliki masa lalu yang misterius, ia mengambil peran dalam pertempuran epik untuk mempertahankan kota Mekkah dari serangan Raja Abrahah. Kisah perjuangan Aws diselingi dengan kisah-kisah Nabi dan Rasul yang disampaikan dengan animasi yang menarik dengan cerita yang mengandung banyak pesan moral.

Moral merupakan produk dari akal manusia yang menjadi pembeda antara manusia dan makhluk lain. Menurut Bertens, moral adalah nilai dan norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok yang mengatur tingkah lakunya. Keberadaan moral menciptakan kepaduan harmoni dalam masyarakat akan terjaga. Penilaian tentang moral sendiri ditentukan dengan pertimbangan, artinya memilih perilaku yang bernilai untuk dilakukan yang implementasinya muncul dari kombinasi ego dan kapasitas jiwa.7

Peneliti melihat bahwa terdapat adegan yang mengandung pesan moral.

Moral adalah titik paling penting untuk mejalani kehidupan agar tercipta kerukunan. Islam adalah agama yang damai, artinya, Islam sangat memerhatikan keselarasan harmoni dalam masyarakat untuk menciptakan kerukunan. Kerukunan tidak akan teripta tanpa adanya moral. Pendidikan perihal moral dalam Islam dibahas dalam pendidikan akhlak yaitu

7 K Bertens, Etika, 7th ed. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007).

(22)

mengajarkan bagaimana seharusnya bersikap terhadap seluruh makhluk yang ada di muka bumi. Fungsi dari adanya pedoman mengenai akhlak ini untuk memagari seseorang untuk berbuat yang tidak baik.

Tanda yang mengandung pesan moral di dalam film membutuhkan suatu metode analisis dan teori yang tepat sehingga memperoleh penilaian yang selaras. Metode yang digunakan adalah semiotika karena di dalamnya membahas atau membaca tanda. Tanda sendiri adalah basis atau dasar dari seluruh komunikasi. Menurut Littlejohn, manusia dengan perantara tanda dapat saling berkomunikasi dan terdapat banyak hal yang bisa dikomunikasikan di dunia ini.8

Semiotika dipakai untuk menganalisis media dengan dasar pemikiran bahwa media dikomunikasikan melalui seperangkat tanda. Unsur-unsur yang ada di media saling membangun dan tidak menghasilkan makna tunggal karena kenyataannya media memiliki ideologi atau kepentingan tertentu yang dibentuk melalui tanda tersebut. Semiotika model Roland Barthes menitikberatkan kepada pembacaan tanda. Ia menyebutkan denotasi adalah makna yang paling nyata. Cara menemukan makna denotasi tersebut dengan mensignifikasi hubungan antara signifier (ekspresi) dan signified (konten) dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal atau konotasi.9 Tidak hanya sampai situ, Barthes menilai masih memerlukan signifikasi tahap kedua yaitu melihat alasan tanda tersebut bekerja melalui mitos. Mitos adalah bagaimana

8 Indiwan Seto, Semiotika Komunikasi, 3rd ed. (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2018). Hlm 9

9 Dadan Rusmana, Filsafat Semiotika, 1st ed. (Bandung: CV Pustaka Setia, 2014). Hlm 207

(23)

kebudayaan dapat menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam.

Peneliti melihat pesan moral yang dalam anime The Journey disampaikan dan dikemas dengan unik dan menarik untuk dianalisis menggunakan semiotika Roland Barthes yang dijabarkan melalui makna denotatif dan konotatif. Anime The Journey yang merupakan kolaborasi antara dua negara dengan budaya dan keagamaan yang berbeda pasti ada perbedaan makna dalam merepresentasikan pesan dan makna. Oleh karena itu berdasarkan latar belakang tersebut penulis mengambil judul pada penelitian ini yaitu, “Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Anime The Journey”.

B. Fokus Penelitian

Fokus penelitian adalah pokok-pokok yang akan diteliti sehingga hasil analisa dan observasi menjadi terarah. Berdasarkan latar belakang di atas, fokus penelitian ini mencakup:

1. Apa saja penanda (signifier) dan pertanda (signified) pada denotasi dan konotasi yang bermakna pesan moral dalam anime “The Journey”?

2. Apa saja mitos (myth) yang terkandung dalam anime “The Journey”

sesuai dengan penanda (signifier) dan pertanda (signified) di atas?

(24)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah hasil yang diinginkan dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian berdasarkan fokus penelitian yang telah dijabarkan adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui penanda (signifier) dan pertanda (signified) pada denotasi dan konotasi yang bermakna pesan moral dalam anime “The Journey”

2. Untuk mengetahui mitos (myth) yang terkandung dalam anime “The Journey” sesuai dengan penanda (signifier) dan pertanda (signified) di atas.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan terdapat manfaat terhadap perkembangan keilmuan khususnya di bidang komunikasi. Adapun manfaat penelitian yang dibagi dalam dua aspek, yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis.

Manfaat Teoritis:

1. Memperkaya kajian komunikasi massa melalui kajian semiotik model Roland Barthes, khususnya bagi mahasiswa Fakultas Dakwah, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam

2. Dijadikan sebagai pengetahuan terhadap bentuk dan makna pesan moral yang terkandung di dalam sebuah film bagi mahasiswa Fakultas Dakwah, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam.

(25)

Manfaat Praktis:

1. Menambah ilmu tentang cara penggambaran film bagi para mahasiswa Fakultas Dakwah, khususnya Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam atau mahasiswa lain yang memiliki minat dalam dunia perfilman.

2. Diharapkan mampu menjadi sumber rujukan dan pengetahuan bagi pembaca untuk bisa mendeteksi pertanda (signifier), penanda (signified) dan mitos (myth) yang terkandung di dalam film.

E. Definisi Istilah

Definisi istilah memberikan penjelasan terhadap serangkaian istilah-istilah yang digunakan dala penelitian agar tercipta persamaan penafsiran dengan tujuan untuk menghindari ketidakjelasan dan kesalahfahaman atas makna dari konsep pokok dalam penelitian. Berukut definisi dari istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian:

1. Analisis Semiotika

Analisis dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa atau perbuatan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-akibat) yang diuraikan menjadi berbagai bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan memahami arti secara keseluruhan. Menurut Soejadi, analisis adalah rangkaian kegiatan pemikiran logis, rasional, sistematis, dan objektif dengan menggunakan metodologi atau teknik ilmu pengetahuan sebagai alat pengkajian, penelaahan, penguraian, perincian, pemecahan terhadap

(26)

suatu objek atau sasaran sebagai salah satu kebulatan komponen yang utuh ke dalam sub komponen yang lebih kecil.10

Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa analisis memiliki unsur pokok sebagai berikut:

a. Analisis adalah suatu rangkaian perbuatan yang memiliki dasar pemikiran yang logis mengenai suatu hal yang ingin diketahui.

b. Proses analisis dilakukan dengan mempelajari bagian-bagian yang telah diuraikan secara rinci dan cermat sehingga apa yang ingin diketahui memiliki gambaran yang jelas.

c. Memiliki tujuan untuk mendapat pemahaman yang tepat terhadap suatu objek kajian.

Semiotika adalah sebuah metode untuk menganalisis tanda.

Roland Barthes merupakan tokoh semiotika yang melanjutkan pemikiran Saussure. Menurut Barthes, semiotika adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memaknai tanda. Tanda yang dimaksud dapat berupa banyak hal seperti dialog, logo, gambar, mimik wajah, gestur, hingga lagu.

Teori Roland Barthes mengatakan bahwa terdapat tiga inti dalam semiotikanya, yaitu denotatif, konotatif, dan mitos yang diperoleh dari menelaah pertanda (signifier) dan penanda (signified).

Pengertian umum denotasi biasanya dipahami sebagai makna harfiah atau makna yang tampak jelas dan nyata. Sedangkan konotasi adalah

10 Soedjadi, Analisis Manajemen Modern Kerangka Berpikir Dan Beberapa Aplikasinya (Jakarta: PT Toko Gunung Agung, 1997). hal.107

(27)

konsep yang tidak terlihat, seperti ideologi atau mitos yang disebutkan oleh Barthes, fungsinya untuk memberikan pembenaran bagi nilai- nilai dominasi yang berlaku dalam suatu periode tertentu.11

Sistem denotasi adalah sistem pertandaan tingkat pertama yang mengandung konsep abstrak di baliknya, sedangkan konotasi atau sistem penanda tingkat dua yang identik dengan operasi ideologi yang disebut sebagai mitos.

2. Anime The Journey

Anime adalah salah satu genre film dengan keunikan tersendiri yaitu menampilkan visual animasi dua dimensi (2D) khas negara Jepang. Penyebutan anime biasanya dimengerti sebagai film animasi dua dimensi khas Jepang dengan karakter yang berwarna-warni yang diklasifikasikan melalui genre berdasarkan usia dan tema. Karena memiliki klasifikasi usia, tidak semua anime boleh ditonton oleh anak- anak.

Anime di negara asalnya merupakan sebuah budaya populer yang telah dilihat sebagai sebuah karya seni intelektual. Selain itu anime juga dianggap sebagai aspek penting bahkan fenomena budaya yang dapat menjangkau segala lapisan usia. Sisi artistik dalam anime diadaptasi dari seni tradisional jepang dan tradisi artistik dunia pada sinema dan fotografi abad 20.

11 Rusmana, Filsafat Semiotika. Hal 189

(28)

The Journey adalah salah satu dari ribuan film anime namun menjadi anime pertama yang merupakan hasil kolaborasi dari Jepang dan Arab Saudi oleh studio Toei Animation dan Manga Productions dan mengangkat kisah dari salah satu surah di dalam Alquran yaitu surah Al-Fiil.

3. Pesan Moral

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pesan adalah perintah, nasihat, permintaan, amanat yang disampaikan lewat orang lain. Ilmu komunikasi memberikan pengertian pesan merupakan suatu makna yang ingin disampaikan oleh seorang komunikator kepada komunikan. Maksud dari adanya pesan adalah untuk terciptanya kesatuan maksud antara komunikator dan komunikan.

Moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.12 Maksudnya, jika ada suatu perbuatan dianggap tidak bermoral maka dimaksudkan bahwa perbuatan yang dilakukannya tidak sesuai atau melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku di kalangan masyarakat. Jika ditarik kesimpulannya, pesan moral adalah suatu makna yang disampaikan oleh seorang komunikator melalui berbagai metode dan media kepada komunikan, berisi tentang nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

12 Bertens, Etika. Hal 7

(29)

Moral atau moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan yang dilakukan benar atau salah, baik atau buruk.13 Moral dapat dinilai secara objektif dan subjektif.

Secara objektif, perbuatan hanyalah dipandang sebagai perbuatan yang telah dikerjakan, bebas dari pengaruh atau keadaan khusus pelaku terhadap penguasaan dirinya. Sedangkan secara subjektif, moral memandang perbuatan sebagai perbuatan yang dipengaruhi pengertian, persetujuan, serta kondisi dari pelaku.

Moral bertumpu kepada hukum positif sebagai lawan hukum kodrat. Artinya terdapat konvensi bahwa segala bentuk perbuatan moral merupakan resultan dari kehendak seseorang tanpa mendasarkan sesuatu yang intrinsik, hal ini disebut dengan positivisme moral. Menurut teori tersebut perbuatan dianggap benar berdasarkan kebiasaan manusia, hukum-hukum negara, dan pemilihan bebas Tuhan.

Terdapat perbuatan baik dan buruk semata-mata karena seseorang yang berkuasa telah memerintahkan atau melarangnya.

Perbuatan-perbuatan tersebut ditentukan oleh hukum positif. Selain itu adat atau kebiasaan manusia juga memiliki kekuatan untuk melarang beberapa perbuatan yang sebenarnya tidak buruk, namun harus ditegakkan dengan tujuan menjaga ketertiban yang baik.

13 Poespoprodjo, Filsafat Moral, Kesusilaan Dalam Teori Dan Praktik, 2nd ed. (Bandung: CV Pustaka Grafika, 2017). Hal 118

(30)

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu berisi berbagai penelitian terdahulu yang menjadi referensi atas penelitian yang hendak dilakukan. Penelitian terdahulu dijadikan ringkasan dengan ditelaah persamaan, perbedaan, beserta garis besar dari hasil penelitian. Berikut penelitian terdahulu yang telah dirangkum:

a. Nita Khairani Amanda, Yayu Sriwartini, jurnal Sosial dan Humaniora, Universitas Nasional, Volume 5, Nomor 1, 2020, dengan judul “Pesan Moral Pernikahan Dalam Wedding Agreement (Analisis Semiotika Roland Barthes)”.

Persamaan dengan jurnal ini adalah sama-sama menggunakan semiotika model Roland Barthes dalam menganalisis, yang menjadi pembeda adalah subjek penelitian, yaitu film wedding agreement. Dari Jurnal ini menghasilkan sebuah representasi pesan moral tentang pernikahan yaitu mempertahankan hubungan pernikahan agar terhindar dari perceraian.

b. Munayaroh, alumni Institut Agama Islam Negeri Ponorogo (2021), dengan judul “Pesan Moral dalam Film Keluarga Cemara (Analisis Semiotika Roland Barthes)”.

Persamaan dengan skripsi ini adalah sama-sama menggunakan semiotika model Roland Barthes sebagai alat analisis, perbedaannya adalah objek penelitiannya, yaitu film “Keluarga Cemara”. Dalam skripsi ini dijabarkan makna konotasi, denotasi, serta mitos yang terkandung

14

(31)

dalam film keluarga cemara yang dijabarkan dengan pesan moral yang disampaikan di dalam film.

c. Intan Leliana, Mirza Ronda, Hayu Lusianawati, jurnal gabungan dari Universitas Bina Sarana Informatika dan Universitas Sahid Jakarta, Jurnal Cakrawala, Volume 21, Nomor 2, September 2021, dengan judul,

“Representasi Pesan Moral dalam Film Tilik (Analisis Semiotik Roland Barthes)”.

Persamaan dengan jurnal ini adalah sama-sama menggunakan model semiotika Roland Barthes dalam menganalisis, yang menjadi pembeda adalah subjek penelitiannya yaitu film Tilik. Dalam jurnal ini dijabarkan bahwa terdapat banyak tanda yang terkandung dalam film Tilik yang dtampilkan melalui makna denotatif, konotatif, dan mitos.

d. Habib Ali Akbar, alumni Universitas Islam Riau Pekanbaru (2022), dengan judul “Analisis Semiotika Pesan Moral dalam Film Quarantine Tales”.

Persamaan dengan skripsi ini adalah sama-sama menggunakan semiotika model Roland Barthes sebagai alat analisis, perbedaannya adalah objek penelitiannya, yaitu film “Quarantine Tales”. Dalam skripsi ini dijabarkan bahwa film Quarantine Tales dengan genre omnibus yang masih asing di dunia perfilman Indonesia mengandung beberapa besan moral yang mengenai jujur, kemandirian, bertanggungjawab, keberanian moral, dan kritis.

(32)

Tabel 2.1 Penelitian terdahulu N

o Judul Penulis Persamaan Perbedaan Hasil Temuan 1 Analisis

Semiotika Roland Barthes pada Film 3 Dara (Kajian Semiotika)

Asnat Riwu, Tri Pujiati, Universitas Pamulang, Jurnal Dieksis, Volume 10, No.03, 2018

 Meng- gunakan semiotika Roland Barthes sebagai alat analisis

 Mengkaji tentang makna di dalam film

 Subjek dan objek menggun akan film dan scene pada “3 Dara”

 Tidak spesifik meng- analisis tentang pesan moral

Makna denotasi dan konotasi mengacu pada pesan moral, sedangkan mitos yang disampaikan mengenai penyakit mental di ranah psikologi

2 Analisis Pesan Moral dalam Film Jangan Baca Pancasila Karya Rafdi Akbar

Dani Manesah, Rosta Minawati, Nursyirwan, Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padangpanjan g, Jurnal Proporsi, Vol.1, No.3, 2018

 Meng- gunakan semiotika Roland Barthes sebagai alat analisis

 Meng- analisis tentang pesan moral dalam film

 Subjek penelitian meng- gunakan film

“Jangan Baca Pancasila

 Objek penelitian meng- gunakan scene- scene dalam film

“Jengan Baca Pancasila

Pesan moral dalam film

“Jangan Baca Pancasila”

disampaikan melalui visual dan verbal tentang hubungan anatara manusia dengan pencipta, lingkungan, dan sesama manusia.

(33)

” 3 Pesan

Moral dalam Film Yowis Ben

Galuh Andy Wicaksono dan Fathul Qorib, Universitas Tribuwana Tunggadewi, Jurnal

Komunikasi Nusantara, Volume 1, Nomor 2, 2019

 Meng- analisis pesan moral dalam film

 Meng- gunakan semiotika sebagai alat analisis

 Subjek dan objek penelitian meng- gunakan film

“Yowis Ben”

 Meng- gunakan semiotika model Charles Sanders Pierce sebagai alat analisis

Pesan moral dalam film

“Yowis Ben”

ditampilkan dari tanda visual dan verbal. Tokoh dan

pembicaraan dari scene yang telah dipilih benar dan meng- andung pesan moral.

4 Pesan Moral Pernikahan Dalam Wedding Agreement (Analisis Semiotika Roland Barthes)

Nita Khairani Amanda, Yayu Sriwartini, jurnal Sosial dan

Humaniora, Universitas Nasional, Volume 5, Nomor 1, 2020

 Meng- gunakan semiotika Roland Barthes sebagai alat analisis.

 Meng- analisis tentang pesan moral dalam film

 Subjek penelitian menggun akan film

“Wedding Agreeme nt”.

 Objek penelitian menggun akan scene- scene dalam film

“Wedding Agreeme nt”.

Dari Jurnal ini menghasilkan sebuah representasi pesan moral tentang pernikahan yaitu

mempertahank an hubungan pernikahan agar terhindar dari perceraian

5 A Semiotic Analysis of The

Sadiq Aminu, International Academy

 Meng- analisis meng-

 Meng- gunakan semiotika

Diketahui dalam film

“Black

(34)

Movie

“Black Phanter”

Journal of Management Marketing and

Entrepreneuri al Studies, Vol 8, Issue 2, 2021

gunakan semiotika

 Meng- analisis makna dalam film

Charles Sanders Pierce

 Subjek dan objek penelitian meng- gunakan film

“Black Phanter”

 Meng- analisis tanda ke- budayaan

Phanter”

memiliki beragam tanda mengenai kebudayaan dari kaum hitam Afrika mulai dari sejarah hingga kepercayaan.

6 Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film Bintang Ketjil Karya Wim Umboh dan Misbach Yusa Bira

Panji

Wibisono dan Yunita Sari, Universitas Prof. Dr.

Moestopo (Beragama), Jurnal Dinamika Ilmu

Komunikasi, Volume 1, Nomor 1, hal 30-43 April 2021.

 Meng- gunakan semiotika Roland Barthes sebagai alat analisis

 Subjek dan Objek Penelitian menggun akan film dan scene dari

“Bintang Ketjil”

 Tidak secara spesifik meng- analisis tentang pesan moral

Makna denotasi, konotasi serta mitos yang terkandung dalam film Bintang Ketjil yaitu tentang pendidikan serta psikologi anak.

7 Analisis Semiotika Roland Barthes pada Film

“Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini”

Selvi Yani Nur Fahida, Universitas Negeri Makassar, Jurnal

Cinematholog y, Volume 1, No.2, 2021

 Meng- gunakan semiotika Roland Barthes sebagai alat analisis

 Subjek dan Objek penelitian menggun akan film dan scene- scene dari

Dalam jurnal ini membedah makna

denotasi dan konotasi yang ada di dalam film, serta membedah

(35)

(NKCTHI) Karya Angga Dwimas Sasongko

“Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini”

 Tidak secara spesifik menganal isis tentang pesan moral

mitos tentang hubungan keluarga.

8 Representa si Pesan Moral dalam Film Tilik (Analisis Semiotik Roland Barthes)

Intan Leliana, Mirza Ronda, Hayu

Lusianawati, jurnal

gabungan dari Universitas Bina Sarana Informatika dan

Universitas Sahid Jakarta, Jurnal

Cakrawala, Volume 21, Nomor 2, September 2021

 Meng- gunakan semiotika Roland Barthes sebagai alat analisis

 Menganalis is moral dalam film

 Subjek penelitian yang dipakai adalah film

“Tilik”

 Objek yang dipakai adalah scene- scene dalam film

“Tilik”

Dalam jurnal ini dijabarkan bahwa terdapat banyak tanda yang

terkandung dalam film Tilik yang dtampilkan melalui makna denotatif, konotatif, dan mitos

9 Pesan Moral dalam Film Keluarga Cemara (Analisis Semiotika Roland Barthes)

Munayaroh Institut Agama Islam Negeri Ponorogo (2021)

 Meng- gunakan semiotika Roland Barthes sebagai alat analisis

 Meng-

 Subjek penelitian , yaitu film

“Keluarg a

Cemara”

 Objek penelitian

Men-jabarkan pesan moral dalam film

“Keluarga Cemara”

melalui makna denotatif, konotatif, dan mitos dalam semiotika

(36)

analisis pesan moral

yaitu scene- scene dalam film

“Keluarg a

Cemara”

Roland Barthes

10 Analisis Semiotika Pesan Moral dalam Film Quarantine Tales

Habib Ali Akbar, Universitas Islam Riau Pekanbaru (2022)

 Meng- gunakan semiotika Roland Barthes sebagai alat analisis Meneliti pesan moral dalam film

 Subjek penelitia n yang digunaka n adalah film

“Quarant ine Tales”

 Objek yang digunaka n adalah scene- scene dalam film

“Quarant ine Tales”

Dalam skripsi ini dijabarkan bahwa film Quarantine Tales dengan genre omnibus yang masih asing di dunia perfilman Indonesia mengandung beberapa besan moral yang mengenai jujur,

kemandirian, bertanggung- jawab, keberanian moral, dan kritis.

Anime The Journey yang menjadi subyek penelitian akan dianalisis dengan semiotika Roland Barthes untuk menemukan pesan moral melalui pertanda dan penanda yang mengarah kepada mitos sehingga menghasilkan makna pesan moral dari perspektif Islam. Moral dalam Islam berarti akhlak dengan sumber yang termaktub di dalam Alquran dan Hadis.

(37)

B. Kajian Teori

Kajian teori mencakup tentang serangkaian konsep, definisi, dan juga perspektif mengenai landasan teori dari penelitian yang disusun secara rapi.

Berikut kajian teori dalam penelitian ini:

1. Tinjauan Umum Moral a) Pengertian Moral

Moral berasal dari kata latin, mores, yang berarti tata cara, kebiasaan, dan adat. Perilaku moral dikendalikan konsep-konsep moral – peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi seseorang atau kelompok yang menjadi pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok.14 Istilah moral sendiri dapat diartikan sebagai ukuran-ukuran yang menentukan benar dan salah atau baik dan buruknya perilaku di masyarakat.

K Bertens mengungkapkan bahwa moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.15 Definisi tersebut mencerminkan bahwa moral memuat dua hal, yaitu sebagai cara seseorang atau kelompok bertingkah laku kepada orang atau kelompok lain dan adanya norma-norma atau nilai-nilai yang menjadi dasar bagi cara bertingkah laku tersebut.

Arti moral secara sederhana adalah kebenaran atau kesalahan dari perbuatan-perbuatan manusiawi. Moral dapat diukur secara

14 Poespoprodjo. Hlm 8

15 Amril M, Etika Islam, Telaah Pemikiran Filsafat Moral Raqhib Al-Asfahani (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2002). Hlm 17

(38)

objektif dan subjektif. Positivisme moral adalah teori yang mengatakan bahwa semua perbuatan moral atau moralitas bersifat konvensional, bahwasanya tidak ada perbuatan yang menurut hakikatnya baik atau buruk.

b) Moral dalam Perspektif Islam

Pembicaraan tentang moral di dalam Islam selalu berkaitan dengan akhlak. Menurut Philip K. Hitti, ada tiga jenis pandangan mengenai akhlak di dalam agama Islam. Pertama, akhlak untuk hubungan ‘tertib sopan sehari-hari’ atau popular philosophy of morality. Kedua, akhlak untuk hubungan dengan ilmu pengetahuan atau philosophycal. Ketiga, akhlak yang berhubungan dengan masalah kejiwaan atau mystical psychological.16

Berdasarkan tiga cara pandang di atas, sederhananya dapat dikatakan mengenai adanya pendekatan teoretis dan praktis atas perilaku manusia. Pendekatan yang bersifat teoritis merupakan bagian dari usaha rasionalisasi terhadap tingkah laku manusia, atau berupa pikiran-pikiran logis tentang sesuatu yang harus diperbuat oleh manusia. Sedangkan pendekatakan praktis menunjuk secara langsung kepada tingkah laku manusia. Tingkah laku ini bisa dilihat sebagai hasil pikiran logis manusia ketika menyadari kehidupan sosialnya. Misalnya mengenai perbuatan-perbuatan mana yang harus

16 Zainal Abidin Ahmad, Konsepsi Negara Bermoral (Jakarta: Bulan Bintang, 1975). hlm 19-20

(39)

dilakukan, dan perbuatan mana yang mesti ditinggalkan. Mana perbuatan yang baik, dan mana perbuatan yang buruk.

Secara etimologi, akhlak adalah bentuk jamak dari kata khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat.17 Alat ukur dari akhlak secara pasti diperoleh dari Alquran dan sunnah. Berikut ruang lingkup akhlak:

1) Akhlak Terhadap Allah Swt

Taqwa: memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

 Cinta Dan Rida: dengan cinta kepada Allah, seseorang akan melakukan segala sesuatu yang diperintahkan serta meninggalkan hal yang dibenci dengan penuh semangat dan kasih sayang.

 Ikhlas: beramal tanpa pamrih, hanya mengharap rida Allah Swt. Karena hanya dengan ikhlas semua amal ibadah akan diterima oleh Allah.

Khauf dan Raja’: merasa takut akan adab Allah dan penuh pengharapan akan rida Allah.

 Tawakkal: membebaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan segala keputusan kepada-Nya.

17 Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 1999). Hlm 1

(40)

 Syukur: memuji dan berterima kasih kepadapemberi nikmat atas kebaikan yang telah diberikan.

Muraqabah: kesadaran seorang hamba bahwa ia selalu di bawah pengawasan Allah Swt.

 Tobat: kembali dari sifat-sifat tercela menuju ke sifat-sifat terpuji.

2) Akhlak Terhadap Rasulullah

 Mencintai Dan Memuliakan Rasul:

 Mengikuti Dan Menaati Rasul

 Mengucapkan Selawat Dan Salam 3) Akhlak Pribadi

Shidiq: benar atau jujur, harus ada sinkronisasi antara hati, perbuatan dan perkataan.

 Amanah: memelihara titipan daan mengembalikan kepada pemiliknya dalam bentuk semula.

Istiqomah: sikap teguh mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan.

 Iffah: memelihara kehormatan diri dari segala hal yang merendahkan, merusak, dan menjatuhkannya.

Mujahadah: mencurahkan segala kemampuan untuk melepas segala hal yang menghambat pendekatan diri terhadap Allah Swt.

(41)

Syaja’ah: keberanian untuk memilih jalan yang benar, ditentukan oleh kekuatan hati dan kebersihan jiwa.

Tawadhu’: rendah hati, tidak merasa dirinya lebih dari orang lain.

 Malu: sifat yang menghasilkan keengganan setelah melakukan kesalahan.

 Sabar: menahan diri dari sesuatu yang tidak disukai karena mengharapkan rida Allah Swt.

 Pemaaf: memberikan maaf terhadap kesalahan tanpa ada rasa benci dan keinginan untuk membalas.

4) Akhlak Dalam Keluarga

Birrul Walidain (berbakti kepada orang tua)

 Hak, Kewajiban, Dan Kasih Sayang Suami Istri

 Kasih Sayang Dan Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Anak

 Silaturrahim Dengan Karib Kerabat 5) Akhlak Bermasyarakat

 Bertamu dan Menerima Tamu

 Hubungan Baik Dengan Tetangga

 Hubungan Baik Dengan Masyarakat

 Pergaulan Muda-Mudi

Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antar sesama muslim)

(42)

6) Akhlak Bernegara

 Musyawarah

 Menegakkan Keadilan

Amar Ma’ruf Nahi Munkar (menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran)

 Hubungan Pemimpin Dan Yang Dipimpin 2. Tinjauan Film

a) Pengertian Film

Film merupakan salah satu media komunikasi massa karena merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, tersebar dimana-mana, khalayak heterogen dan anonim, dan akan menimbulkan efek tertentu.18

Film adalah sebuah media komunikasi massa yang memiliki realitas tertinggi terutama dalam kehidupan di masyarakat karena film adalah media yang paling efektif digunakan dalam menyampaikan pesan dan informasi. Secara kolektif, film disebut dengan “sinema”. Gambar hidup adalah suatu bentuk seni populer dari hiburan hingga bisnis. Film dihasilkan dengan rekaman dari orang dan benda dengan kamera atau oleh animasi. Film selalu mengandung makna baik secara informatif, edukatif, hingga persuasif.

18 Nawiroh Vera, Semiotika Dalam Riset Komunikasi (Bogor: Ghalia Indonesia, n.d.). hlm 91

(43)

Dewasa ini, film dapat dikatakan sebagai sebuah industri yang menampung berbagai macam manusia untuk dapat mengekspresikan perasaan dan kemampuannya. Film adalah suatu seni yang paling kompleks karena memiliki komposisi yang unik dan memiliki banyak fungsi di antaranya sebagai hiburan, kontrol sosial, dan pendidikan.

Kekuatan film dalam memengaruhi khalayak bersumber kepada audio visualnya serta kemampuan sutradara dalam memberikan kesan bagi para penontonnya. Kemampuan film dalam menyampaikan pesan terletak pada alur ceritanya. Sutradara menyajikan pesan-pesan dalam film dengan menggunakan tanda yang terdapat pada visual atau audionya. Karena ini film merupakan bidang kajian yang relevan untuk dianalisis dengan semiotika.

Kamus komunikasi mengartikan film adalah media yang bersifat visual dan audio untuk menyampaikan pesan kepada sekelompok orang yang menontonnya.19 Sifatnya yang audio visual bisa memengaruhi penonton yang menonton. Tujuan dari pembuatan film adalah untuk menarik perhatian orang-orang supaya menyaksikan menggunakan permasalahan-permasalahan yang diangkat ke dalamnya.

Film berfungsi sebagai sarana hiburan bagi masyarakat. Selain itu juga berfungsi sebagai sarana informasi, edukasi, dan persuasi

19 Onong Uchijana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005). Hlm 134

(44)

karena cerita yang diangkat dalam film adalah peristiea-peristiwa yang seringkali terjadi di masyarakat.

b) Unsur Pembentuk Film

Film dibentuk oleh dua unsur yaitu unsur naratif dan unsur sinematik. Kedua unsur ini saling berkaitan dan berkesinambungan dalam membentuk sebuah film. Masing-masing unsur tidak dapat membentuk sebuah film jika berdiri sendiri. Bisa dikatakan bahwa unsur naratif adalah bahan atau materi yang diolah dan unsur sinematik adalah cara dan gaya untuk mengolahnya.20

Unsur naratif berhubungan dengan aspek cerita atau tema dari sebuah film. Setiap cerita pasti memiliki unsur-unsur pembentuk seperti tokoh, masalah, konflik, lokasi, waktu, serta lainnya. Unsur- unsur tersebut saling berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk sebuah peristiwa yang memiliki maksud dan tujuan.

Seluruh jalinan peristiwa yang ditampilkan terikat dengan hukum kausalitas atau hukum sebab akibat. Aspek kausalitas bersama unsur ruang dan waktu adalah elemen-elemen pokok pembentuk naratif.

Unsur sinematik merupakan aspek-aspek teknis dalam produksi sebuah film. Unsur sinematik terbagi menjadi empat elemen pokok yaitu mise-en-scene, sinematografi, editing dan suara.

Mise-en-scene adalah segala hal yang berada di depan kamera.

Sinematografi adalah perlakuan terhadap kamera dan filmnya serta

20 Himawan Pratista, Memahami Film (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008).

(45)

hubungan kamera dengan objek yang diambil. Editing adalah transisi sebuah gambar (shot) lainnya. Sedangkan suara adalah segala hal dalam film yang mampu kita tangkap melalui indera pendengaran.

Seluruh unsur sinematik tersebut saling terkait, mengisi, serta berkesinambungan satu sama lain untuk membentuk unsur sinematik secara keseluruhan.

c) Teknik Pengambilan Gambar

Dunia perfilman memiliki beberapa istilah seperti pemotongan (cut), pembesaran gambar (zoom in), pengecilan gambar (zoom out), memudar (fade), dan pelarutan (dissolve). Selanjutnya pada gerakan dipercepat (speeded up), gerakan lambat (slow motion), dan efek khusus (special effect). Bahasa tersebut juga mencakup kodekode representasi yang lebih halus, yang tercakup dari penggambaran visual danlinguistik hingga simbol-simbol yang abstrak dan arbitrer serta metafora. Analisis visual gambar menjadi suatu elemen terpenting yang menjadikannya bermakna.21

Terdapat dua aspek yang difokuskan dalam menganalisis iklan yakni aspek visual yang berupa ekspresi para tokoh, cara pengambilan gambar dan setting. Kedua aspek audio yang berupa narasi, gaya bahasa. Cara pengambilan gambar dalam penelitian ini dapat berfungsi sebagai penanda. Gambar menjadi elemen terpenting untuk membentuk suatu tayangan berdurasi. Teknik pengambilan

21 Seto, Semiotika Komunikasi. Hlm 39

(46)

suatu gambar akan menentukan kualitas gambar yang dihasilkan apakah memenuhi kriteria menjadi gambar yang layak. Teknik pengambilan suatu gambar memiliki kode-kode yang memiliki makna tersendiri. Kode-kode tersebut menginformasikan hampir seluruh aspek tentang keberadaan kita dan menyediakan konsep yang bermanfaat bagi analisis seni populer dan media. Beberapa elemen gambar dapat ditemui dalam kode, terutama yang berhubungan dengan bahasa gambar yang bisa dilihat sebagai berikut:

Tabel 2.2

Teknik dalam Pengambilan Gambar PENANDA

(SIGNIFIER)

MENGANDUNG PERTANDA (SIGNIFIED) PENGAMBILAN GAMBAR

Extreme Long Shot kesan luas dan keluarbiasaan

Full Shot Hubungan sosial

Big Close Up Emosi, dramatik, moment penting

Close Up Intim atau dekat

Medium Shot Hubungan personal dengan objek

Long Shot Konteks perbedaan dengan publik

SUDUT PANDANG (ANGLE)

High Dominasi, kekuasaan, dan

otoritas

Eye-Level Kesejajaran, keamanan, sederajat

Low Didominasi, dikuasai, dan

kurang otoritas TIPE LENSA

Wide Angle Dramatis

Normal Normalitas dan keseharian Telephoto Tidak personal, voyeuristik

(47)

FOKUS

Selective Focus Meminta perhatian (tertuju pada suatu objek) Soft Focus Romantis serta nostalgia Deep Focus Semua unsur adalah penting

PENCAHAYAAN

High Key Riang dan cerah

Low Key Suram dan muram

High Contrast Dramatikan dan teatrikal Low Contrast Realistik serta terkesan seperti

dokumenter PEWARNAAN

Warm (kuning, orange, merah,

abu-abu) Riang dan cerah

Cool (biru dan hijau) Pesimisme, tidak ada harapan Black and White (hitam dan

putih) Realisme, aktualisme, harapan

3. Tinjauan Umum Anime a) Pengertian Anime

Anime menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah animasi atau kartun khas Jepang.22 Anime adalah Animasi Jepang (Japanese Animation) yang banyak digunakan di berbagai serial televisi, film, video, games, komersial, dan beberapa situs internet.

Animasi sendiri memiliki arti sebagai sebuah upaya untuk membuat presentasi statis menjadi hidup yang pembuatannya terbentuk dari perubahan visual secara terus-menerus.23 Dalam anime, tema yang ditayangkan dan penggambaran karakter tokoh yang menggunakan dua dimensi dibuat dengan sangat teliti dan mendetail sehingga dapat menarik perhatian penonton.

22 “KBBI Daring,” n.d., https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/anime.

23 Putri Suantari, Dunia Animasi (Denpasar Timur: Miia Art, 2016). Hlm 21

(48)

Tema yang sering diangkat dalam cerita anime biasanya berhubungan dengan kehidupan manusia pada umumnya, seperti baik dan buruk, romansa, hubungan manusia dengan alam, juga harapan dan mimpi untuk masa depan.

Anime memiliki daya tarik tersendiri bagi para penikmatnya untuk sekadar hiburan karena fantasi dan imajinasi yang hanya sebatas khayalan dan tidak mungkin terjadi di dunia nyata dapat digambarkan dan dituangkan di dalam film. Sebagai budaya populer yang sejalan dengan budaya massa, memiliki arti bahwa anime merupakan budaya yang diproduksi secara massa untuk dikonsumsi massa yang menyenangkan dan disukai banyak orang.

b) Genre Anime

Masyarakat kebanyakan menganggap anime hanyalah untuk anak-anak, padaha di dalam anime cerita dan visual yang disampaikan tidak selamanya cocok untuk ditonton oleh anak-anak.

Terdapat banyak genre di dalam anime yang dibagi menjadi dua, yaitu genre yang didasarkan oleh jenis kelamin dan segmentasi usia, kedua berdasarkan tema yang diangkat.

Berikut beberapa contoh pembagian genre anime berdasarkan segmentasi usia dan jenis kelamin:

1) Kodomo, yaitu anime yang diperuntukkan untuk anak-anak.

Biasanya berisi tentang pendidikan usia dini.

(49)

2) Shoujo, yaitu anime yang diperuntukkan untuk remaja perempuan. Biasanya bercerita tentang para gadis dan permasalahannya

3) Shounen, yaitu anime yang diperuntukkan untuk remaja laki-laki.

Biasanya bercerita tentang aksi heroik dari suatu tokoh.

4) Josei, anime yang diperuntukkan untuk perempuan dewasa.

Biasanya bercerita tentang kehidupan romansa wanita.

5) Seinen, anime yang diperuntukkan untuk laki-laki dewasa.

Biasanya berisi tentang aksi namun dibumbui dengan adegan thriller.

Berikut beberapa genre anime berdasarkan segmentasi tema yang diangkat:

1) Aksi, berhubungan dengan perkelahian atau aksi heroik suatu tokoh. Contoh anime genre ini adalah Kimetsu no Yaiba.

2) Petualangan, bercerita tentang petualangan, penonton seperti dibawa berpetualang di dalam dunia anime. Contoh anime genre ini adalah Made in Abyss.

3) Mecha, bercerita tentang dunia mekanik , biasanya berupa robot atau mesin. Contoh anime genre ini adalah Evangelion.

4) Drama, menyajikan cerita yang kompleks tentang kehidupan yang emosional dan penuh konflik. Contoh anime genre ini adalah Shigatsu wa Kimi no Uso.

(50)

5) Slice of life, menampilkan kisah kehidupan sehari-hari dalam hidup manusia. Anime dengan genre ini cenderung tenang dengan sedikit konflik. Contoh anime dengan genre ini adalah Yuru Camp.

6) Romansa, anime ini menceritakan tentang kehidupan romansa.

Contoh anime genre ini adalah Fruits Basket.

7) Komedi, cerita yang ada di dalam anime ini bisa memuat berbagai genre namun dispesifikkan mengandung banyak unsur-unsur komedi. Contoh anime genre ini adalah Danshi Koukosei no Nichijou.

8) Fantasi, cerita yang ada di dalam anime ini seringkali tidak masuk akal. Biasanya bertema sulap, peristiwa supernatural, mitologi, dunia lain atau isekai, dan fantasi yang bersifat fiktif. Contoh anime genre ini adalah Tate no Yuusha.

4. Tinjauan Umum Semiotika a) Pengertian Semiotika

Secara etimologis, semiotika berasal dari bahasa Yunani Semeion yang berarti tanda. Tanda adalah suatu yang berdasarkan konvensi sosial yang telah terbangun sebelumnya dan dapat dimengerti untu mewakili sesuatu yang lain. Pada awalnya tanda dimaknai sebagai suatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain.

Contoh, jika ada asap maka ada api.24 Pada dasarnya analisis

24 Seto, Semiotika Komunikasi. Hlm 7

(51)

semiotika merupakan sebuah usaha untuk menemukan berita di dalam berita. Artinya, semiotika membantu upaya untuk menemukan sesuatu dalam sebuah karya sastra yang dapat dipertanyakan lebih lanjut dengan analisis khas paradigmatik.

Semiotika memiliki wilayah kajian yang luas, dengan demikian semiotik menganggap semua fenomena yang ada di masyarakat dan kebudayaan sebagai tanda. Tanda dapat mengganti sesuatu yang lain secara signifikan. Garis besarnya, tanda dapat muncul di mana saja dan kapan saja karenamemang mencakup segala hal seperti kata, bahasa, gerak-gerik, pakaian, boneka, menu makanan, musik, lukisan, film, sabun, bahkan dunia. Segala sesuatu yang secara konvensional dapat menggantikan atau mewakili sesuatu yang lain dapat disebut dengan tanda.25

Proses komunikasi manusia dalam menyampaikan pesan menggunakan bahasa baik verbal maupun nonverbal. Memahami bahasa verbal maupun nonverbal dibutuhkan ilmu untuk mempelajari hal tersebut, yaitu semiotika. Kaitan antara komunikasi dan semiotika adalah komunikasi secara sederhana didefinisikan sebagai proses pertukaran pesan dimana pesan memiliki tiga elemen struktur, yaitu tanda dan simbol, bahasa, dan wacana. Pesan dalam komunikasi yang melibatkan tanda-tanda tersebut memiliki makna tertentu, karenanya, tanda dan maknanya menjadi penting dalam

25 Rusmana, Filsafat Semiotika. Hlm 31

(52)

komunikasi, sebab fungsi utama dari sebuah tanda adalah alat untuk membangkitkan makna.26

Bidang kajian semiotik mempelajari fungsi tanda, yaitu bagaimana memahami sistem tanda yang berperan untuk membimbing pembacanya agar bisa menangkap pesan yang terkandung di dalamnya. Dalam wilayah kajian ilmu komunikasi, semiotika memiliki jangkauan yang luas. Semiotika dapat diterapkan pada berbagai kajian tentang komunikasi seperti komunikasi massa, yaitu film, televisi, iklan, lagu, foto, produk jurnalistik, dan lain sebagainya.

b) Semiotika Roland Barthes

Barthes lahir pada tahun 1915, beliau dikenal dengan pemikir strukturalis yang rajin mempraktikkan berbagai model macam linguistic dan semiologi Sausure. Sausure adalah seorang tokoh prancis yang mengenalkan konsep semiotika yang kemudian dikembangkan oleh barthes. Barthes mengemukakan pendapatnya bahwa bahasa adalah sebuah sistem tanda yang dicerminkan oleh asumsi-asumsi dari masyarakat pada waktu dan tempat tertentu.

Barthes menjadikan denotasi dan konotasi sebagai konsep analisinya. “Orders of signification” merupakan istilah yang digunakan oleh barthes. First signification adalah nama dari denotasi dan second signification adalah nama dari konotasi. Melalui dua

26 Vera, Semiotika Dalam Riset Komunikasi. hlm 7

(53)

model tersebut barthes menjelaskan bahwa signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara tanda dengan sebuah realitas eksternal.

Denotasi merupakan makna tanda yang paling nyata, dilanjutkan dengan signifikasi tahap dua yaitu memaknai mitos yang terkandung dalam makna denotatif tersebut.

Kehidupan masyarakat manggambarkan perkembangan tanda dan makna pada tahap sekunder sering terartikulasi menjadi sistem ideologi dan mitos. Barthes menghubungkan ideologi dengan mitos karena di dalam keduanya hubungan antara penanda dan pertanda terjadi secara termotivasi. Mitos bukanlah realitas yang tidak dapat dijelaskan, melainkan sebuah sistem komunikasi yang berbentuk pesan dengan fungsi untuk mgnungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai tertentu.

Produksi makna dari pembaca akan menghasilkan kejamakan.

Tugas para semiolog atau pembaca adalah menunjukkan sebanyak mungkin makna yang mungkin dihasilkan. Barthes menyebut proses ini sebagai semiolog yang memasuki “dapur makna”.27

Menurut Barthes, suatu karya atau teks hanya berbentuk konstruksi. Apabila ingin menemukan makna dari karya yang harus dilakukan adalah merekosntruksi bahan-bahan yang tersedia dengan cara dipenggal-penggal menjadi beberapa leksia atau satuan bacaan tertentu. Dengan begitu tidak perlu sibuk mencari-cari makna yang

27 Rusmana, Filsafat Semiotika. Hlm 199

(54)

(mungkin) disembunyikan pengarang, akan tetapi bergantung kepada cara pembaca memproduksi makna.

Gambar

Tabel 2.1  Penelitian terdahulu  N
Gambar 4.2  Aws bin Zubair
Gambar 4.3  Abrahah
Gambar 4.4  Zurara
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam Film Sang Penari ini, alasan penulis untuk lebih memilih menggunakan teori semitotika Roland Barthes daripada teori semiotik-semiotik yang lain karena pada

Ropingi, M.Pd dan Siti Amanah, M.Si : Pesan Dakwah Dalam Film Surga Yang Tak Dirindukan (Studi Analisis Semiotika Roland Barthes), Komunikasi dan Penyiaran Islam, Ushuluddin

Dalam menganalisis data, penulis menggunakan fungsi lima kode pembacaan yang digunakan oleh Roland Barthes dalam membaca setiap 39 Representasi Nasionalisme..., Johanes Agung

PESAN DAKWAH BIL HAL DALAM FILM “HAFALAN SHALAT DELISA” (Analisis Semiotika Roland Barthes) SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi Sarjana Strata Satu

Simbol rasisme yang ada pada film the great debaters ini mempunyai banyak makna yang baik tersirat atupun tersurat. Peneliti menggunakan model Roland Barthes

Oleh karena itu, peneliti menggunakan analisis Semiotika Roland Barthes untuk mengetahui representasi nilai-nilai moral yang terdapat pada tokoh Dokter Alif dalam

Rujukan keempat jurnal Zayyina Afifa Mahasiswa Komunikasi dengan judul Karakteristik Slapstick Dalam Film Animasi Bisu (Analisis Semiotika Roland Barthes Dalam

i REPRESENTASI PERJUANGAN KELAS DALAM FILM PENYALIN CAHAYA Analisis Semiotika Roland Barthes TUGAS AKHIR SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-1