ANALISIS USAHA TANI TANAMAN TERUNG (Solanum melongena L.) DI LAHAN KAMPUS STIPER SRIWIGAMA PALEMBANG
oleh PHADILLA CAHYA IMANI
2203003
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN
SRIWIGAMA
PALEMBANG 2024
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Tanaman terung (Solanum melongena. L) merupakan tanaman yang berasal dari Negara India dan Sri Lanka. Tanaman ini dapat dibudidayakan didaerah beriklim tropis dan subtropis. Pusat penyebaran tanaman terung ini sampai ke Negara Asia Tenggara. Di India tanaman terung menyebar ke pulau jawa dan sumatera (Fahri, 2013).Prospek pengembangan usaha tanaman terung ini cukup baik karena selain mempunyai gizi tinggi, juga mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Pengembangan budidaya tanaman terong dapat meningkatkan petani dalam memperoleh hasil secara yang memuaskan, pengembangan agribisnis, perluasan dari tenaga kerja, serta meningkatkan pendapatan negara perkembangan ekspor (Sahid et al., 2014). Manfaat buah terung adalah memiliki zat anti kanker, kandungan tripsin (protease) yang terkandung pada terung merupakan inhibitor yang dapat melawan zat pemicu kanker. Terung yang dikonsumsi secara rutin dapat membantu mengatasi kerusakan yang terjadi pada sel yang mengalami kerusakan kromoson (Iritani, 2012). Tanaman terung juga mengandung gizi yang cukup tinggi yaitu dalam setiap 100 g buah terung segar terdapat 24 kalori, protein 1,1 g, lemak 0,2 g, karbohidrat 5,5 g, kalsium, fosfor, besi, vitamin (A, B, dan C). Oleh sebab itu terung sangat menguntungkan bagi kesehatan khususnya dalam pencegahan penyakit hipertensi (Safei et al., 2014).
Produksi tanaman terung di indinesia sebanyak 691.738 ton dengan luas panen 50.875 ha yang mengalami kenaikan sebanyak 15.399 ton dibandingkan dengan produksi terung tahun sebelumnya (2021) yang hanya berkisar 676.339 ton (Badan Pusat Statistik, 2022). Petani melalui perusahaan pertaniannya harus benar-benar memperhitungkan pengeluaran dan permintaan la harus menjual hasil panennya di pasar dengan harga yang lebih tinggi dari biaya untuk memproduksinya. Selisih antara pengeluaran dan penerimaan dinamakan pendapatan bersih usahatani. Pendapatan bersih harus diusahakan naik terus agar dapat meningkatkan taraf hidup keluarga. Bila panenan tersebut cukup besar, sehingga terdapat sisa untuk dijualnya ke pasar dan hasil penjualannya dapat dipakai untuk membeli pakaian, alat- alat rumah tangga atau alat-alat pertanian (Mubyarto, 1989).
Usahatani terung memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber pendapatan bagi petani kecil dan menengah. Penelitian Sundari (2011) menunjukkan bahwa usahatani terung dapat memberikan keuntungan yang cukup menjanjikan bagi petani, dengan R/C rasio
mencapai 2,04. Namun dalam praktiknya, petani sering menghadapi berbagai kendala dalam mengelola usahatani terung, seperti puncak harga, serangan hama dan penyakit, informasi serta keterbatasan akses terhadap teknologi dan pasar (Adiyoga et al., 2012).
Analisa pendapatan berguna untuk menggambarkan keadaan sekarang dan keadaan yang akan datang dari kegiatan usaha dan perencanaan tindakan bagi seorang petani. Analisa biaya dan pendapatan usahatani merupakan salah satu cara untuk membandingkan biaya dan pendapatan dari kegiatan proses produksi. Usahatani dikatakan beruntung apabila penerimaan lebih besar daripada biaya dan dikatakan merugi apabila penerimaan lebih kecil dari biaya.
Dengan melakukan analisa usahatani dapat diketahui berhasil atau tidaknya suatu usahatani (Hanifah, 1995).
Analisis usahatani merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memancarkan kinerja ekonomi dari suatu kegiatan pertanian. Melalui analisis ini, dapat diketahui tingkat keuntungan, efisiensi penggunaan input, serta faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan usahatani (Soekartawi, 2006). Hasil analisis tersebut dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan bagi petani maupun pemangku kepentingan lainnya dalam upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing usahatani terung.
Studi kelayakan usaha adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara detail mengenai usaha atau bisnis yang akan dijalankan dalam rangka menentukan layak atau tidaknya usaha tersebut untuk dikembangkan (Kasmir 2003). Menurut Suratiyah (2006) R/C ratio (revenue/cost) adalah perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya dengan 3 ketentuan yakni : Jika nilai R/C < 1 maka usaha tersebut tidak layak dilanjutkan, Jika nilai R/C
= 1 maka usaha tersebut hanya kembali modal, Jika nilai R/C > 1 maka usaha tersebut layak.
Pendapatan petani sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar, biaya input, dan risiko seperti hama serta cuaca. Menurut hasil penelitian Taufik (2011) bahwa Penanganan risiko yang baik oleh petani menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kestabilan pendapatan. Hasil penelitian Lamusa (2011) menyatakan efisiensi ekonomi tercapai jika petani dapat memaksimalkan pendapatan dari hasil produksi dengan meminimalkan biaya operasional.
Pengembangan usahatani membutuhkan biaya yang cukup besar, salah satunya untuk memenuhi biaya produksi. Biaya produksi perlu di analisis sehingga usahatani tersebut efisien, berdasarkan hal tersebut maka peneliti berniat untuk melakukan penilitian tentang Analisis usahatani tanaman terung.
I.2 Tujuan Penelitian
a. Untuk menganalisis keuntungan yang diperoleh dari usahatani tanaman terung b. Mengidentifikasi faktor-faktor produksi yang mempengaruhi produktivitas
tanaman terung
I.3 Hipotesis Penelitian
a. R/C ratio > 1, maka usahatani tanaman terung tersebut menguntungkan, sehingga usaha tersebut layak untuk diusahakan.
R/C ratio < 1, maka usahatani tanaman terung tersebut rugi, sehingga usaha tersebut tidak layak diusahakan.
b. Faktor-faktor produksi (luas lahan, benih, pupuk, pestisida dan tenaga kerja) berpengaruh terhadap produksi tanaman terung.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Sistematika dan Botani Tanaman Terung 1. Sistematika
Menurut Benson (1957) dalam Samadi dan Risky (2018) bahwa sistematika tanaman terung adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta Sub divisio : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Solanales Famili : Solanaceae
Genus : Solanum
Spesies : Solanum melongena L.
2. Botani
Botani tanaman terung meliputi akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji adalah sebagai berikut:
a. Akar
Jenis akar tanaman terung yaitu akar tunggang dan memiliki banyak cabang, akarnya yang dangkal sehingga memiliki buluh yang kasar. Percabangan akar tanaman terung dapat menembus tanah hingga 800-100 cm (Sulardi et al., 2022).
b. Batang
Batang pada tanaman terung memiliki dua tipe, batang utama (primer) dan percabangan (sekunder). Batang primer sebagai penyangga berdirinya tanaman terung, bentuknya keras dan besar , sedangkan batang sekunder bagian batang yang dapat mengeluarkan bunga dan ukurannya lebih kecil. Bentuk dari batang ini percabangannya menggarpu dan tidak beraturan. Tinggi batang tanaman terung bisa 18 mencapai 40-150 cm (Susilawati, 2017).
c. Daun
Daun terung terdiri atas tangkai daun (petiolus) dan helai daun (lamina), disebut juga daun bertangkai. Tangkai daun berbentuk silinder dengan sisi agak pipih dan menebal di bagian pangkal, panjang berkisar antara 5-8 cm, helai daun terdiri atas ibu tulang daun, tulang cabang, dan urut-urut daun. Lebar helai daun 7- 7- 9 cm atau sesuai varietasnya. Panjang daun antara 12-20 cm, bangun daun berupa belah ketupat hingga oval, bagian ujung daun tumpul, pangkal daun meruncing dan bertoreh (Rukmana, 2012).
d. Bunga
Tanaman terung di hiasi dengan adanya kelopak bunga, mahkota bunga, dan tangkai bunga.
Diameter bunga terung saat mekar 2,5-3 cm. jumlah mahkota bunga tanaman terung 5-8 buah. Bunga tanaman terung ini berjenis kelamin ganda atau disebut dengan bunga banci karena pada satu bunga terdapat benang sari dan putik (Sulardi et al., 2022)
e. Buah
Buah terung memiliki daging yang tebal, bertekstur lunak, dan apabila masak buah ini tidak pecah, daging buah mengandung air. Bentuk buah terung melonjong dan ujungnya tumpul, sedangkan warna kulit pada buah terung ungu mengkilat. Buah tanaman terung ini buah sejati dan buah terlihat menggantung pada tangkainya (Susilawati, 2017).
f. Biji
Bentuk biji terung adalah kecil, bulat pipih seperti ginjal dengan warna kuning kecoklatan.
Susunan biji terong bergerombol saling melekat pada empulur dan menyebar pada saat sudah tua. Biji terong memiliki ukuran yang berbeda-beda tergantung dari jenisnya. Berat 1000 buah biji terong berkisar antara 3-7 g. Biasanya biji terong digunakan sebagai benih untuk perbanyakan tanaman (Cahyono, 2013).
B. Syarat Tumbuh
1. Tempat dan Topografi
Tanaman terung sangat mudah dibudidayakan karena dapat tumbuh di daerah dataran rendah sampai dataran tinggi sekitar 1.200 m dari permukaan laut (m dpl). Terung dapat tumbuh di berbagai ketinggian tempat. Ketinggian tempat sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, pembentukan hasil buah dan masa panen buah terung. Semakin tinggi letak geografis suatu tempat, keadaan suhu rendah, dengan laju penurunan 0,5 °C untuk setiap kenaikan ketinggian sebesar 100 meter dari permukaan laut. Dengan demikian, semakin tinggi letak geografis tanah, udara akan semakin dingin dan sejuk. Daerah yang sering menjadi sentra produksi terung berada di dataran tinggi dengan ketinggian antara 900- 1.100 meter dari permukaan laut (Supriati, 2017).
2. Tanah
Tanaman terung umumnya memiliki daya adaptasi yang sangat luas, namun kondisi tanah yang subur dan gembur dengan sistem drainase dan tingkat keasaman yang baik merupakan syarat yang ideal bagi pertumbuhan terung. Untuk pertumbuhan optimum, pH tanah harus
berkisar antara 5-6, namun tanaman terung masih toleran terhadap pH tanah yang lebih rendah yaitu 5,0 (Putri, 2016).
3. Air dan Suhu
Tanaman ini memerlukan air yang cukup untuk menopang pertumbuhannya. Selama pertumbuhannya, terung menghendaki keadaan suhu udara antara 22-30 ºC, cuaca panas dan iklimnya kering, sehingga cocok ditanam pada musim kemarau. Pada keadaan cuaca panas akan merangsang dan mempercepat proses pembungaan atau pembuahan. Namun, bila suhu udara tinggi pembungaan dan pembuahan terung ungu hijau akan terganggu yakni bunga dan buah akan berguguran. Tanaman terung sebaiknya mendapat sinar matahari langsung (Sunarjono, 2013).
4. Iklim
Tanaman terung dapat tumbuh dan berproduksi baik didataran tinggi maupun didataran rendah lebih kurang 1.000 meter dari permukaan laut. Tanaman ini memerlukan air yang cukup untuk menopang pertumbuhannya. Selama pertumbuhanya, terong menghendaki keadaan suhu udara antara 22-30 oC, cuaca panas dan iklim nya kering, sehingga cocok ditanam pada musim kemarau . Ada keadaan cuaca akan merangsang dan mempercepat proses pembungaan atau pembuahan. Namun, bila suhu udara tinggi pembungan dan pembuahan terong akan terganggu yakni bunga dan buah akan berguguran (Kahar, 2016).
C. Teknik Budidaya Tanaman Terung
Kegiatan teknik budidaya tanaman terung adalah sebagai berikut : 1. Pengolahan Lahan
Pengolahan lahan dilakukan terlebih dahulu dengan membersihkan dari kotoran (sampah dan sisa-sisa tanaman). Selanjutnya dilakukan Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan membajak atau mencangkul tanah sedalam 20-35 cm. Tanah bagian atas merupakan tanah olahan yang paling subur dengan ciri berwarna hitam dan gembur. Pengolahan tanah jangan sampai terlalu dalam sebab pencangkulan tanah yang terlalu dalam dapat mengakibatkan tanah yang kurang subur bercampur dengan tanah yang subur sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman (Satyo, 2013).
2. Pembuatan Bedengan dan Parit
Tanah yang sebelumnya diolah kemudian dicangkul kembali setelah tanah dibiarkan selama 2-3 minggu sejak pengolahan pertama. Hal ini dilakukan agar gas-gas beracun menguap, bibit penyakit dan I hama mati terkena sinar matahari. Tanah yang remah dan gembur kemudian
dibuat bedengan dan parit membujur ke arah timur-barat agar penyebaran cahayanya dapat merata. Bedengan dibuat dengan lebar antara 110-120 cm, tinggi 30-45 cm, panjang disesuaikan dengan luas lahan biasanya 10-12 m dan lebar parit 50-60 cm (Perwati, 2016).
3. Pemupukan
Pupuk organik berasal dari tanaman dan hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair, yang dapat mensuplai atau menyediakan senyawa karbon dan sebagai sumber nitrogen tanah yang utama, perannya cukup besar terhadap perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah dan mempunyai fungsi penting bagi tanah untuk menggemburkan lapisan permukaan tanah (top soil), meninggkatkan populasi jasad ernik tanah, mempertinggi daya serap dan daya simpan air yang secara keseluruhan akan meningkatkan suburan tanah. Satu diantara pupuk organik yang digunakan kotoran ayam (Tarigan et al., 2014).
4. Pemasangan Mulsa
Mulsa yang digunakan dapat menggunakan mulsa MPHP (Mulsa Plastic Hitam Perak).
penggunaan mulsa ini lebih praktis sebab dapat digunakan lebih dari satu kali sehingga dapat menghemat biaya pada musim tanam berikutnya. Fungsi mulsa ini adalah, untuk menahan pertumbuhan hama dan gulma. Warna perak dipermukaan atas mampu memantulkan simar ultra violet yang bisa mengusir hama, terutama yang banyak bersarang di bagian bawah daun terong, seperti thrips, tungau dan virus sekunder. Sementara itu, warna hitam di permukaan bawah mampu menutup rapat bedengan dan memberi kesan gelap, sehingga gulma tidak bisa tumbuh karena tidak memperoleh sinar matahari. Pemasangan mulsa sebaiknya memperhatikan cuaca, yakni pada saat terik matahari antara pukul 14.00-16.00 agar plastik memanjang (memuai) dan menutup tanah serapat mungkin. Cara pemasangan mulsa yaitu menarik kedua ujung mulsa ke masing-masing ujung bedengan dengan arah memanjang, kemudian dikuatkan dengan pasak bilah bambu berbentuk "U" yang ditancapkan di setiap sisi bedengan. Setelah itu tarik mulsa ke bagian sisi kiri kanan (lebar) bedengan hingga rata, setiap jarak 40-50 cm diberi pasak (Purwowidodo, 2014).
5. Penyemaian Benih
Sebelum disemai,benih terong direndam dengan air hangat, setelah benih siap tahap selanjutnya menyiapkan media semai berupa tanah yang dicampur kompos dengan perbandingan 1:1 pada potray semai ataupun polybag ukuran 5 cm x 15 cm. Tanam benih
terung tersebut, dan letakan pada tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Siram benih yang telah disemai pada sore hari mengggunakan handsprayer, usahakan tanah tidak terlalu basah, setelah berumur 21 hari bibit terung dapat dipindahkan ke polybag ukuran 35 cm x 40 cm, atau bisa juga dipindahkan kelahan (Rukmana, 2013).
6. Penanaman
Bibit terung siap ditanam pada lahan jika telah berumur 20 - 25 hari atau setidaknya sudah tumbuh daun sebanyak 5 helai. Sebelum penanaman dilakukan, ada baiknya bibit diseleksi terlebih dahulu. Bibit terong sebelum ditanam direndam dulu menggunakan larutan fungisida dan bakterisida dengan konsentrasi 0.2% untuk mencegah beberapa penyakit, seperti fusarium dan pseudomonas. Bibit yang cacat, rusak, atau terserang hama penyakit sebaiknya tidak ditanam karena bisa menular ke tanaman terong lainnya. Saat yang baik untuk menanam terong adalah tiga hari setelah lubang tanah dipersiapkan. Penanaman diusahakan pada pagi atau sore hari. Pada pagi hari keadaan cuaca tidak panas sehingga tanaman terhindar dari kelayuan. Sebaiknya, penanaman bibit dikerjakan oleh banyak orang secara serempak Tujuannya agar pertumbuhan tanaman nantinya bisa seragam. Bibit yang sudah siap tanam dicabut dari persemaian beserta akar-akarnya. Jika bibit berasal dari persemaian plastik, robek dengan hati- hati supaya tanahnya tidak pecah dan akarnya tidak rusak, Jarak tanam terong harus diatur dengan baik, jangan terlalu rapat karena dapat mengurangi penyinaran sinar matahari. Penanaman dapat dilakukan dengan membuat jarak tanam 50 cm x 50 cm. Artinya adalah 50 cm jarak antar barisan dan 50 cm adalah jarak tanaman dalam barisan (Purwa, 2016).
7. Pemeliharaan
Adapun pemeliharaan yang perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman terung sebagai berikut :
a. Penyiraman
Penyiraman dimulai sesaat setelah tanam dan seterusnya 2 kali sehari sampai masa berbunga. Setelah tiba saat berbunga penyiraman dilakukan 2 hari sekali, terutama pada musim kemarau atau pada daerah-daerah kering. Penyiraman tidak perlu dilakukan apa bila turun hujan, namun apabila cuaca kering maka penyiraman dapat dilakukan pada lebih sering agar tanaman tidak layu dan kekeringan (Sri Setyati, 2013).
b. Penyulaman
Penyulaman tanaman dilakukan untuk menggantikan tanaman pokok yang mati, terdapat batang yang patah atau tanaman muda (bibit) yang pertumbuhannya kurang baik seperti layu.
Tanaman pengganti harus memiliki umur yang sama dengan tanaman pokok agar tanaman pengganti dan tanaman pokok memiliki pertumbuhan yang serempak. Penyulaman dilakukan pada saat tanaman memasuki usia 2 minggu setelah tanam (Samadi, 2019).
c. Pemupukan
Pemupukan salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam memaksimalkan hasil tanaman.
Pumupukan dilakukan sebagai upaya untuk mencukupi kebutuhan hara tanaman agar tujuan produksi dapat dicapai (Doni, 2015).
d. Penyiangan
Penyiangan dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk susulan. Penyiangan dilakukan di sekitaran bedengan tanaman (Sasongko, 2017).
8. Hama dan penyakit penting pada tanaman terung Hama-hama penting yang menyerang tanaman terung adalah sebagai berikut:
a. Kutu Kebul
Hama ini berwarna putih, bersayap dan tubuhnya diselimuti serbuk putih seperti lilin.
Kutu kebul menyerang dan menghisap cairan sel daun, sehingga sel- sel dan jaringan daun rusak. Pengendalian hama ini dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin atau lamdasihalotrin dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.
b. Ulat tanah
Hama jenis ini menyerang tanaman pada malam hari, sedangkan pada siang harinya bersembunyi di dalam tanah atau di balik mulsa PHP. Ulat tanah menyerang batang tanaman yang masih muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong. Cara pengendaliannya adalah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1 gram pada lubang tanam.
c. Kumbang daun
Hama ini berwarna coklat atau oranye dengan bintik hitam di punggungnya. Kumbang ini menggigit daun dan meninggalkan lubang-lubang kecil atau jarring-jaring ,sehingga daun tampak transparan dan dapat menyebabkan daun bisa habis termakan. Cara pengendaliannya
adalah pemantauan rutin, pengumpulan manual kumbang dewasa, adan penyemptotan insektisida yang sesuai.
Penyakit-penyakit penting yang menyerang tanaman terung adalah sebagai berikut:
a. Bercak Daun
Penyakit ini disebabkan oleh serangan bakteri, berkembang pesat terutama pada musim hujan. Serangan ditandai dengan adanya bercak putih dan bersudut karena dibatasi tulang daun. Bercak berubah menjadi cokelat kelabu serta bagian bawah daun mengeluarkan cairan, akhirnya daun mengering. Pengendaliannya menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin atau dari golongan anorganik seperti tembaga. Dosis sesuai pada kemasan.
b. Layu Fusarium
Gejala yang ditimbulkan oleh layu fusarium hampir sama dengan layu bakteri yang membedakan hanya penyebabnya. Layu fusarium disebabkan oleh serangan jamur. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman yang terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida dengan dosis sesuai pada kemasan.
c. Antraknosa
Antraknosa merupakan penyakit menyerang semua bagian tanaman yang ditandai dengan adanya bercak agak bulat berwarna cokelat muda, lalu berubah menjadi cokelat tua sampai kehitaman. Semakin lama bercak melebar dan menyatu akhirnya daun mengering. Gejala lain adalah bercak bulat memanjang berwarna kuning atau cokelat. Buah yang terserang akan nampak bercak agak bulat dan berlekuk berwarna cokelat tua, cendawan akan membentuk massa spora berwarna merah jambu. Cara Pengendalian adalah secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik.
9. Panen
Umur terung yang dapat dipanen tergantung pada varietas yang ditanam. Secara umum terung dapat dipanen sekitar 3 bulan sejak semai. Pemanenan dilakukan 5 kali, buah terung dapat dipanen 2 kali setiap minggunya. Waktu panen hendaknya dilakukan pada saat pagi ataupun sore hari. Waktu panen yang wajib dihindari adalah dikala terik matahari, sebab dapat
mengganggu tanaman serta membuat kulit terung menjadi keriput (kering) sehingga merendahkan mutu (Kiki, 2022).
D. Konsep Usahatani
Menurut Kasijadi (1981), rendahnya produktivitas suatu tanaman antara lain disebabkan oleh (1) petani belum melakukan inovasi teknologi produksi, seperti penggunaan bibit unggul, pemupukan dan sebagainya, dan (2) adanya faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat pengambilan keputusan petani untuk menerjemahkandan memahami informasi serta memperoleh pengetahuan, rendahnya modal petani, status kepemilikan tanah, keadaan harga yang tidak stabil, keadaan lingkungan dan sebagainya.
Menurut Mosher (1984), untuk meningkatkan suatu produksi terutama produksi pertanian, perlu dikembangkan berbagai input yang berasal dari kehidupan ekonomi yang lebih luas dimana petani dapat hidup dan bekerja dengan baik. Lebih lanjut diuraikan bahwa input-input tersebut termasuk kedalamnya pupuk buatan, benih unggul, pestisida, alat-alat pertanian dan pengangkutan, ilmu pengetahuan, perangsang dan teknologi baru yang dapat meningkatkan kemampuan petani dalam berusaha. Selanjutnya Kasryno dan Suryana (1988) juga menjelaskan bahwa untuk mencapai peningkatan produksi dan produktivitas usahatani dapat dilakukan dengan memperhatikan dua faktor yaitu: (1) faktor internal, yakni penggunaan faktor-faktor produksi yang efisien baik secara teknis maupun ekonomis, dan (2) faktor eksternal yang meliputi penyesuaian terhadap iklim dan topografi yang tepat untuk setiap jenis komoditas yang akan dikembangakan, pembangunan sarana fisik, pembinaan petani melalui program penyuluhan pertanian, pengembangan kelembagaan, dan strategi pengembangan pemasaran.
Ilmu usahatani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Dikatakan efektif bila petani atau produsen dapat mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki (yang dikuasai) sebaik-baiknya dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output) yang melebihi masukan (input) (Soekartawi, 1995).
Untuk terlaksananya (berjalannya) suatu usahatani harus ada 4 faktor penting yang membentuk usahatani tersebut. Keempat faktor tersebut ialah: (a) tanah beserta alam sekitarnya, (b) modal, (c) tenaga kerja, (d) manajemen (pengelolaan). Faktor-faktor ini disebut faktor produksi. Faktor-faktor produksi usahatani ini tidaklah selalu sama antara satu usahatani
dengan usahatani lainnya dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Perubahan- perubahannya semakin cepat dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan (Hanifah, 1995).
Berikut dibahas empat faktor penting yang membentuk usahatani:
1. Tanah
Tanah sebagai faktor produksi, terutama di negara kita mempunyai kedudukan yang paling penting. Hal ini terbukti dari besarnya balas jasa yang diterima oleh tanah dibandingkan dengan faktor-faktor produksi lainnya (Mubyarto, 1989).
Tanah mempunyai kedudukan yang penting sekali dalam usahatani karena tanpa tanah usahatani tidak bisa terwujud. Di atas tanahlah tempat tumbuh dan hidup tanaman ataupun hewan. Unsur-unsur dalam tanahlah yang dibutuhkan tanaman. Keadaan tanah dan alam sekitarnya menentukan kehidupan tanaman dan ternak yang diusahakan. Pertumbuhan tanaman dan hewan yang baik adalah hasil kerjasama antara tenaga kerja manusia bersama modal yang digunakan dengan keadaan fisik yang disediakan oleh alam. Perbedaan sifat alam menyebabkan jenis tanaman yang tumbuh pada suatu daerah berbeda dengan jenis tanaman yang tumbuh di daerah lainnya (Hanifah, 1995).
Tanah sebagai faktor produksi mempunyai nilai yang tergantung pada: tingkat kesuburannya, atau kelas tanahnya fasilitas pengairan posisi lokasi terhadap jalan dan sarana perhubungan dan adanya rencana pemerintah dan lain- lain. Nilai tanah sangat bervariasi dari unsur waktu dan tempat. Di perkotaan tanah usahatani mempunyai nilai yang cukup tinggi, terkadang tidak sebanding dengan nilai ekonomis dari hasil tanah teresebut (Hernanto, 1989).
Status tanah merupakan hubungan tanah usahatani dengan pengolahnya, status tanah akan memberikan kontribusi bagi pengelolanya. Ada beberapa status tanah yaitu: tanah milik atau tanah hak milik, tanah sewa, tanah sekap, tanah gadai, dan tanah pinjaman. Dalam hubungannya dengan pengelolaan usahatani yang dikaitkan dengan tanah sebagai faktor produksi, status tanah tersebut mempunyai kebaikan-kebaikan maupun kelemahan-kelemahan (Hernanto, 1989).
2. Tenaga kerja
Berbicara mengenai tenaga kerja di bidang pertanian, persoalannya berbeda. dengan perusahaan-perusahaan pertanian (misalnya perusahaan perkebunan) yang umumnya besar-
besar dibandingkan dengan penggunaan tenaga kerja pada usahatani.. Pada usahatani tenaga kerja yang tersedia dapat kita bedakan antara tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Pada umumnya usahatani mengutamakan pemakaian tenaga kerja yang berasal dari dalam keluarga petani itu sendiri. Pemakaian tenaga luar keluarga hanya dilakukan apabila keadaan mendesak yaitu saat-saat kebutuhan tenaga kerja usahatani yang memuncak biasanya, pada waktu pengolahan tanah ataupun panen (Hanifah, 1995).
Tenaga kerja usahatani dapat diperoleh dari dalam keluarga dan dari luar keluarga.
Tenaga kerja luar keluarga diperoleh dengan cara: upahan (tenaga upahan bervariasi, bervariasi dari suatu tempat ke tempat lainnya), sambatan (tolong-menolong), arisan tenaga kerja (setiap peserta arisan akan mengembalikan dalam bentuk tenaga kerja kepada anggota lainnya). Tenaga kerja dalam keluarga umumnya oleh petani tidak diperhitungkan dan sulit pengukuran penggunaannya (Hernanto, 1989)
Dalam usahatani sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri yang terdiri atas ayah sebagai kepala keluarga, isteri dan anak-anak petani. Anak-anak berumur 12 tahun misalnya sudah dapat merupakan tenaga kerja yang produktif bagi usahatani. Mereka dapat membantu pengairan, mengangkut bibit atau pupuk ke sawah atau membantu penggarapan sawah. Selain itu anak-anak petani dapat mengembala kambing atau sapi, itik atau menangkap ikan, dan lain- lain yang menyumbang pada produksi pertanian keluarga.
Tenaga kerja yang berasal dari keluarga petani ini merupakan sumbangan keluarga pada produksi pertanian secara keseluruhan dan tidak pernah dinilai dalam uang (Mubyarto, 1989).
Tenaga keluarga dianggap sebagai sumbangan keluarga terhadap produksi hasil pertanian yang mereka usahakan, karena itu tidak dinilai dengan uang. Kalaupun ada usahatani yang membayar tenaga keluarga itu sangat jarang sekali. Hal ini hanya mungkin pada usahatani yang komersial. Pada saat-saat tertentu jika petani mebutuhkan tenaga kerja dari luar, biasanya mereka meminta bantuan pada famili atau tetangganya. Mereka melakukan tolong- menolong secara bergantian. Kalau dengan cara ini mereka mendapat kesulitan barulah mereka mencari pekerja lainnya untuk diupahkan. Mereka mengupah dapat berupa upah harian atau upah borongan (Hanifah, 1995).
Menurut Hanifah (1995), kebutuhan tenaga kerja dalam usahatani sangat beragam sekali.
Banyak faktor yang menyebabkan perbedaan-perbedaan tersebut, antara lain: Luasnya areal usahatani, Jenis tanaman yang ditanam, Tingkat perkembangan usahatani, Kebutuhan tenaga kerja juga dipengaruhi oleh keaadan alam.
3. Modal
Modal merupakan unsur pokok usahatani yang penting. Pada usahatani yang dimaksud modal adalah: tanah, bangunan-bangunan (gudang, kandang, lantai jemur, pabrik dan lain- lain), alat-alat pertanian (traktor, luku, garu, sprayer, cangkul, parang dan lain-lain), tanaman, ternak, ikan di kolam, bahan-bahan pertanian (pupuk, bibit, obat-obatan), piutang di bank, dan uang tunai (Hernanto, 1989).
Secara ekonomi modal adalah barang-barang yang bernilai ekonomi yang digunakan untuk menghasilkan tambahan kekayaan atau untuk meningkatkan produksi. Modal digunakan untuk menghasilkan barang-barang konsumsi atau barang-barang modal. Modal menurut fungsinya dalam proses produksi dapat kita bedakan atas 2 bagian, yaitu modal tetap (fixed capital) dan modal tidak tetap (variable capital) yang sering pula disebut dengan modal lancar atau modal usaha (Hanifah, 1995).
Modal tetap (fixed capital) yaitu modal yang tidak habis dalam satu kali proses produksi atau dapat dipakai berkali-kali dalam proses produksi. Modal tetap ini bukan berarti tidak pernah habis. Modal tidak tetap (variable capital) adalah modal yang habis satu kali proses produksi. Jadi setiap kali proses produksi modal variabel perlu disediakan atau ditambahkan modal variabel ini. Dalam usahatani diantaranya ialah bibit, pupuk, obat pemberantas harna dan penyakit dan lain-lain (Hanifah, 1995).
4. Manajemen (pengelolaan)
Dalam hal pengelolaan (manajemen) ada beberapa kewajiban yang terpenting yang harus diputuskan dalam mengelola usahatani yaitu:
a. Mengambil keputusan teknis, mengenai apa yang akan dihasilkan dan bagaimana cara menghasilkan.
b. Mengambil keputusan-keputusan tentang tataniaga yaitu mengenai apa yang akan dibeli atau dijual, bilamana, bagaimana dan dengan harga berapa.
c. Mengambil keputusan tentang keuangan, tentang bagaimana mendapatkan dan menggunakan modal secara bijaksana.
d. Aspek pembiayaan, meliputi pembuatan catatan dan pembukuan keuangan yang baik, atau berusaha agar hal itu dilaksanakan seperti yang diperlukan untuk pajak dan keperluan
lainnya.
e. Aspek hukum, agar dalam melaksanakan usahanya mematuhi undang- undang serta peraturan yang berlaku atau sedikitnya tidak kedapatan menyalahi undang-undang.
f. Pengelolaan personil, menyewa atau memberhentikan pekerja-pekerja, mengarahkan dan mengawasi bekerjanya pegawai.
Ketiga hal yang pertama mewakili fungsi pengelolaan yang terpenting. Ini memberikan petunjuk yang baik untuk bahagian yang mutlak diperlukan dari semua kegiatan pengelolaan, yaitu mengambil keputusan. Kualitas daripada pengambilan keputusan inilah yang membedakan pengelolaan yang baik dan yang buruk (Hanifah, 1995).
Konsep-konsep biaya dalam usahatani pada dasarnya sama dengan konsep biaya dalam ilmu ekonomi. Namun oleh karena suasana yang terdapat dalam usahatani, maka analisa usahatani memiliki sifat yang tersendiri berbeda dengan cabang usaha lainnya. Pada usahatani yang masih bertujuan memenuhi kebutuhan keluarga petani, pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga tidak dibedakan dengan pengeluaran untuk usahataninya, bagi petani pengorbanan yang berasal dari dalam keluarganya yang tidak menggunakan uang tunai oleh petani dianggap tidak sebagai biaya, tapi sebagai kewajiban (Hanifah, 1995).
Menurut Hanifah (1995), berdasarkan sifatnya biaya usahatani digolongkan sebagai berikut:
1. Biaya yang dibayarkan (cash) dan biaya yang tidak dibayarkan (non cash).
Biaya yang dibayarkan terdiri dari: harga pembelian bibit, pupuk, obat- obatan, makanan ternak, upah tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga, pajak dan lain-lain. Biaya yang tidak dibayarkan terdiri dari pemakaian tenaga kerja keluarga, bunga modal, penyusutan (depresiasi) modal dan lain- lain.
2. Biaya langsung (actual cost) dan biaya tidak langsung (imputed cost).
Biaya langsung adalah biaya yang langsung digunakan dalam proses produksi. Biaya ini terdiri dari biaya pembelian pupuk, bibit, obat-obatan, tenaga kerja, makanan ternak dan lain- lain. Biaya tidak langsung adalah penyusutan modal, biaya makan, tenaga kerja keluarga dan lain-lain.
3. Biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost)
Biaya tetap adalah biaya yang dalam waktu pendek tidak dipengaruhi oleh besarnya produksi. Biaya tetap ini meliputi sewa tanah, pajak, penyusutan alat-alat, bunga pinjaman dan
lain-lain. Biaya variabel sifatnya berubah sesuai dengan besarnya produksi. Biaya variabel terdiri dari bibit, pupuk, makanan ternak, pembelian sarana produksi lainnya dan lain-lain.
Setelah membahas semua faktor produksi diatas, maka salah satu unsur penting lainnya dalam usahatani adalah penerimaan. Dalam menghitung penerimaan usahatani, beberapa hal perlu diperhatikan (1) hati-hati dalam menghitung produksi pertanian, karena tidak semua produksi pertanian itu dapat dipanen secara serentak, (2) hati-hati dalam menghitung penerimaan karena, produksi mungkin dijual beberapa kali sehingga diperlukan data frekuensi penjualan atau produksi dijual beberapa kali pada harga produksi yang berbeda (Sockartawi, 1995).
Analisa pendapatan berguna untuk menggambarkan keadaan sekarang dan keadaan yang akan datang dari kegiatan usaha dan perencanaan tindakan bagi seorang petani. Analisa pendapatan memberikan bantuan untuk menggambarkan apakah kegiatan usahatani berhasil atau tidak (Soeharjo dan Patong, 1973, cit Andriani, 2008).
Pendapatan petani adalah selisih penerimaan total petani dari usahatani dikuangi biaya yang dibayakan petani dalam pengelolaan usahatani selama tanaman masih berproduksi (Hadisapoetra, 1973 Cit Lubis, 2009).
Yi=(Xi. Hx)-Bt
Dimana:
Yi: Pendapatan petani dari usahatani terung (Rp/ha/mt) Xi: Jumlah produksi terung (kg/ha/mt)
Hx: Harga jual terung (Rp/kg)
Bt: Biaya yang dibayarkan (Rp/ha/mt)
Menurut Soekartawi (1995), R/C adalah singkatan dari Return Cost Ratio, atau dikenal sebagai perbandingan (nisbah) antara penerimaan dan biaya. Analisis R/C digunakan untuk mengetahui layak atau tidak layaknya suatu komoditas diusahakan, yaitu dengan melihat perbandingan antara penerimaan dengan biaya Jika didapatkan nilai R/C 1 artinya usahatani tersebut layak untuk dijalankan (menguntungkan), jika didapatkan nilai R/C 1 artinya usahatani tersebut masih layak untuk dijalankan karena petani berada dalam kondisi tidak untung dan tidak rugi, dan jika nilai R/C < 1 artinya usahatani tersebut tidak layak untuk dijalankan (mengalami kerugian).
Menurut Hanifah (1995), supaya usahatani dapat dikatakan berhasil maka usahatani itu pada umumnya secara minimal harus dapat memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Usahatani harus dapat menghasilkan cukup pendapatan untuk membayar biaya-biaya dan alat-alat yang diperlukan
b. Usahatani harus dapat menghasilkan pendapatan yang dapat dipergunakan untuk membayar bunga modal yang dipergunakan didalam usaha tani tersebut, baik modal milik petaninya sendiri maupun modal yang dipinjam dari pihak lain.
c. Usahatani harus dapat membayar upah tenaga petani dengan keluarganya yang dipergunakan didalam usahatani secara layak.
d. Usahatani yang bersangkutan harus paling sedikit berada dalam keadaan seperti semula.
Jadi harus dapat memelihara dirinya sendiri.
e. Usahatani harus dapat pula membayar tenaga petani sebagai manajer yang harus mengambil keputusan mengenai apa yang harus dijalankan, bilamana, dimana dan bagaimana.
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu
Praktik lapangan ini akan dilaksanakan di kebun percobaan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Sriwigama Palembang, dan akan dilaksanakan dari bulan Juli 2024 sampai dengan bulan Desember 2024.
B. Data Penelitian
Jenis data yang akan pergunakan pada penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif.
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, atau data kualitatif yang diangkakan (scoring) dan data kualitatif adalah data yang berbentuk kalimat, kata, atau gambar (Sugiyono, 2009). Data kuantitatif dalam penelitian ini adalah kuantitas bibit yang akan dipergunakan, harga bibit, kuantitas Kebutuhan pupuk dan obat-obatan, harga pupuk dan obat-obatan, jumlah produksi masing-masing produk, dan harga jual hasil produksi.
Sedangkan data kualitatif dalam penelitian ini adalah gambaran kegiatan usahatani yang dilakukan di kebun Percobaan. Biaya tenaga kerja tidak dimasukkan dalam perhitungan karena pengelola kebun tidak bertanggungjawab untuk membayar tenaga kerja.
C. Metode Penelitian
Pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian Ini menggunakan metode sebagai berikut.
1. Observasi adalah penelitian dengan menggunakan pengamatan secara langsung ke Lokasi penelitian meninjau kondisi di Kebun Percobaan Kampus Stiper Sriwigama.
2. Wawancara yaitu dengan mengadakan tanya Jawab secara langsung dengan pengelola dan Tenaga kerja Kebun Percobaan Kampus Stiper Sriwigama.
3. Studi kepustakaan, yaitu dengan membaca beberapa literatur bacaan yang mendukung Penelitian ini.
D. Populasi, Sampel, dan Responden
Populasi penelitian ini adalah unit bisnis yang merupakan satu unit lembaga/perusahaan, sehingga Tidak dapat dilakukan metode sampling. Penelitian Ini mempergunakan informan kunci untuk menggali Informasi lebih dalam mengenai data penelitian. Penentuan informan kunci ditentukan secara Purposive, yaitu secara sengaja berdasarkan pertimbangan mereka
yang mengetahui dan ikut berkecimpung dalam budidaya masing-masing Produk yang dihasilkan di Kebun Percobaan Kampus Stiper Sriwigama Palembang, yaitu sebagai berikut.
1. Ketua pengelola kebun sebagai kepala Penanggungjawab kegiatan kebun.
2. Bendahara pengelola kebun sebagai pengelola Keuangan kebun.
3. Penanggung jawab lapangan yaitu bidang Produksi di Kebun Percobaan Kampus Stiper Sriwigama
4. Para tenaga kerja lapangan sebanyak tiga (3) Orang, sebagai pelaksana lapangan pada Usahatani tanaman musiman tahun 2024
E. Metode Analisis Data
Teknik analisa data yang akan digunakan dalam penelitian di Kampus Stiper Sriwigama Palembang untuk mengetahui penerimaan petani Terung Ungu adalah
Revenue / Penerimaan
Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual.
Pernyataan ini dapat dituliskan sebagai berikut:
TR = (Xì. Hx) Keterangan :
TR = total penerimaan Xi = jumlah produksi Hx = harga jual
Pendapatan usahatani terung
Pendapatan petani adalah selisih penerimaan total petani dari usahatani dikurangi biaya yang dibayarkan petani dalam pengelolan usahatani selama tanaman masih berproduksi (Hadisapoetra, 1973 Cit Lubis, 2009). Umur tanaman terung adalah 4 bulan. Pendapatan usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut:
Yi=(Xi. Hx)-Bt Dimana:
Yi: Pendapatan petani dari usahatani terung (Rp/ha/mt)
Xi: Jumlah produksi terung (kg/ha/mt) Hx: Harga jual terung (Rp/kg)
Bt: Biaya yang dibayarkan (Rp/ha/mt) Biaya
Biaya dibagi menjadi 2 yakni biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap meliputi biaya alat, sewa lahan, pajak dan biaya tidak tetap merupakan biaya yang banyaknya dipengaruhi oleh jumlah produksi yang akan dicapai. Untuk biaya alat terdapat biaya penyusutan dimana biaya tersebut dikeluarkan berdasarkan jumlah waktu atau nilai ekonomis. Biaya penyusutan alat dihitung dengan cara :
𝐃 = 𝐏 – 𝐒/𝐍 Dimana:
D = Besarnya penyusutan (Rp/Thn) P = Harga beli (Rp)
S = Nilai sisa (Rp)
N = Umur ekonomis (Thn)
2. Analisis keuntungan usahatani terung
Keuntungan petani atau penerimaan bersih adalah selisih antara penerimaan dengan biaya total. Melakukan analisa terhadap keuntungan dapat dipergunakan rumus :
K = (Xi.Hx) - BT Dimana:
K = Keuntungan dari usahatani terung (Rp/ha/mt)
Xi= Jumlah produksi terung (kg/ha/mt) Hx-Harga jual terung (Rp/kg) BT= Biaya total (Rp/ha/mt).
3. R/C Ratio
R/C merupakan analisa yang digunakan untuk melihat seberapa besar perbandingan antara penerimaan dan biaya-biaya yang dikeluarkan. R/C atau analisis imbangan penerimaan dan biaya secara sistematis dan dapat ditulis sebagai berikut:
𝐑⁄𝐂 = 𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐏𝐞𝐧𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚𝐚𝐧 / 𝐓𝐨𝐭𝐚𝐥 𝐁𝐢𝐚𝐲𝐚
Rasio penerimaan atas biaya menunjukkan besarnya penerimaan yang akan diperoleh dari setiap rupiah yang dikeluarkan dalam produksi usahatani. Dimana R/C-1 artinya usahatani yang dilakukan tidak menguntungkan dan tidak pula mengalami kerugian. R/C>1 artinya usahatani yang dilakukan menguntungkan, dan R/C< 1 artinya usahatani yang dilakukan mengalami kerugian (Soekartawi,1995).