i sistem komunikasi dan lahirnya realitas multi-media, perlu disadari tentang adanya dunia bermain di luar dunia empiris. Apakah antropologi dapat menjadi bagian dari tatanan media tersebut?
Apakah kita dapat terus bersandar pada teknik-teknik konvensional pada saat data begitu banyak dapat dikumpulkan melalui telepon atau internet? Apakah mungkin wawancara dilakukan dengan telepon atau melalui internet, yang tidak memungkinkan kita untuk mengidentifikasi secara visual wajah orang, gerak geriknya, warna kulitnya, yang sebelumnya telah merupakan bagian dari
sensibilitas etnografis? Bagaimana menganalisis data wawancara dengan cara itu jika kita tidak tahu konteks tempat ia berada, berapa jauh dari sini, dalam konteks sosial yang mana dia menjadi bagian? Keempat, masalah representasi: dari siapa data diperoleh. Dalam hal ini perlu
dipertanyakan: siapa yang layak dijadikan informan kunci. Apakah informan ini dapat menjadi wakil dari kelompoknya, mengingat pengalaman individual dan sosial mereka dapat sangat berbeda?
Bagaimana seseorang dipilih: apakah berdasarkan jender, usia, lapisan sosial, lokasi yang diwakilinya, profesi, atau keanggotaan kelompok? Logika memilih informan kunci perlu dipikirkan ulang, karena seorang informan tidak bisa merefleksikan orang lain jika dia tidak memiliki pengalaman yang sama dengan orang lain (perubahan masyarakat menyebabkan mereka memiliki pengalaman yang beragam), dan bersifat individualistis. James Spradley (1997), misalnya, menunjukkan bahwa enkulturasi merupakan syarat penting untuk memilih informan. Dalam kasus seorang informan, Spradley mengatakan, ‘Sandy merupakan informan yang baik hanya mengenai satu hal: pengalaman belajar sebagai seorang pelayan wanita sebuah warung minum (Spradley 1997:62).’ Dalam hal ini, Sandy ‘hanya’ terenkulturasi untuk pengetahuan dan pengalaman tertentu, sehingga ia hanya layak dijadikan informan untuk bidang itu. Variasi dan diferensiasi pengetahuan masyarakat
mengharuskan ketelitian yang lebih dalam memilih informan. Kelima, masalah unit analisis. Apakah unit analisis mikro yang menjadi ‘trade mark’ masih dapat dipertahankan mengingat kasus-kasus yang diteliti tidak lagi mampu menjelaskan sistem yang diwakilinya? Di satu sisi, satu keluarga atau individu dapat mewakili bukan kultur, melainkan subkulturnya (atau sub-sub kultur). Hal ini menyebabkan studi antropologi menjadi studi tentang ‘keunikan’ yang tidak memiliki implikasi dalam suatu sistem yang lebih luas. Di sisi lain, penjelasan kasus pada unit tertentu dapat berarti meneliti wakil dari suatu dunia yang begitu luas yang disebut global community. Apakah keberadaan unsur-unsur global pada seorang individu perlu dan mampuaai sistem komunikasi dan lahirnya realitas multi-media, perlu disadari tentang adanya dunia bermain di luar dunia empiris. Apakah antropologi dapat menjadi bagian dari tatanan media tersebut? Apakah kita dapat terus bersandar pada teknik-teknik konvensional pada saat data begitu banyak dapat dikumpulkan melalui telepon atau internet? Apakah mungkin wawancara dilakukan dengan telepon atau melalui internet, yang tidak memungkinkan kita untuk mengidentifikasi secara visual wajah orang, gerak geriknya, warna kulitnya, yang sebelumnya telah merupakan bagian dari sensibilitas etnografis? Bagaimana
menganalisis data wawancara dengan cara itu jika kita tidak tahu konteks tempat ia berada, berapa jauh dari sini, dalam konteks sosial yang mana dia menjadi bagian? Keempat, masalah representasi:
dari siapa data diperoleh. Dalam hal ini perlu dipertanyakan: siapa yang layak dijadikan informan kunci. Apakah informan ini dapat menjadi wakil dari kelompoknya, mengingat pengalaman individual dan sosial mereka dapat sangat berbeda? Bagaimana seseorang dipilih: apakah berdasarkan jender, usia, lapisan sosial, lokasi yang diwakilinya, profesi, atau keanggotaan kelompok? Logika memilih informan kunci perlu dipikirkan ulang, karena seorang informan tidak bisa merefleksikan orang lain jika dia tidak memiliki pengalaman yang sama dengan orang lain (perubahan masyarakat
menyebabkan mereka memiliki pengalaman yang beragam), dan bersifat individualistis. James Spradley (1997), misalnya, menunjukkan bahwa enkulturasi merupakan syarat penting untuk memilih informan. Dalam kasus seorang informan, Spradley mengatakan, ‘Sandy merupakan informan yang baik hanya mengenai satu hal: pengalaman belajar sebagai seorang pelayan wanita sebuah warung minum (Spradley 1997:62).’ Dalam hal ini, Sandy ‘hanya’ terenkulturasi untuk
pengetahuan dan pengalaman tertentu, sehingga ia hanya layak dijadikan informan untuk bidang itu. Variasi dan diferensiasi pengetahuan masyarakat mengharuskan ketelitian yang lebih dalam memilih informan. Kelima, masalah unit analisis. Apakah unit analisis mikro yang menjadi ‘trade mark’ masih dapat dipertahankan mengingat kasus-kasus yang diteliti tidak lagi mampu menjelaskan sistem yang diwakilinya? Di satu sisi, satu keluarga atau individu dapat mewakili bukan kultur, melainkan subkulturnya (atau sub-sub kultur). Hal ini menyebabkan studi antropologi menjadi studi tentang ‘keunikan’ yang tidak memiliki implikasi dalam suatu sistem yang lebih luas. Di sisi lain, penjelasan kasus pada unit tertentu dapat berarti meneliti wakil dari suatu dunia yang begitu luas yang disebut global community. Apakah keberadaan unsur-unsur global pada seorang individu perlu dan mampui sistem komunikasi dan lahirnya realitas multi-media, perlu disadari tentang adanya dunia bermain di luar dunia empiris. Apakah antropologi dapat menjadi bagian dari tatanan media tersebut? Apakah kita dapat terus bersandar pada teknik-teknik konvensional pada saat data begitu banyak dapat dikumpulkan melalui telepon atau internet? Apakah mungkin wawancara dilakukan dengan telepon atau melalui internet, yang tidak memungkinkan kita untuk mengidentifikasi secara visual wajah orang, gerak geriknya, warna kulitnya, yang sebelumnya telah merupakan bagian dari sensibilitas etnografis? Bagaimana menganalisis data wawancara dengan cara itu jika kita tidak tahu konteks tempat ia berada, berapa jauh dari sini, dalam konteks sosial yang mana dia menjadi bagian? Keempat, masalah representasi: dari siapa data diperoleh. Dalam hal ini perlu
dipertanyakan: siapa yang layak dijadikan informan kunci. Apakah informan ini dapat menjadi wakil dari kelompoknya, mengingat pengalaman individual dan sosial mereka dapat sangat berbeda?
Bagaimana seseorang dipilih: apakah berdasarkan jender, usia, lapisan sosial, lokasi yang diwakilinya, profesi, atau keanggotaan kelompok? Logika memilih informan kunci perlu dipikirkan ulang, karena seorang informan tidak bisa merefleksikan orang lain jika dia tidak memiliki pengalaman yang sama dengan orang lain (perubahan masyarakat menyebabkan mereka memiliki pengalaman yang beragam), dan bersifat individualistis. James Spradley (1997), misalnya, menunjukkan bahwa enkulturasi merupakan syarat penting untuk memilih informan. Dalam kasus seorang informan, Spradley mengatakan, ‘Sandy merupakan informan yang baik hanya mengenai satu hal: pengalaman belajar sebagai seorang pelayan wanita sebuah warung minum (Spradley 1997:62).’ Dalam hal ini, Sandy ‘hanya’ terenkulturasi untuk pengetahuan dan pengalaman tertentu, sehingga ia hanya layak dijadikan informan untuk bidang itu. Variasi dan diferensiasi pengetahuan masyarakat
mengharuskan ketelitian yang lebih dalam memilih informan. Kelima, masalah unit analisis. Apakah unit analisis mikro yang menjadi ‘trade mark’ masih dapat dipertahankan mengingat kasus-kasus yang diteliti tidak lagi mampu menjelaskan sistem yang diwakilinya? Di satu sisi, satu keluarga atau individu dapat mewakili bukan kultur, melainkan subkulturnya (atau sub-sub kultur). Hal ini menyebabkan studi antropologi menjadi studi tentang ‘keunikan’ yang tidak memiliki implikasi dalam suatu sistem yang lebih luas. Di sisi lain, penjelasan kasus pada unit tertentu dapat berarti meneliti wakil dari suatu dunia yang begitu luas yang disebut global community. Apakah keberadaan unsur-unsur global pada seorang individu perlu dan mampu