PENAFSIRAN FEMINIS TERHADAP HADIS-HADIS
Pendahuluan
Sepanjang sejarah peradaban manusia, budaya yang berkembang di masyarakat adalah budaya patriarki yang lebih mengutamakan laki-laki dibandingkan perempuan. Dalam perkembangannya, isu feminisme yang awalnya memperjuangkan hak-hak perempuan hanya dalam konteks sosial-politik masyarakat, menyebar ke kajian teologi sehingga kemudian dikenal dengan istilah teologi feminis.
Feminisme: Sejarah dan perkembangannya
Wanita tidak mempunyai hak yang sama dengan lelaki dalam pelbagai aspek seperti pendidikan, ekonomi, sosial politik dan budaya. Ciri maskulin dan feminin yang dikaitkan dengan lelaki dan wanita mempunyai kelebihan tersendiri.
Feminisme Islam
Sementara itu, kaum feminis dan modernis cenderung menafsirkan teks secara kontekstual sehingga hasilnya menjamin kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, Amina Wadud mengejutkan dunia dengan memimpin (sebagai imam) salat Jumat dengan jamaah campuran pria dan wanita.
Hadis-Hadis Misoginis
Secara harfiah, hadis ini mengisyaratkan bahwa perempuan memang diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Jika kita mengacu pada ayat Al-Quran, tidak ada perbedaan bahan ciptaan antara laki-laki dan perempuan.
Penutup
Keanggotaan Majelis Tarjih tidak hanya didominasi oleh laki-laki saja, namun juga memperhatikan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan. Namun suaminya, ayah Siti, mendukung putrinya menikah dengan pria tersebut.
MENGENAL FIGUR RASULULLAH SEBAGAI SEORANG
Mengenal Istri Nabi Muhammad SAW
Aisyah merupakan satu-satunya istri Nabi Muhammad SAW yang masih perawan saat dinikahi Nabi Muhammad SAW. Sebelum menikah dengan Nabi pada tahun 4 H, ia menikah dengan Abdullah bin Abd Asad Abu Salameh yang masih menjalin hubungan dengan Nabi.
Figur Nabi sebagai Suami: Perhatian, Sayang,
Berlemah lembut terhadap isteri: senyum, ketawa, gurau senda.67 Panggil isteri dengan nama yang menyenangkan: Humairah untuk Aisyah. Khadijah menghormati keluarga dan sahabat Nabi, dan Nabi sentiasa memberi perhatian kepada keluarga dan sahabat Khadijah walaupun beliau telah wafat. 68. Untuk berlaku adil, Nabi mengundi isteri-isteri untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan menemaninya.
Ia memilih pendidikan yang memberikan dampak psikologis dengan cara memberikan teguran atau teguran hati-hati, jika tidak berhasil maka ia tinggalkan untuk jangka waktu pendek atau lama. Ketika perempuan itu sedang haid, maka Rasulullah tinggal di samping perempuan itu: mengaji atau berbaring bersama, selain itu tidak melakukan hubungan seksual.
Penutup
Khadijah terpesona dengan kepribadian Nabi karena beliau mempunyai sifat-sifat yang baik: tampan, mulia, jujur. Baitī jannatī adalah rumah tangga yang dibangun di atas landasan cinta kasih, keikhlasan, pengorbanan, kebebasan, saling menghargai dan mengagungkan.70 Dan rumah tangga Rasulullah memberikan teladan dan teladan bagi keluarga yang demikian. Kedudukan perempuan di satu sisi setara dengan laki-laki, namun di sisi lain terkesan subordinat terhadap laki-laki.
Peranan dan status perempuan di lingkungan Muhammadiyah dapat dilihat dari dua hal, yaitu pertama, pada tataran konsep atau teks berupa pemikiran yang diputuskan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih sebagaimana tertuang dalam Ikatan Keputusan Tarjih, yang didalam fatwa tersebut terkandung dalam majalah dua mingguan, Suara Muhammadiyah, dan seminar hasil yang diadakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kedua, struktur dan komposisi organisasi muhammadiyah mengenai keterlibatan perempuan dalam kepengurusan organisasi muhammadiyah dan peran aisyiyah sebagai organisasi perempuan muhammadiyah.
Perempuan dalam Organisasi Muhammadiyah
Namun selain gencarnya program kesetaraan gender yang diusung oleh para feminis, isu kesetaraan gender di organisasi Muhammadiyah juga mengemuka. Sejak tahun 1978 dan seterusnya, perempuan dapat bergabung dalam pimpinan pusat Muhammadiyah, khususnya Majelis Tarjih. Hasil seleksi calon tetap pimpinan pusat Muhammadiyah pada masa kongres di atas menunjukkan tidak ada satupun perempuan yang masuk dalam daftar tiga belas calon anggota tetap yang dipilih dengan suara terbanyak.
Berdasarkan Surat Keputusan PP Muhammadiyah Nomor 124/KEP/I.0/D/2015, susunan Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2020 adalah sebagai berikut: Ketua Umum: Dr. 76 http://aisyiyah.or.id/histori-aisyiyah/; Ro'fah, Kajian 'Aisyiyah: Skripsi Organisasi Wanita Indonesia yang diserahkan ke Fakultas Pascasarjana dan Penelitian untuk memenuhi sebagian persyaratan gelar.
Mengenal Majelis Tarjih Muhammadiyah
Majelis Tarjih ada pada setiap jenjang pimpinan Muhammadiyah mulai dari Pimpinan Pusat hingga Pimpinan Daerah Muhammadiyah. Dalam pengambilan fatwa Majelis Tarjih memilih pendapat yang arjah atau paling kuat diantara beberapa pendapat yang berbeda. Keputusan-keputusan Majelis Tarjih dikumpulkan dalam Kumpulan Keputusan Tarjih yang diputuskan dalam sidang Tarjih Nasional.
Artinya, pengambilan keputusan fatwa bukan berdasarkan pendapat masing-masing, melainkan berdasarkan hasil kesepakatan seluruh anggota Majelis Tarjih berdasarkan kajian akademis dan keilmuan. Keterlibatan perempuan dalam struktur Muhammadiyah diprakarsai oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah pada periode 2000-2005 dan dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan lainnya.
Buku-Buku Terbitan Majelis Tarjih
Buku ini merupakan hasil keputusan pembahasan Lajnah Tarjih pada Kongres Dewan Tarjih XVII di Pencongan Wiradesa Pekalongan tahun 1972. Siti Ruhaini Dzuriyatin mengkritik buku ini sebagai buku yang meneguhkan adanya kesenjangan antara teks dan konteks. disebabkan oleh sakralisasi khazanah Islam yang berlebihan, terutama dalam aspek yang berkaitan dengan perempuan. Buku ini menyoroti perbedaan fisik dan psikologis antara laki-laki dan perempuan dalam oposisi biner seperti kuat dan lemah, halus dan kasar, menyeluruh dan tegas, sehingga saling melengkapi.
Siti Ruhaini Dzuhayatin mengkritisi buku ini karena memiliki bias kelas menengah dan juga gagal mengakomodasi isu kekerasan dalam rumah tangga. Secara keseluruhan, buku ini menggambarkan keinginan untuk mengalihkan peran instrumental Pembina pada keluarga Sakinah yang banyak mendapat kritik dari generasi muda, ke arah penguatan peran yang lebih substantif dan setara.
Perempuan dalam Keputusan Majelis Tarjih
Berdasarkan ketiga ayat di atas, Majelis Tarjih Muhammadiyah memutuskan bahwa perkawinan beda agama dilarang baik bagi laki-laki maupun perempuan. Terkait kemampuan perempuan menjadi hakim, Majelis Tarjih mengutip dalil Al-Qur'an tentang amalan yang dilakukan laki-laki dan perempuan, QS. Kedua hadis tersebut menyatakan bahwa seorang wanita yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur'an diperbolehkan menjadi imam bagi jamaah yang terdiri dari laki-laki.
Oleh karena itu, seminar ini menyimpulkan bahwa kedua hadits di atas dapat dijadikan landasan argumentasi keabsahan perempuan sebagai pemimpin salat jamaah laki-laki. Namun, kemampuan ini hanya ada dalam keadaan darurat ketika tidak ada laki-laki yang memenuhi persyaratan menjadi pendeta.
Penutup
Air juga menjadi simbol bahwa wanita tidak ingin membebani pria yang akan menjadi suaminya. Berdasarkan penjelasan tersebut, seorang pria dan seorang wanita yang ingin menikah di Lombok harus memenuhi syarat agama dan adat. Namun dia hanya mengatakan suaminya cemburu karena Papu Ijah sering disapa pria lain.
Lain halnya jika keluarga suami atau istri tidak setuju dengan hubungan mereka. Sekarang Bu Rani sudah menikah, dia dan suaminya tinggal bersama ibunya di rumah yang dibelikannya untuk ibunya.
DESAKRALISASI PERKAWINAN: PRAKTIK KAWIN
Merariq: Adat Perkawinan Sasak
Selabar adalah saat pihak laki-laki melaporkan kejadian Merariq kepada kepala dusun/desa tempat tinggal pihak perempuan. Dilanjutkan dengan Mesejati, dimana utusan laki-laki langsung memberitahukan kepada perempuan tentang terjadinya Merariq. Setelah itu, mbait wali merupakan permintaan keluarga laki-laki kepada wali perempuan untuk menikahkan anaknya secara Islam.
Setelah selabar, mesejati dan mbait wali selesai, maka pihak laki-laki selanjutnya harus membayar titipan dan mahar, setelah itu dilangsungkan akad nikah. Akad nikah biasanya diadakan dengan pihak laki-laki, namun ada pula masyarakat yang sudah membuat kesepakatan mengenai di mana perkawinan akan dilangsungkan, baik dengan pihak perempuan atau dengan pihak laki-laki, tergantung kesepakatannya.
Kawin Siri
Mengenai nafkah, seorang perempuan tidak dapat menuntut suaminya secara sah jika suaminya tidak bertanggung jawab atas nafkah tersebut karena tidak ada bukti sah perkawinan di antara mereka. Jika seorang perempuan menikah dengan laki-laki yang bertanggung jawab, maka ia akan mendapatkan hak-haknya dengan baik, sebaliknya perempuan tersebut tidak dapat menggugat laki-laki tersebut karena ia tidak mempunyai bukti bahwa perkawinan itu terjadi di antara mereka. Kerugiannya bagi anak adalah tidak mendapat akta kelahiran, karena salah satu syarat pengurusannya adalah akta nikah orang tuanya.
Hal ini juga terlihat dari praktik nikah siri di wilayah yang didominasi oleh lembaga pendidikan agama atau pesantren. Masyarakat baru akan mengurus pencatatan perkawinan apabila memang diperlukan, karena saat ini sudah ada peraturan pemerintah yang hampir semua hal yang berkaitan dengan pemerintahan disertai dengan kewajiban pencatatan perkawinan.
Perceraian di bawah tangan/cerai liar
Laki-laki menceraikan istrinya secara terbuka dengan kata talak atau seang, dan di beberapa negara lain menggunakan kata sarak. Sang suami menyampaikan keluh kesah talak kepada istrinya, namun kata talak itu tidak ia sampaikan sendiri, melainkan orang lain yang menyampaikannya. Sirajudin yang pernah menikah dan bercerai sebanyak 10 kali, menggunakan talak jenis ini bahkan saat menceraikan istri ke-5.
Talaq khulu'/talaq tebusan, yaitu tuntutan talak seorang perempuan kepada laki-laki yang dilakukan oleh istri yang memberikan uang tebusan kepada suaminya untuk menceraikannya. Menurut seorang informan yang menyatakan bahwa ia menangani dua perceraian dalam satu tahun.
Praktik Kawin-Cerai
Ketiga orang tersebut adalah Papu Ijah (100 tahun), perempuan yang ditelantarkan suaminya, Ibu Siti (55 tahun), seorang janda cerai tiga kali, dan Rani (30 tahun), mantan pekerja. di Arab Saudi. Usai poligami, pasangan suami istri tersebut sama-sama tinggal di rumah yang dibangun Papu Ijah dan suaminya. Karena memiliki uang yang cukup untuk berhaji, Papu Ijah mendorong suaminya untuk berangkat haji terlebih dahulu.
Rumah tersebut merupakan sumbangan Papu Ijah kepada masyarakat setempat dan digunakan untuk sembahyang serta tempat anak-anak kecil mengaji. Saat itu, Papu Ijah memintanya segera berangkat ke desa suaminya di Lombok Tengah.
AGENSI PEREMPUAN SASAK: KISAH PEKKA TIGA
Agensi Tiga Kepala Keluarga
Papu Ijah sangat fasih berbahasa Indonesia, suatu keistimewaan bagi masyarakat Sasak dan orang tua seperti nenek Ijah. Kisah di atas menggambarkan bagaimana Papu Ijah dikonstruksi nilai-nilai budaya melalui institusi keluarga. Suami Papu Ijah memberikan mahar berupa uang Belanda 1 ringgit dengan foto Ratu Elmina dan pembacaan syair pendek.
Antara rumah Dahri dan rumah Papu Ijah hanya terdapat berugak sebagai tempat menerima tamu dan bertemu. Di hari Idul Fitri yang merupakan hari ketujuh setelah Idul Fitri, Papu Ijah dan Bu Siti mengajak saya berziarah ke makam Loang Baloq. Ada keinginan Papu Ijah ingin menggugat suaminya yang melalaikan tanggung jawab sebagai suami.
Sejak dalam kandungan hingga berusia dua tahun, ia hanya mengetahui sosok ibu dan ayahnya Ijah.
Dominasi atas pekka
Resistensi
Negosiasi
Kesimpulan