Analisis Kebijakan No Work No Pay dalam Perppu Cipta Kerja
Jhoni Lagun Siang
1, Lovely
2, Joynivly
3(Nama tanpa gelar)
1,2,3
Dosen Universitas Cinta Sejati
Abstract Received:
Revised:
Accepted:
In Indonesia, teachers' ability to undertake research is still below average.
This is due to a lack of research knowledge and experience among teachers. As a result, teachers rarely conduct research and have never published a scientific paper. As a result, mentoring in the form of formal training in research competence is required. There is, however, no training structure designed expressly for instructors to improve their research competency. The goal of this study is to create a training system that will eventually improve instructors' research skills. The research and development process is based on a modified Dick & Carey development model. As a result, an upgraded teacher competency training system including training modules, training agendas, teaching books, and learning videos has been developed and tested by specialists. Teachers in Indonesia are expected to use the training system to increase their research skills.
Keywords: Development Research, Teacher Competency, Research, Modified Model (*) Corresponding Author:
How to Cite: Xxxxxx. (2018). Xxxx. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, XX (x): x-xx.
INTRODUCTION
Konteks ekonomi dan ketenagakerjaan di Indonesia saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk implementasi
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja (Perppu Ciptaker). Perppu tersebut langsung menuai berbagai pro dan kontra pada hari penetapannya yaitu pada tanggal 30 Desember 2022, oleh Presiden Joko Widodo.Perppu ini lahir atas putusan MK (Mahkamah Konstitusi) No. 91/PUU- XVIII/2020 karena Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dianggap dalam pembentukannya telah bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan dinyatakan Inkonstitusional bersyarat. Perppu No. 2 Tahun 2022, merupakan langkah penting yang diambil oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi berbagai tantangan dalam ekosistem investasi dan ketenagakerjaan. Perppu ini dirancang untuk
meningkatkan ekosistem investasi dan kegiatan berusaha, memberikan kemudahan, pelindungan, serta pemberdayaan Koperasi dan UMKM, mendukung riset dan inovasi, serta mempercepat proyek strategis nasional. Dalam konteks ketenagakerjaan, Perppu ini bertujuan untuk meningkatkan pelindungan dan kesejahteraan pekerja.
Perppu No. 2 Tahun 2022 lahir dalam upaya mempercepat pemulihan ekonomi nasional pasca-pandemi COVID-19. Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah penerapan kebijakan “No Work No Pay” yang diatur dalam Perppu tersebut. Kebijakan
ini menimbulkan diskusi luas mengenai dampaknya terhadap hubungan industrial dan perlindungan hak pekerja.
Kebijakan No Work No Pay adalah prinsip yang menyatakan bahwa pekerja tidak akan menerima upah jika mereka tidak bekerja atau absen tanpa alasan yang sah. Asal- usul kebijakan ini dapat dilacak kembali ke hukum perburuhan yang berlaku di banyak negara, termasuk Indonesia.
Di Indonesia, prinsip ini memiliki landasan hukum yang kuat dan diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003, Pasal 93 ayat (1) yang menyatakan bahwa upah tidak dibayar apabila pekerja/buruh tidak melakukan pekerjaan. Ketentuan ini diperkuat oleh Peraturan Pemerintah (PP) Pengupahan No 78 Tahun 2015, Pasal 24 ayat (1) yang juga menyebutkan bahwa upah tidak dibayar apabila pekerja/buruh tidak masuk kerja dan/atau tidak melakukan pekerjaan.
Namun, ada pengecualian untuk kondisi tertentu di mana pekerja masih berhak menerima upah meskipun tidak bekerja, seperti sakit, menjalankan kewajiban terhadap negara, menjalankan kewajiban ibadah, atau menjalankan hak istirahat kerja. Pada awal tahun 2023, terdapat diskusi di Indonesia mengenai penerapan sistem no work no pay sebagai respons terhadap usulan dari pengusaha untuk mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menegaskan bahwa Indonesia tidak mengenal istilah no work no pay dan bahwa setiap kesepakatan mengenai fleksibilitas jam kerja dan upah harus dilakukan secara tertulis melalui kesepakatan bipartit antara pengusaha dan pekerja
Meskipun pengusaha telah mengusulkan kebijakan ini sebagai cara untuk
mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan memberlakukan jam kerja fleksibel, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menegaskan bahwa Indonesia tidak
mengenal istilah "No Work No Pay".
Menurut Kemenaker, setiap fleksibilitas dalam jam kerja dan upah harus berdasarkan kesepakatan bipartit antara pengusaha dan pekerja, dan harus dilakukan secara tertulis setelah melalui komunikasi yang baik. Selain itu, pemerintah telah
menetapkan aturan dalam PP No. 36/2021 tentang Pengupahan, yang menyatakan bahwa pemberi kerja tetap wajib membayarkan upah meskipun pekerja/buruh tidak masuk dan tidak bekerja dengan alasan tertentu, seperti sakit atau cuti.
Dengan demikian, Perppu Cipta Kerja tidak secara eksplisit mendukung kebijakan “No Work No Pay”, melainkan menekankan pada perlunya kesepakatan yang adil dan komunikasi yang efektif antara pengusaha dan pekerja dalam menentukan kondisi kerja. Keseimbangan antara kebutuhan operasional perusahaan dan hak-hak pekerja menjadi fokus utama dalam penerapan kebijakan ketenagakerjaan di bawah Perppu Cipta Kerja.
Idealita kebijakan “No Work No Pay” dalam Perppu Cipta Kerja di Indonesia berakar pada prinsip bahwa pekerja yang tidak bekerja tidak akan menerima upah. Prinsip ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab pada pekerja atas pekerjaan yang dimilikinya.
Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Ketenagakerjaan, menegaskan bahwa tidak ada penerapan sistem “No Work No Pay” seperti yang diusulkan oleh pengusaha1. Kebijakan ini harus berdasarkan kesepakatan bipartit antara pengusaha dan pekerja, dan harus dilakukan secara tertulis setelah melalui komunikasi yang baik.
Pengecualian atas prinsip ini juga diakui, seperti dalam kondisi pekerja berhalangan melaksanakan pekerjaan karena sakit, di mana pekerja tetap memperoleh haknya berupa upah. Dengan demikian, meskipun idealita kebijakan tersebut ada, realita hukum dan praktik ketenagakerjaan di Indonesia tidak sepenuhnya menerapkan prinsip
“No Work No Pay” secara mutlak. Keseimbangan antara hak pekerja dan kebutuhan operasional perusahaan menjadi fokus dalam penerapan kebijakan ini di Indonesia.
Kebijakan “No Work No Pay” secara tradisional diterapkan sebagai prinsip yang mengatur bahwa pekerja hanya akan menerima upah jika mereka bekerja. Namun, dalam konteks Perppu Cipta Kerja, kebijakan ini mendapat interpretasi baru yang
memungkinkan pengusaha untuk tidak membayar pekerja yang tidak bekerja karena alasan tertentu, termasuk saat terjadi force majeure atau kondisi ekonomi yang sulit.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi kebijakan “No Work No Pay” dalam Perppu Cipta Kerja terhadap dinamika ketenagakerjaan di Indonesia. Analisis ini penting untuk memastikan bahwa kebijakan tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip perlindungan pekerja yang dijamin oleh konstitusi dan standar internasional, serta untuk memberikan rekomendasi bagi pembuat kebijakan dalam merumuskan regulasi yang adil dan berkelanjutan.
METHODS
Tujuan dilakukannya penelitian yaitu mengkaji dan memahami dampak dari penerapan kebijakan No Work No Pay yang termuat dalam Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang (Perppu) Cipta Kerja Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif yang merupakan jenis penelitian yang meneliti data sekunder atau bahan – bahan kepustakaan. Adapun bahan – bahan kepustakaan yang menjadi rujukan dalam penelitian ini yaitu :
1. Bahan hukum primer Bahan hukum primer adalah bahan yang sumbernya berasal dari perundang - undangan. Dalam penelitian ini, penulis merujuk pada Perppu Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja, putusan MK (Mahkamah Konstitusi) No. 91/PUU-XVIII/2020, Undang-Undang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003, Pasal 93 ayat (1), Peraturan Pemerintah (PP) Pengupahan No 78 Tahun 2015, Pasal 24 ayat (1), dan PP No. 36/2021 tentang Pengupahan.
2. Bahan hukum sekunder Bahan hukum sekunder adalah bahan yang sumbernya berasal dari jurnal maupun buku yang berkaitan dengan penelitian ini.
3. Bahan hukum tersier Bahan hukum tersier adalah bahan yang Sumbernya berasal dari internet, ensiklopedia, dan sebagainya.
RESULTS & DISCUSSION Results
Pada tahun 2020, dunia sedang menghadapi permasalahan krusial akibat hadirnya pandemi Covid-19. Krisis yang berawal dari dimensi kesehatan kini merambat pada sektor ekonomi. Aktivitas ekonomi secara terus menerus terjadi penurunan intensitasnya hingga pada tingkat yang belum pernah terjadi pada era saat ini.
Aktivitas ekonomi perusahaan yang terancam dengan adanya pandemi Covid-19 serta berbagai kebijakan dari Pemerintah yang telah dikeluarkan membuat pengusaha menjadi rugi, dikarenakan berakibat pada sektor produksinya. Pengusaha harus memutar haluan untuk dapat menyelamatkan usahanya akibat adanya Covid-19 dengan cara melakukan pemotongan upah, atau menerapkan no work no pay bahkan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja.
Pemotongan upah berbeda halnya dengan no work no pay. Pemotongan upah upah tersebut tetap diberikan kepada pekerja/ buruh akan tetapi dilakukan pemotongan atas upah tersebut. Sedangkan asas no work no pay mempunyai pengertian yaitu pekerja yang tidak melakukan pekerjaannya maka upahnya tidak dibayarkan.
No work no pay merupakan suatu asas dalam hukum pengupahan yang diakui keberadaannya di Indonesia dengna ditunjukkan adanya pengaturan atas asas tersebut.
Pada Pasal 93 Ayat (1) UUK 13/2003 menyebutkan bahwa “upah tidak dibayarkan apabila pekerja atau buruh tidak melakukan pekerjaannya”.
No work no pay juga dapat dijumpai pada PP 78/2015 tentang Pengupahan.
Dengan adanya pengakuan asas no work no pay pada suatu peraturan perundang- undangan menunjukkan bahwasanya asas tersebut dapat digunakan. Selain itu juga terdapat pengecualian mengenai asas no work no pay yang tidak dapat digunakan, dimana dapat dijumpai pengaturan tersebut dalam Pasal 93 Ayat (2) UUK 13/2003.
Kemudian yang menjadi pertanyaan yaitu apakah dalam hal ini Covid-19 dapat digunakan sebagai alasan untuk dapat menerapkan asas no work no pay sehingga dapat dilakukan oleh pengusaha dalam pengupahan masa pandemi covid-19. Pada Peraturan Perundang-Undangan pun demikian tidak menjelaskan secara detail dalam hal penerapan prinsip no work no pay, terlebih lagi saat ini merupakan peristiwa langka atau baru yang dihadapi yaitu pandemi Covid-19.
Sehingga terjadi kekaburan dalam hal Covid-19 apakah dapat digunakan sebagai alasan untuk menerapkan asas no work no pay bagi pengusaha dalam hal pengupahan kepada pekerja. Berdasarkan hal tersebut diatas, penulis ingin fokus untuk dapat
memperjelas dan meneliti lebih lanjut terkait pandemi Covid-19 sebagai dasar penerapan prinsip no work no pay bagi pengusaha untuk pekerja.
Pasal 93 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenegakerjaan menyatakan bahwa upah tidak dibayar apabila pekerja buruh tidak melakukan pekerjaannya. Pasal tersebut merupakan warisan dari Pasal 1602b KUH Perdata (BW) yang menyatakan bahwa “tidak ada upah yang harus dibayarkan untuk jangka waktu selama buruh tidak melakukan pekerjaannya”.
Dengan adanya Pasal 93 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa undang-undang tersebut melestarikan adanya asas no work no pay. No work no pay memiliki arti bahwa upah tidak dibayarkan apabila pekerja/ buruh tidak melakukan pekerjaan.
Selain diatur no work no pay pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan juga mengatur adanya pengecualian penerapan asas tersebut.
Dengan adanya pengecualian tersebut menunjukkan adanya perlindungan kepada upah pekerja/ buruh.
Menurut Menurut Imam Husni, “salah satu bentuk perlindungan kepada pekerja/
buruh adalah dengan diberikannya perlindungan terhadap penghasilan yang cukup termaksud bila pekerja/ buruh tidak melakukan pekerjaan di luar kehendaknya”.9 Pasal 93 ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menjelaskan bahwa ketentuan sebagaimana dimaksud pada pasal 93 ayat (1) tidak berlaku dan
pengusaha wajib membayar upah apabila:
a. Pekerja/ buruh sakit hingga tidak mampu untuk melakukan pekerjaannya;
b. Pekerja/ buruh perempuan yang sakit pada hari pertama dan kedua masa haidnya sehingga tidak mampu untuk melakukan pekerjaannya;
c. Pekerja/ buruh tidak masuk kerja karena pekerja/ buruh menikah, menikahkan, mengkhitankan, membaptiskan anaknya, isteri melahirkan atau keguguran kandungan, suami atau isteri atau anak atau menantu atau orang tua atau mertua atau anggota keluarga dalam satu rumah yang meninggal dunia;
d. Dengan adanya kewajiban terhadap negara pekerja buruh tidak dapat melaksanakan pekerjannya;
e. Pekerja / buruh yang menjalankan ibadah berdasarkan perintah agamanya sehinngga tidak mampu untuk melaksanakan pekerjaannya;
f. Pengusaha tidak mempekerjakan pekerja/ buruh baik karna halangan yang seharusnya dapat dihindari pengusaha atau kesalahan dari pekerja/ buruh, padahal pekerja/ buruh bersedia dalam melakukan pekerjaan sesuai yang diperjanjikan;
g. Pekerja/ buruh yang melakukan istirahatnya;
h. Dengan adanya tugas dari serikat pekerja/ buruh atas persetujuan pengusaha membuat pekerja/ buruh tersebut tidak mampu melaksanakan pekerjaannya;
i. Dengan melaksanakan tugas pendidikan dari perusahaan, sehingga pekerja buruh tidak dapat melaksanakan pekerjannya.
Pengusaha tidak dapat serta merta melakukan no work no pay dengan dalih adanya ketentuan Pasal 93 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Hal tersebut dikarenakan pada Pasal demikian, bahwa ketentuan Pasal 93 (1) hanya ditujukan kepada pekerja/ buruh yang tidak melakukan pekerjaannya, karena kesalahan diri pribadi dari pekerja/ buruh tersebut.
Sedangkan dalam hal ini hadirnya Pasal 93 (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan merupakan pasal perlindungan bagi pekerja/ buruh untuk tetap menerima upah. Perlu diketahui pula bahwasannya Pasal 93 (2) juga tidak dapat digunakan serta merta sebagai alasan untuk tetap dilakukannya pemabayaran atas upah.
Seperti contohnya pada perusahaan garmen, pekerja yang telah datang ke kantor untuk melakukan pekerjaan kemudian bahannya tidak ada, sehingga membuat pekerja tidak dapat melakukan pekerjaanya. Sehingga adanya pandemi covid-19 seperti sekarang tentu bukan serta merta kesalahan dari pengusaha, pun demikian dari pekerja/ buruh.
Tidak ada pengusaha yang dapat menghindari kerugian adanya pandemi covid-19.
CONCLUSION
This research has successfully modified various development models so that it becomes a modified development model that can be used to develop a training system to improve the competence of teachers in carrying out research. This research also produces various important principles that must be outlined in a training and equipped with various supporting devices in it, such as training agendas, material descriptions, training media, to modules. The resulting training system has also been tested by experts in the field of research and training, with good results so that actual training can be used.
REFERENCES
Advokat Manado. (2023). Analisis Perppu No. 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja.
Diakses pada 3 Desember 2023, dari
https://www.advokatmanado.com/2023/01/analisis-perppu-no-2-tahun-2022- tentang.html
Nola. (2023). POLEMIK PERPPU NOMOR 2 TAHUN 2022 TENTANG CIPTA KERJA DARI ASPEK KETENAGAKERJAAN. Journal info singkat, 15(1), 1.
Ade, M. & Yoga, S, (2023). Pengusaha Usul "No Work No Pay", Kemenaker: Indonesia Tidak Mengenal Istilah Itu. Diakses pada 3 Desember 2023, dari
https://money.kompas.com/read/2023/01/06/150300926/pengusaha-usul-no- work-no-pay-kemenaker-indonesia-tidak-mengenal-istilah-itu.
Gadjian. (2019). Sudah Tahu Prinsip ‘No Work No Pay’? Ini Penjelasan Lengkapnya.
Diakses pada 3 Desember 2023, dari
https://www.gadjian.com/blog/2019/07/31/sudah-tahu-prinsip-no-work- no-pay-ini-penjelasan-lengkapnya/.
Letezia, T. (2013). Surat Dokter dan Prinsip 'No Work No Pay'. Diakses pada 3 Desember 2023, dari https://www.hukumonline.com/klinik/a/surat- dokter-dan-prinsip-no-work-no-pay-lt5146a1c1c9e7e.
Indonesia.go.id. (2023). Menjawab Isu Ketenagakerjaan di Perppu Cipta Kerja. Diakses pada 3 Desember 2023, dari
https://indonesia.go.id/kategori/editorial/6796/menjawab-isu- ketenagakerjaan-di-perppu-cipta-kerja?lang=1.
Ayunita, N. (2021). No Work, No Pay. Diakses pada 3 Desember 2023, dari https://law.uii.ac.id/blog/2021/08/05/no-work-no-pay/.
Kliklegal.com. (2022). Wacana No Work No Pay Menuai Polemik, Begini Aturan dan Penjelasannya!. Diakses pada 3 Desember 2023, dari
https://kliklegal.com/wacana-no-work-no-pay-menuai-polemik-begini- aturan-dan-penjelasannya/
Annasa, R. (2023). Sistem No Work No Pay, Kemenaker: Tidak Ada di Indonesia!.
Diakses pada 3 Desember 2023, dari
https://ekonomi.bisnis.com/read/20230106/12/1615683/sistem-no-work- no-pay-kemenaker-tidak-ada-di-indonesia.
Anwar, M. (2020). Dilema PHK dan Potong Gaji Pekerja Di Tengah Covid-19. Buletin Hukum & Keadilan.
Imas Novita Juaningsih, ‘Analisis Kebijakan PHK Bagi Para Pekerja Pada Masa Pandemi Covid-19 di Indonesia’ (2020) Pusat Konstitusi dan Legislasi Nasional Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. Lembaran Negara Tahun 2015 Nomor 237, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5747, Pasal 24 Ayat (1).
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum (Kencana Prenada Media Group 2005).
Indonesia. 2003. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 39, Pasal 93 Ayat (1).
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 39).