• Tidak ada hasil yang ditemukan

Artikel Sosial Budaya dan Kesehatan

N/A
N/A
Parlin Alin

Academic year: 2024

Membagikan " Artikel Sosial Budaya dan Kesehatan"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA DAN DAMPAKNYA TERHADAP DUNIA KESEHATAN

DI INDONESIA

ARTIKEL

Disusun Sebagai Salah Satu Tugas Dosen Pengampu: Lolita Sary, SKM., M.Kes.

Disusun Oleh:

PUSPASARI NPM. 20420031

PROGRAM STUDI MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS MALAHAYATI BANDAR LAMPUNG

TAHUN 2021

(2)

PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA DAN DAMPAKNYA TERHADAP DUNIA KESEHATAN

DI INDONESIA

Upaya kesehatan di Indonesia mengadopsi sistem kesehatan dan medis modern yang latar masyarakat penggunanya adalah sosial-budaya. Atas dasar itu tidak sedikit kendala dalam pembangunan kesehatan maupun pengobatan serta penyembuhan penyakit ketika dilayankan kepada masyarakat Indonesia, karena pengetahuan naturalnya terintegrasi dalam pengetahuan supernaturalnya yang berbeda jauh dari nilai dan norma masyarakat.

Pembangunan kesehatan berorientasi pada tujuan kesegaran jasmani (fitness) dan kesehatan (wellness), tidak lagi paradigma penanggulangan penyakit semata sesuai visi Indonesia Sehat. Faktor kunci adalah manusia/masyarakat, perilaku, dan lingkungan. Ketiga faktor ini saling terkait. Dinamika interaksi antarfaktor berjalan atas dasar sosial budaya setempat (Loedin, 1982:9; Corbin et.

al., 2004:5) yakni nilai, norma dan eksistensi keorganisasian sosial pendukung pencapaian kesehatan.

Dalam pencapaian target, segi manusia/masyarakat atau kependudukan, harus diperhatikan dalam upaya kesehatan. Dari segi perilaku, gaya hidup (life style) yang dipengaruhi sosial budaya, pendidikan, pengertian sehat dan sakit, pengobatan sendiri, dan penggunaan sumber daya kesehatan. Dari segi lingkungan, ekonomi, kehidupan fisik dan biologik. Semua komponen ini menentukan interval maksimum yaitu sehat sampai yang minimum yaitu sakit menjelang mati.

Sistem kesehatan nasional memperhitungkan prinsip, yaitu: menyeluruh

holistik’, terpadu ‘unity’, merata ‘evenly’, dapat diterima ‘acceptable’ dan terjangkau ‘achievable’ oleh masyarakat. Warga diperankan ‘play the role’, didayagunakan ilmu pengetahuan serta teknologi tepat guna ‘empowering’, dan biaya yang terpikul pemerintah serta masyarakat ’budgeting’. Pelaksanaannya pada pelayanan masyarakat luas sampai tercapai kesehatan maksimal dengan tidak mengurangi pelayanan individu.

Keterkaitan Sosial Budaya dalam Upaya Kesehatan di Indonesia Kebudayaan adalah modal dasar masyarakat untuk mengantisipasi dan

(3)

mengadaptasi kebutuhan. Berarti kebudayaan adalah pola pengertian atau makna menyeluruh dalam simbol-simbol yang ditransmisikan secara historis; sistem konsepsi-konsepsi yang diwariskan: dalam bentuk-bentuk simbolis yang dengan cara tersebut manusia berkomunikasi, melestarikan dan mengembangkan pengetahuan dan sikap mereka terhadap kehidupan. Simbolik yang dimaksud Geertz adalah suatu cara memberi bentuk konseptual objektif terhadap kenyataan sosial dan kejiwaan warganya.

Nilai dan norma kebudayaan serta sistem sosial menentukan usaha kesehatan. Baik biomedis (medis modern), kesehatan tradisional (medis tradisional), maupun kesehatan keluarga atau sendiri (home atau self treatment).

Kelemahan konsep sistem sosial ini tidak eksplisit membedakan indikator tingkah laku dan perilaku serta tindakan yang pada hakikatnya satu ciri saja yakni dinamika bahasa fisik (body language) mengaktualisasikan organisasi respon dalam jiwa berupa sistem gerak gerik yang diwujudkan. Namun esensi nilai dan norma serta keorganisasian sosial yang menyertainya memberi makna bahwa upaya kesehatan, penyebab dan penyebaran penyakit serta model pengobatan dan penyembuhannya dipengaruhi kebudayaan dan peradaban masyarakat setempat.

Warga masyarakat Indonesia pada dasarnya tidak berbeda dengan warga masyarakat lainnya di dunia ini dalam prinsip upaya kesehatan. Penanggulangan penyakit merupakan bagian dari tanggung jawab warga masyarakat yang sehat khususnya kerabat terdekat terhadap seseorang yang menderita penyakit. Ide pembangunan kesehatan, pencegahan dan penyembuhan penyakit, bahkan yang bersifat rehabilitasi, merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari pola kehidupan masyarakat Indonesia, meskipun barangkali porsinya masih kecil.

Kebudayaan dan Pengobatan Tradisional

Masing-masing kebudayaan memiliki berbagai pengobatan untuk penyembuhan anggota masyarakatnya yang sakit. Berbeda dengan ilmu kedokteran yang menganggap bahwa penyebab penyakit adalah kuman, kemudian diberi obat antibiotika dan obat tersebut dapat mematikan kuman penyebab penyakit. Pada masyarakat tradisional, tidak semua penyakit itu disebabkan oleh penyebab biologis. Kadangkala mereka menghubung-hubungkan dengan sesuatu

(4)

yang gaib, sihir, roh jahat atau iblis yang mengganggu manusia dan menyebabkan sakit.

Banyak suku di Indonesia menganggap bahwa penyakit itu timbul akibat guna-guna. Orang yang terkena guna-guna akan mendatangi dukun untuk meminta pertolongan. Masing-masing suku di Indonesia memiliki dukun atau tetua adat sebagai penyembuh orang yang terkena guna-guna tersebut. Cara yang digunakan juga berbeda-beda masing-masing suku. Begitu pula suku-suku di dunia, mereka menggunakan pengobatan tradisional masing-masing untuk menyembuhkan anggota sukunya yang sakit.

Pengaruh Sosial Budaya dalam Paradigma Sehat

Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan sosial budaya dalam masyarakat merupakan suatu tanda bahwa masyarakat dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu perubahan dalam proses berfikir.

Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak positif maupun negatif.

Perubahan sosial dan budaya yang terjadi seiring dengan tekanan besar yang dilakukanmanusia terhadap sistem alam sekitar, menghadirkan berbagai macam risiko kesehatan dankesejahteraan bagi seluruh umat manusia.

Hubungan antara kebudayaan dan kesehatan adalah sangat kompleks hal ini dipengaruhi oleh beberapa hala ntara lain;

1. Penyebab masalah Kesehatan

Menurut pandangan kesehatan modern sakit adalah suatu kelainan fisiologis atau gangguan fungsi tubuh atau organ tubuh yang disebabkan oleh beberapa hal seperti bakteri, virus, jamur dan sebagainya atau pertumbuhan sel tubuh yang tidak normal yang disebut dengan pathologis. Sedangkan menurut cara pandang budaya bahwa kejadian suatu penyakit berkaitan dengan perubahan hubungan dengan masyarakat, dengan alam dan dengan lingkungan sehingga menimbulkan dampak terhadap tubuh manusia. Masyarakat dapat berpandangan bahwa kesehatan secara kultur atau budaya dapat disetarakan dengan kesehatan modern jika terdapat hubungan atau terdapat kesamaan.

2. Pengalaman yang berkaitan dengan penyakit.

(5)

Masalah kesehatan merupakan masalah yang selalu berhadapan dalam kehidupan masyarakat, setiap saat manusia selalu bertemu dengan masalah kesehatan baik ringan maupun berat. Pengalaman masalah kesehatan yang ditemui oleh masyarakat sangat mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap masalah tersebut. Contoh; seseorang menderita suatu penyakit dan dalam memecahkan masalah tersebut kebetulan menemui seseorang yang dapat membebaskannya dari masalah tersebut sehingga menimbulkan kepercayaan terhadap hal tersebut.

3. Ungkapan yang berkaitan dengan masalah kesehatan.

Cara pandang masyarakat dan ungkapan masyarakat terhadap suatu masalah kesehatan yang terjadi dalam masyarakat dapat mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap penyakit;

4. Perawatan yang dilakukan dalam mengatasi masalah kesehatan

Sistem pengelolaan kesehatan modern dipadukan dengan budaya masyarakat setempat untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan modern tetapi tanpa mengenyampingkan etika pelayanan kesehatan atau profesional pelayanan kesehatan seperti suatu pelayanan kesehatan modern yang dilakukan oleh seorang dokter dengan mengadopsi nilai - nilai budaya yang berlaku didaerah yang bersangkutan (Isnaini, 2012).

Aspek Sosial yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan Perilaku Kesehatan Ada beberapa aspek sosial yang mempengaruhi status kesehatan antara lain adalah 1. Umur

Jika dilihat dari golongan umur maka ada perbedaan pola penyakit berdasarkan golongan umur. Misalnya balita lebih rentan terkena penyakit infeksi, sedangkan golongan usila lebih banyak menderita penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, kanker, dan lainlain.

2. Jenis Kelamin

Perbedaan jenis kelamin akan menghasilkan penyakit yang berbeda pula.

Misalnya di kalangan wanita lebih banyak menderita kanker payudara, sedangkan laki-laki banyak menderita kanker prostat. Karena perempuan dan

(6)

laki-laki memiliki hormon yang berbeda dan potensi memiliki suatu penyakit juga berbeda.

3. Pekerjaan

Ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan pola penyakit. Misalnya sebaliknya buruh yang bekerja di industri, semisal dipabrik bahan kimia, maka pekerka terebut juga lebih rentan terganggu kesehatannya terlebih mengenai organ pernapasan oleh karena itu disetiap industri memiliki SOP nya masing- masing.

4. Sosial Ekonomi

Keadaan sosial ekonomi juga berpengaruh pada pola penyakit. Misalnya penderita obesitas lebih banyak ditemukan pada golongan masyarakat yang berstatus ekonomi tinggi, dan sebaliknya malnutrisi lebih banyak ditemukan di kalangan masyarakat yang status ekonominya rendah.c Dari sini dapat kita simpulka bahwa ekonomi dalam suatu keluarga sangat berdampak pada kesehatan.

Menurut H.Ray Elling (1970) ada 2 faktor sosial yang berpengaruh pada perilaku kesehatan :

1. Self concept

Self concept ditentukan oleh tingkatan kepuasan atau ketidakpuasan yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri, terutama bagaimana kita ingin memperlihatkan diri kita kepada orang lain. Apabila orang lain melihat kita positif dan menerima apa yang kita akukan, kita akan meneruskan perilaku kita, begitu pula sebaliknya.

2. Image kelompok

Image seorang individu sangat dipengaruhi oleh image kelompok. Sebagai contoh, anak seorang dokter akan terpapar oleh organisasi kedokteran dan orang-orang dengan pendidikan tinggi, sedangkan anak buruh atau petani tidak terpapar dengan lingkungan medis dan besar kemungkinan juga tidak bercita-cita untuk menjadi dokter.

(7)

Aspek Budaya yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan Perilaku Kesehatan

Menurut G.M. Foster (1973), aspek budaya dapat mempengaruhi kesehatan:

1. Pengaruh tradisi

Tradisi adalah suatu wujud budaya yang abstrak dinyatakan dalam bentuk kebiasaan, tata kelakuan dan istiadat. Ada beberapa tradisi di dalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif juga positif.

a. Contoh negatif: tradisi cincin leher. Meskipun berbahaya arena penggunaan cincin ini bisa membuat tulang leher menjadi lemah dan bisa mengakibatkan kematian jika cincin dilepas, namun tradisi ini masih dilakukan oleh sebagian perempuan Suku Kayan. Mereka meyakini bahwa leher jenjang seperti jerapah menciptakan seksual atau daya tarik seksual yang kuat bagi kaum pria. Selain itu, perempuan dengan leher jenjang diibaratkan seperti naga yang kuat sekaligus indah.

b. Contoh positif: tradisi nyirih yang dapat menyehatkan dan menguatkan gigi.

2. Sikap fatalistis

Sikap fatalistis yang juga mempengaruhi perilaku kesehatan. Contoh : beberapa anggota masyarakat di kalangan elompok tertentu (fanatik) sakit atau mati adalah takdir, sehingga masyarakat kurang berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi anaknya yang sakit.

3. Pengaruh nilai

Nilai yang berlaku didalam masyarakat berpengaruh terhadap perilaku kesehatan. Contoh masyarakat memandang lebih bergengsi beras putih daripada beras merah, padahal mereka mengetahui bahwa vitamin B1 lebih tinggi pada beras merah daripada beras putih.

4. Sikap ethnosentris

(8)

Sikap yang memandang kebudayaan sendiri yang paling baik jika dibandingkan dengan kebudayaan pihak lain. Misal sikap seorang yang menggunakan vitsin pada makanannya yang menganggap itu lebih benar daripada orang yang tidak menggunakan vitsin padahal vitsin tidak bagi kesehatan.

5. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya

Contoh : dalam upaya perbaikan gizi, di suatu daerah pedesaan tertentu menolak untuk makan daun singkong, walaupun mereka tahu kandungan vitaminnya tinggi. Setelah diselidiki ternyata masyarakat beraggapan daun singkong hanya pantas untuk makanan kambing dan mereka menolaknya karena status mereka tidak dapat disamakan dengan kambing.

6. Pengaruh norma

Contoh: upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan karena ada norma yang melarang hubungan antara dokter yang memberikan pelayanan dengan bumil sebagai pengguna pelayanan.

7. Pengaruh konsekuensi dari inovasi terhadap perilaku kesehatan

Apabila seorang petugas kesehatan ingin melakukan perubahan perilaku kesehatan masyarakat, maka yang harus dipikirkan adalah konsekuensi apa yang akan terjadi jika melakukan perubahan, menganalisis faktor-faktor yang terlibat/berpengaruh pada perubahan dan berusaha untuk memprediksi tentang apa yang akan terjadi dengan perubahan tersebut (Aisiyah dan Sodik, 2015)

Faktor Sosial Budaya Penghambat Pengembangan Kesehatan di Indonesia Faktor penghambat disoroti dari sudut sosial budaya. Telah dibentangkan di awal unsur budaya universal, meliputi: Agama; Ekonomi; Ilmu Pengetahuan;

Teknologi; Organisasi Sosial; Bahasa dan Komunikasi; serta Kesenian. Faktor Agama dan Kepercayaan Gaib Non Religi. Agama yang di bidang ritual dan seremonial serta akhlak berupa moral serta etika dan tatakrama dalam kehidupan.Di samping itu banyak pula kepercayaan tentang penyakit diare balita di berbagai wilayah di Indonesia ciri pertumbuhan seperti: "mau pandai jalan dan

(9)

bicara”, "tumbuh gigi", dsb. Penderita tidak diobati, dibiarkan mengalami dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) lebih lama dan bisa membawa kematian.

Di Indonesia misalnya, kebiasaan (merugikan) mandi malam sebagai sumber penyakit rheumatic; merokok (merugikan umum di berbagai negara) potensil melahirkan penyakit paru-paru, jantung, kanker, impotensi, gangguan kehamilan dan janin; membuang sampah di sembarang tempat mengakibatkan saluran air rumah tangga tidak lancar menyuburkan pembiakan nyamuk aedes penular penyakit demam berdarah (dengue), dan seterusnya. Kebiasaan (menguntungkan) bersugi tembakau bagi ibu-ibu pemakan sirih dapat memperkuat giginya; petani turun ke sawah pada pagi selesai shalat subuh atau menjelang fajar menyingsing membuat paru-paru dan pernafasannya lebih sehat (Tumanggor, 2010).

Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan sosial budaya dalam masyarakat merupakan suatu tandabahwa masyarakat dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu perubahan dalam proses berfikir.

Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak positif maupun negatif.

Hubungan antara budaya dan kesehatan sangatlah erat hubungannya. Kebudayaan atau kultur dapat membentuk kebiasaan dan respons terhadap kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa memandang tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga kesehatan untuk tidak hanya mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat mereka mengerti tentang proses terjadinya suatu penyakit dan bagaimana meluruskan keyakinan atau budaya yang dianut hubungannya dengan kesehatan.

(10)

DAFTAR LITERATUR

Aisiyah dan Sodik, 2015, Aspek Sosial Budaya Dalam Perilaku Kesehatan Masyarakat di Indonesia. IIK Strada Indonesia

Barbara C Long. 2006. Essential of medical surgical nursing process approach, The Mosby Company St Louis: USA.

Isnaini, 2012, Kesehatan Modern dengan Nuansa Budaya. Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2012-Maret 2013,Vol. 7, No, 1.

Tumanggor, Rusmin. 2010. Masalah-Masalah Sosial Budaya Dalam Pembangunan Kesehatan Di Indonesia. Jurnal Masyarakat & Budaya, Volume 12 No. 2 Tahun 2010

Referensi

Dokumen terkait

6.2.3 Hubungan Sosial Budaya Terhadap Pengambilan Keputusan Masyarakat Dalam Memilih Pelayanan Kesehatan di Dusun Wonosari Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang

obesitas telah menjadi isu besar di seluruh dunia saat ini dan merupakan penyebab utama potensi masalah kesehatan masyarakat yang

1. Terdapat nilai-nilai budaya dalam novel Sukreni Gadis Bali. Nilai budaya tersebut yaitu yang berhubungan dengan adat-istiadat masyarakat setempat. Adapun nilai

Pengelolaan kesan komunikasi etnis Tionghoa di Kota Palembang dengan warga setempat adalah secara verbal untuk menyatakan pikiran, perasaan dan maksud kepada sesama masyarakat

Mengapresiasi karya seni tari 11.1 Mengidentifikasi jenis, peran, dan perkembangan tari Nusantara daerah setempat dalam konteks budaya masyarakat daerah

masyarakat Desa Candipari Kecamatan Porong oleh karena itu. Tempat fasilitas untuk kesehatan masyarakat ini memang sangat.. yang dapat membantu mengatasi kesehatan

Pelaksana program bantuan sosial fasilitasi Komunitas budaya di masyarakat meliputi Direktorat Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Balai

Hasil penelitan menunjukkan bahwa a kepercayaan masyarakat terhadap tradisi nyadran yaitu untuk menghilangkan bala’ atau musibah serta budaya nyekar sebelum hajatan dipercaya untuk