ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. F DENGAN MASALAH STUNTING DI PUSKESMAS MEDAN SUNGGAL
Oleh :
WILDAR OFTARIANG WARUWU 240202079
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA MEDAN
2025
7
1.1 Latar Belakang
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi jangka panjang (Kemenkes R.I, 2018). Stunting menjadi masalah karena dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit dan kematian, perkembangan otak yang kurang optimal sehingga peningkatan keterampilan motorik otak tertunda dan pertumbuhan mental terhambat (Kemenkes, 2018). Stunting telah diidentifikasi sebagai salah satu faktor risiko proksimal utama untuk perkembangan fisik dan mental yang buruk pada anak di bawah usia 5 tahun. Stunting dominan terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan (0-23 bulan) dan berlanjut hingga usia lima tahun (Akombi, B. J., et al. 2017).
Pada tahun 2019-2020, 34,6% balita mengalami stunting, termasuk negara- negara Asia mencapai 83,6% (Kemenkes RI, 2019-2020). Indonesia termasuk negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di Kawasan Asia Tenggara (SEAR), yaitu rata-rata prevalensi stunting (tahun 2018, 2019 - 2020) sebesar 36,4%, 30,8% 27,4% balita mengalami stunting (Kemenkes RI, 2019). Sedangkan di wilayah Papua Barat tahun 2018 prevalensi stunting adalah 19,8% dan meningkat pada tahun 2019 memiliki prevalensi stunting sebesar 22,89%, menjadikan jayapura sebagai salah satu dari 160 kota prioritas penanggulangan stunting di Indonesia.
Balita merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan emas dari kehidupan anak. Oleh karena itu, asupan nutrisi dan makanan yang memadai yang aman dikonsumsi sangat penting (Rahayu, I., & Jalinus, N., 2019).
Balita merupakan periode pertumbuhan yang cepat karena bayi selalu lapar, pola tidur bayi berubah, lebih rewel daripada biasanya. Karena semua perubahan ini, balita membutuhkan lebih banyak asupan kebutuhan gizi.
Kebutuhan zat gizi makro pada balita meliputi kebutuhan zat gizi makro
7
anak usia 1-3 tahun kurang lebih adalah 1,125 Kkal (Juliana, E., Nataliningsih, N., & Aisyah, I., 2022).
Gambaran status gizi penduduk Indonesia di usia balita periode 2023 adalah sebagai berikut: underweight (5%), normoweight (54,6%), overweight (14,6%) dan obesitas (25,8%). Sejalan dengan observasi awal penelitian pada masyarakat Sunggal menyatakan pada rentang usia yang sama, status gizi pendek (5,7%), sangat pendek (49,2%), gizi buruk (14,4%), dan kurang gizi (30,7%). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kecukupan energi penduduk Indonesia usia balita di Kota Sunggal belum memadai. Sehingga hal ini menjadi urgensi dalam penelitian ini. Penting untuk mengkaji hal-hal yang berhubungan dengan status gizi pada anak, salah satunya adalah melakukan edukasi.
Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi dengan angka stunting yang tinggi, yang menduduki peringkat ke-3 prevalensi stunting pada anak balita tertinggi di Indonesia, yaitu 37,3% dibandingkan dengan angka rata-rata Nasional yang hanya 30,8% pada tahun 2018, pada tahun 2019. 22,55 % dan pada tahun 2020 menjadi 19% (Laporan Kinerja Dinas Kesehatan Wilayah Sumatera Utara, 2020). Diantara angka stunting tersebut salah satunya Kabupaten Deli Serdang, mulai tahun 2018 kasus prevalensi stunting sekitar 9,1%, tahun 2019 ada 93% dan tahun 2020 meningkat menjadi 10,6%, kemudian tahun 2021 menjadi 10,18%. Hal ini menunjukkan pada angka kejadian stunting pada bayi yang berusia di bawah lima tahun merupakan masalah status gizi yang paling utama di Kabupaten Deli Serdang. Evaluasi kesehatan adalah kegiatan analisis berbagai macam aspek perkembangan dan pelaksanaan program dengan mempelajari relevansi, adekuasi, progres, efektivitas, efisiensi dan dampak dari program .
7
Bogor pada tanggal 20 agustus 2021. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya percepatan penurunan angka prevalensi stunting. Melalui Peraturan Presiden No. 72 Tahun 2021 BKKBN ditunjuk sebagai ketua tim pelaksana percepatan penurunan stunting. Dapur Sehat Atasi Stunting akan ada dalam Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) dan menjadi pusat gizi serta pelayanan pada anak stunting, bersama para ahli gizi telah menyusun menu sehat dengan konsep produk lokal, karena sekaligus memberdayakan dan mensejahterakan masyarakat sendiri. Kegiatan DAHSAT sendiri mencakup edukasi perbaikan gizi dan konsumsi pangan ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Dalam hal ini masyarakat akan diberi sosilaisasi terkait pangan lokal yang terjangkau, bericita rasa dan bergizi baik dan dipadukan dengan berbagai kegiatan kemitraan.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan penulisan dari asuhan keperawatan ini adalah : 1. Tujuan Umum
a. Memberikan gambaran tentang Asuhan Keperawatan Keluarga Tn.
F dengan masalah Stunting 2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui definisi dari Stunting b. Untuk mengetahui klasifikasi dari Stunting c. Untuk mengetahui etiologi dari Stunting d. Untuk mengetahui epidemiologi dari Stunting e. Untuk mengetahui patofisiologi Stunting f. Untuk mengetahui pathway Stunting
g. Untuk mengetahui prognosis Inkontinensia urine.
h. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari Stunting i. Untuk mengetahui komplikasi dari Stunting j. Untuk mengetahui therapi Stunting
7
2.1 Konsep Keluarga 2.1.1 Defenisi Keluarga
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertakwa kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya(Adi,2022). Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena ikatan tertentu untuk saling membagi pengalaman dan melakukan pendekatan emosional, serta mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga (Siregar, Manurung, Sihombing, Pakpahan, Sitanggang, Rumerung, &
Triwahyuni, 2020)
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling
7
Berdasarkan beberapa defenisi keluarga adalah suata orang yang memilki suatu ikatan pernikahan maupun darah yang lebih dari dua orang yang saling membagi emosional dan mengidentifikasi pengalaman tertentu.
2.1.2 Struktur Keluarga
Menurut Renteng, & Simak, (2021). Struktur keluarga terdiri dari :
1. Dominasi struktur keluarga
a. Dominasi jalur hubungan darah 1) Patrilineal
7
Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ayah,suku-suku di Indonesia rata-rata menggunakan struktur keluarga patrilineal.
2) Matrilineal
Keluarga yang dihubungkan atau di susun melalui jalur garis ibu.Suku-suku padang salah satu suku yang menggunakan struktur keluarga matrilineal.
b. Dominasi keberadaan tempat tinggal 1) Patrilokal
Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga sedarah dari pihak suami.
2) Matrilokal
Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga sedarah dari pihak istri.
c. Dominasi pengambilan keputusan 1) Patriakal
Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak suami.
2) Matriakal
Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak istri (Setiawati,2015).
2. Ciri – Ciri Struktur Keluarga a. Terorganisasi
Saling berhubungan,saling ketergantungan antara anggota keluarga.
b. Ada keterbatasan
Setiap anggota memiliki kebebasan,tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing.
c. Ada perbedaan dan kekhususan
Setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing-masing.
3. Elemen struktur keluarga ( Friedman ) a. Struktur peran keluarga
Menggambarkan peran masing-masing anggota keluarga baik di dalam keluarganya sendiri maupun peran di lingkungan masyarakat.
b. Nilai atau norma keluarga
Menggambarkan nilai dan norma yang dipelajari dan diyakini dalam keluarga.
c. Pola komunikasi keluarga
Menggambarkan bagaimana cara pola komunikasi diantara orang tua,orangtua dan anak,diantara anggota keluarga atau dalam keluarga.
d. Struktur kekuatan keluarga
Menggambarkan kemampuan anggota keluarga untuk mengendalikan atau mempengaruhi orang lain dalam perubahan perilaku kearah positif.
2.1.3 Macam-Macam Struktur/Tipe/Bentuk Keluarga
Menurut Patimah (2020) macam-macam bentuk keluarga terdiri dari : 1. Tradisional
a. The nuclear family ( keluarga inti )
Keluarga yang terdiri dari suami,istri dan anak.
b. The dyad family
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri ( tanpa anak ) yang hidup bersama dalam satu rumah.
c. Keluarga usila
Kelurga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak sudah memisahkan diri.
d. The childless family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat waktunya,yang disebabkan karena mengejar karier/pendidikan yang terjadi pada wanita.
e. The extended family ( keluarga luas/besar)
Keluarga yang terdiri dari 3 generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti nuclear family disertai paman,tante,orang tua ( kakek-nenek),keponakan,dll.
f. The single parent family ( keluarga duda/janda )
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah atau ibu ) dengan anak.Hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian,kematian dan ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan).
g. Commuter family
Kedua orang tua bekerja dikota yang berbeda,tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada saat akhir pecan (weekend).
h. Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah.
i. Kin-network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama. Misalnya: kamar mandi, dapur, televise, telepon.
j. Blended family
Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah kembali dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya.
k. The single adult living alone/single- adult family
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan (separasi),seperti : perceraian,atau ditinggal mati.
2. Non-tradisional
a. The unmarried teenage mother
Keluarga yang terdiri dari orang tua ( terutama ibu ) dengan anak tanpa hubungan nikah.
b. The stepparent family
Keluarga dengan orang tua tiri c. Commune family
Beberapa pasangan keluarga ( dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara,yang hidup bersama dalam satu rumah,sumber dan fasilitas yang sama,pengalaman yang sama,sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok/membesarkan anak bersama.
d. The nonmarital heterosexual cohabiting family
Keluarga yang hidup bersama,berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan.
e. Gay and lesbian family
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana pasangan suami istri ( marital patners ).
f. Cohabiting couple
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan,karena beberapa alas an tertentu.
g. Group-marriage family
Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama,yang merasa telah saling menikah satu dengan yang lainnya,berbagi sesuatu,termasuk sexual dan membesarkan anaknya.
h. Group network family
Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan atau nilai-nilai,hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang- barang rumah tangga bersama,pelayanan dan bertanggungjawab membesarkan anaknya.
i. Foster family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga atau saudara dalam waktu sementara,pada saar orang tua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga aslinya.
j. Homeless family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.
k. Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif,dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian,tetapi berkembang dalam kekerasan dan criminal dalam kehidupannya.
2.1.4 Tugas Pengkajian Keluarga
Menurut Patimah (2020) tugas pengkajian keluarga :
a. Sejauh mana keluarga mengenal masalah kesehatan pada keluarganya.
1) Keyakinan, nilai-nilai dan perilaku terhadap pelayanan kesehatan
2) Tingkat pengetahuan keluarga tentang sehat sakit.
3) Tingkat pengetahuan keluarga tentang gejala atau perubahan penting yang berhubungan ddengan masalah kesehatan yang dihadapi.
4) Sumber-sumber informasi kesehatan yang didapat b. Kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan.
c. Kemampuan keluarga melakukan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit.
d. Kemampuan keluarga memodifikasi dan memelihara lingkungan e. Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan.
2.1.5 Fungsi Keluarga
Menurut Putri, (2015) fungsi dalam keluarga terdapat 5 fungsi antaranya :
1. Fungsi biologis
a. Meneruskan keturunan
b. Memelihara dan membesarkan anak c. Memenuhi kebutuhan gizi keluarga 2. Fungsi psikologis
a. Memberikan kasih sayang dan rasa aman
b. Memberikan perhatian diantara anggota keluarga c. Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga 3. Fungsi sosialisasi
a. Membina sosialisasi pada anak
b. Membentu norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkrmbangan anak.
c. Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga 4. Fungsi ekonomi
a. Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga
b. Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga
c. Menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa mendatang
5. Fungsi pendidikan
a. Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.
b. Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa.
c. Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.
2.1.6 Tahap-Tahap Perkembangan Keluarga
Menurut Handayani, Yuliant, Nyoman, & Setiawan (2016) tahap- tahap perkembangan keluarga yang terdiri dari :
1. Pasangan Baru ( Keluarga Baru )
Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki dan perempuan membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan ( psikologis ) keluarga masing-masing.
2. Keluarga Ghild-Bearing ( Kelahiran Anak Pertama )
Keluarga yang menantikan kelahiranmdimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan.
3. Keluarga Dengan Anak Pra-Sekolah
Tahap ini dimulai saat kelahiran anak pertama (2,5 bulan ) dan berakhir saat anak berusia 5 tahun.
4. Keluarga Dengan Anak Sekolah
Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia 6 tahun dan berakhir pada usia 12 tahun.Umumnya keluarga sudah mencapai jumlah anggota keluarga maximal,sehingga keluarga sanagt sibuk.
5. Keluarga Dengan Anak Remaja
Dimulai saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir 6-7 tahun kemudian,yaitu pada saat anak meninggalkan rumah orang tuanya.Tujuan keluarga ini adalah melepas anak remaja dan memeberi tanggungjawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi lebih dewasa.
6. Keluarga Dengan Anak Dewasa
Tahap ini dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada saat anak terakhir meninggalkan rumah.Lamanya tahap ini tergantung dari jumlah anak dalam keluarga,atau jika ada anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua.
7. Keluarga Usia Pertengahan
Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat pension atau salah satu pasangan meninggal.
8. Keluarga Usia Lanjut
Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai pada saat salah satu pasangan pension,berlanjut saat salah satu pasangan meninggal sampai keduanya meninggal.
2.2 Konsep Stunting 2.2.1 Definisi Stunting
Stunting merupakan suatu keadaan dimana gizi buruk kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi (Novianti, Mardianti, dan Muchtar, 2020). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting pada anak balita merupakan masalah kesehatan masyarakat jika prevalensinya mencapai 20%.
Salah satu penyebab tidak langsung terjadinya permasalahan stunting adalah tingkat sosial ekonomi, kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi balita, selain itu kondisi sosial ekonomi juga mempengaruhi pilihan jenis makanan tambahan dan waktu pemberian makan serta kebiasaan hidup sehat (Ngaisyah, 2015). Salah satu faktor risiko yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita adalah riwayat penyakit yang rendah berat badan lahir (BBLR). Akibatnya pertumbuhan bayi BBLR akan terganggu jika keadaan ini terjadi Pemberian makanan yang tidak memadai, infeksi yang sering terjadi, dan pelayanan kesehatan yang buruk dapat menyebabkan stunting anak-anak. Namun kejadian stunting secara tidak langsung dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi misalnya seperti tingkat edukasi, pendapatan, dan jumlah anggota rumah tangga (Alba, Suntara, dan Siska, 2021). Stunting jika tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif, termasuk secara fisik mengalami keterlambatan atau menjadi balita pendek yang dapat menghambat prestasi dalam hal olah raga dan kemampuan fisik lainnya, selain itu stunting dapat menimbulkan permasalahan pada aspek kognitif
anak kemampuan intelektual di bawah standar. berbeda dengan anak lain yang pertumbuhannya berada pada kategori normal (Noorhasanah &
Tauhidah, 2021).
Stunting merupakan masalah gizi yang kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dari anak dengan usia yang sama. Sunting terjadi pada masa embrio masih di dalam perut dan mungkin akan tampak ketika anak beranjak usia dua tahun. Stunting juga menjelaskan suatu kejadian kurang gizi pada balita yang dapat berlangsung dalam jangka waktu yang panjang dan berdampak bukan hanya pada fisik, melainkan berdampak juga pada psikologi, kemampuan dalam menimba ilmu, dan kreativitas ekonomi saat dewasa.
Stunting merupakan sebuah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, hal ini menyebabkan adanya gangguan di masa yang akan datang yakni mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. Anak stunting mempunyai Intelligence Quotient (IQ) lebih rendah dibandingkan rata – rata IQ anak normal (Kemenkes RI, 2018).
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, pengertian pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada Indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek). Balita pendek adalah balita dengan status gizi berdasarkan panjang atau tinggi badan menurut umur bila dibandingkan dengan standar baku WHO, nilai Zscorenya kurang dari -2 SD dan dikategorikan sangat pendek jika nilai Zscorenya kurang dari -3 SD (Kemenkes, RI 2016).
2.2.2 Penyebab Stunting
Berdasarkan Kemenkes RI, 2018 Penyebab stunting adalah sebagai berikut:
1) Keadaan Ibu dan Calon Ibu
Kondisi kesehatan dan gizi ibu sebelum dan saat kehamilan serta setelah persalinan mempengaruhi pertumbuhan janin dan resiko terjadinya stunting. Faktor lainnya pada ibu yang mempengaruhi adalah postur tubuh ibu yang pendek, jarak kehamilan yang terlalu dekat, ibu yang masih muda. Serta asupan nutrisi yang kurang pada saat kehamilan. Menurut Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 97 Tahun 2014 tentang pelayanan kesehatan masa sebelum hamil, masa hamil, dan masa sudah melahirkan.
Penyelenggaraan pelayanan kontrasepsi, serta pelayanan kesehatan Seksual, faktor-faktor yang meningkatkan risiko ibu hamil mengalami masalah kehamilan adalah usia ibu yang terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan, dan terlalu dekat jarak kelahiran. Usia ibu yang terlalu muda (dibawah 20 tahun) berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) dan menyebabkan terjadinya stunting. Kondisi ibu sebelum masa kehamilan baik postur tubuh (berat badan dan tinggi badan) dan gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting.
2) Keadaan Bayi dan Balita
Nutrisi yang diperoleh sejak bayi tentunya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhannya termasuk risiko terjadinya stunting. Tidak terlaksananya inisiasi menyusui dini (IMD), gagalnya pemberian air susu ibu ASI- Eksklusif, dan proses penyapihan dini dapat menjadi salah satu faktor terjadinya stuntin. Selain itu dari sisi pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) hal yang perlu diperhatikan adalah kuantitas, kualitas, dan keamanan pengan yang diberikan. Asupan zat gizi pada balita sangat penting dalam membantu proses pertumbuhan yang sesuai dengan umurnya agar tidak terjadi kegagalan tumbuh kembang (growth faltering) yang dapat menyebabkan stunting.
3) Keadaan Sosial Ekonomi dan Lingkungan
Kondisi sosial ekonomi dan sanitasi tempat tinggal juga saling berkaitan dengan terjadinya stunting. Keadaan ekonomi berkaitan dengan kemampuan dalam memenuhi asupan yang bergizi serta mendapatkan pelayanan kesehatan untuk ibu hamil dan balita. Sedangkan penyakit infeksi yang disebabkan oleh higene dan sanitasi yang buruk seperti diare dapat mengakibatkan penyerapan nutrisi pada proses pencernaan.
Beberapa penyakit yang diderita bayi dapatt menyebabkan berat badan turun. Jika kondisi ini tidak segera di atasi dengan pemberian asupan makanan yang cukup, maka akan mengakibatkan stunting (Kemenkes RI, 2018).
2.2.3 Dampak Stunting
Dampak stunting dibagi menjadi dampak jangka panjang dan jangka pendek adalah sebagi berikut (WHO, 2014):
1. Dampak Jangka Pendek
a. Peningkatan angka kejadian morbiditas dan kematian.
b. Perkembangan kognitif , motorik, dan verbal yang kurang optimal.
c. Peningkatan biaya kesehatan.
2. Dampak Jangka Panjang
a. Postur tubuh yang pendek saat dewasa (lebih pendek dibanding umumnya).
b. Meningkatnya risiko obesitas.
c. Menurunnya kesehatan reproduksi.
d. Penurunan integlensia (IQ), sehingga prestasi belajar menjadi rendah dan tidak dapat melanjutkan sekolah.
e. Kecerdasan produktivitas dan kapasitas kerja yang optimal sehingga menjadikan beban negara.
2.2.4 Penilaian Anak Stunting
Anak stunting dapat diketahui bila anak 0-5 tahun diukur Tinggi Badan me nurit (TB/U) atau Panjang Badan menurit Umur (PB/U) lalu dibandingkan
dengan standar dan hasilnya berada dibawah normal. Terdapat istilah stunt ed (pendek) dan sevelery stunted (sangat pendek) yang dimana anak dikata kan pendek Ketika ambang batas Z-Score mencapai -3 SD sampai dengan
<-2 SD dan sangat pendek Ketika ambang batas mencapai <-3 SD Menuru t (Soegianto, Wijono dan Jawawi, 2007), indeks tinggi badan menurut umu r (TB/U) berdasarkan baku antropometri WHO-NCHS dapat dilihat ada be berapa kategori antara lain:
Tabel 2.1 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks
Indeks Status Gizi Ambang Batas (Z-Score)
Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) anak usia 0-60 bulan
< -3 SD
-3 SD dengan < -2 SD -2 SD sampai dengan 2 SD
> 2 SD
Sangat Pendek Pendek
Normal Tinggi (Kementrian Kesehatan RI, 2020).
2.2.5 Patofisiologi
Masalah stunting terjadi karena adanya adaptasi fisiologi pertumbuha n atau non patologis, karena penyebab secara langsung adalah masalah pada asupan makanan dan tingginya penyakit infeksi kronis terutama I SPA dan diare, sehingga memberi dampak terhadap proses pertumbuh an balita (Maryunani, 2016).
Tidak terpenuhinya asupan gizi dan adanya riwayat penyakit infeksi b erulang menjadi faktor utama kejadian kurang gizi. Faktor sosial ekon omi, pemberian ASI dan MP-ASI yang kurang tepat, pendidikan oran g tua, serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai akan mempengar uhi pada kecukupan gizi. Kejadian kurang gizi yang terus berlanjut da n karena kegagalan dalam perbaikan gizi akan menyebabkan pada kej adian stunting atau kurang gizi kronis. Hal ini terjadi karena rendahny a pendapatan sehingga tidak mampu memenuhi kecukupan gizi yang
sesuai (Maryunani, 2016).
Pada balita dengan kekurangan gizi akan menyebabkan berkurangnya lapisan lemak di bawah kulit hal ini terjadi karena kurangnya asupan g izi sehingga tubuh memanfaatkan cadangan lemak yang ada, selain itu imunitas dan produksi albumin juga ikut menurun sehingga balita aka n mudah terserang infeksi dan mengalami perlambatan pertumbuhan d an perkembangan. Balita dengan gizi kurang akan mengalami peningk atan kadar asam basa pada saluran cerna yang akan menimbulkan diar e (Maryunani, 2016).
1.2 Konsep Asuhan keperawatan Keluarga
Keluarga Asuhan keperawatan keluarga dilaksanakan dengan pendekatan proses keperawatan. Proses keperawatan terdiri atas lima langkah, yaitu pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, penyusunan perencanaan tindakan keperawatan, pelaksanaan tindakan keperawatan, dan melakukan evaluasi(Siregar, Manurung, Sihombing, Pakpahan, Sitanggang, Rumerung,
& Triwahyuni, 2020)
1. Pengkajian Keperawatan Keluarga
Pengkajian keperawatan adalah suatu tindakan peninjauan situasi manusia untuk memperoleh data tentang klien dengan maksud menegaskan situasi penyakit, diagnosa klien, penetapan kekuatan, dan kebutuhan promosi kesehatan klien. Pengkajian keperawatan merupakan proses pengumpulan data. Pengumpulan data adalah pengumpulan informasi tentang klien yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah-masalah, serta kebutuhan-kebutuhan keperawatan, dan kesehatan klien.
Pengumpulan informasi merupakan tahap awal dalam proses keperawatan. Dari informasi yang terkumpul, didapatkan data dasar tentang masalah-masalah yang dihadapi klien. Selanjutnya, data dasar
tersebut digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan, merencanakan asuhan keperawatan, serta tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah-masalah klien (Kholifah & Widagdo, 2016).
Pengkajian dalam asuhan keperawatan keluarga diantaranya adalah : a. Data Umum
Data Umum yang perlu dikaji adalah Nama kepala keluarga, Usia, Pendidikan, Pekerjaan, Alamat, Daftar anggota keluarga.
b. Genogram
Dengan adanya genogram dapat diketahui faktor genetik atau factor bawaan yang sudah ada pada diri manusia
c. Status Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi dapat dilihat dari pendapatan keluarga dan kebutuhan-kebutuhan yang dikeluarkan keluarga. Pada pengkajian status sosial ekonomi berpengaruh pada tingkat kesehatan seseorang.
Dampak dari ketidakmampuan keluarga membuat seseorang enggan memeriksakan diri ke dokter dan fasilitas kesehatan lainnya.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat kesehatan keluarga yang perlu dikaji adalah Riwayat masingmasing kesehatan keluarga (apakah mempunyai penyakit keturunan), Perhatian keluarga terhadap pencegahan penyakit, Sumber pelayanan kesehatan yang biasa digunakan keluarga dan Pengalaman terhadap pelayanan kesehatan.
e. Karakteristik Lingkungan
Karakteristik lingkungan yang perlu dikaji adalah Karakteristik rumah, Tetangga dan komunitas, Geografis keluarga, Sistem pendukung keluarga.
f. Fungsi Keluarga
1) Fungsi Afektif
Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga dan bagaimana anggota keluarga dalam mengembangkan sikap saling mengerti dan peduli. Semakin tinggi dukungan keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit maka semakin besar peluang untuk sembuh dan semakin mempercepat kesembuhan dari penyakitnya. Fungsi ini merupakan basis sentral bagi pembentukan dan kelangsungan unit keluarga. Fungsi ini berhubungan dengan persepsi keluarga terhadap kebutuhan emosional para anggota keluarga. Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi akan mengakibatkan ketidakseimbangan keluarga dalam mengenal tanda-tanda gangguann kesehatan selanjutnya.
2) Fungsi Keperawatan
a) Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan sejauh mana keluarga mengetahui fakta-fakta dari masalah kesehatan yang meliputi pengertian, faktor penyebab tanda dan gejala serta yang mempengaruhi keluarga terhadap masalah, kemampuan keluarga dapat mengenal masalah, tindakan yang dilakukan oleh keluarga akan sesuai dengan tindakan keperawatan, karenaStuntingmemerlukan perawatan yang khusus yaitu mengenai pengaturan makanan dan gaya hidup. Jadi disini keluarga perlu tau bagaimana cara pengaturan makanan yang benar serta gaya hidup yang baik untuk penderita Stunting.
b) Untuk mengtahui kemampuan keluarga mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat. Yang perlu dikaji adalah bagaimana keluarga mengambil keputusan apabila anggota keluarga menderitaStunting
c) Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga merawat keluarga yang sakit. Yang perlu dikaji sejauh mana keluarga
mengetahui keadaan penyakitnya dan cara merawat anggota keluarga yang sakit Stunting
d) Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang sehat. Yang perlu dikaji bagaimana keluarga mengetahui keuntungan atau manfaat pemeliharaan lingkungan kemampuan keluarga untuk memodifikasi lingkungan akan dapat mencegah kekambuhan dari pasien Stunting
e) Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang mana akan mendukung kesehatan seseorang.
3) Fungsi Sosialisasi Pada kasus penderitaStuntingyang sudah mengalami komplikasi stroke, dapat mengalami gangguan fungsi sosial baik di dalam keluarga maupun didalam komunitas sekitar keluarga.
4) Fungsi Reproduksi Pada penderitaStuntingperlu dikaji riwayat kehamilan (untuk mengetahui adanya tanda-tandaStuntingsaat hamil).
5) Fungsi Ekonomi Status ekonomi keluarga sangat mendukung terhadap kesembuhan penyakit. Biasanya karena faktor ekonomi rendah individu segan untuk mencari pertolongan dokter ataupun petugas kesehatan lainya.
g. Stres dan Koping Keluarga Stres dan koping keluarga yang perlu dikaji adalah Stresor yang dimiliki, Kemampuan keluarga berespons terhadap stresor, Strategi koping yang digunakan, Strategi adaptasi disfungsional.
h. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik meliputi:
1) Keadaan Umum :
a) Kaji tingkat kesadaran (GCS) : kesadaran bisa compos mentis sampai mengalami penurunan kesadaran, kehilangan sensasi,
susunan saraf dikaji (I-XII), gangguan penglihatan, gangguan ingatan, tonus otot menurun dan kehilangan reflek tonus, BB biasanya mengalami penurunan.
b) Mengkaji tanda-tanda vital Tanda-tanda vital biasanya melebihi batas normal.
2) Sistem Penginderaan (Penglihatan)
Pada kasus Stunting, terdapat gangguan penglihatan seperti penglihatan menurun, buta total, kehilangan daya lihat sebagian (kebutaan monokuler), penglihatan ganda, (diplopia)/gangguan yang lain. Ukuran reaksi pupil tidak sama, kesulitan untuk melihat objek, warna dan wajah yang pernah dikenali dengan baik
3) Sistem Penciuman
Terdapat gangguan pada sistem penciuman, terdapat hambatan jalan nafas.
4) Sistem Pernafasan
Adanya batuk atau hambatan jalan nafas, suara nafas tredengar ronki (aspirasi sekresi).
5) Sistem Kardiovaskular
Nadi, frekuensi dapat bervariasi (karena ketidakstabilan fungsi jantung atau kondisi jantung), perubahan EKG, adanya penyakit jantung miocard infark, rematik atau penyakit jantung vaskuler.
6) Sistem Pencernaan Ketidakmampuan menelan, mengunyah, tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi sendiri.
7) Sistem Urinaria
Terdapat perubahan sistem berkemih seperti inkontinensia.
8) Sistem Persarafan :
a) Nervus 1 Olfaktori (penciuman) c) Nervus II Optic (penglihatan)
d) Nervus III Okulomotor (gerak ekstraokuler mata, kontriksi dilatasi pupil)
e) Nervus V Trigeminal (sensori kulit wajah, penggerak otot rahang)
f) Nervus VI Abdusen (gerak bola mata menyamping)
g) Nervus VII Fasial (ekspresi fasial dan pengecapan) h) Nervus VIII Auditori (pendengaran)
h) Nervus IX Glosovaringeal (gangguan pengecapan, kemampuan menelan, gerak lidah)
i) Nervus X Vagus (sensasi faring, gerakan pita suara) j) Nervus XI Asesori (gerakan kepala dan bahu) k) Nervus XII Hipoglosal (posisi lidah)
9) Sistem Musculoskeletal Kaji kekuatan dan gangguan tonus otot, pada klienStuntingdidapat klien merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kelemahan, kesemutan atau kebas.
10) Sistem Integument Keadaan turgor kulit, ada tidaknya lesi, oedem, distribusi rambut.
11) Harapan Keluarga Perlu dikaji bagaimana harapan keluarga terhadap perawat (petugas kesehatan) untuk membantu penyelesaian masalah kesehatan yang terjadi.
2. Diagnosa Keperawatan
Keluarga Diagnosa keperawatan keluarga merupakan perpanjangan diagnosis ke sistem keluarga dan subsistemnya serta merupakan hasil pengkajian keperawatan. Diagnosa keperawatan keluarga termasuk masalah kesehatan aktual dan potensial dengan perawat keluarga yang memiliki kemampuan dan mendapatkan lisensi untuk menanganinya berdasarkan pendidikan dan pengalaman (Friedman & Marylin, 2010).
Kategori diagnosa keperawatan keluarga menurut North American Nursing Association (NANDA) dalam Kholifah & Widagdo (2016) adalah :
a. Diagnosa keperawatan aktual Diagnosis keperawatan aktual dirumuskan apabila masalah keperawatan sudah terjadi pada keluarga. Tanda dan gejala dari masalah keperawatan sudah dapat ditemukan oleh perawat berdasarkan hasil pengkajian keperawatan.
b. Diagnosa keperawatan promosi kesehatan Diagnosis keperawatan ini adalah diagnosa promosi kesehatan yang dapat digunakan di seluruh status kesehatan. Kategori diagnosa keperawatan keluarga ini diangkat ketika kondisi klien dan keluarga sudah baik dan mengarah pada kemajuan.
c. Diagnosa keperawatan risiko
Diagnosis keperawatan ketiga adalah diagnosis keperawatan risiko, yaitu menggambarkan respon manusia terhadap kondisi kesehatan atau proses kehidupan yang mungkin berkembang dalam kerentanan individu, keluarga, dan komunitas. Hal ini didukung oleh faktor- faktor risiko yang berkontribusi pada peningkatan kerentanan.
d. Diagnosa keperawatan sejahtera Diagnosis keperawatan keluarga yang terakhir adalah diagnosis keperawatan sejahtera. Diagnosis ini menggambarkan respon manusia terhadap level kesejahteraan individu, keluarga, dan komunitas, yang telah memiliki kesiapan meningkatkan status kesehatan mereka. Perumusan diagnosis keperawatan keluarga dapat diarahkan pada sasaran individu atau keluarga. Komponen diagnosis keperawatan meliputi masalah (problem), penyebab (etiologi) dan atau tanda (sign). Sedangkan etiologi mengacu pada 5 tugas keluarga yaitu :
a) Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah 1) Persepsi terhadap keparahan penyakit.
2) Pengertian.
3) Tanda dan gejala.
4) Faktor penyebab
5) Persepsi keluarga terhadap masalah.
b. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan
1) Sejauh mana keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah.
2) Masalah dirasakan keluarga/Keluarga menyerah terhadap masalah yang dialami.
3) Sikap negatif terhadap masalah kesehatan.
4) Kurang percaya terhadap tenaga kesehatan informasi yang salah.
c. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit 1) Bagaimana keluarga mengetahui keadaan sakit.
2) Sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuh kan dalam menyelamatkan nawa seseorang.
3) Sumber – sumber yang ada dalam keluarga.
4) Sikap keluarga terhadap yang sakit.
d. Ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan 1) Keuntungan/manfaat pemeliharaan lingkungan.
2) Pentingnya higyene sanitasi.
3) Upaya pencegahan penyakit.
e. Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan 1) Keberadaan fasilitas kesehatan.
2) Keuntungan yang didapat.
3) Kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan.
4) Pengalaman keluarga yang kurang baik.
5) Pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh keluarga.
Setelah data dianalisis dan ditetapkan masalah keperawatan keluarga, selanjutnya masalah kesehatan keluarga yang ada, perlu diprioritaskan bersama keluarga dengan memperhatikan sumber daya dan sumber dana yang dimiliki keluarga. Prioritas masalah asuhan keperawatan keluarga sebagai berikut :
Tabel 2.2 Prioritas Masalah
No Kriteria Nilai Bobot
1 Sifat Masalah : a. Aktual b. Resiko Tinggi c. Potensial
3 2 1
1
2 Kemungkinan Masalah dapat diubah : a. Mudah
b. Sebagian c. Tidak Dapat
2 1 0
2 3 Potensi masalah untuk dicegah :
a. Tinggi b. Cukup c. Rendah
3 2 1
1
4 Menonjolnya Masalah : a. Segera Diatasi b. Tidak segera diatasi
c. Tidak dirasakan ada masalah
2 1 0
1
Penentuan Nilai (Skoring) : Skor
_______________ X Nilai Bobot Angka Tertinggi
Cara melakukan penilaian :
a. Tentukan skor untuk setiap kriteria
b. Skor dibagi dengan angka tertinggi dan dikalikan dengan bobot
c. Jumlah skor untuk semua kriteria
d. Tentukan skor, nilai tertinggi menentukan urutan nomor diagnosa
3. Intervensi Keperawatan Keluarga
Perencanaan keperawatan keluarga adalah sekumpulan tindakan yang direncanakan oleh perawat untuk membantu keluarga dalam mengatasi masalah keperawatan dengan melibatkan anggota keluarga. Perencanaan keperawatan juga dapat diartikan juga sebagai suatu proses penyusunan berbagai intervensi keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah, menurunkan, atau mengurangi masalah-masalah klien.
Perencanaan ini merupakan langkah ketiga dalam membuat suatu proses keperawatan. Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang dikerjakan oleh perawat didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan. Sedangkan tindakan keperawatan adalah perilaku atau aktivitas spesifik yang dikerjakan oleh perawat untuk mengimplementasikan intervensi keperawatan.
Tindakan pada intervensi keperawatan terdiri atas observasi, terapeutik, edukasi dan kolaborasi (PPNI, 2018).
Intervensi keperawatan keluarga denganStuntingmenggunakan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)
4. Implementasi Keperawatan
Keluarga Tindakan perawat adalah upaya perawat untuk membantu kepentingan klien, keluarga, dan komunitas dengan tujuan untuk meningkatkan kondisi fisik, emosional, psikososial, serta budaya dan lingkungan, tempat mereka mencari bantuan. Tindakan keperawatan adalah implementasi/pelaksanaan dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (Kholifah & Widagdo, 2016).
Implementasi dapat dilakukan oleh banyak orang seperti klien (individu atau keluarga), perawat dan anggota tim perawatan kesehatan yang lain, keluarga luas dan orang-orang lain dalam jaringan kerja sosial keluarga (Siregar, Manurung, Sihombing, Pakpahan, Sitanggang, Rumerung, & Triwahyuni, 2020)
Hal yang perlu diperhatikan dalam tindakan keperawatan keluarga denganStuntingmenurut Effendy dalam Harmoko (2012) adalah sumber daya dan dana keluarga, tingkat pendidikan keluarga, adat istiadat yang berlaku, respon dan penerimaan keluarga serta sarana dan prasarana yang ada dalam keluarga. Sumberdaya dan dana keluarga yang memadai diharapkan dapat menunjang proses penyembuhan dan penatalaksanaan penyakitStuntingmenjadi lebih baik.
Sedangkan tingkat pendidikan keluarga juga mempengaruhi keluarga dalam mengenal masalah Stunting dan dalam mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat terhadap anggota keluarga yang terkena Stunting. Adat
istiadat dan kebudayaan yang berlaku dalam keluarga akan mempengaruhi pengambilan keputusan keluarga tentang pola pengobatan dan penatalaksanaan penderita Stunting, seperti pada suku pedalaman lebih cenderung menggunakan dukun daripada pelayanan kesehatan.
Demikian juga respon dan penerimaan terhadap anggota keluarga yang sakitStuntingakan mempengaruhi keluarga dalam merawat anggota yang sakit Stunting. Sarana dan prasarana baik dalam keluarga atau masyarakat merupakan faktor yang penting dalam perawatan dan pengobatan Stunting. Sarana dalam keluarga dapat berupa kemampuan keluarga menyediakan makanan yang sesuai dan menjaga diit atau kemampuan keluarga, mengatur pola makan rendah garam, menciptakan suasana yang tenang dan tidak memancing kemarahan. Sarana dari lingkungan adalah, terjangkaunya sumber-sumber makanan sehat, tempat latihan, juga fasilitas kesehatan (Harmoko, 2012).
5. Evaluasi Keperawatan Keluarga
Evaluasi merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil implementasi dengan kriteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilannya. Evaluasi dapat dilaksanakan dengan SOAP, dengan pengertian "S" adalah ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara subjektif oleh keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan, "O" adalah keadaan obyektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat menggunakan penglihatan. "A"
adalah merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon keluarga secara subjektif dan objektif, "P" adalah perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan tindakan. 50 Dalam mengevaluasi harus melihat tujuan yang sudah dibuat sebelumnya. Bila tujuan tersebut belum tercapai, maka dibuat
rencana tindak lanjut yang masih searah dengan tujuan (Suprajitno, 2016).
BAB 3
TINJAUAN KASUS Format Pengkajian Keperawatan Keluarga
1. Identitas Umum Keluarga Nama : Tn. F Umur : 28Tahun Agama : Kristen
Suku : Batak
Pendidikan : SLTA Perkerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl Bersama Pasar III Komposisi keluarga
No. Nama L/P Umur Hub.Klg Pekerjaan Pendidikan Ket 1.
2.
3.
.
Tn.F Ny.Y An. J
L P L
28 th 25 th 3 th
Suami Istri Anak
Wiraswasta Pedagang
Tidak Berkerja
SLTA SLTA Tidak Sekolah
- - Sakit
Genogram :
Keterangan :
: Laki-laki : Kepala Keluarga
: Perempuan : Hubungan
: Sedang Sakit : Satu Rumah : Meninggal dunia
d d
D
Ecomap Family :
Type keluarga
Jenis tipe keluarga : Keluarga Inti (Nuclear Family) yang terdiri dari ayah, ibu,anak, Masalah yang terjadi dengan tipe tersebut : Tidak ada masalah dengan tipe keluarga tersebut karena keluarga tersebut rukun
Suku Bangsa :
1. Asal suku bangsa : Batak
2. Budaya yang berhubungan dengan kesehatan : sering makan makanan yang manis dan kacang-kacangan
Agama dan kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan : agama yang di anut adalah islam tidak ada yang mempengaruhi kesehatan
Status sosial ekonomi keluarga : kepala keluarga Tn. F yang mencari nafkah
Anggota keluarga yang mencari nafkah: sumber pendapatan keluarga diperoleh dari Tn.F sebagai kepala keluarga
Penghasilan : Rp 2.500.000
Harta benda yang di mililki :
An J
Ny.
A Tn.
F
Keluarga Aktif Dalam beribadah
Antara Anggota Keluarga Terbina Hubutn Yang
Harnonis
Keluarga Termasuk Anggota Masyarakat Yang Aktif
Keluarga Menggunakan
Fasilitas Kesehatan Yang Tersedia Untuk Berobat
kampor (1), kulkas (1), lemari (5).
Kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan : Listrik : Rp. 300.000/bulan
Air : Rp. 100.000/bulan
Kebutuhan pokok : Rp. 1.500.000/bulan Paket internet : Rp. 250.000/bulan
Aktivitas rekreasi keluarga : Kegiatan yang dilakukan keluargaa untuk rekreasi menonton TV dirumah dan kadang juga pergi ke rumah anaknya.
2. Riwayat Dan Tahap Perkembangan Keluarga
a. Tahap perkembangan keluarga saat ini ditentukan : Kelurga Tn. F memiliki 1 Istri dan 1 orang anak. Anak pertama bernama An.J berusia 3 tahun maka keluarga Tn. H berada pada tahap perkembangan keluarga dengan anak pra sekolah sekolah.
b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi : Tn. F memiliki 1 orang anak. Anak mengalami susah makan, Balita. J hanya mau makan makanan yang manis, gorengan dan makanan ringan sehingga susah untuk makan nasi. Setiap bulan Balita. J selalu ke posyandu dengan diantar oleh Ny.A. Ketika ditimbang kader posyandu selalu mengatakan bahwa berat badan balita. J kurang dari batas BB seusia 3 tahun
c. Riwayat kesehatan kelularga inti :
1) Riwayat kesehatan keluarga saat ini : Tn. F tidak memiliki riwayat penyakit apapun, dan Istrinya Ny. A tidak memiliki riwayat penyakit. Sakit yang diderita An. J hanya demam, batuk dan pilek. Gizi kurang yang dialami anak dari Tn.F dan Ny.A ini diketahui sejak lama karena sering menimbang BB anaknya di posyandu
2) Riwayat kesehatan keturunan : Dalam kelurga Tn. F Ibunya sudah meninggal karena memiliki riwayat penyakit Paru-paru dan dalam Keluarga Ny. A Ayahnya memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus dan Ibu Ny. A memiliki riwayat penyakit asam urat. Kedua orang tua Ny.A sudah meninggal
3) Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga
No Nama Umur BB
Keadaan Kesehata
n
Imunisasi (BCG/Polio /DPT/HB/C
ampak)
Masalah kesehatan
Tindakan yang telah dilakukan
1 Tn.F 28 Tahun 70 Kg Sehat Lengkap
2 Ny.A 25 Tahun 56 Kg Sakit Lengkap
3 an.J 3 Tahun 12 Kg Sehat Lengkap Stunting Stunting
4) Sumber pelayanan kesehatan yang di manfaatkan : anggota keluarga memanfaatkan pelayanan puskesmas terdekat.
karena memiliki riwayat penyakit Paru-paru dan dalam Keluarga Ny. A Ayahnya memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus dan Ibu Ny. A memiliki riwayat penyakit asam urat. Kedua orang tua Ny.A sudah meninggal
1. Pengkajian Lingkungan a. Karakteristik Rumah
Rumah yang memiliki Luas 80 m2 dengan tipe 18, dan memiliki 1 lantai yang terd iri dari: ruang tamu, 2 Kamar tidur, 1 kamar mandi dan dapur,. Jumlah jendela ada 2, dan terdapat ventilasi di depan. Jarak septic tank dengan sumber air sekitar 2,5 m. Sumber air minum dan air untuk masak yang digunakan berasal dari sumur mil ik sendiri yang letaknya ada di dalam jamban. Berikut denah rumah Tn. F :
Dapur Jamban
Kamar Kamarr
Ruang Tamu
b. Karakteristik Tetangga dan Komunitas RW
Sebagian masyarakatnya merupakan warga asli, dan merupakan kalangan meneng ah kebawah. Dimana banyak penduduk yang bekerja seharian sebagai buruh pabri k dan berdagang. tempat tinggalnya merupakan perumahan padat penduduk yang berhimpitan. Kebanyakan rumah tipe 18 yang ditempati oleh warga RW 04.
c. Mobilitas geografis keluarga
Kandang Ayam
l jauh dari jalan besar yang dilewati oleh kendaraan umum. Alat transportasi yang digunakan adalah motor atau terkadang berjalan kaki jika bepergian dengan jarak yang dekat. Jarak dengan tempat pelayanan kesehatan (Puskesmas dan Dokter sek itar rumah) kurang lebih 2 km dan jarak ke posyandu sekitar 100 m.
d. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga memiliki waktu untuk berkumpul dimana untuk mempertahankan hubun gan yang harmonis dengan anggota keluarga. Setiap malam keluarga Tn.F selalu menyempatkan waktu untuk makan malam bersama. Biasanya setiap siang Ny.A suka menyuapi Balita.J di luar rumah sambil bermain dengan teman sebaya Balita.
J. Ny. A sangat dekat dengan tetangga sebelah rumah.
e. Sistem Pendukung keluarga
Pendukung keluarga adalah kakak sepupu dan juga saudara-saudara yang selalu m emberi dukungan berupa semangat saat menjalankan aktivitas.
2. Struktur Keluarga
a. Pola Komunikasi Keluarga
Komunikasi yang digunakan adalah secara verbal dengan menggunakan bahasa S unda dan Bahasa Indonesia. Komunikasi menggunakan dua arah dan anggota kelu arga selalu menghormati orang yang sedang berbicara dalam artian jika ada orang yang sedang berbicara maka yang lain mendengarkan tidak boleh memotong pem bicaraan tersebut.
b. Struktur Kekuatan Keluarga
Dalam keluarga Tn. F yang mengambil keputusan adalah Tn. F selaku kepala rum ah tangga. Akan tetapi jika ada masalah selalu di bicarakan terlebih dahulu kepada istrinya karena kedua anaknya masih kecil.
c. Struktur Peran
Tn. F berperan sebagai kepala keluarga, Ny. A juga berperan sebagai Ibu rumah ta ngga. Biasanya Ny. A bekerja mengurus segala kebutuhan suami dan kedua anakn ya mulai dari memasak, mencuci dan mengasuh anak balitanya mulai dari pagi ha ri sampai sore hari.
Di dalam keluarga tidak ada nilai maupun norma yang bertentangan dengan keseh atan. Keluarga menganggap kesehatan itu sangatlah penting.
3. Fungsi Keluarga a. Fungsi Afektif
Tn.F merupakan keluarga yang menyenangkan meskipun hidup dalam keadaan ek onomi yang kurang dari cukup. Ny.A istrinya dan anaknya yang selalu menghor mati dan menyayangi mereka. Tn.A selalu mengajarkan kepada anaknya untuk me nghormati orang yang lebih tua dan saling menyayangi satu sama lain.
b. Fungsi Sosialisasi
Keluarga Tn.F mengatakan bahwa cara menanamkan hubungan interaksi sosial pa da anaknya dengan tetangga dan masyarakat yaitu dengan menganjurkan anaknya berpartisipasi dalam lingkungan sekitar misalnya jika di RW mereka selalu ada pe rlombaan Tn.F selalu menganjurkan anaknya untuk mengikuti lomba tersebut.
c. Fungsi Perawatan Kesehatan
1) Kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan
Keluarga mengetahui jika ada anggota keluarga yang menderita gizi kurang.
Tn.F dan Ny.A mengetahui bahwa anak ke 1 nya menderita gizi kurang setela h rutin menimbang BB nya di posyandu dekat rumahnya. Keluarga belum me ngetahui penyebab dan bagaimana upaya agar anaknya tersebut mau makan n asi atau makanan pokok lainnya tidak hanya makanan manis yang anaknya su kai saja.
2) Kemampuan keluarga untuk mengambil keputusan untuk mengatasi masalah kesehatan
Keluarga belum mampu mengambil keputusan untuk mengatasi masalah kese hatannya karena belum mengetahui banyak tentang masalah penyakit yang di alami balita.J
3) Kemampuan keluarga melakukan perawatan
karena keluarga saja kebingungan karena anaknya susah untuk disuruh maka n nasi dan makanan pokok lainnya. Yang keluarganya ketahui hanya banyak makan makanan saja tanpa tahu makanan yang seimbang untuk balita.
4) Kemampuan keluarga memodifikasi lingkungan
Keluarga belum mampu memodifikasi lingkungan, lingkungan di rumahnya k urang sehat. Di depan rumahnya terdapat kandang ayam dan jambannya pun t idak sehat
5) Kemampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan
Keluarga selalu memanfatkan fasilitas kesehatan untuk mengatasi masalah ke sehatan yang dialami oleh anaknya, tetapi terkadang keluarga mempunyai kes ulitan ekonomi jika berobat ke puskesmas karena keluarga tidak mempunyai asuransi, BPJS ataupun jamkesmas.
d. Fungsi reproduksi
Tn. F memiliki 1 orang anak. Istrinya Ny. A belum mengalami menopause.
e. Fungsi Ekonomi
Untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya keluarga Tn.F termasuk kurang dari cukup karena Tn.F seorang pemancing yang gaji per bulannya tidak tentu.
4. Stress dan Koping Keluarga
a. Stressor jangka pendek dan panjang
Untuk saat ini Ny.A sering merasa kebingungan jika anaknya tidak mau makan na si hal ini terkadang mengganggu aktivitasnya sehari-hari sebagai ibu rumah tangg a. Keluarga merasakan adanya masalah yang membutuhkan penyelesaian.
b. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
Ny.A mengatakan bahwa terkadang dirinya selalu memikirkan masalahnya sampa i berlarut-larut dalam arti dia adalah orang yang sulit mengambil keputusan dan te rlalu cemas terkait gizi kurang yang dialami anaknya.
c. Strategi koping yang digunakan
ari suaminya.
d. Strategi adaptasi disfungsional
Dalam beradaptasi dengan masalah yang ada keluarga menggunakan adaptasi yan g positif. Karena keluarga menyadari jika menggunakan kekerasan dalam menyele saikan masalah tidak akan dapat menyelesaikan masalah justru akan semakain ber larut-larut dan semakin rumit.
5. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan
Fisik
Nama Anggota Keluarga
Tn. F Ny. A Balita.J
TD 130/80
mmHg
110/70 mmHg -
N 86x/mnt 90x/mnt 86x/mnt
RR 18x/mnt 20x/mnt 22x/mnt
BB 62 kg 51 kg 8.2 kg
TB 150 cm 146 cm 60 cm
Rambut Bersih Bersih Bersih
Konjungtiva Tidak anemis Tidak anemis Tidak anemis Sklera Tidak ikterik Tidak ikterik Tidak ikterik
Hidung Bersih Bersih Bersih
Telinga Bersih Bersih Bersih
Mulut Mukosa bibir
lembab
Mukosa bibir lembab
Mukosa bibir kering
Leher Tidak ada
pembesaran kelenjar thyroid
Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid
Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid Dada Tidak ada suara
nafas tambahan detak jantung regular.
Tidak ada suara nafas tambahan, detak jantung regular.
Tidak ada suara nafas tambahan, detak jantung regular.
Abdomen Simetris, tidak ada nyeri tekan
Simetris, tidak ada nyeri tekan
Simetris, tidak ada nyeri tekan
varises, tidak ada edema
varises, tidak ada edema
varises, tidak ada edema
Kulit Sawo matang Sawo matang Sawo matang
Turgor kulit Baik Baik Baik
Keluhan - - -
6. Harapan Keluarga
Keluarga menginginkan petugas kesehatan/mahasiswa dapat memberikan penjelasan d an informasi tentang kesehatan khususnya tentang gizi kurang mulai dari upaya agar a nak mau makan sampai gizi yang seimbang untuk balita, sehingga tidak timbul masala h gizi kurang kembali. Dan keluarga berharap di hidup bahagia bersama anggota kelua rga dan semua anggota keluarga sehat.
B. Diagnosa Keperawatan Keluarga 1. Analisa data
No Data Fokus Etiologi Masalah
1 DS :
- Ny.A mengatakan anak pertama yang bernama Balita.J mengalami susah makan, hanya mau makan makanan yang manis, gorengan dan makanan ringan sehingga susah makan nasi.
- Ny. A mengatakan setiap bulan ke posyandu, saat ditimbang kader posyandu mengatakan BB anakanya kurang dari batas BB seusia 2 tahun
DO :
- Balita.J tampak tidak mau makan saat disuapi nasi
- BB Balita.J hanya 10 kg kurang
Keluarga belum efektif memberikan makanan seimbang untuk anaknya
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
TB: 89cm 2 DS :
- Keluarga Tn.F mengatakan mereka memberi makan makanan saja yang penting kenyang tanpa tahu
makanan yang seimbang untuk balita.
- Keluarga Tn. F mengatakan belum mengetahui penyebab dan bagaimana upaya agar anak tersebut mau makan nasi atau makan pokok lainnya.
DO :
- Keluarga Tn.F tampak selalu bertanya mengenai gizi seimbang.
Keluarga Tn.F krang mengetahui tentang gizi seimbang
Kurang pengetahuan
2. Penilaian (skoring)
No Kriteria Skor Bobot Nilai Pembenaran
1 Sifat masalah Skala:
Tidak / kurang sehat Ancaman kesehatan Keadaan sejahtera
3 2 1
1 3/3x1=1 Balita.J sudah berada pada garis kuning dan 2 bulan tidak naik BB, Balita J 12kg
2 Kemungkinan masalah dapat diubah Skala:
Mudah Sebagian Tidak dapat
2 1 0
2 1/2x2=1 Ny.A bertugas mengurus anak sepenuhnya. Dengan fokus pada mengurus anak diharapkan dapat merubah Balita.J
untuk dicegah anak yang sehat
Tinggi Cukup Rendah
3 2 1
baik. Dengan pola asuh yang baik, keadaan Balita.Jdapat membaik dan tidak terjadi gizi
kurang lagi 4 Menonjolnya
masalah skala:
Masalah berat, harus segera ditangani Ada masalah tetapi tidak perlu ditangani Masalah tidak Dirasakan
2 1 0
1 2/2x1=1 Tn.H mengatakan bahwa anaknya harus dirawat agar gizinya kembali baik
Jumlah 3 2/3
3. Perumusan prioritas diagnosa keperawatan
a. Ketidakseimbangan nutrisi Balita.J pada keluarga Tn.F kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah ditandai dengan Ny.A mengatakan anaknya susah makan, hanya mau makan makanan manis, gorengan sehingga susah makan nasi, BB Balita.J BB 10 kg, TB:89cm
b. Kurang pengetahuan keluarga tentang masalah gizi seimbang pada Balita.J berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal gizi seimbang ditandai dengan keluarga Tn.F mengatakan belum mengetahui penyebab dan bagaimana mengatasi masalah kurang gizi, keluarga Tn.F tampak selalu bertanya mengenai gizi seimbang.
C. Intervensi Keperawatan
NO DIAGNOSA
KEPERAWATAN
LUARAN (SLKI) INTERVENSI (SIKI)
1 Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
- Status nutrisi anak meningkat
- Berat badan bertambah
- Asupan makanan tercukupi sesuai
- Edukasi Gizi:
• Identifikasi makanan yang disukai anak
• Ajarkan orang tua tentang menu
- Selera makan meningkat
balita
• Diskusikan jadwal makan rutin dan porsi kecil namun sering - Pemantauan Nutrisi:
• Pantau BB dan TB anak
• Catat asupan makanan harian
2 Kurang
pengetahuan keluarga tentang gizi seimbang
- Pengetahuan keluarga meningkat - Keluarga mampu menyebutkan contoh makanan bergizi
- Keluarga
mengikuti anjuran gizi dan posyandu
- Edukasi Kesehatan:
• Jelaskan definisi dan dampak stunting • Ajarkan prinsip gizi seimbang • Gunakan media edukatif
(leaflet/gambar) - Kolaborasi:
• Kolaborasi dengan ahli gizi
• Anjurkan keluarga ikut kegiatan
posyandu/penyuluhan
D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Keperawatan
Diagnosa 1: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
No Hari / tanggal Implementasi Evaluasi (SOAP)
1 Rabu, 09 April
2025 - Edukasi gizi:
pengenalan
makanan sehat dan disukai anak
- Pantau berat badan dan nafsu makan anak
S: Ibu mengatakan anak sulit makan sejak 3 hari terakhir O: Anak tampak kurus, BB 10 kg, TB 89 cm
A:
Ketidakseimbangan nutrisi masih terjadi P: Edukasi gizi, pemantauan BB, dan pemberian contoh menu sehat
2 Kamis, 10 April
2025 - Diskusi porsi
makan kecil dan sering
- Pemantauan porsi makan harian
S: Ibu menyebut anak mulai mau makan bubur O: Anak
menghabiskan ½
A: Perbaikan nafsu makan mulai terlihat P: Lanjutkan edukasi dan catat asupan harian
3 Jumat, 11 April
2025
- Evaluasi berat badan dan respons keluarga
- Penguatan motivasi ibu
S: Ibu mengatakan berat badan anak naik sedikit
O: BB naik 0.3 kg dalam 3 hari A: Tanda-tanda perbaikan nutrisi P: Edukasi lanjutan dan monitoring berkala
Diagnosa 2: Kurang pengetahuan keluarga tentang gizi seimbang
No Hari / tanggal Implementasi Evaluasi (SOAP)
1 Rabu, 09 April
2025 - Edukasi dampak
stunting dan pentingnya gizi seimbang - Identifikasi pemahaman awal keluarga
S: Ibu belum tahu apa itu stunting O: Keluarga belum menerapkan pola makan seimbang A: Pengetahuan keluarga rendah P: Edukasi dengan media leaflet
2 Kamis, 10 April
2025 - Edukasi
menggunakan leaflet dan gambar - Diskusi makanan lokal bergizi
S: Ibu antusias bertanya soal jenis makanan bergizi O: Ibu mampu menyebutkan 4 makanan sehat A: Pengetahuan mulai meningkat P: Lanjutkan edukasi dan ajak ke posyandu
3 Jumat, 11 April
2025
- Evaluasi pemahaman keluarga dengan tanya jawab - Diskusi lanjutan pentingnya variasi makanan
S: Ibu mengatakan mulai membuat menu bervariasi O: Ibu dapat menjelaskan 5 jenis makanan pokok A: Pengetahuan keluarga meningkat P: Pertahankan
dukungan motivasional
BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Pengkajian
Pengkajian teori dalam asuhan keperawatan keluarga menekankan pentingnya pemahaman terhadap peran keluarga dalam memelihara kesehatan anggotanya, terutama dalam mencegah dan menangani masalah gizi seperti stunting. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak, baik dari aspek sosial, ekonomi, budaya, maupun lingkungan.
Salah satu konsep dasar dalam keperawatan keluarga adalah mengkaji kemampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan, merawat anggota yang sakit, serta memanfaatkan fasilitas kesehatan (Kholifah & Widagdo, 2016).
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama dan sangat berpengaruh pada masa 1000 hari pertama kehidupan anak (Kemenkes RI, 2018). Penyebabnya sangat kompleks, meliputi rendahnya asupan nutrisi, infeksi berulang, serta faktor sosial ekonomi dan lingkungan.
Menurut WHO, stunting juga berdampak pada perkembangan kognitif dan produktivitas anak di masa depan (WHO, 2021).
Dalam kasus keluarga Tn. F, pengkajian menunjukkan bahwa anak pertama, An. J, mengalami stunting yang ditandai dengan berat badan yang tidak sesuai standar usianya dan preferensi makan yang tidak seimbang, seperti hanya menyukai makanan manis dan ringan. Hal ini diperkuat oleh pengamatan di posyandu serta hasil pemeriksaan fisik yang menunjukkan berat badan dan tinggi badan anak berada di bawah standar WHO (Kemenkes RI, 2016). Secara sosial ekonomi, keluarga Tn. F memiliki pendapatan yang terbatas, yakni sekitar Rp 2.500.000 per bulan, yang sebagian besar dialokasikan untuk kebutuhan dasar. Keluarga tidak memiliki asuransi kesehatan, sehingga cenderung mengalami hambatan dalam mengakses layanan kesehatan saat dibutuhkan. Padahal, kemampuan ekonomi keluarga sangat berpengaruh terhadap pemenuhan gizi anak dan keterjangkauan pelayanan kesehatan (Maryunani, 2016).
Faktor lain yang diperoleh dari pengkajian adalah kurangnya pengetahuan orang tua mengenai pola makan seimbang untuk balita. Meskipun keluarga rutin mengunjungi posyandu, mereka tidak memahami bagaimana menerapkan pola makan sehat yang mencukupi kebutuhan gizi anak. Hal ini sejalan dengan hasil studi yang menyebutkan bahwa rendahnya tingkat edukasi dan pengetahuan gizi orang tua menjadi salah satu penyebab terjadinya stunting pada anak (Alba, Suntara, & Siska, 2021).
Lingkungan tempat tinggal keluarga juga kurang mendukung kesehatan, dengan adanya kandang ayam di depan rumah dan jarak septic tank yang terlalu dekat dengan sumber air. Kondisi ini berpotensi menimbulkan infeksi dan memperburuk penyerapan nutrisi anak, yang merupakan salah satu pemicu stunting menurut Kemenkes RI (2018).
Dari seluruh pengkajian tersebut dapat disimpulkan bahwa keluarga Tn. F memerlukan intervensi keperawatan yang komprehensif, mulai dari edukasi gizi, perbaikan pola asuh makan, hingga penguatan dalam pemanfaatan fasilitas kesehatan. Dengan pendekatan yang tepat, keluarga dapat diberdayakan untuk mengenal masalah, mengambil keputusan, dan melakukan tindakan perawatan yang mendukung pertumbuhan optimal anak.
4.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan proses identifikasi masalah kesehatan berdasarkan data yang diperoleh dari pengkajian menyeluruh terhadap klien dan keluarganya. Dalam konteks asuhan keperawatan keluarga Tn. F, diagnosa keperawatan dihasilkan dari analisis gabungan antara data subjektif, seperti keluhan dan pengakuan orang tua mengenai kesulitan anak dalam mengonsumsi makanan pokok, serta data objektif yang diperoleh dari pemeriksaan fisik, misalnya berat badan dan tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan standar usianya (Kemenkes RI, 2016; Maryunani, 2016).
Diagnosa keperawatan ini tidak hanya berfokus pada masalah kesehatan fisik yang dialami oleh anak, melainkan juga mencakup aspek kemampuan keluarga dalam mengenali dan menangani masalah kesehatan yang terjadi. Berdasarkan pendekatan keperawatan keluarga dan model NANDA, diagnosa yang diidentifikasi dalam kasus ini antara lain adalah "Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh" dan "Kurang pengetahuan keluarga tentang gizi seimbang." Diagnosa pertama ditetapkan karena data menunjukkan bahwa anak mengalami penurunan berat badan yang disebabkan oleh pola makan yang tidak seimbang dan kecenderungan hanya menyukai makanan manis serta gorengan.
Sedangkan diagnosa kedua muncul akibat kurangnya pemahaman orang tua mengenai pentingnya pemberian makanan yang bergizi untuk menunjang tumbuh kembang anak (Kholifah & Widagdo, 2016).
Proses penyusunan diagnosa keperawatan melibatkan penentuan masalah aktual yang dialami, serta evaluasi terhadap faktor penyebab dan konsekuensi yang dapat mempengaruhi kesehatan anak dan keluarganya. Dengan demikian, diagnosa keperawatan yang telah dirumuskan ini menjadi dasar bagi perencanaan intervensi keperawatan yang meliputi edukasi gizi, pemantauan asupan nutrisi, serta upaya peningkatan pengetahuan keluarga agar dapat mendukung upaya pencegahan dan penanganan stunting secara efektif (Alba, Suntara, & Siska, 2021).
4.3 Intervensi Keperawatan
Dalam merancang intervensi keperawatan untuk keluarga Tn. F dengan kasus stunting, perawat harus mengintegrasikan pendekatan edukatif, pemantauan, dan kolaborasi secara komprehensif. Intervensi keperawatan ini dirancang tidak hanya