ASRIYANSYAH / 2000003071 Linguistik Komparatif / 6A
1. Menentukan perbedaan dan menganalisis variasi dialektologi.
a. Jawa Ngapak : “Arep nang ndi dul?”
Jawa Yogya : “Arep neng ndi dul?”
Bahasa Indonesia : “Mau ke mana ndul?”
Berdasarkan segi fonologis terdapat perbedaan bunyi vokal pada kedua bahasa antara Jawa Ngapak dan Jawa Yogya. Perbedaan tersebut terlihat pada bunyi [a] untuk kata nang bahasa Jawa Ngapak dan bunyi [e] untuk kata neng bahasa Jawa Yogya, yang disebut dengan variasi bunyi vokal. Kata nang dan neng memiliki kesamaan makna, yaitu ke.
b. Jawa Ngapak : “Kie arep tuku kuota, men bisa melu kuliah online.”
Jawa Yogya : “Arep tuku kuota ki, ben iso melu kuliah online.”
Bahasa Indonesia : Mau beli kuota nih, biar bisa ikut kuliah online.”
Berdasarkan segi fonologis terdapat perbedaan bunyi konsonan pada kedua bahasa antara Jawa Ngapak dan Jawa Yogya. Perbedaan tersebut terlihat pada bunyi [m] untuk kata men bahasa Jawa Ngapak dan bunyi [b] untuk kata ben bahasa Jawa Yogya, yang disebut variasi bunyi konsonan. Kedua kata tersebut memiliki makna yang sama yaitu biar.
Selain itu, terdapat perbedaan bunyi vokal pada kedua bahasa yaitu bunyi [a]
pada akhir kata bisa bahasa Jawa Ngapak dan bunyi [o] pada akhir kata iso bahasa Jawa Yogya. Dalam hal ini, perbedaan itu disebut dengan variasi bunyi vokal.
Berdasarkan segi sintaksis terdapat perbedaan struktur kalimat pada penggunaan ragam cakapan. Kata kie dalam bahasa Jawa Ngapak digunakan pada awal kalimat, sedangkan bahasa Jawa Yogya dan bahasa Indonesia digunakan pada akhir kalimat.
c. Jawa Ngapak : “Kowe ulih ora nek misal metu bengi?”
Jawa Yogya : “Kowe oleh gak nek misal metu bengi?”
Bahasa Indonesia : “Kamu boleh nggak si kalau misal keluar malam?”
Berdasarkan segi fonologis terdapat perbedaan bunyi vokal pada kedua bahasa antara Jawa Ngapak dan Jawa Yogya. Perbedaan tersebut terlihat pada bunyi [u] untuk kata ulih bahasa Jawa Ngapak dan bunyi [o] untuk kata oleh bahasa Jawa Yogya, yang disebut dengan variasi bunyi vokal. Kedua kata tersebut memiliki makna yang sama yaitu boleh.
d. Jawa Ngapak : “Kowe ulih kang ndi ko bunga mawar kuwe?”
Jawa Yogya : “Kowe oleh soko ndi to bunga mawar kuwi?”
ASRIYANSYAH / 2000003071 Linguistik Komparatif / 6A
Bahasa Indonesia : “Kamu dapat dari mana bunga mawar itu?”
Berdasarkan segi fonologis terdapat bunyi vokal pada kedua bahasa antara Jawa Ngapak dan Jawa Yogya. Perbedaan tersebut terlihat pada bunyi [u] untuk kata ulih bahasa Jawa Ngapak dan bunyi [o] untuk kata oleh bahasa Jawa Yogya, yang disebut dengan variasi bunyi vokal. Keduanya memiliki makna yang sama yaitu dapat. Begitu juga dengan bunyi vokal [e] pada kata kuwe untuk Jawa Ngapak dan bunyi vokal [i]
untuk Jawa Yogya.
2. Kesimpulan kekerabatan bahasa.
Peta bahasa Provinsi Aceh menunjukkan adanya kekerabatan bahasa antara satu dengan lain seperti bahasa Aceh, Gayo, Batak, Melayu, Jawa, Devayan, Sigulai, Minangkabau, dan Nias. Bahasa-bahasa tersebut merupakan kelompok subrumpun Austronesia Barat. Dengan demikian, bahasa-bahasa itu memiliki historis peleburan yang berasal dari bahasa proto yang sama. Kontak bahasa, migrasi, transmigrasi, dan faktor geografis yang berdekatan dengan sumber bahasa dapat dikatakan menjadi penyebab kekerabatan bahasa yang terjadi di Provinsi Aceh.
Bahasa Aceh tersebar di berbagai wilayah seperti Sabang, Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Barat, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Aceh Selatan. Bahasa Gayo tersebar di berbagai wilayah seperti Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Aceh Tenggara. Bahasa Batak tersebar di wilayah seperti Aceh Selatan, Aceh Tenggara, dan Subulussalam. Bahasa Melayu tersebar di Aceh Tamiang. Bahasa Jawa tersebar di Nagan Raya dan Aceh Singkil.
Bahasa Devayan tersebar di Simeulue dan Aceh Singkil. Bahasa Sigulai tersebar di Simeulue. Bahasa Minangkabau tersebar di Aceh Singkil, Aceh Selatan, dan Aceh Barat.
Sedangkan, bahasa Nias berada di Aceh Singkil.
Bahasa yang berkerabat di Provinsi Aceh ini dapat dilihat melalui kesamaan bahasa yang ditinjau melalui aspek fonologis, morfologis, sintaksis, maupun semantik. Misalnya, hubungan kekerabatan bahasa Aceh dan Gayo memiliki kesamaan fonetis dan makna pada kosakata ate, asu, utun, dll. Kedua bahasa Aceh dan Gayo bisa saja memiliki kesamaan bentuk maupun makna, atau bisa saja basa yang satu berkorespondensi dengan bahasa yang lain. Contoh lain, bahasa Melayu dan bahasa Aceh memiliki kesamaan seperti pada kata abu dan abée, air dan ie, dll. Atau bahasa Aceh, Devayan, Sigulai, dan Jamee yang memiliki kesamaan kosakata seperti tula?, ma? dan uma?, baru dan baro, dll.
ASRIYANSYAH / 2000003071 Linguistik Komparatif / 6A
3. Menguraikan perbandingan bahasa yang sudah dilakukan.
a. Judul
Variasi Dialek Bandek dan Ngapak di Pasar Kutoarjo b. Tujuan Analisis
Mendeskripsikan bentuk-bentuk proses morfologis pada bahasa yang digunakan oleh penutur-penutur di pasar Kutoarjo
c. Subjek dan Objek
Penutur atau pedagang dan pembeli di pasar Kutoarjo sebagai subjek, sedangkan proses morfologis sebagai objek.
d. Hasil Kajian 1) Kate’e
Kata dasar kate berimbuhan [e] di akhir.
2) Mamakne
Kata dasar mamak berimbuhan [-ne] di akhir.
3) Keprewe
Kata dasar prewe berimbuhan [ke-] di awal.
4) Basoan
Kata dasar baso berimbuhan [-an] di akhir.
5) Nyanding
Kata dasar sanding berimbuhan [nya-] di awal.
6) Nggawakke
Kata dasar nggawak berimbuhan [-ke] di akhir.
7) Mbakso
Kata dasar bakso berimbuhan [m-/mem-] di awal.
8) Ngeteri
Kata dasar antar berimbuhan [ng-] [-i] di awal dan akhir.
9) Kecedekken
Kata dasar cedek berimbuhan di awal dan akhir yaitu [ke-] dan [-ken/en].
10) Ombyokan
Kata dasar ombyok berimbuhan di akhir [-an].
11) Jujuli
Kata dasar jujul berimbuhan [-i] di akhir.
12) Dikancingi
Kata dasar kancing berimbuhan di awal dan akhir berupa [di-] dan [-i].