LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN MALABSORBSI PADA ANAK
Untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Mata kuliah Keperawatan Anak Sehat Dan Nyeri Akut
Dosen Pengampu : Eva Daniati,S.Kep.,Ns.Mpd
Disusun Oleh :
Zidah Fatimah KHGC23132 Halin Aulia Anjani KHGC23137 Gagan Agnia Ginanjar KHGC23154
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN STIKES KARSA HUSADA GARUT TAHUN AJARAN 2023/2024
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, sungguh merupakan suatu kebahagian yang tak terhingga, sehingga puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang berkenan memberikan kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam marilah kita panjatkan pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW ssang pemimpin umat manusia dengan harapan semoga
kita mampu meraih syafa’atnya diakhir masa.
Ungkapan rasa terimakasih juga kami sampaikan kepada Dosen pengajar: Ibu Eva Daniati, S.
Kep. yang telah membimbing dan selalu memberikan semangat yang pada akhirnya bisa membantu dan sedikit demi sedikit memperluas wawasan pengetahuan kami sehingga dapat
terselesaikannya makalah ini meskipun jika ditinjau lebih jauh makalah ini masih belum sempurna untuk dikatakan sebagai makalah yang baik. Kami juga menyadari bahwa kami bukanlah manusia yang tercipta dalam kesempurnaan namun kami akan tetap berusaha untuk
menjadi lebih baik dengan terus belajar.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kami berharap kritik dan saran dari pembaca yang dapat membangun agar makalah
selanjutnya bisa lebih baik.
Garut,05 0ktober 2024
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI...ii
BAB 1... 1
PENDAHULUAN... 1
Latar Belakang... 1
Rumusan Masalah... 1
Tujuan... 2
BAB II...3
PEMBAHASAN...3
A.Konsep penyakit...3
Definisi... 3
Etiologi... 3
Klasifikasi...4
Anatomi Fisiologi...5
Manisfestasi Klinis... 5
Patofisiologi...7
Pemeriksaan Penunjang...9
Penatalaksanaan...9
Komplikasi... 11
B.Konsep Asuhan Keperawatan...11
A.Pengkajian... 11
B.Diagnosa Keperawatan...12
C. Intervensi keperawatan...12
D.Implementasi Keperawatan... 13
E. Evaluasi Keperawatan... 13
BAB III... 14
TINJAUAN KASUS... 14
A. Pengkajian... 14
B. Diagnosa Keperawatan...20
C. Intervensi... 21
D. ImplementasI...23 E. Evaluasi... 26
BAB 1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Malabsorbsi merupakan masalah kesehatan yang signifikan, terutama pada anak-anak. Di Indonesia, sindrom malabsorbsi masih menjadi salah satu penyakit yang sering dijumpai pada anak dan bayi. Angka kesakitan diperkirakan mencapai 150-430 per seribu penduduk per tahun,
dengan angka kematian yang tinggi, terutama pada anak usia 1-4 tahun. Beberapa faktor berkontribusi terhadap tingginya angka malabsorbsi pada anak di Indonesia Keadaan sanitasi dan
higiene yang buruk: Kondisi sanitasi dan higiene yang buruk dapat menyebabkan infeksi usus yang sering, yang dapat merusak dinding usus dan mengganggu penyerapan nutrisi.
Akses terbatas terhadap air bersih dan sanitasi: Kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi dapat menyebabkan penyebaran penyakit infeksi usus yang lebih mudah.
Keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan: Kurangnya akses terhadap layanan kesehatan dapat menyebabkan diagnosis dan pengobatan malabsorbsi terlambat, yang dapat menyebabkan
komplikasi serius.
Kurangnya pengetahuan tentang gizi: Kurangnya pengetahuan tentang gizi dapat menyebabkan asupan nutrisi yang tidak memadai, yang dapat meningkatkan risiko malabsorbsi.
Malabsorbsi pada anak dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, seperti:
Penurunan berat badan: Anak dengan malabsorbsi mungkin tidak dapat tumbuh dan berkembang secara normal karena kekurangan nutrisi. Kekurangan vitamin dan mineral: Malabsorbsi dapat
menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral penting, yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan.
Gangguan perkembangan: Malabsorbsi dapat mengganggu perkembangan kognitif dan fisik anak.Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran tentang malabsorbsi pada anak dan
memberikan akses terhadap layanan kesehatan yang memadai untuk mencegah dan mengobati kondisi ini.
Rumusan Masalah
1.Apa yang dimaksud Malabsorbsi?
2.Bagaimana Etiologi Malabsorbsi?
3.Bagaimana Klasifikasi Malabsorbsi?
4.Bagaimana Anatomi Fisiologi Malabsorbsi?
5. Bagaimana Manisfestasi Klinis Malabsorbsi?
6.Bagaimana Patofisiologi Malabsorbsi?
7.Bagaiamana Pemeriksaan Penunjang Malabsorbsi?
8.Bagaiamana penatalaksanaan Malabsorbsi?
9.Bagaimana komplikasi Malabsorbsi?
10.Bagaiamana Konsep Asuhan Keperawatan Pasien Malabsorbsi?
Tujuan
1.Untuk mengetahui apa itu Malabsorbsi 2.Untuk mengetahui Etiologi Malabsorbsi 3.Untuk mengetahui Klasifikasi Malabsorbsi
4.Untuk mengetahui Anatomi Fisiologi Malabsorbsi 5.Untuk mengetahui Manisfestasi Klinis Malabsorbsi 6.Untuk menghetahui Patofisiologi Malabsorbsi
7.Untuk mengetahui Pemeriksaan Penunjang Malabsorbsi 8.Untuk mengetahui Penatalaksanaan Malabsorbsi
9.Untuk mengetahui Komplikasi Malabsorbsi
10.Untuk mengetagui Asuhan Keperawatan Pasein Malabsorbsi
BAB II PEMBAHASAN A.Konsep penyakit
Definisi
Umumnya yang dimaksud dengan sindrom malabsorbsi ialah penyakit yang berhubungan dengan gangguan pencernaan (maldigesti) dan atau gangguan penyerapan (malabsorbsi) bahan makanan yang dimakan. Dengan demikian sindrom malabsorbsi dapat berupa gangguan absorbsi karbohidrat, lemak, protein, vitamin. Pada anak yang sering dijumpai adalah malabsorbsi karbohidrat, khususnya malabsorbsi laktosa (intoleransi laktosa) dan malabsorbsi lemak, walaupun demikian berbagai sindrom malabsorbsi dapat terjadi pada berbagai golongan umur (Staf Pengajar Kesehatan Anak UI, 2007).
Malabsorpsi mengacu pada perubahan saluran pencernaan (GIT) yang mempengaruhi pencernaan, penyerapan dan transportasi nutrisi di dinding usus. Malabsorpsi didefinisikan sebagai kemampuan penyerapan usus dimana gagal memenuhi dari 85% kebutuhan. Hal ini dianggap sebagai indikator klinis yang penting dari kegagalan usus. Serta mengacu pada ketidakmampuan GIT untuk mencerna dan menyerap nutrisi yang cukup untuk menjaga integritas mukosa GIT, keseimbangan cairan, status gizi dan kesehatan secara keseluruhan (R, Blaauw. 2011).
Malabsorpsi adalah kegagalan usus halus untuk menyerap makanan tertentu,Ketidakmampuan menyerap tersebut dapat hanya mengenai suatu jenis asam amino,lemak, gula, atau vitamin, atau dapat mengenai suatu asam amino, lemak, gula, atau semua vitamin yang larut lemak.
Sindroma Malabsorbsi adalah kelainan-kelainan yang terjadi akibat penyerapan zat gizi yang tidak adekuat dari usus kecil ke dalam aliran darah. Sindroma Malabsorbsi adalah kumpulan gejala dan tanda-tanda yang diakibatkan oleh absorbsi lemak non adekuat didalam usus halus. (Barbara C. Long, 1985 dalam STIKM, 2011).
Etiologi
Penyebab, tes diagnostik dan pengobatan malabsorpsi dapat digambarkan dalam hal penyimpangan premucosal, mukosa dan postmucosal. Penyebab malabsorpsi premucosal termasuk penyakit dan kondisi yang mengakibatkan gangguan pencernaan. Pengaturan klinis tersebut meliputi pankreatitis kronis, fibrosis kistik dan kanker pankreas, yang semuanya terkait dengan memadai sekresi enzim pankreas serta penyakit hati kolestasis dan
pertumbuhan bakteri yang dapat menyebabkan kurangnya solubilising garam empedu.
Penyebab malabsorpsi mukosa termasuk kondisi yang mempengaruhi mukosa usus itu sendiri, dan hasilnya pada daerah penyerapan berkurang. Contoh penyakit celiac, penyakit radang usus dan penyakit Whipple. Terakhir, penyebab postmucosal malabsorpsi terdiri dari kondisi yang mengakibatkan transportasi nutrisi berubah, yaitu pembuluh darah atau
obstruksi limfatik. Dimana pada lapisan usus yang normal terdiri dari lipatan-lipatan, tonjolan-tonjolan kecil (vili), dan tonjolan yang lebih kecil (mikrovili). Tonjolan-tonjolan tersebut menyebabkan daerah permukaan untuk penyerapan menjadi lebih luas. Berbagai
keadaan yang mempengaruhi daerah tersebut dapat mempengaruhi penyerapan, seperti pengangkatan sebagian dari usus, yang akan menyebabkan berkurangnya daerah permukaan dan menyebabkan terhalangnya aliran zat- zat ke dalam darah. Sehingga hal tersebut lah yang menyebabkan penyumbatan pembuluh getah bening oleh limfoma atau berkurangnya aliran darah ke usus (R. Blaauw,2011).
Dalam keadaan normal, makanan dicerna dan zat-zat gizinya diserap ke dalam aliran darah, terutama dari usus kecil. Malabsorbsi dapat tejadi baik karena kelainan yang berhubungan langsung dengan pencernaan makanan maupun karena kelainan yang secara langsung mempengaruhi poses penyerapan makanan.
Asam lambung yang berlebihan atau adanya pertumbuhan bakteri abnormal di dalam usus halus, juga mempengaruhi proses pencernaan. Penyakit-penyakit yang menyebabkan cedera pada lapisan mempengaruhi proses penyerapan makanan: usus yang juga bisa mempengaruhi proses penyerapan makanan :
a.Infeksi.
b.Obat-obatan (Misalnya neomycin dan alcohol) c.Penyakit seliak
d.Prnyakit Crohn Klasifikasi
1. Malabsorbsi karbohidrat
Malabsorbsi karbohidrat yang utama adalah intoleransi laktosa. Karbohidrat dapat dibagi dalam monosakarida (glukosa, galaktosa dan fruktosa), disakarida (laktosa atau gula susu, sukrosa atau gula pasir dan maltosa) serta polisakarida (glikogen, amilum dan tepung).
Laktosa merupakan karbohidrat utama dari susu (susu sapi mengandung 50mg laktosa perliter). Maka pada bayi dan balita diare akibat intoleransi laktosa mendapat perhatian khusus karena menjadi penyebab yang cukup sering. (Nelson, 2007).
Intoleransi laktosa dibedakan menjadi 2, yaitu intoleransi primer yang merupakan kelainan kongenital dan intoleransi sekunder yaitu terjadinya defisiensi enzim laktase akibat
kerusakan mukosa usus, mengingat disakarida ditahan di lapisan luar mukosa usus. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya defisiensi laktase adalah penggunaan obat-obatan neomycin dan kanamycin, celliac disease, malnutrisi, giardiasis, defisiensi imunoglobulin, dan sebagainya (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak UI, 2007).
2. Malabsorbsi lemak
Gangguan malabsorbsi lemak umumnya LCT (long chain triglicerides) dapat terjadi dalam keadaan lipase tidak atau kurang mukosa usus halus (villi) atrofi atau rusak, gangguan system limfe usus. Keadaan ini menyebabkan diare dengan tinja berlemak (steatore) dan malabsorbsi lemak. Dalam keadaan sehat absorbs lemak LCT dari usus halus bergantung pada beberapa faktor. Hidrolisis dari LCT menjadi asam lemak dan glisride terjadi di usus halus bagian atas
dengan mempengaruhi lifase pancreas dan conjugated bile salts yang ikut membentuk micelles yaitu bentuk lemak yang siap untuk diabsorbsi. Sesudah masuk ke dalam usus halus terjadi reesterifikasi dari asam lemak hingga kemudian terbentuk kilomikron yang
selanjutnya diangkut melalui pembuluh limfe (STIKM, 2011).
Malabsorbsi lemak dapat terjadi pada kelainan sebagai berikut :
Penyebab pancreas: Fibrosis kistik, insufisiensi lipase pancreas.
Penyakut hati: Hepatitis neonatal, atresia biliaris, sirosis hepatis.
Penyakit usus halus: Penyakit seliak dan malabsorbsi usus (karena kelainan mukosa usus atau atrofi) reseksi usus halus yang ekstensif (pada atresis volvunus, infark mesentrium), enteritis regional abeta lipo proteinemia (karena gangguan
pembentukan kilomikron) yang tidak diketahui sebabnya.
Kelainan limfe: limfangiektaksis usus, gangguan limfe karena trauma, tuberculosis, kelainan kongenital.
Neonatus kurang bulan.
Anak diduga menderita malabsorbsi lemak bila tinja berlemak sehingga lembek, tidak berbentuk, bewarna coklat muda sampai kuning dan terlihat berminyak.
Bertambahnya lemak didalam tinja atau disebut steatore dikatakan suatu hal yang pasti terjadi pada malabsorbsi lemak. Fese perlu diperiksa dilaboratorium.
Pengobatan ditujukan pada penyebab terjadinya malabsorbsi lemak. Untuk malabsorbsi lemaknya sendiri diberikan susu MCT (medium chain triglyceride).
Anatomi Fisiologi
Malabsorbsi adalah gangguan penyerapan nutrisi di usus. Proses normal penyerapan terjadi di usus halus, yang terdiri dari duodenum, jejunum, dan ileum. Nutrisi dicerna oleh enzim pankreas dan empedu, kemudian diserap oleh sel-sel usus.
Pada malabsorpsi, ada gangguan di salah satu tahap pencernaan:
1. Pencernaan Luminal: Enzim pankreas atau empedu tidak cukup, seperti pada pankreatitis.
2. Kerusakan Mukosa Usus: Misalnya pada penyakit celiac, yang merusak vili usus.
3. Gangguan Transportasi: Nutrisi tidak bisa diserap, seperti pada sindrom usus pendek.
Gejala umum meliputi diare, tinja berminyak, penurunan berat badan, dan kekurangan nutrisi.
Manisfestasi Klinis
Pada malabsorbsi karbohidrat maupun lemak manifestasi yang timbul pada penderita menunjukkan gejala klinis yang sama, yaitu diare yang sangat sering, cair, asam (ph dibawah 4,5), meteorismus, flatulens dan kolik abdomen. Akibat gejala tersebut, pertumbuhan anak akan terlambat bahkan tidak jarang terjadi malnutrisi dengan rasio tinggi dan berat badan kurang dari persentil ke-5 (Nelson, 2007).
1. Diare
Diare merupakan keluhan gejala yang paling umum.Diare sering berair, mencerminkan beban osmotik diterima oleh usus.
Aksi bakteri memproduksi asam lemak hidroksi dari lemak tercerna juga dapat meningkatkan sekresi cairan bersih dari usus, lanjut memburuknya diare.
2. Steatorrhea
Steatorrhea adalah hasil dari malabsorpsi lemak.Ciri dari steatorrhea adalah bagian dari tinja pucat, besar, dan berbau busuk.
Bangku seperti itu sering mengapung di atas air toilet dan sulit untuk disiram. Juga, pasien menemukan tetesan minyak yang mengambang di toilet berikut buang air besar.
3. Berat badan menurun dan kelelahan
Pasien mungkin mengkompensasi dengan meningkatkan konsumsi kalori mereka, terjadi penurunan berat badan dari malabsorpsi.
Keadaan akan semakin berat apabila terdapat penyakit menyebar yang melibatkan usus, seperti penyakit celiac dan penyakit Whipple.
4. Perut kembung dan distensi abdomen
Fermentasi bakteri zat makanan tidak diserap melepaskan produk gas, seperti hidrogen dan metana, menyebabkan perut kembung.
Perut kembung sering menyebabkan distensi perut tidak nyaman dan kram.
5. Busung
Hipoalbuminemia dari malabsorpsi protein kronis atau dari hilangnya protein ke dalam lumen usus menyebabkan edema perifer.
Luas dari sistem limfatik, seperti yang terlihat di lymphangiectasia usus, dapat menyebabkan hilangnya protein. Dengan penipisan protein yang parah, ascites dapat berkembang.
6. Anemia
Tergantung pada penyebabnya, anemia akibat malabsorpsi dapat berupa mikrositik (kekurangan zat besi) atau makrositik (vitamin B-12) Anemia kekurangan zat besi.
sering merupakan manifestasi dari penyakit celiac. Keterlibatan ileum pada penyakit Crohn atau reseksi ileum dapat menyebabkan anemia megaloblastik karena B-12 kekurangan vitamin.
7. Gangguan perdarahan
Pendarahan biasanya merupakan konsekuensi dari vitamin K malabsorpsi dan hypoprothrombinemia berikutnya.
Ecchymosis biasanya adalah gejala manifestasi, meskipun, kadang-kadang, melena dan hematuria terjadi.
8. Cacat metabolisme tulang.
Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan gangguan tulang, seperti osteopenia atau osteomalacia.
Nyeri tulang dan fraktur patologis dapat diamati.
Malabsorpsi kalsium dapat menyebabkan hiperparatiroidisme sekunder.
9. Manifestasi neurologis.
Gangguan elektrolit, seperti hipokalsemia dan hipomagnesemia, dapat menyebabkan tetani, bermanifestasi sebagai tanda Trousseau dan tanda Chvostek.
Vitamin malabsorpsi dapat menyebabkan motor kelemahan umum (asam pantotenat, vitamin D) atau perifer neuropati (tiamin), rasa kehilangan getaran dan posisi (cobalamin), rabun senja (vitamin A), dan kejang (biotin).
Patofisiologi
Malabsorbsi diakibatkan oleh tiga hal yaitu:
1.Gangguan fungsi percemaan (phase Intra Lumen)
Pada keadaan ini nutrient tidak dapat dipecahkan menjadi bentuk yang dapat diserap oleh villi-villi usus halus. Karbohidrat diserap dalam bentuk monosacharida glukosa.
Protein diserap dalam bentuk asam amino. Lemak diserap dalam bentuk asam lemak dan gliserol. Gangguan ini terjadi bila:
a. Enzym lipase pancreas kurang.
b. Cairan lambung khususnya gasterin kurang.
c. Konjugasi garam empedu kurang.
Keadaan-keadaan ini dapat terjadi pada:
a. Sub total gastrectomy b. Pankreatitis
c. Ca. Pankreas d. Penyakit Lever
e. Obstruksi saluran empedu 2. Gangguan mukosa usus halus (phase mukosal)
Pada keadaan ini nutrient telah dibentuk menjadi bentuk-bentuk yang dapat diserap oleh villi-villi usus halus, namun bentuk-bentuk tidak dapat diserang oleh gangguan pada mukosa usus halus / villi-villi. Normalnya mukosa usus halus menghasilkan enzyme diantaranya enterokinase. Enzyme ini mengaktifkan tripsinogen menjadi tripsin, selanjutkan tripsin mengubah protein menjadi polypeptide. Mukosa usus menghasilkan enzyme disacharidase yaitu lactosa, maltosa dan sukrosa. Maltase mencegah maltose menjadi dua glukosa. Sukrose atau invertase memecah skrosa menjadi fruktosa dan glukosa. Keadaan ini dapat terjadi pula pada :
a) Defisiensi Lactase
b) Celiac Disease, Tropical Sprue c) Enteritis Alergic
d) Small Bowel Ischemic
e) Radiation Enteritis, Croh's Disease
3.Gangguan pengangkutan Nutrien ke dalam pembuluh limpa dan pembuluh darah (Phase Transit). Gangguan ini terjadi bila terdapat obstruksi limphatik seperti pada lymphoma dan gangguan supply darah seperti pada thrombus mesenteric superior.
1. Berdasarkan klasifikasinya perjalanan malabsorbsi sebagai berikut:
1. Malabsorbsi Laktosa (karbohidrat)
Malabsorbsi laktosa adalah segala sesuatu yang merujuk pada hidrolisis laktosa yang tidak lengkap, yang diukur dengan uji yang objektif. Dikenal tiga macam bentuk karbohidrat, yaitu monosakarida (glukosa, fruktosa, dan galaktosa), disakarida (laktosa, sukrosa, dan maltosa) dan polisakarida (pati, glikogen, selulosa). Melalui berbagai
reaksi kimia dan enzimatik di saluran pencernaan, karbohidrat yang kompleks dihidrolisis menjadi struktur yang mudah diabsorpsi.
Disakarida, dalam hal ini laktosa, oleh enzim laktase dihidrolisis menjadi glukosa dan galaktosa yang selanjutnya akan diabsorpsi secara cepat ke dalam pembuluh darah porta. Enzim laktase adalah enzim yang terdapat dalam usus halus, tepatnya di brush border dari vili usus. Aktivitas enzim ini maksimal terjadi di proksimal hingga pertengahan yeyunum. Pada bayi yang sehat, laktosa dihidrolisis dan diabsorpsi seluruhnya di usus halus sehingga tidak ada laktosa yang mencapai usus besar. Bila seorang anak mengkonsumsi laktosa yang berlebihan atau enzim laktase tidak dijumpai / berkurang, maka laktosa dapat untuk selanjutnya diabsorpsi. Jika fungsi ini terganggu maka dapat timbul kelainan yang disebut dengan malabsorpsi laktosa. tidak seluruhnya. dihidrolisis dan diabsorpsi. Hal ini menyebabkan
osmolaritas di dalam lumen usus meningkat yang berakibat air tertarik ke dalam lumen dan merangsang meningkatnya peristaltik. Melalui mekanisme di atas, laktosa yang tidak dihidrolisis dan diabsorpsi akan mencapai usus besar. Laktosa akan difermentasi oleh bakteri di usus besar dan hasilnya berupa asam lemak rantai pendek, pH yang rendah, dan gas yang mana salah satunya adalah hidrogen. Lebih kurang 1421
% gas hidrogen tersebut akan dieksresi melalui udara nafas, sedangkan sisanya dieksresi melalui rectum (Tehuteru, Edi Setiawan, 1999).
2. Malabsorbsi Lemak
Di alam, bentuk trigliserida asam lemak umumnya mengandung atom C lebih dari 14, seperti asam palmitat, asam stearat, asam oleat dan asam linoleat. Bentuk ini disebut LCT (Long Chain Triglycerides).
Disebut MCT (Medium Chain Tryglycerides) adalah trigliserida dengan atom C6 12 buah (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak UI, 2007). Dalam keadaan sehat, absorbsi LCT dari usus halus bergantung kepada beberapa faktor. Hidrolisis dari LCT menjadi asam lemak dan gliserida terjadi di usus halus bagian atas dengan pengaruh lipase pankreas dan conjugated bile salts yang ikut membentuk micelles yaitu bentuk lemak yang siap untuk diabsorbsi. Sesudah masuk ke dalam usus kecil terjadi reesterifikasi dari asam lemak sehingga kemudian terbentuk kilomikron yang selanjutnya diangkut melalui pembuluh limfe.
Absorbsi MCT berbeda sekali dengan LCT, demikian pula metabolismenya. MCT dapat diabsorbsi dengan baik dan cepat walaupun tidak terdapat lipase pankreas dan conjugated bile salts, apalagi karena tidak melalui pembentukan micelles dan kilomikron.
MCT akhirnya akan diangkut langsung melalui vena porta dan selanjutnya dalam hati akan dimetabolisme.
Pemeriksaan Penunjang
1. Pengukuran pH tinja (pH<6, normal pH tinja 7)
2.Penentuan kadar gula dalam tinja dengan tablet "Clinitest". Normal tidak terdapat gula dalam tinja. (+0,5%, ++0,75%, +++ 1%, ++++=2%).
3. Lactose loading (tolerance) test
Setelah penderita dipuasakan selama semalam diberi minum laktosa 2 g/kgbb. Dilakukan pengukuran kadar gula darah sebelum diberikan laktosa dan setiap 1/2jam kemudian hingga 2 jam lamanya. Pemeriksaan ini dianggap positif (intoleransi laktosa) bila didapatkan grafik yang mendatar selama 2 jam atau kenaikan kadar gula darah kurang dari 25 mg% (Hay, 2009).
4.Barium meal lactose
Setelah penderita dipuasakan semalam, kemudian diberi minum larutan barium laktosa.
Kemudian dilihat kecepatan pasase larutan tersebut. Hasil dianggap positif bila larutan barium laktosa terlalu cepat dikeluarkan (1 jam) dan berarti pula hanya sedikit yang diabsorbsi.
5. Biopsi mukosa usus halus
ntuk diagnosis klinis biopsi usus penting sekali, karena banyak hal dapat diketahui dari pemeriksaan ini, misalnya gambaran vilus di bawah dissecting microscope. Gambaran histologis mukosa (mikroskop biasa dan elektron), aktifitas enzimatik (kualitatifdan kuantitatif). Biopsi usus ternyata tidak berbahaya dan sangat bermanfaat dalam menyelidiki berbagai keadaan klinis yang disertai malabsorbsi usus. (Hay, 2009).
6. Steatorea atau bertambahnya lemak dalam tinja merupakan suatu conditio sine qua non untuk diagnosis malabsorbsi lemak.
7. Prosedur yang paling sederhana ialah pemeriksaan tinja makroskopis dan mikroskopis.
Tanda-tanda makroskopis tinja yang karakteristik tinja berlemak ialah lembek, tidak berbentuk (nonformed stool), berwarna coklat muda sampai kuning, kelihatan. berminyak.
8. erhitungan kuantitatif metode Van de Kamer atau tinja yang dikumpulkan 3 hari berturut- turut merupakan pemeriksaan yang paling baik. Bila ekskresi dalam feses lebih dari 15gram selama 3 hari (5 g/hari) maka hal ini menunjukkan adanya malabsorbsi. (Hay, 2009).
Penatalaksanaan
Cairan dan pemantauan gizi dan penggantian adalah penting untuk setiap individu dengan sindrom malabsorpsi. Rawat inap mungkin diperlukan ketika cairan dan elektrolit
ketidakseimbangan parah terjadi. Konsultasi dengan ahli gizi untuk membantu dengan dukungan nutrisi dan makanan perencanaan membantu. Jika pasien mampu makan, diet dan suplemen harus menyediakan massal dan menjadi kaya karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan vitamin. Pasien harus didorong untuk makan beberapa kecil, sering makan sepanjang
hari, menghindari cairan dan makanan yang mempromosikan diare. Intake dan output harus dipantau, bersama dengan jumlah, warna, dan konsistensi tinja.
Individu dengan sindrom malabsorpsi harus dipantau untuk dehidrasi, termasuk lidah kering, mulut dan kulit; meningkat haus; rendah, output urine terkonsentrasi; atau merasa lemah atau pusing ketika berdiri. Nadi dan tekanan darah harus dipantau, mengamati untuk tingkat peningkatan atau tidak teratur pulsa, atau hipotensi (tekanan darah rendah). Individu juga harus waspada untuk tanda-tanda gizi, vitamin, dan mineral deplesi, termasuk mual atau muntah; celah di sudut mulut; kelelahan atau kelemahan; kering, rambut pluckable; mudah memar; kesemutan di jari tangan atau kaki; dan mati rasa atau pembakaran sensasi di kaki atau kaki. Kelebihan cairan volume, sebagai akibat dari toko protein berkurang, mungkin memerlukan pembatasan asupan cairan.
Pengobatan untuk sariawan tropis terdiri dari suplemen asam folat dan antibiotik jangka panjang. Tergantung pada tingkat keparahan gangguan, pengobatan ini dapat dilanjutkan selama enam bulan atau lebih. Penyakit Whipple juga mungkin memerlukan penggunaan jangka panjang antibiotik, seperti tetrasiklin. Manajemen dari beberapa individu dengan sindrom malabsorpsi mungkin memerlukan suntikan vitamin B12 dan suplemen zat besi oral
1. Malabsorbsi karbohidrat
Diberikan susu rendah laktosa (LLM, Almiron, eiwit melk) atau Free lactose milk formula (sobee, Al 110) selama 2-3 bulan kemudian diganti kembali ke susu formula yang biasa (kadar laktosa Almiron 1,0%, eiwit melk 1,4%, LLM 0,8%, Sobee 0% dan Al 110 (0%). Pada intoleransi laktosa sementara, sebaiknya diberikan susu rendah laktosa selama 1 bulan sedangkan pada penderita dengan intoleransi laktose primer (jarang di Indonesia) diberikan susu bebas laktosa (Hay, 2009).
Respon klinis terhadap pemberian diet bebas laktosa merupakan suatu alternatif untuk pemeriksaan tinja atau uji diagnostik spesifik.
Pembatasan laktosa seharusnya menghasilkan penyembuhan cepat diarenya dalam 2-3 hari, jika ada defisiensi laktase. Harus bisa membedakan intoleransi laktosa dengan keadaan sensitif terhadap protein, gastroenteritis akut tidak memicu sensitivitas susu. Cukup beralasan bila susu sapi diganti dengan susu formula susu kedelai jika dicurigai intoleransi laktosa karena formula susu kedelai mengandung tepung rantai pendek atau sukrosa sebagai sumber gulanya. Orang tua harus dibimbing agar tidak memberikan tambahan cairan bening atau larutan elektrolit encer berlebihan untuk menghindari hiponatremia atau pengurasan kalori pasca infeksi, yang bisa menyebabkan diarenya berkepanjangan. Diare yang menetap walaupun laktosa dalam diet sudah dikurangi memberi kesan diagnosis bukan defisiensi
laktosa (Nelson, 2007).
2. Malabsorbsi Lemak
Pengobatan lebih banyak ditujukan pada latar belakang penyebab terjadinya malabsorbsi lemak ini. Kemudian untuk malabsorbsi lemaknya sendiri diberikan susu MCT (Hay, 2009).
Preparat MCT di luar negeri banyak dibuat dari minyak kelapa.
a. Dalam bentuk bubuk: Portagen, atau Tryglyde (Mead Johnson).
Trifood MCT milk,
b. Dalam bentuk minyak: Mead Johnson MCT oil, Trifood MCT oil.
c. Mentega MCT: margarine union.
Komplikasi
Komplikasi jangka panjang meliputi komplikasi nutrisi parentral:
1. Infeksi kateter sentral 2. Trombosis
3. Hepatotoksisitas 4. Batu empedu
5. Defisiensi vitamin B12.
Komplikasi malabsorpsi menurut Brunner and Sudarth (2000) B.Konsep Asuhan Keperawatan
A.Pengkajian 1. Identitas klien
2.Identitas orang tua : meliputi nama,umur,pekerjaan,pendidikan,alamat,dan hubungan dengan psien
3.Asal keturunan atau keawarganegaraan
malabsorbsi dapat diturunkan secara genetik, beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa kondisi yang dapat menyebabkan malabsorbsi memang memiliki komponen genetik. Misalnya, penyakit celiac lebih sering terjadi pada orang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ini.
4.Riwayat Kesehatan 1.Keluhan utama
Biasanya pada penderita malabsorbsi sering mengeluh perutnya kembung,sakit perut,mual dan muntah,steatorrhea.
2.Riwayat kesehatan anak a.Riwayat kesehatan dahulu
Meliputi riwayat yang pernah diderita, pengalaman riwayat di rumah sakit, penyakit lain yang pernah diderita.
b.Riwayat kesehatan sekarang
Meliputi alasan masuk RS, keluhan utama yang dirasakan saat ini yang mliputi sakit tenggorokan dan nyeri sekitar mata dan pada kedua sisi hidung, kesulitan menelan, batuk, suara serak, demam, hidung tersumbat, rasa tidak nyaman umum, dan keletihan.
c.Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi adanya riwayat keluarga yang pernah mengalami hal seperti ini, riwayat penyakit keturunan dan penyakit menular pada keluarga
5.Pemeriksaan Fisik
a).Rambut dan hygiene kepala
Rambut hitam, bau tidak ada, rambut tumbuh subur dan kulit kepala bersih.
b).Mata
Meliputi keadaan konjunktiva anemis, mata cekung, dll c).Hidung
Meliputi pemeriksaan septum hidung, sekret atau benda asing lainnya.
d).Mulut
Meliputi pemerikasaan rongga mulut yang menandakan apakah bau mulut atau ada caries, kebersihan lidah dan tidak adanya peradangan
e).Leher
Meliputi kelenjar getah bening dan submandibular disekitar leher terjadi peradangan atau tidak
f).Thorax
Meliputi bentuk thorax, jenis pernafasan, frekuensi nafas yang cepat, dan dangkal dan suara nafas
g).Abdomen
klien dengan biasanya ang diperiksa tidak terjadi pembesaran pada abdomen / auskultasi peristaltik usus 20 kali / 1 pada palpasi tidak terasa masa dan perut terasa tegang. Pada perkusi berbunyi timpani.
h).Kulit
Meliputi kebersihan kulit, dan turgor kulit yang jelek i).Genetalia
Meliputi kelengkapan genetalia 6.Pola Aktivitas sehari-hari a).Pola eleminasi
Pemeriksaan frekuensi BAB dan BAK b).Pola Istirahat
Kebutuhan istirahat klien terganggu karena sering kali nyeri sakit di tenggorokan c).Pola Nutrisi
Kebutuhan nutrisi terganggu karena tidak nafsu makan diakibatkan sulit menelan dan sakit tenggorokan
d).Personal hygiene
Kebersihan mulut terganggu diakibatkan sakit di tenggorokan.
B.Diagnosa Keperawatan
1. Hipovolemia b/d kehilangan cairan tubuh aktif d/d turgor kulit menurun, membran mukosa kering, merasa lemah dan mengeluh haus.
2. Defisit Nutrisi b/d ketidakmampuan mangabsorbsi nutrien d/d bb menurun, nyeri abdomen, nafsu makan menurun, membran mukosa pucat, diare.
C. Intervensi keperawatan
tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu pasien mencapai tujuan kesehatan mereka. Ini melibatkan serangkaian tindakan yang dirancang
untuk mengatasi masalah kesehatan pasien, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kesejahteraan mereka.
D.Implementasi Keperawatan
tahap dalam proses keperawatan dimana perawat melaksanakan rencana tindakan keperawatan yang telah disusun sebelumnya. Ini merupakan tindakan nyata yang dilakukan untuk membantu pasien mencapai tujuan kesehatan yang telah ditetapkan.
E. Evaluasi Keperawatan
proses sistematis yang dilakukan oleh perawat untuk menilai efektivitas dari rencana tindakan keperawatan yang telah diterapkan pada pasien. Ini merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan dan bertujuan untuk memastikan bahwa tujuan yang ditetapkan telah tercapai dan bahwa pasien telah mendapatkan hasil yang optimal.
BAB III TINJAUAN KASUS
KASUS MALABSORPSI
Rara anak umur 7 th, mengalami diare selama 3 bln terakhir, diare kekuningan berbau busuk, dan berminyak, rara juga mengalami penuruna berat badan yang cukup drastis dan , staus gizi rara terbilang kurang, Rara sering
mengeluh lelah, Nafsu makan Rara tidak ada,tinggi bdannya 110 cm dibawah rata rata untuk usianya, berat badan 18kg, pada saat diperiksa bagian perut, perut rara teraba kembung dan rara mengatakan nyeri saat ditekan, kulitnya terlihat kering dan pucat, bising usus meningkat (25x/menit). Pada saat diperiksa TTV: TD: 100/70 Suhu Tubuh: 36oC, RR: 18X/menit, Nadi 102x/menit, bb sebelum sakit 25kg
A. Pengkajian
1) identitas pasien
Nama : An. R
Umur : 7 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Siswa
Agama : Islam
Suku bangsa : Sunda
No. RM : 151277
Tanggal masuk : 24-09-2024
Tanggal pengkajian : 24-09-2024 Alamat : KP. Dukuh RT 2 RW 12 2) identitas penanggung jawab
Nama : Ny. A
Umur : 32 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Hubungan dengan pasien : Ayah
Alamat : Kp. Dukuh RT 2 RW 12
3) Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama: ibu klien mengatakan anaknya diare selama 3 bulan terakhir
b. riwayat kesehatan sekarang
ibu klien mengatakan bahwa anaknya mengalami diare selama 3 bulan terakhir, fesesnya kekuningan, berbau busuk, cair, dan berminyak. selama 3 bulan terakhir ini ibu klien mengatakan bahwa berat badan an. R turun dengan cukup drastis (7kg), juga anak R selalu mengeluh lelah kepada ibunya, pada saat diraba bagian perut Rara mengatakan nyeri dan terasa kembung dan ibu klien mengatakan bahwa an. R tidak nafsu makan. Dan juga bising usus meningkat (25x/menit)
c. riwayat kesehatan dahulu
Ibu Rara mengatakan bahwa Rara pernah dibawa ke RS karena diare d. riwayat kesehatan keluarga
di keluarga tidak ada yang mengalami apa yang diarasakan oleh klien e. Riwayat tumbuh kembang
Ibu klien mengatakan tidak ada masalah tumbuh kembang. An. R mulai dapat merespon orang terdekat di usia 3 bulan, mulai berguling diusia 4 bulan, mengeluarkan suara di usia 5 bulan, merangkak di usia 6 bulan, duduk di usia 8 bulan, berdiri di usia 11 bulan, berjalan dengan bantuan di usia 13 bulan. Ibu klien mengatakan An. R selalu mengikuti imunisasi dan menimbang berat badan dan tidak memberi patangan makanan pada An. R sesudah usianya lebih dari 6 bulan. Ibu klien juga mengatakan An. R tidak mengalami
gangguan dalam tumbuh kembang, baik motoric halus maupun kasar sebelum anaknya mengalami diare yang berkepanjangan.
f. Riwayat Kehamilan
Ibu klien mengatakan An. R merupakan anak pertama. Selama masa kehamilan ibu rutin memeriksa kehamilannya di puskesmas dan selama mengandung tidak memilik keluhan apapun. An. R lahir pada tanggal 10 Juli 2017 secara spontan di usia kehamilan 37 Minggu di RS Hermina Pandanaran Medan. An. R lahir dengan kondisi sehat, menangis spontan dengan BB 2950gr dan TB 47 cm. An. R hanya mengkonsumsi ASI Eksklusif selama 6 Bulan dan mendapatkan tambahan makanan penunjang ASI setelah usia diatas 6 bulan. Ibu klien mengatakan An. R selalu mengikuti imunisasi dan
menimbang berat badan yang sudah dijadwalkan oleh puskesmas. An. R mendapatkan imunisasi BCG. HB-0 Polio-0 pada usia 0 bulan. Mendapatkan DPT/HB 1,Polio 1 pada usia 2 bulan. Mendapatkan HB 2 dan Polio 2 pada usia 3 bulan. HB 3 dan Polio 3 pada usia 4 bulan. Dan mendapat imunisasi campak pada usia 9 Bulan
4) Pemeriksaan fisik a. Keadaan umum
Keadaan umum klien lemah, kesadaran composmentis (GCS: E4M6V5) TD : 100/70 mmHg
S : 36oC N : 112x/menit RR : 22x/menit Antopometri
BB : 25 Kg sebelum sakit (mengalami penurunan 7kg) BB : 18 kg (setelah sakit)
TB :110 cm b. Kepala
Bentuk kepala simetris, tidak ada benjolan, rambut hitam, rambut tidak rontok dan tumbuh merata
c. Mata
Jarak kedua mata normal, mata pucat, konjungtiva anemis, kedua mata simetris fungsi penglihatan normal.
d. Telinga
Bentuk telinga normal, telinga simetris, ada serumen berlebih, fungsi pendengaran baik.
e. Hidung
Bentuk hidung normal, tidak ada pernapasan cuping hidung, tidak ada penumpukan lendir, tidak ada benjolan.
f. Mulut
Mulut dan bibir terlihat pucat kehitaman, mukosa bibir kering.
g. leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada lesi.
h. Dada
Jantung: Normal, tidak ada pembengkakan, tidak ada lesi, irama jantung reguler.
Paru-paru: Normal,tidak ada pembengkakan, suara napas vesikuler i. Abdomen
abdomen terlihat kembung, ada nyeri tekan dikuadran iii, Pertumbuhan fisiknya terlalu kecil untuk umurnya dan berat badannya kurang dari normal.
ukuran fisik anak terlihat lebih kecil bila dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Bising usus meningkat (25x/menit)
j. kulit
Kulit terlihat pucat, dan kering, turgor kulit buruk k. genetalia
Tidak terkaji l. ekstermitas
kekuatan ekstremitas lemah, tangan kiri terdapat infusan.
5) Pola aktivitas
No. Jenis aktivitas Sebelum sakit Sesudah sakit 1 Pola nutrisi
a. Makanan
Jenis
Frekuensi
Cara
Nasi, lauk pauk 3 x sehari Mandiri
Bubur 3 x sehari Dibantu
Porsi b. Minum
Jenis
Frekuensi
Cara
Porsi
1 porsi Air putih, teh Sesuai keiginan Mandiri
6-8 gelas
1/2 porsi Air putih
Sesuai keinginan Dibantu
5-7 gelas 2 Pola eliminasi
a. BAB
Bau
Warna
Cara
Konsistensi
frekuensi b. BAK
Frekuensi
Warna
Bau
Cara
Khas feses Kuning feses Mandiri Padat 2 kali sehari 3-4 x sehari Khas urine Khas urine Mandiri
Khas feses
Kuning feses, berminyak
Dibantu cair
2-5kali sehari 4-5 x sehari Khas urine Khas urine Dibantu 3 Pola istirahat tidur
tidur siang
tidur malam
kualitas
2-3 jam sehari 6-8 jam sehari Nyenyak
Tidak tentu 6-10jam
Sering terbangun 4 Personal hygiene
mandi
gosok gigi
ganti baju
cara
2x sehari 2x sehari 2x sehari Mandiri
1x sehari 1x sehari 1x sehari Dibantu
6) Aspek psikososial dan spiritual a. Pola Komunikasi
Pasien dapat berkomunikasi dengan baik.
b. Mekanisme Koping
Pasien menceritakan keluhan yang dirasa selalu pada Ny.A c. Hubungan Sosial
Pasien dapat berhubungan baik dengan perawat, keluarga, dan orang sekitar. Klien selalu tersenyum dan berbicara lemah lembut terhadap semua orang terutama kepada tim medis.
d. Kebutuhan spiritual
Pasien memiliki kepercayaan dengan beragama islam.
Pasien selalu berdoa dan melaksanakan solat tepat waktu walaupun dalam
keadaan kurang sehat dan klien juga memiliki sikap sabar, berusaha terus berdoa agar kembali sehat seperti semula, dan yakin bahwa dia akan kembali sehat seperti biasanya atas berkat rahmat Allah SWT.
7) Data Penunjang
8) Terapy Medis 1. Infus RL 20tpm
2. antapulgit 1 tab/8 jam/oral 9) Analisa data
No. Data Etiologi masalah
1. Ds:
- Ibu klien
mengatakan An. R mengalami diare selama 3 bulan (3-5x sehari)
Malabsorpsi
↓ Tekanan
osmotic meningkat
↓
Diare (D.0020 )
Do:
- Feses cair
kekuningan, dan berminyak
- Mengalami
penurunan berat badan 7 kg
- Bising usus
meningkat (25x/menit)
Prgeseran cairan elektrolit ke
lumen usus
↓ Rangsangan pengeluaran
↓
Hiperperistaltik
↓ Diare
2. Ds:
- Ibu klien mengatakan
bahwa anaknya
terlihat lemah Do:
- Frekuensi nadi
meningkat 112x/menit
- Turgor kulit menurun - Membrane mukosa
kering
Diare
↓
Frekuensi BAB meningkat
↓ Dehidrasi
↓ Hipovolemik
Hipovolemik (D.0023)
4 Ds: Malabsorpsi deficit nutrisi
- Ibu Pasien mengatakan an. R tidak nafsu makan, dan mengatkan nyeri padaa bagian perut Do:
- Pasien tampak tidak menghabiskan
makanannya
- Porsi makan klien hanya abis ½ pors - Status gizi kurang
↓ Anoreksia
↓ Nafsu makan
berkurang
↓ deficit nutrisi
(D.0019)
B. Diagnosa Keperawatan
1) Diare berhubungan dengan malabsorpsi ditandai dengan:
Ds: Ibu klien mengatakan An. R mengalami diare selama 3 bulan (3-5x sehari
Do:
- Feses cair kekuningan, dan berminyak - Mengalami penurunan berat badan 7 kg - Bising usus meningkat (25x/menit)
2) Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif dibuktikan dengan:
Ds:
- Ibu klien mengatakan bahwa anaknya terlihat lemah Do:
- Frekuensi nadi meningkat 112x/menit - Turgor kulit menurun
- Membrane mukosa kering
3) deficit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorpsi nutrient dibuktikan dengan:
Ds: ibu klien mengatakan anaknya tidak nafsu makan dan nyeri pada bagian perut
Do:
- Pasien tampak tidak menghabiskan makanannya - Porsi makan klien hanya abis ½ pors
- Status gizi kurang C. Intervensi
No diagnosa Standar luaran Intervensi
1 diare L.04033
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam diharapakan:
Eleminasi fekal membaik
Nyeri abdomen
menurun
Konsistensi feses membaik
Frekuensi defekasi membaik
Peristaltic membaik
Manajemen diare Obeservasi:
Monitor warna volume, frekuensi dan konsistensi tinja Terapeutik:
Berikan asupan cairan oral
Berikan asupan cairan intravena
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian obat
2, Hipovolemi Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam diharapakan cairan membaik dengan kriteria hasil:
Turgor kulit
meningkat
Frekuensi nadi membaik
Membrane mukosa membaik
Manajemen hipovolemi Obeservasi”
Monitor intake output cairan Terapeutik
Berikan asupan cairan oral Eddukasi
Anjurkan perbanyak cairan oral
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian cairan intravena
3. Deficit nutrisi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam diharapakan status nutrisi membaik dengan kriteria hasil:
Porsi makan yang dihabiskan
Manajemen Nutrisi Observasi:
Monitor asupan makan
Identifikasi makanan yang disukai
Terapeutik
Sajikan makanan yang
meningkat
Nyeri abdomen menurin
menarik
Berikan makanan TKTP Kolaborasi
D. ImplementasI D
X
Waktu Implementasi Hasil Paraf
I 28-05-2024
09.1 3
11.3 2
12.1 0
Memonitor feses
Memberikan cairan oral
Memberikan cairan intravena
Kolaborasi pemberian obat (antipulgit 1x
Warna:
kuning, volume:
sedikit, frekuensi:
berkurang jadi 2x sehri, konsistensi cair ke padat
Pasien minum walaupun sedikit
Terpasang infusan di tangan sebelah kiri
Keinginan untuk bab pasien
Kelompo k 7
setelah bab) berkurang
II 28-05-2024
13.1 5
13.1 5
13.3 5
Memonitor intake output cairan
Memberikan asupan cairan oral
Kolaborasi pemberian cairan intravena
Ibu klien mengataka n, pasien mau
minum air putih dan frekuensi Bab sudah berkurang
Pasien minum 4-6 gelas
Terpasang cairan infusan RL dengan 20 tpm
Kelompo k 7
III 28-05-2024
08.1 5
14.4 5
Memonitor asupan makan
Mengidentifika si makanan yang disukai
Menganjurkan tirah baring
Pasien makan dengan porsi lebih banyak dari biasanya
Klien mengataka n bahwa klien menyukai daging ayam di sayur
Kelompo k 7
18.3 4
Menyajikan makanan kaya akan kalori dan protein dengan hidangan yang menarik
Terlihat pasien snagat antusias saat makan
E. Evaluasi
Diagnosa Evaluasi Paraf
Diare bd malabsorpsi dd:
Ds: Ibu klien
mengatakan
An. R
mengalami diare selama 3 bulan (3-5x sehari
Do:
Feses cair kekuningan, dan berminyak
Mengalami penurunan berat badan 7 kg
Bising usus meningkat (25x/menit)
29-05-2024
S: -klien mengatakan keinginan untuk BAB sudah tidak sesering dulu
O: - feses klien tampak lebih padat -bb naik 1 kg
-bising usus membaik (15x/menit)
A: masalah teratasi
P: intervensi dihentikan, pasien pulang
Kelompok 7
Hipovolemi bd kehilangan cairan aktif dd:
Ds:
- Ibu klien mengatakan bahwa anaknya terlihat lemah Do:
- Frekuensi nadi meningkat 112x/menit - Turgor kulit
menurun - Membrane
mukosa kering
29-05-2024
S:- ibu klien mengatakan bahwa anaknya terlihat lebih segar
O: -klien tampak segar, frekuensi nadi membaik (89x/menit), turgor kulit membaik, membrane mukosa terlihat lembap
A: -masalah teratasi
P:intervensi dihentikan, pasien pulang
Kelompok 7
Deficit nutrisi bd ketidakmampuan
mengabsorpsi nutrient
29-05-2024
S:- ibu klien mengatakan anaknya sudah meningkat nafsu makannya,
Kelompok 7
dd:
Ds: ibu klien mengatakan
anaknya tidak nafsu makan dan nyeri pada bagian perut Do:
- Pasien tampak tidak
menghabiskan makanannya - Porsi makan
klien hanya abis
½ pors
- Status gizi kurang
dan nyeri dibagian perut sudah tidak ada
O:-klien tampak menghabiskan makanannya, porsi makan habis 1 porsi, satus gizi perlahan membaik A: masalah teratasi
P: hentikan intervensi, pasien pulang
DAFTAR PUSTAKA https://search.app/UAQiKZsbXpHm56RW9
https://search.app/y7MKmqhLDLik9Y95A https://search.app/eMVafjAzbXQMoDue7