KARYA TULIS ILMIAH
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN DIAGNOSA MEDIS TUBERKULOSIS PARU DI RUANG MELATI RSUD
BANGIL PASURUAN
Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Keperawatan (Amd.Kep) Di Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo
Oleh : NOR ASLINA
NIM 1601024
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDEKIA
SIDOARJO 2019
ii
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Nor Aslina
NIM : 1601024
Tempat, TanggalLahir : Lumajang, 08 Maret 1998
Institusi : Akademi Keperawatan Kerta Cendekia
Menyatakan bahwa karya ilmiah berjudul: “ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S DENGAN DIAGNOSA MEDIS TUBERKULOSIS PARU DI RUANG MELATI RSUD BANGIL” adalah bukan Karya Tulis Ilmiah orang lain baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah disebutkan sumbernya.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapat sanksi.
Sidoarjo, 20 Juni 2019 Yang Menyatakan,
Nor Aslina NIM. 1601024 Mengetahui,
Pembimbing 1 Pembimbing 2
Meli Diana, S.Kep.Ns., M.Kes Dini Prastyo Wijayanti, S.Kep.Ns., M.Kep
NIDN. 0724098402 NPP. 89060022
iii
Nama : Nor Aslina
Judul : Asuhan Keperawatan Pada Tn. S Dengan Diagnosa Medis Tuberkulosis Paru Di Ruang Melati RSUD Bangil
Telah disetujui untuk diujikan di hadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah pada tanggal: 20 Juni 2019
Oleh:
Pembimbing 1 Pembimbing 2
Meli Diana, S.Kep.Ns., M.Kes Dini Prastyo Wijayanti, S.Kep.Ns., M.Kep
NIDN. 0724098402 NPP. 89060022
Mengetahui, Direktur
Akademi Keperawatan Kerta Cendekia
Agus Sulistyowati, S.Kep.,M.Kes NIDN. 0703087801
iv
Telah diuji dan disetujui oleh Tim Penguji pada sidang di Program D3 Keperawatan di Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo.
Tanggal : 20 Juni 2019
TIM PENGUJI
Tanda Tangan
Ketua : Kusuma Wijaya Ridi Putra, S.Kep.,MNS (... ) Anggota : Meli Diana, S.Kep.Ns, M.Kes (... )
: Dini Prastyo Wijayanti, S.Kep.Ns.,M.Kep (... )
Mengetahui, Direktur
Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo
Agus Sulistyowaty, S.Kep., M.Kes NIDN. 0703087801
v
Kesuksesan hanya dapat diraih dengan segala upaya dan usaha yang disertai dengan do’a, karena sesungguhnya nasib seseorang manusia tidak akan berubah dengan sendirinya tanpa berusaha...
vi
Tiada yang maha pengasih dan maha penyayang selain engkau ya Allah..
syukur Alhamdulillah berkat rahmat dan ridhomu ya Allah, saya bisa menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Karya Tulis Ilmiah ku ini akan ku persembahkan untuk :
1. Kedua orang tuaku tercinta, Ayah Suyono dan Ibu Rumani terima kasih yang tak terhingga atas semua dukungan, doa, semangat dan dukungan materil selama ini, terimah kasih atas kesabaran mengadapi segala keluhanku dan perjuangan menemaniku sampai lulus maaf belum bisa membuat bangga.
2. Untuk kedua Dosen Pembimbing Ibu Meli Diana, S.Kep.Ns, M.Kes dan Ibu Dini Prastyo Wijayanti, S.Kep.Ns.,M.Kep terima kasih atas bimbingan, doa dan motivasinya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan lancar tanpa satu halangan apapun.
3. Terima kasih untuk para Dosen dan Staf Akademi Akper Kerta Cendekia Sidoarjo yang telah memberi saya banyak ilmu yang bermanfaat untuk kedepannya nanti dan memberi banyak pengalaman yang tak terlupakan selama saya menempuh pendidikan dikampus kita tercinta ini.
4. Terimakasih untuk kakakku tercinta Roni yang telah memberiku semangat dan motivasinya untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik.
5. Untuk para sahabat-sahabatku Feni, Meilinda dan Putri M terimah kasih atas semangat, dukungan, do’a, serta motivasinya selama ini untuk senantiasa mengingatkanku ke dalam hal kebaikan, yang selalu ada dalam
vii
atas pengertian dan kesabaran kalian menghadapi segala sifat dan sikapku selama ini semoga persahabatan kita sampai syurga.
6. Untuk teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu tetap semangat karena kehidupan yang sesungguhnya baru kita mulai.
Almamaterku tercinta terima kasih, akan ku bawa nama baik Akper Kerta Cendekia !!!
viii
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Tn. S Dengan Diagnosa Medis Tuberkulosis Paru” ini dengan tepat waktu sebagai persyaratan akademik dalam menyelesaikan Program D3 Keperawatan di Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo.
Penulis Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Tuhan yang Maha Esa yang senantiasa memberikan rahmat-Nya sehingga Karya Tulis Ilmiah ini selesai dengan baik
2. Orang tua tercinta yang selalu mendukung dan mendoakan sehingga semua bisa berjalan lancar
3. Agus Sulistyowati, S.Kep.,M.Kes selaku Direktur Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo
4. Meli Diana, S.Kep.Ns, M.Kes selaku pembimbing 1 dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah
5. Dini Prastyo Wijayanti, S.Kep.Ns.,M.Kep selaku pembimbing 2 dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah
6. Hj. Muniroh Mursan, Lc selaku petugas perpustakaan yang telah membantu dalam kelengkapan literature yang dibutuhkan
7. Pihak – pihak yang turut berjasa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu
Penulis sadar bahwa Karya Tulis Ilmiah ini belum mencapai kesempurnaan, sebagai bekal perbaikan, penuli sakan berterima kasih apabila para pembaca berkenan memberikan masukan, baik dalam bentuk kritikan maupun saran demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiahini.
Penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi para pembaca dan bagi keperawatan.
Sidoarjo, 20 Juni 2019
Penulis
ix
Sampul Depan ...
Lembar Judul ...
Lembar Pernyataan...
Lembar Persetujuan ...
Halaman Pengesahan ...
Motto ...
Persembahan ...
Kata pengantar ...
Datar Isi ...
Daftar Tabel ...
Daftar Gambar ...
Daftar Lampiran ...
i ii iii iv v vi vii ix x
xii xiii xiv
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.3.1 Tujuan Umum ... 4
1.3.2 Tujuan Khusus ... 4
1.4 Manfaat ... 4
1.5 Metode Penulisan ... 5
1.5.1 Metode... 5
1.5.2 Teknik Pengumpulan Data ... 5
1.5.3 Sumber Data ... 6
1.5.4 Studi Kepustakaan ... 6
1.6 Sistematika Penulisan Metode ... 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1 Konsep Dasar Penyakit ... 8
2.1.1 Pengertian ... 8
2.1.2 Etiologi ... 9
2.1.3 Manifestasi klinik ... 9
2.1.4 Klasifikasi ... 10
2.1.5 Patofisiologi ... 13
2.1.6 Penatalaksanaan ... 14
2.1.6 Komplikasi ... 15
2.1.7 Diagnosa Banding ... 16
2.1.8 Pemeriksaan Penunjang ... 17
2.2 Dampak Masalah ... 19
2.3 Konsep Solusi dan Pencegahan ... 21
2.4 Konsep Asuhan Keperawatan ... 22 x
2.4.3 Konsep Analisa Data ... 27
2.4.4 Diagnosa Keperawatan ... 28
2.4.5 Intervensi Keperawatan ... 29
2.4.6 Implementasi Keperawatan ... 34
2.4.7 Evaluasi Keperawatan ... 37
BAB 3 TINJAUAN KASUS ... 40
3.1 Pengkajian ... 40
3.1.1 Identitas ... 40
3.1.2 Riwayat Keperawatan ... 40
3.1.2.1 Riwayat Keperawatan Sekarang ... 40
3.1.2.2 Riwayat Keperawatan Sebelumnya ... 41
3.1.2.3 Riwayat Kesehatan Keluarga ... 41
3.1.2.4 Genogram ... 42
3.1.2.5 Status Cairan dan Nutrisi ... 42
3.1.2.6 Pemeriksaan Fisik ... 43
3.2 Analisa Data ... 49
3.3 Diagnosa Keperawatan ... 51
3.4 Intervensi Keperawatan ... 53
3.5 Implementasi Perkembangan ... 57
3.6 Catatan Perkembangan... 66
3.7 Evaluasi Keperawatan ... 70
3.8 Discharge Planning ... 71
BAB 4 PEMBAHASAN ... 72
4.1 Pengkajian keperawatan ... 72
4 2 Pemeriksaan Fisik ... 74
4.3 Diagnosa keperawatan ... 79
4.4 Intervensi keperawatan ... 80
4.5 Implementasi keperawatan ... 81
4.6 Evaluasi keperawatan ... 82
BAB 5 PEMBAHASAN ... 84
5.1 Kesimpulan... 84
5.2 Saran ... 85
DAFTAR PUSTAKA ... 88
xi
No Tabel Judul Tabel Hal
Tabel 3.1 Laboratrorium ... 47
Tabel 3.2 Analisa data ... 49
Tabel 3.3 Intervensi ketidakefektifan bersihan jalan nafas ... 53
Tabel 3.4 Intervensi resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ... 55
Tabel 3.5 Intervensi nyeri akut ... 56
Tabel 3.6 Implementasi tanggal 21-12-2018 ... 57
Tabel 3.7 Implementasi tanggal 22-12-2018 ... 61
Tabel 3.8 Implementasi tanggal 23-12-2018 ... 63
Tabel 3.9 Catatan Perkembangan tanggal 21-12-2018 ... 66
Tabel 3.10 Catatan Perkembangan tanggal 22-12-2018 ... 68
Tabel 3.11 Evaluasi ... 70
xii
No Gambar Judul Gambar Hal 2.1 Kerangka Masalah ... 39 3.1 Genogram ... 42
xiii
No Lampiran Judul Lampiran Hal
Lampiran 1 Surat Ijin Pengambilan Studi Kasus ... 90
Lampiran 2 Informed Consent ... 91
Lampiran 3 Lembar Konsultasi ... 92
Lampiran 4 SAP Tuberkulosis Paru ... 93
Lampiran 5 Leaflet Tuberkulosis Paru ... 97
xiv
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tuberkulosis Paru adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis). Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru dibandingkan bagian yang lain (Indriani, 2013). Zaman dahulu penyakit Tuberkulosis menyerang pada siapa saja, baik pria maupun wanita, tua atau muda. Penyakit paru ini diidentifikasikan sebagi penyakit yang paling luas melibatkan batuk darah dan demam yang hampir selalu fatal penyakit Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Penyakit ini dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, atau kaya) (Yunita, 2012). Karena pengobatan tbc memakan waktu yang cukup lama sekitar 6-8 bulan sering kali masyarakat mengabaikannya karena 2 bulan saat pengobatan sudah tidak ada gejala sehingga mereka menganggap sudah sembuh,tetapi sebenarnya penyakit mereka belum sembuh sehingga akan terjadi kekambuhan yang disebut Tuberkulosis berulang (Pradana, 2014).
Data Badan Kesehatan Dunia WHO (World Health Organization) menyatakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi Tuberkulosis (TBC atau TB). India menempati urutan pertama dengan persentase kasus 23 persen terhadap yang ada di seluruh dunia. Dalam laporan Tuberkulosis Global 2015 yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disebutkan, insidensi di Indonesia pada angka 460.000 kasus baru per tahun. Namun, di laporan serupa tahun 2015, angka tersebut sudah
1
direvisi berdasarkan survei sejak 2016, yakni naik menjadi 1 juta kasus baru per tahun. Penyakit ini merupakan penyebab kematian urutan ke tiga, setelah penyakit jantung dan penyakit saluran pernafasan. Berdasarkan data dinas kesehatan jawa timur (2015), menjelaskan bahwa jumlah kasus baru sebanyak 41.472 penderita, dan BTA positif baru sebayak 25.618 kasus. Surabaya mendudukki peringkat pertama jumlah penderita Tuberkulosis paru terbesar di jawa timur sebanyak 3.957 jiwa (Suherni,2013). Berdasarkan laporan WHO Insiden Tuberkulosis paru tahun 2017 ada 1.020.000 kasus di Indonesia, namun baru dilaporkan ke Kementrian Kesehatan sebanyak 420.000 kasus. Penyakit ini banyak ditemukan di permukiman padat penduduk dengan sanitasi yang kurang baik, kurangnya ventilasi dan pencahayaan matahari dan kurangnya istirahat.
Tuberkulosis Paru disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.
Mycobacterium tuberculosis merupakan jenis kuman berbentuk batang berukuran panjang 1-4 mm dengan tebal 0,3-0,6 mm. Mikroorganisme ini tidak tahan terhadap sinar UV, karena itu penularannya terutama pada malam hari. Mikroorganisme ini adalah bersifat aerob yakni menyukai daerah yang banyak oksigen. Oleh karena itu Mycobacterium tuberculosis senang tinggal di daerah apeks paru-paru yang kandungan oksigennya tinggi. Daerah tersebut menjadi tempat yang kondusif untuk penyakit Tuberkulosis. Biasanya sering ditandai dengan batuk, batuk berdahak, nyeri dada, sesak, batuk darah serta keringat malam. Komplikasi pada penderita Tuberkulosis Paru adalah kerusakan jaringan paru yang masif, gagal napas, pneumothoraks, efusi pleura, pneumonia, bronkioektasis, infeksi organ tubuh lain oleh fokus primer, penyakit hati sekunder (Aryanto,2015).
Tatalaksana Tuberkulosis terdiri dari : tindakan pencegahan dengan promosi kesehatan/ Health Education tentang Tuberkulosis, pengobatan dan rehabilitasi pasien Tuberkulosis. Tindakan pencegahan dapat berupa pemeriksaan kontak terhadap individu yang dekat dengan penderita Tuberkulosis Paru BTA Positif. Mass chest X-Ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap kelompok populasi tertentu.
Vaksinasi BCG, Salah satu penanggulangan penyakit Tuberkulosis dengan strategis DOTS adalah dengan penemuan kasus sedini mungkin. Hal ini maksutkan untuk mengefektifkan pengobatan penderita dan menghindari penularan dari orang kontak yang termasuk subclinical infection. Dengan pencegahan, gunakan masker untuk menutup mulut, mengusahakan sinar matahari dan udara segar masuk secukupnya ke dalam tempat tidur, makanan harus tinggi karbohidrat dan tinggi protein, serta pola hidup sehat dapat di biasakan dengan mengkonsumsi makanan yang di berikan bergizi dan menjaga kebersihan diri. Sebagai perawat kita dapat mengajarkan cara untuk batuk efektif dengan cara nafas dalam dan mengeluarkan dahaknya dengan cara dibatukkan. Namun beritahu klien untuk tidak batuk, bersin dan meludah sembarangan. Menganjurkan klien untuk menghirup uap air hangat untuk mengencerkan dahak, anjurkan pada keluarga untuk memberikan makan klien sedikit tapi sering dan mencuci tangan enam langkah setiap sebelum dan sesudah melakukan aktivitas (Depkes RI,2015).
1.2 Rumusan masalah
Untuk mengetahui lebih lanjut dari perawatan penyakit ini maka penulis akan melakukan kajian lebih lanjut dengan melakukan asuhan keperawatan Tuberkulosis
Paru dengan membuat rumusan masalah sebagai berikut “Bagaimanakah asuhan keperawatan pada Tn. S dengan diagnosa Tuberkulosis Paru di RSUD Bangil?”
1.3 Tujuan penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Mengidentifikasi asuhan keperawatan pada Tn. S dengan diagnosa Tuberkulosis Paru di RSUD Bangil.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengkaji pasien dengan diagnosa Tuberkulosis Paru di RSUD Bangil.
1.3.2.2 Merumuskan diagnosa keperawatan pada Tn. S dengan diagnosa Tuberkulosis Paru di RSUD Bangil.
1.3.2.3 Merencanakantindakan keperawatan pada Tn. S dengan diagnosa Tuberkulosis Paru di RSUD Bangil.
1.3.2.4 Melaksanakan tindakan keperawatan pada Tn. S dengan diagnosa Tuberkulosis Paru di RSUD Bangil.
1.3.2.5 Mengevaluasi tindakan keperawatanTn. S dengan diagnosa Tuberkulosis Paru di RSUD Bangil.
1.3.2.6 Mendokumentasikan tindakankeperawatan pada Tn. S dengan diagnosa Tuberkulosis Paru di RSUD Bangil.
1.4 Manfaat
Terkait dengan tujuan, maka tugas akhir ini diharapkan dapat memberi manfaat : 1.4.1 Akademis, hasil studi kasus ini merupakan sumbangan bagi ilmu pengetahuan
1.4.2 Secara praktis, tugas akhir ini akan bermanfaat bagi : 1.4.2.1 Bagi pelayanan keperawatan di rumah sakit
Hasil studi kasus ini, dapat menjadi masukan bagi pelayanan di rumah sakit agar dapat melakukan asuhan keperawatan pada pasien Tuberkulosis Paru dengan baik.
1.4.2.2 Bagi peneliti
Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu rujukan bagi peneliti berikutnya, yang akan melakukan studi kasus pada asuhan keperawatan pada pasien Tuberkulosis Paru.
1.4.2.3 Bagi profesi kesehatan
Sebagai tambahan ilmu bagi profesi keperawatan dan memberikan pemahaman yang baik tentang asuahan keperawatan pada pasien dengan Tuberkulosis Paru.
1.5 Metode Penulisan 1.5.1 Metode
Metode deskriptif yaitu metode yang sifatnya mengungkapkan peristiwa atau gejala yang terjadi pada waktu sekarang yang meliputi studi kepustakaan yang mempelajari, mengumpulkan, membahas data dengan studi pendekatan proses keperawatan dengan langkah-langkah pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
1.5.2 Teknik Pengumpulan Data 1.5.2.1 Wawancara
Data diambil/diperoleh melalui percakapan baik dengan klien, keluarga maupun tim kesehatan lain
1.5.2.2 Obsevasi
Data yang diambil melalui pengamatan kepada klien 1.5.2.3 Pemeriksaan
Meliputi pemeriksaan fisik dan laboratorium yang dapat menunjang menegakkan diagnosa dan penanganan selanjutnya
1.5.3 Sumber Data 1.5.3.1 Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari klien.
1.5.3.2 Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari keluarga atau orang terdekat klien, catatan medic perawat, hasil-hasil pemeriksaan dan tim kesehatan lain.
1.5.3.3 Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan yaitu mempelajari buku sumber yang berhubungan dengan judul studi kasus dan masalah yang dibahas.
1.6 Sistematika Penulisan
Supaya lebih jelas dan lebih mudah dalam mempelajari dan memahami studi kasus ini, secara kesuluruhan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1.6.1 Bagian awal, memuat halaman judul, persetujuan pembimbing, pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi.
1.6.2 Bagian inti, terdiri dari lima bab, yang masing-masing bab terdiri dari sub bab berikut ini :
Bab 1 : Pendahuluan, berisi latar belakang masalah, tujuan, manfaat penelitian, sistematika penuisan studi kasus
Bab 2 : Tinjauan pustaka, berisi tentang konsep penyakit dari sudut medis dan asuhan keperawatan klien dengan diagnosa Tuberkulosis Paru serta kerangka masalah
Bab 3 : Tinjauan kasus tentang diskripsi data hasil pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
Bab 4 : Pembahasan berisi tentang perbandingan antara teori dengan kenyataan yang ada di lapangan
Bab 5 : Penutup, berisi tentang simpulan dan saran 1.6.3 Bagian akhir, terdiri dari daftar pustaka dan lampiran.
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab 2 ini akan diuraikan secara teoritis mengenai konsep penyakit asuhan keperawatan Tuberkulosis. Konsep penyakit akan diuraikan definisi, etiologi dan cara penanganan secara medis. Asuhan keperawatan akan diraikan masalah-masalah yang muncul pada penyakit Tuberkulosis dengan melakukan asuhan keperawatan terdiri dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi.
2.1 Konsep Dasar Penyakit 2.1.1 Pengertian Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis Paru adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis). Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru dibandingkan bagian yang lain (Indriani, 2014). Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar infeksi Tuberkulosis menyebar lewat udara, melalui terhirupnya nucleus droplet yang berisikan organisme basil tuberkel dari seorang yang terinfeksi (Sylfia A. price & Lorraine M. Willson, 2013).
Tuberkulosis paru yaitu penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru, tuberculosis dapat juga di tularkan kebagian tubuh lainnya, termasuk meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Brunner dan Suddart, 2013).
8
2.1.2 Etiologi
Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis. Jenis kuman ini berbentuk basil dengan ukuran 1-4 mmdengan tebal 0.3-0.6 mm. Mikroorganisme ini tidak tahan terhadap Sinar UV, karena itu penularannya terutama pada malam hari. Pada waktu batuk dan bersin pasien menyebarkan kuman, percikan dari droplet. Pertumbuhan bakteri tuberkulosis dengan suhu pertumbuhan 30-40 ºC dan suhu optimum 37- 38ºC. Dan akan mati pada pemanasan dengan suhu 60ºC selama 15-20 menit. Basil Tuberkulosis dapat bertahan lebih dari 50 tahun dalam keadaan dormant (tidur) (Amin dan Hardhi,2015).
2.1.3 Manifestasi Klinis
Gejala utama Tuberkulosis Paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu, dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, sesak napas, badan lemas, nafsu makan menurn, berat badan menurun (Depkes, 2014).
Gejala lain yang sering timbul adalah :
2.1.3.1 Demam, dengan suhu tubuh bisa mencapai 40-41ºC. Biasanya sering timbul pada waktu sore dan malam hari.
2.1.3.2 Batuk darah, batuk yang disertai bercak darah atau gumpalan darah dalam jumlah yang banyak. Batuk darah terjadi karena pecahnya pembuluh darah.
2.1.3.3 Sesak napas
Pada penyakit yang ringan (baru kambuh) belum dirasakan sesak napas. Sesak napas akan ditemukan pada kondisi yang sudah lanjut yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru.
2.1.3.4 Nyeri dada, nyeri pada Tuberkulosis Paru merupakan nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila bagian persyarafan di pleura terkena.
2.1.3.5 Anoreksia. Anoreksia dan penurunan berat badan merupakan manifestasi toksemia yang timbul belakangan dan lebih sering dikeluhkan bila proses progresif.
2.1.3.6 Keringat malam. Keringat malam bukanlah gejala yang patognomonis untuk penyakit Tuberkulosis Paru. Keringat malam umumnya baru timbul bila proses telah lanjut.
2.1.3.7 Gejala sistemik lainnya : malaise, lemah badan, dan penurunan berat badan.
2.1.4 Klasifikasi Tuberkulosis menurut Pedoman Nasional Penganggulangan Tuberkulosis (2014).
Pasien Tuberkulosis juga diklasifikasikan menurut: Lokasi anatomi dari penyakit, Riwayat pengobatan sebelumnya, Hasil pemeriksaan uji kepekaan obat dan hasil pemeriksaan dahak mikroskopik.
2.1.4.1 Klasifikasi berdasarkan lokasi anatomi dari penyakit:
Tuberkulosis paru adalah Tuberkulosis yang terjadi pada parenkim (jaringan) paru Milier Tuberkulosis dianggap sebagai Tuberkulosis paru karena adanya lesi pada jaringan paru. Limfadenitis Tuberkulosis dirongga dada (hilus dan atau mediastinum) atau efusi pleura tanpa terdapat
gambaran radiologis yang mendukung Tuberkulosis pada paru, dinyatakan sebagai Tuberkulosis ekstra paru. Pasien yang menderita Tuberkulosis paru dan sekaligus juga menderita Tuberkulosis ekstra paru, diklasifikasikan sebagai pasien Tuberkulosis paru.
Tuberkulosis ekstra paru adalah Tuberkulosis yang terjadi pada organ selain paru, misalnya: pleura, kelenjar limfe, abdomen, saluran kencing, kulit, sendi, selaput otak dan tulang. Diagnosis Tuberkulosis ekstra paru dapat ditetapkan berdasarkan hasil pemeriksaan bakteriologis atau klinis. Diagnosis Tuberkulosis ekstra paru harus diupayakan berdasarkan penemuan Mycobacterium tuberculosis. Pasien Tuberkulosis ekstra paru yang menderita Tuberkulosis pada beberapa organ, diklasifikasikan sebagai pasien Tuberkulosis ekstra paru pada organ menunjukkan gambaran Tuberkulosis yang terberat.
2.1.4.2 Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya:
1) Pasien baru Tuberkulosis: adalah pasien yang belum pernah mendapatkan pengobatan Tuberkulosis sebelumnya atau sudah pernah menelan OAT namun kurang dari 1 bulan (dari 28 dosis).
2) Pasien yang pernah diobati Tuberkulosis: adalah pasien yang sebelumnya pernah menelan OAT selama 1 bulan atau lebih (dari 28 dosis). Pasien ini selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan hasil pengobatan Tuberkulosis terakhir.
3) Pasien kambuh: adalah pasien Tuberkulosis yang pernah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap dan saat ini didiagnosis Tuberkulosis
berdasarkan hasil pemeriksaan bakteriologis atau klinis (baik karena benar-benar kambuh atau karena reinfeksi).
4) Pasien yang diobati kembali setelah gagal: adalah pasien Tuberkulosis yang pernah diobati dan dinyatakan gagal pada pengobatan terakhir.
5) Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up) adalah pasien yang pernah diobati dan dinyatakan lost to follow up (klasifikasi ini sebelumnya dikenal sebagai pengobatan pasien setelah putus berobat /default).
6) Lain-lain: adalah pasien Tuberkulosis yang pernah diobati namun hasil akhir pengobatan sebelumnya tidak diketahui.
2.1.4.3 Klasifikasipasien Tuberkulosis berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis yaitu :
1) Tuberkulosis paru BTA positif.
(1) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
(2) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto thorak dada menunjukkan tuberkulosis.
(3) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman Tuberkulosis positif.
(4) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS yang pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
2) Tuberkulosis BTA Negatif
Kasus yang tidak memenuhi definisi pada Tuberkulosis paru BTA positif. Kriteria diagnostik Tuberkulosis paru BTA negatif harus meliputi:
(1) spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif.
(2) Foto thorak abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis.
(3) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
(4) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.
2.1.5 Patofisiologi (Doenges, 2014)
Penularan terjadi karena kuman dibatukan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuklei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1 – 2 jam, tergantung ada atau tidaknya sinar ultra violet. dan ventilasi yang baik dan kelembaban. Dalam suasana yang gelap dan lembab kuman dapat bertahan sampai berhari – hari bahkan berbulan, bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang yang sehat akan menempel pada alveoli kemudian partikel ini akan berkembang bisa sampai puncak apeks paru sebelah kanan atau kiri dan dapat pula keduanya dengan melewati pembuluh linfe, basil berpindah ke bagian paru-paru yang lain atau jaringan tubuh yang lain. Setelah itu infeksi akan menyebar melalui sirkulasi, yang pertama terangsang adalah limfokinase, yaitu akan dibentuk lebih banyak untuk merangsang macrofage. Berkurang tidaknya jumlah kuman tergantung pada jumlah macrofage. Karena fungsinya adalah membunuh kuman / basil apabila proses ini
berhasil & macrofage lebih banyak maka klien akan sembuh dan daya tahan tubuhnya akan meningkat.
Tetapi apabila kekebalan tubuhnya menurun maka kuman tadi akan bersarang didalam jaringan paru-paru dengan membentuk tuberkeln(biji-biji kecil sebesar kepala jarum). Tuberkel lama kelamaan akan bertambah besar dan bergabung menjadi satu dan lama-lama timbul perkejuan ditempat tersebut.
Apabila jaringan yang nekrosis dikeluarkan saat penderita batuk yang menyebabkan pembuluh darah pecah, maka klien akan batuk darah (hemaptoe).
2.1.6 Penatalaksanaan (Harjana, 2013)
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase, yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4 atau 7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari paduan obat utama dan tambahan.
2.1.6.1 Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
Tabel 2.1 Nama Obat anti Tuberkulosis Paru (Yunita, 2013) Nama OAT Potensi Efek Samping Dosis
(mg/kgbb) Isoniazid (INH) Tinggi Neuropati perifer, 5 10 15
gangguan fungsi hati, kejang
Rifampisisn (R) Tinggi Demam, anemia 10 10 10 hemolitik, urine
warna merah, sesak napas, trombositopenia
Pirazinamid (Z) Rendah Gangguan GI, 25 35 50
gangguan fungsi hati, gout atritis
Streptomisin (S) Rendah Nyeri ditempat 15 15 5 suntikan, gangguan
keseimbangan pendengaran, anemia,
trombositopenia
Etambutol (E) Rendah Gangguan 15 30 45
penglihatan, buta warna, neuritis perifer
2.1.6.2 Pengobatan Supportif/ Simptomatik 1) Makan makanan yang bergizi
2) Bila demam berikan obat penurun panas
3) Bila perlu dapat diberikan obat untuk mengatasi batuk, sesak napas dan keluhan lainnya.
1) Diit tinggi kalori tinggi protein (TKTP) 2) Hindari merokok dan minuman alkohol 3) Istirahat yang cukup
4) Mengajarkan batuk efektif 5) Olahraga
6) Pengawasan minum obat 2.1.7 Komplikasi
Menurut Sudoyo, dkk (2009 : hal 2238), komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan Tuberculosis Paru, yaitu :
2.1.7.1 Pleuritis tuberkulosa
Terjadi melalui fokus subpleura yang robek atau melalui aliran getah bening, sebab lain dapat juga dari robeknya perkijuan ke arah saluran getah bening yang menuju ronggal pleura, iga atau columna vertebralis.
2.1.7.2 Efusi pleura
Keluarnya cairan dari pembuluh darah atau pembuluh limfe ke dalam jaringan selaput paru, yang disebabkan oleh adanya penjelasan material masuk ke rongga pleura. Material mengandung bakteri dengan cepat mengakibatkan reaksi inflamasi dan eksudat pleura yang kaya akan protein.
2.1.7.3 Empisema
Penumpukann cairana terinfeksi atau pus (nanah) pada cavitas pleura, rongga pleura yang di sebabkan oleh terinfeksinya pleura oleh bakteri mycobacterium tuberculosis (pleuritis tuberculosis).
2.1.7.4 Laryngitis
Infeksi mycobacteriym pada laring yang kemudian menyebabkan laryngitis tuberculosis.
2.1.7.5 Tuberkulosis Milier (tulang, usus, otak, limfe)
Bakteri mycobacterium tuberculosis bila masuk dan berkumpul di dalam saluran pernapasan akan berkembang biak terutama pada orang yang daya tahan tubuhnya lemah, dan dapat menyebat melalaui pembuluh darah atau kelenjar getah bening, oleh karena itu infeksi mycobacterium tuberculosis dapat menginfeksi seluruh organ tubuh seperti paru, otak, ginjal, dan saluran pencernaan.
2.1.7.6 Keruskan parennkim paru berat
Mycobacterium tuberculosis dapat menyerang atau menginfeksi parenkim paru, sehingga jika tidak ditangani akan menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada parenkim yang terinfeksi.
2.1.7.7 Sindrom gagal napas (ARDS)
Disebabkan oleh kerusakan jaringan dan organ paru yang meluas, menyebabkan gagal napas atau ketidak mampuan paru-paru untuk mensuplay oksigen ke seluruh jaringan tubuh.
2.1.8 Diagnosa Banding (Abdul Mukty, 2013) 2.1.8.1 Pneumonia
2.1.8.2 Abses paru 2.1.8.3 Kanker paru 2.1.8.4 Bronkiektasis 2.1.8.5 Pneumonia aspirasi
2.1.9 Pemeriksaan Penunjang (Supyan Maulana, 2012) 2.1.9.1 Pemeriksaan Laboratorium
LED (Laju Endap Darah) sebagai indikator atau respon terhadap pengobatan dan prediksi tingkat penyembuhan; meningkat pada fase aktif.
Leukosit/ limfosit menggambarkan status imunitas penderita.
2.1.9.2 Tes kulit tuberkulin
Tes Mantoux adalah tes kulit yang digunakan untuk menentukan individu terinfeksi basil Tuberkulosis. Ekstrak basil tuberkulin ada 2 macam, yaitu : OT (Old Tuberkulin) dan PPD (Purified Protein Derivative). Disuntikkan secara IC sebanyak 3-5 kali TU (Tuberculin Unit), membentuk benjolan pada kulit, dan reaksi lokal seperti edema dan infiltrasi seluler. Area suntikkan diinspeksi dalam waktu 48-72 jam dan diukur indurasinya. Ukuran indurasi menentukan apakah Negatif (0-4 mm)natau Positif (5-10 mm), dan dapat bertahan selama beberapa hari.
2.1.9.3 Rontgen Thoraks
Karakteristik kelainan terlihat sebagai daerah garis opaque yang ukurannya bervariasi dengan batas lesi yang tidak jelas dilokasi sekitar hilus. Tidak jarang kelainan ini tampak kurang jelas bibagian atas maupun bawah, memanjang di daerah clavicula atau satu bagian lengan atas.
Pasien dengan kelainan sering kali tidak dapat terdeteksi hingga mencapai stadium lanjut, sehingga tampak gambaran kavitas dan penyebaran brokhogenik ke paru lain maupun lobus bawah pada parus yang sama.
Pemeriksaan toraks sangat berguna untuk mengevaluasi hasil pengobatan dan bergantung juga pada tipe kerentanan bakteri tuberkel terhadap OAT.
2.1.9.4 CT Scan
Pemeriksaan CT Scan dilakukan untuk menemukan hubungan kasus Tuberkulosis yang inaktif dengan hasil kultur sputum. Ditunjukkan dengan adanya gambaran garis-garis fibrotik ireguler, pita parenkimal, kalsifikasi nodul dan adenopati, perubahan kelengkungan berkas bronkhovaskular, bronkhiektasis, dan emfisema perisikatriksial. Pada pasien Tuberkulosis ditemukan adanya gambaran kavitas yang membentuk lingkaran nyata atau bentuk oval dengan dinding yang cukup tipis.
2.1.9.5 Pemeriksaan Mikrobiologi
Hasil pemeriksaan mikroskopik dilaporkan sebabgai berikut
+1 : Bila setelah 10 menit tidak ditemukan BTA, maka BTA Negatif +2 : Bila ditemukan BTA 1-3 batang pada seluruh sediaan, maka sediaan
diulang
+3 : Bila ditemukan bakteri tersebut, maka BTA +
Bahan pemeriksaan dapat berupa : 1) Sputum.
Sputum diambil pada pagi hari dan yang pertama keluar. Jika sulit didapatkan maka sputum dikumpulkan selama 24 jam. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 bahan dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa, yang dikenal dengan konsep sewaktu- pagi sewaktu (SPS) : Diagnosis tuberkolusi paru pada orang dewasa di tegakkan dengan ditemukannya kuman tuberkolusis (BTA).
2) Urine.
Urine yang pertama di pagi hari atau yang dikumpulkan selama 12-24 jam. Jika pasien menggunakan kateter maka urine yang tertampung didalam urine bag dapat diambil.
3) Cairan kumbah lambung.
Umumnya bahan pemeriksaan ini digunakan jika anak- anak atau penderita tidak dapat mengeluarkan sputum. Bahan pemeriksaan diambil pagi hari sebelum sarapan.
4) Bahan lain : pus, cairan cerebrospinal (sumsum tulangbelakang), cairan pleura, jaringan tubuh, feses dan swab tenggorok.
2.1.9.6 Tes faal paru
Penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru total, penurunan saturasi oksigen
sebagai akibat dari infiltrasi parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural.
2.2 Dampak Masalah Tuberkulosis Paru Menurut Bruner dan Sudart (2012) 2.2.1 Dampak Ekonomi
Sakit selalu memiliki dampak ekonomi karena untuk sembuh dibutuhkan biaya yaitu biaya untuk perawatan dan obat. Terlebih jika penyakit yang diderita butuh proses panjang untuk bisa sembuh, seperti Tuberkulosis yang membutuhkan waktu hingga enam bulan mengonsumsi obat.. waktu penyembuhan bisa lebih panjang jika Tuberkulosis yang diidap adalah Tuberkulosis resisten atau Tuberkulosis MDR (Multi Drug Resisten). Tuberkulosis MDR, yaitu Tuberkulosis paru dengan kuman tidak sensitive lagi dengan obat-anti Tuberkulosis (OAT) minimal dengan jenis obat rifampisin dan INH, dimana pasien harus menjalani pengobatan dua tahun lamanya.
Perlu diketahui, Indnesia sekarang berada pada ranking kelima Negara dengan beban Tuberkulosis tertinggi di dunia. Menurut hasil Riskesdas 2013, prevalensi Tuberkulosis berdasarkan diagnosis sebesar 0,4% dari jumlah penduduk. Dengan kata lain, rata-rata tiap seratus ribu penduduk Indonesia terdapat 400 0rang yang didiagnosa kasus Tuberkulosis oleh tenaga kesehatan.
Bagi pasien yang mampu atau bahkan sudah pension tidak terlalu bermasalah, akan tetapi bagi pasien dengan umur muda, masih bekerja atau bahkan tulang punggung rumah tangga, sangat menimbulkan masalah
dan penderitaan bukan saja terhadap diri sendiri yang sedang sakit tetapi juga keluarga terutama istri dan anak-anak
2.2.2 Dampak Fisik
1) Kerusakan jantung 2) Resistens kuman
3) Kerusakan hati dan ginjal 4) Gangguan mata
5) Ateletaksis
6) Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak dan tulang persendian.
2.3Konsep solusi dan pencegahan (Soemantri, 2012)
2.3.1 Minum obat Tuberkulosis secara lengkap dan teratur sampai sembuh 2.3.2 Pasien Tuberkulosis harus menutup mulutnya pada waktu bersin dan batuk
karena pada saat bersin dan batuk ribuan hingga jutaan kuman
Tuberkulosis keluar melalui percikan dahak. Kuman Tuberkulosis yang keluar bersama percikan dahak yang dikeluarkan pasien Tuberkulosis saat : bersin, batuk.
2.3.3 Tidak membuang dahak di sembarang tempat, tetapi dibuang pada tempat khusus dan tertutup. Misalnya dengan menggunakan wadah/kaleng tertutup yang sudah diberi karbol/antiseptik atau pasir. Kemudian timbunlah kedalam tanah.
2.3.4 Menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), antara lain : 2.3.5 Menjemur peralatan tidur.
2.3.6 Membuka jendela dan pintu setiap pagi agar udara dan sinar matahari masuk.
2.3.7 Aliran udara (ventilasi) yang baik dalam ruangan dapat mengurangi jumlah kuman di udara. Sinar matahari langsung dapat mematikan kuman.
2.3.8 Makan makanan bergizi.
2.3.9 Tidak merokok dan minum-minuman keras.
2.3.10 Lakukan aktivitas fisik/olahraga secara teratur.
2.3.11 Mencuci peralatan makan dan minuman dengan airbersih mengalir dan memakai sabun.
2.3.12 Mencuci tangan dengan air bersih mengalir dan memakai sabun.
2.4 Konsep Asuhan Keperawatan 2.4.1 Pengkajian
2.4.1.1 Identitas
1) Usia : Yang mudah terpapar bakteri penyebab penyakit Tuberkulosis adalah usia 15-50 tahun, karena penyakit Tuberkulosis Paru paling sering ditemukan pada usia muda atau usia produktif (15-50) tahun.
Dewasa ini dengan terjadinya transisi demografi menyebabkan usia harapan hidup lansia menjadi lebih tinggi. Pada usia lanjut lebih dari 55 tahun sistem imunologis seseorang menurun, sehingga sangat rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk penyakit Tuberkulosis Paru, bahkan juga tidak menutup kemungkinan pada usia produktif atau pada anak (Nurarif dan Kusuma, 2015).
2) Jenis kelamin : laki-laki, karena jenis kelamin cukup berperan dalam menentukan apakah seseorang lebih rentan terkena Tuberkulosis atau tidak. Jumlah penderita pria yang lebih banyak diduga disebabkan mobilitas dan aktivitasnya yang lebih tinggi daripada perempuan.
Terlalu banyak merokok tembakau dan minum alcohol sehingga dapat menurunkan system pertahanan tubuh, sehingga lebih mudah terpapar dengan agen penyebab Tuberkulosis Paru. Dengan faktor tersebut, pria diyakini lebih mudah terpapar bakteri penyebab penyakit Tuberkulosis (Hiswani, 2009).
3) Pekerjaan : pasiean yang mempunyai pekerjaan yang tidak sesuai standart K3 seperti di pabrik , pekerja diruangan tertutup tanpa adanya ventilasi yang memadai hingga kurangnya paparan sinar matahari yang dapat menimbulkan kuman Tuberkulosis dapat menetap disana.
Pekerja tambang khususnya tambang logam, peleburan dan konstruksi yang rentan terpapar debu silika yang jika dibiarkan terus menerus bisa menyebabkan sesak nafas dan terjangkit Tuberkulosis paru (Irman Somantri, 2009).
2.4.1.2 Keluhan utama
Gejala umum biasanya lemah dan demam. Keluhan Tuberkulosis dibagi menjadi gejala respiratorik (batuk, batuk darah, sesak napas, nyeri dada), dan gejala sistemik(demam, anoreksia, keringat malam, penurunan berat badan, dan malaise) (Somantri, 2008).
2.4.1.3 Riwayat penyakit sekarang
Bagian ini untuk melengkapi keluhan utama. Biasanya batuk lebih dari tiga minggu dengan dahak berwarna kuning yang bisa bercampur dengan darah. Berkeringat di malam hari yang dimulai dengan demam dan akhirnya menyebabkan keringat berlimpah diikuti oleh menggigil.
Kehilangan nafsu makan pada penderita biasanya disebabkan oleh rasa
mual yang dirasakan, dan terjadi penurunan berat badan karena pengaruh hormone leptin dalam tubuh (Naga, 2014).
2.4.1.4 Riwayat penyakit dahulu
Pernah menderita/ didiagnosa Tuberkulosis sebelumnya, mengalami keluhan atau gejala yang sama, pernah mendapatkan OAT.
Jika iya, bagaiman keteraturan meminum obat dan efek yang dirasa.
Riwayat penyakit lain, seperti Diabetes, pembesaran getah bening, riwayat operasi, diet, alergi obat, dan obat-obat yang biasa diminum pada masa lalu (Arif Muttaqin, 2009)
2.4.1.5 Riwayat penyakit keluarga
Secara patologi Tuberkulosis tidak diturunkan, tetapi riwayat Tuberkulosis pada anggota keluarga lain perlu ditanyakan sebagai faktor presdiposisi penularan didalam rumah.
Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan yaitu, merokok, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, dan kurangnya olahraga, kurang istirahat, terpapar polusi setiap hari tanpa menggunakan masker, besar kemungkinan untuk tertular penyakit Tuberkulosis Paru (Helmia, 2010).
Lingkungan tempat tinggal pasien kumuh, udara yang kotor, rumah yang kurang terpapar sinar matahari, lembab dan berdebu punya resiko tinggi terinfeksi kuman Mycobacterium Tuberculosis (Ahmad, 2008).
2.4.2 Pemeriksaan Fisik Menurut Arif Mutaqin (2012) 2.4.2.1 Breath (B1)
Pada inspeksi didapatkan bentuk dada. Sekilas pasien Tuberkulosis terlihat kurus sehingga tampak penurunan proporsi diameter bentuk dada anterior-posterior dibandingkan proporsi diameter lateral. Pada Tuberkulosis dengan efusi pleura yang masif, terlihat adanya ketidaksimetrisan rongga dada, pelebaran ICS pada sisi yang sakit. Pada Tuberkulosis dengan atelektasis paru membuat bentuk dada menjadi asimetris, penyempitan ICS pada sisi yang sakit. Gerakan napas pada Tuberkulosis minimal tanpa komplikasi, biasanya gerakan pernapasan tidak mengalami perubahan. Jika terdapat komplikasi yang melibatkan kerusakan luas pada parenkim paru, biasanya pasien terlihat sesak napas, peningkatan frekuensi napas, dan menggunakan otot bantu napas. Batuk dan sputum. Pasien Tuberkulosis biasanya didapatkan batuk yang produktif disertai adanya peningkatan produksi sekret dan sekresi sputum yang purulen. Tuberkulosis Paru dengan atelektasis mengalami peningkatan produksi sputum yang banyak. Produksi sputum seperti konsistensi, jumlah, warna, darah, dan kemampuan mengeluarkan perlu diukur sebagai penunjang evaluasi.
Pada palpasi didapatkan adanya pergeseran trakhea menunjukkan penyakit dari lobus atas paru. Pada Tuberkulosis paru dengan efusi pleura masif dan pneumothoraks akan mendorong posisi trakhea ke arah berlawanan dari arah sakit. Gerakan dinding thoraks Tuberkulosis Paru
tanpa komplikasi, gerakan dada biasanya normal. Adanya penurunan gerakan dinding pernapasan biasanya ditemukan pada pasien Tuberkulosis dengan kerusakan parenkim paru yang luas.
Perkusi pada pasien Tuberkulosis paru minimal tanpa komplikasi, biasanya didapatkan bunyi resonan pada seluruh lapang paru. Pada Tuberkulosis Paru dengan efusi pleura didapatkan bunyi redup sampai pekak pada sisi yang sakit sesuai banyaknya akumulasi cairan dirongga pleura. Apabila disertai pneumothoraks, didapatkan bunyi hiperresonan.
Pada auskultasi didapatkan bunyi napas tambahan Ronchi pada sisi yang sakit. Catat diarea paru mana terdengar suara ronchi. Bunyi yang terdengar melalui stetoskop ketika pasien berbicara pada Tuberkulosis Paru dengan efusi pleura akan didapatkan penurunan pada sisi yang sakit.
2.4.2.2 Blood (B2)
Inspeksi adanya jaringan parut dan keluhan kelemahan fisik.
Denyut nadi perifer terpalpasi lemah. Saat diperkusi pada Tuberkulosis Paru dengan efusi pleura masif, batas jantung mengalami pergeseran mendorong ke sisi sehat. Tekanan darah biasanya normal. Bunyi jantung tambahan biasanya tidak didapatkan.
2.4.2.3 Brain (B3)
Kaji tingkat kesadaran, penurunan sensori, nyeri, reflek, fungsi saraf kranial dan fungsi saraf serebral. Pada Tuberkulosis Paru telah mengalami Tuberkulosis miliralis maka akan terjadi komplikasi meningitis yang berakibat penurunan kesadaran, penurunan sensasi, kerusakan nervus
kranial, tanda kernig dan brudinsky serta kaku kuduk yang positif (Arif Muttaqin, 2009).
2.4.2.4 Bladder (B4)
Pasien Tuberkulosis paru akan menemukan urine berwarna jingga pekat dan berbau yang menandakan fungsi ginjal masih normal sebagai ekskresi karena meminum OAT terutama Rifampisin.
2.4.2.5 Bowel (B5)
Pasien mungkin mengalami mual, muntah, penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan.
2.4.2.6 Bone (B6)
Aktivitas sehari-hari mungkin berkurang pada pasien Tuberkulosis Paru.
Gejala kelemahan, keletihan, insomnia, jadwal olahraga tidak teratur.
2.4.3 Konsep Analisa Data
Merupakan informasi yang dilakukan secara sistematis dan kontinyu tentang status kesehatan klien untuk menentukan masalah- masalah serta kebutuhan-kebutuhan kesehatan klien. Informasi yang diperlukan adalah segala sesuatu penyimpangan tentang klien sebagai makhluk bio-psiko-sosio-spiritual, kemampuan dalam mengatasi masalah sehari-hari, masalah kesehatan dan keperawatan yang mengganggu kemampuan klien dan keadaan sekarang yang berkaitan dengan rencana asuhan keperawatan yang akan dilakukan terhadap klien.
Jenis data yang dikumpulkan dapat berupa data subjektif dan data objektif. Data subjektif adalah data yang diperoleh dari keluhan-keluhan yang disampaikan oleh klien, termasuk sensasi klien, perasaan, nilai-nilai,
kepercayaan, pengetahuan, dan persepsi terhadap status kesehatan dan situasi kehidupan, misalnya: rasa nyeri, mual, sakit kepala, rasa khawatir, cemas dan lain-lain. Sedangkan data objektif adalah data yang diperoleh melalui suatu pengamatan, pengukuran, pemeriksaan dengan menggunakan standar yang diakui (berlaku), misalnya: perubahan warna kulit, tekanan darah, suhu tubuh, perubahan perilaku dan lain-lain (Patricia A. Dan Perry Anne Griffin, 2008).
2.4.4 Diagnosa Keperawatan
Berikut ini merupakan diagnosa keperawatan menurut Nurarif dan Kusuma, 2015:
2.4.4.1 Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan penumpukan sekret
2.4.4.2 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan paru,penurunan perifer, dan penurunan curah jantung
dengan
kongesti
2.4.4.3 Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan menurunnya ekspasi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura
2.4.4.4 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan nafsu makan.
2.4.4.5 Gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan batuk produktif
2.4.5 Intervensi Keperawatan
Berikut ini merupakan intervensi keperawatan menurut Doengoes, 2012 : 2.4.5.1 Diagnosa 1 : Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
Tujuan dan kriteria hasil : Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nafas kembali efektif dengan kriteria hasil :
1) Tidak ada suara ronkhi
2) Mengeluarkan secret tanpa bantuan 3) Mempertahankan jalan nafas
4) Tanda-tanda vital dalam batas normal Intervensi :
(1) Observasi dan pantau fungsi pernapasan (bunyi napas, kecepatan, dan penggunaan otot bantu napas)
R/ Penurunan bunyi napas menunjukkan atelektasis, ronkhi menunjukkan akumulasi sekret, dan adanya penggunaan otot bantu napas serta peningkatan kerja napas
(2) Observasi dan pantau kemampuan mengeluarkan sekresi dan karakteristiknya
R/ Sputum yang kental akan menyulitkan untuk mengeluarkannya, sputum kental juga menunjukkan efek infeksi dan hidrasi yang tidak adekuat, sputum berdarah bila ada kerusakan atau luka bronkhial (3) Berikan posisi semifowler/ fowler
R/ Memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya bernapas (4) Ajarkan batuk efektif
R/ Ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret ke jalan napas besar untuk dikeluarkan
(5) Bersihkan sekret, lakukan suction bila perlu
R/ Mencegah obstruksi dan aspirasi. Penghisapan dilakukan jika pasien tidak mampu mengeluarkan.
(6) Lakukan oksigenasi bila perlu
R/ Memberikan transpor oksigen yang adekuat, meringankan upaya bernapas
(7) Kolaborasi pemberian OAT, agen mukolitik, bronkodilator, kortikosteroid
R/ Perlu memantau minum OAT pada pasien. Agen mukolitik untuk menurunkan kekentalan sekret sehingga mudah dikeluarkan dengan mudah. Bronkodilator untuk meningkatkan diameter lumen percabangan trakeobronkhial sehingga menurunkan tahanan terhadap aliran udara. Kortikosteroid berguna dengan keterlibatan luas pada hipoksemia dan bila reaksi inflamasi mengancam kehidupan
2.4.5.2 Diagnosa 2 : Gangguan pertukaran gas
Tujuan dan kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapakan oksigenasi adekuat dengan criteria hasil :
1) Tidak ada keluhan sesak
2) Tidak tampak tarikan dinding dada 3) Klien bisa istirahat pada malam hari
4) TTV dalam batas normal (RR 20-24 x/menit)
5) Analisis gas darah dalam batas normal Intervensi :
(1) Auskultasi bunyi nafas, catat adanya alergi
R/ Menyatakan adanya kongestif paru / pengumpulan sekret menunjukkan kebutuhan untuk intervensi lebih lanjut (2) Anjurkan klien untuk batuk efektif dan nafas dalam
R/ Membersihkan jalan nafas dan memudahkan oksigenasi (3) Dorong klien untuk perubahan posisi sering
R/ Membantu untuk mencegah ateletaksis dan pneumonia (4) Berikan tambahan O2 6 liter /menit
R/ Untuk meningkatkan konsentrasi O2 dalam proses pertukaran gas (5) Kolaborasi pemberian digoxin
R/ Meningkatkan kontraktilitas otot jantung sehingga dapat mengurangi timbulnya edema dan dapat mencegah gangguan pertukaran gas
2.4.5.3 Diagnosa 3 :Ketidakefektifan pola napas
Tujuan dan kriteria hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan ketidakefektifan pola nafas kembali efektif dengan kriteria hasil :
1) Jalan nafas kembali normal 2) Respirasi rate dalam batas normal 3) Tidak ada retraksi intercosta
4) Tidak ada pernafasan cuping hidung
Intervensi :
(1) Observasi dan pantau fungsi pernapasan
R/ Distress pernapasan dan perubahan tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stres fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syok akibat hipoksia. Bunyi napas dapat menurun/ tidak ada pada area kolaps yang meliputi satu lobus, segmen paru atau seluruh area paru (2) Berikan posisi semifowler/ fowler tinggi dan miring pada sisi yang
sakit
R/ Posisi fowler memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya bernapas
(3) Bantu pasien untuk melakukan napas dalam dan batuk efektif R/ Ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkat kan gerakan sekret ke jalan napas besar untuk dikeluarkan
(4) Lakukan oksigenasi bila perlu
R/ Memberikan transpor oksigen yang adekuat, meringankan upaya bernapas
(5) Kolaborasi untuk tindakan thorakosentesis atau WSD, jika perlu R/ Sebagai evakuasi cairan atau udara dan memudahkan ekspansi paru secara maksimal
2.4.5.4 Diagnosa 4 :Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
Tujuan dan kriteria hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan klien ada peningkatan nutrisi dengan kriteria hasil : 1) Menunjukan berat badan meningkat
2) Melakukan pola makan untuk mempertahankan berat badan yang tepat
Intervensi :
(1) Observasi dan pantau status nutrisi pasien (BB, intake, output, turgor kulit, integritas mukosa bibir, kemampuan menelan, anoreksia, diare) R/ Memvalidasi dan menetapkan derajat masalah nutrisi sebagai evaluasi
(2) Ajarkan perawatan kebersihan mulut
R/ Menurunkan rasa tidak enak pada mulut karena sisa makanan, sisa sputum atau sisa obat, dan menurunkan rangsangan muntah
(3) Kolaborasi dan fasilitasi pasien untuk memperoleh diet yang sesuai indikasi dan disukai, diet tinggi kalori tinggi protein, porsi sedikit tapi sering
R/ Memaksimalkan pemberian intake gizi, mengurangi kelelahan dan iritasi saluran cerna. Merencanakan diet dengan kandungan gizi yang cukup dan sesuai dengan status hipermetabolik pasien
(4) Kolaborasi pemeriksaan BUN, protein serum, dan albumin R/ Menilai kemajuan terapi nutrisi dan sebagai evaluasi (5) Kolaborasi pemberian multivitamin, jika perlu
R/ Multivitamin berguna untuk memenuhi kebutuhan vitamin yang tinggi sekunder dari peningkatan metabolisme
2.4.5.5 Diagnosa 5 : Gangguan pola istirahat tidur
Tujuan dan kriteria hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kebutuhan tidur klie terpenuhi dengan criteria hasil : 1) Klien tidak mengeluh susah tidur
2) Sklera tidak tampak merah 3) Frekuensi tidur 7-8 jam / hari Intervensi :
(1) Beri posisi senyaman mungkin bagi pasien
R/ Posisi semi fowler atau posisi yang menyenangkan akan memperlancar pereedaran O2 dan CO2
(2) Tentukan kebiasaan motivasi sebelum tidur malam sesuai dengan kebiasaan pasien sebelum sakit
R/ Mengubah pola yang sudah menjadi kebiasaan sebelum tidur akan mengganggu proses tidur
(3) Anjurkan pasien untuk latihan relaksasi sebelum tidur R/
Relaksasi dapat membantu mengatasi gangguan tidur (4) Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang
R/ Dengan lingkungan yang nyaman dan tenang ditunjukkan sepaya klien dapat tidur dengan nyenyak
(5) Jelaskan tentang pentingnya istirahat tidur
R/ Melalui penjelasan tentang pentingnya istirahat tidur diharapkan klien dapat beristirahat dengan teratur dan tepat waktu sehinga sklera mata tidak tampak merah
2.4.6 Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan penerapan dari perencanaan keperawatan yang telah ditetapkan untuk mencapai suatu tujuan, kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi pengumpulan data berkelanjutan – mengobservasi respon sebelum dan sesudah pelaksanaan tindakan. Tujuan
tahap pelaksanaan ini adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang ditetapkan yang mencakup kesehatan dan pencegahan penyakit (A. Aziz Alimul Hidayat, 2013).
Terkait dengan diagnosa ketidakefektifan bersihan jalan napas, tindakan keperawatan yang bisa dilakukan yaitu : Mengobservasi dan memantau fungsi pernapasan (suara napas ronchi (+), kecepatan 24- 30x/menit, dan adanya penggunaan otot bantu napas). Mengobservasi dan memantau kemampuan mengeluarkan sekret dan karakteristiknya (jika sekret berwarna merah muda maka dicurigai adanya edema paru).
Memberikan posisi semi fowler (posisi kepala lebih tinggi daripada kaki) dapa mengurangi potensi sesak nafas pada pasien. Mengajarkan batuk efektif dengan cara nafas dalam dan mengeluarkan sekret dengan cara dibatukkan. Membersihkan sekret dengan menggunakan alat suction untuk mempermudah pasien jika tidak bisa melakukan batu efektif. Melakukan oksigenasi bila pasien membutuhkan (gunakan O2 nasal untuk 1-5 lpm dan O2 masker untuk 6-10 lpm). Berkolaborasi dalam pemberian mukolitik (untuk mengurangi kekentalan dahak).
Pada diagnosa gangguan pertukaran gas dapat dilakukan tindakan sebagai berikut: Auskultasi bunyi nafas (terdapat wheezing), menganjurkan klien untuk nafas dalam dengan cara tarik nafas melalui hidung dan menhembuskannya melalui mulut, mendorong klien untuk perubahan posisi sering (miring kanan miring kiri bila memungkinkan bagi klien), memberikan tambahan O2 6 liter / menit dengan masker, berkolaborasi pemberian digoxin (untuk meningkatkan kontraktilitas otot
jantung sehingga dapat mengurangi timbulnya edema dan mencegah gangguan pertukaran gas).
Dari diagnosa ketidakefektifan pola napas, tindakan keperawatan yang bisa dilakukan ialah: Mengobservasi dan memantau fungsi pernapasan (kecepatan 24-30x/menit, dan adanya penggunaan otot bantu napas).
Memberikan posisi semi fowler (posisi kepala lebih tinggi daripada kaki untuk mengurangi potensi sesak nafas). Membantu pasien untuk melakukan nafas dalam dengan cara mengambil nafas melalui hidung dan mengeluarkannya melalui mulut. Melakukan oksigenasi sesuai kebutuhan pasien.
Untuk diagnosa ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan, tindakan keperawatan yang bisa dilakukan yaitu: Mengobservasi dan memantau status nutrisi pasien (berat badan terjadi penurunan, intake dan output tidak seimbang, turgor kulit tidak elastis, integritas mukosa bibir kering, sulit menelan, adanya anoreksia). Mengajarkan perawatan kebersihan mulut (menggosok gigi 2x sehari), berkolaborasi dan fasilitasi pasien untuk memperoleh diet yang sesuai dengan indikasi dan disukai (diet tinggi kalori tinggi protein, porsi sedikit tapi sering). Berkolaborasi pemberian multivitamin.
Dari diagnosa gangguan pola istirahat tidur bisa dilakukan tindakan keperawatan seperti: Menjelaskan tentang pentignya istirahat tidur (bahwa tidur sangat penting untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan waktu 7-8 jam sehari), memberikan posisi senyaman mungkin bagi pasien untuk memudahkan pasien tertidur, menentukan kebiasaan motivasi
sebelum tidur malam sesuai dengan kebiasaan pasien sebelum dirawat (misalnya sebelum tidur pasien membaca buku terlebih dulu), menganjurkan pasien untuk latihan relaksasi sebelum tidur dengan cara melatih pernafasan (bisa dengan nafas dalam) dan mendengarkan musik, menciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang (jauh dari krbisingan untuk mempermudah terlelapnya pasien,
2.4.7 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan kegiatan akhir dari proses keperawatan dimana perawat menilai hasil yang diharapkan terhadap perubahan kondisi klien sejauh mana masalah klien dapat teratasi, disamping itu perawat juga memberikan umpan balik atau pengkajian ulang seandainya tujuan yang ditetapkan belum tercapai maka dalam hal ini proses keperawatan yang dimodifikasi (A. Aziz Alimul Hidayat, 2014).
Pada diagnosa ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan sekret, evaluasi yang didapatkan adalah jalan nafas pasien kembali efektif tanpa adanya ronchi, pasien mampu mengeluarkan sekret dengan teknik batuk efektif tanpa bantuan, tanda-tanda vital dalam batas normal (RR 16-20 x/menit, nadi 80-100x /menit, suhu 36,5-37,5 C).
Dari diagnosa gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti paru, penurunan nadi perifer dan penurunan curah jantung, evaluasi yang diperoleh adalah pasien menunjukkan ventilasi adekuat RR16-20 /menit, tidak ada suara mengi pada pernafasan pasien, pasien mendapatkan terapi oksigen O2 masker 6 liter / menit.
Diagnosa ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan menurunnya ekspasi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura, evaluasi yang didapat adalah fungsi pernapasan pasien baik (suara nafas vesikuler, RR 16-20 x/ menit), pasien mampu untuk melakukan napas dalam tanpa bantuan, pasien mendapatkan terapi oksigenasi O2 nasal 4 liter / menit.
Pada diagnosa ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan nafsu makan evaluasi yang dihasilkan adalah berat badan pasien dapat meningkat, tidak ada anoreksia, pasien melakukan pola makan yang teratur (3x sehari).
Diagnosa gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan batuk produktif, diperoleh evaluasi istirahat tidur pasien terpenuhi (7-8 jam /hari) pasien mampu melakukan latihan relaksasi sebelum tidur (nafas dalam dan mendengarkan musik), frekuensi tidur pasien tercukupi.
Bakteri tuberkulosis
Infeksi primer Sembuh
Sembuh dengan Fokus Gohn
Bakteri Dorman
Infeksi primer (reaktivasi)
Bakteri muncul beberapa bulan kemudian
Sembuh dengan fibrotik
Reaksi infeksi & merusak parenkim paru
Produksi sekret meningkat Kerusakan membran Perubahan cairan Reaksi
Pecahnya pembuluh darah alveolar-kapilar intrapleura sistematis
merusak pleura
sesak, sianosis anoreksia
Batuk berdahak, batuk penggunaan otot
terus menerus Sesak napas, napas
ekspansi thorax
Ketidak efektifan
bersihan jalan napas
Gangguan Pola nafas BB menurun
Pertukaran gas tidak efektif
Gangguan pola Ketidakseimbangan
Istirahat tidur
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Gambar 2.1 Pohon masalah klien dengan TB Paru (Harjana, 2013)
39
TINJAUAN KASUS
Untuk mendapatkan gambaran nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan Tuberkulosis Paru, maka penulis menyajikan suatu kasus yang penulis amati mulai tanggal 20 Desember 2018 sampai dengan 23 Desember 2018 dengan data pengkajian pada tanggal 20 Desember 2018 jam 18.00 WIB. Anamnesa diperoleh dari klien, keluarga dan file No.Register 00324xxx sebagai berikut :
3.1 Pengkajian 3.1.1 Identitas
Pasien adalah seorang laki-laki bernama “Tn. S” usia 61 tahun, beragama islam, bahasa yang sering digunakan adalah bahasa jawa, dan bekerja sebagai tukang becak. Pasien adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Pasien tinggal bersama istri dan anak terakhirnya bernama “Sdr. S” usia 33 tahun, beragama islam dan pekerjaan wiraswasta. Klien tinggal di Kejayan Pasuruan. Pasien masuk rumah sakit pada tanggal 19 Desember 2018 jam 10.00 WIB.
3.1.2 Riwayat Keperawatan
3.1.2.1 Riwayat Keperawatan Sekarang 1) Keluhan Utama
Pasien mengatakan sesak nafas 2) Riwayat Penyakit Saat Ini
Pasien mengatakan batuk selama kurang lebih tujuh bulan. Pasien sudah periksa ke Puskesmas dan menganggapnya sembuh. Pada tanggal 19 Desember 2018
40
pasien batuk disertai darah dan dibawa ke IGD RSUD Bangil jam 10.00 WIB. Pada jam 12.00 WIB pasien dipindahkan ke ruang Melati. Pada saat pengkajian, pasien mengatakan batuk berdahak dan gatal di tenggorokannya sehingga sering terbangun saat tidur. Pasien juga mengatakan masih bingung dan tidak mengetahui lebih jelas tentang penyakit paru dan cara penularannya. Pada saat pengkajian, pasien dan keluarga seringkali tidak memakai masker.
3.1.2.2 Riwayat Keperawatan Sebelumnya 1) Penyakit yang pernah diderita
Pasien tidak pernah menderita penyakit menular paru-paru sebelumnya.
2) Operasi
Pasien tidak pernah menjalani operasi.
3) Alergi
Pasien tidak mempunyai alergi
1) Penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga
Pasien mengatakan bahwa ibunya pernah menderita penyakit paru-paru.
2) Lingkungan rumah dan komunitas
Lingkungan rumah bersih, namun kurang ventilasi udara, rumah pasien dekat dengan jalan raya.
3) Perilaku yang mempengaruhi kesehatan
Pasien mengatakan saat bekerja tidak menggunakan masker dan pasien adalah perokok.
3.1.2.5 Status Cairan dan Nutrisi
Sebelum MRS nafsu makan baik, klien makan 3x1 porsi habis. Pasien
menyukai semua jenis makanan. Pasien minum air putih sebanyak kurang lebih 1500 cc per hari. Pada saat di rumah sakit nafsu makan pasien menurun. Pasien makan 3x setengah porsi per hari dengan diet lunak 2100 kkal dan putih telur. Berat badan sebelum sakit 63 kg dan berat badan sekarang 60 kg.
Pasien mengatakan tidak tahu tentang manfaat diet yang diberikan. Pasien tampak bingung saat ditanya tentang makanan apa yang harus dikonsumsi dan makanan yang harus dihindari sehubungan dengan penyakitnya. Pasien tampak lemas.
Masalah keperawatan:
- Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh - Defisit pengetahuan
1) Keadaan Umum
Pasien tampak lemah, kesadaran compos mentis dengan GCS 4 5 6.
Terpasang infus futrolit 20 tetes per menit di tangan kiri.
2) Tanda Vital
Tanda – tanda vital observasi pasien, tekanan darah diperoleh 110/80 mmHg, suhu : 36,0 °C (Lokasi pengukuran : Axilla), nadi : 95 x/menit (Lokasi perhitungan : Arteri Radialis), respirasi : 22 x/menit.
3) Respirasi (B1)
Pada inspeksi bentuk dada pasien nampak normal, susunan ruas tulang belakang normal, pola nafas tidak teratur, jenis kusmaul. Terdapat retraksi otot bantu nafas intercostae dan suprasternalis. Perkusi thorax redup pada thorax kanan atas. Alat bantu napas O2 nasal kanul 4 liter per menit. Vokal fremitus antara kanan dan kiri sama. Suara nafas ronchi pada lobus kanan atas, bawah dan pada lobus kiri bawah. Pasien batuk berdahak dengan produksi sekret warna putih kental. Adanya nyeri dada sebelah kiri, rasanya seperti tertindih, pasien tampak menyeringai, nyeri timbul saat bernafas dengan skala 6. Nyerinya hilang timbul dan bertambah ketika pasien batuk. Masalah
keperawatan : - Ketidakefektifan bersihan jalan nafas - Nyeri akut