• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA IBU K DENGAN PENYAKIT HIPERTENSI DI KOTA SEMARANG

N/A
N/A
Gemilang Makmur .P

Academic year: 2023

Membagikan "ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA IBU K DENGAN PENYAKIT HIPERTENSI DI KOTA SEMARANG"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

SEMARANG

Karya Tulis Ilmiah

Diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan

Disusun Oleh:

Fadia Kansha Tamara NIM : 40901800032

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG

2021

(2)

PENYAKIT HIPERTENSI DI KOTA SEMARANG

KaryaTulis Ilmiah

Disusun Oleh:

Fadia Kansha Tamara NIM : 40901800032

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG

2021

(3)
(4)

KARYA TULIS ILMIAH BERJUDUL

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA IBU K DENGAN PENYAKIT HIPERTENSI DI KOTA SEMARANG

Dipersiapkan dan Disusun Oleh : Nama : Fadia Kansha Tamara Nim :

40901800032

Karya tulis ilmiah ini telah disetujui oleh pembimbing untuk dipertahankan dihadapan penguji karya tulis ilmiah program studi D-III keperawatan fakultas ilmu keperawatan unissula semarang pada

Hari : Senin

Tanggal : 25 Januari 2021

Semarang, 25 Januari 2021 Pembimbing

Ns. Moch Aspihan, M.Kep, Sp.Kep.Kom NIDN : 0613057602

(5)

Karya Tulis Ilmiah ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Karya Tulis ilmiah prodi DIII keperawatan FIK unissula pada hari Jumat Tanggal 11 Juni 2021 dan telah diperbaiki sesuai dengan masukian tim penguji

Semarang, 11 Juni 2021

Penguji I

(Ns. Iskim Luthfa, M.Kep) NIDN : 06-2006-8402

Penguji II

(Ns. Nutrisia Nu’im Haiya, M.Kep) NIDN : 06-0901-8004

Penguji III

(Ns. Moch Aspihan, M.Kep, Sp.Kep.Kom) NIDN : 06-1305-7602

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan

Iwan Ardian, SKM , M.Kep NIDN. 0622087403

(6)

“Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan (Q.S Al-Insyirah:

6)

Bila kesulitan itu dihadapi dengan tekad yang sungguh-sungguh dan berusaha dengan sekuat tenaga dan pikiran untuk melepaskan diri darinya, tekun dan sabar serta tidak mengeluh atas kelambatan

datangnya kemudahan, pasti kemudahan itu akan tiba

(7)

Sembah sujud serta syukur kepada Allah SWT. Taburan cinta dan kasih sayang-Mu telah memberi kekuatan, membekaliku dengan ilmu. Atas

karunia seta kemudahan yang Engkau berikan akhirnya Karya Tulis Ilmiah yang sederhana ini dapat terselesaikan. Shalawat dan salam selalu

terlimpahkan kepada nabi Muhammad SAW.

Ku persembahkan karya tulis ilmiah ini kepada orang yang sangat kukasihi dan kusayangi.

Ayahanda dan Ibunda Tercinta

Sebagai tanda bakti, hormat dan rasa terima kasih yang tiada terhingga kupersembahkan karya tulis ilmiah ini kepada Ayah saya (Alm. Arief Muktamara) dan ibu saya (Sri Leni Ratnawati) yang telah memberikan

kasih sayang, secara dukungan baik moril maupun materi, ridho dan cinta kasih yang tiada mungkin dapat kubalas hanya dengan selembar kertas yang bertuliskan kata persembahan. Semoga ini menjadi langkah

awal untuk membuat ayah dan ibu bahagia karena kusadar, selama ini belum bisa berbuat lebih. Terima kasih Ayah.. Terima kasih ibu

Adik-adikku Tersayang

Sebagai tanda terima kasih, ku persembahkan karya tulis ilmiah ini untuk adik-adikku (Farra Ramadhani Tamara) Terima kasih telah memberikan

semangat dan inspirasi dalam menyelesaikan tugas akhir

(8)

Bapak Ns. Moch Aspihan, M.Kep, Sp.Kep. selaku dosen pembimbing karya tulis ilmiah, terima kasih banyak bapak sudah membantu selama

ini, sudah dinasihati, sudah diajari dan mengarahkan saya untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah dengan baik

Teman-teman

Teman dekatku Cucu Parida, Muji Rahayu, Eva Damayanti, Wiwik Ambarwati, Qurrotul Alawiya, Febria Milhatun Nida, Oktavia Nur K ,

Artika Amelia, Melfiana, Fitria Hidayatun, Indah Khoirutiyas dan teman sekelompok karya tulis ilmiah yang selalu memberikan motivasi,

nasihat, dukungan dan selalu mendoakan satu sama lain serta semua sahabat seperjuanganku DIII Keperawatan 2018 dan semua pihak yang

tidak dapat disebutkan satu persatu, kuatkan tekadmu tuk hadapi rintangan, karena sesungguhnya Allah bersama kita

(9)

Alhamdulillahirobbil’alamiin, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulia Ilmiah yang berjudul

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA IBU K

DENGAN PENYAKIT HIPERTENSI DI KOTA SEMARANG”.

Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan pada Program Studi Diploma III Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

Berbagai hambatan yang penulis hadapi dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, namun semuanya dapat selesai berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ucapkan terima kasih kepada :

1. Allah SWT yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan sehingga saya dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

2. Drs. H. Bedjo Santoso, MT., Ph.D selaku Rektor Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

3. Iwan Ardian, SKM, M.Kep selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan UNISSULA Semarang.

4. Ns. Muh Abdurrouf, M.Kep., selaku Ketua Prodi DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan UNISSULA Semarang.

5. Ns. Moch Aspihan, M.Kep, Sp.Kep. selaku pembimbing yang telah berkenan meluangkan waktu untuk memberikan motivasi, bimbingan dan pengarahan pada penulis dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

6. Bapak dan ibu dosen yang telah memberikan ilmu kepada penulis selama kurang lebih tiga tahun.

7. Masyarakat Kota Semarang, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk praktek disana, dan dapat mengaplikasikan ilmu yang telah

(10)

8. Ayahku (Alm.Arief Muktamara) dan Ibuku (Sri Leni Ratnawati) tercinta yang selalu mendoakan, mengingatkan untuk tetap beribadah dan memberikan semangat, dukungan baik moril dan materi yang diberikan untuk menyelesaikan pendidikan.

9. Adik-adikku (Farra Ramadhani Tamara) tercinta yang selalu menjadi penasehat, penguat dan penyemangat terbaik.

10. Teman dekatku Cucu Parida, Muji Rahayu, Eva Damayanti, Wiwik Ambarwati, Qurrotul Alawiya, Febria Milhatun Nida, Oktavia Nur K, Artika Amelia, Melfiana, Fitria Hidayatun , Indah Khoiriyatus dan teman sekelompok karya tulis ilmiah yang selalu memberikan motivasi, nasihat, dukungan dan selalu mendoakan satu sama lain.

11. Teman-teman seperjuanganku DIII Keperawatan 2018 dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih sangat banyak membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat berguna bagi penulis dan pembaca dapat memberikan peningkatan pelayanan keperawatan dimasa mendatang.

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

(11)

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... 3

HALAMAN PERSETUJUAN ... 4

HALAMAN PENGESAHAN ... 4

HALAMAN PERSEMBAHAN ... 7

KATA PENGANTAR... 9

BAB I ... 14

PENDAHULUAN ... 14

1.1 Latar Belakang ... 14

1.2 Tujuan Penulisan ... 15

1.3 Manfaat Penulisan ... 16

BAB II ... 12

KONSEP DASAR ... 12

3.1 Konsep Dasar Penyakit Hipertensi ... 12

3.2 Konsep Perawatan Hipertensi ... 18

3.3 Konsep Dasar Gerontik ... 11

BAB III ... 16

RESUME ASUHAN KEPERAWATAN ... 16

3.1 Pengkajian ... 16

3.2 Analisa data ... 19

3.3 Diagnosa keperawatan ... 19

3.4 Rencana asuhan keperawatan ... 19

3.5 Implementasi keperawatan ... 20

3.6 Evaluasi ... 22

BAB IV ... 24

PEMBAHASAN ... 24

5.1 Pengkajian ... 24

5.2 Diagnosa keperawatan ... 25

5.3 Tambahan Diagnosa Keperawatan ... 27

BAB V ... 28

PENUTUP ... 28

5.1 Kesimpulan ... 28

5.2 Saran ... 28

DAFTAR PUSTAKA ... 31

(12)

1. Tabel pengkajian indeks katz

2. Tabel pengkajian SPSMQ

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Lembar Asuhan Keperawatan Asli

2. Surat kesediaan membimbing

3. Surat keterangan konsultasi

4. Lembar konsultasi

(14)

1.1 Latar Belakang

Kenaikan lanjut umur berlangsung di Indonesia, sebagai akibat untuk pemerintah ataupun warga negara, lanjut usia hadapi kemunduran secara raga ataupun mental, salah satu kemunduran yang alami ialah penyusutan fungsi kognitif, ini hendak jadi permasalahan untuk lanjut usia yang tidak melaksanakan penghindaran ataupun penatalaksanaan, adapula salah satu yang dicoba secara mandiri merupakan tarik nafas dalam (Pranata, Indaryati, and Fari 2020).

Hipertensi pada lanjut usia diakibatkan sebab proses penuaan dimana berlangsungnya pergantian sistem kardiovaskuler, katup mitral serta aorta terjadi nya sclerosis serta penebalan, miokard jadi kaku serta lambat dalam berkontraktilitas. Hipertensi pada lanjut usia membawa pengaruh kurang baik bila tidak ditangani bisa menyebabkan penyakit stroke, gagal jantung, gagal ginjal(Richard 2013).

Bersumber pada informasi World Health Organization( World Health Organization), prevalensi hipertensi tahun 2018 pada orang berusia berumur 18 tahun keatas 22 %. Penyakit tersebut menimbulkan 40% kematian sebab penyakit kardiovaskuler serta 51% kematian sebab stroke. Tidak hanya cara menyeluruh, hipertensi jadi suatu penyakit tak meluas yang sangat banyak derita warga Indonesia( 57, 6%) (Ansar J, Dwinata I 2019).

Hasil dari Riskesdas 2018 membuktikan bahwa kenaikan prevalensi hipertensi di Indonesia sejumlah 34, 11%. Pravelensi tekanan darah tinggi pada wanita sebesar (36,85%) lebih besar di banding pria (31,34%). Sebaliknya pravelensi kota sedikit lebih besar (34,43%) dibanding desa (33,72%). Pravelensi terus menjadi bertambah ada bertambahnya usia ( Riskesdas 2018).

Pada lanjut usia hendak terjalin bermacam kemunduran organ tubuh, oleh karena itu lanjut usia mudah sekali menghadapi penyakit hipertensi. Hipertensi yang sering terjadi pada lanjut usia ialah hipertensi

(15)

Bertambahnya prevalensi Hipertensi dari tahun ketahun karena jumlah penduduk meningkat umur menyebabkan kegiatan aktivitas yang menurun, pola hidup yang tidak sehat serta penyusutan jumlah konsumsi makanan yang menimbulkan kalori berlebih serta diganti menjadi lemak yang bisa menyebabkan lanjut usia menghadapi obese ataupun obesitas.

Tidak hanya itu merupakan pemakaian alcohol serta tembakau (Idaiani and Wahyuni 2017).

Pola hidup yang tidak sehat pada pengidap hipertensi tindakan asuhan keperawatan yang bisa dicoba antara lain memantau tanda vital, menghalangi kegiatan badan, istirahat yang lumayan, serta pola sehat semacam diet rendah garam, gula dan lemak, serta menghentikan konsumsi rokok, alcohol dan kurangi stress. Kedudukan perawat bisa memberikan pendidikan kepada keluarga tentang berartinya memberikan support kepada lanjut usia yang mengidap penyakit hipertensi supaya mutu lanjut umur bisa bertambah(Angshera, Rahmawati, and Y 2020).

Menurut hasil observasi catatan kedokteran di Kota Semarang didapatkaninformasi pada bertepatan pada 05 Oktober 2016, jumlah penderita yang periksakan di ruang lanjut umur sebanyak 44 orang. Dari informasi tersebut didapatkan penderita yang hadapi hipertensi sebanyak 30 orang serta 14 orang tidak hadapi hipertensi. Buat seperti itu butuh dicoba upaya pelayanan kesehatan gerontik dengan hipertensi yang salah satunya merupakan gerontik Ny K.

Bersumber pada latar belakang di atas sehingga penulis mengambil topik dengan judul “Asuhan Keperawatan Gerontik pada Ibu K Dengan Penyakit Hipertensi di Kota Semarang”.

1.2 Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum

Bisa dilakukan asuhan keperawatan secara menyeluruh pada Ibu K dengan penyakit hipertensi di Kota Semarang.

(16)

hipertensi

b. Menjelaskan masalah keperawatan yang muncul pada Ibu K c. Menjelaskan intervensi keperawatan yang tepat untuk Ibu K d. Menjelaskan implementasi keperawatan pada Ibu K

e. Menjelaskan evaluasi keperawatan pada Ibu K

f. Ditemukan kesenjangan yang didapat pada asuhan keperawatan pada Ibu K dengan kendala hipertensi

1.3 Manfaat Penulisan

Karya tulis ilmiah yang disusun oleh penulis di harapkan manfaat untuk berbagai pihak, antara lain :

1. Bagi Institusi Pendidikan

Mengembangkan ilmu keperawatan untuk perawat yang berkompetensi dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang komprehensif.

2. Bagi Profesi Keperawatan

Memberikan asuhan keperawatan pada gerontik dengan penyakit hipertensi dan meningkatkan kemampuan perawat dalam keperawatan gerontik

3. Bagi Lahan Praktik

Sebagai pembelajaran dalam asuhan keperawatan pada gerontik yang mengalami hipertensi serta untuk meningkatkan mutu pelayanan yang berkualitas khususnya pada lansia

4. Bagi Masyarakat

Masyarakat dapat memahami tentang pentingnya kesehatan lansia, mencegah komplikasi hipertensi

(17)

BAB II KONSEP DASAR 3.1 Konsep Dasar Penyakit Hipertensi

1. Pengertian

Hipertensi ataupun tekanan darah tinggi merupakan sesuatu kondisi pada saat terjadi kenaikan tekanan darah dapat lanjut oleh hambatan sistem organ, semacam stroke buat otak, penyakit jantung coroner, kendala pembuluh darah jantung serta kendala otot jantung(Istichomah 2020). Hipertensi ialah sesuatu penyakit ditandai adanya peningkatan tekanan darah sebab terjadi kelainan jantung dan pembuluh darah.

Hipertensi ialah kenaikan tekanan darah diatas batas normal ialah ≥ 140 mmHg buat sistolik serta ≥ 90 mmHg buat diastolik (Angshera, Rahmawati, and Y 2020).

Definisi hipertensi ataupun tekanan darah tinggi bersumber pada definisi diatas dapat dinyatakan bahwa hipertensi ialah peningkatan tekanan darah diatas batas alami ialah ≥ 140 mmHg untuk sistolik serta ≥ 90 mmHg untuk diastolik. Tekanan darah tinggi karena terbentuknya peningkatan tekanan darah yang bisa berlanjut pada kendala sistem organ.

2. Etiologi

Bersumber pada pencetus hipertensi dibagi jadi 2 golongan bagi (Richard 2013) :

A. Hipertensi primer ataupun hipertensi esensial

Hipertensi primer ataupun hipertensi esensial diucap pula hipertensi idiopatik sebab tak dikenal sebabnya. Aspek yang dipengaruhi ialah (Richard 2013):

1. Genetik

Orang punya riwayat keluarga hipertensi, beresiko besar atas penyakit tersebut. Aspek genetik tak bisa dikontrol, Apabila punya riwayat keluarga yang punya tekanan darah besar.

2. Tipe kelamin dan usia

Pria berumur 35- 50 tahun serta perempuan mati haid berbahaya besar agar alami hipertensi. Bila usia bertambah tekanan

(18)

darah meningkat faktor tersebut tidak bisa dikontrol dan tipe kelamin pria lebih besar dibanding wanita.

3. Diet

Mengkonsumsi diet besar garam cara langsung berkaitan kembangnya hipertensi. Aspek tersebut dapat mengontrol pengidap kurangi konsumsi, bila garam yang dikonsumsi melampui batas normal, ginjal yang bertugas buat mencerna garam hendak tahan cairan lebih banyak dibanding semestinya didalam tubuh. Banyak cairan menahan menimbulkan kenaikan volume darah. Memberi beban pembuluh darah menimbulkan pembuluh darah kerja keras ialah terdapatnya kenaikan tekanan darah saat dinding pembuluh darah serta menimbulkan tekanan darah naik.

4. Berat badan

Aspek bisa dikontrol melindungi berat tubuh dalam keadaan wajar ataupun sempurna. Kegemukan (>25% diatas BB sempurna) berhubungan dengan berkembang tingkatan tekanan darah ataupun hipertensi.

5. Gaya hidup

Aspek ini bisa dikontrol oleh penderita dengan pola hidup sehat menjauhi aspek pemicu hipertensi ialah rokok, jika rokok kaitannya jumlah rokok dihisap dalam durasi satu hari serta bisa menghabiskan beberapa batang

(19)

rokok serta lama merokok mempengaruhi dengan tekanan darah pasien.

Mengkonsumsi alkohol yang sering, ataupun berlebihan serta terus menerus bisa meningkatkan tekanan darah pasien hendaknya bila mempunyai tekanan darah tinggi pasien dimohon untuk menjauhi alkohol supaya tekanan darah pasien dalam batasan normal serta pelihara gaya hidup sehat penting supaya bebas dari komplikasi yang bisa terjadi.

B. Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder terjadi akibat pemicu yang jelas. Salah satu contoh hipertensi sekunder merupakan hipertensi vaskular rena, yang terjadi akibat stenosi arteri renalis. Kelainan ini bisa bersifat kongenital ataupun akibat aterosklerosis. Stenosis arteri renalis menurunkan aliran darah ke ginjal sehingga terjadi pengaktifan baroreseptor ginjal, perangsangan pelepasn renin, serta penyusunan angiostenin II. Angiostenin II secara langsung tingkatan tekanan darah dan secara tidak langsung tingkatan sintesis andosteron dan reabsorbsi natrium. Apabila dapat dilakukan perbaikan pada stenosis, ataupun apabila ginjal yang terserang diangkat, tekanan darah akan kembali ke normal(Richard 2013)

3. Patosiologi

Mekanisme mengendalikan konstriksi serta relaksasi pada pembuluh darah posisinya pusat vasomotor, medulla diotak. Pada vasomotor semula berjaras ke saraf simpatis, melanjutkan ke bawah ke korda spinalis serta mengeluarkan dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis pada toraks serta abdomen. Rangsangan pusat vasomotor menghantarkan pada wujud impuls bergerak ke bawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Oleh sebab tersebut, neuron preganglion membebaskan asetilkolin, yang hendak memicu serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin menyebabkan konstriksi pembuluh darah. Beberapa faktor semacam kepanikan serta ketakutan dapat mempengaruhi reaksi pembuluh darah terhadap rangsangan vasokonstriksi. Orang yang terkena hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, walaupun tak dikenal nyata kenapa tersebut dapat kejadian.

(20)

Ketika sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsangan emosi, kelenjar adrenal pula terangsang, menyebabkan penambahan kegiatan vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menimbulkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol serta steroid yang lain, yang bisa menguatkan respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang menyebabkan penyusutan aliran ke ginjal, menimbulkan lepasnya renin. Renin mendapatkan rangsangan terhadap rangsangan angiotensin I yang lalu berubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor yang kuat, pada giliran memicu sekresi aldosterone terhadap korteks adrenal.

Hormon ini menimbulkan retensi natrium serta air pada tubulus ginjal, menimbulkan kenaikan volume intra vaskuler. Semua aspek ini bercenderung mengakibatkan kondisi tekanan darah.

Untuk mempertimbangkan gerontologis dimana terjadinya perubahan structural serta fungsional oleh sistem pembuluh perifer yang mempertanggungjawabkan adanya berubah tekanan darah yang terjadi pada lanjut umur. Perubahan semacam aterosklerosis, hilang elastisitas jaringan ikat serta penyusutan relaksasi otot polos pembuluh darah, ketika giliran mengurangi kekuatan distensi serta daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya aorta serta arteri besar menurunkan kekuatan akomodasi volume darah yang dipompa jantung (volume sekuncup) sebab penyusutan curah jantung serta kenaikan penahanan perifer (Rahmawati, 2012). Lanjut umur memerlukan perhatikan mungkin terdapatnya “hipertensi palsu” diakibatkan kekerasan arteri brachialis hingga tidak mengompres pada cuff sphygmomanometer (Darmojo, 2010).

4. Manifestasi klinis

Gejala serta tanda-tanda adanya hipertensi merupakan (Aspiani 2019) disebut gejala umum yang menimbulkan hipertensi ataupun tekanan darah besar berbeda oleh tiap masyarakat, mungkin kadang muncul adanya tanpa tanda gejala. Secara global gejala yang dikeluhkan penderita hipertensi berbagai macam yaitu:

a. Sakit kepala

(21)

b. Merasakan capek serta tak aman di bagian tengkuk c. Merasakan memutar

d. Menebarkan ataupun berdetak jantung secara cepat e. Telinga denging membutuhkan pertolongan cepat

Penderita hipertensi alami sakit kepala hingga tengkuk sebab terjadinya sempit pembuluh darah yang diakibatkan vasokonstriksi pembuluh darah hendak menimbulkan kenaikan tekanan vasculer cerebral, kondisi ini hendak menimbulkan nyeri kepala sampe tengkuk pada penderita hipertensi.

5. Pemeriksaan diagnosis Pemeriksaan Laboratorium

a. Hb/Ht : kaji adanya sel terhadap volume cairan(viskositas) serta bisa indikasi faktor pemicu yaitu : hipokoagulabilitas, kekurangan darah.

b. BUN / kreatinin : menginformasikan data perfusi ataupun fungsi ginjal.

c. Glucosa : Hiperglikemi (DM merupakan penyebab hipertensi) bisa berakibat keluar kadar ketokolamin.

d. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal serta terdapat DM.

e. CT Scan : Kaji ada tumor cerebral, encelopati.

f. EKG : Bisa memberitahu pola keregangan, dimana luas, ketinggian gelombang P merupakan ciri menandakan penyakit jantung hipertensi.

g. IUP : mengenal penyebab hipertensi semacam : Batu ginjal perbaikan ginjal.

h. Photo dada : Tunjuk destruksi kalsifikasi di area katup, pembesaran jantung.

6. Komplikasi

Hipertensi bisa dikendalikan jika penangannya dengan baik semenjak sekarang. Tetapi kebanyakan penderita hipertensi yang baru sadar ketika menderita hipertensi pada saat mengalami sebuah penyakit hipertensi.

Ada beberapa hal yang bisa menimbulkan sebuah penyakit hipertensi, contohnya merupakan stres. Ketika seorang mengalami stres menjadikan

(22)

tubuh akan produksi hormon yang bisa tingkatkan tekanan darah, Kenaikan tekanan darah inilah yang jadi sebuah penyakit hipertensi.

Observasi Komite Nasional Pencegahan, Deteksi, Evaluasi dan Penanganan Hipertensi melaporkan tekanan darah yang bisa tingkatkan serangan jantung, gagal jantung, stroke serta gagal ginjal (Richard 2013).

Hipertensi ialah pemicu awal terbentuknya sebuah penyakit kardiovaskular serta ialah permasalahan awal kesehatan warga yang lagi hadapi masa peralihan sosial ekonomi. Dibanding manusia yang mempunyai tekanan darah alami, pengidap hipertensi mempunyai kendala terkena penyakit jantung koroner 2 kali lebih meningkat serta resiko lebih tinggi agar terkena stroke. Jika tak diatasi, kurang lebih setengah penderita hipertensi buat meninggal yang diakibat penyakit jantung serta sekitar 33% buat meninggal sebab stroke 10 sampai 15 % namun meninggal sebab gagal ginjal. Maka karena pengecekan tekanan darah ialah kondisi sangat berharga (Junaidi, 2010).

(23)

3.2 Konsep Perawatan Hipertensi Pengkajian Keperawatan

Menurut (Handa Gustiawan 2019) yang perlu dikaji ialah : 1. Identitas

Ada beberapa yang merupakan identitas yaitu : Nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, status perkawinan, pendidikan terakhir, tanggal masuk panti, kamar dan identitas keluarga pasien (Handa Gustiawan 2019)

2. Riwayat Masuk Panti

Menjelaskan mengapa memilih tinggal di panti dan bagaimana proses sehingga dapat bertempat tinggal di panti(Handa Gustiawan 2019)

3. Riwayat Keluarga

Menggambarkan sebuah hubungan keluarga ( kakek, nenek, orang tua, saudara kandung, pasangan, dan anak-anak )

4. Riwayat Pekerjaan

Menjelaskan dimana pekerjaan sekarang, pekerjaan sebelumnya, dan mendapatan uang dan kecukupan terhadap kebutuhan yang tinggi.

5. Riwayat Lingkup Hidup

Memiliki gambaran tempat tinggal, berapa kamar yang diinginkan, berapa orang yang tinggal di rumah, derajat privasi, alamat, dan nomor telpon.

6. Riwaya Rekreasi

Meliputi : hoby/peminatan, keanggotaan organisasi, dan liburan.

7. Sumber/Sistem Pendukung

Sumber pendukung adalah anggota atau staf pelayanan kesehatan seperti dokter, perawat atau klinik

8. Deskripsi Harian Khusus Kebiasaan Ritual Tidur

Menjelaskan kegiatan yang dilakukan sebelum tidur. Pada pasien lansia dengan hipertensi mengalami susah tidur sehingga dilakukan ritual ataupun aktivitas sebelum tidur.

9. Status Kesehatan Sekarang

(24)

Ada beberapa status kesehatan umum ketika setahun yang lalu, status kesehatan umum ketika 5 tahun yang lalu, keluhan yang utama, serta pendidikan tentang penatalaksanaan masalah kesehatan.

10. Pemeriksaan fisik :

Pemeriksaan fisik ialah suatu proses pemeriksaan tubuh pasien pada ujung kepala sampai ujung kaki (head to toe) untuk menentukan adanya gejala dari sebuah penyakit dengan teknik inpeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi.

Pada pemeriksaan kepala dan leher yaitu melihat bentuk kepala, warna rambut, bentuk wajah, kesimetrisan mata, kelopak mata, kornea mata,konjungtiva serta sclera, pupil serta iris, ketajaman penglihatan, tekanan bola mata, cuping hidung, lubang hidung, tulang hidung, dan menilai ukuran telinga, ketegangan telinga, kebersihan lubang telinga, ketajaman pendengaran, kondisi gigi, gusi serta bibir, kondisi lidah, palatum serta osofaring, keberadaan trakea, tiroid, kelenjar limfe, vena jugularis serta denyut nadi karotis.

Selanjutnya pemeriksaan payudara yakni inspeksi terdapat atau tidak kelainan berupa (warna kemerahan pada mammae, oedema, papilla mammae menonjol atau tidak, hiperpigmentasi aerola mammae, apakah ada pengeluaran cairan pada putting susu), palpasi (menilai apakah ada benjolan, adanya pembengkakan kelenjar getah bening, lalu disertai dengan pengkajian nyeri tekan).

Pemeriksaan thoraks yakni inspeksi terdapat atau tidak kelainan berupa (simetris dada, menggunakan otot bantu pernafasan, pola nafas), palpasi (nilai vocal premitus), perkusi (menilai bunyi perkusi apakah terdapat kelainan), dan auskultasi (menilai bunyi nafas dan adanya bunyi nafas tambahan).

Pemeriksaan jantung yaitu inpeksi serta palpasi (mengamati ada tidaknya pulsasi serta ictus kordis), perkusi (tentukan batasan jantung untuk ukuran jantung), auskultasi (mendengar suara jantung, suara jantung adanya penambahan atau tidak bising/murmur)

Pada pemeriksaan abdomen meliputi inspeksi terdapat atau tidak kelainan berupa (bentuk abdomen, benjolan/massa, bayangan pembuluh darah, warna kulit abdomen, lesi pada abdomen), auskultasi (bising usus

(25)

atau peristalik usus dengan nilai normal 5-35 kali/menit), palpasi (ada atau tak nyeri tekan, benjolan/massa, besarnya hepar dan lien) dan perkusi (penilaian suara abdomen serta pemeriksaan asites).

Pemeriksaan kelamin dan sekitarnya meliputi area pubis, meatus uretra,anus serta perineum terdapat kelainan atau tidak.

Pada pemeriksaan muskuloskletal meliputi pemeriksaan kekuatan dan kelemahan ekstermitas, kesimetrisan cara berjalan.

Pada pemeriksaan integument meliputi membersihkan, menghangatkan, warna, turgor kulit, bentuk kulit, kelembaban serta kelainan terhadap kulit serta terdapat lesi atau tidak(Handa Gustiawan 2019)

a) Pengkajian status fungsional dan pengkajian status kognitif 1. Pengkajian status fungsional

a. Indeks katz .

Pemeriksaan indeks katz memfokuskan aktivitas kehidupan sehari-hari yaitu kegiatan mandi, memakai pakaian, pindah tempat, toileting, dan makan. Mandiri merupakan tidak ada yang mengawasi, mengarahkan, ataupun bantuan orang lain.

Pengkajian ini mendasarkan pada status aktual serta bukan terhadap kemampuan. Pengkajian ini dapat mengukur kemampuan fungsional lanjut usia dilingkungan sekitar rumah. (Susanto 2018)

b. Barthel indeks

Pemeriksaan barthel indeks adalah alat mengukur kemandirian lanjut usia yang sering digunakan, dengan ukur mandiri fungsional pada perihal keperawatan diri serta mobilitas. Barthel indeks tidak mengukur ADL, instrumental, komunikasi, dan psikososial. Pengukuran pada barthel indeks bertujuan buat ditunjukkan peningkatan pelayanan yang dibutuhkan pasien. Barthel indeks dapat mengambil pada catat medik penderita, pengamatan langsung ataupun catatan sendiri pada pasien. (Susanto 2018)

2. Pengkajian status kognitif

a. SPMSQ (Short portable mental status questionaire) adalah beberapa penguji sederhana yang sudah digunakan secara

(26)

luas buat kaji status mental. Menguji semacam 10 pertanyaan berkaitan dengan orientasi, riwayat pribadi, ingatan janka pendek, ingatan jangka panjang dan perhitungan. (Rosita 2012)

b. MMSE/Mini mental state exam ialah bentuk mengkaji kognitif yang digunakan. Lima fungsi kognitif dalam MMSE yaitu konsentrasi, bahasa, orientasi, ingatan serta atensi.

MMSE terdiri dari dua bagian, bagian pertama hanya membutuhkan respon verbal dan mengkaji orientasi, memori dan atensi. Bagian kedua kaji kemampuan tulis kalimat, nama objek, ikuti perintah verbal serta tulis, salin suatu desain poligon kompleks. (Rhosma S, 2014)

A. Diagnosa Keperawatan

Pada hasil pengkajian dan penelitian yang didapatkan dari Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia dengan masalah hiperurisemia (Tim Pokja SDKI DPP PPNI 2017) adalah sebagai berikut:

1) Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis 2) Gangguan pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan 3) Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi B. Rencana Tindakan Keperawatan

Diagnosa 1 : Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis

Tujuan dan kriteria hasil : Setelah memberikan tindakan keperawatan 3x 24 jam, harapan nyeri berkurang dengan kriteria hasil : keluhan nyeri berkurang, skala nyeri rendah, kesulitan tidur berkurang.

Rencana tindakan : 1. Manajemen nyeri:

1) Observasi

a) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, kualitas, intensitas nyeri Rasional : Buat mengetahui lokasi nyeri

b) Identifikasi skala nyeri.

Rasional : untuk mengetahui tingkat nyeri c) Identifikasi respons nyeri non verbal

Rasional : buat diketahui respons nyeri non verbal

d) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri

(27)

Rasional : Buat diketahui aspek apa yan berat dan ringan nyeri e) Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri

Rasional : memberikan pengetahuan mengenai penyebab nyeri kepada pasien

2) Terapeutik

a) Beri tehnik non farmakologis buat kurangi rasa nyeri (meliputi.

terapi relaksasi, kompres panas/hangat)

Rasional : memperingan ataupun kurangi nyeri sampai tingkat yang dapat diterima pasien.

a) Terapi relaksasi (Tarik Nafas Dalam)

Terapi relaksasi tarik nafas dalam ialah suatu teknik yang dibutuhkan buat penurunan tingkat stress serta nyeri kronis. Teknik relaksasi tarik nafas dalam pengidap mengontrol respons tubuh yang tegang dan cemas. Teknik relaksasi tarik nafas dalam melakukakan dapat mengurangi konsumsi oksigen, metabolisme, frekuensi pernafasan, frekuensi jantung, tegangan otot serta tekanan darah (Anggraini 2020)

b) Kontrol lingkungan yang beratkan rasa nyeri (misal : Suhu lingkungan, cahaya)

Rasional : agar terkontrol lingkungan yang memperberat nyeri.

3) Edukasi

a) Jelaskan sebab periode serta pemicu nyeri Rasional : untuk mengetahui penyebab nyeri b) Jelaskan teknik meredakan nyeri

Rasional : untuk mengetahui bagaimana teknik mereda nyeri c) Anjurkan monitor nyeri secara mandiri.

Rasional : agar melakukan monitor nyeri secara mandiri tanpa bantuan perawat maupun kerabat dekat.

d) Anjurkan mengunakan analgetik secara tepat

Rasional : untuk menggunakan analgetik yang sudah diberikan e) Ajarkan teknik non farmakologis buat kurangi rasa nyeri

Rasional : buat meredakan atau kurangi rasa nyeri 4) Kolaborasi

(28)

a) Kolaborasi berikan analgetik jika perlu Rasional : buat mencegah nyeri

Diagnosa 2 : Gangguan pola tidur b.d hambatan lingkungan

Tujuan dan kriteria hasil : setelah melakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam, harapan pola tidur baik dengan kriteria hasil : keluhan sulit tidur baik, keluhan tidak puas tidur turun.

Rencana tindakan : 1) Dukungan tidur :

1. Observasi

a. Identifikasi pola aktivitas dan tidur

Rasional : untuk mengetahui pola aktivitas serta tidur

b. Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik ataupun psikologis) Rasional : untuk mengetahui yang menjadi faktor pengganggu tidur

c. Identifikasi makanan serta minum yang ganggu tidur (meliputi.

Alkohol serta Kopi)

Rasional : untuk mengetahui makanan dan minuman yang mengganggu tidur

2. Terapeutik

a. Batasi waktu tidur siang, jika perlu

Rasional : agar membatasi waktu tidur siang b. Tetapkan jadwal tidur rutin

Rasional : untuk mengatur tidur secara rutin 3. Edukasi

a. Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit

Rasional : agar memahami penting tidur yang cukup selama sakit

b. Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur

Rasional : agar dapat menepati kebiasaan waktu tidur secara teratur

Diagnosa 3 : Defisit pengetahuan b.d kurang terpapar informasi

Tujuan dan kriteria hasil : setelah melakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam harapan klien bisa mengetahui dan memahami penyakit yang diderita dengan kriteria hasil : klien mampu melaksanakan prosedur

(29)

penatalaksanaan yang telah dijelaskan oleh tenaga kesehatan, serta klien dapat penjelasan tentang yang dijelaskan oleh tenaga kesehatan.

Rencana tindakan : 1. Edukasi kesehatan.

1) Observasi

a) Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi Rasional : agar mampu memahami informasi

b) Identifikasi faktor-faktor yang dapat peningkatan dan penurunan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat

Rasional : untuk mengetahui faktor meningkat dan menurunnya motivasi perilaku hidup bersih dan sehat

2) Terapeutik

a) Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan

Rasional : untuk memahami materi tentang pengetahuan kesehatan

b) Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan

Rasional : buat mengatur jadwal agar berjalan dengan lancar c) Berikan kesempatan untuk bertanya

Rasional : untuk memberikan kesempatan bertanya jika tidak mengetahui tentang pendidikan kesehatan

3) Edukasi

a) Jelaskan faktor resiko yang dapat mempengaruhi kesehatan Rasional : untuk mengetahui faktor yang bisa dipengaruhi kesehatan

b) Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat

Rasional : agar bisa menerapkan perilaku hidup bersih serta sehat

c) Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat

Rasional : untuk mengetahui strategi peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat

(SIKI, 2016)

(30)

3.3 Konsep Dasar Gerontik 1. Pengertian Lansia

Lanjut umur ialah sesi akhir pertumbuhan pada fase kehidupan manusia yang ialah sesuatu proses natural yang tidak bisa dihindari oleh tiap orang(Annisa and Ifdil 2016). Lanjut usia ialah proses natural yang tidak bisa dihindari. Terus menjadi bertambahnya umur, guna badan hadapi kemunduran menyebabkan lanjut usia lebih gampang tersendat kesehatannya, baik kondisi raga ataupun kesehatan jiwa(Rohadi, Putri, and Karimah 2016).

Berdasarkan definisi diatas dapat dinyatakan bahwa lanjut usia adalah sesi akhir pada fase kehidupan. Lansia mengalami kemunduran yang menyebabkan lebih mudah terhambat kesehatannya, baik kondisi raga ataupun kesehatan jiwa.

2. Aging Process (proses penuaan)

Proses penuaan( aging process) ialah proses yang natural diisyarati dengan terdapatnya menyusutnya ataupun berubahnya keadaan raga, psikologis ataupun social pada dikala lansia berhubungan dengan orang lain. Proses menua bisa merendahkan keahlian kognitif serta penyusutan kognitif serta energi ingat.(Kuswati, Sumedi, and Hartati 2020)

Lanjut usia terjalin pergantian secara fisiologis, kognitif serta kesehatan psikologis hendak terdampak berkurangnya keahlian penuhi kebutuhan fungsional, kecemasan, menarik diri serta ketidakmampuan buat mengambil keputusan yang berkaitan dengan kebutuhannya.

Pergantian raga meliputi pergantian penampilan, pergantian sistem organ badan dalam yang berbeda, pergantian terhadap guna psikologis, pergantian seksualitas serta penampilan, pergantian pada sistem syaraf.

(Pambudi, Dwidiyanti, and Wijayanti 2018) 3. Penurunan fungsi lansia

Lanjut usia diakibatkan terdapatnya pergantian terdapatnya pergantian fisiologis yang terjalin oleh organ. Semacam pergantian fisiologis yang terjalin mengakibatkan proses penuaan antara lain:

1) Sistem penginderaan

Lanjut usia hadapi penyusutan persepsi sensori yang menjadi ketidaknyamanan bersosialisasi sebab terjalin mundurnya dari fungsi- fungsi sensoris yang dimiliki. Indera yang mempunyai semacam

(31)

ialah bagian integrasi dari persepsi sensori a) Penglihatan

Pertambahan umur, lemak hendak berakumulasi disekitar kornea serta dibentuk lingkaran berupa putih ataupun kuning di antara iris serta sclera. Peristiwa tersebut adalah arkus sinilis, umumnya di temukan pada lanjut umur. Pergantian penglihatan serta fungsi mata diduga normal pada proses penyusutan yang tercantum pengurangan keahlian dalam dilaksanakan akomodasi, konstriksi pupil akibat penyusutan serta pergantian warna dan keruhan lensa mata, yang katarak.

Perihal ini menyebabkan akibat pada penyusutan keahlian sistem visual dari indera penglihatan, perannya memberikan informasi ke lapisan saraf pusat tentang posisi serta letak tubuh terhadap area di dekat bagian tubuh hingga bisa pertahankan posisi supaya tidak jatuh serta senantiasa tegak.

b) Pendengaran

Sistem panca indera yang lain merupakan berubahnya sistem pendengaran. Terjadinya beberapa perubahan seperti presbiakusis ialah kendala pendengaran sebab hilang kemampuan daya dengar di telinga dalam, khususnya terhadap bunyi serta nada yang tinggi, pada bunyi tak jelas, pada kalimat susah dipahami.

2) Sistem persyarafan

Sistem persyarafan mengalami beberapa penurunan meliputi cepatnya penurunan hubungan persyarafan, berat otak menurun 10-20% (setiap orang berkurang sel saraf otaknya dalam setiap harinya), Lambat dalam respoon serta waktu agar bereaksi,khususnya stress. Mengecil nya saraf panca indera : berkurang penglihatan, hilang pendengaran, kecilnya saraf penciuman, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin dan berkurangnya sensitif terhadap sentuhan.

3) Sistem Kardiovaskuler

Terdapat sebagian pergantian yang terjadi pada sistem kardiovaskuler ialah pergantian pada pembuluh- pembuluh leher, curah jantung, bunyi jantung serta murmur. Memanjang serta berkelok- keloknya pembuluh di leher spesialnya pada aorta serta cabang- cabangnya kadangkala menimbulkan arteri karotis berkelok- kelok ataupun tertekuk di pangkal leher, khususnya di sisi kanan. Masa berdenyut yang terjalin

(32)

berhubungan selaku keadaan aneurisma karotis ataupun dapat disebut sebagai dilatasi sejati arteri. Aorta yang berkelok- kelok kadangkala meningkatkan tekanan di vena jugularis sebelah kiri leher dengan mengganggu drainase vena ini di dalam thoraks.

Pergantian sistem kardiovaskuler dijabarkan oleh( Azizah, 2011: 12) antara lain tambahnya massa jantung, pada ventrikel kiri akibat hipertrofi, serta kemampuan peregangan jantung menurun akibat terbentuknya pergantian pada jaringan ikat serta penumpukan lipofusin serta klasifikasi SA node dan akibat dari berubahnya jaringan konduksi jadi jaringan ikat. Pergantian yang yang lain ialah konsumsi oksigen pada tingkatan optimal menurun yang hendak menyebabkan kapasitas pada paru menurun. Dalam perihal ini kegiatan fisik ataupun aktivitas berolahraga sangat dibutuhkan guna tingkatkan Volume O2 ( oksigen) maksimum, kurangi tekanan darah serta guna merendahkan tekanan darah.

Kendala yang terjalin pada sistem kardiovaskuler pada lanjut usia ialah pada bilik aorta terjalin penyusutan elastisitas, tidak cuma itu kaliber pada aorta juga hadapi pertumbuhan.

Pergantian secara fisiologis ini bisa terjalin pada katup- katup jantung di mana inti sel pada sel- sel katup jantung ini menurun dari jaringan fibrosa stroma jantung, penumpukan lipid, degenerasi kolagen, serta pula klasifikasi jaringan fibrosa jaringan katup tersebut. Dimensi katup juga meningkat bersamaan akumulasi umur. Irama inheren pada jantung menyusut dengan bertambahnya umur. Perihal ini diakibatkan oleh menyusutnya denyut jantung. Denyut jantung pada lanjut usia senantiasa rendah apabila dibanding dengan orang berusia, meski pada lanjut usia yang kerap melaksanakan kegiatan raga. Aritmia berbentuk ekstrasistol pada lanjut usia, ditemui lebih dari 10% pada lanjut usia yang periksakan EKG nya secara teratur. Perihal yang tidak berganti pada lanjut usia merupakan guna sistolik pada jantung.

4) Sistem Pencernaan

Pada sistem pencernaan lanjut usia hadapi anoreksia yang terjalin akibat pergantian keahlian digesti serta absorpsi pada badan lanjut usia. Tidak hanya itu lanjut usia hadapi penyusutan sekresi asam serta enzim. Pergantian yang lain merupakan pergantian pada morfologik yang terjalin pada mukosa, kelenjar serta otot pencernaan yang hendak berakibat pada terganggunya guna mengunyah serta menelan, dan

(33)

5) Sistem Reproduksi

Pada sistem reproduksi pergantian yang terjalin pada lanjut usia diisyarati oleh kecil ovari serta uterus, terjalin atrofi buah dada.

Terhadap pria testis bisa diproduksi spermatozoa walaupun terdapatnya penyusutan secara berangsuran, dan dorongan seks masih terdapat sampai umur 70 tahun.

6) Sistem Endokrin

Sistem endokrin ada sebagian hormon yang dibuat jumlah besar dalam respon menanggulangi tekanan pikiran. Akibat kemunduran penciptaan hormon pada lanjut usia, lanjut usia juga hadapi penyusutan respon dalam mengalami tekanan pikiran.

7) Integumen

Pergantian sistem integumen diisyarati oleh kulit lanjut usia yang hadapi atrofi, kendur, tidak elastis, kering serta mengkerut. Pergantian tersebut yaitu pergantian terhadap kulit lanjut usia dimana kulit pada lanjut usia hendak jadi kering diakibatkan dari minimnya cairan oleh kulit hingga kulit jadi berbecak serta tipis. Atrofi sebasea serta glandula sudoritera ialah pemicu dari timbulnya kulit kering. Liver spot juga jadi ciri dari berubah sistem integumen pada lanjut usia.

Liver spot ini ialah suatu melamin bercorak cokelat yang timbul pada kulit.

8) Sistem muskulosketal

Penurunan pada jaringan muskuloskeletal meliputi:

a. Otot

Pergantian yang terjalin pada otot lanjut usia meliputi penyusutan jumlah serta dimensi serabut otot, kenaikan jaringan penghubung serta jaringan lemak pada otot. Akibat terbentuknya pergantian morfologis pada otot, lanjut usia hendak hadapi penyusutan kekuatan, penyusutan fleksibilitas, kenaikan waktu respon serta penyusutan keahlian fungsional otot.

b. Sendi

Pergantian pada lanjut usia di wilayah sendi meliputi menyusutnya elastisitas jaringan ikat semacam tendon, ligament serta fasia. Terjalin degenerasi, erosi dan kalsifikasi pada kartilago serta kapsul sendi.

Terjalin pergantian pula pada sendi yang kehabisan fleksibilitasnya sehingga luas serta gerak sendi juga jadi menyusut. Dampaknya lanjut usia hendak hadapi perih sendi, kekakuan sendi, kendala kegiatan,

(34)

c. Tulang

Pergantian yang terjalin pada tulang yaitu kurang padat tulang.

Kurangnya padatnya tulang ini jadi pemicu osteoporosis pada lanjut usia. Peristiwa jangka panjang yang hendak terjalin kala lanjut usia sudah hadapi osteoporosis merupakan perih, deformitas serta fraktur.

Oleh karena itu, kegiatan raga juga jadi upaya preventif yang pas.

d. Jaringan penghubung (kolagen serta elastin)

Kolagen ialah dukungan oleh kulit, tendon, tulang serta jaringan pengikat jadi suatu batang yang tidak tertib. Pergantian pada kolagen ini jadi pemicu penurunan fleksibilitas pada lanjut usia hingga mencuat akibat perih, penyusutan keahlian buat tingkatkan kekuatan otot, kesusahan duduk serta berdiri, jongkok serta berjalan. Upaya yang butuh dicoba merupakan upaya fisioterapi.

e. Kartilago

Jaringan kartilago oleh sendi yang lunak dan hadapi granulasi dimana hendak membagikan akibat pada rata permukaan sendi.

4. Penyakit yang terjadi pada lansia

Perubahan fisiologi yang terjalin oleh lanjut usia. Disebabkan fungsi semacam organ tubuh mengalami penyusutan. Penurunan fungsi fisiologis pada sistem endokrin, gaya hidup yang tidak sehat pada lansia berpotensi menderita penyakit hipertensi kemungkinan yang terjadi komplikasi yang sangat tinggi, salah satu penyakit yang sering diderita lanjut umur ialah penyakit kardiovaskuler dan diabetes meilitus.

(35)

BAB III

RESUME ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian

Pengkajian ini dilakukan pada hari Selasa tanggal 08 Desember 2020 pukul 08.15 WIB. Penulis mengelola kasus pada Ibu K dengan masalah penyakit hipertensi di Kota Semarang. Di dapatkan gambaran kasus sebagai berikut :

1. Identitas

Pasien bernama Ibu K lahir di Semarang 17 Januari 1960. Pasien berusia 60 tahun yang tinggal di Semarang. Pasien beragama Islam.

Pendidikan terakhir pasien SMP. Pasien di rawat di rumah dan diagnosa medis Hipertensi.

2. Riwayat kesehatan

a) Riwayat kesehatan yang lalu : Pasien berkata sudah lama mempunyai penyakit hipertensi dan pasien rutin mengecek ke puskesmas untuk mengetahui peningkatan hipertensinya atau penurunannya. Pasien berkata tidak pernah di rawat di rumah sakit. Pasien tidak pernah mengalami kecelakaan dan tidak memiliki alergi.

b) Riwayat Kesehatan Sekarang : Pasien mengatakan selama pasien mengalami hipertensi pasien merasakan keluhan seperti nyeri pada bagian kepala, kelelahan pada saat melakukan aktivitas berlebih, sering merasakan pusing , nyeri terasa seperti mencekram dan nyeri yang di rasakan hilang timbul, wajah pasien tampak meringis. Pasien berkata kesulitan tidur di malam hari, mudah terbangun dan merasa gelisah.

c) Riwayat Kesehatan Keluarga : Pasien berkata keluarga tidak memiliki riwayat hipertensi serta tidak memiliki penyakit keturunan.

3. Kebiasaan Sehari-hari

Biologis : Pola makan dan minum : Pasien berkata makan sehari 3x sehari 1 porsi makan serta pasien mengatakan kurang lebih minum 8 gelas sehari dan lebih sering minum air putih sehari-harinya. Menu yang dikonsumsi nasi, sayuran dan ikan. Pola tidur : Pasien mengatakan sering terbangun tengah malam ketika hipertensinya

(36)

kambuh dan sulit tidur pada malam hari. Pasien tidur malam mulai pukul 21.00-03.00 pagi. Pasien tidur siang mulai pukul 13.00 sering tidak tidur siang. Pola eliminasi : Pasien mengatakan tidak ada kesulitan pada BAB dan BAK. Pasien BAB 1x sehari dengan konsistensi padat berwarna kuning dan BAK kurang lebih 4-5 dalam sehari lancer konsistensi cair dan berwarna kuning. Aktivitas dan istirahat : Pasien mengatakan selalu melakukan aktivitas di rumah yaitu membuat kerupuk gendar dan ketika istirahat selalu terganggu ketika nyeri kepala muncul. Rekreasi : Pasien mengatakan tidak pernah berekreasi. Psikologis : Pasien mengatakan selalu bahagia dan menikmati masa tuanya. Hubungan sosial : Hubungan dengan anggota kelompok : Pasien mengatakan tidak ada masalah dalam hubungan dengan masyarakat. Kemudian dengan hubungan keluarga : Pasien mengatakan hubungan keluarga tidak ada masalah. Spiritual / kultur : Pasien mengatakan selalu menjalankan sholat 5 waktu berjamaah.

Keyakinan terhadap kesehatan : klien meyakini bahwa penyakit yang di derita adalah cobaan dari Allah SWT. dan terus berupaya berobat dan berdoa meminta kesembuhan kepada Allah SWT.

4. Pemeriksaan Fisik

Tingkat kesadaran Composmentis atau Baik. Tanda vital TD 155/100 mmHg, Nadi 95 x/menit, Suhu 36,6 C, Pernapasan 20 x/menit, BB 66 kg, TB 155 cm. Pemeriksaan dan kebersihan perorangan : Pasien tampak bersih dan mampu merawat diri dan selalu menjaga kebersihannya. Keadaan umum pasien tampak baik ketika nyerinya kambuh pasien merasa cemas hingga mengalami kesulitan tidur. Integumen (kulit) : kulit tampak mulai keriput, warna kulit sawo matang, tidak ada lesi atau luka. Kepala : berbentuk mesocepal warna rambut putih dan hitam, merasakan sakit kepala dan sering pusing pada saat darah tinggi kumat. Mata : pasien mengatakan tidak mengalami masalah pada mata, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, tidak ada perubahan penglihatan, tidak ada edema dan pasien tidak menggunakan kacamata. Telinga : Pendengaran pasien tidak ada perubahan atau penurunan, telinga simetris antara kanan dan kiri, tidak

(37)

menggunakan alat bantu pendengaran, tidak ada serumen dan infeksi.

Mulut dan tenggorokan : tidak ada kesulitan berbicara, tidak ada kesulitan menelan, gigi sudah mulai berkurang. Leher : nyeri pada saat posisi tidur tidak nyaman dan tidak ada benjolan. Pernafasan : normal, tidak ada sesak dan tidak menggunakan alat bantu pernafasan.

Kardiovaskuler : Inspeksi : tidak ada pembesaran, tidak ada lesi atau luka, palpasi : tidak teraba adanya benjolan, perkusi : bunyi jantung redup, auskultasi : terdengar bunyi lupdup, gastrointestinal : terdengar bising usus normal 7x/menit, perkemihan : tidak mengalami masalah pada sistem perkemihan, frekuensi berkemih dalam batas normal 6- 7x/hari, musculoskeletal : klien mengatakan nyeri pinggang pada saat melakukan aktivitas berlebihan, sistem saraf pusat : wajah simestris, pasien mengatakan sakit kepala, kesadaran composmentis, ketajaman penglihatan menurun, pendengaran normal, tidak ada kelainan pada pupil, sistem endokrin : pasien tidak pernah mengalami penyakit gondok, adanya perubahan pada kulit dan perubahan pada rambut.

5. Pemeriksaan (psikososial/spiritual)

Psikososial : Pasien mampu bersosialisasi secara baik dengan orang lain, dan orang yang baru kenal. Pasien juga memiliki sikap yang baik serta ramah tamah terhadap orang lain. Identifikasi masalah emosional : dari pertanyaan dua tahap yaitu tahap pertama dan tahap kedua.

Pertanyaan tahap pertama klien mengalami masalah kesulitan tidur, pertanyaan tahap kedua klien mengalami masalah nyeri lebih dari 1 kali dalam 1 bulan. Spiritual : Klien beragama Islam. Kegiatan agama yang dilakukan adalah sholat 5 waktu di masjid. Klien juga percaya bahwa penyakit yang di derita adalah cobaan dari Allah SWT . Allah yang kasih dan Allah juga yang memberi untuk penghapus dosa.

a. Pengkajian Indeks Katz

Aktivitas klien bernilai A dengan kategori klien mandiri dalam bathing, dressing, toileting, transferring, continence dan feeding.

b. Pengkajian fungsional ( barthel indeks )

Pada pemeriksaan klien yang didapat dikategorikan dengan ketergantungan sebagian yaitu jumlah skor 65-115.

c. Pengkajian status mental ( SPSMQ)

(38)

Pada pengkajian status mental (SPSMQ) interprestasi hasil di dapatkan salah 0-3 ini menunjukan bahwa fungsi intelektual klien utuh.

d. Pengkajian aspek kognitif mini mental status exam (MMSE) Interprestasi hasil yang didapat dari klien 25 yaitu aspek kognitif dan fungsi mental baik.

3.2 Analisa data

Tanggal / jam : 08 Desember 2020 pukul 09.30 WIB. Data fokus : Data Subjektif : klien berkata sulit tidur pada malam hari, sering terbangun dan merasa gelisah. Data objektif : mata klien tampak sayu dan wajahnya tidak segar, klien tampak gelisah. TD : 155/100 mmHg, Nadi : 95 x/menit, Suhu : 36,5 C, Pernafasan : 20 x/menit. Diagnosa keperawatan : Gangguan pola tidur b.d hambatan lingkungan.

Data focus : Data Subjektif : Klien berkata sering mengalami nyeri pada kepala, P : nyeri dirasakan saat melakukan aktivitas, Q : nyeri terasa seperti mencekram, R : nyeri pada bagian kepala, S : skala nyeri 4, T : hilang timbul. Data objektif : klien tampak meringis saat menahan nyeri dan klien tampak lemas. TD : 155/100 mmHg, N : 95 x/menit, S : 36,6 C, Pernafasan : 20 x/menit. Diagnosa Keperawatan : Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis.

3.3 Diagnosa keperawatan

Diagnosa 1 : Gangguan pola tidur b.d hambatan lingkungan Diagnosa 2 : Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis.

3.4 Rencana asuhan keperawatan.

Diagnosa 1 : Gangguan pola tidur b.d hambatan lingkungan.

Tujuan dan kriteria hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam diharapkan gangguan pola tidur berkurang dengan kriteria hasil : pola tidur membaik, klien dapat tidur nyaman dan rileks. Rencana tindakan : Identifikasi masalah gangguan tidur klien, karakteristik dan penyebab, Lakukan persiapan untuk tidur malam jam 8-4 pagi, Keadaan tempat tidur yang nyaman atau lingkungan yang aman.

(39)

Diagnosa 2 : Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis. Tujuan dan kriteria hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam diharapkan nyeri dapat berkurang dengan kriteria hasil : nyeri dapat terkontrol, skala nyeri menurun, mampu menggunakan teknik nonfarmakologis. Rencana tindakan : Identifikasi lokasi,karakteristik,durasi,frekuensi,kualitas, dan intensitas nyeri, Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri, Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (mis. Tarik nafas dalam, hypnosis, terapi musik, terapi pijat, aromaterapi, dll)

3.5. Implementasi keperawatan

Implementasi diagnosa pertama yaitu gangguan pola tidur b.d hambatan lingkungan. Pada tanggal 09 Desember 2020 pukul 10.00, Mengidentifikasi masalah gangguan pola tidur klien, karakteristik dan penyebab. Data subjektif : klien mengatakan gangguan pola tidur sedikit berkurang. Data objektif : klien tampak rileks. Pada pukul 10.30 WIB, Menganjurkan klien untuk tidur malam jam 8-4 pagi. Data subjektif : klien mengatakan akan mengatur tidur malam secara teratur.

Data objektif : klien tampak mengatur jadwal tidur. Pada pukul 11.00 WIB, Menganjurkan klien untuk memakai tempat tidur yang nyaman, bersih dan bantal yang nyaman. Data subjektif : klien mengatakan bersedia mengikuti anjuran tersebut. Data objektif : klien tampak lebih tenang.

Implementasi diagnosa kedua yaitu nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis. Implementasi hari pertama dilakukan pada tanggal 10 Desember 2020 pada pukul 09.00 WIB, Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri. Data Subjektif : klien mengatakan nyeri dan pusing pada bagian kepala, P : nyeri dirasakan saat melakukan aktifitas, Q : nyeri terasa seperti mencekram, R : nyeri pada bagian kepala, S : skala nyeri 4, T : hilang timbul. Data objektif : klien tampak meringis menahan nyeri. Pada pukul 09.30 WIB, Mengidentifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri. Data subjektif : klien mengatakan nyeri kepala sangat terasa saat melakukan aktivitas berat dan nyeri berkurang saat

(40)

klien beristirahat dengan cukup. Data objektif : klien tampak lemas dan menahan sakit.

Pada pukul 10.00 WIB, Mengajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (tarik nafas dalam). Data subjektif : klien mengatakan bersedia untuk melakukan tarik nafas dalam sesuai dengan yang diajarkan. Data objektif : klien tampak melakukan teknik relaksasi tarik nafas dalam yang sudah diajarkan.

Implementasi diagnosa kedua pada hari kedua, tanggal 10 Desember 2020 pukul 11.00 WIB, Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri. Data subjektif : klien mengatakan nyeri dan pusing pada bagian kepala. P : nyeri dirasakan saat melakukan aktifitas, Q : nyeri terasa seperti mencekram, R : nyeri pada bagian kepala, S : skala nyeri 3, T : hilang timbul. Data objektif : klien tampak meringis menahan sakit. Pada pukul 11.15 WIB, Mengidentifikasi faktor memperberat dan memperingan nyeri. Data subjektif : klien mengatakan nyeri kepala masih terasa sakit ketika melakukan aktivitas. Data objektif : klien tampak lemas. Pada pukul 11.30 WIB, Mengajarkan teknik nonfarmakologis (tarik nafas dalam) untuk mengurangi nyeri. Data subjektif : klien mengatakan bersedia untuk melakukan tarik nafas dalam. Data objektif : klien tampak kooperatif.

Implementasi diagnose pertama pada hari ketiga tanggal 11 Desember 2020 pukul 08.00 WIB, Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri. Data subjektif : klien mengatakan nyeri dan pusing pada bagian kepala. P : nyeri dirasakan saat melakukan aktifitas, Q : nyeri terasa seperti mencekram, R : nyeri pada bagian kepala, S : skala nyeri 2, T : hilang timbul. Pada pukul 08.15 WIB, Mengidentifikasi faktor memperberat dan memperingan nyeri.

Data subjektif : klien mengatakan nyeri kepala sudah berkurang. Data objektif : klien tampak segar. Pada pukul 08.30 WIB, Mengajarkan teknik nonfarmakologis (tarik nafas dalam) untuk mengurangi nyeri.

Data subjektif : Klien mengatakan mau diajarkan tarik nafas dalam.

Data objektif : klien tampak mempraktekan tarik nafas dalam secara mandiri yang diajarkan oleh perawat.

(41)

3.5 Evaluasi

Evaluasi pada hari pertama tanggal 09 Desember 2020 pada pukul 12.30 WIB, implementasi diagnosa pertama mendapatkan hasil yaitu data subjektif klien mengatakan sudah mulai bisa tidur dimalam hari dan merasakan ketenangan karena selalu berfikir positif. Data objektif klien terlihat lebih tenang. Assessment dalam penilaian implementasi adalah tujuan teratasi, masalah teratasi. Rencana tindakan menetapkan intervensi dihentikan.

Pada tanggal 10 Desember 2020, pukul 11.30 WIB evaluasi dari implementasi diagnosa kedua yaitu data subjektif klien berkata nyeri sedikit berkurang karena dilakukan perawatan tarik nafas dalam, P : klien mengatakan nyeri pada bagian kepala, Q : nyeri terasa seperti mencekram, R : nyeri pada bagian kepala, S : skala nyeri 4, T : hilang timbul. Assasment dalam penilaian implementasi adalah tujuan teratasi sebagian, masalah belum teratasi. Rencana tindakan menetapkan lanjutan intervensi meliputi identifikasi tempat, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intesitas nyeri, mengidentifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri, memberikan teknik nonfarmakologis (tarik nafas dalam) untuk mengurangi rasa nyeri.

Pada tanggal 10 Desember 2020, pukul 12.00 WIB evaluasi dari implementasi diagnosa kedua yaitu data subjektif klien mengatakan nyeri sedikit kurang karena dilakukan perawatan tarik nafas dalam untuk mengurangi nyeri. P : klien mengatakan nyeri pada bagian kepala, Q : nyeri terasa seperti mencekram, R : nyeri pada bagian kepala, S : skala nyeri 3, T : hilang timbul. Assasment dalam penilaian implementasi adalah tujuan teratas , masalah teratasi sebagian. Rencana tindakan menetapkan lanjutan intervensi meliputi mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intesitas nyeri, mengidentifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri, memberikan teknik nonfarmakologis (tarik nafas dalam) untuk mengurangi rasa nyeri.

Pada tanggal 11 Desember 2020, pukul 10.00 WIB evaluasi dari implementasi diagnosa kedua yaitu data subjektif klien mengatakan nyeri sedikit berkurang karena dilakukan perawatan tarik

(42)

nafas dalam untuk mengurangi nyeri. P : klien mengatakan nyeri pada bagian kepala, Q : nyeri terasa seperti mencekram, R : nyeri pada bagian kepala, S : skala nyeri 2 , T : hilang timbul. Assasment dalam penilaian implementasi adalah tujuan teratasi, masalah teratasi sebagian. Rencana tindakan menetapkan lanjutan intervensi meliputi mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, mengidentifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri, memberikan teknik nonfarmakologis (tarik nafas dalam) untuk mengurangi nyeri.

(43)

BAB IV PEMBAHASAN

Pada bab IV penulis memaparkan hasil analisa asuhan keperawatan pada ibu K dengan diagnose hipertensi di Kota Semarang yang disesuaikan dengan teori yang didapat. Asuhan keperawatan pada ibu K dikelola selama tiga hari pada tanggal 09 Desember 2020 sampai 11 Desember 2020.

Pada bab ini penulis ingin membahas tentang penyelesaian masalah yang ditemukan dan disesuaikan dengan konsep dasar yang terdapat di bab II dengan memperhatikan proses asuhan keperawatan yaitu pengkajian, diagnose keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi keperawatan. Setelah itu penulis akan menyarankan diagnose keperawatan yang seharusnya ada, namun tidak diangkat oleh penulis dan ditambahkan penulis di pembahasan ini serta membahas intervensi utama yang diperkuat dengan hasil penelitian.

5.1 Pengkajian

Dari pengkajian yang telah dilakukan penulis pada hari Rabu 09 Desember 2020 pukul ditemukan pasien ibu K dengan diagnosa Hipertensi. Pengertian dari Hipertensi sendiri ialah suatu keadaan yang mengalami kenaikan tekanan diastol dan sistolik yang lebih diatas batas normal (tekanan sistolik diatas 140 mmHg dan diastole diatas 90 mmHg) . Akibat dari penyakit hipertensi biasanya seseorang akan mengalami nyeri kepala . Nyeri kepala seperti adanya pergeseran jaringan intracranial yang peka nyeri akibat meningginya tekanan intrakranial.

Akibat dari hipertensi tersebut juga didapatkan pada pasien. Hipertensi ditandai dengan adanya pusing, sakit kepala, mudah marah, terasa pegal atau nyeri leher akan mengganggu aktivitas sehari-hari dan mudah lelah. Tanda-tanda tersebut dialami oleh pasien yaitu pasien mengalami sakit kepala, pusing, terasa pegal atau nyeri leher. Pada pengkajian riwayat keluarga penulis akan menjabarkan tidak ada

(44)

penyakit keturunan. Klien tinggal serumah dengan suami dan anaknya. Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan didapatkan data yang abnormal pada pemeriksaan pola tidur yaitu pasien megalami sulit tidur, gelisah, tidur terganggu. Pada pemeriksaan vital sign tekanan darah diatas normal yaitu 155/100 mmHg. Pada pemeriksaan fisik mengalami nyeri pada bagian kepala. Dengan ditemukannya hasil abnormal pada saat pengkajian maka penulis menegakkan prioritas diagnosa keperawatan gangguan pola tidur dengan intervensi utama Menganjurkan klien untuk tidur malam jam 8-4 pagi

5.2 Diagnosa keperawatan

1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan

Menurut (Tim Pokja SDKI DPP PPNI 2017) gangguan pola tidur adalah gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat factor eksternal. Tanggal 08 Desember 2020 penulis mengangkat diagnosa sebab itu saat pengkajian. Diperoleh karena Pasien mengalami sulit tidur selama penyakit tekanan darah tinggi meningkat. Pasien sering terbangun dan merasa gelisah. Batasan karakteristik dalam Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI) sudah sesuai ialah keluh sulit tidur dan mengeluh tidak puas tidur dan mengeluh sering terjaga.

Alasan penulis memilih diagnosa gangguan pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan sebagai prioritas diagnosa kedua karena berdasarkan hierarki kebutuhan Abraham Maslow berupa kebutuhan fisiologis. Tidur yakni kondisi rehat yang diperlakukan oleh manusia secara reguler. Tidur memiliki dampak yang sangat besar ialah terhadap kesehatan raga, emosi, mental serta sistem imunitas badan. Seorang yang mutu serta kuantitas tidurnya kurang cenderung lebih gampang terkena penyakit, antara lain merupakan serangan jantung, anemia serta tekanan darah(Susanto 2018). Intervensi untuk diagnosa gangguan pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan selama 3x8

(45)

jam. Penulis akan menjabarkan rencana tindakan yang ditegakkan yaitu identifikasi masalah gangguan tidur pada klien, karakteristik dan penyebab, lakukan persiapan untuk tidur malam 8-4 pagi, keadaan tidur yang aman atau lingkungan yang nyaman.

Implementasi dilakukan selama tiga hari mulai tanggal 08 Desember 2020 sampai 10 Desember 2020. Penulis menerapkan jadwal tidur yang baik. Pola tidur meliputi kecepatan tidur yang cocok kebutuhan bagi usia, tidur nyenyak tidak terbangun sebab sesuatu perihal di sela-sela waktu tidur. Sebaiknya pada pola tidur kurang baik meliputi durasi tidur yang kurang dari kebutuhan bagi usia, tidur sangat larut malam serta bangun sangat kilat, tidur tidak nyenyak kerap terbangun sebab sesuatu perihal(Ludyaningrum 2016).

Evaluasi dilakukan selama 3 hari dari tanggal 08 Desember 2020 sampai 10 Desember 2020. Hasil dari evaluasi selama 3 hari masalah pasien telah atasi. Penulis menyarankan agar selalu mengatur pola tidur yang baik dan jadwal tidur yang rutin.

2. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis Bagi (Tim Pokja SDKI DPP PPNI 2017) nyeri akut yakni pengalaman sensorik ataupun emosional yang berkaitan dengan kehancuran jaringan aktual ataupun fungsional, dengan onset tiba- tiba ataupun lelet serta intensitas ringan sehingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan. Tanggal 08 Desember 2020 penulis mengangkat diagnosa tersebut karena pada saat pengkajian di dapatkan data pasien sakit kepala disertai nyeri dan pusing TD : 150/100 mmHg. Batasan karakteristik dalam Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI) sudah sesuai yaitu adanya mengeluh nyeri dan tekanan darah meningkat.

Diagnosa nyeri akut menjadi diagnosa prioritas pertama karena dalam pemenuhan kebutuhan aman dan nyaman menurut Abraham Maslow. Kebutuhan nyaman serta aman ialah salah satu kebutuhan yang wajib padati oleh manusia. Hal inilah dapat mengetahui nyeri berskala 4 atau 3. Oleh karena itu diagnose nyeri akut ditegakkan agar masalah tersebut dapat diselesaikan.

Referensi

Dokumen terkait