• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN STROKE NON HEMORAGIK DI RUANG STROKE CENTER

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN STROKE NON HEMORAGIK DI RUANG STROKE CENTER "

Copied!
112
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Asuhan keperawatan pada pasien stroke non hemoragik di ruang stroke center RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Pelaksanaan keperawatan dilakukan pada pasien 1 dan pasien 2 sesuai dengan intervensi yang direncanakan berdasarkan teori yang ada dan sesuai dengan kebutuhan pasien Stroke Non Hemoragik.

Tujuan Penulisan

  • Tujuan Umum
  • Tujuan Khusus

Manfaat Penulisan

  • Bagi Penulis
  • Bagi Tempat Penelitian
  • Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan

Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi aspirasi pada pasien dengan kriteria outcome. Sedangkan pada pasien 2 juga terdapat tiga diagnosa keperawatan yang sesuai dengan teori yaitu pola nafas tidak efektif, mobilitas fisik berkurang dan resiko jatuh.

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Etiologi

Stroke trombotik dapat dibagi menjadi stroke pembuluh darah besar (termasuk sistem arteri karotis) dan pembuluh darah kecil (termasuk lingkaran Willis dan lingkaran posterior). Menyebabkan aneurisma, yaitu dinding pembuluh darah yang lemah atau menjadi lebih tipis sehingga mudah pecah.

Patofisiologi

Patch autoregulation adalah kemampuan intrinsik pembuluh darah serebral untuk mengatur pembuluh darah serebral agar tetap konstan meskipun terjadi perubahan tekanan perfusi serebral. Autoregulasi serebral adalah kemampuan intrinsik dari pembuluh darah serebral untuk menyesuaikan pembuluh darah serebral agar tetap konstan meskipun ada perubahan tekanan perfusi serebral.

Pathway

Manifestasi Klinis

Pemeriksaan Penunjang

Pemindaian ini secara khusus menunjukkan lokasi edema, posisi hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemik, dan posisi persisnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat permasalahan yang timbul dan dampak jaringan yang mengalami infark sehingga impuls listrik pada jaringan otak berkurang. F.

Komplikasi

Faktor Resiko

Penatalaksanaan

ROM

Tinjauan anamnesis pasien 1 dan pasien 2 memiliki keluhan pasien 1 mengalami kelemahan pada ekstremitas kanan atas dan bawah, dan pasien 2 mengalami kelemahan pada ekstremitas kanan bawah. Berdasarkan data yang ada pada hasil anamnesis pola aktivitas sehari-hari, pada saat evaluasi pasien 1 dan pasien 2, pola tidur dan istirahat pasien sama dan tidak ada gangguan pola tidur. Dari hasil analisa penulis dan rumusan masalah, penulis mengidentifikasi diagnosis pola nafas tidak efektif saat pemeriksaan fisik pada pasien 2 dan tidak ditemukan pada pasien 1.

Evaluasi diagnosis ini adalah masalah pola nafas tidak efektif teratasi pada pasien 2, sehingga prosedur dilanjutkan pada pasien 2. Diagnosis pola nafas tidak efektif sesuai dengan teori bahwa pola nafas tidak efektif merupakan masalah yang terjadi pada pasien dengan non -stroke hemoragik. Sedangkan skala Morse pasien 2 tinggi, kekuatan otot menurun dan aktivitas pasien terdukung, sehingga diagnosis resiko jatuh terjadi pada kedua pasien.

Menurut asumsi penulis tentang masalah keperawatan, resiko jatuh dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang terjadi pada pasien 1 dan pasien 2, antara lain skala Morse pasien dalam kategori tinggi yang disebabkan oleh melemahnya kekuatan otot pasien.

Gambar 2.a dan b Latihan ROM aktif pada leher dan bahu
Gambar 2.a dan b Latihan ROM aktif pada leher dan bahu

Konsep Asuhan Keperawatan

  • Pengkajian
  • Diagnosa Keperawatan
  • Intervensi
  • Implementasi
  • Evaluasi

METODE PENULISAN

Subyek Penulisan

Batasan Istilah (Definisi Operasional)

Dapat menggerakkan anggota badan tetapi tidak mampu menahan beban dan tidak mampu menahan tekanan dari pemeriksa. Stroke adalah gangguan peredaran darah di otak yang menyebabkan defisit neurologis secara tiba-tiba sebagai akibat dari iskemia atau perdarahan pada sirkulasi serebral. Hambatan mobilitas fisik adalah keterbatasan gerakan fisik tubuh atau satu atau lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah.

ROM adalah latihan yang dilakukan secara aktif atau pasif sesuai dengan kondisi pasien untuk melatih gerakan otot sendi untuk mencegah kekakuan sendi dan memperlancar peredaran darah.

Tabel 3.1 Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional

Lokasi dan Waktu Penulisan

Prosedur Penulisan

Selanjutnya, berdasarkan data psikososial, saat melakukan asesmen, pasien 1 mampu berkomunikasi dengan baik, namun kalimat yang diucapkan agak kurang jelas dan pasien 2 terbatas dalam berkomunikasi. Dari hasil analisis dan rumusan masalah penulis menemukan diagnosa gangguan komunikasi verbal saat dilakukan pemeriksaan fisik pada pasien 2 tidak mengalami gangguan komunikasi verbal, sedangkan pasien 1 mengalami gangguan komunikasi verbal. Dapat disimpulkan hanya dilakukan 3 intervensi pada pasien 1 sesuai dengan kebutuhan pasien dan evaluasi diagnosis gangguan komunikasi verbal tidak teratasi pada pasien 1 sehingga intervensi dilanjutkan.

Dapat disimpulkan bahwa hanya lima intervensi yang dilakukan untuk pasien 2 karena sesuai dengan kebutuhan pasien dan satu intervensi tidak dilakukan untuk pasien 2. Sedangkan untuk pasien 1 tidak ada sesak nafas karena pasien 1 sudah mengetahui cara menghindari serangan stroke saat datang.Dari hasil analisa dan rumusan masalah yang dilakukan penulis, diperoleh hasil penelitian pada pasien 1 skala Morse dalam kategori sedang, mengurangi kekuatan otot dan membantu kebutuhan pasien akan ADL.

Pada evaluasi penulis terhadap pasien 1 dan pasien 2 berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan penulis terdapat dua diagnosa keperawatan yang mulai teratasi sesuai jadwal yaitu pola nafas tidak efektif dan resiko jatuh, dan teratasi sebagian. yaitu berkurangnya mobilitas fisik dan berkurangnya komunikasi verbal.

Metode dan Instrumen Pengumpulan Data

  • Teknik Pengumpulan Data
  • Instrumen Pengumpulan Data

Keabsahan Data

Validitas data dimaksudkan untuk membuktikan kualitas data/informasi yang diperoleh dalam penelitian sehingga menghasilkan data dengan validitas yang tinggi. Selain integritas peneliti (karena peneliti adalah instrumen terpenting), validitas data dilakukan dengan memperpanjang waktu observasi/tindakan, penambahan sumber informasi melalui triangulasi dari tiga sumber data terpenting yaitu klien, perawat dan keluarga klien sehubungan dengan masalah yang sedang diselidiki.

Analisis Data

  • Pengumpulan Data
  • Pengolahan Data
  • Penyajian Data
  • Kesimpulan

Sedangkan Pasien 2 diperiksa pada 13 Mei 2019, seorang ibu rumah tangga berkebangsaan China berusia 65 tahun. Data diperoleh dari hasil pemeriksaan anamnesis awal yaitu pasien 1 tahun 2007 lalu yang dirawat di rumah sakit. Berdasarkan Tabel 4.2 Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan baik pasien 1 maupun pasien 2 dalam keadaan normal, hanya saja pasien 1 dan pasien 2 mengalami kelemahan otot, kemudian pasien 1 dan pasien 2 mengalami gangguan penglihatan, dan pasien 1 akan mengalami gangguan penglihatan. dapat berkomunikasi dengan baik, sedangkan pasien 2 terbatas dalam berkomunikasi.

Sedangkan nilai hemoglobin dan hematokrit pada pasien 1 dalam batas normal dan pada pasien 2 angkanya di bawah batas normal. Dari hasil analisis dan rumusan masalah yang dilakukan penulis didapatkan diagnosa gangguan mobilitas fisik saat dilakukan pemeriksaan fisik pada pasien 1 dan pasien 2 dengan data pendukung yaitu pasien 1 mengatakan tangan dan kaki kanannya bisa tidak digerakkan dengan kekuatan otot 5/0/5/0 dan pasien 2 mengatakan kaki kanannya tidak dapat digerakkan dengan kekuatan otot 5/5/1/5, pasien tampak lemas hanya berbaring di tempat tidur dan semua aktivitas dibantu oleh keluarga dan perawat. Dengan data penunjang pola nafas pada pasien dengan 2 keluhan yaitu pasien mengeluh sesak nafas, pola nafas pasien tidak normal dengan RR : 26x/menit dan pasien terpasang oksigen kanula nasal 3 liter.

Menurut asumsi penulis tentang masalah keperawatan, pola nafas yang tidak efektif dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang terjadi pada pasien 2, diantaranya pasien mengatakan bahwa sesak nafas yang terjadi akibat sumbatan suplai darah yang mengandung oksigen terganggu dan menyebabkan sesak. nafas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie yang beralamat di Jalan Palang Merah Indonesia No. Fasilitas yang tersedia di RS Abdul Wahab Sjahranie antara lain UGD 24 jam, fasilitas rawat jalan (20 klinik), fasilitas rawat inap (733 tempat tidur), laboratorium, radiologi, radioterapi, fasilitas bantuan medis. Pada penelitian ini peneliti menggunakan Ruang S yaitu ruangan rumah sakit yang digunakan untuk pasien dengan gangguan sistem saraf yang langsung dirawat setelah pasien datang dari UGD.

Bangunan di ruang stroke center terdiri dari 3 kamar rawat inap, setiap kamar terdapat 5 tempat tidur pasien, 4 kamar VIP, ruang tindakan di setiap kamar, nurse station, ruang dokter, ruang utama, 1 kolam renang, 1 gym.

Gambaran Subjek Studi

  • Pengkajian
  • Diagnosa Keperawatan
  • Intervensi Keperawatan
  • Implementasi Keperawatan
  • Evaluasi Keperawatan

Tidak ada masalah untuk pola eliminasi di rumah pasien BAB atau Kencing 1 dan 2 dalam sehari dengan batas normal. Untuk pola makan pasien 1 dan pasien 2 tidak ada masalah, pasien makan 3 kali sehari. Tidak ada lubang hidung, tidak ada sekret, dan tidak ada tulang/septum hidung yang simetris.

Kondisi bibir pasien kering, kondisi gusi tidak ada luka dan berlubang, terdapat karies, kondisi lidah kotor, langit-langit tampak bersih, dan tidak ada peradangan. Pemeriksaan paru-paru, pada saat pemeriksaan toraks tidak simetris kanan dan kiri, dan pasien tidak menggunakan otot bantu pernafasan, palpasi premitus taktil getaran paru kanan dan kiri sama bila pasien mengucapkan 77, perkusi terdengar nyaring dan seterusnya. Pemeriksaan paru-paru, pada saat pemeriksaan toraks tidak simetris kanan dan kiri, dan pasien tidak menggunakan otot bantu pernapasan, palpasi premitus taktil getaran paru kanan dan kiri sama bila pasien mengucapkan 77, perkusi terdengar nyaring, dan saat melakukan auskultasi, terdengar suara nafas vesikular, suara bicara terdengar jelas saat berbicara.

Bila terdengar bunyi jantung I, terdengar bunyi tunggal, irama teratur, terdengar keras (lub) dan bunyi jantung II : bila didengar/didengar, terdengar bunyi tunggal, irama teratur, terdengar keras (dub), tidak ada tambahan bunyi jantung. Pada saat pemeriksaan perut memanjang, tidak ada benjolan di perut, dan tidak ada bayangan pembuluh darah. Otot pasien simetris, tidak ada edema pada pasien, kekuatan otot kanan 5/5 dan kiri 3/3, tidak ada kelainan.

Tabel  4.2  Tabel  Hasil  pemeriksaan  fisik  pada  pasien  Stroke  Non  Hemoragik di ruang Stroke Center RSUD Abdul Wahab Sjahranie
Tabel 4.2 Tabel Hasil pemeriksaan fisik pada pasien Stroke Non Hemoragik di ruang Stroke Center RSUD Abdul Wahab Sjahranie

Pembahasan

Menurut asumsi penulis tentang masalah keperawatan, gangguan komunikasi verbal dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang terjadi pada pasien 1 yaitu pasien berbicara cadel yang terjadi karena kerusakan otak sehingga mengalami gangguan komunikasi verbal. saraf trigeminus. , yang membentuk saraf sensorik utama untuk wajah dan rongga hidung dan mulut. Sedangkan pada pasien 2 tidak terjadi gangguan komunikasi verbal, karena pada pasien 2 baru kejang pertama, sehingga tidak mempengaruhi susunan saraf wajah, menurut hasil pemeriksaan mct-scan pada pasien 2 kesannya serebral atrofi : tidak terlihat kelainan parenkim intraserebral dan intraserebral. Dari data pasien 2 pasien merasa sesak nafas dan sudah dipasang kanula oksigen nasal, namun pada kedua pasien juga terdapat perbedaan, dimana pada pasien 1 RR : 20 x/menit,jam, sedangkan pada pasien 2 RR : 26 x/menit.

Intervensi pada pasien 2 dimana pelaksanaannya hanya dilakukan empat intervensi yaitu pemantauan pernapasan, pengaturan posisi semi fowler pasien menjadi 45o, pemberian nasal kanula O2 3 liter, stabilisasi jalan napas. Dari data kedua pasien memiliki kesamaan yaitu pasien membutuhkan bantuan dari caregiver dan penurunan kekuatan otot pada pasien 1 dan pasien 2, namun kedua pasien tersebut memiliki perbedaan yaitu total skor skala Morse pada pasien 1 60 dengan resiko tinggi sedangkan pada pasien 2 nilai skala Morse adalah 80 dengan kategori resiko tinggi. Intervensi pada pasien 1 dan pasien 2 sama dimana pelaksanaan kedua pasien adalah identifikasi faktor risiko jatuh, identifikasi risiko jatuh minimal satu kali per shift, identifikasi faktor lingkungan yang meningkatkan risiko jatuh , perhitungan resiko jatuh. menggunakan timbangan, memantau kemampuan berpindah dari tempat tidur ke kursi roda dan sebaliknya.

Kesenjangannya adalah dari lima diagnosa keperawatan berdasarkan teori yang telah ditetapkan oleh para ahli pada pasien 1, muncul tiga diagnosa yaitu gangguan mobilitas fisik, gangguan komunikasi verbal dan resiko jatuh.

KESIMPULAN DAN SARAN

Saran

Buku saku keterampilan dan prosedur dasar; Diterjemahkan oleh Didah Rosidah, Monica Ester; Editor Bahasa Indonesia, Monica Esther – Edisi 5.

Gambar

Tabel 2.1 Tabel bagian hemisfer yang terkena serta tanda dan gejala dapat  berupa :
Gambar 2.a dan b Latihan ROM aktif pada leher dan bahu
Gambar 2.e Latihan ROM aktif pada jari-jari  tangan
Gambar 2. c dan d Latihan ROM aktif pada siku dan pergelangan tangan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Simpulan: Diagnosa yang ditemukan pada kasus post operasi herniotomi pada Tn.K adalah Nyeri akut b.d agens cedera fisik (insisi pembedahan), Gangguan mobilitas

Berikut adalah diagnosa yang muncul pada kasus dan sesuai dengan teori: Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan gangguan aliran arteri.Perubah

Diagnosa yang muncul pada kasus klien dengan stroke non hemoragik di ruang intensive care unit (ICU) antara lain bersihan jalan nafas tidak efektif, gangguan perfusi

Setelah diobservasi hambatan mobilitas fisik belum teratasi, pada hari kedua dan ketiga dilakukan tindakan yang sama, membantu klien berpindah sesuai dengan kebutuhan klien,

Hasil studi menunjukan bahwa pengelolahan asuhan keperawatan pasien stroke non hemoragik dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas dan latihan dengan masalah keperawatan gangguan mobilisasi

Tanggal Diagnosa Keperawatan Catatan Perkembangan Paraf 01-01- 2020 01-01- 2020 Hambatan mobilitas di tempat tidur berhubungan dengan neuromuskular Resiko ketidakefektifan perfusi

Pada implemetasi diagnosa pertama gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot, kekakuan sendi, nyeri dibutuhkan pelaksanaan selama tiga hari yaitu pada

Diagnosa keperawatan yang ditegakkan oleh penulis ada 3 yaitu: Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik, Gangguan mobilitas fisik berhubuingan dengan keengganan melakukan