RAHASIA
PRODI PSIKOLOGI ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI IMAM BONJOL PADANG
LAPORAN ANAMNESA Menentukan Tipologi
( Lokasi : Laboratorium Psikologi UIN Imam Bonjol Padang )
Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Mata Kuliah Wawancara
Dosen Pembimbing : Mardenny, S.Psi, M.Psi, Psikolog
Oleh
Zulfahri Saing 2215040077
PRODI PSIKOLOGI ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA UIN IMAM BONJOL PADANG
1446 H / 2024 M
RAHASIA
LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKOLOGI I. IDENTITAS
Identitas Subjek
Nama : AFS
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat/Tanggal Lahir : P, 13 April 2004 (20 thn)
Suku Bangsa : B
Agama : Islam
Status Perkawinan : Belum Kawin
Pendidikan : Mahasiswa
Urutan dalam keluarga : Anak ke 3 dari 7 bersaudara
Alamat : PTA
Identitas Ayah
Nama Ayah : IS
Usia : 62 tahun
Suku Bangsa : B
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Petani
Alamat : P
Identitas Ibu A. Ibu Kandung
Nama Ibu : SWR
Usia : Sudah meninggal
Suku Bangsa : B
Agama : Islam
Pendidikan : S1
Pekerjaan : -
Alamat : -
B. Ibu Sambung
Nama Ibu : BH
Usia : 41 tahun
Suku Bangsa : B
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Petani
Alamat : Idem
RAHASIA
Tujuan pemeriksaan : Menentukan tipologi Tanggal pemeriksaan : 17 Desember 2024
Kasus : Normal
Tempat pemeriksaan : Laboratorium Psikologi UIN IMAM BONJOL Padang
Pemeriksa : Zulfahri Saing
Pembimbing : Mardenny, S.Psi, M.Psi, Psikolog
II. STATUS PRAESENS.
AFS memiliki tinggi badan 148 cm dan berat kira-kira 42 kg, sekilas AFS tampak berisi dan kekar dengan cara berjalan yang santai sambil mengayunkan tangan ketika berjalan. Rambut lurus rapi dengan warna kulit putih.
Ketika pemeriksaan, AFS menggunakan baju kemeja rapi dan memakai sepatu seperti pakaian kuliah pada umumnya. Kondisi AFS dalam keadaan sehat dan tidak ada sakit.
III. OBSERVASI
Observasi Umum
Pada proses wawancara berlangsung AFS menggunakan gestur tubuh menghadap interviewer dan menatap mata interviewer. Ketika interviewer mulai memberikan pertanyaan kepada AFS, AFS memberikan jawaban sembari pandangan lurus menghadap interviewer, menggoyang-goyangkan kaki, terlihat AFS melipat kedua tangannya diatas meja sembari sesekali tersenyum kepada interviewer. Meskipun begitu, AFS tampak baik dalam menjawab pertanyaan yang diberikan walau jawaban yang diberikan cenderung singkat. Ini menunjukkan bahwa meskipun ekspresinya mungkin terlihat serius, AFS memiliki keinginan yang kuat untuk menjawab pertanyaan interviewer dengan sebaiknya. Saat wawancara selesai, AFS tersenyum sambil berjabat tangan dengan interviewer.
Observasi Khusus
AFS menunjukkan sikap yang terbuka selama wawancara. Ia tidak tampak malu atau canggung ketika menjawab pertanyaan. AFS terlihat percaya diri,
RAHASIA
terutama ketika diminta menceritakan pengalaman atau pandangannya. AFS tampak santai dalam berkomunikasi dan memberikan jawaban dengan bahasa yang lugas. Pada saat interviewer menanyakan mengenai sosok ibu, subjek terlihat sedih dilihat dari raut wajah yang ia tampakkan.
Perilaku tampak yang sering dimunculkan oleh AFS itu sendiri awalnya tampak tidak tertarik dan tidak serius menjawab pertanyaan interviewer namun berjalannya waktu AFS mulai serius dan menjawab semua pertanyaan dengan tepat walaupun singkat. AFS sendiri tampak sangat menguasai topik yang dibicarakan.
IV. ANAMNESA
Latar Belakang Keluarga
AFS lahir di Portibi, pada tanggal 13 April 2004. Ia merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara dalam keluarga yang besar dan sederhana. AFS dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang memegang teguh prinsip kekeluargaan dan kebersamaan.
Dalam keluarganya, setiap anak mendapatkan perhatian yang sama, tanpa ada perlakuan istimewa kepada salah satu anak tertentu.
Ayahnya, IS, seorang petani berusia 62 tahun, dikenal sebagai sosok yang pekerja keras dan memiliki jiwa kepemimpinan yang adil. Latar belakang pendidikan ayahnya adalah SLTA, dan kesehariannya dihabiskan untuk bekerja di sawah dan kebun sawit. Sebagai seorang kepala keluarga, ayahnya adalah figur yang tegas namun penuh kasih sayang. Ia tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik utama di rumah. Dalam pergaulan sosial, ayahnya memiliki hubungan yang cukup baik dengan masyarakat sekitar, meskipun ada beberapa individu yang mungkin kurang menyukai beliau. Hal ini, menurut AFS, sebagian besar disebabkan oleh rasa iri terhadap keberhasilan anak-anaknya yang dikenal baik dalam masyarakat.
Sementara itu, ibu kandung AFS, Almh. SWR, memiliki latar belakang pendidikan S1 dan bekerja sebagai seorang guru sekolah dasar. Sosoknya dikenal sebagai wanita yang penuh perhatian, telaten, dan memiliki kecintaan terhadap keluarga. Ibu kandungnya adalah seorang pekerja keras yang tidak hanya mengurus keluarga, tetapi juga mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai kebaikan. AFS mengenang momen-momen manis bersama ibunya, seperti saat beliau sering memasak di rumah atau membawa AFS kecil ke sekolah tempat beliau mengajar.
RAHASIA
Namun, ketika AFS berusia 5 tahun, ibunya meninggal dunia. Kehilangan ini menjadi salah satu momen paling menyedihkan dalam hidupnya.
Setahun setelah kepergian ibunya, ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dengan BH, seorang wanita berusia 41 tahun yang berprofesi sebagai petani.
Keputusan ini diambil karena ayahnya merasa kesulitan mengurus anak-anaknya yang masih kecil, termasuk yang masih bayi. Ibu sambung AFS menjadi figur penting dalam kehidupan keluarganya, membantu menjaga dan mendidik anak-anak.
Meskipun latar belakang pendidikan ibu sambungnya hanya tamat SMP, ia mampu menjalankan perannya dengan baik sebagai ibu rumah tangga. AFS menggambarkan ibu sambungnya sebagai sosok yang perhatian, terutama ketika salah satu anak sakit, meskipun ia merasa lebih dekat secara emosional dengan ayah kandungnya.
Kehidupan keluarga AFS berjalan dengan harmonis dan penuh nilai-nilai agama. Ayah dan ibu sambungnya memberikan perhatian besar terhadap pendidikan agama anak-anak. Semua anak diarahkan untuk bersekolah di pesantren, agar mereka tidak hanya mendapatkan ilmu dunia tetapi juga ilmu akhirat. Dalam keseharian, keluarga mereka menjaga kebersamaan, terutama dalam momen-momen seperti makan bersama. Ayahnya menanamkan kedisiplinan dalam keluarga, sementara ibu sambungnya lebih banyak mengatur kegiatan rumah tangga sehari-hari, seperti pembagian tugas kepada anak-anak.
AFS juga menceritakan bahwa dalam keluarga mereka, konflik jarang terjadi.
Ayah dan ibu sambungnya selalu berusaha menyelesaikan perbedaan pendapat dengan cara berdamai dan saling menghormati. Meskipun keputusan akhir biasanya berada di tangan ayahnya, hal ini dilakukan dengan cara yang bijaksana dan tidak otoriter. Bagi AFS, nilai-nilai keadilan, kedisiplinan, dan kasih sayang yang diterapkan oleh kedua orang tua sangat memengaruhi pembentukan karakternya.
AFS merasa lebih dekat dengan ayah karena merupakan ayah kandungnya, meskipun ibu dikenal perhatian, namun beliau hanya ibu sambung. Jika AFS sakit, ibu yang biasanya lebih perhatian, meskipun kekhawatiran datang dari ayah.
Selain hubungan internal keluarga, AFS juga menceritakan hubungan sosial ayahnya yang cukup baik dengan masyarakat sekitar. Ayahnya dikenal sebagai pribadi yang aktif dan tegas dalam pergaulan. Sebagai seorang petani yang tidak memiliki karyawan, ayahnya bekerja keras dengan dibantu anggota keluarga. Meski demikian, hubungan ayahnya dengan tetangga sebagian besar harmonis, dan ia menjadi sosok yang dihormati di komunitasnya
RAHASIA
AFS menggambarkan rumah tangga mereka sebagai keluarga yang terbuka dan penuh pengertian, di mana ia merasa memiliki kebebasan dalam memilih teman dan aktivitas, tanpa adanya aturan yang terlalu mengekang.
Riwayat Pendidikan
AFS memulai pendidikan formalnya di usia 7 tahun, langsung masuk SD tanpa melalui pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK). Selama di SD, ia menunjukkan prestasi luar biasa, menjadi juara 1 di setiap kelas hingga kelas 6. Hal ini menunjukkan kesungguhan dan kedisiplinan AFS dalam belajar sejak usia dini.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan ke jenjang SMP, di mana ia tetap berada di peringkat 5 besar, dan mempertahankan konsistensinya hingga lulus dari Madrasah Aliyah.
Meski prestasinya tergolong baik, AFS pernah menghadapi tantangan di bidang studi tertentu, terutama Bahasa Inggris. Kesulitan ini muncul karena ia merasa kurang memahami bahasa tersebut. Namun, ia tidak menyerah. Dengan menghadiri semua kelas secara konsisten, ia berhasil meningkatkan kemampuannya sedikit demi sedikit. Ketekunan dan usahanya mencerminkan semangatnya untuk terus belajar dan berkembang meskipun menghadapi kendala.
Selama di sekolah, AFS tidak pernah tinggal kelas dan selalu berusaha menjalankan tugas-tugasnya dengan serius. Ia mengaku bahwa prestasi yang diraihnya merupakan hasil dari kerja keras yang ia lakukan. Ia juga merasa bahwa pendidikan yang dijalani sesuai dengan arahannya sendiri dan saran dari orang tua.
Sebagai seorang mahasiswa, AFS memiliki semangat belajar yang kuat. Ia tidak pernah bermain-main saat belajar dan selalu berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ia menyesali bahwa ia tidak mulai belajar dengan lebih rajin sejak dini, karena ia merasa dapat mencapai hasil yang lebih besar jika usahanya lebih maksimal. Namun demikian, AFS tetap bersyukur atas pendidikan yang telah ia jalani dan percaya bahwa pengalaman belajar tersebut akan menjadi bekal penting dalam hidupnya.
Riwayat Pekerjaan
AFS tidak memiliki riwayat pekerjaan.
Kehidupan Emosi
RAHASIA
Secara emosional, AFS adalah individu yang stabil dan jarang menunjukkan reaksi emosional yang berlebihan. Ia menggambarkan dirinya sebagai orang yang tidak mudah baper atau terlalu larut dalam perasaan. Namun, ia mengakui bahwa ia pernah merasa iri terhadap mereka yang memiliki prestasi tinggi, karena ia melihat hal itu sebagai sesuatu yang ingin ia capai juga.
Salah satu pengalaman emosional yang paling mendalam dalam hidup AFS adalah ketika ibunya meninggal dunia. Kehilangan tersebut meninggalkan luka yang mendalam di hatinya, dan ia mengaku kesedihan itu berlangsung selama sekitar satu minggu. Namun, dengan dukungan dari keluarga dan lingkungannya, ia berhasil bangkit kembali.
AFS juga menunjukkan sikap yang mandiri dalam menghadapi berbagai situasi. Ia lebih suka menyelesaikan masalah sendiri terlebih dahulu sebelum meminta bantuan orang lain. Namun, jika ia merasa benar-benar membutuhkan pertolongan, ia tidak ragu untuk mencarinya.
Meski memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan, AFS menyadari bahwa ia memiliki kelemahan dalam hal percaya diri, terutama dalam pengambilan keputusan penting. Ia sering merasa canggung dalam situasi baru atau ketika bertemu orang-orang yang belum dikenal. Hal ini menunjukkan sikap hati-hati dan keinginannya untuk memahami lingkungan sebelum beradaptasi.
AFS lebih suka main keluar kos daripada didalam kos, selagi masih ada uang, karena menurut AFS lebih senang bertemu dengan temannya dibandingkan bermain handphone di kos. AFS bercita-cita untuk menjadi pengusaha, itu semua karena ada keluarganya yang sukses dan berprofesi sebagai pengusaha.
Relasi Heteroseksual
Dalam hal relasi heteroseksual, AFS belum memiliki pacar. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh keluarganya, yang sangat melarang hubungan pacaran. Keluarganya memandang pacaran sebagai sesuatu yang tidak sejalan dengan ajaran agama, meskipun mereka tetap mengizinkan pertemanan antara laki- laki dan perempuan selama dilakukan dengan batasan tertentu dan menjaga norma- norma yang berlaku.
AFS memiliki banyak teman dari berbagai kalangan, baik pria maupun wanita. Namun, ia mengaku bahwa teman-temannya lebih didominasi oleh pria. Ia tidak memiliki sahabat khusus, tetapi tetap menghargai setiap hubungan pertemanan
RAHASIA
yang ia miliki. Dalam lingkup pertemanan, ia dikenal sebagai sosok yang ramah, mudah bergaul, dan jarang mengalami konflik.
Ketika bertemu dengan orang baru, AFS cenderung merasa canggung dan waspada. Ia selalu berusaha memahami karakter orang lain sebelum menjalin hubungan lebih jauh. Sikap ini mencerminkan kehati-hatiannya dalam bergaul, terutama dengan orang-orang yang baru dikenalnya.
AFS juga tidak menyukai perhatian yang berlebihan, terutama jika hal itu terkait dengan prestasi yang ia capai. Ia lebih nyaman menjalani kehidupannya dengan sederhana tanpa menjadi pusat perhatian. Dalam hubungan pertemanan, ia berkomitmen untuk menjaga hubungan yang baik dan berharap bisa terus menjalin silaturahmi, bahkan setelah menikah nanti.
V. KESIMPULAN.
AFS adalah individu yang tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana dengan nilai-nilai kekeluargaan yang kuat. Ia dibentuk oleh pengalaman hidup yang beragam, mulai dari kehilangan ibu kandung pada usia dini hingga memiliki ibu sambung yang penuh perhatian. Kehidupan keluarga yang harmonis dengan penekanan pada nilai-nilai agama memberikan dasar yang kuat bagi pembentukan karakter AFS, menjadikannya pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan menghargai kebersamaan.
Secara emosional, AFS adalah individu yang stabil dan jarang menunjukkan reaksi emosional yang berlebihan. Ia cenderung mandiri dalam menghadapi berbagai situasi, lebih memilih untuk menyelesaikan masalah sendiri terlebih dahulu sebelum meminta bantuan. Namun, ia juga mengakui adanya kelemahan dalam hal percaya diri, terutama ketika harus menghadapi situasi baru atau berhubungan dengan orang yang belum dikenal. Sikap ini mencerminkan kehati- hatiannya dalam menjalin hubungan sosial, di mana ia lebih suka memahami karakter orang lain terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh.
Dalam lingkup sosial, AFS dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul, meskipun ia tetap menunjukkan selektivitas dalam membangun hubungan yang lebih dekat. Ia tidak menyukai perhatian berlebihan, terutama jika hal tersebut berkaitan dengan prestasinya. Hal ini menunjukkan preferensinya untuk hidup dengan sederhana dan tidak menjadi pusat perhatian. Meski demikian, AFS tetap memiliki lingkaran pertemanan yang luas, terutama dengan teman-teman pria, dan ia menjaga hubungan sosialnya dengan baik tanpa menimbulkan konflik yang berarti.
RAHASIA
Dalam hal pendidikan, AFS adalah seorang pembelajar yang tekun dan penuh dedikasi. Ia berhasil meraih berbagai prestasi akademik, meskipun pernah menghadapi tantangan dalam beberapa mata pelajaran tertentu. Ketekunan dan kesungguhannya untuk terus berkembang menunjukkan semangat juang yang tinggi dalam mencapai tujuan.
Di sisi lain, AFS juga menunjukkan sikap hati-hati dalam hubungan heteroseksual. Ia memegang teguh nilai-nilai yang diajarkan keluarganya untuk tidak terlibat dalam pacaran, meskipun tetap membuka diri untuk pertemanan dengan batasan yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Sikap ini menunjukkan kedewasaan dan kemampuannya untuk menjaga prinsip dalam kehidupan sosialnya.
AFS juga memiliki cita-cita yang besar, yaitu menjadi seorang pengusaha.
Ia terinspirasi oleh keluarganya yang sukses di bidang tersebut. Meskipun demikian, ia tetap menjalani kehidupannya dengan sederhana dan fokus pada upaya untuk mencapai tujuan tersebut melalui kerja keras dan dedikasi.
Dari penjelasan dan analisis kasus ini, dapat disimpulkan bahwa AFS memiliki kepribadian Detached Aktif (Kepribadian Avoidant) karena AFS adalah individu yang hati-hati dan canggung dalam interaksi sosial, berusaha memahami karakter orang baru sebelum menjalin hubungan. Ia menghindari perhatian berlebihan dan lebih suka hidup sederhana. Dalam menyelesaikan masalah, AFS mandiri dan menghindari ketergantungan. Ia berhati-hati dalam relasi heteroseksual, memilih tidak pacaran sesuai nilai agama, tetapi tetap membuka diri untuk pertemanan dengan batasan. Meskipun memiliki banyak teman, AFS selektif dalam pergaulan dan lebih suka bergaul dengan orang yang membuatnya nyaman. Ia juga kurang percaya diri dalam situasi baru dan memilih memahami lingkungan terlebih dahulu sebelum beradaptasi.
RAHASIA
VI. LAMPIRAN 1. Lampiran Verbatim
Interviewer / Interviewee
Verbatim Wawancara
Interviewer Assalammualaikum Warahmatullahiwabarakatuh Interviewee Waalaikumsalam Warahmatullahiwabarakatuh Interviewer Selamat Pagi
Interviewee Pagi
Interviewer Perkenalkan nama saya Fahri. Aa baiklah saya akan bertindak sebagai pewawancara Anda hari ini. Ee apakah saudara bersedia untuk meluangkan waktu saudara sekitar 30 menit?
Interviewee Ya, saya bersedia
Interviewer Mm, selama wawancara berlangsung saya akan menggunakan alat Perekam. Untuk kenyamanan wawancara ini. Apakah saudara bersedia?
Interviewee Ya saya bersedia
Interviewer Kalau boleh tahu, siapa nama lengkap saudara?
Interviewee Ee nama saya Arpan Fikri Siregar Interviewer Arpan, arpan sudah sarapan belum tadi?
Interviewee Belom (Tersenyum)
Interviewer Bagaimana kabar arpan hari ini?
Interviewee Alhamdulillah baik. (Tersenyum)
Interviewer Mm baiklah saya akan melanjutkan ke topik wawancaranya Interviewee (Mengangguk)
Interviewer Kalau boleh tahu, saudara lahir tanggal berapa?
Interviewee Saya lahir di Portibi, tanggal 13 April 2004 Interviewer Saudara anak keberapa dari berapa bersaudara?
Interviewee Saya anak ketiga dari tujuh bersaudara Interviewer Untuk Ayah, nama ayah siapa?
Interviewee Nama ayah saya Ikhwan Siregar
RAHASIA
Interviewer Usianya berapa?
Interviewee
Usianya 62 tahun Interviewer Pendidikan?
Interviewee Pendidikan SLTA Interviewer Pekerjaan?
Interviewee
Petani
Interviewer Alamatnya dimana?
Interviewee Sama dengan asal saya, Portibi.
Interviewer
Kalau nama ibu?
Interviewee Nama ibu saya Sitiwarni Rambe.
Interviewer Usianya?
Interviewee Almarhumah, jadi saya tidak tahu. (dengan nada halus) Interviewer
Innalillahi, saya mohon maap. Saya tidak tahu Interviewee Iya, gak papa (sambil tersenyum)
Interviewer Almarhumah suku bangsa apa?
Interviewee
Batak Interviewer
Pendidikan?
Interviewee Almarhumah berpendidikan S1
Interviewer Kemudian, bagaimana sikap ayah di rumah? Apakah dia itu perannya dominan atau otoriter, sering memerintah atau sering melarang?
Interviewee
Kalau ayah sifatnya itu, gimana bilang ya, dia adil sama anak- anaknya, nggak ada itu yang namanya, oh kayak ini kelebihan saya, nggak ada, adil sama semua.
Interviewer Kalau ayah itu orangnya gimana di lingkungan RT, pergaulan sosialnya gimana?
Interviewee
Kalau di kampung, pergaulan itu ada sih satu-satu, tapi nggak semuanya. Tetangga itu ada yang tidak suka sama ayah, tapi dominan kebanyakan suka, bergaulnya kerap.
RAHASIA
Interviewer Kalau boleh tahu, apa yang mendasari masyarakat di lingkungan ada yang tidak suka ayah?
Interviewee
Oh, sebagian karena mungkin iri karena melihat anak-anaknya baik.
Dan ada juga iri kadang karena, gimana bilangnya ya, saya tidak tahu lagi kenapa tidak suka, kadang gimana ya bilangnya itu aja sih.
(sambil tersenyum)
Interviewer Kalau ayah tadi petani, petani di bidang mana?
Interviewee Sawah sama sawit.
Interviewer
Ayah gimana di lingkungan kerja? Dia punya karyawan?
Interviewee Kalau karyawan nggak ada, cuma anggota
Interviewer Kalau ke anggota, apakah Ayah orangnya kasar atau sering memerintah?
Interviewee
Engga, Ayah ga kayak begitu orangnya.
Interviewer
Kalau boleh tahu, ibu almarhumah pada saudara umur berapa?
Interviewee Kalau tidak salah, saya waktu itu umur 5 tahun (nada lemas) Interviewer Ada sikap atau sifat yang saudara ingat dari ibu?
Interviewee
Ada, dulu waktu itu ibu suka masak Interviewer
Kalau sikap almarhumah di lingkungan dulunya?
Interviewee Kalau itu saya tidak ingat lagi.
Interviewer
Hal yang paling diingat dari ibu itu apa?
Interviewee
Dulu waktu ibu itu kan dulu kerjanya sebagai PNS guru di SD. Jadi saya itu sering dibawa ke SD. Semua itu ingat betul.
Interviewer Kalau sejak ibu almarhumah meninggal, apakah ayah menikah lagi atau gimana?
Interviewee Oh iya, saat saya umur 6 tahun, ayah tidak sanggup ngurus adik-adik karena masih kecil, ada pula yang masih nyusu. Jadi ayah mengambil keputusan untuk menikah lagi.
Interviewer
Pada umur saudara 6 tahun?
Interviewee Iya (Mengangguk dan tersenyum)
RAHASIA
Interviewer Kalau boleh tau, Ibu Sambung Saudara namanya siapa?
Interviewee
Bintang Harahap Interviewer Usianya?
Interviewee 41 tahun
Interviewer Pendidikan beliau Interviewee
Tamat SMP Interviewer Pekerjaan beliau?
Interviewee Sama seperti Ayah, Petani.
Interviewer
Pada tahun berapa ayah dan ibu sambung saudara melangsungkan pernikahkan?
Interviewee
Kalau gak salah tahun 2010 atau 2011.
Interviewer Menurut saudara, apakah ayah dan ibu sambung saudara itu sikapnya terbuka? Cerita satu sama lain, ada masalah cerita satu sama lain?
Interviewee
Ya, orang itu kalau ada masalah itu nggak pernah main-main tangan, mungkul nggak ada. Kalau ada masalah, ceritakan baik-baik.
Interviewer
Berarti mereka tampak saling mencintai satu sama lain?
Interviewee Iya.
Interviewer Apakah pernah tidak ayah dan ibu sambung saudara itu silang pendapat atau perbedaan pendapat?
Interviewee
Itu kalau masalah beda pendapat sering sih, cuman lebih berdamai, kayak pendapat ayah lebih diutamakan gitu.
Interviewer Berarti ayah dan ibu tuh orangnya saling terbuka ya?
Interviewee Iya.
Interviewer
Kalau suasana keluarga dan suasana di rumah tuh bagaimana saudara gambarkan? Apakah sering ngumpul atau sering misalnya makan malam sama, makan siang sama gitu?
Interviewee Kalau di rumah, tidak ada yang namanya berantem-berantem. Kalau lebih kerapnya lagi, kalau makan itu tidak boleh makan kalau tidak sama duluan, dari pagi, siang, sampai malam.
RAHASIA
Interviewer Kalau di rumah, siapa yang mendidik, ayah atau ibu?
Interviewee
Lebih banyak Ayah.
Interviewer Kalau kayak aturan-aturan di rumah, kayak misalnya ada hari libur sehingga orang tua itu bagi tugas, kamu bersihin rumah, kamu nyapu, kamu lipat kain, itu ada gak di rumah?
Interviewee Ada, tapi kalau masalahnya di rumah, ayah itu gak banyak peraturan, Yang lebih banyak ngatur itu ibu.
Interviewer
Tadi saudara bilang ada pemberian tugas atau pembagian tugas.
Kalau misalnya perlu bantuan, itu apa enggak diminta lagi enggak tanggung jawabannya?Kayak misalnya kamu sapu rumah ini. Setelah saudara menyapu rumah itu, apakah dilihat lagi dari orang tuanya?
Benar sudah disapu apa enggak?
Interviewee Dilihat juga. Karena kalau enggak dibersihin, itu orang tua enggak nyuruh lagi. Orang tua yang ngerjakan langsung.
Interviewer Ada enggak jam yang ditentukan sama saudara, jam segini harus kembali ke rumah?
Interviewee
Enggak ada
Interviewer Kalau masalah main, enggak ada itu disuruh-suruh pulang. Berarti dibebasin ya?
Interviewee Iya (tersenyum) Interviewer
Kalau mengenai pergaulan, apakah saudara dikasih kebebasan untuk menentukan lingkungan pergaulannya?
Interviewee Kalau masalah pergaulan, orang tua itu melarang kalau yang tidak cocok dengan pergaulan. Cuma boleh-boleh saja berrgaul, tapi harus pandai dalam menjaga diri dalam pergaulan.
Interviewer Kalau misalnya pulangnya ke malaman, habis itu saudara minta izin untuk menginap di rumah teman, itu dibolehkan apa tidak?
Interviewee
Dibolehkan
Interviewer Sikap ayah atau ibu sambung tadi dalam keadaan tertentu, misalnya kalau saudara sakit, gimana sikap yang ditampakkan oleh beliau?
RAHASIA
Interviewee Kalau masalah sakit, lebih perhatian sih orangtua perempuan yang sambung ini. Kalau masalah saya sakit, ataupun adik-adik saya atau abang saya yang sakit, kalau masalah ayah dia khawatir, cuma nggak nampak khawatirnya.
Interviewer
Menurut saudara, saudara lebih dekat ke ayah atau ibu sambung?
Interviewee Karena ibu sambung kan nggak, kalau dekat, dekat sih, tapi lebih dekat ke ayah karena ayah kandung
Interviewer Apa yang dikagumi dari ayah?
Interviewee
Yang dikagumi dari ayah itu, dia kalau masalah sikap dia itu
konsisten sikapnya, gak pernah itu, oh dibilang ini, gak pernah itu dia langgar terus. Kalau masalah apa ya, dia itu orangnya tegas, gak ada itu yang loyo-loyo, malu-malu sama kawan, gak ada, dia tegas orangnya.
Interviewer Sikap orang tua, kedua orang tua terhadap agama, ada gak ditekankan harus mengaji, harus sholat?
Interviewee
Ada, makanya dari situ, kami sekeluarga itu gak ada yang gak sekolah pesantren. Karena orang tua itu mengusulkan untuk anak yang pandai ngaji, sholat gitu, dapat tahu dunia akhirat.
Interviewer Kalau sikap kedua orang tua terhadap seks, misalnya kalau melarang saudara untuk berpacaran atau lain sebagainya?
Interviewee Ada, kalau dalam keluarga kami, orang itu sangat anti yang namanya pacaran. Kalau teman aja boleh, tapi kalau pacaran engga boleh.
Interviewer
Pernahkah saudara dihukum?
Interviewee
Pernah Interviewer Karena apa?
Interviewee Karena waktu kecil dulu suka berantem sama adik.
Interviewer
Bagaimana kesannya? Bagaimana hukumannya sehingga membuat saudara itu mengingat kejadian itu?
Interviewee Waktu itu saya tidak boleh diberikan jajan satu minggu di SD. Cuma boleh makan saja, tidak diberikan jajan.
RAHASIA
Interviewer Berarti uang jajan tidak diberikan?
Interviewee
Iya
Interviewer Kemudian saudara memiliki adik, saudara kandung ada berapa?
Interviewee Ada empat, termasuk saya, jadi lima bersaudara kandung.
Interviewer Saudara tadi anak ketiga, berarti ada dibawahnya 2 orang ya?
Interviewee
Iya.
Interviewer Menurut saudara, saudara itu lebih dekat ke siapa?
Interviewee Kalau lebih dekat, anak pertama, anak pertama alasannya karena dia lebih paham gimana ke adek-adeknya.
Interviewer
Kalau boleh tahu, nama saudara yang pertama siapa?
Interviewee
Andri Doli Muda Siregar.
Interviewer Usianya?
Interviewee
25 tahun.
Interviewer
Pendidikan?
Interviewee S1, S.Pd.
Interviewer Berarti sudah bekerja?
Interviewee
Sudah.
Interviewer
Kalau hubungan dengan saudara-saudara lain, seperti anak kedua, keempat, kelima, itu gimana?
Interviewee Itu biasa-biasa sih, enggak ada yang namanya enggak suka gitu, enggak ada yang lebih kayak khusus. Cuma anak pertama itu aja beda, karena dia lebih pandai begitu ngomong sama adik-adiknya, lebih tahu. (tersenyum)
Interviewer
Sering gak bertengkar?
Interviewee Kalau masalah bertengkar, dulu sering-sering bertengkar sebelum masuk pesantren, waktu SD dulu sering berantem.
Interviewer Sekarang masih?
Interviewee
Tidak (tersenyum)
RAHASIA
Interviewer Misalnya nih, saudara mempunyai teman abang saudara yang saudara rasa dekat, itu memiliki teman, apakah teman itu menjadi teman dari saudara atau teman dari abang kedua atau gimana?
Interviewee
Tergantung sih, kalau misalnya kan misalnya abang pertama punya teman, kalau dikenalkannya sama abang kedua, berarti orang itu berteman. Kalau tidak dikenalkan sama saya, tidak mungkin saya berteman sama temannya.
Interviewer Terus masuk sekolah pada usia berapa?
Interviewee
Karena saya tidak TK, saya SD umur 7 tahun.
Interviewer
Bagaimana saudara menyelesaikan setiap tingkat pendidikan?
Apakah pernah tinggal kelas?
Interviewee Saya tidak pernah tinggal kelas, dari SMP sampe SMA.
Interviewer Selama saudara menempuh pendidikan, ada nggak saudara masalah kesulitan di bidang studi tertentu?
Interviewee
Kalau masalah studi bidang, saya nggak kesulitan khusus. Cuma gimana bilangnya sulit tapi harus dihadapi.
Interviewer Itu bidang studi apa?
Interviewee Dulu sih, tapi sekarang tidak lagi. Itu Bahasa Inggris.
Interviewer
Kenapa saudara merefleksikan bahasa Inggris itu sulit?
Interviewee
Karena saya tidak paham bahasanya.
Interviewer Bagaimana cara saudara mengatasi ketidaksulitan untuk bidang studi bahasa Inggris?
Interviewee Karena mahasiswa ini kan diutamakan kehadiran dalam mata pelajaran, jadi saya cuma menghadiri mata kuliahnya.
Interviewer
Apakah saudara ada kepandaian istimewa atau kayak bakat?
Interviewee Kalau masalah bakat. Saya nggak punya bakat. (tertawa kecil) Interviewer Saudara pernah juara kelas dari SD sampai SMP?
Interviewee
Kalau dari SD saya dulu sampai kelas 6 juara 1, kelas SMP sampai kelas 3 juara 5 besar lah, sampai Aliyah pun 5 besar.
RAHASIA
Interviewer Apakah saudara pernah meraih prestasi kayak juara kabupaten atau kecamatan?
Interviewee
Enggak pernah, saya enggak pernah ikut apa-apa.
Interviewer Seperti yang tadi saudara bilang, saudara juara 1 sejak kelas 1 sampai kelas 6, kemudian di Aliyah 5 besar. Apakah itu sesuai dengan usaha yang saudara lakukan?
Interviewee Sesuai dengan usaha saya. Saya kalau dalam belajar itu tidak pernah main-main. Kalau dalam belajar, belajar saja.
Interviewer
Bagaimana saudara melihat kemampuan yang saudara miliki?
Interviewee Kalau dilihat dari kemampuan saya, saya sangat sungguh kecewa dengan saya, karena kenapa gak dari dulu-dulu saya rajin gitu, biar lebih banyak dapat ilmu begitu (sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum)
Interviewer Apakah sekolah saudara, selama saudara bersekolah, itu adalah sekolah yang saudara inginkan atau sesuaikan dengan orang tua?
Interviewee
Kalau masalah ini sesuai sih, lagipula dulu saya itu enggak tahu di sekolah mana yang saya tuju. Makanya saya minta saran dari orang tua.
Interviewer Terus apakah saudara suka melamun?
Interviewee Kalau melamun, tidak pernah saya melamun. Pernah sih, tapi cuma jarang.
Interviewer
Kalau ketika melamun, apa yang saudara lamunkan?
Interviewee Kalau melamun, yang saya pikirkan itu sering karena apa ya?
Kekurangan uang, apalah uang besok.
Interviewer Apakah saudara merasa diri saudara itu beda dari yang lain?
Interviewee
Kalau masalah kemampuan saya itu gak banyak kemampuan lebih daripada orang. Saya itu cuma orang biasa.
Interviewer Apakah saudara punya perasaan iri atau baperan atau submissive itu kayak patuh, selalu patuh, patuh sama orang atau teman gitu, agresif atau suka memberontak, periang atau sedih? Di antara keenam perasaan yang saya sebutkan?
RAHASIA
Interviewee Saya apa deh, orangnya nggak baperan. Kalau masalah iri, saya iri sama orang-orang yang memiliki prestasi yang tinggi.
Interviewer
Apakah saudara pernah merasa sedih yang sangat mendalam gitu?
Interviewee Pernah, waktu itu waktu orang tua saya meninggal, itu paling sedih dalam hidup saya.
Interviewer Apakah kesedihan saudara itu sampai berlarut-larut?
Interviewee
Sampai satu minggu kurang lebih (tersenyum) Interviewer Pendidikan?
Interviewee Almarhumah berpendidikan S1
Interviewer Kalau saudara, apakah saudara itu suka mencari pertolongan atau bantuan dari orang lain?
Interviewee
Kalau misalnya saya masih bisa sendiri, saya nanti itu minta tolong sama orang. Tapi kalau misalnya benar-benar nggak bisa lagi sendiri, saya minta tolong.
Interviewer Apakah saudara orang yang angkuh?
Interviewee Kalau masalah angkuh, saya nggak angkuh. Saya cuma biasa aja gitu.
Interviewer
Kalau terkait orang yang teliti, apakah anda termasuk dalamnya?
Interviewee Mungkin saya dibilang tidak termasuk dari dalam orang yang teliti.
Interviewer Kalau perapi, misalnya melihat sesuatu yang berantakan, ada keinginan untuk merapikan secepatnya?
Interviewee
Itu termasuk.
Interviewer Apakah saudara senang keluar rumah atau lebih senang di rumah?
Interviewee Itu tergantung keuangan saya. Kalau misalnya ada uang, saya suka keluar, kalau nggak ada uang, di dalam kos begitu.
Interviewer
Apa cita-cita saudara sekarang?
Interviewee
Kalau sekarang cita-cita saya ingin jadi pengusaha.
Interviewer Apa yang membuat motivasi atau dorongan saudara untuk menjadi pengusaha?
RAHASIA
Interviewee Karena di kampung ada adik ayah, karena dia pandai mengelola usahanya dan dia jadi orang kaya sekarang.
Interviewer
Apakah saudara punya banyak teman?
Interviewee Banyak, banyak sekali teman saya. Gak terhitung orangnya.
Interviewer Temannya cewek atau cowok?
Interviewee
Cewek, cowok juga ada.
Interviewer
Lebih dominan mana?
Interviewee Cowok
Interviewer Usia teman-teman saudara rata-rata berapa?
Interviewee Umur rata-rata seumuran dengan saya.
Interviewer
Kalau sahabat, apakah saudara memiliki sahabat?
Interviewee
Kalau sahabat tidak ada, cuma teman-teman yang banyak.
Interviewer Di dalam pergaulan di antara teman-teman saudara, apakah pernah memiliki masalah dalam bergaul atau berhubungan dengan orang lain di luar temanmu?
Interviewee
Tidak pernah ada masalah.
Interviewer
Bagaimana cara saudara itu menghadapi situasi baru? kayak
misalnya saudara pernah menghadiri acara di gedung J misalnya. Itu saudara terlihat canggung, kaku atau malu atau gimana?
Interviewee Mungkin ke dominan canggung sih, karena kan baru kenal jadi canggung. Gak tau gimana sifat teman yang datang yang baru ini.
Interviewer
Apakah saudara orang yang senang bergaul?
Interviewee
Termasuk saya senang juga bergaul.
Interviewer Apakah saudara itu senang menjadi pusat perhatian? Misalnya saudara berhasil mencuri suatu perhatian atau menjadi duta kampus atau lain sebagainya, apakah saudara senang menjadi pusat
perhatian?
Interviewee
Kalau jadi pusat perhatian dikarenakan prestasi seperti itu,saya makin gak suka untuk berprestasi.
RAHASIA
Interviewer Berarti saudara lebih senang sendiri?
Interviewee
Iya, betul. (mengangguk dan tersenyum)
Interviewer Ketika berjumpa dengan orang baru, apakah saudara merasa aman saja atau gimana?
Interviewee Justru karena ada orang baru sih, saya merasa takut apakah orang ini gimana, apakah orang ini baik atau jahat.
Interviewer
Menurut saudara, apakah saudara ini orang yang percaya diri atau tidak?
Interviewee
Kalau masalah percaya diri atau tidak, dalam membuat keputusan saya ini orangnya kurang percaya diri.
Interviewer Saudara punya pacar?
Interviewee
Kalau pacar tidak ada.
Interviewer
Misal hubungan dengan teman, dapatkah saudara memelihara hubungan itu sampai misal sudah menikah masih berteman?
Interviewee Kalau perihal itu, saya tidak bisa memastikannya. Tapi saya akan berusaha menjaga pertemanan saya.
Interviewer Apakah saudara itu merasa orang yang dikagumi oleh orang lain?
Interviewee
Kayaknya enggak, saya enggak pernah merasa dikagumi oleh orang.
Interviewer Kalau dihormati? Atau dijauhi teman?
Interviewee Enggak pernah.
Interviewer
Oke, baik. Mungkin itu saja yang dapat saya tanyakan. Atas waktu yang saudara luangkan ini, saya mengucapkan terimakasih. (sambil berjabat tangan)
Interviewee Iya, sama-sama. (sambil tersenyum)
RAHASIA
2. Lampiran Informed Consent