• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 Hunian nelayan

N/A
N/A
arni ulaika

Academic year: 2025

Membagikan "BAB 1 Hunian nelayan"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

‘’HUNIAN NELAYAN DI DESA KAIDUNDU KAB.BONE BOLANGO DENGAN PENDEKATAN SUSTAINABLE ARSITEKTUR’’

Metode Penelitian Dan Teknik Penulisan Ilmiah (EAH63263)

Disusun Oleh : Arni Ulaika 551421027

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK ARSITEKTUR JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

(2)

BAB II PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masyarakat miskin merupakan suatu kondisi dimana masyarakat tidak mampu atau tidak memiliki akses ke prasarana dan sarana dasar lingkungan yang memadai secara fisik kualitas perumahan yang jauh dibawah standar kelayakan serta mata pencarian yang tidak menentu.Banyaknya jumlah masyarakat miskin di Indonesia menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menanggulanginya.

Terdapat tiga unsur utama yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan wilayah, yakni penduduk sebagai pemukim yang menerima dampak dari suatu pembangunan, aktivitas penduduk, dan juga tempat tinggal yang nyaman bagi penduduknya, yang mana unsur tersebut dapat berjalan dengan baik apabila ditunjang dengan adanya fasilitas infrastruktur yang memadai. Tidak hanya sebagai penunjang aktivitas penduduk, infrastruktur juga mendorong peningkatan intensitas serta kualitas aktivitas sehingga berdampak baik dalam meningkatkan ekonomi/kesejahteraan penduduk. (Button dalam Hadi, 2006).

Dalam Rencana Pembagunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020 - 2024 dijelaskan bahwa salah satu langkah untuk memacu pembangunan ekonomi yang berdaya saing dan inklusif yaitu melalui pengelolaan sumber daya kelautan.

Potensi perairan dan kawasan pesisir Indonesia dapat dimanfaatkan untuk

(3)

meningkatkan perekonomian masyarakat dalam sektor perikanan dan kelautan.

Namun demikian, pengembangan pada sektor perikanan dan kelautan khususnya dalam pemenuhan infrastruktur penunjang kegiatan masyarakat belum menjadi perhatian dan prioritas oleh pemerintah atau pemegang kebijakan dan kekuasaan.

Sektor perikanan dan kelautan masih belum mampu mendukung peningkatkan perekonomian di wilayah pesisir, khususnya nelayan itu sendiri, hal ini dikarenakan potensi yang dimiliki kelautan Indonesia belum terolah secara maksimal (Kementerian Pekerjaan Umum bersama Kementerian Pertanian, 2012).

Menurut Arif, dkk (2013) untuk meningkatkan kesejahtraan suatu wilayah yang masyarakatnya relatif homogen nelayan dengan aktivitas sosial ekonomi yang bergantung pada sumberdaya laut, maka perlu dilakukan perencanaan pengelolaan sumberdaya kelautan, pesisir dan perikanan secara berkelanjutan. Ketersediaan infrastruktur penunjang aktivitas menjadi salah satu kunci keberhasilan dari suatu kawasan wilayah pesisir.

Salah satu alasan nelayan sebagai kelompok sasaran dari program ini karena kebanyakan dari nelayan di Indonesia khususnya di desa kaidundu merupakan nelayan tradisional yang menangkap ikan dengan skala kecil menggunakan alat tradisional seadanya sehingga hal tersebut tak jarang mengakibatkan ongkos untuk menangkap ikan lebih besar dari hasil yang didapatkan dari mengkap ikan itu sendiri, sehingga hal tersebut tentu juga

(4)

berdampak kepada kemampuan nelayan untuk memenuhi setiap kebutuhan pokoknya masing-masing.

Bone pesisir khususnya di desa kaidundu memiliki potensi sumber daya perikanan kelautan dan keluarga yang bermata pencaharian sebagai nelayan yang belum memiliki hunian. Hasil wawancara dari aparat desa, bahwa tanda penduduk di desa kaidundu yang merupakan nelayan berjumlah 82 orang,dan khusus keluraga nelayan yang tidak memiliki rumah yaitu 32 orang.Hal ini mengacu untuk diadakkannya pembuatan hunian nelayan,dengan infrastruktur beserta penunjangan aktivitas nelayan untuk kemajuan dan kesejahteraan bagi para nelayan di desa kaidundu.

1.2 Maksud

a) Bagaimana mengimplementasikan perumahan hunian bagi keluarga khusus nelayan di desa Kaidundu?

b) Bagaimana strategi pengembangan infrastruktur penunjang aktivitas nelayan di desa Kaidundu?

1.3 Tujuan

a)Mengetahui infrastruktur (prasarana & sarana) yang diperlukan dalam menunjang aktivitas masyarakat nelayan sesuai dengan standar, dan Program Rumah Khusus Nelayan di desa Kaidundu dengan pedoman yang menjadi rujukan pengembangan aktivitas nelayan.

(5)

b) Merancang rumah khusus nelayan dan pengembangan infrastruktur penunjang aktivitas nelayan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan di desa Kaidundu.

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definidi Rumah Tinggal

Rumah mempunyai fungsi sebagai wadah lembaga terkecil masyarakat yaitu keluarga yang sekaligus dapat dipandang sebagai tempat berteduh yang menjamin rasa aman atau terlindungi. Rumah juga merupakan wadah manusia melangsungkan aktivitasnya yang besifat intern atau pribadi. Rumah tidak hanya sebuah tempat bernaung dari bahaya gangguan serta pengaruh fisik maupun non fisik, melainkan juga merupakan wadah untuk tinggal, sebagai tempat berisitirahat setelah mengalami perjuangan hidup sehari-hari. (Ridho, 200: 18).

Turner (dalam Jenie, 2001: 45) mendefinisikan beberapa fungsi utama dalam sebuah rumah, yaitu: a. Rumah sebagai penunjang identitas keluarga melalui kualitas hunian serta perlindungan dari sebuah rumah. Kebutuhan utama sebagai tempat tinggal dimaksudkan supaya menjadi tempat berteduh dan berlindung dari iklim dan cuaca.

b. Rumah sebagai penunjang kesempatan keluarga supaya berkembang dalam lingkup sosial, budaya dan ekonomi atau fungsi pengemban keluarga. Kebutuhan tersebut diwadahi melalui kemudahan menuju tempat kerja untuk mendapatkan sumber penghasilan.

(7)

c. Rumah sebagai penunjang keamanan (security) yaitu menjamin keadaan keluarga di masa depan setelah menghuni rumah, jaminan keamanan atas tempat lingkungan perumahan berada dan jaminan keamanan kepemilikan rumah dan lahan (the form of tenure).

2.2 Faktor Ekonomi

Faktor ini seringkali menjadi penyebab utama ,Tingkat pendidikan dan keterampilan yang umumnya rendah berhubungan erat dengan rendahnya tingkat pendapatan. Ketidakberdayaan masyarakat khususnya masyarakat berpenghasilan rendah memunculkan minimnya akses terhadap rumah dan lingkungan hunian yang layak.

2.3 Sustainable Arsitektur

Arsitektur berkelanjutan adalah bagian terintegrasi dari pembangunan berkelanjutan, yang merupakan perhatian penting saat ini. Pembangunan

berkelanjutan memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup tanpa mengorbankan kondisi dan sumber daya untuk orang-orang di generasi mendatang.

Menurut James Stevens Curl dan Susan Wilson (Penulis Kamus Arsitektur Oxford), “Arsitektur Berkelanjutan adalah arsitektur yang tidak membuang energi, tidak membutuhkan perawatan yang mahal, dan bukan bangunan yang memiliki isolasi yang buruk atau terlalu banyak kaca."

(8)

Arsitektur Berkelanjutan, yakni sosial, ekonomi, dan lingkungan (Williams, 2007). Ketiga pilar dasar tersebut dijabarkan ke dalam enam aspek Arsitektur

Berkelanjutan (Sassi, 2006). Berdasarkan pertimbangan keefektifan penerapan, hanya lima aspek yang diterapkan karena satu aspek yang lain memiliki strategi penerapan yang sudah terwakilkan oleh kelima aspek tersebut. Kelima aspek Arsitektur

Berkelanjutan yang diterapkan, antara lain:

1. Tata Guna Tapak dan Lahan Berkelanjutan (Sustainable Site and Land-Use) 2. Energi Berkelanjutan (Sustainable Energy) Strategi desain meliputi

penerapan sistem pencahayaan dan penghawaan alami dan menerapkan energi terbarukan.

3. Material Berkelanjutan (Sustainable Material) Strategi desain meliputi durabilitas kualitas material, menggunakan material alam, material daur ulang atau yang bisa didaur ulang, material tidak mengandung VOC (Voltile

Organic Compound). Penerapan dilakukan pada penggunaan material bangunan.

4. Air Berkelanjutan (Sustainable Water), Strategi desain meliputi penggunaan sistem pengolahan air kotor yang tidak mencemari lingkungan.

5. Masyarakat Berkelanjutan (Sustainable Community) Strategi desain meliputi penyediaan fasilitas untuk mengasah keterampilan, pendidikan, kesehatan, dan hiburan; lingkungan yang alami bagi pengguna berupa ruang

(9)

terbuka hijau atau taman, penyediaan ruang bersama yang menarik, aman, dan nyaman; serta wadah pengelolaan sampah bersama sebagai agar penghuni sadar terhadap lingkungan.

2.4 Studi Banding

Rumah khusus nelayan di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Antara/Dok. Komunikasi Publik Ditjen Perumahan Kementerian PUPR

Rumah khusus bagi nelayan yang membutuhkan hunian yang layak untuk kelangsungan hidup mereka dan tempat yang nyaman untuk keluarganya,” ujar Kepala Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Penyediaan Perumahan Provinsi Sulawesi Tengga pembangunan rusus nelayan tersebut dimulai pada 2019 lalu.

Kementerian PUPR membangun rusus tersebut dengan tujuan agar para nelayan yang tinggal di kawasan pesisir dapat menempati hunian yang layak huni sekaligus

meningkatkan kesejahteraan dan perekonomiannya.

BAB III

TINJAUAN LOKASI PERANCANGAN

(10)

3.1 Alternatif Lokasi 1

Lokasi berada di desa Kaidundu Kecamatan Bulawa 3.2 Alternatif Lokasi 2

Lokasi Berada di desa Kaidundu berdekatan dengan kantor Camat Bulawa 3.3 Aternatif Lokasi 3

Referensi

Dokumen terkait

Mengingat pada kawasan tersebut banyak permukiman penduduk, maka akibat yang timbul dari dampak perencanaan penerapan sumur resapan ini sangat perlu diterapkan

Dampak pembangunan industri adalah akibat yang terjadi dari suatu pembanguan industri pabrik yang dilakukan pada suatu wilayah baik itu disengaja maupun tidak

Unsur-unsur integrasi ialah integrasi wilayah untuk mengurangkan jurang perbezaan pembangunan ekonomi dan sosial antara wilayah, integrasi ekonomi untuk

Dari permasalahan tersebut tentunya perlu adanya suatu kajian, sehingga penulis tertarik untuk membuat penelitian mengenai “Dampak Aktivitas Penambangan Pasir

Melalui program spectrum dapat memperlihatkan perencanaan program KB dan analisis dampak atas pertumbuhan penduduk yang pesat terhadap berbagai sektor pembangunan

Aktivitas pekerjaan penduduk Desa Paminggir Seberang yaitu meiwak selaras dengan daerah tempat tinggalnya yang berada di wilayah perairan rawa dan sungai. Perilaku

Pembahasan tentang Perencanaan Wilayah Perkotaan perlu terlebih dahulu dimulai dengan tinjauan terhadap pengertian dasar, konsep atau terminologi yang menjadi unsur-unsur

Wilayah pedesaan sebagai unit perencanaan tersusun atas unsur-unsur penyusunan potensi wilayah yang meliputi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia(SDM)